MAKALAH 3 (ENSEFALITIS)

  • View
    78

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of MAKALAH 3 (ENSEFALITIS)

Modul Organ Sistem SarafKelompok V

Seorang Laki-laki 44 Tahun dengan Kejang Demam Meracau

Neysa Glenda P.I0302008174Irmawati Marlia R.0302009123Salvia Meirani0302009220Delima Cheryka0302010072Pratiwi0302010221Linda Setyowati0302011168Meiria Sari0302011186Nabilah Achmad Muchlis0302011205Nurul Ulfa Septiani0302011223Raden Rainy Febriani0302011239Risadayanti0302011256Siti Khoerum Milla0302011274Venty Rachma Yogyantari0302011295Winny Mauli0302011310

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTIJakarta, 17 Januari 2013

Daftar Isi

Bab IPendahuluan 2Bab IILaporan Kasus 3Bab IIIPembahasan 6Bab IVTinjauan Pustaka 23Bab VKesimpulan 40

Daftar Pustaka 41

BAB IPENDAHULUAN

Infeksi adalah invasi dan multiplikasi kuman (mikro-organisme) di dalam jaringan tubuh. Yang dimaksud kuman ialah bakteri, protozoa, metazoan, dan virus. Halangan besar bagi kuman untuk menembus tubuh dibentuk oleh epithelium permukaan tubuh luar dan dalam, yang kita kenal sebagai kulit, konjungtiva, dan mukosa. Setelah mikroorganisme berhasil menerobos permukaan tubuh dalam dan luar, ia didapat tiba di susunan saraf pusat melalui kontinuitum maupun invasihematogenik. Faktor predisposisi infeksi susunan saraf pusat menyangkut hospes, virulens kuman, atau faktor lingkungan. Klasifikasi infeksi susunan saraf pusat berdasarkan organ yang terkena peradangan. Radang pada saraf tepi dinamakan neuritis pada meningen disebut meningitis, pada medulla spinalis dinamakan myelitis dan pada otak dikenal sebagai ensefalitis.Infeksi pada otak ensefalitis jarang dikarenakan hanya bacteremia saja, oleh karena jaringan otak yang sehat cukup resisten terhadap infeksi. Sawar darah otak itu sangat protektif, namun ia menghadap penetrasi fagosit, antibodi, antibiotik. Selain itu otak juga tidak memiliki fagosit yang efektif dan juga tidak memiliki lintasan pembuangan limfatik untuk pemberantasan infeksi bila hal itu terjadi maka berbeda dengan proses infeksi di luar otak, sekali infeksi terjadi di otak, ia cenderung menjadi sangat virulen dan destruktif.Ensefalitis mencakup berbagai variasi dari ringan sampai yang parah sekali dengan koma dan kematian. Proses radangnya terbatas pada jaringan otak saja , tetapi hamper selalu mengenai selaput otak. Manifestasi utama berupa konvulsi , gangguan kesadaran, hemiparesis paralysis bulbaris, gejala-gejala seleberal dan nyeri kepala. Biasanya ensefalitis virus dibagi dalam tiga kelompok , yaitu ensefalitis primer yang biasa disebabkan oleh infeksi virus kelompok herpes simplek, virus influenza ECHO, Coxackie, dan virus arbo. Ensefalitis sekunder yang belum diketahui penyebabnya . dan ensefalitis para-infeksiosa yaitu yang timbul sebagai komplikasi dari virus seperti rubeola, varisela, herpes zoster, parotitisepidemika, mononucleosis infeksiosa dan vaksinasi. Menurut statistik dari 214 ensefalitis primer yang disebabkan oleh virus yang dikenal mencakup 19%. Ensefalitisi primer yang dengan penyebab yang tidak diketahui dan ensefalitis para infeksiosa masing-masing mencakup 40% dan 41% dari semua kasus ensefalitis.

BAB IIILAPORAN KASUSSESI ISeorang pria berumur 44 tahun dibawa ke UGD oleh istrinya dengan kejang terus menerus dan meracau disertai panas. Pada heteroanamnese dari istri pasien ternyata pasien panas sejak 1 minggu yang lalu disertai nyeri kepala. Pasien tidak mual dan muntah. Pasien baru saja kejang dirumah lalu bicara meracau dan segera di bawa ke UGD. Di UGD pasien kejang berkali-kali. Pasien tidak mempunyai riwayat epilepsi , hipertensi, DM maupun penyakit lain dan tidak makan obat rutin. Pasien punya riwayat pemakaian narkoba. Kejang seluruh tubuh , sifatnya tonik klonik.Pada pemeriksaan didapatkan tensi 120/80mmHg, nadi 92x/mnt, napas 18x/mnt, suhu 38CStatus neurologis : kesadaran E4 V5 M5Tanda rangsangan meningeal : (-)N.Cranialis tidak ada kelainanRefleks fisiologis ke 4 extremitas (+) Reflex patologis semuanya (-)

SESI IIKejang sudah berhentiPada pemeriksaan lab didapatkan :Hb 14g/dl, eritrosit 5juta, leukosit 7000/ul, trombosit 350.000LED 10mm/jam , hematokrit 42%, hitung jenis 0/1/3/30/60/6Gula darah sewaku 100mg%, ureum 20mg%, kreatinin 1,2mg%, Na 137, K 3,5Fotothorax : tidak ada kelainanCT-scan : tidak ada kelainanKejang sudah berhentiKesadarab E3 V4 M5Hasil LP : cairan jernihSel eritrosit : 0Leukosit: Polimononuchlear : 0 Mononuchlear : 2Protein : 25mg%Glukosa: 65 mg%Pengecatan gram : tdk ditemukanBakteri tahan asam : tak ditemukan kumanBiakan dan tes kepekaan : menyusulPemeriksaan anti HIV : (-)

Hasil pemeriksaan TORCH:Ig M DAN Ig G anti toxoplasma : (-)Ig M anti rubella : (-)Ig G anti rubella : (+)Ig M anti CMV : (-) Ig G anti CMV : (+)Ig M dan Ig G anti HSV-1 : (-)Ig M danIg G antI HSV-2 : (-)

BAB IIIPEMBAHASANIdentitas pasien :Nama: -Usia: 44 tahunJenis kelamin: Laki-lakiTempat / tanggal lahir: -Alamat: -Agama: -No. Telepon: -

Anamnesis :1. Keluhan utama: Kejang disertai demam dan meracau2. Riwayat penyakit sekarang: Bagaimana karakteristik sakit kepalanya? Berat, menusuk, berdenyut? Apakah demamnya naik-turun atau tetap tinggi? Apa aktivitas pasien sebelum kejang? Apakah pasien merasa lemas dalam beberapa hari terakhir? Apakah pasien mual atau muntah dalam beberapa hari terakhir? Apakah ada perubahan perilaku pada pasien?3. Riwayat penyakit dahulu: Apakah ada riwayat campak, cacar air, atau herpes? Apakah sudah pernah kejang sebelumnya? Ada penyakit apa saja selama ini? Seperti diabetes, hipertensi, sakit ginjal, sakit jantung?4. Riwayat kebiasaan hidup: Apakah pasien merokok atau sering terpapar asap rokok? Apakah pasien mengonsumsi alkohol atau miras? Bagaimana asupan gizi sehari-hari?5. Riwayat farmako: Obat apa saja yang telah dikonsumsi untuk menurunkan demam dan meredakan kejang? Obat apa saja yang sedang dikonsumsi jika pasien memiliki penyakit lain? Apakah pasien menggunakan obat-obatan terlarang?Anamnesis tambahan: Apakah pasien baru-baru ini pergi ke luar kota terutama daerah Papua?

PEMERIKSAAN FISIKPemeriksaan fisikHasi pemeriksaanKeterangan

Status Generalis :

Keadaan Umum Sakit SedangDemam dan kejang

Kesadaran Apatis (GCS:13)yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengansekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.

Tanda vital Tensi : 120/80Normal

Nadi : 92/menitNormal (L:60-100/menit)

Napas : 18/menitNormal (L:14-18/menit)

Suhu : 380CSubfebris, disebabkan proses infeksi(1)

Status Neurologis :

GCS (Eye)E4 (Motoric)M5 (Verbal) V4(GCS = 13)E4 : dapat membuka mata spontan, ada kedipanM5 : melokalisir nyeri V4 : bicara kacau, bingung dan disorientasi waktu, tempat, orang

Rangsangan meningeal Negatif Radang tidak sampai lapisan meningens

N. CranialTidak ada kelainanNormal

Refleks fisiologis+ / +Normal

Refleks patologis- / -Normal

PEMERIKSAAN PENUNJANGA. Pemeriksaan LaboratoriumHasilNilai NormalInterpretasi

Hb14g/Dl13.5-18 g/dLNormal

Eritrosit5 juta4.5-5.5 jutaNormal

Leukosit7000/L4.500-10.000Normal

Trombosit350.000150.000-400.000Normal

LED10 mm/jam0-10 mm/jamNormal

Hematokrit42%40-50%Normal

Hitung Jenis

Eosinofil01-3MenurunDapat terjadi pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, pendarahan, dan infeksi berat.

Basofil10-1Normal

Batang32-6Normal

Segmen3050-70Menurun

Limfosit6020-40Menurun

Monosit62-8Normal

GDS100 mg%