Ensefalitis Case

Embed Size (px)

Text of Ensefalitis Case

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    1/41

    Case report

    ENSEFALITIS

    CHARAN PAL SINGH

    0810314156

    Pembimbing:

    Prof Dr H Basjiruddin Ahmad SpS (K)

    dr Hj Yuliarni Syafrita SpS

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    2/41

    Definisi

    Ensefalitis adalah suatu peradangan akut dari

    jaringan parenkim otak yang disebabkan oleh

    infeksi dari berbagai macam mikroorganisme

    dan ditandai dengan gejala-gejala umum danmanifestasi neurologis

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    3/41

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    4/41

    as as :Klasifikasi Robin berdasarkan etiologi virus:

    Infeksi virus yang bersifat epidemik

    Golongan enterovirus : Poliomyelitis, virus Coxsackie, virus

    ECHO.

    Golongan virus ARBO : Western equine encephalitis, St. Louis

    encephalitis, Eastern equine encephalitis, Japanese Bencephalitis, Russian spring summer encephalitis, Murray valley

    encephalitis.

    Infeksi virus yang bersifat sporadik : Rabies, Herpes simplex,Herpes zoster, Limfogranuloma, Mumps, Lymphocytic

    choriomeningitis dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh

    virus tetapi belum jelas

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    5/41

    Ensefalitis pasca infeksi : pasca morbili, pasca

    varisela, pasca rubela, pasca vaksinia, pasca

    mononukleosis infeksious dan jenis-jenis yang

    mengikuti infeksi traktus respiratorius yangtidak spesifik

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    6/41

    Patofisiologi

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    7/41

    Virus masuk tubuh pasien dan menyebar ke seluruh tubuh

    permulaan timbul demam, tetapi belum ada kelainan neurologis.

    Virus terus berkembang biak, menyerang susunan saraf pusatdan diikuti kelainan neurologis

    virus bereplikasi diluar SSP dan menyebar baik melaluiperedaran darah atau melalui sistem neural

    Setelah melewati sawar darah otak, virus memasuki sel-sel neuralyang mengakibatjan fungsi-fungsi sel menjadi rusak

    kongesti perivaskular, dan respons inflamasi yang secara difus

    ketidakseimbangan substansia abu-abu (nigra) dengan substansiaputih (alba). Adanya patologi fokal disebabkan karena terdapat

    reseptor-reseptor membran sel saraf yang hanya ditemukan padabagian-bagian khusus otak

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    8/41

    Patogenesis dari ensefalitis herpes simpleks sampai sekarangmasih belum jelas dimengerti.

    Infeksi otak diperkirakan terjadi karena adanya transmisi

    neural secara langsung dari perifer ke otak melaui saraftrigeminus atau olfaktorius

    Virus herpes simpleks tipe I ditransfer melalui jalan nafasdan ludah.

    Infeksi primer biasanya terjadi pada anak-anak dan remaja. subklinis atau berupa somatitis, faringitis atau penyakit

    saluran nafas.

    Kelainan neurologis merupakan komplikasi dari reaktivasi

    virus. infeksi primer, virus menjadi laten dalam ganglia trigeminal.

    Beberapa tahun kemudian,rangsangan non spesifikmenyebabkan reaktivasi yang biasanya bermanifestasi

    sebagai herpes labialis.1

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    9/41

    ensefalitis bakterial, organisme piogenik masuk ke dalam otak melaluiperedaran darah, penyebaran langsung, komplikasi luka tembus

    Penyebaran melalui peredaran darah dalam bentuk sepsis atau berasal dariradang fokal di bagian lain di dekat otak. Penyebaran langsung dapatmelalui tromboflebitis, osteomielitis, infeksi telinga bagian tengah dan sinusparanasalis.

    peradangan supuratif pada jaringan otak. Biasanya di bagian substantia alba,karena bagian ini kurang mendapat suplai darah. Proses membentuk eksudat,trombosis septik pada pembuluh-pembuluh darah dan agregasi leukosit yangsudah mati

    daerah peradangan timbul edema, perlunakan dan kongesti jaringan otakdisertai peradangan kecil.

    Di sekeliling abses terdapat pembuluh darah dan infiltrasi leukosit.

    Bagian tengah kemudian melunak dan membentuk ruang abses

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    10/41

    Mula-mula dindingnya tidak begitu kuat

    terbentuk dinding kuat membentuk kapsul yang

    konsentris. Di sekeliling abses terjadi infiltrasi leukosit PMN,

    sel-sel plasma dan limfosit.

    Abses dapat membesar, kemudian pecah danmasuk ke dalam ventrikulus atau ruang

    subarakhnoid yang dapat mengakibatkan

    meningitis

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    11/41

    Pada ensefalitis virus selain terjadi jaringan otaksaja, juga sering mengenai jaringan selaput otak.

    Oleh karena itu ensefalitis virus lebih tepat biladisebut sebagai meningo ensefalitis

    Plasmodium falsiparum menyebabkan eritrosit

    yang terifeksi menjadi lengket. Sel-sel darah yang lengket satu sama lainnya

    menyumbat kapiler-kapiler dalam otak.

    Akibatnya timbul daerah-daerah mikro infark.

    Gejala-gejala neurologis timbul karena kerusakanjaringan otak yang terjadi.

    Pada malaria serebral ini, dapat timbul konvulsi dankoma.

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    12/41

    Manifestasi klinis Prodormal berlangsung antara 1-4 hari yang

    ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing,muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri padaekstremitas dan pucat, kemudian diikuti oleh tandaensefalitis yang berat ringannya tergantung

    distribusi dan luasnya lesi pada neuron

    Pada bayi, terdapat jeritan, perubahan perilaku,

    gangguan kesadaran, dan kejang-kejang. Kejang-kejang dapat bersifat umum atau fokal atau hanyatwitching saja. Kejang dapat berlangsung berjam-jam

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    13/41

    Gejala serebrum : beraneka ragam dapat timbul

    sendiri-sendiri atau bersama-sama, misalnya paresis

    atau paralisis, afasia

    Gejala batang otak : perubahan refleks pupil, defisit

    saraf kranial dan perubahan pola pernafasan.

    Tanda rangsang meningeal dapat terjadi bila

    peradangan mencapai meningen.

    Pada japanese B ensefalitis, semua bagian susunan

    saraf pusat dapat meradang.gejalanya yaitu nyeri

    kepala, kacau mental, tremor lidah bibir dan tangan,rigiditas pada lengan atau pada seluruh badan,

    kelumpuhan dan nistagmus.

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    14/41

    sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian dan

    gangguan daya ingat. Kemudian pasien mengalami

    kejang dan penurunan kesadaran.

    Kejang dapat berupa fokal atau umum. Kesadaran

    menurun sampai koma dan letargi. Koma adalah

    faktor prognosis yang sangat buruk, pasien yang

    mengalami koma sering kali meninggal atau

    sembuh dengan gejala sisa yang berat.

    Pemeriksaan neurologis sering kali menunjukan

    hemiparesis.

    Beberapa kasus dapat menunjukan afasia, ataksia,

    paresis saraf cranial, kaku kuduk dan papil edema.1

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    15/41

    Diagnosis

    gambaran klinis, pemeriksaan laboratorium,

    pemeriksaan virologis(serologis), dan pemeriksaanpenunjang lain seperti EEG, pencitraan, biopsi otak,

    gambaran cairan serebrospinal dapat pula

    dipertimbangkan.

    CSF: berwarna jernih, jumlah sel berkisar 50-200/L

    dengan dominasi sel limfosit. Jumlah protein

    kadang kadang meningkat dan kadar glukosabiasanya masih dalam batas normal

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    16/41

    Diagnosis Banding

    Meningitis

    Meningitis tuberkulosa

    Infeksi bakteri parameningeal

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    17/41

    Penatalaksanaan

    Terapi suportif :mengusahakan jalan nafas tetap terbuka, pemberian

    makanan secara enteral atau parenteral, menjaga

    keseimbangan cairan dan elektrolit, koreksi terhadap

    gangguan keseimbangan asam basa darah.

    Terapi kausal :Pengobatan anti virus diberikan pada ensefalitis yang

    disebabkan virus, yaitu dengan memberikan asiklovir

    10 mg/kgBB/hari IV setiap 8 jam selama 10-14 hari.

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    18/41

    pasien yang terbukti secara biopsi menderitaEnsefalitis Herpes Simpleks dapat diberikanAdenosine Arabinose 15mg/kgBB/hari IV,

    diberikan selama 10 hari

    Pemberian antibiotik parenteral tetap diberikan

    sampai penyebab bakteri dikesampingkan, danjuga untuk kemungkinan infeksi sekunder. Padaensefalitis supurativa diberikan:

    - Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari.

    - Cloramphenicol 4 x 1g/24 jam intra venaselama 10 hari

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    19/41

    Terapi Simptomatik

    Obat antikonvulsif untuk mengatasi kejang

    diazepam 0,3-0,5 mg/Kg BB/ hari dilanjutkan dengan

    fenobarbitalantipiretikum seperti parasetamol dengan dosis 10-15mg/kgBB

    Untuk mengurangi edema serebri dengan deksametason

    0,2 mg/kgBB/hari IM dibagi 3 dosis dengan cairan rendahnatrium, dilanjutkan dengan pemberian 0,25-0,5mg/kgBB/hari.

    Bila terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial,

    dapat diberikan manitol 0,5-2 g/kgBB IV dalam periode8-12 jam

    Terapi rehabilitatif

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    20/41

    Prognosis

    sembuh secara sempurna dari infeksi virus pada

    sistem saraf sentral, walaupun prognosis tergantung

    pada keparahan penyakit klinis, etiologi spesifik, dan

    umur anak.

    Jika penyakit klinis berat dengan bukti adanya

    keterlibatan parenkim, prognosis buruk, dengan

    kemungkinan defisit yang bersifat intelektual,

    motorik, psikiatrik, epileptik, penglihatan, ataupun

    pendengaran

    lik i

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    21/41

    Komplikasi

    retardasi mental, iritabel, emosi tidak stabil, sulit

    tidur, halusinasi, enuresis, perubahan perilaku, dan

    juga dapat ditemukan gangguan motorik dan epilepsi.

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    22/41

    ILUSTRASI KASUS

    Seorang pasien perempuan umur 15 tahun

    dirawat di bangsal Neurologis RS Dr. M. Djamil

    Padang tanggal 25 April 2013 dengan:

    Keluhan Utama:

    Kejang berulang seluruh tubuh sejak 18

    jam sebelum masuk rumah sakit.

    Ri P ki S k

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    23/41

    Riwayat Penyakit Sekarang:

    Kejang berulang seluruh tubuh sejak 18 jam sebelum

    masuk rumah sakit diawali kaku seluruh tubuh kira kira

    1menit diiuti kelonjotan sekitar 2 menit, Saat kejangmata pasien mendelik ke atas, lidah tergigit dan

    mengompol. Jarak antara kejang rata rata 1 jam dimana

    diantara kejang pasien tidak sadarkan diri. Inimerupakan kejang yang pertama kalinya.

    Kepala terasa sakit dan berdenyut sejak 1 minggu smrs,

    Pasien sudah makan obat sakit kepala ( tidak ingat

    nama obatnya).

    Demam sejak 5 hari yang smrs, demam tidak begitu

    tinggi,terus menerus tidak menggigil. Pasien sudah

    makan obat demam

    P i t l h b b t b l k bid d

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    24/41

    Pasien telah berobat sebelumnya ke bidan dandiberi 4 macam obat tetapi keluarga tidak tahunama obatnya. Demam dan sakit kepala tidak

    berkurang lalu pasien dibawa ke RS Lubuk Basung.Pasien kejang 2 kali di RS Lubuk Basung lalu di rujukke RS M Djamil Padang

    Riwayat keluar cairan dari telinga tidak ada

    Riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat tertusukpaku tidak ada

    Riwayat batuk tidak ada, riwayat pilek ada 2 minggu

    smrs Riwayat sakit gigi tidak ada, riwayat sinusitis tidak

    ada

    Buang air besar dan buang air kecil biasa

    Ri t P kit D h l

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    25/41

    Riwayat Penyakit Dahulu:

    Tidak pernah kejang sebelumnya, pernah

    mengalami penyakit infeksi saluran pernafasan akut

    sebelum kejang ,pernah mengalami penyakit infeksi

    saluran pencernaan sebelum kejang.

    Riwayat Penyakit Keluarga:

    Tidak ada riwayat kejang pada anggota keluarga

    P ik Fi ik

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    26/41

    Pemeriksaan Fisik

    Keadaan Umum : Sedang

    Kesadaran : GCS 11 (E3 M5 V3)

    Tekanan darah : 100/60 mmhg

    Frekuensi nadi : 96 x/menit

    Frekuensi nafas : 24 x/menit Suhu : 38,5 C

    St t I t

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    27/41

    Status Internus

    Keadaan Regional

    Kulit : petekie (+)

    Kepala : Tidak ada kelainan

    Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

    Hidung : Tidak ada kelainan

    Telinga : : Tidak ada kelainan

    Mulut : Tidak ada kelainan

    Leher : JVP 5-2 cm H2O

    Paru : dbn

    Jantung : dbn

    Abdomen : dbn

    St t N l i

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    28/41

    Status Neurologis

    Tanda rangsangan selaput otak

    Kaku kuduk : tidak ada Kernig: tidak ada BrudzinskyI : tidak ada BrudzinskyII : tidak

    ada

    Laseque : tidak ada Tanda peningkatan tekanan intracranial

    Pupil : Isokor, 3mm/3 mm, Refleks

    cahaya +/+ Muntah proyektil : tidak ada

    Sakit kepala progresif : tidak ada

    P ik N K i li

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    29/41

    Pemeriksaan Nervus Kranialis

    N.I (Olfaktorius)

    N.II (Optikus)

    Penciuman Kanan Kiri

    Subjektif Baik Baik

    Objektif (dengan bahan) Baik Baik

    Penglihatan Kanan Kiri

    Tajam Penglihatan Baik Baik

    Lapangan Pandang Baik Baik

    Melihat warna Baik Baik

    Funduskopi Tidak diperiksa Tidak diperiksa

    N III (Ok lomotori s)

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    30/41

    N.III (Okulomotorius)

    N.IV (Troklearis), N.VI (Abdusens)- Dolls eye

    maneuver bergerak

    Kanan Kiri

    Bola Mata Bulat Bulat

    Ptosis - -

    Gerakan Bulbus Dolls eye maneuver bergerak

    Strabismus - -

    Nistagmus -

    Ekso/Endopthalmus - -

    Pupil

    Bentuk Bulat, isokor Bulat, isokor

    Refleks Cahaya (+) (+)

    Refleks Akomodasi (+) (+)

    Refleks Konvergensi (+) (+)

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    31/41

    N VII (Fasialis) ) - tidak ada kelainan

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    32/41

    N.VII (Fasialis) ) - tidak ada kelainan N.VIII (Vestibularis)- tidak ada kelainan

    N.IX (Glosofaringeus)-Refleks muntah (gag refleks) +

    N.X (Vagus)- tidak ada kelainan N.XI (Asesorius) - tidak ada kelainan

    N.XII (Hipoglosus) - tidak ada kelainan

    Pemeriksaan Fungsi Motorik- eutrofi dan eutonus Kekuatan : 555/555/555

    555/555/555

    Sensorik : Respon terhadap nyeri (+) RF : ++/++

    ++/++

    RP : --/--

    Otonom- terpasang kateter

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    33/41

    Laboratorium

    Hb : 12.2 gr%

    Leukosit : 6080/mm3

    Trombosit : 131000/mm3

    Na : 132 mmol/L

    K : 3.6 mmol/L

    Ureum : 17 mg%

    Kreatinin : 0.7 mg%

    Pemeriksaan Anjuran

    CT scan

    Pemeriksaan darah Rutin, kadar elektrolit, diff count, faalhemostasis

    Lumbal Punksi

    EEG

    Funduscopy

    Diagnosa

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    34/41

    Diagnosa

    Diagnosa klinik : ensefalitis

    Diagnosa topik :encephalon

    Diagnosa etiologi : bakteri

    Diagnosis differensial : meningitis

    Prognosis :

    Quo ad vitam : dubia ed bonam

    Quo ad sanam : dubia ed bonam

    Quo ad fungsionam : dubia ed bonam

    Umum

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    35/41

    Umum

    - O2 4-5 liter/menit

    - IVFD NaCl 0,9% 12j/kolf

    - Pasang kateter, Balance cairan - NGT makanan cair

    Khusus

    -ceftriaxone 2x1gr (iv) -diazepam 1x10mg (iv)

    - thiamin 3x1amp (iv)

    - paracetamol 4x500mg (po) - dexametason 4x5mg (iv)

    -Fenitoin oral 3x100 mg(iv)

    Ranitidine 2x50mg (iv)

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    36/41

    Berdasarkan anamnesis diketahui bahwa pasien datang

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    37/41

    Berdasarkan anamnesis diketahui bahwa pasien datangdengan Kejang berulang seluruh tubuh sejak 18 jam sebelum

    masuk rumah sakit.

    Kejang berulang seluruh tubuh sejak 18 jam sebelummasuk rumah sakit diawali kaku seluruh tubuh kira kira

    1menit diiuti kelonjotan sekitar 2 menit, Saat kejang mata

    pasien mendelik ke atas, lidah tergigit dan mengompol.

    Jarak antara kejang rata rata 1 jam dimana diantara kejangpasien tidak sadarkan diri. Ini merupakan kejang yang

    pertama kalinya.

    Kepala terasa sakit dan berdenyut sejak 1 minggu smrs,Pasien sudah makan obat sakit kepala ( tidak ingat nama

    obatnya).

    Demam sejak 5 hari yang smrs demam tidak begitu

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    38/41

    Demam sejak 5 hari yang smrs, demam tidak begitu

    tinggi,terus menerus tidak menggigil. Pasien sudah makan

    obat demam Pasien telah berobat sebelumnya ke bidan

    dan diberi 4 macam obat tetapi keluarga tidak tahu namaobatnya.

    Demam dan sakit kepala tidak berkurang lalu pasien

    dibawa ke RS Lubuk Basung. Pasien kejang 2 kali di RS

    Lubuk Basung lalu di rujuk ke RS M Djamil Padang.

    Riwayat keluar cairan dari telinga tidak ada, Riwayat

    trauma kepala tidak ada, riwayat tertusuk paku tidak ada.

    Riwayat batuk tidak ada, riwayat pilek ada 2 minggu smrs,

    Riwayat sakit gigi tidak ada, riwayat sinusitis tidak ada.

    Buang air besar dan buang air kecil biasa.

    Pasien lebih banyak tidur, tetapi masih dapat membuka

    mata bila dipanggil

    Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran pasien

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    39/41

    Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran pasien

    somnolen (GCS: E3M5V3), tanda rangsang

    meningeal (-), TIK (-), pemeriksaan n.cranial:

    pupil isokhor, 3 mm/3 mm, RC +/+, Dolls EyeMovement bergerak, plica nasolabialis kanan=kirir,

    reflek muntah (+), motorik: gerakan anggota gerak

    kanan dan kiri baik, eutonus dan eutrofik, sensorik :respon terhadap nyeri, RF : ++/++, RP : --/--

    Penatalaksanaan pada pasien ini secara umum O 4-

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    40/41

    Penatalaksanaan pada pasien ini secara umum O2 4-

    5 liter/menit, IVFD NaCl 0,9% 12j/kolf, Pasang

    kateter, Balance cairan, NGT makanan cair.

    Terapi khusus diberikan ceftriaxone 2x1gr

    (iv),diazepam 1x10mg (iv), thiamin 3x1amp

    (iv)paracetamol 4x500mg (po),dexametason 4x5mg

    (iv), Fenitoin 3x100 mg(iv), Ranitidine 2x50mg (iv) Prognosis pada pasien dengan ensefalitis ini

    mengarah ke perburukan, dilihat dari keadaan

    umum pasien. Dan harus segera diterapi sesuaidengan etiologi yang di dapat secara teratur.

  • 7/30/2019 Ensefalitis Case

    41/41

    TERIMA KASIH