of 87 /87
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD YANG DILENGKAPI DENGAN NUMBERED HEADS TOGETHER DITINJAU DARI GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SAMBI TAHUN PELAJARAN 2007/2008 SKRIPSI Oleh : RATNA KURNIAWATI K1303062 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE … · ii eksperimentasi pembelajaran kooperatif tipe stad yang dilengkapi dengan numbered heads together ditinjau dari gaya belajar terhadap

Embed Size (px)

Citation preview

i

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE STAD YANG DILENGKAPI DENGAN NUMBERED

HEADS TOGETHER DITINJAU DARI GAYA BELAJAR

TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA

KELAS VIII SMP NEGERI 1 SAMBI

TAHUN PELAJARAN 2007/2008

SKRIPSI

Oleh :

RATNA KURNIAWATI

K1303062

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2009

ii

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE STAD YANG DILENGKAPI DENGAN NUMBERED

HEADS TOGETHER DITINJAU DARI GAYA BELAJAR

TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA

KELAS VIII SMP NEGERI 1 SAMBI

TAHUN PELAJARAN 2007/2008

Oleh :

Ratna Kurniawati

K1303062

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar

Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Matematika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2009

iii

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing skripsi untuk dipertahankan di

hadapan Tim Penguji Skripsi Program Pendidikan Matematika Jurusan P MIPA

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, Mei 2009

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Gatut Iswahyudi, M. Si Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd NIP. 132046014 NIP. 132206585

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program

Pendidikan Matematika Jurusan P MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan

dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada Hari : Kamis

Tanggal : 18 Juni 2009

Tim Penguji Skripsi : Tanda Tangan

Ketua : Sutopo, S.Pd, M.Pd (…………………………...)

Sekretaris : Drs. Ponco Sujatmiko, M.Si (……………………………)

Penguji I : Drs. Gatut Iswahyudi, M.Si (…………………………....)

Penguji II : Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd (……………………………)

Disahkan Dekan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP. 131658563

v

MOTTO

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

(Q.S. Albaqoroh: 286)

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”

(Q.S. Al Insyiroh: 6)

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini Penulis persembahkan untuk :

· Bapak dan Ibuku, yang selalu

mendoakanku dan memberikan kasih

sayang yang tanpa batas

· De’ Arif dan De’ Ida, yang selalu

menjadi penghibur dan

penyemangatku

· Mahasiswa P. Matematika ’03, atas

kebersamaan kita

· Almamater

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala pujian hanya milik Allah SWT, dzat penggengggam

setiap jiwa, pengatur setiap langkah, yang berkehendak atas segala, yang dengan

kelapangan jalan yang diberikan sehingga skripsi yang berjudul “Eksperimentasi

Pembelajaran kooperatif Tipe STAD yang Dilengkapi dengan Numbered Heads

Together Ditinjau dari Gaya Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 1 Sambi Tahun Pelajaran 2007/2008” dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak

terlepas dari bimbingan, saran, dukungan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada segenap pihak antara lain :

1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd, Dekan FKIP UNS yang telah

memberikan ijin menyusun skripsi ini.

2. Dra. Hj. Kus Sri Martini, M.Si, ketua Jurusan P MIPA FKIP UNS yang

telah memberikan ijin menyusun skripsi ini.

3. Triyanto, S. Si, M. Si, Ketua Program P Matematika FKIP UNS yang telah

memberikan ijin menyusun skripsi ini.

4. Drs. Gatut Iswahyudi, M.Si, Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan, ilmu, dukungan, dan saran yang sangat membantu dalam

penulisan skripsi ini.

5. Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd, Pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan, ilmu, dukungan, dan saran yang sangat membantu dalam

penulisan skripsi ini.

6. Drs. Sangidun, Kepala SMP Negeri 1 Sambi yang telah memberikan ijin

untuk melaksanakan penelitian.

7. Sudibyo, S.Pd, M.Pd, Kepala SMP Negeri 1 Simo yang telah memberikan

ijin untuk melaksanakan uji coba instrumen penelitian.

8. Djupri, Guru bidang studi matematika SMP Negeri 1 Sambi yang telah

memberikan kesempatan, kepercayaan, dan bimbingan selama melakukan

penelitian sekaligus sebagai validator instrument penelitian.

viii

9. Wardoyo RB, S.Pd, M.Pd, Guru bidang studi matematika SMP Negeri 1

Simo yang telah memberikan kesempatan, dan kepercayaan melakukan uji

coba sekaligus sebagai validator instrument penelitian.

10. Bapak, Ibu, dan keluarga tercinta yang senantiasa memberikan doa restu,

kasih sayang, dan dukungan.

11. Teman-teman P. Matematika ’03 atas kebersamaannya

12. Seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu

Penulis telah berusaha untuk menyelesaikan skripsi dengan sebaik-

baiknya, semoga karya ini dapat bermanfaat bagi penulis dan dapat memberikan

kontribusi serta masukan bagi dunia pendidikan guna mencapai tujuan

pendidikan.

Surakarta, Mei 2009

Penulis

ix

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

HALAMAN PENGAJUAN ............................................................................ ii

HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ iii

HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iv

MOTTO .......................................................................................................... v

PERSEMBAHAN............................................................................................ vi

KATA PENGANTAR .................................................................................... vii

DAFTAR ISI.................................................................................................... ix

DAFTAR TABEL............................................................................................ xii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii

ABSTRAK....................................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1

B. Identifikasi Masalah .............................................................. 4

C. Pembatasan Masalah .............................................................. 4

D. Rumusan Masalah .................................................................. 5

E. Tujuan Penelitian ................................................................... 5

F. Manfaat Penelitian ................................................................. 6

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 7

A. Tinjauan Pustaka .................................................................... 7

1. Prestasi Belajar Matematika ........................................... 7

a. Belajar ...................................................................... 7

b. Prestasi Belajar ........................................................ 7

c. Hakikat Matematika................................................. 8

d. Pengertian Prestasi Belajar Matematika .................. 9

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.. 9

2. Metode Pembelajaran...................................................... 9

a. Pengertian Metode Pembelajaran ............................ 9

x

b. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang

dilengkapi dengan Numbered Heads Together........ 10

c. Metode Pembelajaran Konvensional ....................... 15

3. Gaya Belajar.................................................................... 16

4. Tinjauan tentang Materi Persamaan Garis Lurus............ 18

B. Kerangka Pemikiran............................................................... 18

C. Hipotesis................................................................................. 21

BAB III METODOLOGI PENELITAN .................................................... 22

A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................ 22

1. Tempat Penelitian ........................................................... 22

2. Waktu Penelitian............................................................. 22

B. Metode Penelitian .................................................................. 22

C. Populasi dan Sampel .............................................................. 23

1. Populasi Penelitian………….......................................... 23

2. Sampel Penelitian……………........................................ 23

3. Teknik Pengambilan Sampel .......................................... 24

D. Teknik Pengumpulan Data .................................................... 24

1. Identifikasi Variabel........................................................ 24

2. Rancangan Penelitian...................................................... 25

3. Metode Pengumpulan Data dan Penyusunan Instrumen.. 26

E. Teknik Analisis Data.............................................................. 31

1. Uji Keseimbangan........................................................... 31

2. Uji Prasyarat ................................................................... 32

3. Pengujian Hipotesis ........................................................ 34

BAB IV HASIL PENELITIAN .................................................................. 40

A. Deskripsi Data........................................................................ 40

1. Data Hasil Uji Coba Instrumen....................................... 40

2. Data Skor Prestasi Belajar Siswa.................................... 42

3. Data Skor Angket Gaya Belajar Siswa ........................... 42

B. Pengujian Persyaratan Analisis.............................................. 43

1. Uji Keseimbangan........................................................... 43

xi

2. Uji Normalitas................................................................. 43

3. Uji Homogenitas ............................................................. 44

C. Hasil Pengujian Hipotesis ...................................................... 45

Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama .............. 45

D. Pembahasan Hasil Analisis .................................................... 46

1. Hipotesis Pertama ........................................................... 46

2. Hipotesis Kedua .............................................................. 46

3. Hipotesis Ketiga.............................................................. 47

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN............................... 48

A. Kesimpulan ........................................................................... 48

B. Implikasi ................................................................................ 48

1. Implikasi Teoritis ............................................................ 48

2. Implikasi Praktis ............................................................. 49

C. Saran ...................................................................................... 49

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 51

LAMPIRAN..................................................................................................... 52

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian .................................................................... 26

Tabel 3.2 Data Amatan, Rataan, dan Jumlah Kuadrat Deviasi ..................... 36

Tabel 3.3 Rataan dan Jumlah Rataan ............................................................ 36

Tabel 3.4 Rangkuman Analisis ..................................................................... 39

Tabel 4.1 Deskripsi Data Skor Prestasi Belajar Matematika Kelas

Eksperimen dan Kelas Kontrol .................................................... 42

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Awal ...................................... 43

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 44

Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas.................................................................. 45

Tabel 4.5 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Dengan Sel Tak Sama . 45

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Satuan Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.... 53

Lampiran 2 Lembar Kerja............................................................................ 75

Lampiran 3 Kisi-Kisi Tes Prestasi Belajar Matematika(Uji Coba) ............. 83

Lampiran 4 Soal Uji Coba Tes Prestasi Belajar Matematika ...................... 85

Lampiran 5 Pembahasan Uji Coba Tes Prestasi Belajar Matematika.......... 91

Lamparan 6 Kunci Jawaban Uji Coba Tes Prestasi Belajar Matematika ..... 99

Lampiran 7 Lembar Jawab Uji Coba Tes Prestasi Belajar Matematika ...... 100

Lampiran 8 Kisi-Kisi Angket Gaya Belajar Siswa(Uji Coba)..................... 101

Lampiran 9 Uji Coba Angket Gaya Belajar Siswa ...................................... 104

Lampiran 10 Lembar Jawab Uji Coba Angket Gaya Belajar Siswa ............. 110

Lampiran 11 Lembar Validitas Soal .............................................................. 111

Lampiran 12 Lembar Validitas Angket Gaya Belajar Siswa......................... 115

Lampiran 13 Uji Konsistensi Internal Tes Prestasi Belajar Matematika…... 119

Lampiran 14 Uji Reliabilitas Tes Prestasi Belajar Matematika........... …..… 122

Lampiran 15 Uji Konsistensi Internal Angket Gaya Belajar Siswa ............... 124

Lampiran 16 Uji Reliabilitas Angket Gaya Belajar Siswa ............................ 128

Lampiran 17 Soal Tes Prestasi Belajar Matematika ...................................... 132

Lampiran 18 Pembahasan Tes Prestasi Belajar Matematika……..…. .......... 137

Lampiran 19 Kunci Jawaban Tes Prestasi Belajar Matematika..................... 142

Lampiran 20 Lembar Jawab Tes Prestasi Belajar Matematika.......... ……… 143

Lampiran 21 Angket Gaya Belajar Siswa.......................... ………………… 144

Lampiran 22 Lembar Jawab Angket Gaya Belajar Siswa ................ ……… 150

Lampiran 23 Uji Normalitas Kemampuan Awal Kelas Eksperimen ………. 151

Lampiran 24 Uji Normalitas Kemampuan Awal Kelas Kontrol ..... ……….. 153

Lampiran 25 Uji Keseimbangan Antara Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol...................................................................................... 155

Lampiran 26 Data Induk Penelitian ............................................................... 158

xiv

Lampiran 27 Uji Normalitas Prestasi Belajar Matematika Kelas

Eksperimen…………………………………….……......... 159

Lampiran 28 Uji Normalitas Prestasi Belajar Matematika Kelas Kontrol .... 161

Lampiran 29 Uji Normalitas Prestasi Belajar Matematika Kelompok Gaya

Belajar Visual ........................................................................... 163

Lampiran 30 Uji Normalitas Prestasi Belajar Matematika Kelompok Gaya

Belajar Auditorial ..................................................................... 165

Lampiran 31 Uji Normalitas Prestasi Belajar Matematika Kelompok Gaya

Belajar kinestetik ...................................................................... 166

Lampiran 32 Uji Homogenitas Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari

Metode Pembelajaran ............................................................... 168

Lampiran 33 Uji Homogenitas Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari

Gaya Belajar Siswa .................................................................. 170

Lampiran 34 Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama.................. 173

Lampiran 35 Pembagian Kelompok, Soal Kuis, Pembahasan Kuis, dan

Penghargaan Kuis..................................................................... 177

Lampiran 36 Daftar Tabel................................................................................. 201

Lampiran 37 Perijinan....................................................................................... 207

xv

ABSTRAK

Ratna Kurniawati. EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD YANG DILENGKAPI DENGAN NUMBERED HEADS TOGETHER DITINJAU DARI GAYA BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SAMBI TAHUN PELAJARAN 2007/2008. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Mei 2009.

Tujuan Penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads

Together menghasilkan prestasi yang lebih baik daripada metode konvensional,

(2) untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh gaya belajar terhadap prestasi

belajar matematika siswa, (3) untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara

metode pembelajaran dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar matematika

siswa pada materi persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri 1 Sambi .

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu. Populasi

penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII semester I SMP Negeri 1 Sambi,

Boyolali tahun pelajaran 2007/2008, yang berjumlah 278 siswa yang terbagi

menjadi 7 kelas. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 kelas, yaitu

kelas VIIIE untuk kelas eksperimen dengan jumlah 40 siswa orang dan kelas

VIIIF untuk kelas kontrol dengan jumlah 40 siswa. Pengambilan sampel

dilakukan secara sampling random kluster. Uji coba instrumen dilaksanakan di

SMP Negeri 1 Simo, Boyolali. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

metode dokumentasi yang berupa data nilai mid semester I mata pelajaran

matematika, metode angket untuk data gaya belajar dan metode tes untuk data

prestasi belajar matematika siswa pada materi persamaan garis. Teknik analisis

yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Sebagai

persyaratan analisis yaitu populasi berdistribusi normal menggunakan uji

Lilliefors dan populasi mempunyai variansi yang sama (homogen) menggunakan

uji Bartlett dengan statistik uji Chi Kuadrat dengan taraf signifikansi 5%.

xvi

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) tidak terdapat perbedaan

prestasi belajar matematika antara kelas yang menggunakan metode pembelajaran

kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads Together dengan

kelas yang menggunakan metode konvensional (Fa = 1.157 < 3.984 = Ftabel pada

taraf signifikansi 5%). (2) tidak terdapat pengaruh gaya belajar terhadap prestasi

belajar matematika siswa (Fb = 0.550 < 3.134 = Ftabel pada taraf signifikansi 5%).

(3) tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan gaya belajar

terhadap prestasi belajar matematika siswa pada materi persamaan garis lurus (Fab

= 0.024 < 3.134 = Ftabel pada taraf signifikansi 5%).

xvii

ABSTRACT

Ratna Kurniawati. COOPERATIVE LEARNING EXPERIMENTATION TYPE STAD THAT EQUIPMENTED WITH NUMBERED HEADS TOGETHER OBSERVED FROM LEARNING STYLE TO MATHEMATICS ACHIEVEMENT OF STUDENTS GRADE VIII SMP NEGERI 1 SAMBI IN THE FISCAL YEAR OF 2007/2008. Thesis, Surakarta: The Faculty of Education and Teachers Training, Sebelas Maret University, 2009.

The purpose of this research are: (1) to find out whether cooperative

learning type STAD method that equipmented with Numbered Heads Together

better than convensional method based on student achievement, (2) to be found

the effect learning style on student achievement of mathematics, (3) to be found

the interaction between learning method and learning style on mathematics

achievement at chapter persamaan garis lurus of students grade VIII SMP Negeri

1 Sambi.

This research is using experimental method. Population is all of the

students grade VIII semester I SMP Negeri 1 Sambi, Boyolali in the fiscal year of

2007/2008, totally 278 students that divided on 7 class. This research used 2 class

of sampling, there are VIIIE as research class with 40 students and VIIIF as

control class with 40 students. The sampling technique used cluster random

sampling. This try out held at SMP Negeri 1 Simo, Boyolali. The data collecting

technique used documentation method which are value mid semester I of

mathematics, poll method for style learning data, and test method for students

achievement on chapter persamaan garis lurus. The data analyzing technique used

analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. As basic analysis are normal

distribute population using Lilliefors test and equally varians population

(homogen) using Bartlett test with statistics test Chi Kuadrat on signification 5%.

Based on the research, we can conclude that: (1) there is no difference

distinction students achievement between class that using cooperative learning

type STAD method that equipmented with Numbered Heads Together and class

that using conventional method (Fa = 1.157 < 3.984 = Ftabel on signification 5%).

(2) there is no effect of learning style to students achievement (Fb = 0.550 < 3.134

xviii

= Ftabel on signification 5%). (3) there is no interaction between learning method

and learning style to students achievement on chapter persamaan garis lurus (Fab

= 0.024 < 3.134 = Ftabel on signification 5%).

xix

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan di bidang pendidikan merupakan salah satu cara yang baik

dalam pembinaan sumber daya manusia. Oleh karena itu, bidang pendidikan perlu

mendapat perhatian, baik oleh pemerintah, masyarakat, dan para pengelola

pendidikan. Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah untuk meningkatkan

mutu pendidikan diantaranya penyempurnaan kurikulum, mempersiapkan tenaga

pengajar yang professional, pengadaan buku penunjang pelajaran, dan

peningkatan pengetahuan guru melalui penataran-penataran. Namun demikian

prestasi belajar siswa masih dirasa rendah, khususnya pada bidang studi

matematika.

Dalam dunia pendidikan proses belajar pembelajaran merupakan faktor

penentu yang sangat penting. Proses ini melibatkan berbagai kegiatan maupun

tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Keberhasilan

proses belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi yang diperoleh siswa setelah

proses pembelajaran berlangsung. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi

belajar matematika dibedakan menjadi dua golongan yaitu faktor intern dan faktor

ekstern. Faktor intern meliputi: perhatian, kesehatan, intelegensi, minat, motivasi,

aktivitas belajar, dan cara belajar. Faktor ekstern meliputi: faktor keluarga,

keadaan awal, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam

mengajar, kurikulum, dan lingkungan sekolah.

Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi

siswa adalah melalui kreativitas guru dalam memilih metode pembelajaran. Guru

yang kreatif selalu mencari metode yang sesuai dengan materi pelajaran, sehingga

selalu menarik minat siswa untuk belajar. Namun kenyataan yang terjadi dalam

proses belajar pembelajaran adalah guru cenderung menggunakan pembelajaran

yang monoton yaitu pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional,

pembelajaran didominasi oleh guru, siswa hanya duduk mendengarkan, meniru

pola-pola yang diberikan guru, mencontoh cara-cara guru menyelesaikan soal-soal

1

xx

yang pada akhirnya dapat membuat siswa menjadi pasif dan merasa kesulitan jika

dihadapkan pada soal-soal yang bervariasi.

Persamaan garis lurus merupakan materi matematika yang harus dipelajari

siswa kelas VIII semester I Sekolah Menengah Pertama. Materi persamaan garis

lurus memiliki keterkaitan dengan bidang-bidang lain. Banyak kejadian sehari-

hari yang modelnya dalam bentuk persamaan garis lurus. Namun demikian masih

banyak siswa yang mengalami kendala dalam memahaminya. Dalam menentukan

persamaan garis, siswa sudah hafal rumusnya tetapi setelah diberikan soal yang

bervariasi, siswa sering mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena

kurangnya pemahaman konsep dari siswa sehingga mungkin menjadi penyebab

prestasi belajar siswa pada materi persamaan garis lurus kurang baik.

Tidak pahamnya siswa mengenai konsep persamaan garis lurus mungkin

dikarenakan metode pembelajaran yang kurang sesuai. Banyak guru yang masih

menggunakan metode pembelajaran konvensional, kegiatan dalam proses belajar

mengajar didominasi oleh guru, sedangkan siswa hanya duduk mendengarkan,

meniru pola-pola yang diberikan guru, mencontoh cara-cara guru dalam

menyelesaikan soal-soal yang pada akhirnya siswa menjadi pasif. Untuk itu perlu

dilakukan perbaikan metode pembelajaran.

Selama ini, banyak siswa yang tidak dapat menangkap konsep matematika,

mereka hanya menerima suatu rumus dalam bentuk apa adanya tanpa memahami

menurut pengertian mereka sendiri. Salah satu metode yang dapat digunakan agar

siswa dapat mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap suatu konsep

sekaligus berinteraksi sosial dalam belajar matematika adalah pembelajaran

kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads Together.

Melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered

Heads Together siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan

saling membantu satu sama lain. Siswa dilatih untuk bekerja sama dengan baik

dalam kelompoknya seperti menjadi pendengar yang aktif, memberikan

penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, menghargai pendapat teman,

mengajak teman untuk ikut bekerja sama, dan sebagainya. Pada pembelajaran

kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads Together, semua

xxi

siswa dalam setiap kelompok diharapkan memahami materi yang sedang di

pelajari, sehingga setiap anggota kelompok siap ditunjuk untuk mempresentasikan

hasil diskusi kelompoknya. Dengan penguasaan konsep yang telah dimiliki siswa

maka siswa benar-benar mengerti dan paham. Dengan demikian siswa tidak hanya

hafal rumus saja tetapi dapat menggunakan rumus-rumus yang ada untuk

menyelesaikan soal-soal yang bervariasi.

Selain metode pembelajaran, keberhasilan belajar matematika siswa juga

dipengaruhi oleh gaya belajar siswa. Gaya belajar siswa yang berbeda-beda dapat

menghasilkan perbedaan prestasi belajar. Dalam proses pembelajaran, setiap

siswa mempunyai cara yang khas dalam menerima materi pelajaran yang disebut

dengan gaya belajar. Gaya belajar dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu visual,

auditorial, dan kinestetik. Walaupun pada umumnya siswa memiliki ketiga gaya

belajar tersebut, namun pasti ada salah satu yang paling dominan diantara

ketiganya yang dimiliki siswa.

Orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, orang auditorial

belajar melalui apa yang mereka dengar, sedangkan orang kinestetik belajar

melalui gerakan dan sentuhan. Cara belajar tersebut dipengaruhi oleh banyak

variabel, diantaranya adalah faktor-faktor fisik, emosional, sosiologi dan

lingkungan. Misalnya, sebagian orang dapat belajar paling baik dengan cahaya

yang terang, sedangkan sebagian yang lain dengan cahaya yang agak suram. Ada

orang yang belajar paling baik dengan berkelompok, sedang yang lain memilih

adanya figur otoriter seperti orang tua atau guru, dan yang lain merasa bahwa

belajar sendirilah yang paling efektif bagi mereka, dan sebagainya.

Berangkat dari masalah tersebut, penulis bermaksud mengadakan

penelitian tentang pengaruh metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang

dilengkapi dengan Numbered Heads Together ditinjau dari gaya belajar terhadap

prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sambi, Boyolali

Tahun Pelajaran 2007/2008.

xxii

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, dapat diidentifikasi

beberapa masalah, sebagai berikut:

1. Pembelajaran yang umumnya dialami oleh siswa adalah pembelajaran model

konvensional dengan metode ceramah bervariasi dimana guru bertindak aktif

dan siswa cenderung pasif. Bagi siswa yang aktif akan berusaha untuk

menambah penguasaan materi sendiri sedangkan siswa yang kurang aktif tidak

termotivasi untuk menambah penguasaannya terhadap suatu materi, karena

mereka cenderung hanya menerima materi dari guru. Oleh karena itu, perlu

dilakukan penelitian tentang pengaruh aktifitas dalam gaya belajar siswa

terhadap prestasi belajar siswa.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang rendah salah satunya mungkin

dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang dialami siswa. Oleh karena itu,

perlu dilakukan penelitian apakah dengan metode pembelajaran yang berbeda

akan dihasilkan prestasi belajar matematika siswa yang berbeda pula.

3. Setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda satu sama lain. Terkait

dengan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh gaya belajar

siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa.

C. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini lebih terarah

dan mendalam, maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan sebagai berikut:

1. Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered

Heads Together pada kelas eksperimen dan metode konvensional (ceramah

bervariasi) pada kelas kontrol.

2. Gaya belajar yang dibicarakan adalah cara yang khas dalam belajar

matematika yang dilakukan oleh siswa baik di kelas maupun di luar kelas

yang dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.

xxiii

3. Prestasi belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil

belajar siswa yang dicapai setelah mengalami proses pembelajaran

matematika pada materi persamaan garis lurus.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka dapat

disusun perumusan masalah, sebagai berikut:

1. Apakah metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan

Numbered Heads Together menghasilkan prestasi belajar matematika yang

lebih baik daripada metode konvensional (ceramah bervariasi) pada materi

persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri 1 Sambi, Boyolali?

2. Apakah terdapat pengaruh gaya belajar matematika siswa terhadap prestasi

belajar matematika siswa pada materi persaman garis lurus di kelas VIII SMP

Negeri 1 Sambi, Boyolali?

3. Apakah terdapat interaksi antara metode pembelajaran matematika dengan

gaya belajar matematika siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa

pada materi persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri 1 Sambi,

Boyolali?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam

penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang

dilengkapi dengan Numbered Heads Together menghasilkan prestasi belajar

matematika yang lebih baik daripada metode konvensional (ceramah

bervariasi) pada materi persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri 1

Sambi, Boyolali.

2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara gaya belajar matematika

siswa dengan prestasi belajar matematika siswa pada materi persamaan garis

lurus di kelas VIII SMP Negeri 1 Sambi, Boyolali.

xxiv

3. Untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara metode pembelajaran

matematika dengan gaya belajar matematika siswa terhadap prestasi belajar

matematika siswa pada materi persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri

1 Sambi, Boyolali.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

1. Memberikan informasi kepada guru matematika tentang pentingnya pemilihan

metode pembelajaran yang tepat pada suatu pokok bahasan matematika dalam

rangka peningkatan kemampuan matematika siswa.

2. Memberikan masukan kepada guru tentang pengaruh gaya belajar matematika

siswa yang bebeda-beda dalam proses pembelajaran matematika.

3. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi penelitian yang sejenis.

xxv

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Prestasi Belajar Matematika

a. Belajar

Belajar merupakan faktor yang penting sebagai upaya mencapai tujuan

pendidikan. Para ahli telah banyak mengemukakan pendapatnya tentang

pengertian belajar. Menurut Slameto (2003: 2), “Belajar adalah suatu proses usaha

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang

baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungannya”. Sedangkan menurut Winkel (1998: 53), “Belajar adalah

suatu aktifitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan

lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,

pemahaman, keterampilan dan sikap-sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif

konstan dan berbekas.”

Sementara itu menurut Purwoto (2003: 21), “Belajar adalah suatu proses

yang berlangsung dari keadaan tidak tahu menjadi tahu atau dari tahu menjadi

lebih tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari belum cerdas menjadi cerdas,

dari sikap belum baik menjadi bersikap baik, dari pasif menjadi aktif, dari tidak

teliti menjadi teliti dan seterusnya.”

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah

suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan

tingkah laku yang baru sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam

interaksi dengan lingkungannya.

b. Prestasi Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 787), ” Prestasi belajar

adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata

pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan

oleh guru. Sedangkan Sutratinah Tirtonegoro (1984:43) mengemukakan

bahwa.”Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang

7

xxvi

dinyatakaan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat

mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.

Dari pengertian di atas, dapat dibuat kesimpulan bahwa prestasi belajar

adalah hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf,

simbol maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh

setiap siswa dalam periode tertentu.

c. Hakikat Matematika

Matematika timbul karena pemikiran manusia yang berhubungan dengan

ide, proses dan penalaran yang terbagi menjadi empat wawasan yang luas yaitu

aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis. Ada beberapa pendapat tentang definisi

matematika. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 506) dinyatakan

bahwa, “Matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antar

bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah

mengenai bilangan”. Sedangkan menurut Purwoto (2003: 12-13), “Matematika

adalah pengetahuan tentang pola keteraturan pengetahuan tentang struktur yang

terorganisasikan mulai dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan ke unsur yang

terdefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil”. Soedjadi (2000:11)

menyatakan bahwa definisi matematika beraneka ragam tergantung pada sudut

pandang pembuat definisi. Di bawah ini beberapa definisi matematika menurut

Soedjadi (2000: 11) :

1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.

2) Matematika adalah pengetahuan bilangan dan kalkulasi. 3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan

dengan bilangan. 4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah

tentang ruang dan bentuk. 5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik. 6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak tentang bilangan, kalkulasi,

penalaran logik, fakta-fakta kuantitatif, penalaran logik, dan struktur yang

terorganisasikan mulai dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan ke unsur yang

terdefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil.

xxvii

d. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan hakikat matematika yang telah

diuraikan, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar matematika

adalah hasil yang dicapai oleh siswa sebagai usaha yang telah dilakukan yaitu

dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika.

e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Ngalim Purwanto (2006:102), faktor-faktor yang mempengaruhi

prestasi belajar matematika dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

1) Faktor intern, yaitu faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri.

Faktor dari dalam ini antara lain adalah perhatian, kesehatan, intelegensi,

minat, motivasi, aktivitas belajar, dan cara belajar.

2) Faktor ekstern

Yang termasuk ke dalam faktor ekstern antara lain faktor keluarga, keadaan

awal, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam mengajar,

kurikulum, dan lingkungan sekolah.

Dalam penelitian ini, akan dilihat dua faktor yang mempengaruhi prestasi

belajar, yaitu metode pembelajaran (cara guru mengajar) dan gaya belajar (cara

belajar).

2. Metode Pembelajaran

a. Pengertian Metode Pembelajaran

Dalam metode mengajar terdapat dua unsur pokok yaitu unsur kegiatan

guru dan unsur kegiatan murid. Dalam proses belajar mengajar, disatu pihak guru

melakukan kegiatan atau perbuatan-perbuatan untuk membawa murid ke arah

tujuan, dimana murid melakukan serangkaian kegiatan atau perbuatan yang

disediakan oleh guru, yaitu kegiatan belajar yang terarah pada tujuan yang hendak

dicapai

Menurut Purwoto (1998:70) beberapa arti metode mengajar antara lain :

1. Metode mengajar adalah suatu cara mengajarkan topik tertentu agar proses dari pengajaran tersebut berhasil dengan baik.

2. Metode mengajar adalah cara-cara yang tepat dan serasi dengan sebaik-baiknya, agar guru berhasil dalam mengajarnya, agar mengajar mencapai tujuan atau mengenai sasarannya.

xxviii

3. Metode mengajar adalah cara mengajar yang umum yang dapat diterapkan atau dipakai untuk semua bidang studi.

Tardif dalam Muhibin Syah (1995: 202) mengatakan bahwa, “Metode

mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan

kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar

adalah suatu cara mengajarkan topik tertentu sedemikian hingga topik yang

diajarkan itu bisa diterima oleh siswa dengan mudah dan dapat mencapai tujuan

yang telah ditetapkan.

Banyak metode mengajar yang telah dikembangkan, antara lain metode

konvensional (metode ceramah), metode ekspositori, metode tanya jawab, metode

diskusi, metode pemberian tugas, metode eksperimen, metode demonstrasi dan

lain-lain. Karena pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan

Numbered Heads Together merupakan suatu cara untuk menyampaikan topik

tertentu kepada siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan maka

pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads

Together bisa dianggap sebagai suatu metode mengajar. Di era sekarang ini guru

sudah melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga metode

mengajar akan lebih tepat dikatakan sebagai metode pembelajaran. Untuk

selanjutnya dalam penulisan, metode mengajar akan disebut sebagai metode

pembelajaran. Dalam penelitian ini, yang akan diuraikansebagai metode

pembelajaran adalah metode konvensional untuk kelas kontrol dan metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads

Together untuk kelas eksperimen.

b. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang dilengkapi dengan

Numbered Heads Together

1) Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Belajar kooperatif merupakan belajar yang mana siswa bekerja dalam satu

tim (kelompok kecil) yang saling berinteraksi antar anggota kelompok dengan

cara saling membantu satu sama lainnya dalam dunia pendidikan (Slavin, 1995:2).

Sedangkan menurut Lundgren dalam Ati S dan Sumartono (2004:140), belajar

xxix

kooperatif merupakan strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil

yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas

kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dalam membantu memahami suatu

bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok

belum menguasai bahan pembelajaran. Art dan Newman dalam Usman (2001)

menegaskan bahwa belajar kooperatif adalah suatu pendekatan yang melibatkan

kelompok kecil pembelajar untuk bekerja bersama sebagai suatu tim untuk

memecahkan masalah, menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan bersama.

Belajar kelompok memungkinkan berkembangnya daya kreatif dan sifat

kepemimpinan pada siswa. Implikasi positif penerapan pendekatan belajar

kooperatif untuk pembelajaran matematika dikemukakan oleh Prichard dan

Bingaman dalam Usman (2001) yang menyatakan bahwa metode belajar

kooperatif adalah metode pembelajaran yang efektif terhadap belajar siswa dari

semua tingkat kemampuan dan dalam semua bidang matematika, mulai dari

matematika remedial hingga pelajaran kalkulus dan diatasnya. Sejalan dengan itu

Davidson dalam Usman (2001) menegaskan bahwa pengaruh belajar kooperatif

terhadap ketrampilan matematika betul-betul positif karena ada suatu kombinasi

sumbangan-sumbangan individu dan pemahaman bersama terhadap hasil yang

dicapai.

Banyak metode pembelajaran kooperatif yang berbeda yang telah

dikembangkan dan diteliti. Ada 5 model pembelajaran kooperatif yang paling luas

dievaluasi (Slavin,1995:5) yaitu :

1. Student Teams Achievement Divisions (STAD)

2. Teams-Games-Tournament (TGT).

3. Jigsaw II

4. Cooperative Inegrated Reading And Composition (CIRC)

5. Team Accelerated Instruction (TAI)

Dalam STAD, siswa dikelompokkan dalam tim-tim pembelajaran dengan

empat-anggota, anggota tersebut campuran ditinjau dari tingkat kinerja, jenis

kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di

dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim mereka telah

xxx

menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa dikenakan kuis individual

tentang materi itu. Pada waktu kuis siswa tidak boleh saling membantu

(Slavin,1995:5).

STAD disusun atas lima komponen utama (Slavin, 1995:71) yaitu :

1. Presentasi Kelas

Materi pokok STAD diuraikan dalam presentasi kelas. Dalam presentasi

kelas ini, guru mengajarkan materi secara langsung dalam pertemuan kelas.

Presentasi kelas dalam STAD berbeda dengan presentasi kelas yang dilakukan

guru pada umumnya. Hal ini disebabkan karena dalam presentasi kelas dalam

STAD hanya dilakukan pada hal-hal pokok saja. Kemudian siswa harus

mendalaminya melalui pembelajaran dalam kelompok, sehingga siswa

memperhatikan dengan baik selama presentasi kelas, karena hal tersebut juga akan

membantu mereka dalam mengerjakan tes dimana hasil tesnya akan menentukan

skor dalam kelompoknya.

2. Kelompok

Kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa yang mempunyai karakteristik yang

berbeda-beda atau heterogen baik dalam penguasaan materi, jenis kelamin

maupun keturunan. Fungsi utama dari kelompok adalah memastikan bahwa semua

anggota kelompok dapat belajar dan juga untuk mempersiapkan anggota

kelompok dalam menghadapi tes.

Setelah guru mempresentasikan materi, anggota kelompok bersama-sama

mempelajari lembar tugas atau materi lain yang diberikan guru. Bila terdapat

kesulitan maka anggota kelompok secara bersama mendiskusikan kesulitan

tersebut, membandingkan jawaban-jawaban dari masing-masing anggota dan

membetulkan kesalahan-kesalahan konsep dari anggota kelompok.

Kelompok adalah hal yang sangat penting dalam STAD. Pada setiap

pendapat, tekanan diberikan pada anggota kelompok yang terbaik dan anggota

kelompok yang terbaik tersebut harus membantu anggota lain dalam penguasaan

materi.

xxxi

3. Tes Individu (Kuis)

Setelah kurang lebih satu atau dua pertemuan guru mempresentasikan

materi kelas, dan satu atau dua kali kelompok melakukan latihan dalam

kelompoknya, siswa diberi tes secara individu. Siswa tidak boleh saling

membantu selama tes. Jadi setiap siswa bertanggung jawab secara individu dalam

menguasai materi pelajaran yang diberikan. Hasil selanjutnya diberi skor.

4. Skor Perkembangan Individu

Dibalik ide skor perkembangan individu adalah untuk menyampaikan

tujuan prestasi masing-masing siswa yang dapat dicapai jika siswa bekerja lebih

keras dan mengerjakan lebih baik dari pada materi yang telah lampau.

Keadaannya mungkin siswa mengalami peningkatan skor atau bahkan menurun.

Kemudian guru menghitung besarnya skor perkembangan yaitu dengan

membandingkan skor tes materi yang lalu dengan skor yang baru. Untuk skor tes

dengan skala 100 berlaku ketentuan sebagai berikut:

Tabel 2.1: Tabel Skor Perkembangan Individu

Skor Individu Skor Perkembangan Individu

Turun lebih dari 10 5

Turun sampai dengan 10 10

Tetap atau naik sampai dengan 10 20

Naik lebih dari 10 30

Tetap di puncak/maksimal 30

5. Penghargaan Kelompok

Kelompok akan mendapat penghargaan atau hadiah berdasarkan skor rata-

rata kelompok dengan ketentuan sebagai berikut:

Tabel 2.2: Tabel Penghargaan Kelompok

Rata-rata skor kelompok Penghargaan

X £20 Good Team ( Tim Baik )

20< X £25 Great Team ( Tim Hebat )

X >25 Super Team ( Tim Istimewa )

xxxii

2) Numbered Heads Together

Spencer Kagan (1992) dalam Slavin (1995:131) mendeskripsikan struktur

informal untuk pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam pelajaran sehari-

hari. Sebagian dari struktur tersebut adalah sebagai berikut:

1) Diskusi Kelompok Spontan

2) Numbered Heads Together

3) Team Product

4) Cooperative Review

5) Think-Pair-Share

Pada Numbered Heads together, setiap siswa dalam kelompok memiliki

satu nomor dan siswa itu juga mengetahui bahwa hanya seorang siswa yang akan

dipanggil untuk mewakili kelompoknya. Kesempatan diskusi dan berbagi ide

haruslah digunakan untuk memperoleh berbagai informasi sehingga setiap

anggota kelompok mengetahui jawabannya.

Numbered Heads Together pada dasarnya merupakan sebuah varian

diskusi kelompok, ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang

mewakili kelompoknya, tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan

mewakili kelompoknya itu. Cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa.

Cara ini juga merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung

jawab individual dalam diskusi kelompok.

3) Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang dilengkapi dengan

Numbered Heads Together

Berdasarkan kajian teori tersebut maka yang dimaksud dengan

pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads

Together adalah metode pembelajaran yang menempatkan siswa dalam

kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4 atau 5 siswa yang heterogen, setiap

siswa dalam kelompok memiliki satu nomor yang suatu saat akan dipanggil oleh

guru untuk mewakili kelompoknya. Hal ini akan meningkatkan tanggung jawab

individual dalam diskusi kelompok, sehingga setiap siswa terlibat total dalam

kegiatan kelompoknya.

xxxiii

Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD yang

dilengkapi dengan Numbered Heads Together adalah :

1. Membentuk kelompok beranggotakan 4 siswa yang heterogen. Setiap siswa

dalam kelompok mendapat sebuah nomor.

2. Guru memperkenalkan materi melalui presentasi.

3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota

kelompok. Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota

lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.

4. Guru memanggil salah satu nomor, siswa dengan nomor yang dipanggil

melaporkan hasil kerjasama kelompok.

5. Guru memberi kuis kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis, siswa

tidak boleh saling membantu.

6. Memberikan penghargaan kepada kelompok sesuai dengan rata-rata skor

perkembangan individu.

c. Metode Pembelajaran Konvensional

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 459), “Konvensional

adalah tradisional”. Sedangkan tradisional diartikan sebagai sikap atau cara

berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat

kebiasaan yang ada secara turun temurun. Jadi, pembelajaran konvensional adalah

pembelajaran dimana guru memiliki sikap, cara berfikir dan bertidak yang selalu

berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun.

Pembelajaran matematika yang pada umumnya digunakan para guru

matematika adalah metode ekspositori/ ceramah bervariasi. Dalam pembelajaran

ini, guru memegang peran aktif sedangkan siswa cenderung pasif. Pembelajaran

berpusat pada guru. Guru yang memegang peran dalam menentukan isi dan

langkah-langkah dan kegiatan yang harus dilakukan dalam pembelajaran. Peran

siswa adalah mendengarkan dan mencatat pokok-pokok materi yang diberikan

oleh guru. Keaktifan siswa hanya sebatas bertanya kepada guru terhadap materi

yang belum dipahami, bila diperlukan dan menjawab pertanyaan dari guru, bila

ditunjuk. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang tidak begitu aktif tersebut

xxxiv

mengakibatkan siswa mudah jenuh, sangat bergantung pada guru, kurang

berinisiatif dan tidak terlatih untuk mandiri dalam belajar.

Ada beberapa ciri dari pembelajaran konvensional diantaranya adalah:

1. Siswa adalah penerima informasi secara pasif 2. Siswa belajar secara individu 3. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis 4. Perilaku dibangun atas kebiasaan 5. Ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan 6. Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka raport) 7. Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca,

mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran

8. Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep atau hukum yang berada di luar dari manusia

9. Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final 10. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

(Nur Hadi, 2002: 7-8)

3. Gaya Belajar

Setiap siswa mempunyai cara-cara yang berbeda-beda yang sering

dilakukan dalam aktifitas belajarnya. Gaya belajar merupakan cara yang

cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan

memprosesnya. Sesuai dengan pernyataan Bobbi DePorter dan Mike Hernacki

(1990:110-112) bahwa, “Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana

ia menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi”. Sedangkan

Winkel (1996:147) mengemukakan bahwa, “Gaya belajar merupakan cara belajar

yang khas bagi siswa. Cara yang khas ini bersifat individual yang kerapkali tidak

disadari dan sekali terbentuk dan cenderung bertahan terus”. Nasution (2004:94)

menyatakan bahwa, “Gaya belajar adalah cara yang dengan konsisten dilakukan

oleh seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat,

berfikir dan memecahkan soal”.

Dari beberapa pengertian yang disebutkan di atas dapat disimpulkan

bahwa gaya belajar siswa adalah cara belajar yang khas, bersifat konsisten,

seringkali tidak disadari yang merupakan kombinasi dari bagaimana siswa

tersebut menyerap dan mengatur serta mengolah informasi.

xxxv

Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999:112-113) menggolongkan gaya

belajar berdasarkan cara menerima informasi dengan mudah ke dalam tiga tipe

yaitu gaya belajar tipe visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetik. Selanjutnya,

sesuai dengan pembagian tipe gaya belajar, orang dapat diklasifikasikan menjadi

tiga macam yaitu orang bertipe visual, auditorial, dan kinestetik.

a. Visual

Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999:116) mengemukakan bahwa orang

visual belajar melalui apa yang mereka lihat.

Adapun ciri-ciri orang yang bertipe visual adalah: 1. Rapi dan teratur 2. Teliti terhadap detail 3. Lebih mudah dalam mengingat apa yang dilihat dari pada yang didengar. 4. Mengingat dengan asosiasi visual. 5. Lebih suka membacakan dari pada dibacakan.

Sejalan dengan tipe visual, siswa yang memiliki gaya belajar tipe penglihatan

dapat menerima informasi dengan baik bila ia melihat langsung (Sriyono, 1992:4)

b. Auditorial

Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999:118) mengemukakan bahwa pelajar

auditorial belajar melalui apa yang mereka dengar.

Orang-orang yang bertipe auditorial memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut: 1. Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja 2. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan. 3. Mudah terganggu oleh keributan 4. Suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar 5. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan

daripada yang dilihat. Sriyono (1992:4) menyatakan bahwa, “Siswa yang bertipe mendengarkan dapat

menerima dengan baik setiap informasi dengan mendengarkan ”

c. Kinestetik

Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999:118-120) mengemukakan bahwa

pelajar kinestetik belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.

Adapun ciri-ciri perilaku dari orang-orang yang bertipe kinestetik adalah sebagai berikut: 1. Selalu berorientasi pada fisik

xxxvi

2. Belajar melalui manipulasi dan praktek 3. Tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama 4. Menyukai buku-buku yang berorientasi pada alur atau isi 5. Ingin melakukan segala sesuatu

Sriyono (1992:4) menyatakan bahwa, “Siswa yang bertipe motorik akan

menerima informasi dengan baik bila ia melakukan sendiri secara langsung”.

4. Tinjauan tentang Materi Persamaan Garis Lurus

Materi persamaan garis lurus merupakan salah satu materi yang diajarkan

pada siswa kelas VIII SMP semester I berdasarkan kurikulum tahun 2006 (KTSP).

Adapun materi yang diajarkan adalah:

Menentukan gradien, persamaan, dan grafik garis lurus :

1) Siswa dapat mengenal persamaan garis lurus dalam berbagai bentuk dan

variabel.

2) Siswa dapat menyusun tabel pasangan dan menggambar grafik pada

bidang Cartesius.

3) Siswa dapat mengenal pengertian dan menentukan gradien persamaan

garis lurus.

4) Siswa dapat menentukan persamaan garis lurus.

5) Siswa dapat menentukan koordinat titik potong dua garis.

6) Siswa dapat menggunakan konsep persamaan garis lurus untuk

memecahkan masalah.

B. Kerangka Pemikiran

Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi yang

diperoleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Faktor-faktor yang

mempengaruhi prestasi belajar matematika dibedakan menjadi dua golongan yaitu

faktor intern yang meliputi perhatian, kesehatan, intelegensi, minat, motivasi,

aktivitas belajar, dan cara belajar serta faktor ekstern yang meliputi: faktor

keluarga, keadaan awal, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan

dalam mengajar, kurikulum, dan lingkungan sekolah. Dalam penelitian ini

beberapa hal yang diperhatikan adalah metode pembelajaran kooperatif tipe

xxxvii

STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads Together, metode konvensional,

dan gaya belajar siswa.

Dalam metode konvensional guru memegang peranan utama dalam

menentukan isi dan urutan langkah dalam menyampaikan materi pelajaran, siswa

hanya mendengar dan mencatat penjelasan dari guru. Siswa hanya akan

mengingat materi yang ada dengan menghafal bukan memahami, sehingga

pengetahuan yang diperoleh akan mudah terlupakan dan tujuan pembelajaran

tidak tercapai.

Pada dasarnya belajar matematika merupakan penanaman konsep. Hal

yang terpenting dalam belajar matematika adalah bagaimana siswa dengan

mudah memahami konsep-konsep dasar yang ada dalam matematika. Sehingga

pendekatan pembelajaran konvensional tersebut seharusnya diubah.

Metode pembelajaran kooperatif model STAD adalah metode

pembelajaran yang lebih menekankan pada kegiatan belajar kelompok, di mana

siswa secara aktif melakukan diskusi, kerja sama, saling membantu, dan semua

anggota kelompok mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama. Pada

Numbered Heads Together setiap siswa dalam kelompok memiliki satu nomor

yang suatu saat akan dipanggil oleh guru untuk mewakili kelompoknya. Hal ini

akan meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok, sehingga

setiap siswa terlibat total dalam kegiatan kelompoknya. Metode pembelajaran

kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads Together

dimaksudkan dalam proses pembelajaran siswa ditempatkan dalam kelompok

dengan setiap anggota kelompok memiliki satu nomor, dalam kegiatan kelompok

semua siswa secara aktif melakukan diskusi dan berbagi ide sehingga setiap

anggota kelompok memahami materi yang dipelajari.

Pada proses pembelajaran, setiap siswa mempunyai cara yang khas

dalam menerima materi pelajaran yang disebut dengan gaya belajar. Gaya belajar

dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.

Walaupun pada umumnya siswa memiliki ketiga gaya belajar tersebut, namun ada

salah satu yang paling dominan diantara ketiganya yang dimiliki siswa. Gaya

xxxviii

belajar ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar

matematika.

Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki ketiga tipe gaya belajar, siswa yang

bertipe kinestetik termasuk siswa yang aktif. Oleh karena itu siswa bertipe

kinestetik akan lebih mudah memahami konsep persamaan garis lurus daripada

siswa bertipe visual dan auditorial. Dengan demikian, perbedaan gaya belajar

mengakibatkan perbedaan prestasi belajar siswa pada materi persamaan garis

lurus.

Selain itu, dalam pembelajaran kooperatif siswa diarahkan untuk

bekerjasama, saling membantu memecahkan masalah, berdiskusi, menilai

kemampuan sendiri dan mengisi kekurangan anggota lainnya sampai siswa

memastikan bahwa setiap orang dalam kelompoknya telah menguasai konsep

yang diajarkan yaitu persamaan garis lurus. Berdasarkan karakteristik yang

dimiliki pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada keaktifan siswa,

maka siswa yang bertipe kinestetik akan lebih mudah memahami konsep pelajaran

yang disampaikan dengan metode pembelajaran STAD yang dilengkapi dengan

Numbered Heads Together. Jadi siswa yang bertipe kinestetik akan memiliki

prestasi yang lebih tinggi daripada siswa yang bertipe visual maupun auditorial.

Dengan kata lain, penggunaan metode pembelajaran STAD yang dilengkapi

dengan Numbered Heads Together dan perbedaan gaya belajar mempengaruhi

secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa.

Diagram 2. Diagram Kerangka Pikir Penelitian

Metode pembelajaran

Gaya Belajar

Prestasi Belajar Matematika

xxxix

C. Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran tersebut di atas

dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang dilengkapi dengan

Numbered Heads Together menghasilkan prestasi belajar matematika yang

lebih baik dari pada metode konvensional pada materi persamaan garis

lurus.

2. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya

belajar visual, auditorial, dan kinestetik pada materi persamaan garis lurus.

3. Terdapat interaksi antara metode pembelajaran matematika dengan gaya

belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa pada materi

persamaan garis lurus.

xl

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sambi, Boyolali pada kelas

VIII semester I tahun pelajaran 2007/2008. Sedangkan tempat untuk

melaksanakan uji coba (try out) instrumen maupun angket adalah di SMP Negeri

1 Simo, Boyolali pada kelas VIII semester I tahun pelajaran 2007/2008.

2. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanakan penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

a. Tahap Persiapan

1) Bulan Juli 2007 : penyusunan proposal skripsi

2) Bulan Juli - Agustus 2007 : pengajuan instrumen penelitian

b. Tahap Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2007 sampai dengan bulan

Desember 2007 dengan perincian sebagai berikut:

1) Pelaksanaan eksperimen metode pembelajaran dilaksanakan pada bulan

November dan Desember 2007.

2) Pelaksanaan uji coba instrumen dilaksanakan pada minggu ke II bulan

Desember 2007.

3) Pengambilan data prestasi belajar dilaksanakan pada minggu ke III bulan

Desember 2007.

c. Tahap Pengolahan Data dan Penyusunan Laporan

1) Bulan Januari 2009 : pengolahan data hasil penelitian

2) Bulan Februari-Maret 2009 : penyusunan laporan

B. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental

semu (quasi-experimental research). Hal itu dikarenakan penelitian ini tidak

memungkinkan untuk mengontrol semua variabel yang relevan. Seperti yang

22

xli

dikemukakan Budiyono (2003:82) bahwa, “Tujuan eksperimental semu adalah

untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang

dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak

memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variabel yang

relevan”. Dalam penelitian ini dilakukan pengontrolan variabel untuk dilihat

pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika. Variabel yang dimaksud

adalah variabel bebas, yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang

dilengkapi dengan Numbered Heads Together pada kelas eksperimen, dan metode

pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

Sebelum eksperimen dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji

keseimbangan yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah keadaan kelas

eksperimen dan kelas kontrol dalam keadaan setimbang atau tidak. Data yang

digunakan untuk menguji keseimbangan tersebut adalah nilai ujian mid semester I

kelas VIII mata pelajaran matematika.

Dalam penelitian ini, kedua kelas diasumsikan sama dalam semua segi

yang sesuai dan hanya berbeda dalam penggunaan jenis pembelajaran. Pada akhir

eksperimen, kedua kelas diukur dengan menggunakan alat ukur yang sama yaitu

soal-soal tes prestasi belajar matematika pada materi persamaan garis lurus. Hasil

pengukuran tersebut digunakan sebagai data eksperimen, kemudian data yang

diperoleh diolah dan hasilnya dibandingkan dengan tabel uji statistiknya.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Penelitian

Suharsimi Arikunto (1998:115) menyatakan bahwa "Populasi adalah

keseluruhan subyek penelitian". Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh

siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sambi tahun pelajaran 2007/2008.

2. Sampel Penelitian

Dalam suatu penelitian, tidak perlu melakukan penelitian terhadap semua

anggota populasi, karena disamping memerlukan biaya yang sangat besar juga

membutuhkan waktu yang relatif lama. Dengan penelitian yang dilakukan

terhadap sebagian dari anggota populasi, diharapkan hasil yang diperoleh dapat

xlii

menggambarkan sifat populasi yang bersangkutan. Sebagian populasi yang

diambil tersebut disebut sebagai sampel. Suharsimi Arikunto (2002:109)

mengemukakan, ”Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak dengan cara

undian (sampling random kluster). Budiyono (2003: 37) menyatakan, “Sampling

random kluster adalah sampling random yang dikenakan berturut-turut terhadap

unit-unit atau sub-sub populasi. Unit-unit atau sub-sub populasi ini disebut

kluster. Undian dilakukan sebanyak satu tahap dengan dua kali pengambilan.

Nomor undian yang keluar pertama ditetapkan sebagai kelas kontrol yaitu kelas

VIIIF sedangkan nomor undian yang keluar berikutnya ditetapkan sebagai kelas

eksperimen yaitu kelas VIIIE.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Identifikasi Variabel

Untuk keperluan pengumpulan data, dalam penelitian ini terdapat dua

variabel bebas dan satu variabel terikat, yaitu:

a. Variabel Bebas

1) Metode Pembelajaran

a) Definisi Operasional: metode pembelajaran adalah suatu cara yang

digunakan untuk menyampaikan materi persamaan garis lurus kepada

siswa. Adapun kelas eksperimen menggunakan metode kooperatif tipe

STAD yang dilengkapi dengan Numbered Heads Together dan kelas

kontrol menggunakan metode konvensional (ceramah bervariasi).

b) Skala Pengukuran : nominal dengan dua kategori yaitu metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilengkapi dengan Numbered

Heads Together dan metode konvensional.

c) Indikator : metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar

mengajar pada materi persamaan garis lurus.

d) Simbol : ai, i = 1, 2

xliii

2) Gaya belajar matematika

a) Definisi Operasional

Gaya belajar matematika adalah cara khas yang bersifat konsisten yang

dimiliki oleh setiap siswa dalam menerima atau menangkap informasi

matematika.

b) Skala pengukuran: nominal yang dibagi menjadi tiga tipe gaya belajar

yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetik. Penggolongan gaya belajar

matematika siswa didasarkan pada kecenderungan skor siswa pada tipe

yang sesuai. Siswa mempunyai skor tertinggi pada tipe tertentu

menunjukkan bahwa siswa tergolong tipe tersebut. Apabila terdapat

dua tipe yang memiliki skor tertinggi maka siswa tidak tergolong tipe

manapun.

c) Indikator : Skor angket gaya belajar matematika

d) Simbol : bj, j = 1, 2, 3

b. Variabel Terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa

pada materi persamaan garis lurus.

a) Definisi Operasional : prestasi belajar matematika adalah hasil belajar

matematika siswa pada materi persamaan garis lurus setelah diberi

perlakuan

b) Skala pengukuran : interval

c) Indikator : nilai tes prestasi belajar matematika pada materi persamaan

garis lurus

d) Simbol : aibj, i = 1, 2 dan j = 1, 2, 3

2. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian faktorial 2 x 3, dengan

maksud untuk mengetahui pengaruh dua variabel bebas terhadap variabel terikat.

xliv

Tabel 3.1. Rancangan Penelitian

Gaya Belajar

Visual

(b1)

Auditorial

(b2)

Kinestetik

(b3)

STAD yang

dilengkapi dengan

Numbered Heads

Together (a1)

a1b1 a1b2 a1b3 Metode

Pembelajaran

Konvensional (a2) a2b1 a2b2 a2b3

3. Metode Pengumpulan Data dan Penyusunan Instrumen

Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini

adalah:

a. Metode Dokumentasi

Suharsimi Arikunto (1998:234) menyatakan bahwa, “…, metode

dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa

catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger,

agenda dan sebagainya”.

Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data nilai ujian mid

semester I kelas VIII mata pelajaran matematika yang selanjutnya akan digunakan

untuk menguji keseimbangan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

b. Metode Tes

Menurut Suharsimi Arikunto (1998:127), “Tes adalah serentetan

pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur

ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang diliki oleh

individu atau kelompok”. Selanjutnya dijelaskan bahwa, “Tes prestasi yaitu tes

yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari

sesuatu” (1998: 128).

Metode tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai prestasi

belajar siswa pada materi persamaan garis lurus. Langkah-langkah membuat tes

ini adalah:

A

B

xlv

1. membuat kisi-kisi tes

2. menyusun butir-butir tes

3. menguji validitas isi

4. mengadakan uji coba tes

5. menguji reliabilitas

6. revisi butur-butir tes

Uji coba instrumen tes dilaksanakan di SMP Negeri 1 Simo tahun

pelajaran 2007/2008 berdasarkan kesamaan karakteristik antara subjek uji coba

dan subjek sampel penelitian. Tujuan uji coba instrumen ini adalah untuk

mengetahui konsistensi internal dan reliabilitas instrumen tes tersebut.

Analisis item soal meliputi uji validitas, konsistensi internal, dan uji

reliabilitas.

1. Uji Validitas

Budiyono (2003: 59) menyatakan bahwa”Untuk menilai apakah suatu

intrumen mempunyai validitas yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah

melalui expert judgement ( penilaian yang dilakukan oleh para pakar)”.

Suatu instrument valid menurut validitas isi apabila instrument tersebut

telah merupakan sample yang representatif dari keseluruhan isi hal yang akan

diukur.

Dalam penelitian ini, instrument dikatakan valid jika masing-masing butir

tes sudah sesuai dengan semua kriteria dalam lembar validitas tes.

2. Konsistensi Internal

Sebuah instrumen terdiri dari sejumlah butir-butir instrumen. Menurut

Budiyono (2003: 65), “Kesemua butir itu harus mengukur hal yang sama dan

menunjukkan kecenderungan yang sama pula”. Konsistensi internal masing-

masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir-butir tersebut dengan skor total.

Biasanya untuk menghitung konsistensi internal untuk butir ke-i, rumus yang

digunakan adalah rumus korelasi momen produk dari karl Pearson berikut.

=xyr( )( )

( )( ) ( )( )2222 YYnXXn

YXXYn

S-SS-S

SS-S

dengan:

xlvi

xyr : indeks konsistensi internal untuk butir ke-i

n : banyaknya subjek yang dikenai tes (instrumen)

X : skor butir ke-i (dari subjek uji coba)

Y : total skor (dari subjek uji coba )

Jika indeks konsistensi internal untuk butir ke-i kurang dari 0,3 maka butir

tersebut tidak dipakai.

(Budiyono, 2003: 65)

Dalam penelitian ini soal yang digunakan adalah soal yang konsisten, yaitu

yang memiliki xyr ³0,3 sedangkan soal yang memiliki xyr < 0,3 tidak dipakai.

3. Uji Reliabilitas

Budiyono (2003:65) menyatakan bahwa, “Suatu instrumen disebut reliabel

apabila hasil pengukuran dengan instrumen tersebut adalah sama jika sekiranya

pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang sama pada waktu yang berlainan

atau pada orang-orang yang berlainan pada waktu yang sama atau pada waktu

yang berlainan”. Reliabilitas instrumen tes diuji dengan perhitungan

menggunakan rumus KR-20, yaitu:

÷÷ø

öççè

æ -÷øö

çèæ

-= å

2

2

11 1 t

iit

s

qps

NN

r

dengan :

11r : indeks reliabilitas instrumen

N : cacah butir instrumen

pi : proporsi cacah subjek yang menjawab benar pada butir ke-i

qi : 1- pi, i : 1, 2, 3, … , N

st2 : variansi total

(Budiyono, 2003:69)

Dalam penelitian ini, soal digunakan jika memiliki indeks reliabilitas 0,70

atau lebih.

c. Metode Angket

Pengertian angket sama dengan kuesioner. Suharsimi Arikunto (2002:128)

memberikan pengertian bahwa, “Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis

xlvii

yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan

tentang pribadinya atau hal-hal lain yang ia ketahui”.

Dalam penelitian ini, metode angket digunakan untuk memperoleh data

mengenai gaya belajar siswa. Jawaban-jawaban angket menunjukkan gaya belajar

siswa.

Prosedur pemberian skor berdasarkan gaya belajar matematika siswa, yaitu

1. Untuk instrumen positif

Jawaban a, skor 4 menunjukkan gaya belajar matematika sangat sesuai pada

tipe tertentu.

Jawaban b, skor 3 menunjukkan gaya belajar matematika sesuai pada tipe

tertentu

Jawaban c, skor 2 menunjukkan gaya belajar matematika kurang sesuai pada

tipe tertentu

Jawaban d, skor 1 menunjukkan gaya belajar matematika tidak sesuai pada

tipe tertentu

2. Untuk instrumen negatif

Jawaban a, skor 1 menunjukkan gaya belajar matematika tidak sesuai pada

tipe tertentu

Jawaban b, skor 2 menunjukkan gaya belajar matematika kurang sesuai pada

tipe tertentu

Jawaban c, skor 3 menunjukkan gaya belajar matematika sesuai pada tipe

tertentu

Jawaban d, skor 4 menunjukkan gaya belajar matematika sangat sesuai pada

tipe tertentu.

Setelah butir soal dibuat, angket diuji validitas isi kemudian diuji cobakan

pada siswa SMP Negeri 1 Simo kelas VIII tahun pelajaran 2007/2008.

Selanjutnya, diuji konsistensi internal dan reliabilitas angket tersebut.

1. Uji Validitas

Budiyono (2003:59) menyatakan bahwa”Untuk menilai apakah suatu

intrumen mempunyai validitas yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah

melalui expert judgement ( penilaian yang dilakukan oleh para pakar)”.

xlviii

Suatu instrument valid menurut validitas isi apabila instrument tersebut

telah merupakan sample yang representatif dari keseluruhan isi hal yang akan

diukur.

Dalam penelitian ini, instrument dikatakan valid jika masing-masing butir

tes sudah sesuai dengan semua kriteria dalam lembar validitas tes.

2. Konsistensi Internal

Sebuah instrumen terdiri dari sejumlah butir-butir instrumen. Menurut

Budiyono (2003: 65), “Kesemua butir itu harus mengukur hal yang sama dan

menunjukkan kecenderungan yang sama pula”. Konsistensi internal masing-

masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir-butir tersebut dengan skor total.

Biasanya untuk menghitung konsistensi internal untuk butir ke-i, rumus yang

digunakan adalah rumus korelasi momen produk dari karl Pearson berikut.

=xyr( )( )

( )( ) ( )( )2222 YYnXXn

YXXYn

S-SS-S

SS-S

dengan:

xyr : indeks konsistensi internal untuk butir ke-i

n : banyaknya subjek yang dikenai tes (instrumen)

X : skor butir ke-i (dari subjek uji coba)

Y : total skor (dari subjek uji coba )

Jika indeks konsistensi internal untuk butir ke-i kurang dari 0,3 maka butir

tersebut harus dibuang

(Budiyono, 2003:65)

Dalam penelitian ini angket yang digunakan adalah angket yang konsisten,

yaitu yang memiliki xyr ³0,3.

3. Uji Reliabilitas

Untuk menguji reliabilitas angket, perhitungan indeks reliabilitasnya

menggunakan rumus Alpha yaitu:

÷÷ø

öççè

æ-÷

øö

çèæ

-= å

2

2

11 11 t

i

s

s

nn

r

Dengan :

xlix

11r : indeks reliabilitas instrumen

n : cacah butir instrumen

2is : variansi

2ts : variansi skor-skor yang diperoleh subjek uji coba

Suatu instrumen dikatakan reliabel jika indek reliabilitasnya 0, 70 atau lebih.

(Budiyono, 2003: 70)

Dalam penelitian ini angket digunakan jika memiliki indeks reliabilitas

0,70 atau lebih.

E. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan anava dua jalan dengan ukuran sel 2 x 3.

Faktor yang digunakan untuk menguji signifikansi perbedaan efek baris, efek

kolom, dan kombinasi efek baris dan efek kolom terhadap prestasi belajar

matematika siswa adalah metode pembelajaran (faktor A) dan gaya belajar

matematika siswa (faktor B). Teknik analisis data ini digunakan untuk menguji

ketiga hipotesis yang diajukan sebelumnya.

1. Uji keseimbangan

Uji ini dilakukan pada saat kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

belum dikenai perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok

tersebut seimbang. Secara statistik, apakah terdapat perbedaan mean yang

berarti dari dua sampel yang independen. Statistik ujinya adalah uji-t. Sebelum

dilakukan perhitungan, diuji terlebih dahulu apakah kedua kelompok

berdistribusi normal.

1) Hipotesis

Ho : µ1= µ2 (kedua sampel berasal dari populasi yang seimbang)

H1 : µ1≠ µ2 (kedua sampel berasal dari populasi yang tidak seimbang)

2) Taraf Signifkansi (α) = 0,05

3) Statistik Uji yang digunakan :

l

t = ( ) ( )2nnt~

n1

n1

s

XX21

21p

21 -++

-

dengan sp2=

2nns)1n(s)1n(

21

222

211

-+-+-

Keterangan :

1X : nilai ujian mid semester I kelas VIII mata pelajaran matematika

kelompok eksperimen

2X : nilai ujian mid semester I kelas VIII mata pelajaran matematika

kelompok kontrol

21s : variansi dari kelompok eksperimen

22s : variansi dari kelompok kontrol

n1 : ukuran sampel kelompok eksperimen

n2 : ukuran sampel kelompok kontrol

4) Daerah kritik

DK: 2/tt|t{ a< atau }2/tt a>

5) Keputusan Uji

H0 ditolak jika t ε DK

6) Kesimpulan

a. Kedua sampel berasal dari populasi yang seimbang jika Ho

diterima.

b. Kedua sampel berasal dari populasi yang tidak seimbang jika Ho

ditolak

(Budiyono,2003: 151)

2. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian ini

dari populasi distribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas ini

digunakan metode Lilliefors dengan prosedur :

li

1) Hipotesis

Ho : sampel berasal dari populasi normal

H1 : sampel tidak berasal dari populasi normal

2) Statistik Uji

L = max │F(Zi) - S (Zi)│

Dengan:

F(Zi) : P(Z≤Zi)

Z ~ N(0,1)

Zi : skor standar, s

XXZ i

i

)( -=

s : standar deviasi

S(Zi) : proporsi cacah Z≤Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi : skor responden

3) Taraf Siginifikansi (α) = 0,05

4) Daerah Kritik (DK)

DK = {L│L > Lα:n } dengan n adalah ukuran sampel.

5) Keputusan Uji

Ho ditolak Jika LÎ DK.

6) Kesimpulan

a). Sampel berasal dari populasi normal jika Ho diterima.

b). Sampel tidak berasal dari populasi normal jika HO ditolak

(Budiyono, 2004 : 170)

b. Uji Homogenitas

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian

mempunyai variansi yang sama atau tidak. Untuk menguji homogenitas ini

digunakan metode Bartlett. dengan statistik uji Chi kuadrat dengan prosedur

sebagai berikut :

1). Hipotesis

Ho : 22

21 ss = = …= 2

ks

H1 : tidak semua variansi sama

lii

2). Statistik Uji yang digunakan :

úû

ùêë

é-=c å

=

k

1j

2jj

2 SlogfRKGlog.fC303,2

dengan:

χ2~ χ2(k-1)

k : banyaknya sampel

f : derajat kebebasan untuk RKG = N - k

N : banyaknya seluruh nilai ( pengukuran ).

fj : derajat kebebasan untuk Sj2 = nj - 1

j : l, 2, ..., k

nj : cacah pengukuran pada sampel ke-j

c=úúû

ù

êêë

é-

-+ å ffk j

11)1(3

11

RKG = åå

j

i

f

SS

( )å å-=

j

jjj n

XXSS

2

2 = (nj-1)sj2

3). Taraf Signifikansi ( α ) = 0,05

4). Daerah Kritik (DK)

DK={ }1:222

-> kaccc

5). Keputusan Uji

Ho ditolak Jika χ 2ÎDK

6). Kesimpulan

a) Populasi-populasi homogen jika H0 diterima.

b) Populasi-populasi tidak homogen jika H0 ditolak

(Budiyono, 2004 : 176-177)

3. Pengujian Hipotesis

Untuk pengujian hipotesis digunakan analisis variansi dua jalan dengan

sel tak sama, dengan model data sebagai berikut :

liii

Xijk = µ + αi + βj + (αβ )ij + εijk

dengan :

Xijk : data (nilai) ke-k pada baris ke-i dan kolom ke-j

µ : rerata dari seluruh data (rerata besar, grand mean)

αi : efek baris ke-i pada variabel terikat

βj : efek kolom ke j pada variabel terikat

(αβ)ij : kombinasi efek baris ke-i dan kolom k-j pada variabel terikat

εijk :deviasi data Xijk terhadap rataan populasinya (µijk) yang berdistribusi

normal dengan rataan 0

i : 1, 2,...., p ; p : cacah baris (A)

J : 1, 2, ..., q ; q : cacah kolom (B)

k : 1, 2, ..., nij ; nij : cacah data amatan pada setiap sel

(Budiyono, 2004: 228)

Prosedur dalam pengujian dengan menggunakan analisis variansi dua

jalan dengan sel tak sama, yaitu :

a. Hipotesis

1) H0A : αi = 0 untuk setiap i = 1, 2, ... p (tidak ada pengaruh metode

pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika)

H1A : paling sedikit ada satu αi yang tidak nol (ada perbedaan efek antar

baris terhadap variabel terikat)

2) H0B : βj = 0 untuk setiap j = 1, 2, ... q (tidak ada perbedaan efek antara

kolom terhadap variabel terikat)

H1B : paling sedikit ada satu βj yang tidak nol (ada perbedaan efek antar

kolom terhadap variabel terikat)

3) H0AB : (αβ)ij = 0 untuk setiap i = 1, 2, ... p dan j = l, 2, ... q (tidak ada

interaksi baris dan kolom terhadap variabel terikat)

H1AB : paling sedikit ada satu (αβ)ij yang tidak nol (ada interaksi baris

dan kolom terhadap variabel terikat).

(Budiyono, 2004: 228)

liv

b. Komputasi

· Notasi dan Tata Letak Data

Tabel 3.2. Data Amatan, Rataan, dan Jumlah Kuadrat Deviasi

Gaya Belajar Siswa

B1 B2 B3

n11 n12 n13

ΣX11k ΣX12k ΣX13k

X 11 X 12 X 13

ΣX211k ΣX2

12k ΣX213k

C11 C12 C13

Al

SS11 SS12 SS13 n21 n22 n23 ΣX21k ΣX22k ΣX23k

X 21 X 22 X 23 ΣX2

21k ΣX222k ΣX2

23k

C21 C22 C23

Metode

Pembelajaran

A2

SS21 SS22 SS2 3

Tabel 3.3 Rataan dan Jumlah Rataan

B

A b1 b2 b3 Total

a1 11AB 12AB 13AB A1

a2 21AB 22AB 23AB A2

Total B1 B2 B3 G

Pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama didefinisikan

notasi-notasi sebagai berikut :

nij = ukuran sel ij (sel pada baris ke-i dan kolom ke-j)

= cacah data amatan pada sel ij

= frekuensi sel ij

n h : rataan harmonik frekuensi seluruh sel

B

A

lv

n h =

åji ijn

pq

,

1

N : cacah seluruh data amatan

å=ji

ijnN,

SSij : jumlah kuadrat deviasi data amatan pada sel ij

2

2

ij

ijkk

ijkkij n

X

XSS÷÷ø

öççè

æ

-=å

å

ijAB : rataan pada sel ij = ij

kijk

n

Ai : Jumlah rataan pada baris ke-i = åj

ijAB

Bi : Jumlah rataan pada kolom ke-j = åi

ijAB

G : Jumlah rataan semua sel = ååå ==j

ji

iji

ij BAAB,

Rerata Harmonik frekuensi seluruh sel

å=

ji ij

h

n

pqn

,

1

Untuk memudahkan perhitungan, didefinisikan besaran-besaran (l), (2),

(3), (4) dan (5) sebagai berikut :

pqG 2

)1( =

å=ji

ijSS,

)2(

å=i

i

q

A2

)3(

lvi

å=j

j

p

B 2

)4(

å=ji

ijAB,

2)5(

Pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama terdapat lima

jumlah kuadrat, yaitu :

JKA = { })1()3( -hn

JKB = { })1()4( -hn

JKAB = { })4()3()5()1( --+hn

JKG = (2)

JKT = JKA + JKB + JKAB + JKG

dengan :

JKA = jumlah kuadrat baris

JKB = jumlah kuadrat kolom

JKAB = jumlah kuadrat interaksi antara baris dan

JKG = jumlah kuadrat galat

JKT = Jumlah kuadrat total

Derajat kebebasan (dk) untuk rnasing-masing jumlah kuadrat tersebut

adalah:

dkA = p-1 dkT = N-1

dkB = q-1 dkG = N-pq

dkAB = (p-1)(q-1)

Berdasarkan jumlah kuadrat dan derajat kebebasan masing-masing

diperoleh rataan kuadrat berikut

RKA = dkAJKA

RKAB =dkABJKAB

RKB = dkBJKB

RKG = dkGJKG

c. Statistik Uji

· Untuk H0A adalah Fa = RKGRKA

lvii

· Untuk H0B adalah Fb = RKGRKB

· Untuk H0AB adalah Fab = RKGRKAB

d. Taraf Signifikansi (α) = 0,05

e. Daerah Kritik

(1). Daerah kritik untuk Fa adalah DK { Fa│Fa > F α:p-1,N-pq}

(2). Daerah kritik untuk Fh adalah DK { Fb │ Fb > Fα:q-1,N-pq}

(3). Daerah kritik untuk Fab adalah DK { Fab │ Fab > Fα:(p-1)(q-1),N-pq }

f. Keputusan Uji

Ho ditolak jika Fhit ÎDK

Rangkuman analisis

Tabel 3.4. Rangkuman analisis

Sumber jk Dk Rk Fhi t Fα

A (baris) JKA dkA RKA Fa Fα,p-1,N-pq

B (kolom) JKB dkB RKB Fb Fα:q-1,N-pq

AB JKAB dkAB RKAB Fab Fα:(p -1) (q -1) ,N-pq

Galat JKG dkG RKG - - Total JKT dkT - - -

(Budiyono, 2004:228-230)

lviii

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

Data dalam penelitian ini meliputi data uji coba tes prestasi belajar

matematika pada materi persamaan garis lurus dan data uji coba angket gaya

belajar matematika siswa, data prestasi belajar matematika pada materi persamaan

garis lurus dan data angket gaya belajar matematika siswa. Berikut ini diberikan

uraian mengenai data-data tersebut:

1. Data Hasil Uji Coba Instrumen

Instrumen yang diuji cobakan dalam penelitian ini berupa tes prestasi

belajar matematika siswa pada materi persamaan garis lurus dan angket untuk

mengungkapkan mengenai gaya belajar matematika siswa

a. Hasil Uji Coba Tes Prestasi Belajar

1) Validitas Isi Uji Coba Tes Prestasi Belajar.

Tes prestasi belajar matematika pada materi persamaan garis lurus

terdiri dari 30 butir. Melalui 2 orang validator, yaitu guru SMP Negeri 1

Sambi dan guru SMP Negeri 1 Simo diperoleh bahwa 30 butir tes prestasi

dinyatakan valid secara validitas isi karena memenuhi kriteria yang

diberikan. (Hasil validasi dapat dilihat pada Lampiran 11)

2) Konsistensi Internal Uji Coba Tes Prestasi Belajar.

Tes prestasi belajar yang diuji cobakan sebanyak 30 soal tes

obyektif dengan rumus korelasi momen produk pada taraf signifikan 5 %

diperoleh 24 soal yang konsisten, sebab rhit> rtab yaitu rhit > 0.3. Sedangkan

6 soal yaitu nomor 15, 17, 19, 27, 28, dan 29 tidak konsisten sebab rhit <

0.3 sehingga diperoleh 24 soal yang dapat digunakan dalam penelitian dan

6 soal yang tidak digunakan. (Perhitungan konsistensi internal uji coba tes

prestasi belajar siswa selengkapnya pada Lampiran 13).

3) Reliabilitas Uji Coba Tes Prestasi Belajar.

Dengan menggunakan rumus KR-20 diperoleh hasil perhitungan

reliabilitas tes prestasi belajar r11 = 0.917 > 0.70 sehingga reliabilitas tes

40

lix

termasuk baik. (Perhitungan reliabilitas uji coba tes prestasi belajar siswa

selengkapnya disajikan pada Lampiran 14).

b. Hasil Uji Coba Angket

1) Validitas Isi Uji Coba Angket Gaya belajar Belajar Matematika Siswa.

Berdasarkan uji validitas isi yang telah dilakukan oleh 2 orang

validator, yaitu guru SMP Negeri 1 Sambi dan guru SMP Negeri 1 Simo

diperoleh bahwa 45 butir angket dinyatakan valid secara validitas isi

karena memenuhi kriteria yang diberikan. (Hasil validasi dapat dilihat

pada Lampiran 12)

2) Konsistensi Internal Uji Coba Angket Gaya Belajar Matematika Siswa.

Angket gaya belajar matematika siswa yang berjumlah 45 butir.

Dari butir-butir angket yang diuji cobakan, dengan rumus korelasi momen

produk dari Karl Pearson pada taraf signifikan 5 % diperoleh 40 butir

angket yang konsisten karena rhit > 0.3. Sedangkan 5 butir angket tidak

konsisten sebab rhit < 0.3. Kelima butir tersebut adalah butir nomor 6, 7,

13, 38, dan 39. Butir nomor 39 adalah butir soal kelompok gaya belajar

visual, butir nomor 6 dan 38 adalah butir soal kelompok gaya belajar

auditorial, butir nomor 7 dan 13 adalah butir soal kelompok gaya belajar

kinestetik. Sehingga terdapat 14 butir soal kelompok visual, 13 butir soal

kelompok auditorial, dan 13 butir soal kelompok kinestetik. Agar jumlah

butir sama untuk setiap kelompok, maka butir soal untuk kelompok visual

dikurangi satu butir soal nomor 12 karena sudah terwakili oleh butir soal

nomor 19 (Perhitungan konsistensi internal uji coba angket disajikan pada

Lampiran 15).

3) Reliabilitas Uji Coba Angket Gaya belajar Belajar Siswa.

Dengan menggunakan rumus Alpha diperoleh hasil perhitungan

reliabilitas butir angket sebesar 0.840. Karena 0.80 < r11 £ 1.00 sehingga

reliabilitas butir angket termasuk dalam kategori reliabilitas sangat tinggi.

(Perhitungan reliabilitas uji coba soal angket gaya belajar siswa

selengkapnya disajikan pada Lampiran 16).

lx

2. Data Skor Prestasi Belajar Siswa

Setelah data dari setiap variabel terkumpul yaitu data tentang gaya

belajar siswa dan data tes prestasi belajar siswa pada materi persamaan garis lurus,

selanjutnya data tersebut akan digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.

Berikut ini diberikan uraian tentang data-data yang diperoleh.

Dari data prestasi belajar siswa pada materi persamaan garis lurus, dicari

ukuran tendensi sentralnya meliputi rata-rata ( X ), Median (Me), Modus (Mo) dan

ukuran penyebaran dispersi meliputi jangkauan (R), dan deviasi standar (s) yang

dapat dirangkum dalam tabel sebagai berikut. (Perhitungan skor prestasi belajar

siswa selengkapnya disajikan pada Lampiran 26).

Tabel 4.1 Deskripsi Data Skor Prestasi Belajar Matematika Kelas Eksperimen

dan Kelas Kontrol.

Ukuran Tendensi sentral Ukuran Dispersi Kelas

X Mo Me Skor min Skor maks R s

Eksperimen 56.10 58 58 33 83 50 8.84

Kontrol 53.28 54 54 38 75 37 9.54

3. Data Skor Angket Gaya belajar Belajar Matematika Siswa

Data tentang gaya belajar matematika siswa diperoleh dari skor angket,

selanjutnya data tersebut dikelompokkan dalam tiga kategori berdasarkan pada

kecenderungan skor siswa pada tipe yang sesuai. Siswa yang memiliki skor

tertinggi pada tipe tertentu menunjukkan bahwa siswa tersebut tergolong pada tipe

tertentu itu.

Berdasarkan data yang telah terkumpul, dalam kelas eksperimen terdapat

26 siswa visual, 5 siswa auditorial, dan 8 siswa kinestetik. Sedangkan untuk kelas

kontrol terdapat 31 siswa visual, 3 siswa auditorial, dan 5 siswa kinestetik.

(Perhitungan selengkapnya pada Lampiran 26).

lxi

B. Pengujian Persyaratan Analisis

1. Uji Keseimbangan

Uji keseimbangan dilakukan untuk mengetahui apakah sampel

mempunyai kemampuan awal sama atau tidak. Sebelum diuji keseimbangan,

masing-masing sampel terlebih dahulu diuji apakah berdistribusi normal atau

tidak. Hasil uji normalitas kemampuan awal kelas eksperimen dan kelas kontrol

dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Awal

Uji Normalitas Lobs L0,05;n Keputusan Kesimpulan

Kemampuan Awal

Kelas Eksperimen 0.1327 0.1417 H0 tidak ditolak Normal

Kemampuan Awal

Kelas Kontrol 0.0992 0.1417 H0 tidak ditolak Normal

Berdasarkan tabel di atas, untuk masing-masing sampel ternyata Lobs <

Ltabel, sehingga H0 tidak ditolak. Ini berarti masing-masing sampel berasal dari

populasi yang berdistribusi normal. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran 23 dan 24).

Hasil uji keseimbangan dengan menggunakan uji-t diperoleh tobs = -0.48

dengan t0,025;76 = 1.96. Karena tobs = -0.48 Ï DK = 96.1|{ -<tt atau }96.1>t ,

maka H0 tidak ditolak. Hal ini berarti sampel berasal dari dua populasi yang

kemampuan awalnya seimbang. (Perhitungan uji keseimbangan selengkapnya

disajikan pada Lampiran 25).

2. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari

populasi yang berdistribusi normal. Statistik uji yang digunakan dalam penelitian

ini adalah Lilliefors dengan taraf signifikansi 5%. Dalam penelitian ini uji

normalitas yang dilakukan yaitu uji normalitas prestasi belajar siswa kelas kontrol,

uji normalitas prestasi belajar siswa kelas eksperimen, uji normalitas prestasi

belajar siswa kelompok gaya belajar visual, uji normalitas prestasi belajar siswa

lxii

kelompok gaya belajar auditorial, uji normalitas prestasi belajar siswa kelompok

gaya belajar kinestetik. Hasil uji normalitas skor prestasi belajar matematika siswa

dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas

Kelompok Lobs L0,05;n Keputusan Kesimpulan

Kelompok Eksperimen 0.1406 0.1419 H0 tidak ditolak Normal

Kelompok Kontrol 0.1110 0.1419 H0 tidak ditolak Normal

Gaya belajar visual 0.0919 0.1174 H0 tidak ditolak Normal

Gaya belajar auditorial 0.1947 0.2850 H0 tidak ditolak Normal

Gaya belajar kinestetik 0.1838 0.2340 H0 tidak ditolak Normal

Berdasarkan tabel di atas untuk masing-masing sampel Lobs < Ltab yaitu

pada kelompok eksperimen Lobs = 0.1406 < 0.1419 = Ltab dan pada kelompok

kontrol Lobs = 0.1110 < 0.1419 = Ltab. Sedangkan pada gaya belajar visual Lobs =

0.0919 < 0.1174 = Ltab, pada gaya belajar auditorial Lobs = 0.1947 < 0.2850 = Ltab

dan pada gaya belajar kinestetik Lobs = 0.1838 < 0.2340 = Ltab sehingga H0 tidak

ditolak. Ini Berarti masing-masing sampel berasal dari populasi yang berdistribusi

normal. (Perhitungan uji normalitas selengkapnya disajikan pada Lampiran 27,

28, 29, 30, dan 31).

3. Uji Homogenitas

Uji Homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal

dari populasi yang homogen atau tidak. Uji homogenitas yang digunakan dalam

penelitian ini adalah uji Bartlet dengan statistik uji Chi Kuadrat dengan taraf

signifikansi 5%. Dalam penelitian ini uji homogenitas yang dilakukan yaitu uji

homogenitas prestasi belajar siswa ditinjau dari metode pembelajaran yaitu

metode STAD yang dilengkapi Numbered Heads Together dan metode

konvensional serta uji homogenitas prestasi belajar siswa ditinjau dari gaya

belajar siswa yaitu visual, auditorial, maupun kinestetik. Hasil uji homogenitas

dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

lxiii

Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas

Sampel k 2χ obs 2χ 0.05;n-1 Keputusan Kesimpulan

Metode Pembelajaran

Gaya Belajar Siswa

2

3

0.211

2.307

3.841

5.991

H0 tidak ditolak

H0 tidak ditolak

Homogen

Homogen

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pada kelompok metode

pembelajaran 0.211 = 2χ obs < 2χ 0.05;1 = 3 .841 dan pada gaya belajar siswa 2.307

= 2χ obs < 2χ 0.05;2 = 5.991, sehingga H0 tidak ditolak. Ini berarti bahwa variansi-

variansi populasi yang ditinjau dari metode pembelajaran dan variansi populasi

yang ditinjau dari gaya belajar siswa berasal dari populasi yang homogen.

(Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 32 dan 33).

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas diketahui bahwa

masing-masing sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan

variansi populasi yang ditinjau dari metode pembelajaran dan gaya belajar siswa

berasal dari populasi yang homogen kemudian dilanjutkan ke Analisis Variansi

Dua Jalan dengan Sel Tak Sama

.

C. Hasil Pengujian Hipotesis

1. Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama

Hasil perhitungan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama di

sajikan dalam Tabel 4.5 yang perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran 34.

Tabel 4.5 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Dengan Sel Tak Sama

JK dK RK Fobs Ftabel Keputusan

Metode (A) 101.908 1 101.908 1.157 3.984 HoA tidak ditolak

Gaya Belajar (B) 96.883 2 48.442 0.550 3.134 HoB tidak ditolak

Interaksi (AB) 4.255 2 2.127 0.024 3.134 HoAB tidak ditolak

Galat 6342.805 72 88.095

Total 6545.851 77

lxiv

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Tidak ada perbedaan efek antar baris terhadap variabel terikat, atau dengan

kata lain kedua metode pembelajaran memberikan pengaruh yang sama

terhadap prestasi belajar matematika siswa.

b. Tidak ada perbedaan efek antar kolom terhadap variabel terikat, atau dengan

kata lain ketiga kategori gaya belajar matematika siswa tidak memberikan

pengaruh terhadap prestasi belajar matematika.

c. Tidak ada interaksi baris dan kolom terhadap variabel terikat, atau dengan

kata lain tidak ada pengaruh bersama (interaksi) antara penggunaan metode

pembelajaran dan gaya belajar belajar matematika siswa terhadap prestasi

belajar matematika.

D. Pembahasan Hasil Analisis

1. Hipotesis Pertama

Berdasarkan uji anava dua jalan sel tak sama yang dilakukan diperoleh Fa =

1.157 < 3.984 = Ftab sehingga Fa bukan anggota daerah kritik. Akibatnya H0A tidak

ditolak yang berarti kedua pendekatan pembelajaran memberikan efek yang sama

terhadap prestasi belajar matematika siswa pada materi persamaan garis lurus.

Hal ini mungkin terjadi karena siswa kurang terbiasa dengan proses

pembelajaran yang terpusat kepada siswa, dalam artian siswa harus aktif dalam

mengikuti diskusi kelompoknya. Sebagian siswa masih kurang mempunyai rasa

tanggung jawab terhadap kelompoknya. Terkadang siswa juga kurang bisa

menjalin hubungan dengan teman kelompoknya karena kurang cocok dalam

pergaulannya, jadi mungkin merasa canggung untuk bergabung dalam

kelompoknya. Sehingga proses diskusi tidak bisa berjalan secara efektif.

2. Hipotesis Kedua

Berdasarkan uji anava dua jalan sel tak sama diperoleh Fb = 0.550 <

3.134 = Ftab, sehingga Fb bukan anggota daerah kritik. Karena Fb bukan anggota

daerah kritik maka H0B tidak ditolak, ini berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh

gaya belajar terhadap prestasi belajar matematika siswa. Siswa dengan gaya

lxv

belajar kinestetik akan memiliki prestasi belajar yang sama dengan siswa yang

memiliki gaya belajar visual maupun auditorial.

Hal ini mungkin terjadi karena siswa kurang serius dalam mengisi

angket, dalam artian siswa mengisi angket sesuai dengan yang siswa inginkan,

bukan keadaan siswa sebenarnya.

3. Hipotesis Ketiga

Berdasarkan uji anava dua jalan sel tak sama yang dilakukan diperoleh

Fab = 0.024 < 3.134 = Ftab, sehingga Fab bukan anggota Daerah Kritik maka H0AB

tidak ditolak, ini berarti tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dan gaya

belajar matematika siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa pada materi

persamaan garis lurus. Hal ini berarti bahwa metode pembelajaran yang berbeda

memberikan efek yang sama pada masing-masing tipe gaya belajar. Untuk siswa-

siswa dengan tipe gaya belajar visual, rerata siswa yang mengikuti pembelajaran

dengan metode STAD yang dilengkapi Numbered Heads Together lebih tinggi

daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode konvensional. Hal

yang sama terjadi pada kelompok siswa dengan tipe gaya belajar auditorial dan

kinestetik.

Tidak adanya interaksi antara metode pembelajaran dan gaya belajar

siswa terhadap prestasi belajar matematika mungkin dikarenakan siswa dengan

tipe gaya belajar visual yang diprediksi akan kurang aktif dalam diskusi, ternyata

siswa tersebut aktif.

lxvi

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan hasil analisis serta mengacu pada

perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Tidak ada perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang mengikuti

pembelajaran dengan metode STAD yang dilengkapi Numbered Heads

Together dengan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode

konvensional pada materi persamaan garis lurus.

2. Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar visual,

auditorial, dan kinestetik pada materi persamaan garis lurus.

3. Tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan gaya belajar

matematika terhadap prestasi belajar matematika pada materi persamaan garis

lurus.

B. Implikasi

Berdasarkan kajian teori serta mengacu pada hasil penelitian ini, maka

penulis akan menyampaikan implikasi yang berguna baik secara teoritis maupun

secara praktis dalam upaya meningkatkan prestasi belajar matematika.

1. Implikasi Teoritis

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika

dengan metode STAD yang dilengkapi Numbered Heads Together menghasilkan

prestasi yang tidak lebih baik daripada metode konvensional. Hal ini mungkin

terjadi karena siswa kurang terbiasa dengan proses pembelajaran yang terpusat

kepada siswa, maka pemberian poin kepada siswa dimaksudkan agar siswa lebih

aktif pada saat mengikuti proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran

kooperatif, siswa harus aktif dalam mengikuti diskusi kelompoknya. Tidak seperti

yang biasa dialami oleh siswa, karena pembelajaran kooperatif mengajak siswa

untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Apabila ada siswa yang

48

lxvii

mengalami kesulitan kesulitan dalam pembelajaran, mereka dapat mendiskusikan

dengan teman kelompoknya sehingga siswa yang mempunyai kemampuan lebih

akan membantu siswa dengan kemampuan di bawahnya. Namun interaksi

antarsiswa tidak akan optimal jika siswa tidak aktif dalam kelompoknya. Sebagian

siswa masih kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya.

Terkadang siswa juga kurang bisa menjalin hubungan dengan teman kelompoknya

karena kurang cocok dalam pergaulannya, jadi mungkin merasa canggung untuk

bergabung dalam kelompoknya. Sehingga proses diskusi tidak bisa berjalan secara

efektif.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar

kinestetik memiliki prestasi belajar yang tidak berbeda dengan siswa yang

memiliki gaya belajar visual maupun auditorial. Hal ini mungkin disebabkan oleh

ada beberapa siswa yang memiliki ketiga gaya belajar yaitu visual, auditorial,

maupun kinestetik. Hal ini terlihat pada perolehan skor angket yang tidak terpaut

jauh antara skor gaya belajar yang tertinggi dengan skor gaya belajar yang

lainnya. Sehingga pengaruh dominasi gaya belajarnya tidak tampak.

2. Implikasi Praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi pendidik

dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan prestasi belajar

siswa khususnya pada materi persamaan garis lurus. Tidak ada metode yang

paling baik sehingga dalam penyampaian materi tidak mutlak harus menggunakan

satu metode tertentu. Suatu metode baik untuk salah satu materi belum tentu baik

untuk materi yang lain. Selain metode pembelajaran masih banyak faktor lain

yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran diantaranya : alokasi waktu yang

tersedia, keadaan siswa, sarana dan prasarana, lingkungan, dan sebagainya. Guru

dapat menggunakan metode yang relatif lebih efektif dan efisien untuk setiap

materi pelajaran dengan tetap memperhatikan faktor-faktor tersebut.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi di atas, beberapa saran yang

peneliti dapat sampaikan yaitu:

lxviii

1. Guru

Berdasarkan hasil penelitian, ternyata penerapan metode STAD yang

dilengkapi Numbered Heads Together menghasilkan prestasi yang tidak lebih baik

daripada metode konvensional sehingga guru diharapkan untuk menerapkan

metode lain yang lebih efektif dan efisien.

2. Siswa

Siswa hendaknya lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan

tidak mudah putus asa dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Salah satu cara

agar dapat lebih aktif adalah dengan berlatih mengemukakan pendapat dalam

suatu diskusi kelompok. Bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih, hendaknya

bersedia membantu siswa yang memiliki kemampuan di bawahnya sehingga

diskusi dapat berjalan dengan optimal. Sehingga dapat meningkatkan prestasi

belajar matematika.

3. Peneliti

Dalam penelitian ini metode pembelajaran ditinjau dari gaya belajar

matematika siswa. Bagi para calon peneliti yang lain mungkin dapat melakukan

penelitian dengan metode lain serta tinjauan yang lain, misalnya motivasi,

aktivitas, minat siswa, intelegensi dan lain-lain agar dapat lebih mengetahui

faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

lxix

UJI NORMALITAS

KELAS KONTROL

1. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

2. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

3. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

4. Komputasi

No Xi XXi - Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi) - S(Zi)|

1 38 -15.2821 -1.6016 0.0546 0.1026 0.0479 2 38 -15.2821 -1.6016 0.0546 0.1026 0.0479 3 38 -15.2821 -1.6016 0.0546 0.1026 0.0479 4 38 -15.2821 -1.6016 0.0546 0.1026 0.0479 5 42 -11.2821 -1.1824 0.1185 0.1795 0.0610 6 42 -11.2821 -1.1824 0.1185 0.1795 0.0610 7 42 -11.2821 -1.1824 0.1185 0.1795 0.0610 8 46 -7.2821 -0.7632 0.2227 0.3077 0.0850 9 46 -7.2821 -0.7632 0.2227 0.3077 0.0850 10 46 -7.2821 -0.7632 0.2227 0.3077 0.0850 11 46 -7.2821 -0.7632 0.2227 0.3077 0.0850 12 46 -7.2821 -0.7632 0.2227 0.3077 0.0850 13 50 -3.2821 -0.3440 0.3654 0.4103 0.0448 14 50 -3.2821 -0.3440 0.3654 0.4103 0.0448 15 50 -3.2821 -0.3440 0.3654 0.4103 0.0448 16 50 -3.2821 -0.3440 0.3654 0.4103 0.0448 17 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110

lxx

18 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 19 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 20 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 21 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 22 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 23 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 24 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 25 54 0.7179 0.0752 0.5300 0.6410 0.1110 26 58 4.7179 0.4944 0.6895 0.7949 0.1054 27 58 4.7179 0.4944 0.6895 0.7949 0.1054 28 58 4.7179 0.4944 0.6895 0.7949 0.1054 29 58 4.7179 0.4944 0.6895 0.7949 0.1054 30 58 4.7179 0.4944 0.6895 0.7949 0.1054 31 58 4.7179 0.4944 0.6895 0.7949 0.1054 32 63 9.7179 1.0184 0.8458 0.8974 0.0517 33 63 9.7179 1.0184 0.8458 0.8974 0.0517 34 63 9.7179 1.0184 0.8458 0.8974 0.0517 35 63 9.7179 1.0184 0.8458 0.8974 0.0517 36 67 13.7179 1.4376 0.9247 0.9487 0.0240 37 67 13.7179 1.4376 0.9247 0.9487 0.0240 38 75 21.7179 2.2760 0.9886 1.0000 0.0114 39 75 21.7179 2.2760 0.9886 1.0000 0.0114

X 53.2821 Lmax 0.1110 Sd 9.5420 Ltabel 0.1419

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.1110

5. Daerah Kritik (DK)

L0.05;39 = 0.1419 ; DK = { L | L > 0.1419}

L = 0.1110Ï DK

6. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

7. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.

UJI NORMALITAS KEMAMPUAN AWAL

KELAS EKSPERIMEN

8. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

Lampiran 23

lxxi

9. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

10. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

11. Komputasi

No Xi

Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi)-S(Zi)|

1 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 2 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 3 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 4 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 5 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 6 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 7 40 -11.7436 -1.0536 0.1460 0.1795 0.0334 8 42 -9.7436 -0.8741 0.1910 0.2564 0.0654 9 42 -9.7436 -0.8741 0.1910 0.2564 0.0654 10 42 -9.7436 -0.8741 0.1910 0.2564 0.0654 11 44 -7.7436 -0.6947 0.2436 0.3333 0.0897 12 44 -7.7436 -0.6947 0.2436 0.3333 0.0897 13 44 -7.7436 -0.6947 0.2436 0.3333 0.0897 14 46 -5.7436 -0.5153 0.3032 0.4359 0.1327 15 46 -5.7436 -0.5153 0.3032 0.4359 0.1327 16 46 -5.7436 -0.5153 0.3032 0.4359 0.1327 17 46 -5.7436 -0.5153 0.3032 0.4359 0.1327 18 48 -3.7436 -0.3358 0.3685 0.4615 0.0930 19 50 -1.7436 -0.1564 0.4379 0.5385 0.1006 20 50 -1.7436 -0.1564 0.4379 0.5385 0.1006 21 50 -1.7436 -0.1564 0.4379 0.5385 0.1006 22 52 0.2564 0.0230 0.5092 0.6410 0.1318 23 52 0.2564 0.0230 0.5092 0.6410 0.1318 24 52 0.2564 0.0230 0.5092 0.6410 0.1318 25 52 0.2564 0.0230 0.5092 0.6410 0.1318 26 54 2.2564 0.2024 0.5802 0.6923 0.1121

XXi -

lxxii

27 54 2.2564 0.2024 0.5802 0.6923 0.1121 28 56 4.2564 0.3819 0.6487 0.7179 0.0692 29 58 6.2564 0.5613 0.7127 0.7692 0.0565 30 58 6.2564 0.5613 0.7127 0.7692 0.0565 31 60 8.2564 0.7407 0.7706 0.8462 0.0756 32 60 8.2564 0.7407 0.7706 0.8462 0.0756 33 60 8.2564 0.7407 0.7706 0.8462 0.0756 34 62 10.2564 0.9201 0.8212 0.8718 0.0505 35 64 12.2564 1.0996 0.8642 0.8974 0.0332 36 66 14.2564 1.2790 0.8995 0.9231 0.0235 37 72 20.2564 1.8173 0.9654 0.9487 0.0167 38 82 30.2564 2.7144 0.9967 0.9744 0.0223 39 84 32.2564 2.8938 0.9981 1.0000 0.0019

X 51.7436 Lmax 0.1327 Sd 11.1467 Ltabel 0.1419

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.1327

12. Daerah Kritik (DK)

L0.05;39 = 0.1419; DK = { L | L > 0.1419}

L = 0.1327Ï DK

13. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

14. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.

UJI NORMALITAS KEMAMPUAN AWAL

KELAS KONTROL

15. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

16. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

17. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

Lampiran 24

lxxiii

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

18. Komputasi

No Xi

XXi - Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi) - S(Zi)|

1 36 -16.9231 -1.6130 0.0534 0.0256 0.0277 2 40 -12.9231 -1.2318 0.1090 0.1795 0.0705 3 40 -12.9231 -1.2318 0.1090 0.1795 0.0705 4 40 -12.9231 -1.2318 0.1090 0.1795 0.0705 5 40 -12.9231 -1.2318 0.1090 0.1795 0.0705 6 40 -12.9231 -1.2318 0.1090 0.1795 0.0705 7 40 -12.9231 -1.2318 0.1090 0.1795 0.0705 8 44 -8.9231 -0.8505 0.1975 0.2308 0.0332 9 44 -8.9231 -0.8505 0.1975 0.2308 0.0332 10 46 -6.9231 -0.6599 0.2547 0.3333 0.0787 11 46 -6.9231 -0.6599 0.2547 0.3333 0.0787 12 46 -6.9231 -0.6599 0.2547 0.3333 0.0787 13 46 -6.9231 -0.6599 0.2547 0.3333 0.0787 14 48 -4.9231 -0.4692 0.3194 0.4103 0.0908 15 48 -4.9231 -0.4692 0.3194 0.4103 0.0908 16 48 -4.9231 -0.4692 0.3194 0.4103 0.0908 17 50 -2.9231 -0.2786 0.3903 0.4615 0.0713 18 50 -2.9231 -0.2786 0.3903 0.4615 0.0713 19 52 -0.9231 -0.0880 0.4649 0.5641 0.0992 20 52 -0.9231 -0.0880 0.4649 0.5641 0.0992 21 52 -0.9231 -0.0880 0.4649 0.5641 0.0992 22 52 -0.9231 -0.0880 0.4649 0.5641 0.0992 23 54 1.0769 0.1026 0.5409 0.5897 0.0489 24 56 3.0769 0.2933 0.6153 0.6667 0.0513 25 56 3.0769 0.2933 0.6153 0.6667 0.0513 26 56 3.0769 0.2933 0.6153 0.6667 0.0513 27 58 5.0769 0.4839 0.6858 0.7179 0.0322 28 58 5.0769 0.4839 0.6858 0.7179 0.0322 29 60 7.0769 0.6745 0.7500 0.7949 0.0449 30 60 7.0769 0.6745 0.7500 0.7949 0.0449 31 60 7.0769 0.6745 0.7500 0.7949 0.0449 32 62 9.0769 0.8652 0.8065 0.8462 0.0396 33 62 9.0769 0.8652 0.8065 0.8462 0.0396 34 64 11.0769 1.0558 0.8545 0.8718 0.0173 35 66 13.0769 1.2464 0.8937 0.9231 0.0294 36 66 13.0769 1.2464 0.8937 0.9231 0.0294

lxxiv

37 68 15.0769 1.4371 0.9246 0.9487 0.0241 38 78 25.0769 2.3902 0.9916 0.9744 0.0172 39 80 27.0769 2.5808 0.9951 1.0000 0.0049

X 52.9231 Lmax 0.0992 Sd 10.4916 Ltabel 0.1419

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.0992

19. Daerah Kritik (DK)

L0.05;39 = 0.1419; DK = { L | L > 0.1419}

L = 0.0992Ï DK

20. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

21. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.

UJI HOMOGENITAS

GAYA BELAJAR SISWA

22. Hipotesis

H0 : 21σ = 2

2σ = … = 2kσ

H1 : tidak semua variansi sama

23. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

24. Statistik Uji

úû

ùêë

é-= å

=

k

jjj SfRKGf

c 1

22 loglog.303,2

c

dengan c=úúû

ù

êêë

é-

-+ å ffk j

11)1(3

11

25. Komputasi

Visual Auditorial Kinestetik No

X X2 X X2 X X2 1 33 1089 38 1444 42 1764 2 38 1444 38 1444 46 2116 3 38 1444 42 1764 46 2116 4 42 1764 54 2916 50 2500 5 42 1764 54 2916 54 2916 6 42 1764 58 3364 54 2916

Lampiran 33

lxxv

7 42 1764 58 3364 54 2916 8 46 2116 75 5625 54 2916 9 46 2116 58 3364 10 46 2116 58 3364 11 46 2116 63 3969 12 50 2500 63 3969 13 50 2500 83 6889 14 50 2500 15 50 2500 16 50 2500 17 50 2500 18 50 2500 19 50 2500 20 50 2500 21 54 2916 22 54 2916 23 54 2916 24 54 2916 25 54 2916 26 54 2916 27 54 2916 28 54 2916 29 54 2916 30 54 2916 31 58 3364 32 58 3364 33 58 3364 34 58 3364 35 58 3364 36 58 3364 37 58 3364 38 58 3364 39 58 3364 40 58 3364 41 58 3364 42 58 3364 43 63 3969 44 63 3969 45 63 3969 46 63 3969 47 63 3969 48 63 3969 49 63 3969 50 63 3969

lxxvi

51 63 3969 52 63 3969 53 67 4489 54 67 4489 55 67 4489 56 71 5041 57 75 5625

å X 3124 417 725 å X2 175348 22837 41715

ni 57 8 13

N 78

k 3 f 75

SSj 4130.8772 1100.875 1282.3077 å SSi 6514.0599

fi 56 7 12 Si

2 73.765664 864409.3 157.26786 1910089 106.85897

log Si2 1.8678543 2.19664 2.028811

fi log Si2 104.59984 15.37648 24.345732

RKG 86.8541 c 1.0385

f log RKG 145.4093 å fi log S1

2 144.3221 2c 2.3065

22;05.0c 5.991

26. Daerah Kritik (DK)

21;05.0c = 5.991; DK = { 2c | 2c > 5.991}

2c = 2.3065Ï DK

27. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

28. Kesimpulan : variansi populasi homogen.

UJI HOMOGENITAS

METODE PEMBELAJARAN

Lampiran 32

lxxvii

29. Hipotesis

H0 : 21σ = 2

2σ = … = 2kσ

H1 : tidak semua variansi sama

30. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

31. Statistik Uji

úû

ùêë

é-= å

=

k

jjj SfRKGf

c 1

22 loglog.303,2

c

dengan c=úúû

ù

êêë

é-

-+ å ffk j

11)1(3

11

32. Komputasi

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol No

X X2 X X2 1 33 1089 38 1444 2 42 1764 38 1444 3 42 1764 38 1444 4 42 1764 38 1444 5 46 2116 42 1764 6 50 2500 42 1764 7 50 2500 42 1764 8 50 2500 46 2116 9 50 2500 46 2116 10 50 2500 46 2116 11 50 2500 46 2116 12 54 2916 46 2116 13 54 2916 50 2500 14 54 2916 50 2500 15 54 2916 50 2500 16 54 2916 50 2500 17 54 2916 54 2916 18 54 2916 54 2916 19 58 3364 54 2916 20 58 3364 54 2916 21 58 3364 54 2916 22 58 3364 54 2916 23 58 3364 54 2916 24 58 3364 54 2916 25 58 3364 54 2916

lxxviii

26 58 3364 58 3364 27 58 3364 58 3364 28 58 3364 58 3364 29 63 3969 58 3364 30 63 3969 58 3364 31 63 3969 58 3364 32 63 3969 63 3969 33 63 3969 63 3969 34 63 3969 63 3969 35 63 3969 63 3969 36 63 3969 67 4489 37 67 4489 67 4489 38 71 5041 75 5625 39 83 6889 75 5625 å X 2188 2078 å X2 125720 114180

ni 39 39 N 78 k 2 f 76

SSj 2967.59 3459.897 å SSi 6427.487

fi 38 38 Si

2 78.09447 91.04993 log Si

2 1.89262 1.95928 fi log Si

2 71.91957 74.45263 RKG 84.5722

c 1.0132 f log RKG 146.4693 å fi log S1

2 146.3722 2c 0.211

21;05.0c 3.841

33. Daerah Kritik (DK)

21;05.0c = 3.841; DK = { 2c | 2c > 3.841}

2c = 0.211Ï DK

34. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

35. Kesimpulan : variansi populasi homogen.

UJI KESEIMBANGAN

lxxix

ANTARA KELAS KONTROL DAN KELAS EKSPERIMEN

36. Hipotesis

H0 : 1m = 2m (kedua sample berasal dari populasi yang seimbang)

H1 : 1m ¹ 2m (kedua sample berasal dari populasi yang tidak seimbang)

37. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

38. Statistik Uji

t = ( ) ( )2nnt~

n1

n1

s

XX21

21p

21 -++

-

dengan sp2=

2nns)1n(s)1n(

21

222

211

-+-+-

39. Komputasi

No Kelas Eksperimen Kelas Kontrol 1 40 36 2 40 40 3 40 40 4 40 40 5 40 40 6 40 40 7 40 40 8 42 44 9 42 44 10 42 46 11 44 46 12 44 46 13 44 46 14 46 48 15 46 48 16 46 48 17 46 50 18 48 50 19 50 52 20 50 52 21 50 52 22 52 52 23 52 54 24 52 56

Lampiran 25

lxxx

25 52 56 26 54 56 27 54 58 28 56 58 29 58 60 30 58 60 31 60 60 32 60 62 33 60 62 34 62 64 35 64 66 36 66 66 37 72 68 38 82 78 39 84 80

Tabel Rataan dan Variansi Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

N 39 39

å X 2018 2064

å 2X 109140 113416

X 51.7436 52.9231

Menghitung variansi:

)1(

)( 222

-

-= å å

nn

XXns

21s =

)139(39)2018()109140(39 2

--

= 1482

184136 = 124.2483

22s =

)139(39)2142()119500(40 2

--

= 1482

163128 = 110.0729

sp2=

2nns)1n(s)1n(

21

222

211

-+-+-

sp2=

23939110.0729)139(124.2483)139(

-+-+-

= 76

8904.2050= 117.1606

sp = 10.8241

lxxxi

t = ( ) ( )2nnt~

n1

n1

s

XX21

21p

21 -++

-

t = ( )

391

391

10.8241

9231.527436.51

+

- = 2.45121.1795-

= - 0.4812

40. Daerah Kritik (DK)

2/at = 1.96; DK = { t | t < -1.96 atau t > 1.96}

t = - 0.48 Ï DK

41. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

42. Kesimpulan : kedua sampel berasal dari populasi yang seimbang

UJI NORMALITAS

KELOMPOK GAYA BELAJAR AUDITORIAL

43. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

44. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

45. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

46. Komputasi

No Xi

Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi)-S(Zi)| XXi -

Lampiran 30

lxxxii

1 38 -14.1250 -1.1263 0.1300 0.2500 0.1200 2 38 -14.1250 -1.1263 0.1300 0.2500 0.1200 3 42 -10.1250 -0.8074 0.2097 0.3750 0.1653 4 54 1.8750 0.1495 0.5594 0.6250 0.0656 5 54 1.8750 0.1495 0.5594 0.6250 0.0656 6 58 5.8750 0.4685 0.6803 0.8750 0.1947 7 58 5.8750 0.4685 0.6803 0.8750 0.1947 8 75 22.8750 1.8241 0.9659 1.0000 0.0341

X 52.1250 Lmax 0.1947 Sd 12.5406 Ltabel 0.285

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.1947

47. Daerah Kritik (DK)

L0.05;8 = 0.285; DK = { L | L > 0.285}

L = 0.1947Ï DK

48. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

49. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.

UJI NORMALITAS

KELOMPOK GAYA BELAJAR KINESTETIK

50. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

51. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

52. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

53. Komputasi

Lampiran 31

lxxxiii

No Xi

Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi)-S(Zi)|

1 42 -13.7692 -1.3320 0.0914 0.0769 0.0145 2 46 -9.7692 -0.9451 0.1723 0.2308 0.0585 3 46 -9.7692 -0.9451 0.1723 0.2308 0.0585 4 50 -5.7692 -0.5581 0.2884 0.3077 0.0193 5 54 -1.7692 -0.1712 0.4321 0.6154 0.1833 6 54 -1.7692 -0.1712 0.4321 0.6154 0.1833 7 54 -1.7692 -0.1712 0.4321 0.6154 0.1833 8 54 -1.7692 -0.1712 0.4321 0.6154 0.1833 9 58 2.2308 0.2158 0.5854 0.7692 0.1838 10 58 2.2308 0.2158 0.5854 0.7692 0.1838 11 63 7.2308 0.6995 0.7579 0.9231 0.1652 12 63 7.2308 0.6995 0.7579 0.9231 0.1652 13 83 27.2308 2.6342 0.9958 1.0000 0.0042

X 55.7692 Lmax 0.1838 Sd 10.3373 Ltabel 0.234

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.1838

54. Daerah Kritik (DK)

L0.05;13 = 0.234; DK = { L | L > 0.234}

L = 0.1838Ï DK

55. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

56. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.

UJI NORMALITAS

KELOMPOK GAYA BELAJAR VISUAL

57. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

58. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

59. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

XXi -

Lampiran 29

lxxxiv

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

60. Komputasi

No Xi

Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi)-S(Zi)|

1 33 -21.8070 -2.5390 0.0056 0.0175 0.0120 2 38 -16.8070 -1.9569 0.0252 0.0526 0.0275 3 38 -16.8070 -1.9569 0.0252 0.0526 0.0275 4 42 -12.8070 -1.4911 0.0680 0.1228 0.0548 5 42 -12.8070 -1.4911 0.0680 0.1228 0.0548 6 42 -12.8070 -1.4911 0.0680 0.1228 0.0548 7 42 -12.8070 -1.4911 0.0680 0.1228 0.0548 8 46 -8.8070 -1.0254 0.1526 0.1930 0.0404 9 46 -8.8070 -1.0254 0.1526 0.1930 0.0404 10 46 -8.8070 -1.0254 0.1526 0.1930 0.0404 11 46 -8.8070 -1.0254 0.1526 0.1930 0.0404 12 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 13 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 14 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 15 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 16 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 17 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 18 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 19 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 20 50 -4.8070 -0.5597 0.2878 0.3509 0.0630 21 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 22 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 23 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 24 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 25 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 26 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 27 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 28 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 29 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 30 54 -0.8070 -0.0940 0.4626 0.5263 0.0637 31 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 32 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 33 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 34 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919

XXi -

lxxxv

35 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 36 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 37 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 38 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 39 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 40 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 41 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 42 58 3.1930 0.3718 0.6450 0.7368 0.0919 43 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 44 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 45 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 46 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 47 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 48 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 49 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 50 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 51 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 52 63 8.1930 0.9539 0.8299 0.9123 0.0823 53 67 12.1930 1.4197 0.9221 0.9649 0.0428 54 67 12.1930 1.4197 0.9221 0.9649 0.0428 55 67 12.1930 1.4197 0.9221 0.9649 0.0428 56 71 16.1930 1.8854 0.9703 0.9825 0.0121 57 75 20.1930 2.3511 0.9906 1.0000 0.0094

X 54.80702 Lmax 0.0919 Sd 8.5887 Ltabel 0.1174

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.0919

61. Daerah Kritik (DK)

L0.05;57 = 0.1174; DK = { L | L > 0.1174}

L = 0.0919Ï DK

62. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

63. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.

UJI NORMALITAS

KELAS EKSPERIMEN

64. Hipotesis

H0 : sample berasal dari populasi normal

H1 : sample tidak berasal dari populasi normal

65. Taraf Signifikansi (a ) = 0.05

lxxxvi

66. Statistik Uji

L = max | F(Zi) – S(Zi) |

dengan:

F(Zi) = P(Z£Zi); Z ~ N(0,1)

Zi = skor standar, Zi = s

XX i )( -

s = standar deviasi

S(Zi) = proporsi cacah Z£Zi terhadap seluruh cacah Zi

Xi = skor responden

67. Komputasi

No Xi

Zi F(Zi) S(Zi) |F(Zi)-S(Zi)|

1 33 -23.1026 -2.6143 0.0045 0.0256 0.0212 2 42 -14.1026 -1.5958 0.0553 0.1026 0.0473 3 42 -14.1026 -1.5958 0.0553 0.1026 0.0473 4 42 -14.1026 -1.5958 0.0553 0.1026 0.0473 5 46 -10.1026 -1.1432 0.1265 0.1282 0.0017 6 50 -6.1026 -0.6906 0.2449 0.2821 0.0371 7 50 -6.1026 -0.6906 0.2449 0.2821 0.0371 8 50 -6.1026 -0.6906 0.2449 0.2821 0.0371 9 50 -6.1026 -0.6906 0.2449 0.2821 0.0371 10 50 -6.1026 -0.6906 0.2449 0.2821 0.0371 11 50 -6.1026 -0.6906 0.2449 0.2821 0.0371 12 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 13 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 14 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 15 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 16 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 17 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 18 54 -2.1026 -0.2379 0.4060 0.4615 0.0556 19 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 20 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 21 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 22 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 23 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 24 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 25 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 26 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 27 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329 28 58 1.8974 0.2147 0.5850 0.7179 0.1329

XXi -

lxxxvii

29 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 30 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 31 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 32 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 33 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 34 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 35 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 36 63 6.8974 0.7805 0.7825 0.9231 0.1406 37 67 10.8974 1.2331 0.8912 0.9487 0.0575 38 71 14.8974 1.6858 0.9541 0.9744 0.0203 39 83 26.8974 3.0437 0.9988 1.0000 0.0012

X 56.1026 Lmax 0.1406 Sd 8.8371 Ltabel 0.1419

L = max | F(Zi) – S(Zi) | = 0.1406

68. Daerah Kritik (DK)

L0.05;39 = 0.1419 ; DK = { L | L > 0.1419}

L = 0.1406Ï DK

69. Keputusan Uji : H0 tidak ditolak.

70. Kesimpulan : Sampel berasal dari populasi normal.