of 81/81
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DITINJAU DARI INTELLIGENCE QUOTIENT SISWA KELAS VIII SMP DI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2011/2012 TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Matematika Oleh Andi Suparlan NIM S851102004 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE DITINJAU … fileEKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE DITINJAU DARI

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE DITINJAU … fileEKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF...

  • EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

    DITINJAU DARI INTELLIGENCE QUOTIENT SISWA KELAS VIII SMP DI KABUPATEN PURWOREJO

    TAHUN PELAJARAN 2011/2012

    TESIS

    Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Matematika

    Oleh

    Andi Suparlan NIM S851102004

    PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA 2013

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • ii

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • iii

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • iv

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, karena atas petunjuk dan

    karuniaNya tesis yang berjudul Eksperimentasi Pembelajaran Kooperatif Tipe

    Numbered Heads Together (NHT) dan Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada

    Pembelajaran Matematika ditinjau dari Intelligence Quotient Siswa Kelas VIII

    SMP di Kabupaten Purworejo Tahun Pelajaran 2011/2012 telah dapat

    diselesaikan.

    Tesis ini selesai atas peran dan bantuan dari banyak pihak. Untuk itu

    ucapan terima kasih kami sampaikan kepada:

    1. Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, MS., Direktur Program Pascasarjana Universitas

    Sebelas Maret, yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk

    mengikuti pendidikan di Program Pascasarjana.

    2. Prof. Dr. Budiyono, M.Sc., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika dan

    Pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan sehingga tesis ini dapat

    diselesaikan.

    3. Drs. Sutrima, M.Si., Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan

    sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

    4. Drs. H. Mahsun Zain, M.Ag., Bupati Purworejo, yang melalui Kantor

    Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) Kabupaten Purworejo telah

    memberikan ijin untuk melakukan penelitian di wilayahnya.

    5. Drs. Bambang Aryawan, M.M., Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo

    yang telah memberikan informasi perkembangan pendidikan di Purworejo.

    6. Kepala SMP Negeri 15 Purworejo, Kepala SMP Negeri 31 Purworejo dan

    Kepala SMP Negeri 33 Purworejo, yang telah memberikan kesempatan

    penulis dalam melakukan eksperimen di unit kerja masing-masing.

    7. Kepala SMP Negeri 9 Purworejo dan Kepala SMP Negeri 25 Purworejo,

    yang telah memberikan kesempatan penulis dalam melakukan uji coba

    instrumen di unit kerja masing-masing.

    8. Dr. Bambang Priyo Darminto, M.Kom., yang telah membantu penulis dalam

    validasi instrumen penelitian.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • v

    9. Teguh P., S.Pd., Siti Munawarah, S.Pd., dan Tut Wuri Handayani, S.Si., yang

    telah membantu penulis dalam eksperimen.

    10. Ibu Eko dan Bapak Sentot, yang telah membantu penulis dan uji coba

    instrumen penelitian.

    11. Kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tesis ini.

    Kami berharap semoga tesis ini dapat membantu dalam pelaksanaan

    penelitian selanjutnya.

    Surakarta, 7 Desember 2012

    Penulis

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • vi

    PERNYATAAN ORISINALITAS DAN HAK PUBLIKASI

    Saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa:

    1. Eksperimentasi Pembelajaran Kooperatif Tipe

    Numbered Heads Together (NHT) dan Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada

    Pembelajaran Matematika ditinjau dari Intelligence Quotient Siswa Kelas

    VIII SMP di Kabupaten Purworejo Tahun Pelajaran 2011/2012

    karya penelitian saya sendiri dan bebas plagiat, serta tidak terdapat karya

    ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar

    akademik serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau

    diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis digunakan sebagai acuan

    dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber acuan serta daftar pustaka.

    Apabila di kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah ini,

    maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan

    perundang-undangan (Permendikanas No 17, tahun 2010).

    2. Publikasi sebagian atau keseluruhan isi Tesis pada jurnal atau forum ilmiah

    lain harus seijin dan menyertakan tim pembimbing sebagai author dan PPs

    UNS sebagai institusinya. Apabila dalam waktu sekurang-kurangnya satu

    semester (enam bulan sejak pengesahan Tesis) saya tidak melakukan

    publikasi dari sebagian atau keseluruhan Tesis ini, maka Prodi Pendidikan

    Matematika PPs UNS berhak mempublikasikannya pada jurnal ilmiah yang

    diterbitkan oleh Prodi Pendidikan Matematika PPs UNS. Apabila saya

    melakukan pelanggaran dari ketentuan publikasi ini, maka saya bersedia

    mendapat sanksi akademik yang berlaku.

    Surakarta, 7 Desember 2012

    Mahasiswa,

    Andi Suparlan NIM S851102004

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • vii

    ABSTRAK

    Andi Suparlan. S851102004. Eksperimentasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada Pembelajaran Matematika ditinjau dari Intelligence Quotient Siswa Kelas VIII SMP di Kabupaten Purworejo Tahun Pelajaran 2011/2012. TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr. Budiyono, M.Sc., Pembimbing II: Drs. Sutrima, M.Si. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta 2013.

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) model pembelajaran mana yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara model NHT, model TSTS atau model konvensional, (2) siswa dengan kategori Intelligence Quotient (IQ) mana yang mempunyai prestasi belajar lebih baik di antara siswa dengan IQ tinggi, siswa dengan IQ sedang atau siswa dengan IQ rendah, (3) pada masing-masing model pembelajaran, siswa dengan kategori IQ mana yang mempunyai prestasi belajar lebih baik di antara siswa dengan IQ tinggi, siswa dengan IQ sedang atau siswa dengan IQ rendah, (4) pada masing-masing kategori IQ siswa, model pembelajaran mana yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara model NHT, model TSTS atau model konvensional.

    Penelitian ini menggunakan metode eksperimental semu. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Purworejo. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik stratified cluster random sampling dan diperoleh sampel sebanyak 210 siswa dari SMP Negeri 15 Purworejo, SMP Negeri 31 Purworejo dan SMP Negeri 33 Purworejo yang terdiri dari 70 siswa dalam kelompok NHT, 72 siswa dalam kelompok TSTS dan 68 siswa dalam kelompok Konvensional. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama.

    Berdasarkan analisis data, disimpulkan bahwa: (1) model pembelajaran TSTS memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model pembelajaran NHT, model pembelajaran Konvensional memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model pembelajaran NHT, dan model pembelajaran TSTS memberikan hasil prestasi belajar yang sama dengan model pembelajaran Konvensional, (2) siswa-siswa pada semua kelompok kategori IQ, baik tinggi, sedang, maupun rendah mempunyai prestasi belajar yang sama, (3) pada masing-masing model pembelajaran, siswa-siswa yang mempunyai IQ tinggi, sedang, maupun rendah mempunyai prestasi belajar yang sama, (4) pada masing-masing kategori IQ, model pembelajaran TSTS memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model pembelajaran NHT, model pembelajaran Konvensional memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model pembelajaran NHT, dan model pembelajaran TSTS memberikan hasil prestasi belajar yang sama dengan model pembelajaran Konvensional. Kata Kunci: Numbered Heads Together, Two Stay Two Stray, dan Intelligence Quotient.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • viii

    ABSTRACT

    Andi Suparlan. S851102004. The Experimentation of Cooperative Learning Numbered Heads Together (NHT) Type and Two Stay Two Stray (TSTS) Type at Mathematics Learning Quotient of the Eighth Class of Junior High School at Purworejo regency on academic 2011/2012. Thesis. Supervisor I: Prof. Dr. Budiyono, M.Sc., Supervisor II: Drs. Sutrima, M.Si. Program Study of Mathematics Education, Post-graduate Program of Sebelas Maret University, Surakarta 2013.

    The aims of the research were to know: (1) which one of the learning models gave a better achievement between NHT model, TSTS model or conventional model, (2) which one of the student with Intelligence Quotient (IQ) categories had a better achievement between student with high IQ, student with middle IQ or student with low IQ, (3) At each the learning models, which one of the student with IQ categories had a better achievement between student with high IQ, student with middle IQ or student with low IQ, (4) At each the student IQ categories, which one of the learning models gave a better achievement between NHT model, TSTS model or conventional model.

    The research used was a quasi-experimental. The population of the research was the eighth class student of Junior High School at Purworejo regency. The sample of the research was taken with stratified cluster random sampling technique and got the sample was 210 students from SMP Negeri 15 Purworejo, SMP Negeri 31 Purworejo and SMP Negeri 33 Purworejo that consisted of 70 students in the NHT group, 72 students in the TSTS group, and 68 students in the Conventional group. The data collecting methods used in the research were documentation and test method. The data analysis technique used was unbalanced two ways analyze of variance.

    Based on the data analysis, it was concluded that: (1) TSTS learning model gave better achievement than NHT learning model, conventional learning model gave better achievement than NHT learning model, and TSTS learning model gave the same achievement with conventional learning model, (2) The students in all of IQ categories, high, middle and low had the same achievement, (3) At each the learning models, the students with high, middle and low IQ had the same achievement, (4) At each the student IQ categories, TSTS learning model gave better achievement than NHT learning model, conventional learning model gave better achievement than NHT learning model, and TSTS learning model gave the same achievement with conventional learning model. Key words: Numbered Heads Together, Two Stay Two Stray, and Intelligence Quotient.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i

    LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ...................................................... ii

    LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI .............................................................. iii

    KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv

    PERNYATAAN ORISINALITAS DAN HAK PUBLIKASI ........................... vi

    ABSTRAK ......................................................................................................... vii

    ABSTRACT ......................................................................................................... viii

    DAFTAR ISI ...................................................................................................... ix

    DAFTAR TABEL .............................................................................................. xi

    DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1

    B. Identifikasi Masalah ........................................................................... 4

    C. Pemilihan Masalah ............................................................................. 5

    D. Pembatasan Masalah........................................................................... 5

    E. Rumusan Masalah .............................................................................. 6

    F. Tujuan Penelitian ................................................................................ 6

    G. Manfaat Penelitian .............................................................................. 7

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    A. Kajian Teori ........................................................................................ 8

    1. Prestasi Belajar .............................................................................. 8

    2. Model Pembelajaran ...................................................................... 12

    3. Intelligence Quotient Siswa ........................................................... 20

    B. Penelitian Relevan .............................................................................. 26

    C. Kerangka Berpikir .............................................................................. 28

    D. Hipotesis Penelitian ............................................................................ 32

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat, Subjek dan Waktu Penelitian ............................................... 33

    B. Jenis Penelitian ................................................................................... 33

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • x

    C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel .......................... 34

    D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 35

    E. Teknik Analisis Data .......................................................................... 41

    BAB IV HASIL PENELITIAN

    A. Hasil Uji Coba Instrumen .................................................................. 53

    B. Deskripsi Data ................................................................................... 55

    C. Uji Keseimbangan Sebelum Eksperimen .......................................... 56

    1. Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 56

    2. Hasil Uji Homogenitas Variansi ................................................... 57

    3. Hasil Uji Keseimbangan ............................................................... 57

    D. Uji Prasyarat Analisis ........................................................................ 58

    1. Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 58

    2. Hasil Uji Homogenitas Variansi ................................................... 59

    E. Uji Hipotesis ...................................................................................... 59

    1. Hasil Uji Anava Dua Jalan dengan Sel Tak Sama ........................ 59

    2. Hasil Uji Komparasi Ganda antar Baris ....................................... 60

    F. Pembahasan Hasil Penelitian ............................................................. 61

    G. Keterbatasan Penelitian ..................................................................... 65

    BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

    A. Kesimpulan ........................................................................................ 66

    B. Implikasi ............................................................................................ 66

    C. Saran .................................................................................................. 67

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • xi

    DAFTAR TABEL

    1. Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Kooperatif ................................................ 14

    2. Tabel 2.2 Distribusi Kecerdasan IQ menurut Stanford Revision ................ 25

    3. Tabel 2.3 Pengkategorian IQ pada penelitian ini ........................................ 26

    4. Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian ......................................................... 33

    5. Tabel 3.2 Rancangan Penelitian .................................................................. 34

    6. Tabel 3.3 Pengelompokan SMP .................................................................. 35

    7. Tabel 3.4 Pengkategorian IQ pada penelitian ini ........................................ 36

    8. Tabel 3.5 Tata Letak Data Anava Satu Jalan Sel Tak Sama ....................... 44

    9. Tabel 3.6 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama ............ 50

    10. Tabel 4.1 Data Prestasi Belajar Matematika Sebelum Eksperimen ............. 55

    11. Tabel 4.2 Data Prestasi Belajar Matematika Sesudah Eksperimen ............. 56

    12. Tabel 4.3 Data Rerata Prestasi Belajar Matematika Sesudah Eksperimen . 56

    13. Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Prestasi Belajar Sebelum Eksperimen ....... 57

    14. Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Prestasi Belajar Sesudah Eksperimen ........ 58

    15. Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Belajar Sesudah Eksperimen .... 59

    16. Tabel 4.7 Rangkuman Hasil Uji Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama .................................................................................................... 60

    17. Tabel 4.8 Hasil Uji Komparasi Ganda antar Baris ..................................... 61

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • xii

    DAFTAR LAMPIRAN

    1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) ........................................................ 72

    2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) .......................................................................... 90

    3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) model pembelajaran Konvensional ......................................................................................... 108

    4. Lembar Kerja Siswa (LKS) ................................................................... 125

    5. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar Uji Coba ......................................... 144

    6. Soal Tes Prestasi Belajar Uji Coba ........................................................ 146

    7. Lembar Validasi Soal Tes Prestasi Belajar Uji Coba ............................ 156

    8. Uji Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Soal Tes Prestasi Belajar Uji Coba ................................................................................................. 161

    9. Uji Reliabilitas Soal Tes Prestasi Belajar .............................................. 163

    10. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar Sesudah Uji Coba ........................... 165

    11. Soal Tes Prestasi Belajar Sesudah Uji Coba .......................................... 167

    12. Data Prestasi Belajar Matematika Sebelum Eksperimen ........................ 174

    13. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sebelum Eksperimen Kelompok NHT ..................................................................................... 177

    14. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sebelum Eksperimen Kelompok TSTS .................................................................................... 180

    15. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sebelum Eksperimen Kelompok Konvensional ....................................................................... 183

    16. Uji Homogenitas Data Prestasi Belajar Sampel Sebelum Eksperimen .. 186

    17. Uji Keseimbangan dengan ANAVA Satu Jalan Sel Tak Sama ............. 194

    18. Data Prestasi Belajar Matematika Sesudah Eksperimen......................... 198

    19. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sesudah Eksperiman Kelompok NHT ..................................................................................... 201

    20. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sesudah Eksperimen Kelompok TSTS .................................................................................... 204

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • xiii

    21. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sesudah Ekperimen Kelompok Konvensional ....................................................................... 207

    22. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sesudah Eksperimen Kelompok Kategori IQ Tinggi ............................................................... 210

    23. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sesudah Eksperimen Kelompok Kategori IQ Sedang .............................................................. 212

    24. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Sampel Sesudah Eksperimen Kelompok Kategori IQ Rendah ............................................................. 215

    25. Uji Homogenitas Model Pembelajaran .................................................. 218

    26. Uji Homogenitas Kategori IQ ................................................................ 226

    27. Uji Analisis Variansi (ANAVA) Dua Jalan dengan Sel Tak Sama ....... 234

    28. Uji Komparasi Ganda dengan Metode Scheffe untuk Komparasi Rataan Antar Baris ................................................................................. 240

    29. Tabel Statistik ........................................................................................ 243

    30. Surat Ijin Penelitian ................................................................................ 248

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,

    pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup

    mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Salah satu komponen untuk

    mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika sekolah menengah

    pertama (SMP). Matematika SMP masih sering disebut sebagai matematika

    tingkat rendah. Matematika tingkat rendah bagaikan pondasi sebuah

    bangunan. Apabila menginginkan bangunan yang baik seyogyanya juga harus

    memperhatikan pondasinya.

    Perbaikan kegiatan belajar matematika terus dilakukan hingga saat ini.

    Berbagai metode pembelajaran dan alat peraga belajar juga terus

    dikembangkan. Hal ini tidak lain bertujuan agar mutu pendidikan matematika

    yang lambat laun semakin meningkat seiring dengan perkembangan zaman.

    Ini sungguh ironis apabila kata-kata tersebut sudah muncul saat seorang siswa

    masih duduk di bangku SMP atau bahkan yang masih duduk di bangku

    sekolah dasar (SD). Apabila hal ini terus dibiarkan begitu saja kemungkinan

    akan berakibat buruk pada pembelajaran matematika pada jenjang sekolah

    yang lebih tinggi. Sehingga penanaman konsep-konsep dasar matematika pada

    SMP dengan menggunakan metode pembelajaran matematika yang tepat

    Pada umumnya, proses belajar mengajar di sekolah masih didominasi

    oleh pembelajaran dengan ciri-ciri sebagai berikut:

    1. Guru aktif ceramah menyampaikan informasi, sementara siswa hanya

    menjadi pendengar setia (pasif) yang hanya menerima informasi begitu

    saja akan konsep matematika.

    2. Siswa dipaksa mempelajari apa yang diajarkan oleh guru dengan

    menerapkan berbagai rumus yang disampaikan guru.

    1

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 2

    3. Pembelajaran berfokus atau berorientasi pada guru bukan pada siswa.

    Dengan keadaan yang demikian, jangan berharap dapat menciptakan

    sumber daya manusia kreatif dan bermutu tinggi, malahan sebaliknya. Tidak

    mengherankan jika kualitas pemahaman konsep matematika pada siswa

    menjadi sangat rendah.

    Sebenarnya banyak metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk

    menanamkan konsep-konsep dasar matematika. Selain itu juga, dengan

    bantuan alat peraga mungkin akan membantu mengkonkritkan konsep-konsep

    dasar matematika tersebut. Suatu konsep akan jauh ternanam dalam diri

    seorang siswa apabila dia sendiri yang mengkronstruksinya sendiri,

    dibandingkan dengan menghafal rumus-rumus yang tidak berarti apabila tidak

    mengerti maknanya. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh

    It was found that neither the students'

    gender nor their year of studies influenced their beliefs about their self-

    concept of mathematics

    siswa namun juga lama mereka belajar mempengaruhi kepercayaan diri

    mereka akan konsep matematika diri mereka sendiri).

    Berbagai penelitian meneliti metode pembelajaran matematika dengan

    penggunaan media belajar atau alat peraga belajar dalam meningkatkan

    pemahaman konsep. Dari beberapa penelitian yang dijumpai penulis, sebagian

    besar membuktikan bahwa metode pembelajaran dengan memanfaatkan media

    belajar atau alat peraga belajar dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa

    akan materi pembelajaran. Salah satu penelitian yang memanfaatkan media

    belajar modern adalah penelitian yang dilakukan oleh Bambang Priyo

    Darminto (2008) tentang pemanfaatan media belajar berbasis komputer di

    perguruan tinggi yang memberikan kesimpulan bahwa pemanfaatan media

    belajar berbasis komputer dapat mempengaruhi peningkatan Kemampuan

    Berpikir Matematis Tingkat Tinggi di perguruan tinggi.

    Berdasarkan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 untuk

    mata pelajaran Matematika, Kabupaten Purworejo menduduki peringkat 29

    dari 35 Kota/Kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Tengah dengan nilai rata-

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 3

    ratanya sebesar 6,21. Nilai ini lebih rendah dibanding nilai rata-rata secara

    propinsi, yaitu sebesar 6,70. Selain itu, beberapa kompetensi uji juga ada yang

    masih rendah tingkat penguasaannya. Salah satunya, tingkat penguasaan siswa

    pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar limas dan prisma tegak,

    khususnya dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan luas permukaan

    bangun ruang sisi datar masih jauh dari harapan, yaitu hanya sebesar 41,79.

    Sementara untuk wilayah Propinsi Jawa Tengah tingkat penguasaannya

    sebesar 44,81. Padahal secara nasional penguasaan pada materi ini sebesar

    60,82. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya penguasaan konsep-

    konsep dasar matematika pada bangun ruang sisi datar.

    Rendahnya penguasaan konsep dasar ini mungkin dipicu oleh kegiatan

    pengalaman belajar yang tidak bermakna. Pengalaman belajar mungkin lebih

    bersifat text book, hanya disuruh menghafalkan rumus tanpa mengetahui

    rumus itu berasal darimana atau bagaimana mengkontruksikan rumus tersebut.

    Di samping itu, mungkin juga tidak disampaikan kegunaan dari proses belajar

    sehingga terkesan pengalaman belajar menjadi tidak bermakna. Untuk

    mengatasi hal ini perlu mengubah paradigma model pembelajaran yang

    digunakan, yaitu dari konvensional menjadi model inovatif. Hal ini juga

    result is that

    .menghasilkan bahwa

    metode pembelajaran guru dalam kelas adalah penting dalam merubah sikap

    dan kebiasaan siswa terhadap matematika). Hal seirama juga disampaikan

    Educational implications with regard to student

    engagement with realistic tasks are considered ( ...Pendidikan bermaksud

    dengan memperhatikan siswa atas pemakaian tugas-tugas realistis

    dipertimbangkan).

    Kemampuan spasial anak juga turut menyumbang dalam masalah ini.

    Hal ini disampaikan oleh Van This emphasizes

    the importance of acknowledging spatial structure in early educational

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 4

    (

    pendidikan bagi pengolahan pertumbuhan matematika anak-anak muda). Di

    sisi lain kecerdasan siswa yang merupakan gabungan dari berbagai

    kemampuan, termasuk di dalamnya kemampuan spasial, juga turut

    mempengaruhi prestasi belajarnya. Kecerdasan siswa ini diwujudkan dalam

    skor IQ. Tidak bisa dipungkuri bahwa siapa yang mempunyai IQ dengan

    kategori yang tinggi biasanya diikuti mempunyai kecerdasan yang lebih baik

    juga dibanding dengan orang yang mempunyai IQ dengan kategori di

    bawahnya. Namun yang perlu dipikirkan bagaimana caranya agar siswa yang

    mempunyai IQ dengan kategori rendah dapat mempunyai prestasi belajar yang

    baik. Hal ini adalah salah satu alasan mengapa peneliti ingin melakukan

    penelitian dengan tinjauan IQ siswa.

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukan di atas

    dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut.

    1. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan oleh kurangnya

    pemahaman konsep dasar oleh siswa. Terkait hal ini maka muncul

    pertanyaan apakah kemampuan awal konsep dasar mempengaruhi prestasi

    belajar. Sehingga perlu dilakukan penelitian yang membandingkan prestasi

    belajar yang ditinjau dari kemampuan awal.

    2. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan oleh kurang

    tepatnya model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Terkait hal ini

    maka muncul pertanyaan apakah jika model pembelajaran guru diubah

    akan membuat prestasi belajar menjadi lebih baik. Sehingga perlu

    dilakukan penelitian dengan membandingkan beberapa model

    pembelajaran yang inovatif yang dapat meningkatkan prestasi belajar.

    3. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan karena tidak ada

    upaya penggunaan alat peraga oleh guru. Terkait hal ini maka muncul

    pertanyaan apakah jika menggunakan alat peraga akan dapat meningkat

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 5

    prestasi belajar. Sehingga perlu dilakukan penelitian dengan

    membandingkan model pembelajaran dengan berbagai alat peraga.

    4. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan oleh IQ siswa.

    Terkait hal ini maka muncul pertanyaan apakah IQ siswa mempengaruhi

    prestasi belajar. Sehingga perlu dilakukan penelitian dengan

    membandingkan prestasi belajar dengan ditinjau dari IQ siswa.

    C. Pemilihan Masalah

    Dari keempat masalah yang teridentifikasi, peneliti melakukan

    penelitian yang terkait dengan permasalahan kedua dan keempat, yaitu sebagai

    berikut.

    1. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan oleh kurang

    tepatnya model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Terkait hal ini

    maka muncul pertanyaan apakah jika model pembelajaran guru diubah

    akan membuat prestasi belajar menjadi lebih baik. Sehingga perlu

    dilakukan penelitian dengan membandingkan beberapa model

    pembelajaran yang inovatif yang dapat meningkatkan prestasi belajar.

    2. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar disebabkan oleh IQ siswa.

    Terkait hal ini maka muncul pertanyaan apakah IQ siswa mempengaruhi

    prestasi belajar. Sehingga perlu dilakukan penelitian dengan

    membandingkan prestasi belajar dengan ditinjau dari IQ siswa.

    D. Pembatasan Masalah

    Berdasarkan pemilihan masalah di atas dan agar penelitian ini lebih

    terarah maka diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut.

    1. Model pembelajaran yang dibatasi pada model pembelajaran kooperatif

    tipe Numbered Heads Together (NHT), model pembelajaran kooperatif

    tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan model pembelajaran konvensional.

    2. Intelligence Qoutient (IQ) siswa dibatasi pada IQ rendah dengan skor

    kurang dari atau sama dengan 99, IQ sedang dengan skor 100 sampai

    dengan 109, dan IQ tinggi dengan skor lebih dari atau sama dengan 110.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 6

    3. Prestasi belajar dibatasi pada prestasi siswa pada pokok bahasan luas

    permukaan dan volume bangun ruang sisi datar kubus, balok, prisma dan

    limas di kelas VIII SMP semester 2.

    4. Siswa SMP dibatasi pada seluruh SMP Negeri yang ada di wilayah

    kabupaten Purworejo pada kelas VIII semester 2 pada tahun pelajaran

    2011/2012.

    E. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan

    pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah

    sebagai berikut.

    1. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara model

    NHT, model TSTS atau model konvensional?

    2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik di antara siswa

    dengan IQ tinggi, siswa dengan IQ sedang atau siswa dengan IQ rendah?

    3. Pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang mempunyai

    prestasi belajar lebih baik di antara siswa dengan IQ tinggi, siswa dengan

    IQ sedang atau siswa dengan IQ rendah?

    4. Pada masing-masing kategori IQ siswa, manakah yang memberikan

    prestasi belajar lebih baik di antara model NHT, model TSTS atau model

    konvensional?

    F. Tujuan Penelitian

    Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang

    akan dicapai dalam penelitian ini untuk mengetahui:

    1. Model pembelajaran mana yang memberikan prestasi belajar lebih baik di

    antara model NHT, model TSTS atau model konvensional.

    2. Siswa dengan kategori IQ mana yang mempunyai prestasi belajar lebih

    baik di antara siswa dengan IQ tinggi, siswa dengan IQ sedang atau siswa

    dengan IQ rendah.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 7

    3. Pada masing-masing model pembelajaran, siswa dengan kategori IQ mana

    yang mempunyai prestasi belajar lebih baik di antara siswa dengan IQ

    tinggi, siswa dengan IQ sedang atau siswa dengan IQ rendah.

    4. Pada masing-masing kategori IQ siswa, model pembelajaran mana yang

    memberikan prestasi belajar lebih baik di antara model NHT, model TSTS

    atau model konvensional.

    G. Manfaat Penelitian

    Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

    berikut.

    1. Sebagai bahan pertimbangan guru matematika SMP dalam penggunaan

    model pembelajaran.

    2. Sebagai bahan acuan dalam penelitian penggunaan model pembelajaran

    matematika inovatif yang lebih lanjut.

    3. Memberikan informasi tentang model pembelajaran mana yang paling

    cocok digunakan pada masing-masing siswa dengan kategori IQ tertentu.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Kajian Teori

    1. Prestasi belajar

    a. Definisi Belajar

    Eveline Siregar dan Hartini Nara (2010: 5), mendefinisikan

    belajar sebagai suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam

    interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan yang

    bersifat relatif konstan. Adapun definisi belajar menurut software

    Kamus Besar Bahasa Indonesia version 1.3 (KBBI v1.3, 2011), belajar

    adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.

    Sementara itu menurut beberapa ahli yang dikutip dari Eveline

    Siregar dan Hartini Nara (2010: 4) dalam buku Teori Belajar dan

    Pembelajaran, definisi belajar adalah sebagai berikut.

    1) Burton dalam The Guidance of Learning Activities mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

    2) Hilgard dalam Introduction to Psychology mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan.

    3) Witherington dalam Educational Psychology menjelaskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian.

    4) Berlinger mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

    5) Spears mengemukakan learning is to observe, to read, to imitate, to try something them selves, to listen, to follow direction (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar dan mengikuti aturan).

    6) Singer mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku yang relatif tetap yang disebabkan praktik atau pengalaman yang sampai dalam situasi tertentu.

    8

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 9

    7) Gagne mengemukakan learning is relatively permanent change in behavior that result from past experience or purposeful instruction (belajar adalah suatu perubahan perilaku yang relatif menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu ataupun dari pembelajaran yang bertujuan/direncanakan).

    Belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang di dalamnya

    terkandung beberapa aspek. Menurut Eveline Siregar dan Hartini Nara

    (2010: 4-5), aspek-aspek tersebut adalah:

    1) bertambahnya jumlah pengetahuan, 2) adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi, 3) ada penerapan pengetahuan, 4) menyimpulkan makna, 5) menafsirkan dan mengaitkannya dengan realitas, dan 6) adanya perubahan sebagai pribadi.

    Berbagai teori belajar yang terkenal, yaitu teori belajar

    behavioristik, teori belajar belajar kognitif, teori belajar humanistik,

    dan teori belajar konstruktivistik. Menurut teori belajar behavioristik

    atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan

    tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons.

    Belajar tidaknya seseorang bergantung kepada faktor-faktor yang

    diberikan lingkungan. Adapun teori belajar kognitif, belajar tidak

    sekadar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Lebih dari

    itu, belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

    Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya sangat menentukan hasil

    belajar.

    Sementara itu dalam teori belajar humanistik, proses belajar

    dilakukan dengan memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya

    kepada individu. Si belajar diharapkan dapat mengambil keputusannya

    sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang

    dipilihnya. Di lain pihak, ada teori belajar yang saat ini dikembangkan

    secara mendalam, yaitu teori belajar konstruktivistik. Teori belajar ini

    memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi)

    pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan yang ada di dalam

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 10

    diri seseorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat dipindahkan

    begitu saja dari otak seseorang (guru) kepada orang lain (siswa).

    Menurut pandangan konstruktivitik, belajar merupakan suatu

    proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan

    oleh siswa. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun

    konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari,

    tetapi yang paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat

    belajar siswa itu sendiri, sementara peranan guru dalam belajar

    konstruktivistik berperan membantu agar proses pengkonstruksian

    pengetahuan oleh siswa berjalan lancar.

    Dalam hal sarana belajar, pendekatan konstruktivistik

    menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah

    aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, melalui

    bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya yang

    disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Media dan

    peralatan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan

    dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta

    aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman.

    Berdasarkan berbagai definisi dan teori belajar di atas, maka

    yang digunakan sebagai landasan proses pembelajaran dalam

    penelitian ini adalah belajar berdasarkan teori belajar konstruktivistik.

    Proses pembelajaran dirancang demikian rupa sehingga sesuai dengan

    teori belajar konstruktivistik, yang mengutamakan keaktifan siswa

    dalam mengkontruksikan pengetahuannya sendiri dengan model

    pembelajaran yang dirancang dalam penelitian ini.

    b. Definisi Prestasi Belajar

    Prestasi belajar dalam software KBBI v1.3, 2011 adalah

    penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan

    melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau

    angka nilai yang diberikan oleh guru. Sementara menurut Widha

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 11

    Sunarno (2007: 17), prestasi belajar adalah hasil tes berupa angka yang

    diperoleh siswa setelah siswa mengalami pembelajaran pada pokok

    bahasan tertentu.

    Menurut Winkel dalam Utu Rahim (2010: 79), prestasi belajar

    adalah perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman,

    keterampilan, nilai dan sikap. Dari beberapa pengertian prestasi belajar

    di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar

    dalam penelitian ini adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan

    dalam pokok bahasan bangun ruang sisi datar yang ditunjukkan dari

    hasil tes yang berupa angka.

    c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

    Secara umum faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri

    dari faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor tersebut berpengaruh

    sekali terhadap prestasi belajar yang diraih oleh seorang individu

    dalam belajar. Rincian mengenai faktor-faktor ini sebagai berikut.

    1) Faktor internal

    Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri siswa baik

    kondisi jasmani maupun rohani siswa. Adapun faktor internal

    dibedakan menjadi faktor fisiologis dan faktor psikologis.

    a) Faktor fisiologis

    Faktor fisiologis adalah sesuatu kondisi yang berhubungan

    dengan jasmani seseorang. Faktor ini dipengaruhi oleh tonus

    (kondisi) tubuh dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu,

    misalnya fungsi panca indra.

    b) Faktor psikologis

    Faktor psikologis adalah suatu kondisi yang berhubungan

    dengan keadaan kejiwaan siswa. Faktor psikologis dapat

    ditinjau dari aspek bakat, minat, inteligensi, dan motivasi.

    2) Faktor eksternal

    Faktor eksternal adalah faktor yang timbul dari luar diri siswa.

    Faktor eksternal dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 12

    a) Faktor sosial

    Faktor sosial dikategorikan menjadi lingkungan keluarga,

    lingkungan guru, dan lingkungan masyarakat. Lingkungan

    keluarga dipengaruhi oleh orang tua, suasana rumah,

    kemampuan ekonomi keluarga, dan latar belakang kebudayaan.

    Lingkungan guru dipengaruhi oleh interaksi guru dan murid,

    hubungan antar murid, dan cara pengajian bahan pelajaran.

    Sementara lingkungan masyarakat dipengaruhi oleh teman

    bergaul, pola hidup lingkungan, kegiatan dalam masyarakat,

    dan mass media.

    b) Faktor non-sosial

    Faktor non-sosial dikategorikan menjadi sarana dan prasarana

    sekolah, waktu belajar, rumah, dan alam. Faktor sarana dan

    prasarana sekolah meliputi kurikulum, media pendidikan,

    keadaan gedung, dan sarana belajar.

    2. Model Pembelajaran

    a. Definisi Model Pembelajaran

    Model pembelajaran erat kaitannya dengan pendekatan

    pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran.

    Menurut Eveline Siregar dan Hartini Nara (2010: 122), pendekatan

    pembelajaran adalah suatu pandangan dalam mengupayakan cara siswa

    berinteraksi dengan lingkungannya, strategi adalah cara sistematis

    yang dipilih dan digunakan seorang guru untuk menyampaikan materi

    pembelajaran, sehingga memudahkan guru untuk mencapai tujuan

    pembelajaran tertentu, sementara metode pembelajaran adalah bagian

    dari strategi, merupakan cara dalam menyajikan (menguraikan,

    memberi contoh, memberi latihan) isi pelajaran untuk mencapai tujuan

    tertentu.

    Apabila pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan

    metode pembelajaran terangkai menjadi satu bungkus yang utuh maka

    itu disebut model pembelajaran. Jadi dengan kata lain, dapat

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 13

    disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah prosedur yang

    sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk

    mencapai tujuan belajar.

    b. Model Pembelajaran Kooperatif

    Kooperatif dalam software KBBI v1.3, 2011 adalah bersifat

    kerja sama dan bersedia membantu. Menurut Eveline Siregar dan

    Hartini Nara (2010: 115), cooperative learning (pembelajaran

    kooperatif) merupakan model pembelajaran yang menekankan

    aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok,

    mempelajari materi pelajaran, dan memecahkan masalah secara

    kolektif kooperatif.

    Sementara menurut Baharuddin dan Nur Wahyuni (2010: 128),

    cooperative learning yaitu strategi yang digunakan untuk proses

    belajar, di mana siswa akan lebih mudah menemukan secara

    komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya

    dengan siswa yang lain tentang problem yang dihadapi. Sedangkan

    menurut Slavin dalam Eveline Siregar dan Hartini Nara (2010: 114),

    belajar kooperatif dapat membantu siswa dalam mendefinisikan

    struktur motivasi dan organisasi untuk menumbuhkan kemitraan yang

    bersifat kolaboratif. Jadi pembelajaran kooperatif adalah strategi dalam

    proses belajar sedemikian sehingga dapat membantu siswa

    mendefinisikan struktur motivasi dan organisasi untuk menumbuhkan

    aktivitas kolaboratif dan kemitraan.

    Pengelompokan siswa merupakan salah satu strategi yang

    dianjurkan agar siswa dapat saling berbagi pendapat, beragumentasi

    dan mengembangkan berbagai alternatif pandangan dalam upaya

    konstruksi pengetahuan. Tiga konsep yang melandasi model

    pembelajaran kooperatif (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010:

    114).

    1) Team rewads: tim akan mendapat hadiah bila mereka mencapai kriteria tertentu yang ditetapkan.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 14

    2) Individual accountability: keberhasilan tim bergantung dari hasil belajar individual dari semua anggota tim. Pertanggung jawaban berpusat pada kegiatan anggota tim dalam membantu belajar satu sama lain dan memastikan bahwa setiap anggota siap untuk kuis atau penilaian lainnya tanpa bantuan teman sekelompoknya.

    3) Equal opportunities for success: setiap siswa memberikan kontribusi kepada timnya dengan cara memperbaiki hasil belajarnya sendiri yang terdahulu. Kontribusi dari semua anggota kelompok dinilai.

    Menurut Rachmadi Widdiharto (2004: 13) menyebutkan

    beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika siswa bekerja dalam

    kelompok.

    1) Setiap anggota dalam kelompok harus merasa bagian dari tim dalam pencapaian tujuan bersama.

    2) Setiap anggota dalam kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka pecahkan adalah masalah kelompok, berhasil atau gagal akan dirasakan semua anggota kelompok.

    3) Untuk pencapaian tujuan kelompok, semua siswa harus bicara atau diskusi satu sama lain.

    4) Harus jelas bahwa setiap kerja individu dalam kelompok mempunyai efek langsung terhadap keberhasilan kelompok.

    Sementara itu Eveline Siregar dan Hartini Nara (2010: 114)

    menyampaikan bahwa pembelajaran kooperatif menganut lima prinsip

    utama, yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggungjawab

    perseorangan; 3) interaksi tatap muka; 4) komunikasi; 5) evaluasi

    proses secara kelompok.

    Terkait langkah (sintaks) model pembelajaran, Ismail dalam

    Rachmadi Widdiharto (2004: 15) menyebutkan enam langkah dalam

    model pembelajaran kooperatif, yakni:

    Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Kooperatif

    Fase ke- Indikator Tingkah laku guru

    1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

    Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar

    2 Menyajikan informasi

    Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 15

    Fase ke- Indikator Tingkah laku guru

    3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

    Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

    4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar

    Guru membimbing kelompok kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

    5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

    6 Memberikan penghargaan

    Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

    Beberapa kegiatan kelompok dalam model pembelajaran

    kooperatif, antara lain: learning together, Investigation Group, Co-op

    co-op, Jigsaw, Student Teams-Achievement Division, Team

    Accelerated Instruction, Team Games-Tournament, Numbered Heads

    Together, Think Pair Share, Two Stay Two Stray.

    c. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together

    Numbered Heads Together (Menomori Orang Bersama)

    merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif.

    Disebutkan dalam Slavin (2008: 256) bahwa Numbered Heads

    Together (NHT) pada dasarnya adalah sebuah varian dari Group

    Discussion, hanya saja ada pembelokan, yaitu pada hanya ada satu

    siswa yang mewakili kelompoknya tetapi sebelumnya tidak diberi tahu

    siapa yang akan menjadi wakil kelompok tersebut. Pembelokan

    tersebut memastikan keterlibatan total dari semua siswa.

    Langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut

    Kagan dalam Elfis (2010) adalah sebagai berikut.

    1) Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor.

    2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 16

    3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.

    4) Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

    5) Teman yang lain memberi tanggapan, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.

    6) Guru dan peserta didik menyimpulkan. 7) Guru memberi evaluasi.

    Adapun langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT

    dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

    1) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap kelompok diupayakan terdiri

    dari siswa dengan kemampuan yang bervariasi. Banyak anggota

    tiap kelompok antara empat sampai lima orang.

    2) Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.

    3) Guru memberikan tugas berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) dan

    masing-masing kelompok mengerjakannya.

    4) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan

    tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui

    jawabannya.

    5) Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil

    melaporkan hasil kerja sama mereka.

    6) Teman yang lain memberi tanggapan, kemudian guru menunjuk

    nomor yang lain.

    7) Guru dan siswa menyimpulkan materi pertemuan secara bersama-

    sama.

    8) Guru memberi evaluasi.

    Dengan memperhatikan langkah-langkahnya maka dapat

    dirangkai kesimpulan mengenai model pembelajaran Numbered Heads

    Together dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif

    yang mana siswa dibagikan dalam beberapa kelompok dan setiap siswa

    diberi nomor serta pelaporan hasil kerja sama dilakukan dengan

    memanggil nomor siswa secara acak.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 17

    d. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray

    Model pembelajaran Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua

    Tamu) merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang

    memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil

    pekerjaan dan informasi dengan kelompok lainnya. Dalam model

    pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) hal ini dilakukan dengan

    cara saling mengunjungi/bertamu antar kelompok untuk berbagi

    informasi.

    Langkah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah

    sebagai berikut (Rachmad Widodo, 2009).

    1) Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang.

    2) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok menjadi tamu kedua kelompok yang lain.

    3) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.

    4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.

    5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka. 6) Kesimpulan.

    Adapun langkah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS

    dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

    1) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap kelompok diupayakan terdiri

    dari siswa dengan kemampuan yang bervariasi. Banyak anggota

    tiap kelompok antara empat sampai lima orang.

    2) Guru memberikan tugas berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) dan

    masing-masing kelompok mengerjakannya.

    3) Siswa bekerja bersama dan berdiskusi dalam kelompok.

    4) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok menjadi

    tamu kedua kelompok yang lain.

    5) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan

    hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.

    6) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan

    melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 18

    7) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.

    8) Guru dan siswa menyimpulkan materi pertemuan secara bersama-

    sama.

    9) Guru memberi evaluasi.

    Dengan memperhatikan langkah-langkahnya maka dapat

    dirangkai kesimpulan mengenai model pembelajaran Two Stay Two

    Stray dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif yang

    mana siswa dibagikan dalam beberapa kelompok dan bekerja sama

    dalam kelompok tersebut untuk menyelesaikan suatu tugas, kemudian

    setelah tugas selesai, dua siswa tetap tinggal di kelompok tersebut

    untuk menjelaskan pada siswa tamu yang datang, sementara dua siswa

    yang lain pergi ke kelompok lain yang berbeda untuk mencari

    informasi dari kelompok lain. Setelah dirasa sudah cukup dalam

    mendapatkan informasi maka siswa tamu kembali ke kelompoknya

    masing-masing dan menyampaikan informasi yang didapatnya pada

    siswa lain dalam kelompoknya. Pelaporan hasil kerja dilakukan dengan

    memanggil salah satu anggota kelompok secara acak.

    e. Model Pembelajaran Konvensional

    Menurut Freire dalam Ketut Juliantara (2009) memberikan

    istilah model pembelajaran ini sebagai suatu penyelenggaraan

    pendidikan ber- banking concept of education).

    Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas

    diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada

    terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan

    siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang

    pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang

    diajarkan kepada mereka.

    Sementara menurut Burrowes dalam Ketut Juliantara (2009)

    menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 19

    resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa

    untuk merefleksi materi materi yang dipresentasikan,

    menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau

    mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Masih dalam

    Ketut Juliantara (2009), menurut Brooks and Brooks,

    penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan

    kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan,

    untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah

    dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.

    Langkah model pembelajaran konvensional adalah sebagai

    berikut. (Ketut Juliantara, 2009)

    1) Apersepsi.

    2) Penjelasan konsep dengan metode ceramah dan/atau demonstrasi.

    3) Latihan terbimbing.

    4) Memberikan balikan (feed back)

    Adapun langkah model pembelajaran kovensional dalam

    penelitian ini adalah sebagai berikut.

    1) Apersepsi.

    2) Guru memberikan penjelasan konsep dengan metode ceramah dan

    demonstrasi.

    3) Guru memberikan tugas berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) secara

    individu.

    4) Siswa bekerja mengerjakan LKS secara individu.

    5) Setelah selesai, beberapa siswa diminta mengerjakan di depan

    kelas.

    6) Guru bersama siswa mencocokkan dengan berdiskusi secara

    bersama-sama dan membahas hasil kerja mereka.

    7) Guru dan siswa menyimpulkan materi pertemuan secara bersama-

    sama.

    8) Guru memberi evaluasi.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 20

    Dengan memperhatikan langkah-langkahnya maka dapat

    dirangkai kesimpulan mengenai model pembelajaran konvensional

    dalam penelitian ini adalah model pembelajaran yang dimulainya

    dengan guru aktif memberikan penjelasan konsep tentang materi dan

    siswa diminta memperhatikan, kemudian siswa mengerjakan tugas

    secara individu dan pelaporan hasil kerja dilakukan dengan menunjuk

    beberapa siswa secara acak dan kemudian dibahas secara bersama-

    sama.

    3. Intelligence Qoutient (IQ) siswa

    a. Definisi IQ

    Intelligence Quotient menggandung pengertian ukuran

    kecerdasan. Dalam software KBBI v1.3, 2011, ukuran didefinisikan

    sebagai hasil mengukur, adapun kecerdasan didefinisikan sebagai

    kesempurnaan perkembangan akal budi. Sehingga ukuran kecerdasan

    adalah hasil mengukur pada kesempurnaan perkembangan akal budi.

    Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk

    menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan,

    seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah,

    berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan

    belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang

    dimiliki oleh individu.

    Menurut Eveline Siregar dan Hartini Nara (2010: 176),

    inteligensi (kecerdasan) adalah kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi

    rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara

    yang tepat. Kemampuan dasar yang tinggi pada anak, memungkinkan

    anak dapat menggunakan pikirannya untuk belajar dan memecahkan

    persoalan-persoalan baru secara tepat, cepat, dan berhasil. Sebaliknya,

    tingkat kemampuan dasar yang rendah dapat mengakibatkan murid

    mengalami kesulitan dalam belajar.

    Menurut Gardner yang dikutip dari Eveline Siregar dan Hartini

    Nara (2010: 99), intellegence (kecerdasan) diartikan sebagai

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 21

    kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk

    dalam suatu setting yang beragam dan dalam situasi yang nyata.

    Menurutnya, suatu kemampuan disebut intelegensia (kecerdasan) jika:

    1) menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang dalam

    memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam

    hidupnya,

    2) ada unsur pengetahuan dan keahlian,

    3) bersifat universal harus berlaku bagi banyak orang,

    4) kemampuan itu dasarnya adalah unsur biologis, yaitu karena otak

    seseorang, bukan sesuatu yang terjadi karena latihan atau training,

    5) kemampuan itu sudah ada sejak lahir, meski di dalam pendidikan

    dapat dikembangkan.

    Menurut Alim Sumarno (2011), orang seringkali menyamakan

    arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai

    perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti intelegensi sudah dijelaskan

    di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient,

    adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan

    demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf

    kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang

    secara keseluruhan. Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan

    membandingkan umur mental (mental age) dengan umur kronologik

    (chronological age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan

    persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur

    mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada

    individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan

    diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai

    dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah

    otak mengalami kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan

    pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

    Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

    defisini IQ dalam penelitian ini adalah skor yang diperoleh dari sebuah

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 22

    alat tes kecerdasan yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk

    memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting

    yang beragam dan dalam situasi yang nyata.

    b. Faktor-faktor yang mempengaruhi IQ

    Menurut Alim Sumarno (2011) faktor yang mempengaruhi IQ

    adalah faktor bawaan atau keturunan dan faktor lingkungan. Penjelasan

    mengenai dua faktor ini adalah sebagai berikut.

    1) Faktor bawaan atau keturunan

    Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu

    keluarga sekitar 0,50, sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi

    nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah

    pada anak yang diadopsi, IQ mereka berkorelasi antara 0,40 0,50

    dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 0,20

    dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak

    kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap

    berkorelasi sangat tinggi, walaupun mereka tidak pernah saling

    kenal.

    2) Faktor lingkungan

    Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak

    lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-

    perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari

    otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang

    dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat

    kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang

    amat penting.

    c. Keanekaragaman Kecerdasan

    Kecerdasan menurut Howard Gardner dalam Eveline Siregar

    dan Hartini Nara (2010: 100) dibagi menjadi sembilan kecerdasan,

    yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan

    spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan naturalis, kecerdasan

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 23

    kinestetik-jasmani, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi,

    dan kecerdasan eksistensialis.

    1) Kecerdasan linguistik

    Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini

    merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan

    pengacara. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat

    beragumentasi, menyakinkan orang, menghibur, atau mengajar

    dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya.

    2) Kecerdasan logis-matematis

    Kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan dalam hal angka

    dan logika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan

    programer komputer. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-

    matematis mencakup kemampuan penalaran, mengurutkan,

    berpikir dalam tentang sebab akibat, menciptakan hipotesis,

    mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan

    hidupnya umumnya bersifat rasional.

    3) Kecerdasan spasial

    Kecerdasan spasial mencakup berpikir dalam gambar, serta

    kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali

    berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini

    merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan

    insinyur mesin. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang

    tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap

    detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu

    hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan

    mudah menyesuaikan orientasi dalam tiga dimensi.

    4) Kecerdasan musikal

    Ciri utama kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mencerap,

    menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Kecerdasan

    musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan

    lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dapat

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 24

    mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman

    tertentu.

    5) Kecerdasan naturalis

    Kecerdasan naturalis adalah kemampuan dan kepekaan terhadap

    alam sekitar. Kemampuan yang tinggi untuk membedakan berbagai

    jenis tumbuhan secara mendalam. Kemampuan untuk

    menghubungkan materi pelajaran dengan fenomena alam.

    Seseorang yang memiliki kecerdasan naturalis ini sangat menyukai

    binatang ataupun tanaman. Kecerdasan ini banyak dimiliki oleh

    para pakar lingkungan.

    6) Kecerdasan kinestetik-jasmani

    Kecerdasan kinestetik-jasmani adalah kecerdasan fisik, kecerdasan

    ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan

    keterampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan

    ahli bedah mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat

    tinggi. Orang dengan kecerdasan fisik memiliki keterampilan

    dalam menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga

    menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari,

    berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang

    yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam,

    dan berminat atas segala sesuatu.

    7) Kecerdasan antarpribadi

    Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan

    orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut untuk mencerap dan

    tanggap terhadap suasana hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain.

    Pada tingkat yang lebih tinggi, kecerdasan ini dapat membaca

    konteks kehidupan orang lain, kecenderungannya dan

    kemungkinan keputusan yang akan diambil. Profesional, guru,

    terapis, dan politisi umumnya memiliki kecerdasan ini.

    8) Kecerdasan intrapribadi (dalam diri sendiri)

    Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan

    mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai

    macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 25

    untuk memperkaya dan membimbing hidupnya. Contoh orang

    yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan

    wirausahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi,

    berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam.

    Sebaliknya mereka sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan,

    dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang

    yang gemar belajar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri daripada

    bekerja dengan orang lain.

    9) Kecerdasan eksistensialis

    Kecerdasan eksistensialia adalah kecerdasan yang cenderung

    memandang masalah-masalah dari sudut pandang yang lebih luas

    dari segala sesuatu. Kecerdasan ini banyak dijumpai pada para

    filsuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar

    keberadaan dirinya di dunia ini dan apa tujuan hidupnya.

    d. Penggolongan IQ

    IQ dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang

    biasa disebut sebagai tes kecerdasan. Para ahli membagi tingkatan IQ

    bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ

    berdasarkan tes Stanford-Binet yang telah direvisi oleh Terman dan

    Merill sebagai berikut (Baharuddin dan Nur Wahyuni, 2010: 21).

    Tabel 2.2 Distribusi Kecerdasan IQ menurut Stanford Revision

    Tingkat Kecerdasan (IQ) Klasifikasi

    140 169 Amat superior

    120 139 Superior

    110 119 Rata-rata tinggi

    90 109 Rata-rata

    80 89 Rata-rata rendah

    70 79 Batas lemah mental

    20 69 Lemah mental

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 26

    Dalam penelitian ini Distribusi Kecerdasan IQ dibagi menjadi 3

    kategori berdasarkan skor IQ. Pengkategorian skor tersebut nampak

    pada Tabel 2.3 berikut ini.

    Tabel 2.3 Pengkategorian IQ pada penelitian ini

    Tingkat Kecerdasan (IQ) Kategori

    Tinggi

    100 109 Sedang

    99 Rendah

    B. Penelitian yang Relevan

    Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai

    berikut.

    1. Haydon, Maheady, dan Hunter (2010) yang berjudul Effects of Numbered

    Heads Together on the Daily Quiz Scores and On-Task Behavior of

    Students with Disabilities (Efek Numbered Heads Together pada skor kuis

    harian dan tugas praktek siswa-siswa dengan keterbatasan jasmani).

    Persamaan dengan penelitian ini adalah model NHT, sementara

    perbedaannya adalah tidak dibandingkan dengan model yang lain.

    2. Maheady, Pendl, Harper, dan Mallette (2006) yang berjudul The effects of

    Numbered Heads Together with and without an Incentive Package on the

    Science Test Performance of a Diverse Group of Sixth Graders (Efek

    Numbered Heads Together dengan dan tanpa Paket Perangsang pada

    Penyelenggaraan Tes Sains pada Grup Bakat Siswa Kelas 6). Persamaan

    dengan penelitian ini adalah model NHT, sementara perbedaannya adalah

    hanya membandingkan model NHT dengan modifikasinya.

    3. Desoete (2008) yang berjudul Multi-method Assessment of Metacognitive

    Skills in Elementary School Children: How You Test is What You Get

    (Beraneka ragam metode penilaian kemampuan metakognitif pada anak-

    anak sekolah dasar: Bagaimana kamu mengetes adalah apa yang dapat).

    Persamaan dengan penelitian ini adalah meninjau IQ, sementara

    perbedaannya adalah tidak membandingkan model pembelajaran.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 27

    4. Berger (1986) yang berjudul Toward an Educated Use of IQ Tets (Untuk

    sebuah pendidikan menggunakan IQ tes). Persamaan dengan penelitian ini

    adalah meninjau IQ, sementara perbedaannya adalah tidak mengkaji

    tentang model pembelajaran.

    5. Bond (1982) yang berjudul The IQ Controversy and Academic

    Performance (Kontroversi IQ dan Penyelenggaraan Akademik).

    Persamaan dengan penelitian ini adalah meninjau IQ, sementara

    perbedaannya adalah tidak meneliti tentang model pembelajaran.

    6.

    Kooperatif Tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS) dan Numbered Heads

    Together (NHT) terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII

    yang

    menghasilkan temuan bahwa pembelajaran dengan model TSTS

    memberikan prestasi belajar yang sama dengan model NHT, di sisi lain

    prestasi belajar siswa dengan model TSTS dan NHT lebih baik dibanding

    dengan pembelajaran konvensional. Persamaan dengan penelitian adalah

    model pembelajaran, yaitu TSTS dan NHT. Sementara perbedaannya

    adalah peninjauannya, yaitu akfivitas belajar, bukan IQ siswa.

    7. Ceket Palupi Suroso (2011) yan

    Matematika dengan Model Think-Pair-Share (TPS) dan Model Two Stay

    Two Stray (TSTS) pada Kompetensi Dasar Menghitung Luas Permukaan

    dan Volume Kubus, Balok, Prisma dan Limas ditinjau dari Kemampuan

    Spasial Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran

    2010/2011 bahwa model TSTS lebih baik

    daripada model TPS. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada

    penggunaan model TSTS, namun jika dalam penelitian ini dibandingkan

    dengan model NHT, sementara dalam penelitian relevan dibandingkan

    dengan model TPS. Selain itu, peninjauannya juga berbeda.

    8. Tri Widiastuti (2011) yang berjudul Eksperimentasi Pembelajaran

    Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) Dan Tipe Missouri

    Mathematics Project (MMP) pada Prestasi Belajar Matematika ditinjau

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 28

    dari Sikap Sosial Siswa bahwa model TSTS

    lebih baik daripada model MMP dan model konvensional, dan model

    MMP lebih baik daripada model konvensional. Persamaan dengan

    penelitian ini adalah pada penggunaan model TSTS, namun jika dalam

    penelitian ini dibandingkan dengan model NHT, sementara dalam

    penelitian relevan dibandingkan dengan model MMP.

    9.

    Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan Student Team

    Achievement Division (STAD) pada Siswa SMP Negeri se-Kabupaten

    menghasilkan temuan model TSTS sama baiknya dengan model STAD.

    Persamaan dengan penelitian ini adalah pada penggunaan model TSTS,

    namun jika dalam penelitian ini dibandingkan dengan model NHT,

    sementara dalam penelitian relevan dibandingkan dengan model STAD.

    Selain itu, peninjauannya juga berbeda.

    C. Kerangka Berpikir

    1. Kaitan antara model pembelajaran terhadap prestasi belajar

    Menurut para ahli, penggunaan model pembelajaran yang tepat

    akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar. Dengan

    berhasilnya proses belajar, siswa akan mencapai hasil belajar yang

    optimum. Model pembelajaran yang inovatif menjadi model pembelajaran

    yang dianggap paling tepat untuk melaksanakan proses pembelajaran yang

    aktif dan kreatif yang berorientasi pada siswa. Model pembelajaran

    inovatif didaulat menjadi model pembelajaran yang akan membawa siswa

    mencapai keberhasilan belajar dibandingkan model pembelajaran

    konvensional.

    Terdapat beberapa model pembelajaran inovatif yang dapat

    digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, diantaranya adalah

    NHT dan TSTS. Dalam kedua model pembelajaran tersebut, siswa

    menggunakan LKS serta diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam

    mengolah informasi sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 29

    memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dan

    bekerjasama untuk memahami materi pelajaran. Model tersebut lebih

    banyak melibatkan siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam

    suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran

    tersebut.

    Baik model NHT atapun TSTS merupakan model pembelajaran

    yang baik dalam merangsang siswa untuk lebih aktif dan berfikir kritis

    karena siswa diberikan kesempatan untuk mencari sendiri pemecahan

    masalah dengan kerjasama kelompok sehingga mereka lebih mudah

    memahami materi. Keduanya merupakan varian dari model pembelajaran

    kooperatif, hanya saja berbeda pada cara diskusi dan pemanggilan siswa

    untuk unjuk hasil kerja. Sementara itu, berdasarkan dari beberapa

    penelitian yang relevan diperoleh bahwa model TSTS merupakan model

    pembelajaran yang lebih baik dibandingkan beberapa model pembelajaran

    yang lain.

    Atas dasar pemikiran di atas, diharapkan model pembelajaran

    TSTS dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada model

    pembelajaran NHT dan model pembelajaran konvensional. Sementara itu,

    diharapkan model pembelajaran NHT dapat memberikan prestasi belajar

    yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional.

    2. Kaitan antara kategori IQ siswa dengan prestasi belajar

    Sesuai dengan pendapat para ahli, IQ merupakan skor yang

    diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. IQ hanya memberikan sedikit

    indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan

    kecerdasan seseorang secara keseluruhan. IQ diakui sebagai suatu hal yang

    patut diketahui oleh seseorang untuk mengetahui sejauhmana tingkat

    kecerdasannya. Begitu pula dengan seorang siswa, sudah sepatutnya

    mengetahui skor IQ-nya. Hal ini amat penting untuk keberhasilan

    belajarnya. Apabila hasil tes IQ menunjukan bahwa dia termasuk kategori

    IQ rendah, maka seharusnya dia akan berusaha belajar lebih giat jika ingin

    prestasi belajarnya optimum.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 30

    Perlu ditegaskan bahwa IQ menunjukan potensi modal kepandaian

    siswa. Dengan modal awal yang bagus tentu saja hasilnya akan bagus

    pula. Sehingga dengan demikian akan dapat diramalkan bahwa dengan

    memiliki IQ yang tinggi, seorang siswa akan mendapat prestasi belajar

    yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki IQ yang lebih

    rendah daripadanya. Dengan demikian kategori IQ siswa dapat untuk

    meramalkan tingkat keberhasilan siswa dalam belajarnya.

    Siswa dengan IQ tinggi akan cenderung mampu memecahkan

    masalah dengan cepat dan tepat serta mampu menelaah materi pelajaran

    secara luas dengan mengkaitkan dan mengkonstruksikan. Siswa dengan IQ

    tinggi mempunyai karakteristik rasa ingin tahu yang luas mendalam, suka

    mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mudah memahami materi

    pelajaran. Sebaliknya, siswa dengan IQ rendah mempunyai karakteristik

    rasa ingin tahu rendah, jarang mengajukan pertanyaan dan butuh waktu

    agak lama untuk memahami materi pelajaran.

    Atas dasar pemikiran di atas, siswa dengan IQ tinggi besar

    kemungkinannya akan mempunyai prestasi belajar yang lebih baik

    dibandingkan dengan siswa dengan IQ sedang dan siswa dengan IQ

    rendah. Demikian pula, siswa dengan IQ sedang besar kemungkinannya

    akan memperoleh prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa

    dengan IQ rendah.

    3. Kaitan antara kategori IQ siswa dengan prestasi belajar pada masing-masing model pembelajaran

    Telah disampaikan dalam uraian di atas bahwa model

    pembelajaran adalah faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar

    siswa. Penggunaan model pembelajaran yang berbeda dapat memberikan

    keefektifan yang berbeda sesuai dengan potensi IQ siswa. Pada siswa

    dengan IQ tinggi apabila difasilitasi dengan model pembelajaran yang

    tepat, maka akan menghasilkan prestasi belajar yang optimum. Akan tetapi

    walaupun siswa dengan IQ tinggi, namun tidak difasilitasi dengan model

    pembelajaran yang tepat, maka prestasi belajarnya pun akan kurang

    optimum.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 31

    Dengan memperhatikan landasan teori dan karakterisktik masing-

    masing model pembelajaran, yaitu model NHT, model TSTS dan model

    konvensional, dapat dibuat dasar pemikiran bahwa kemungkinan pada

    model NHT, siswa dengan IQ tinggi mempunyai prestasi belajar yang

    lebih baik daripada siswa dengan IQ sedang maupun siswa dengan IQ

    rendah, dan siswa dengan IQ sedang mempunyai prestasi belajar yang

    lebih baik daripada siswa dengan IQ rendah.

    Kemungkinan pada model TSTS, siswa dengan IQ tinggi

    mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan IQ

    sedang maupun siswa dengan IQ rendah, dan siswa dengan IQ sedang

    mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan IQ

    rendah. Sementara pada model konvensional, kemungkinan siswa dengan

    IQ tinggi, siswa dengan IQ sedang dan siswa dengan IQ rendah

    mempunyai prestasi belajar yang sama.

    4. Kaitan antara model pembelajaran terhadap prestasi belajar pada masing-masing kategori IQ siswa

    Dengan memperhatikan karakteristik siswa dengan IQ tinggi

    sangat memungkinkan untuk keaktifannya dalam proses kegiatan belajar.

    Mereka mampu memecahkan masalah dengan cepat dan tepat serta

    menelaah materi pelajaran secara luas. Sebaliknya, untuk siswa dengan IQ

    rendah bagaimanapun tetap sukar ditingkatkan keaktifannya, kecuali jika

    mereka merasa nyaman dalam proses kegiatan belajar. Dengan model

    pembelajaran TSTS kemungkinan siswa dengan IQ rendah akan terbantu

    karena keaktifan dari siswa dengan IQ tinggi.

    Dengan memperhatikan landasan teori dan karakteristik IQ siswa,

    dapat dibuat dasar pemikiran bahwa kemungkinan pada siswa dengan IQ

    tinggi, antara model NHT, model TSTS dan model konvensional

    memberikan prestasi belajar yang sama. Pada siswa dengan IQ sedang,

    kemungkinan model TSTS memberikan prestasi belajar lebih baik

    daripada model NHT maupun model konvensional, dan model NHT

    memberikan prestasi belajar lebih baik daripada model konvensional.

    Sementara pada siswa dengan IQ rendah, kemungkinan model TSTS

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 32

    memberikan prestasi belajar lebih baik daripada model NHT maupun

    model konvensional, dan model NHT memberikan prestasi belajar lebih

    baik daripada model konvensional.

    D. Hipotesis Penelitian

    Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir yang

    dikemukakan di atas, dapat disampaikan beberapa hipotesis penelitian, sebagai

    berikut:

    1. Model TSTS memberikan prestasi belajar lebih baik dibanding model

    NHT maupun model konvensional, dan model NHT memberikan prestasi

    belajar lebih baik dibanding model konvensional.

    2. Siswa dengan IQ tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding

    siswa dengan IQ sedang maupun siswa dengan IQ rendah, dan siswa

    dengan IQ sedang mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding siswa

    dengan IQ rendah.

    3. Pada model NHT, siswa dengan IQ tinggi mempunyai prestasi belajar

    yang lebih baik daripada siswa dengan IQ sedang maupun siswa dengan

    IQ rendah, dan siswa dengan IQ sedang mempunyai prestasi belajar yang

    lebih baik daripada siswa dengan IQ rendah. Pada model TSTS, siswa

    dengan IQ tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada

    siswa dengan IQ sedang maupun siswa dengan IQ rendah, dan siswa

    dengan IQ sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada

    siswa dengan IQ rendah. Pada model konvensional, siswa dengan IQ

    tinggi, siswa dengan IQ sedang dan siswa dengan IQ rendah mempunyai

    prestasi belajar yang sama.

    4. Pada siswa dengan IQ tinggi, antara model NHT, model TSTS dan model

    konvensional memberikan prestasi belajar yang sama. Pada siswa dengan

    IQ sedang, model TSTS memberikan prestasi belajar lebih baik daripada

    model NHT maupun model konvensional, dan model NHT memberikan

    prestasi belajar lebih baik daripada model konvensional. Pada siswa

    dengan IQ rendah, model TSTS memberikan prestasi belajar lebih baik

    daripada model NHT maupun model konvensional, dan model NHT

    memberikan prestasi belajar lebih baik daripada model konvensional.

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat, Subjek dan Waktu Penelitian

    1. Tempat dan Subjek Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri di Kabupaten

    Purworejo propinsi Jawa Tengah dengan subjek penelitian siswa kelas

    VIII semester 2 tahun pelajaran 2011/2012.

    2. Waktu Penelitian

    Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Februari 2012 sampai

    Januari 2013 dengan tahapan seperti dalam Tabel 3.1 berikut.

    Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian

    No. Kegiatan Bulan

    1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

    1. Persiapan

    2. Penyusunan usulan penelitian

    3.

    Penyusunan instrumen, pengajuan ijin penelitian dan uji coba instrumen

    4. Eksperimen, pengumpulan data, dan analisis data

    5. Penyusunan laporan penelitian

    B. Jenis Penelitian

    1. Pendekatan Penelitian

    Sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka jenis pendekatan

    penelitian yang digunakan adalah pendekatan eksperimental semu, karena

    peneliti tidak mungkin mengontrol semua variabel bebas yang ikut

    mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah

    model pembelajaran dan Intelligence Quotient (IQ) siswa, sedangkan

    variabel terikatnya adalah prestasi belajar.

    33

    perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

  • 34

    Model pembelajaran dalam penelitian ini, meliputi model

    pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) untuk

    kelas eksperimen 1, model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two

    Stray (TSTS) untuk kelas eksperimen 2, dan model pembelajaran

    konvensional untuk kelas kontrol. Sementara untuk IQ siswa meliputi IQ

    tinggi, IQ sedang, dan IQ rendah.

    2. Rancangan Penelitian

    Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 3 x 3 yang dapat

    digambarkan seperti nampak pada Tabel 3.2 berikut:

    Tabel 3.2 Rancangan Penelitian IQ Siswa (B) Model Pembelajaran (A)

    IQ tinggi (b1)

    IQ sedang (b2)

    IQ rendah (b3)

    NHT (a1)

    a1b1

    a1b2

    a1b3

    TSTS (a2)

    a2b1

    a2b2

    a2b3

    Konvensional (a3 )

    a3b1

    a3b2

    a3b3 Sebelum diadakan eksperimen, terlebih dahulu dilihat apakah secara

    statistik terdapat perbedaan rata-rata prestasi yang berarti dari tiga kelas

    (eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol) maka dilakukan uji

    keseimbangan dengan uji Anava Satu Jalan Sel Tak Sama berdasarkan

    nilai matematika Ulangan Akhir Semester 1 tahun pelajaran 2011/2012.

    C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

    Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP dalam

    wilayah Kabupaten Purworejo. Tidaklah mungkin peneliti melakukan

    penelitian terhadap populasi yang jumlahnya banyak. Sehingga di sini peneliti

    mengambil beberapa sampel dari populasi.

    Sampel yang dimaksud dipilih dengan teknik