of 278 /278
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL PESERTA DIDIK KELAS IX SMP NEGERI KABUPATEN KLATEN TAHUN PELAJARAN 2008 / 2009 TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Matematika W i y a n a S 850907125 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA P R O G R A M P A S C A S A R J A N A UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN …EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL

  • Author
    others

  • View
    38

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN …EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI...

  • EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI

    LENGKUNG DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

    JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL PESERTA DIDIK

    KELAS IX SMP NEGERI KABUPATEN KLATEN

    TAHUN PELAJARAN 2008 / 2009

    TESIS

    Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar

    Magister Pendidikan Matematika

    W i y a n a

    S 850907125

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

    P R O G R A M P A S C A S A R J A N A

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2009

  • ii

    EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI

    LENGKUNG DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

    JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL PESERTA DIDIK

    KELAS IX SMP NEGERI KABUPATEN KLATEN

    TAHUN PELAJARAN 2008 / 2009

    Disusun oleh :

    W i y a n a

    S850907125

    Telah disetujui oleh Tim Pembimbing

    Pada tanggal :

    Pembimbing I Pembimbing II

    Dr. Mardiyana, M.Si Drs. Imam Sujadi, M.Si

    NIP. 132046017 NIP. 132320663

    Mengetahui

    Ketua Progam Studi Pendidikan Matematika

    Dr. Mardiyana, M.Si

    NIP. 132046017

  • iii

    EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI

    LENGKUNG DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

    JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL PESERTA DIDIK

    KELAS IX SMP NEGERI KABUPATEN KLATEN

    TAHUN PELAJARAN 2008 / 2009

    Disusun oleh :

    W i y a n a

    S850907125

    Telah Disetujui dan Disyahkan oleh Tim Penguji

    Pada Tanggal :

    Jabatan Nama Tanda tangan

    Ketua Prof. Dr. Budiyono, M.Sc. ………………………..

    Sekretaris Drs. Tri Atmojo K., M.Sc. Ph.D. ………………………..

    Penguji 1. Dr. Mardiyana, M.Si.

    2. Drs. Imam Sujadi, M.Si.

    …………………………

    …………………………

    Surakarta,

    Mengetahui

    Direktur PPs UNS

    Ketua Progdi. Pendidikan Matematika

    Prof. Drs. Suranto, M.Sc. Ph.D.

    NIP: 131 472 192

    Dr. Mardiyana, M.Si.

    NIP: 132 046 017.

  • iv

  • PERNYATAAN

    Yang bertanda tangan di bawah ini, saya

    Nama : Wiyana

    N I M : S 850907125

    Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa tesis berjudul EKSPERIMENTASI

    PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN

    KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL

    PESERTA DIDIK KELAS IX SMP NEGERI KABUPATEN KLATEN TAHUN

    PELAJARAN 2008 / 2009 adalah betul-betul karya saya sendiri . Hal – hal yang

    bukan karya saya dalam tesis tersebut ditunjukkan dalam daftar pustaka.

    Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya

    bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya

    peroleh dari tesis tersebut.

    Surakarta, 9 Januari 2009

    Yang membuat pernyataan

    (Wiyana)

  • iv

    MOTTO

    1. “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di

    antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa

    derajat.” (Al Qur’an, Surat Al Mujaadilah, ayat 11).

    2. “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu

    telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh

    (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu

    berharap.” (Al Qur’an, Surat Alam Nasyrah, ayat 6-8).

    3. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum

    sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka

    sendiri.” (Al Qur’an, Surat Ar-Ra’d, ayat 11).

  • v

    PERSEMBAHAN

    Tesis ini kupersembahkan untuk :

    1. Bapak dan Ibu tercinta;

    2. Istri dan anak-anakku;

    3. Rekan-rekan seangkatan di

    Prodi Pendidikan Matematika.

  • vi

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah. Puji syukur penulis dipanjatkan kehadirat Allah SWT ,

    yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

    menyelesaikan tesis ini. Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat

    memperoleh gelar Magister Program Studi Pendidikan Matematika.

    Mulai awal sampai akhir penulisan tesis ini, penulis banyak

    mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada

    kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan

    terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :

    1. Prof. Dr. dr. Much. Syamsulhadi, Sp.Kj, Rektor Universitas Sebelas Maret

    Surakarta.

    2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc. Ph.D, Direktur Program Pascasarjana

    Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    3. Dr. Mardiyana, M.Si, Dosen Pembimbing I dan Ketua Program Studi

    Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

    Surakarta, yang dengan penuh kesabaran dan ketekunan dalam

    memberikan bimbingan, arahan, nasehat, petunjuk dan saran-saran yang

    sangat bermanfaat.

    4. Drs. Imam Sujadi, M.Si, Dosen Pembimbing II yang telah memberikan

    bimbingan penuh serta dengan sabar memberikan arahan, petunjuk dan

    kritik membangun sehingga tesis ini dapat saya selesaikan.

    5. Kepala dinas pendidikan kabupaten Klaten, yang telah memberikan ijin

    dalam penelitian ini.

    6. Kepala SMP Negeri 3 Pedan, kepala SMP Negeri 2 Polanharjo, kepala

    SMP Negeri 2 Wonosari dan kepala SMP Negeri 3 Manisrenggo

    Kabupaten Klaten yang telah memberikan ijin dalam penelitian ini.

    7. Guru Matematika kelas IX SMP Negeri 3 Pedan, SMP Negeri 2

    Polanharjo, SMP Negeri 2 Wonosari dan SMP Negeri 3 Manisrenggo

    Kabupaten Klaten yang telah membantu penelitian ini.

  • vii

    8. Teman-teman mahasiswa yang telah memberikan motivasi dalam

    menyelesaikan penelitian ini.

    9. Bapak, ibu, istriku dan anak-anakku tercinta yang telah memberikan

    dukungan penuh dalam menyelesaikan tesis ini.

    Surakarta, 9 Januari 2009

    Penulis

  • viii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL .............................................................................. i

    PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN PEMBIMBING ................... ii

    PENGESAHAN TESIS ........................................................................ iii

    PERNYATAAN .................................................................................... iv

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................ v

    KATA PENGANTAR .......................................................................... vi

    DAFTAR ISI ......................................................................................... viii

    DAFTAR TABEL ................................................................................. xi

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xiii

    DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xiv

    ABSTRAK ............................................................................................ xv

    ABSTRACT .......................................................................................... xvii

    BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ......................................................... 1

    B. Identifikasi Masalah ................................................................ 7

    C. Pembatasan Masalah ............................................................... 8

    D. Perumusan Masalah ................................................................ 8

    E. Tujuan Penelitian ..................................................................... 9

    F. Manfaat Penelitian ................................................................... 10

  • ix

    BAB II LANDASAN TEORI ............................................................... 12

    A. Kajian Teori. ........................................................................... 12

    1. Prestasi Belajar Matematika .......................................... 12

    a. Pengertian Prestasi ................................................ 12

    b. Pengertian Belajar .................................................. 12

    c. Pengertian Matematika ........................................... 15

    d. Pengertian Prestasi Belajar Matematika ................ 16

    e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 16

    2. Model Pembelajaran Langsung .................................... 18

    3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ............... 20

    4. Kemampuan Awal Siswa .............................................. 25

    B. Penelitian Yang Relevan ......................................................... 26

    C. Kerangka Berpikir................................................................... 27

    D. Hipotesis ................................................................................. 30

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................. 32

    A. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................... 32

    B. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian .................................. 33

    C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel .............. 33

    D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasionalnya. .................. 35

    E. Teknik Pengumpulan Data dan Penyusunan Instrumen. ........ 37

    F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ...................................... 38

    G. Uji Keseimbangan…………………………………………… 45

    H. Teknik Analisis Data . ............................................................ 46

  • x

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................... 57

    A. Hasil Uji Coba Instrumen ...................................................... 57

    B. Deskripsi Data ....................................................................... 60

    C. Uji Keseimbangan ................................................................. 63

    D. Uji Persyaratan Analisis ........................................................ 63

    E. Pengujian Hipotesis ............................................................... 65

    F. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................. 69

    BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ......................... 75

    A. Kesimpulan ............................................................................ 75

    B. Implikasi ................................................................................ 76

    C. Saran ...................................................................................... 78

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 79

    LAMPIRAN .......................................................................................... 82

  • xi

    DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Langsung ................................ 19

    Tabel 3.1 Waktu Penelitian ................................................................... 32

    Tabel 3.2 Rancangan Penelitian ............................................................ 33

    Tabel 3.3 Data Amatan, Rataan, dan Jumlah Kuadrat Deviasi ............. 50

    Tabel 3.4 Rataan dan Jumlah Rataan .................................................... 51

    Tabel 3.5 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan ............................. 54

    Tabel 4.1 Rangkuman Analisis Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan

    Awal ...................................................................................... 58

    Tabel 4.2 Rangkuman Analisis Uji Coba Instrumen Tes Prestasi Belajar

    Matematika ............................................................................ 59

    Tabel 4.3 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika dan Skor Nilai

    Kemampuan Awal Peserta didik .......................................... 61

    Tabel 4.4 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Berdasarkan

    Model Pembelajaran ............................................................. 61

    Tabel 4.5 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Berdasarkan

    Kemampuan Awal Peserta didik .......................................... 62

    Tabel 4.6 Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Berdasarkan

    Gabungan antara Model Pembelajaran dan Kemampuan

    Awal Peserta Didik ............................................................... 62

    Tabel 4.7 Rangkuman Uji Normalitas ................................................... 64

  • xii

    Tabel 4.8 Rangkuman Uji Homogenitas ............................................... 65

    Tabel 4.9 Rangkuman Analisis Variansi ............................................... 66

    Tabel 4.10 Rangkuman Keputusan Uji Komparasi Ganda ................... 68

  • xiii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1. Hubungan Kelompok Asal dan Kelompok Ahli dalam

    Jigsaw .............................................................................. 21

    Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir Penelitian ................................ 30

  • xiv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Kooperatif

    Tipe Jigsaw ....................................................................... 82

    Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Langsung ..... 112

    Lampiran 3. Kisi-kisi Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Awal ...... 147

    Lampiran 4. Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Awal...................... 148

    Lampiran 5. Kisi-kisi Uji Coba Instrumen Tes Prestasi Belajar

    Matematika ....................................................................... 155

    Lampiran 6. Uji Coba Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika ...... 156

    Lampiran 7. Lembar Penelaahan Instrumen Kemampuan Awal dan

    Tes Prestasi Belajar Matematika ...................................... 163

    Lampiran 8. Uji Validitas dan Reliabilitas Tes Kemampuan

    Awal dan Tes Prestasi Belajar Matematika ................. 171

    Lampiran 9. Instrumen Tes Kemampuan Awal ..................................... 173

    Lampiran 10. Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika ................... 179

    Lampiran 11. Uji Keseimbangan .......................................................... 186

    Lampiran 12. Data Penelitian dan Deskripsi Data ................................ 189

    Lampiran 13. Uji Normalitas ................................................................ 198

    Lampiran 14. Uji Homogenitas ............................................................. 234

    Lampiran 15. Uji Anava dan Komparasi Ganda ................................... 237

    Daftar Tabel .......................................................................................... 247

    Ijin Penelitian (Surat Keterangan) ......................................................... 251

  • xv

    ABSTRAK

    Wiyana, S 850907125. 2008: Eksperimentasi Pembelajaran Bangun Ruang Sisi

    Lengkung dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ditinjau Dari

    Kemampuan Awal Peserta Didik Kelas IX SMP Negeri Kabupaten Klaten

    Tahun Pelajaran 2008/2009. Tesis, Surakarta: Program Studi Pendidikan

    Matematika, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta,

    2008.

    Tujuan penelitian ini adalah (1) peserta didik yang diberi pembelajaran

    matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

    mempunyai prestasi belajar lebih baik daripada peserta didik yang diberi

    pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran langsung. (2)

    peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi lebih baik prestasi belajarnya

    daripada peserta didik yang kemampuan awalnya sedang atau rendah, dan peserta

    didik yang kemampuan awalnya sedang lebih baik prestasi belajarnya daripada

    peserta didik yang kemampuan awalnya rendah. (3) peserta didik yang kemampuan

    awalnya sedang, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

    menghasilkan prestasi belajar lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran

    langsung. Di sisi lain, pada peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi atau

    rendah, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan

    prestasi belajar yang sama dengan menggunakan model pembelajaran langsung.

    Populasi penelitian adalah peserta didik SMP Negeri Kabupaten Klaten kelas

    IX semester I tahun pelajaran 2008/2009. Teknik pengambilan sampel penelitian

    adalah Cluster Random Sampling. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan

    data adalah tes kemampuan awal dan tes prestasi belajar matematika pada materi

    pokok bangun ruang sisi lengkung dalam bentuk pilihan ganda. Sebelum tes

    kemampuan awal dan tes prestasi belajar matematika digunakan terlebih dahulu

    dilakukan uji coba instrumen. Pada uji coba tes prestasi belajar matematika diuji

    tentang konsistensi, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya beda. Sedangkan uji

    coba instrumen tes kemampuan awal diuji tentang konsistensi dan reliabilitas. Hasil

    uji coba instrumen diperoleh nilai uji reliabilitas dengan metode KR-20 pada tes

    prestasi belajar matematika adalah 0,772 dan nilai uji reliabilitas pada tes

    kemampuan awal adalah 0,742. Pengujian hipotesis menggunakan Anava dua jalan

    dengan frekuensi sel tak sama, dengan taraf signifikan 5%. Sebelumnya dilakukan

    uji prasyarat yaitu: uji keseimbangan menggunakan uji rerata t, uji normalitas

    menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas menggunakan uji Bartlett. Hasil uji

    prasyarat adalah antara model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan model

    pembelajaran langsung adalah seimbang, sampel berasal dari populasi berdistribusi

    normal dan homogen.

    Hasil analisis Anava dua jalan menunjukkan: (1) Peserta didik yang

    menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan model

    pembelajaran langsung mempunyai prestasi belajar matematika yang berbeda secara

    signifikan (Fa = 22,549 dengan nilai Ftabel = 3,84); (2) Peserta didik dengan

    kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah mempunyai prestasi belajar matematika

    yang berbeda (Fb = 49,87 dengan nilai Ftabel = 3,00). Berdasarkan uji komparasi

  • xvi

    ganda perbedaan tersebut adalah prestasi belajar matematika antara peserta didik

    dengan kemampuan awal tinggi lebih baik daripada peserta didik dengan

    kemampuan awal sedang dan rendah (F.1-.2 = 31,226 dan F.1-.3 = 105,474 dengan

    Ftabel = 6,000), serta prestasi belajar matematika peserta didik dengan kemampuan

    awal sedang lebih baik daripada peserta didik dengan kemampuan awal rendah (F.2-.3

    = 19,193 dengan Ftabel = 6,000); (3) Prestasi belajar matematika pada masing-masing

    model pembelajaran untuk setiap tingkat kemampuan awal adalah berbeda (Fab =

    13,936 dengan nilai Ftabel = 3,00). Berdasarkan uji komparasi ganda perbedaan

    tersebut adalah pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw antara peserta didik

    yang berkemampuan awal tinggi, sedang dan rendah masing-masing mempunyai

    prestasi belajar matematika yang berbeda (F11-12 = 23,131; F11-13 = 121,485 dan F12-13

    = 32,917 dengan Ftabel = 11,05) dan pada model pembelajaran langsung hanya antara

    peserta didik yang berkemampuan awal tinggi dengan rendah yang mempunyai

    perbedaan prestasi belajar matematika (F21-22 = 8,345; F21-23 = 11,9647 dan F22-23 =

    0,271dengan Ftabel = 11,05). Peserta didik dengan kemampuan awal tinggi dan

    sedang mempunyai perbedaan prestasi belajar matematika antara model

    pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan model pembelajaran langsung, tetapi

    untuk kelompok kemampuan awal rendah antara model pembelajaran kooperatif tipe

    jigsaw dengan model pembelajaran langsung tidak terdapat perbedaan prestasi

    belajar (F11-21 = 34,680; F12-22 = 13,604 dan F13-23 = 2,108 dengan Ftabel = 11,05). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan :(1) Peserta didik yang

    menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mempunyai prestasi

    belajar matematika lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran langsung

    (.1X = 66,78; .2X = 60,53); (2) Peserta didik dengan kemampuan awal tinggi

    mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik daripada peserta didik dengan

    kemampuan awal sedang dan rendah, begitu juga peserta didik dengan kemampuan

    awal sedang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik daripada peserta

    didik dengan kemampuan awal rendah (1.X = 72,60; 2.X = 63,03; 3.X = 55,57); (3).

    Peserta didik yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan

    kemampuan awal tinggi mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik daripada

    peserta didik dengan kemampuan awal sedang dan rendah begitu juga peserta didik

    dengan kemampuan awal sedang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik

    daripada peserta didik dengan kemampuan awal rendah, sedangkan pada model

    pembelajaran langsung peserta didik dengan kemampuan awal tinggi mempunyai

    prestasi belajar matematika lebih baik daripada peserta didik dengan kemampuan

    awal rendah tetapi peserta didik dengan kemampuan awal tinggi dengan sedang dan

    kemampuan awal sedang dengan rendah mempunyai prestasi belajar matematika

    tidak berbeda. Peserta didik yang mempunyai kemampuan awal tinggi dan sedang

    yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memperoleh prestasi

    belajar matematika lebih baik daripada yang mendapatkan model pembelajaran

    langsung, sedangkan peserta didik yang mempunyai kemampuan awal rendah antara

    yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan model

    pembelajaran langsung memperoleh prestasi belajar matematika tidak berbeda (11X =

    79,46; 12X = 67,75; 13X = 53,95; 21X = 65,56; 22X = 58,59; 23X = 57,33).

  • ABSTRACT

    Wiyana, S 850907125. The Experimentation of Curved-Surface Space

    Figures with the Cooperative Learning of Jigsaw Type Viewed from the

    Initial Ability of the Students of State Junior Secondary Schools in Class IX

    in Klaten Regency in the Academic Year of 2008/2009. Thesis: Surakarta, The

    Graduate Program in Mathematics Education, Postgraduate, Sebelas Maret

    University, Surakarta, 2008.

    This research is aimed at finding out: (1) whether or not the students udents with

    the cooperative learning model of Jigsaw type have better achievement in

    Mathematics with the topic of Curved-Surface Figures than those taught with the

    direct learning model; (2) whether there is a difference of achievement in

    Mathematics with the topic of Curved-Surface Figures between the students

    with the high, moderate, and low initial abilities; and (3) whether the

    difference of achievement in Mathematics with the topic of Curved-Surface

    Figures of each learning model is consistent with the students' each level of

    initial abilities, and whether the difference of achievement in Mathematics with

    the topic of Curved-Surface Figures of each level of initial abilities is

    consistent with each learning model.

    This research is an experimental one with a factorial design of 2 x 3.

    Its population was all of the students of State Junior Secondary Schools in Grade

    IX in Semester I in Klaten regency in the academic year of 2008/2009. Its

    samples were taken through a Cluster Random Sampling technique. The

    instruments used to gather its data were test of initial ability and that of

    achievement in Mathematics with the topic of Curved-Surface Figures in

    multiple choice questions. Prior to their use, the instruments were tested. The

    former was tested in terms of consistency and reliability, and the latter

    was tested in terms of consistency, reliability, difficulty index, and

    difference index. The results of the test show that the reliability of the

    former tested with an Alpa method was 0.742, whereas the reliability of the

    latter tested with KR-20 was 0.772. The hypotheses of the research were tested

    with a two-way Analysis of VariantsTANOVA) with an unequal cell at the

    significance level of 5%. Beforehand, prerequisite tests were done. The tests

    included balance test by using t average test, normality test by using Liliefors

    test, and homogeneity test by using Bartlett test. The results of the

    pre-requisite test show that the learning achievement in Mathematics

    between the students with the cooperative learning model of Jigsaw type and

    those with the direct learning model was balanced; the samples had a

    normal population distribution; and the samples were from homogenous

    population.

    The results of analysis with the two-way ANOVA show the following: 1)

    The students with the cooperative learning model of Jigsaw type and those with

    the direct learning model have a significantly different learning achievement in

    Mathematics (Fa = 22.549 with the value of F

    table = 3.84). 2) The students with

  • the high, moderate, and low initial abilities have a significantly different

    achievement in Mathematics (Fb = 49.87 with the value of F

    tabl, = 3.00). Based

    on the multiple comparison test, the difference indicates that the students with

    the high initial ability have a better achievement in Mathematics than those with

    the moderate and low initial abilities

    xvii

  • (FI-2 = 31.226 and F1_3 = 105.474 with F

    table = 6.000), and the students with the

    moderate initial ability have a better achievement in Mathematics than those with the

    low initial abilit ies (F2-3 = 19.193 and F with

    Fmbl, = 6.000). 3) The learning

    achievement in Mathematics between the students at each level of the initial abilities

    for each type of the learning models is different (Fab = 13.936 with F table = 3.00).

    Based on the multiple comparison test, the difference implies that in the cooperative

    learning model of Jigsaw type, the students with the high, moderate, and low initial

    abilities have a different learning achievement in Mathematics (F11_12 = 23.131; F11-13

    = 121.485 and F12

    .13 = 32.917 with

    Ftable = 11.05), whereas in the direct learning

    model, only the students with the high and low initial abilities have a different

    learning achievement in Mathematics (F21-22 = 8.345;

    F21-23 = 11.9647 and

    F22-23 =

    0.271 with Ft,,bi, = 11.05). In the cooperative learning model of Jigsaw as well as in

    the direct learning model, the students with the high and moderate initial abilities

    have a different learning achievement in Mathematics, but those with the low initial

    ability do not have a different learning achievement in Mathematics (F11.21 = 34.680; F12-22 = 13.604 and

    F13-23 = 2.108 with Ftabl,= 11.05).

    Based on the results of the analysis, conclusions are drawn as follows: 1) The

    students with the cooperative learning model of Jigsaw type have a better learning

    achievement in Mathematics with the topic of Curved -Surface Figures than those

    with the direct learning model (XI = 66.78; X2 = 60.53). 2) The students with the

    high initial ability have a better achievement in Mathematics with the topic of

    Curved-Surface Figures than those with the moderate and low initial abilities, and the

    students with the moderate learning, ability have a better achievement in

    Mathematics

    with the topic of Curved-Surface Figures than those with the low initial ability (R I =

    72.60; 31

    2 = 63.03; and X3 = 55.57). 3) In the cooperative learning model of Jigsaw

    type, the students with the high initial learning ability have a better achievement than

    those with the moderate and low initial abilities, and the students with the moderate

    initial abilities have a better achievement than those with the low initial abili ty.

    Meanwhile, in the direct learning model, the students with the high initial ability

    have a better achievement than those with the low initial ability, and the learning

    achievement of the students with the high initial ability is not different from that of

    the students with the moderate initial ability, and the learning achievement of the

    students with the moderate initial ability is not different from that of the students

    with low initial ability. The students with the high and moderate initial abilities who

    used the cooperat ive learning model of J igsaw type have a better learning

    achievement in Mathematics than those with the high and moderate initial abilities

    who used the direct learning model, whereas the students with the low initial ability

    who used the cooperative learning model of Jigsaw type do not have a different

    learning achievement in Mathematics compared to those with the low initial abilities

    who used the direct learning model (X 11 = 79.46; X

    U = 67.75(~.3 ='153.95; X7.1

    65.56; X;~2 8.59; X2_3 = 57.33).

    xviii

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pendidikan bagi manusia merupakan suatu hal yang sangat penting dan

    perlu dilaksanakan, sebab dengan proses pendidikan ini manusia akan dapat

    mengembangkan semua potensi yang dimiliki hingga akhirnya tercapai tingkat

    dewasa. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang secara formal dan

    sistematis mempunyai kurikulum atau program pendidikan untuk mengubah

    peserta didik atau anak didiknya menjadi seorang yang mandiri dan dewasa sesuai

    dengan target pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan. Dengan posisi

    yang demikian itu, sekolah merupakan sebuah tempat sekaligus sistem pendidikan

    yang sedikit atau banyak berperan dalam proses pembentukan individu menjadi

    seorang yang mandiri dan dewasa sesuai dengan target pembelajaran yang telah

    ditetapkan.

    Dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional di Indonesia telah

    ditetapkan dan dituangkan secara kongkret dalam Undang-Undang No. 20 tahun

    2003 yang berbunyi: ”Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan

    kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

    dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya

    potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

    Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi

    warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

  • 2

    Dalam pendidikan sekolah, untuk mengetahui keberhasilan proses

    belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik.

    Keberhasilan proses belajar mengajar tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor,

    yang dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor

    eksternal. Yang termasuk dalam faktor internal antara lain: intelegensi, minat,

    bakat, motivasi, aktivitas belajar dan sebagainya, sedangkan yang termasuk dalam

    faktor eksternal misalnya: guru, bahan pelajaran, fasilitas belajar, metode

    mengajar dan sebagainya.

    Setiap jenjang pendidikan pada jalur sekolah dapat berperan serta dalam

    menyiapkan SDM, mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi.

    Dalam pembelajaran matematika, tugas seorang guru adalah menciptakan kondisi

    pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar peserta didik,

    sehingga peserta didik mempunyai ketrampilan, keberanian serta mempunyai

    kemampuan dalam penguasaan matematika. Penekanan pembelajaran matematika

    di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari, supaya pelajaran

    matematika yang diperoleh akan bermanfaat. Dengan demikian matematika akan

    mempunyai peran yang penting bagi peserta didik untuk mengaplikasikannya

    dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya hal ini akan berdampak dalam

    menciptakan sumber daya manusia yang bermutu.

    Matematika adalah salah satu materi pelajaran yang diajarkan mulai dari

    jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Matematika merupakan ilmu

    dasar yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi.

    Di pihak lain, matematika selama ini dianggap momok oleh sebagian peserta

  • 3

    didik, bahkan ada peserta didik yang merasa takut, bosan dan tidak tertarik pada

    mata pelajaran matematika, karenanya prestasi belajar matematika masih jauh dari

    yang diharapkan. Prestasi belajar matematika peserta didik yang masih rendah

    nampak pada persentase peserta didik yang dinyatakan tidak lulus dalam ujian

    akhir nasional setiap tahunnya. Misalnya saja pada peserta didik SMP yang ada di

    kabupaten Klaten. Seperti yang dikemukakan oleh Mulyadi (2008), bahwa

    persentase yang tidak lulus peserta didik SMP kabupaten Klaten pada tahun

    pelajaran 2006/2007 sebesar 3,32% dan pada tahun pelajaran 2007/2008 sebesar

    4,13%. Hal ini nampak bahwa terjadi kenaikan persentase peserta didik SMP yang

    tidak lulus di kabupaten Klaten. Artinya semakin banyak peserta didik yang

    dinyatakan tidak lulus setiap tahun.

    Menyadari pentingnya peranan matematika, baik dalam makna formal

    yaitu penalaran dan pembentukan sikap pribadi peserta didik maupun dalam

    makna material yaitu penguasaan, penerapan dan ketrampilan matematika, maka

    sudah seharusnyalah proses pembelajaran matematika dan peningkatan prestasi

    belajar matematika di setiap jenjang pendidikan perlu mendapat perhatian serius.

    Oleh karena itu guru sebagai pendidik perlu mempersiapkan suatu model

    pembelajaran yang terprogram agar peserta didik sebagai peserta didik

    memperoleh pengalaman belajar yang lebih mantap.

    Dalam pembelajaran matematika, selama ini model pembelajaran yang

    banyak digunakan oleh guru adalah model pembelajaran langsung. Hal ini

    dilakukan karena sifat materi matematika itu sendiri, yaitu terstruktur. Artinya

    dalam mempelajari konsep yang mendasarkan pengetahuan yang telah dimiliki

  • 4

    peserta didik. Agar pembelajaran dengan situasi peserta didik belajar ini dapat

    tercapai, hendaknya guru dapat menggunakan model pembelajaran yang lebih

    banyak melibatkan peserta didik. Sebagaimana diungkapkan oleh Soedjadi (1995:

    12), betapapun tepat dan baiknya bahan ajar matematika yang ditetapkan belum

    menjamin akan tercapainya tujuan pendidikan, dan salah satu faktor penting untuk

    mencapai tujuan tersebut adalah proses mengajar yang lebih menekankan pada

    keterlibatan peserta didik secara optimal.

    Salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk meningkatkan prestasi

    belajar peserta didik adalah melalui kreativitas yang dimiliki guru dalam memilih

    model pembelajaran. Melalui kreativitas yang dimiliki oleh para guru, dan dengan

    keinginan untuk selalu mencari model pembelajaran yang terbaik agar selalu

    menarik minat dan motivasi peserta didik belajar, maka tujuan yang diharapkan

    akan tercapai. Seperti yang dikemukakan oleh Cece Wijaya dan A. Tabrani

    Rusyan (1994: 189), bahwa guru kreatif selalu mencari cara bagaimana agar

    proses belajar mencapai hasil sesuai dengan tujuan serta berupaya menyesuaikan

    pola-pola tingkah lakunya dalam mengajar dengan tuntutan pencapaian tujuan

    dengan mengembangkan faktor situasi kondisi belajar peserta didik. Kreativitas

    yang demikian memungkinkan guru yang bersangkutan menemukan bentuk-

    bentuk mengajar yang sesuai, terutama dalam memberi bimbingan, rangsangan,

    dorongan, dan arahan agar peserta didik dapat belajar secara aktif.

    Model pembelajaran yang dapat menarik minat peserta didik dalam

    belajar adalah dengan menempatkan peserta didik secara kelompok-kelompok.

    Pembelajaran kelompok dapat meningkatkan peserta didik dalam berpikir kritis,

  • 5

    kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Pembelajaran yang dapat

    mewujudkan hal tersebut adalah pembelajaran kooperatif.

    Pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) adalah model

    pembelajaran di mana peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang

    campur kemampuannya dan saling membantu satu sama lain (Mohamad Nur dan

    Prima Wikandari, 2000: 25). Dalam menyelesaikan tugasnya, setiap anggota

    kelompok saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan

    pelajaran. Dalam hal ini belajar dianggap belum selesai apabila seorang anggota

    dari kelompok belajar itu belum menguasai bahan pelajaran. Terdapat beberapa

    tipe pembelajaran kooperatif, salah satu di antaranya model pembelajaran

    kooperatif tipe jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe

    pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok

    yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu

    mengajarkan bagian materi tersebut kepada anggota lainnya dalam kelompok itu.

    Menurut Anita Lie (1994: 75), jigsaw adalah merupakan salah satu tipe model

    pembelajaran kooperatif yang fleksibel.

    Penggunaan model pembelajaran kooperatrif tipe jigsaw dalam proses

    pembelajaran pada materi pokok tertentu diduga lebih efektif dan efisien daripada

    menggunakan model pembelajaran langsung. Hal ini disebabkan model

    pembelajaran tipe jigsaw berdasarkan filsafat konstruktivisme, sehingga peserta

    didik sendiri yang membangun pengetahuannya. Peserta didik diberi kemampuan

    agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan guru

    sebagai fasilitator membimbing peserta didik ke tingkat pengetahuan yang lebih

  • 6

    tinggi. Dengan demikian diharapkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe

    jigsaw, pembelajaran lebih bermakna sehingga lebih meningkatkan pemahaman

    peserta didik.

    Selain model pembelajaran, masih banyak faktor lain yang

    mempengaruhi prestasi belajar matematika peserta didik. Salah satunya adalah

    kemampuan awal peserta didik. Kemampuan awal yang dimaksud adalah

    kemampuan-kemampuan yang seharusnya sudah dikuasai oleh para peserta didik

    sebelum proses pembelajaran pada materi pokok tertentu dimulai. Dengan

    diperhatikannya kemampuan awal peserta didik, pembelajaran akan mampu

    memanfaatkan kemampuan awal tersebut sebagai potensi yang harus

    didayagunakan dalam proses pembelajaran. Dengan pemanfaatan potensi yang

    ada, diharapkan prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal.

    Kemampuan awal merupakan hal yang sangat penting dalam setiap

    proses pembelajaran karena seseorang yang telah memiliki kemampuan awal yang

    memadai berarti memiliki modal yang cukup untuk dapat digunakan dalam

    mempelajari materi pokok tertentu. Kemampuan awal yang telah dimiliki dapat

    dikaitkan dengan materi pokok baru yang akan dipelajari.

    Berdasarkan latar belakang seperti diutarakan di atas, maka perlu

    diadakan penelitian yang berkaitan dengan penggunaan model pembelajaran yang

    sesuai dengan materi pokok tertentu. Di samping itu, dalam pembelajaran perlu

    memperhatikan faktor kemampuan awal peserta didik.

  • 7

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

    dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

    1. Sebagian besar guru dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model

    pembelajaran satu arah yaitu guru aktif sedangkan peserta didik pasif, padahal

    ada beberapa topik bahasan dimana model tersebut kurang tepat untuk

    diterapkan sehingga dimungkinkan rendahnya prestasi belajar matematika

    peserta didik disebabkan karena kurang tepatnya pemilihan model

    pembelajaran yang sesuai dengan topik bahasan tertentu. Oleh karena itu akan

    diteliti apakah penggunaan model pembelajaran berpengaruh dalam

    peningkatan prestasi belajar matematika peserta didik.

    2. Pada umumnya prestasi belajar matematika peserta didik masih rendah. Hal

    ini dimungkinkan karena belum optimalnya pemanfaatan kondisi internal

    peserta didik khususnya kemampuan awal peserta didik untuk mempelajari

    materi berikutnya. Untuk itu akan diteliti apakah kemampuan awal peserta

    didik dapat meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik.

    3. Banyak peserta didik dalam belajar matematika kurang aktif dalam mengikuti

    proses pembelajaran dan hanya mengorganisir sendiri apa yang diperolehnya

    tanpa mengkomunikasikan dengan peserta didik lain sehingga dimungkinkan

    rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik disebabkan karena

    kurangnya pemahaman terhadap topik bahasan yang dipelajarinya.

    4. Kurangnya kebermaknaan dalam belajar matematika dimungkinkan

    disebabkan karena kurangnya kemampuan peserta didik dalam membentuk

  • 8

    hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan aplikasi atau penerapan

    pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

    C. Pembatasan Masalah

    Dari identifikasi masalah di depan, agar penelitian ini terarah dan lebih

    mendalam maka diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut:

    1. Model pembelajaran yang digunakan dibatasi pada model pembelajaran

    kooperatif tipe Jigsaw pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran

    langsung pada kelompok kontrol.

    2. Prestasi belajar matematika peserta didik pada penelitian ini dibatasi pada

    hasil belajar matematika peserta didik yang dicapai melalui proses

    pembelajaran bangun ruang sisi lengkung, dalam hal ini adalah tes pada

    materi pokok bangun ruang sisi lengkung (tabung, kerucut dan bola).

    3. Kemampuan awal peserta didik pada penelitian ini dibatasi pada hasil belajar

    peserta didik yang dicapai melalui tes pada materi pokok lingkaran dan

    bangun ruang sisi tegak (kubus, balok, prisma tegak, dan limas).

    4. Lingkup penelitian ini pada peserta didik kelas IX SMP Negeri Kabupaten

    Klaten Tahun Pelajaran 2008/2009.

    D. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah yang telah

    diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai

    berikut:

  • 9

    1. Apakah peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan

    menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mempunyai prestasi

    belajar yang lebih baik daripada peserta didik yang diberi pembelajaran

    matematika dengan menggunakan model pembelajaran langsung pada materi

    pokok bangun ruang sisi lengkung?

    2. Apakah peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi lebih baik prestasi

    belajarnya daripada peserta didik yang kemampuan awalnya sedang atau

    rendah, dan peserta didik yang kemampuan awalnya sedang lebih baik prestasi

    belajarnya daripada peserta didik yang kemampuan awalnya rendah pada

    materi pokok bangun ruang sisi lengkung?

    3. Apakah peserta didik yang kemampuan awalnya sedang, penggunaan model

    pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan prestasi belajar lebih baik

    daripada menggunakan model pembelajaran langsung dalam pembelajaran

    matematika pada materi pokok bangun ruang sisi lengkung. Di sisi lain, pada

    peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi atau rendah, apakah

    penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan prestasi

    belajar yang sama dengan menggunakan model pembelajaran langsung?

    E. Tujuan Penelitian

    Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka

    penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

    1. Peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan

    model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mempunyai prestasi belajar yang

  • 10

    lebih baik daripada peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan

    menggunakan model pembelajaran langsung pada materi pokok bangun ruang

    sisi lengkung.

    2. Peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi lebih baik prestasi belajarnya

    daripada peserta didik yang kemampuan awalnya sedang atau rendah, dan

    peserta didik yang kemampuan awalnya sedang lebih baik prestasi belajarnya

    daripada peserta didik yang kemampuan awalnya rendah pada materi pokok

    bangun ruang sisi lengkung.

    3. Peserta didik yang kemampuan awalnya sedang, penggunaan model

    pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan prestasi belajar lebih baik

    daripada menggunakan model pembelajaran langsung dalam pembelajaran

    matematika pada materi pokok bangun ruang sisi lengkung. Di sisi lain, pada

    peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi atau rendah, penggunaan

    model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan prestasi belajar yang

    sama dengan menggunakan model pembelajaran langsung.

    F. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru

    matematika dan peserta didik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam

    pembelajaran bangun ruang sisi lengkung dan bermanfaat :

    1. Bagi Guru

    a. Menambah wawasan dalam rangka perubahan paradigma pembelajaran

    dari paradigma mengajar ke paradigma belajar.

  • 11

    b. Sebagai alternatif pemilihan model pembelajaran yang berorientasi

    pada keterlibatan peserta didik menjadi lebih kreatif dan aktif mengolah

    informasi, sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik.

    c. Sebagai bahan pertimbangan, referensi, dan bahan masukan pada materi

    pelajaran yang lain atau pada studi kasus yang sejenis.

    d. Menambah pengetahuan tentang model pembelajaran kooperatif tipe

    Jigsaw.

    e. Bahan acuan untuk penelitian model pembelajaran kooperatif tipe

    Jigsaw lebih lanjut.

    2. Bagi Peserta Didik

    a. Lebih termotivasi dalam belajar bangun ruang sisi lengkung.

    b. Melatih kemandirian dalam belajar bangun ruang sisi lengkung.

    c. Mengembangkan sikap peserta didik dalam memecahkan masalah pada

    bangun ruang sisi lengkung.

    d. Meningkatkan prestasi belajar bangun ruang sisi lengkung.

  • 12

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Kajian Teori

    1. Prestasi Belajar Matematika

    Sebelum menguraikan arti prestasi belajar matematika maka penulis

    akan memaparkan arti penggal kata yang menyusunnya yaitu prestasi, belajar dan

    matematika.

    a. Pengertian Prestasi

    Setiap kegiatan belajar mengajar akan menghasilkan suatu perubahan

    yang khas yaitu hasil belajar. Hasil belajar ini akan terlihat dalam bentuk

    prestasi belajar. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah

    dilakukan, dikerjakan dan sebagainya. Prestasi adalah hasil yang dicapai

    melalui suatu latihan (Sumadi Suryabrata, 1990: 25).

    Menurut Robert S., Donald dan G. Marguis yang dikutip oleh Nur Hery

    Susianta menyatakan “Achievement is actual ability and measured directly by

    the use of test” yang artinya prestasi belajar adalah kecakapan nyata yang

    dapat diukur secara langsung dengan menggunakan alat yaitu tes (Nur Hery

    Susianta, 1996: 27).

    b. Pengertian Belajar

    Belajar adalah suatu kegiatan yang selalu dilakukan manusia sepanjang

    hidupnya. Manusia belajar karena menginginkan sesuatu perubahan pada

    dirinya. Perubahan itu berupa tingkah laku yang dapat meningkatkan

  • 13

    kecakapan, menambah pengetahuan dan ketrampilan baru serta kualitas

    hidupnya dapat meningkat.

    Belajar adalah proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah

    mampu, yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi itu

    harus secara relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada

    perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku

    yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang

    perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena

    pengalaman (Irwanto, 1997: 105).

    Belajar adalah merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan,

    dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,

    mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik,

    kalau si subjek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat

    verbalistik (Sardiman, 2006: 22).

    Belajar merupakan suatu proses untuk mengembangkan potensi diri

    seseorang. Proses belajar diperlukan untuk dapat mengembangkan

    kemampuan seseorang secara optimal.

    Sumadi Suryabrata (1990: 249) mengatakan bahwa belajar itu sebagai

    berikut:

    1) Belajar itu membawa perubahan.

    2) Perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.

    3) Perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja.

  • 14

    Proses belajar itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami

    belajar. Ciri belajar, adalah sebagai berikut:

    1) Dalam belajar itu perubahan tingkah laku, baik tingkah laku yang dapat

    dialami maupun tingkah laku yang tidak dapat dialami secara langsung.

    2) Dalam belajar, perubahan tingkah laku dapat mengarah ke tingkah laku

    yang jelek.

    3) Dalam belajar, perubahan terjadi karena mukjizat, hipnotis, hal-hal yang

    ghoib, proses pertumbuhan, kematangan, penyakit ataupun kerusakan

    tidak dianggap sebagai hasil belajar.

    4) Dalam belajar, perubahan tingkah laku menjadi sesuatu yang relatif

    menetap. Bila seseorang dengan belajar menjadi dapat membaca, maka

    kemampuan tersebut akan tetap dimiliki.

    5) Belajar merupakan suatu proses usaha yang artinya berlangsung dalam

    kurun waktu cukup lama. Hasil belajar yang berupa tingkah laku kadang-

    kadang diamati, tetapi proses belajar itu tidak dapat diamati secara

    langsung.

    6) Belajar terjadi karena ada interaksi dengan lingkungan.

    Dari pendapat para pakar pendidikan di atas dapat disimpulkan bahwa

    belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang secara terus

    menerus dan perubahan-perubahan itu bersifat tetap, serta terjadi secara sadar

    berdasarkan pengalaman-pengalaman atau latihan-latihan untuk menguasai

    pengetahuan dan ketrampilan tertentu.

  • 15

    c. Pengertian Matematika

    Simbolisasi dalam matematika menjamin adanya komunikasi dan

    mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep

    baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya

    sehingga matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara hierarkis (Herman

    Hudoyo, 1988: 3).

    Matematika adalah sebagai sarana berpikir deduktif yang hemat akan

    kata-kata dan cermat dalam menentukan sesuatu dalam derajat kepastian yang

    tinggi. Tanpa matematika, pengetahuan akan berhenti pada tahap kuantitatif

    yang tidak memungkinkan untuk meningkatkan penalarannya lebih jauh

    (Herman J. Waluyo, 2007: 36).

    Matematika dapat digambarkan sebagai kumpulan sistem yang tiap-tiap

    sistem mempunyai struktur atau urutan, interrelasi dari pengetahuan atau

    operasi-operasi tersendiri yang tersusun secara deduktif. Matematika

    berkenaan dengan pikiran terstruktur yang relasi operasinya maupun

    hubungan-hubungannya diatur secara logis. Hal ini berarti matematika bersifat

    abstrak yang berkenaan dengan konsep, prinsip, dan penalarannya.

    Matematika adalah sistem deduktif yang dimulai dari memilih beberapa unsur

    yang tidak didefinisikan (undefined), kemudian ke unsur yang didefinisikan

    dan akhirnya ke dalil atau teorema yang dapat dibuktikan melalui unsur-unsur

    tak definisikan tersebut (Soehardjo, 1992: 12).

  • 16

    Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika

    berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara

    hierarkis dan penalarannya deduktif.

    d. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

    Dari pengertian ketiga kata tersebut yaitu prestasi, belajar dan

    matematika dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah suatu

    hasil dari perbuatan belajar matematika yang merupakan suatu kecakapan atau

    kemampuan anak untuk menguasai sejumlah pengetahuan dan ketrampilan

    dalam bidang kajian matematika yang dapat diperoleh melalui tes matematika,

    hasil tes ini dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf.

    e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

    Tinggi rendahnya prestasi belajar peserta didik merupakan cerminan

    kualitas pembelajaran yang telah mereka ikuti. Makin tinggi prestasi

    belajar peserta didik menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran makin baik

    pula. Dalam pembelajaran yang berkualitas terjadi proses belajar yang efektif

    pada diri peserta didik. Seorang peserta didik yang belajar secara efektif akan

    memiliki prestasi belajar yang baik. Jadi prestasi belajar seseorang sangat

    tergantung pada tingkat keefektifan proses belajar yang telah berlangsung

    pada dirinya.

    Newell (1989: 126) mengutif Ausabel menyatakan bahwa faktor penting

    yang mempengaruhi belajar seseorang adalah apa yang telah ia ketahui. Hasil-

    hasil belajar yang telah dikuasai akan sangat berguna dalam membantu

    keberhasilan proses belajar berikutnya. Dick & Carey (1990: 85) menyatakan

  • 17

    bahwa pengetahuan yang telah dikuasai seseorang sebelum proses

    pembelajarang berlangsung disebut kemampuan awal (entry behavior).

    Dikaitkan dengan matematika yang memiliki struktur hierarkis yakni

    kemampuan yang satu menjadi prasyarat kemampuan yang lain, maka setiap

    penguasaan materi akan merupakan kemampuan awal bagi peserta didik.

    Karena merupakan kemampuan prasarat, kemampuan awal yang sudah

    dimiliki akan mempunyai pengaruh bagi keberhasilan dalam mempelajari

    materi berikutnya.

    Faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar adalah faktor

    keefektifan pembelajaran (Aiken, 1997: 109). Keefektifan pembelajaran akan

    ditentukan oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Apabila

    model pembelajaran yang dipilih tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran,

    maka pembelajaran akan menjadi efektif sehingga prestasi belajar peserta

    didik diharapkan optimal.

    Dari uraian di atas, di antara faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

    prestasi belajar, faktor kemampuan awal yang dimiliki peserta didik dan faktor

    model pembelajaran akan menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar

    peserta didik. Makin tepat pilihan model pembelajaran yang dipergunakan

    akan memberikan pengaruh yang makin baik terhadap capaian prestasi belajar

    peserta didik, demikian juga sebaliknya. Penggunaan model pembelajaran

    yang tepat tersebut perlu juga memperhatikan pemanfaatan kemampuan awal

    yang telah dimiliki oleh peserta didik.

  • 18

    2. Model Pembelajaran Langsung

    Pembelajaran langsung (Direct Instruction) adalah model pembelajaran

    yang berpusat pada guru. Pembelajaran langsung merupakan suatu pendekatan

    mengajar yang dapat membantu peserta didik mempelajari ketrampilan dasar dan

    memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.

    Pembelajaran langsung bukan merupakan barang baru bagi para guru.

    Pembelajaran yang selama ini sering dilakukan oleh guru pada umumnya adalah

    pembelajaran langsung. Pembelajaran langsung sampai saat ini masih tetap sering

    digunakan meskipun ada model pembelajaran yang baru seperti model

    pembelajaran kooperatif, pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah

    dan strategi-strategi belajar. Dalam pembelajaran matematika, selama ini guru

    sering menggunakan pembelajaran langsung. Hal ini dilakukan karena sifat materi

    matematika itu sendiri, yaitu terstruktur. Artinya dalam mempelajari konsep yang

    mendasarkan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Selain itu model

    pembelajaran langsung tepat digunakan apabila informasi atau keterampilan yang

    akan diajarkan terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan selangkah demi

    selangkah (Soeparman Kardi dan Mohamad Nur, 2001: 7).

    Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang

    sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pengajaran langsung mensyaratkan

    tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama, demonstrasi dan

    jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara seksama.

    Meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru

    dan peserta didik, model ini terutama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan

  • 19

    pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan

    peserta didik, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan dan resitasi (tanya

    jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter,

    dingin, dan tanpa humor. Ini berarti bahwa lingkungan belajar berorientasi pada

    tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.

    Tabel 2.1.

    Sintaks Model Pembelajaran Langsung

    FASE PERANAN GURU

    1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik.

    Guru menjelaskan topik materi bangun ruang

    sisi lengkung, informasi latar belakang

    pelajaran, pentingnya pelajaran dan

    mempersiapkan peserta didik untuk belajar.

    2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau ketrampilan.

    Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan

    benar, atau menyajikan informasi tahap demi

    tahap.

    3. Membimbing pelatihan.

    Guru merencanakan dan memberi bimbingan

    pelatihan awal.

    4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.

    Guru mengecek apakah peserta didik telah

    berhasil melakukan tugas dengan baik, dan

    memberi umpan balik.

    5. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan penerapan.

    Guru mempersiapkan kesempatan melakukan

    pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus

    pada penerapan kepada situasi lebih kompleks

    dan kehidupan sehari-hari.

    Keungggulan model pembelajaran langsung:

    a. Memperoleh informasi dan keterampilan-keterampilan dasar, sebelum peserta

    didik mempelajari informasi dan keterampilan lanjut.

    b. Mengembangkan penguasaan keterampilan sederhana dan kompleks serta

    pengetahuan deklaratif yang dapat dirumuskan dengan jelas dan diajarkan

    tahap demi tahap.

  • 20

    c. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih.

    d. Peserta didik menguasai keterampilan yang dilatihkan.

    3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

    Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah model pembelajaran

    kooperatif dimana peserta didik ditempatkan ke dalam tim beranggota enam orang

    untuk mempelajari materi akademik yang telah dipecah menjadi bagian-bagian

    untuk tiap anggota. Setiap anggota tim membaca sub-bab yang ditugaskan.

    Kemudian, anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari sub-bab yang

    sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan sub-bab

    mereka. Kemudian para peserta didik itu kembali ke tim asal mereka dan

    bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub-bab mereka. Karena satu-

    satunya cara peserta didik dapat belajar sub-bab lain selain dari sub-bab yang

    mereka pelajari adalah dengan mendengarkan dengan sungguh-sungguh teman

    satu tim mereka, mereka termotivasi untuk mendukung dan menunjukkan minat

    terhadap apa yang dipelajari teman satu timnya (Muhamad Nur dan Prima Retno

    Wikandari, 2001: 29).

    Dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini, peserta didik belajar

    dalam kelompok yang heterogen dan beranggotakan 4 sampai 6 orang, yang

    disebut kelompok asal. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas

    penguasaan bagian dari materi belajar yang ditugaskan kepadanya, kemudian

    mengajarkan bagian tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Masing-masing

    anggota kelompok yang mendapat tugas penguasaan bagian materi itu disebut

  • 21

    ahli. Keahlian tersebut dapat diperoleh dari menawarkan bagian materi kepada

    anggota kelompok menurut kemampuan mereka, atau ditunjuk oleh guru sesuai

    dengan kemampuan mereka. Anggota dari kelompok yang berbeda dengan materi

    yang sama (ahli) bertemu untuk berdiskusi antar ahli. Mereka dapat saling

    membantu satu sama lain tentang topik yang ditugaskan, serta mendiskusikannya.

    Setelah itu peserta didik pada kelompok ahli kembali pada kelompok masing-

    masing untuk menjelaskan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lainnya

    tentang apa yang dibahas atau dipelajari dalam kelompok ahli ( Muslimin Ibrahim

    dkk, 2001: 21-22).

    Hubungan yang terjadi antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan:

    1. Kelompok

    Asal

    2.

    Kelompok

    Ahli

    3.

    Kelompok

    Asal

    Gambar 2.1. Hubungan kelompok asal dan kelompok ahli dalam jigsaw

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    3 3 3

    3 3

    1 1 1

    1 1

    2 2 2

    2 2

    4 4 4

    4 4 5 5 5

    5 5

    6 6 6

    6 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

    1 2 3

    4 5 6

  • 22

    Pada bagan pertama menunjukkan bahwa ada lima kelompok pangkalan

    dan setiap kelompok masing-masing membawa hal yang harus diselesaikan,

    kemudian masing-masing mengelompokkan diri sesuai dengan masalahnya

    (seperti bagan kedua). Masalah tersebut didiskusikan dalam kelompok. Setelah

    mereka menemukan jawaban kemudian mereka bergabung seperti pada kelompok

    pertama yaitu pada gambar ketiga. Kemudian setiap kelompok masing-masing

    mengemukakan masalah dan hasil penyelesaiannya. Dengan demikian setiap

    orang memperoleh informasi yang sama dari berbagai masalah yang dipecahkan.

    Ilustrasi ini menunjukkan cara kelompok-kelompok dimanipulasi dengan

    menggunakan strategi jigsaw. Peserta didik–peserta didik adalah anggota

    kelompok-kelompok pangkalan dan lalu mereka meneliti aspek tertentu dari topik

    di dalam kelompok-kelompok pakar. Pada waktu tugas penelitian sudah selesai,

    mereka kembali ke kelompok pangkalan asal mereka.

    Cara lain untuk mengetahui pengetahuan awal peserta didik dari

    serangkaian kegiatan bisa dilakukan melalui curah pendapat (brain storming).

    Kegiatan ini perlu dikendalikan oleh guru, tetapi guru tidak boleh membatasi atau

    mengarahkan alur gagasan-gagasan peserta didik.

    Dalam sidang curah pendapat (brain storming), guru meminta kepada

    peserta didik untuk mengungkapkan gagasannya, dan semua gagasan itu ditulis di

    papan tulis. Guru mengkondisikan agar semua peserta didik mengungkapkan

    gagasannya dan guru tidak menunjukkan sikap seolah-olah jawaban tertentu lebih

    berharga dan lebih tepat. Pada tahap-tahap permulaan, semua sumbangan diterima

  • 23

    dan tidak ada diskusi mengenai hal-hal itu. Begitu daftar sudah selesai, guru

    memperkenankan diskusi.

    Pada penelitian ini, dikarenakan bangun ruang sisi lengkung terdiri dari

    tiga sub topik materi yaitu tabung, kerucut dan bola. Supaya sesuai dengan

    definisi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, peserta didik belajar bersama dalam

    kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang peserta didik dengan

    tingkat kemampuan yang berbeda. Setiap peserta didik bertanggung jawab atas

    penguasaan materi yang ditugaskan kepadanya. Selanjutnya masing-masing

    kelompok ahli dengan materi yang sama bertemu untuk berdiskusi dan

    mengerjakan latihan soal-soal yang diberikan. Setelah waktu yang diberikan

    selesai, masing-masing peserta didik dalam kelompok ahli kembali lagi ke

    kelompok asal untuk menjelaskan materi yang menjadi bagiannya pada peserta

    didik lain dengan materi yang berbeda. Peserta didik yang mendapat bagian

    materi tabung menjelaskan pada peserta didik lain yang mendapat bagian materi

    kerucut maupun bola. Demikian seterusnya hingga peserta didik dalam kelompok

    asal sudah paham materi pada pertemuan hari itu. Sebisa mungkin peserta didik

    berdiskusi dahulu dengan temannya dalam satu kelompok, jika menemui kesulitan

    baru bertanya pada guru. Karena peran guru di sini masih diperlukan, baik sebagai

    motivator maupun fasilitator. Sehingga hal ini dapat meminimalkan kelas yang

    ramai atau gaduh, karena guru dapat terus memantau jalannya diskusi masing-

    masing kelompok, baik dalam diskusi kelompok asal maupun diskusi kelompok

    ahli sehingga pembelajaran tetap efektif dan optimal.

  • 24

    Adapun rencana pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diatur

    secara instruksional sebagai berikut:

    a. Membaca.

    Peserta didik mendapat topik-topik ahli, kemudian membaca dan

    mempelajari materi tersebut untuk mendapatkan informasi.

    b. Diskusi Kelompok Ahli.

    Peserta didik dengan topik ahli yang sama bertemu dalam kelompok ahli

    untuk mendiskusikan topik tersebut.

    c. Laporan Kelompok.

    Masing-masing ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan topik

    pada kelompoknya.

    d. Kuis atau tes.

    Jika peserta didik berhasil menerapkan setiap keterampilan kooperatif

    dengan baik, maka akan diperoleh keuntungan dalam pembelajaran kooperatif.

    Keuntungan tersebut adalah :

    a. Peserta didik bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi

    norma kelompok atau tim.

    b. Peserta didik aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama

    berhasil.

    c. Peserta didik aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan

    keberhasilan kelompok atau tim.

    d. Interaksi antar peserta didik membantu meningkatkan perkembangan kognitif.

  • 25

    e. Interaksi antar peserta didik seiring dengan peningkatan kemampuan mereka

    dalam berpendapat.

    4. Kemampuan Awal Peserta Didik

    Kemampuan awal adalah kemampuan-kemampuan yang sudah dikuasai

    sebelum proses pembelajaran pokok bahasan tertentu dimulai. Dalam materi

    pelajaran yang struktur perilakunya berbentuk hierarki, kemampuan awal

    merupakan kemampuan-kemampuan prasyarat yang diperlukan untuk dapat

    belajar kemampuan-kemampuan berikutnya (Dick dan Carey, 1990: 85).

    Driscoll (1994: 143-144) mengutip pendapat Ausubel menyatakan

    bahwa dengan mengaktifkan kemampuan awal (prior knowledge) yang relevan

    merupakan hal yang sangat penting untuk menghasilkan belajar yang bermakna.

    Dengan dimilikinya kemampuan awal yang relevan akan merupakan penyediaan

    landasan atau dasar-dasar dalam belajar hal-hal baru.

    Kemampuan pengetahuan awal (prior knowledge) adalah kumpulan dari

    pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup

    mereka, dan apa yang ia bawa kepada suatu pengalaman belajar baru.

    Kemampuan pengetahuan awal berperan penting dalam proses belajar dan apa

    yang telah diketahui individu sedikit banyak mempengaruhi apa yang mereka

    pelajari (Muhamad Nur, 2000: 10-11).

    Menurut teori konstruktivis belajar adalah proses asimilasi dan

    akomodasi yang menghubungkan pengalaman (kemampuan awal) yang telah

    dikuasai peserta didik dengan pengetahuan yang sedang dipelajari, sehingga

  • 26

    pengetahuan itu dapat dikembangkan. Bagi peserta didik yang memiliki tingkat

    kemampuan awal tinggi, keaktifan mereka dalam belajar akan tetap tinggi

    sehingga akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian prestasi

    belajarnya.

    B. Penelitian Yang Relevan

    1. Ira Kurniawati (2003: 92) dalam penelitiannya yang berjudul “ Pengaruh

    Metode Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar

    Matematika Ditinjau Dari Aktivitas Belajar Siswa Kelas II SLTP Negeri 15

    Surakarta “. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa metode pembelajaran

    kooperatif jigsaw efektif untuk proses pembelajaran pada pokok bahasan

    jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium. Dan berdasarkan

    hasil analisis menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa yang mengikuti

    pelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif jigsaw lebih baik dari

    siswa yang mengikuti pembelajaran matematika secara konvensional.

    2. Chusnul Ainy (2000) dalam penelitiannya yang berjudul “ Model

    Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dalam Pengajaran Matematika Sekolah

    Dasar “. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran kooperatif

    jigsaw efektif untuk proses pembelajaran pada pokok bahasan luas dan

    keliling di kelas V Sekolah Dasar. Dan berdasarkan hasil analisis

    menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran

    kooperatif jigsaw lebih baik daripada prestasi belajar siswa dengan model

    pembelajaran tradisional.

  • 27

    Persamaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dengan

    penelitian yang telah disebutkan di atas adalah : penelitian yang akan dilakukan

    oleh peneliti dan penelitian yang telah disebutkan di atas menitik beratkan pada

    penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap prestasi belajar

    matematika peserta didik.

    Sedangkan perbedaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti

    dengan penelitian yang telah disebutkan di atas adalah penelitian yang akan

    dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan tingkat kemampuan awal peserta

    didik dan materi pokok bangun ruang sisi lengkung, sedangkan:

    1. penelitian dari Ira Kurniawati menggunakan tingkat aktivitas dan pokok

    bahasan jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium.

    2. penelitian Chusnul Ainy menggunakan pokok bahasan luas dan keliling.

    C. Kerangka Berpikir

    Berdasarkan pada latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah,

    dan kajian teori di muka, dapat dikatakan bahwa prestasi belajar bangun ruang sisi

    lengkung dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal

    antara lain motivasi belajar, minat belajar, kemampuan awal maupun kemampuan

    intelektual. Faktor eksternal antara lain lingkungan, penggunaan pendekatan,

    metode maupun model pembelajaran oleh guru. Pada penelitian ini diungkapkan

    penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran

    langsung serta kemampuan awal peserta didik terhadap prestasi belajar bangun

    ruang sisi lengkung, yang rinciannya sebagai berikut:

  • 28

    1. Kaitannya model pembelajaran terhadap prestasi belajar bangun ruang

    sisi lengkung

    Penggunaan model pembelajaran cukup besar pengaruhnya terhadap

    keberhasilan guru dalam mengajar. Pemilihan model pembelajaran yang tidak

    tepat justru dapat menghambat tercapainya tujuan mengajar. Agar model

    pembelajaran terpilih dengan tepat, seorang guru harus mengetahui pula model

    pembelajaran yang sesuai dengan materi pada pokok bahasannya.

    Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran

    yang berdasarkan pada filsafat konstruktivisme, dimana peserta didik secara aktif

    mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Peserta didik akan lebih mudah

    menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit dalam pembelajaran,

    apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.

    Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari

    beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan

    materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain

    dalam kelompoknya. Jigsaw adalah suatu sistem pembelajaran yang berorientasi

    adanya proses, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan dapat lebih

    meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap suatu materi pelajaran. Pada

    akhirnya diharapkan dapat juga meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

    Dengan demikian penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada

    topik materi bangun ruang sisi lengkung diduga dapat menghasilkan prestasi

    belajar bangun ruang sisi lengkung yang lebih baik daripada model pembelajaran

    langsung.

  • 29

    2. Kaitannya kemampuan awal dengan prestasi belajar bangun ruang sisi

    lengkung

    Menurut teori konstruktivis belajar adalah proses asimilasi dan

    akomodasi yang menghubungkan pengalaman (kemampuan awal) yang telah

    dikuasai peserta didik dengan pengetahuan yang sedang dipelajari, sehingga

    pengetahuan itu dapat dikembangkan. Bagi peserta didik yang memiliki tingkat

    kemampuan awal tinggi, keaktifan mereka dalam belajar akan tetap tinggi

    sehingga akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian prestasi

    belajarnya.

    3. Kaitannya model pembelajaran dan kemampuan awal terhadap prestasi

    belajar bangun ruang sisi lengkung

    Dari uraian pada nomor 1 dan 2 di atas dinyatakan bahwa, penggunaan

    model pembelajaran akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan prestasi

    belajar bangun ruang sisi lengkung dan kemampuan awal peserta didik juga akan

    memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar bangun ruang sisi lengkung.

    Dengan demikian penggunaan model pembelajaran dan kemampuan awal peserta

    didik secara bersama-sama akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan

    prestasi belajar bangun ruang sisi lengkung.

    Dari pemikiran di muka dapat digambarkan kerangka berfikir dalam

    penelitian ini sebagai berikut:

  • 30

    Gambar 2.2. Bagan Kerangka Berpikir Penelitian

    D. Hipotesis

    Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang

    kebenarannya masih harus diuji secara empiris (Budiyono, 2003: 22). Berdasarkan

    tinjauan pustaka dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka dalam

    penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :

    1. Peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan

    model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mempunyai prestasi belajar yang

    lebih baik daripada peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan

    menggunakan model pembelajaran langsung pada materi pokok bangun ruang

    sisi lengkung.

    2. Peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi lebih baik prestasi belajarnya

    daripada peserta didik yang kemampuan awalnya sedang atau rendah, dan

    peserta didik yang kemampuan awalnya sedang lebih baik prestasi belajarnya

    daripada peserta didik yang kemampuan awalnya rendah pada materi pokok

    bangun ruang sisi lengkung.

    Model Pembelajaran

    Kemampuan Awal

    Prestasi Belajar Peserta didik

  • 31

    3. Peserta didik yang kemampuan awalnya sedang, penggunaan model

    pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan prestasi belajar lebih baik

    daripada menggunakan model pembelajaran langsung dalam pembelajaran

    matematika pada materi pokok bangun ruang sisi lengkung. Di sisi lain, pada

    peserta didik yang kemampuan awalnya tinggi atau rendah, penggunaan

    model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menghasilkan prestasi belajar yang

    sama dengan menggunakan model pembelajaran langsung.

  • 32

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu Penelitian

    1. Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri

    Kabupaten Klaten dengan subyek penelitian peserta didik kelas IX tahun pelajaran

    2008/2009.

    2. Waktu Penelitian

    Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai dengan bulan

    Januari 2009, dengan jadwal sebagai berikut:

    Tabel 3.1.

    Waktu Penelitian

    No Pokok-pokok Kegiatan Agustus September Oktober Np Ds Jn

    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

    1. Ijin Penelitian X

    2. Pengambilan Data UAS X

    3. Analisis Data Keseimbangan X X

    4. Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Awal

    X

    5. Analisis Instrumen Tes Kemampuan Awal

    X

    6.

    Memberikan Tes Kemampuan Awal

    X

    7.

    Menberikan Materi Pokok Bangun Ruang Sisi Lengkung Pada Kelompok Esperimen dan Kelompok Kontrol

    X X

    X X

    X X

    X X

    X

    8.

    Uji Coba Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika

    X

    9.

    Analisis Instrumen Tes Prestasi Belajar Matematika

    X

    10.

    Memberikan Tes Prestasi Belajar Matematika

    X

    11. Pengolahan Data dan Analisis Data

    X X X X X

    12. Ujian Tesis X

  • 33

    B. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi

    experimental research) dengan desain faktorial sederhana. Dalam penelitian ini

    menggunakan rancangan faktorial 2 x 3 dengan maksud untuk mengetahui

    pengaruh variabel bebas dan variabel terikat. Desain yang digunakan digambarkan

    dalam bagan berikut:

    Tabel 3.2.

    Rancangan Penelitian

    Kemampuan Awal

    Model Pembelajaran

    Tinggi

    ( b1)

    Sedang

    (b2)

    Rendah

    (b3)

    Jigsaw ( a1) ab11 ab12 ab13

    Langsung (a2) ab21 ab22 ab23

    C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

    1. Populasi

    Suharsimi Arikunto (1992: 102) menyatakan bahwa populasi adalah

    keseluruhan subyek dalam penelitian. Sedangkan menurut Walpole dan Ronald E.

    dalam R. K. Sembiring (1986: 171), populasi adalah keseluruhan pengamatan

    yang menjadi perhatian kita dalam ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.

    Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi adalah

    keseluruhan obyek yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan

    waktu yang kita tentukan dalam suatu penelitian. Sebagai populasi dalam

    penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IX semester 1 SMP Negeri di

    Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 66 SMP Negeri.

  • 34

    2. Sampel

    Suharsimi Arikunto (1992: 104) menyatakan bahwa sampel adalah

    sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sedangkan menurut Margono

    (2000: 121), sampel adalah sebagian dari populasi sebagai contoh yang diambil

    dengan menggunakan cara-cara tertentu. Dari kedua pendapat tersebut dapat

    disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil untuk

    diteliti namun sudah mampu mencerminkan kondisi riil dari populasinya. Sebagai

    sampel dalam penelitian ini diambil tiga sekolah yaitu SMP Negeri 2 Polanharjo,

    SMP Negeri 3 Manisrenggo dan SMP Negeri 3 Pedan, tiap-tiap sekolah diambil

    dua kelas untuk kelas kelompok eksperimen dan kelas kelompok kontrol.

    3. Teknik pengambilan sampel

    Suharsimi Arikunto (2005: 96) menyatakan bahwa sampling kelompok

    (cluster sampling), digunakan oleh peneliti apabila di dalam populasi terdapat

    kelompok-kelompok yang mempunyai ciri sendiri-sendiri. Dalam penelitian ini,

    pengambilan sampel dilakukan dengan secara acak kelompok (cluster random

    sampling) dengan cara memandang populasi sebagai kelompok-kelompok

    (cluster-cluster populasi), maka semua anggota kluster tersebut merupakan

    sampel. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai satuan kelompok (cluster).

    Populasi dalam penelitian ini sebanyak 66 SMP Negeri dengan teknik cluster

    random sampling terpilih 3 SMP Negeri sebagai sampel penelitian, karena akan

    dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,

    kemudian tiap sekolah diacak dengan undian selanjutnya terpilih kelas yang

  • 35

    berfungsi sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelas yang satu

    dikenai perlakuan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan

    kelas yang lain dikenai perlakuan penggunaan model pembelajaran langsung.

    D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasionalnya

    Pada penelitian ini terdapat satu variabel terikat dan dua variabel bebas

    yaitu:

    1. Variabel Terikat

    Prestasi Belajar Matematika

    (i) Definisi Operasional: Prestasi belajar matematika adalah hasil usaha

    peserta didik dalam proses belajar bangun ruang sisi lengkung yang

    dinyatakan dalam angka yang menyatakan hasil yang sudah dicapai oleh

    peserta didik pada periode tertentu.

    (ii) Indikator: Nilai tes prestasi belajar matematika setelah mengikuti proses

    pembelajaran bangun ruang sisi lengkung.

    (iii) Skala Pengukuran: skala interval.

    2. Variabel Bebas

    Ada dua variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu :

    a. Model Pembelajaran

    (i) Definisi Operasional: Model pembelajaran adalah suatu cara yang

    dirancang oleh guru untuk membantu peserta didik mempelajari

    suatu kemampuan dan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang

  • 36

    sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam

    konteks kegiatan pembelajaran, yang meliputi model pembelajaran

    kooperatif tipe jigsaw pada kelas eksperimen dan model

    pembelajaran langsung pada kelas kontrol.

    (ii) Indikator: Pemberian perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe

    jigsaw pada kelas eksperimen dan model pembelajaran langsung

    pada kelas kontrol.

    (iii) Skala Pengukuran: Skala nominal.

    b. Kemampuan Awal Peserta Didik

    (i) Definisi Operasional: Kemampuan awal adalah kemampuan-

    kemampuan yang sudah dikuasai peserta didik sebelum proses

    pembelajaran bangun ruang sisi lengkung dimulai yang ditunjukkan

    dengan kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah.

    (ii) Indikator: Skor tes kemampuan awal

    (iii) Skala Pengukuran: Skala interval kemudian diubah menjadi skala

    ordinal yang terdiri dari 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.

    Untuk kategori tinggi : X > X + 2

    1SD

    Untuk kategori sedang : X – 2

    1SD X X +

    2

    1SD

    Untuk kategori rendah : X < X – 2

    1SD

  • 37

    E. Teknik Pengumpulan Data dan Penyusunan Instrumen

    Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    sebagai berikut:

    1. Metode Dokumentasi

    Suharsimi Arikunto (2004: 236). Metode dokumentasi digunakan untuk

    memperoleh data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip,

    buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapor, agenda dan sebagainya. Pada

    penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data nilai

    ulangan akhir semester (UAS) semester genap pada waktu kelas VIII yang

    dilaksanakan pada hari selasa tanggal 10 Juni 2008. Dokumen tersebut digunakan

    untuk uji keseimbangan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok

    kontrol.

    2. Metode Tes

    Tes adalah seperangkat rangsangan yang diberikan kepada seseorang

    dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dapat dijadikan dasar

    penetapan skor angka (Ary Donald, 1982: 256). Tes yang dilakukan pada

    penelitian ini terdiri dari tes kemampuan awal dan tes akhir, yang penyusunannya

    didahului dengan penyusunan kisi-kisi. Setelah soal-soal tes dibuat beserta

    petunjuk pengerjaan, kemudian diujicobakan kepada peserta didik. Adapun

    tujuan ujicoba instrumen agar layak atau dapat dipakai sebagai alat pengumpul

    data serta dan perlu tidaknya dilakukan revisi-revisi dari instrumen tersebut.

  • 38

    F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

    Instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data

    menggunakan instrumen tes prestasi belajar dan tes kemampuan awal peserta

    didik. Dalam penyusunan instrumen, yang perlu diperhatikan adalah menyusun

    kisi-kisi instrumen, menyusun butir-butir soal instrumen, mengadakan uji coba

    instrumen, tahap revisi dan penetapan instrumen.

    1. Menyusun kisi-kisi intrumen

    Kisi-kisi yang dibuat meliputi kisi-kisi pada materi bangun ruang sisi

    lengkung untuk instrumen tes prestasi belajar matematika dan kisi-kisi instrumen

    tes kemampuan awal peserta didik meliputi materi lingkaran dan bangun ruang

    sisi tegak.

    2. Menyusun butir-butir soal instrumen

    Nana Sudjana (2006: 48). Soal pilihan ganda (multiple choice) adalah

    bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat. Untuk tes

    prestasi belajar matematika dan tes kemampuan awal peserta didik, butir-butir

    soal instrumen tersebut disusun berupa soal pilihan ganda dengan menggunakan

    option sebanyak 4 buah.

    3. Mengadakan uji coba instrumen

    Setelah penyusunan instrumen penelitian selesai dilaksanakan, langkah

    selanjutnya adalah mengujicobakan instrumen yang telah tersusun sebelum

  • 39

    dikenakan pada sampel penelitian. Tujuan uji coba instrumen adalah untuk

    melihat apakah instrumen yang telah disusun benar-benar reliabel dan kons