CRS - DM tipe 2

  • View
    233

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of CRS - DM tipe 2

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    1/25

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang tidak

    ditularkan ( Non-Communicable disease ) dan sering ditemukan di masyarakat

    seluruh dunia. Di negara berkembang DM juga sebagai penyebab kematian 4 5

    kali dibanding dengan penyakit lain. Insidensi DM terus meningkat secara tajam,

    sampai saat ini tercatat sebanyak 177 juta penderita diabetes di seluruh dunia, dan

    diperkirakan pada tahun 2025 akan didapatkan penderita diabetes sebanyak 300

    juta penderita. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang

    diabetes yang cukup besar untuk tahun - tahun mendatang.

    Untuk Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta

    pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan dari hasil

    penilitian di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980

    menunjukkan sebaran prevalensi DM tipe-2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai

    6,1% yang didapatkan di Manado. Hasil penelitian pada era 2000 menunjukkan

    peningkatan prevalensi yang sangat tajam. Sebagai contoh penelitian di Jakarta

    (daerah urban) dari prevalensi DM 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada

    tahun 1993 dan kemudian menjadi 12,8% pada tahun 2001 di daerah sub-urban

    Jakarta.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (2003) diperkirakan

    penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa.

    Dengan prevalensi DM pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar

    7,2%, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat penyandang diabetes sejumlah

    8,2 juta di daerah urban dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan polapertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta

    penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM pada

    urban (14,7%) dan rural (7,2%) maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang

    diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. Suatu jumlah yang sangat

    besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri oleh

    dokter spesialis/ subspesialis bahkan oleh semua tenaga kesehatan yang ada.

    Mengingat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap kualitas sumber daya

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    2/25

    2

    manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar, semua pihak, baik

    masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut serta dalam usaha

    penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan.

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    3/25

    3

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. PengertianMenurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes melitus

    merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik

    hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau

    kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus

    merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas

    dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema

    anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana

    didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin.

    B. Etiologi dan KlasifikasiBerdasarkan etiologinya, diabetes mellitus bisa dibagi menjadi:

    1. Diabetes Mellitus tipe 1Diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh destruksi sel beta, yang umumnya

    menjurus ke defisiensi insulin absolut. Destruksi ini bisa terjadi secara

    autoimun dan idiopatik.

    2. Diabetes Mellitus tipe 2Penyebabnya bervariasi, mulai dari dominan resistensi insulin disertai

    defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin

    disertai resistensi insulin.

    3. Diabetes Mellitus tipe lainDiabetes mellitus tipe ini bisa timbul karena adanya defek genetik fungsi

    sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas,

    endokrinopati, paparan obat atau zat kimia, dan infeksi.

    4. Diabetes Mellitus gestasional

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    4/25

    4

    C. Patofisiologi

    Penyakit diabetes membuat gangguan/ komplikasi melalui kerusakan pada

    pembuluh darah di seluruh tubuh, disebut angiopati diabetik. Penyakit ini berjalan

    kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar

    (makrovaskular) disebut makroangiopati, dan pada pembuluh darah halus

    (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Bila yang terkena pembuluh darah di

    otak timbul stroke, bila pada mata terjadi kebutaan, pada jantung penyakit jantung

    koroner yang dapat berakibat serangan jantung/infark jantung, pada ginjal menjadi

    penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal tahap akhir sehingga harus cuci darah

    atau transplantasi. Bila pada kaki timbul luka yang sukar sembuh sampai menjadi

    busuk (gangren). Selain itu bila saraf yang terkena timbul neuropati diabetik,

    sehingga ada bagian yang tidak berasa apa-apa/mati rasa, sekalipun tertusuk jarum

    / paku atau terkena benda panas.

    Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan

    pembuluh darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Pada gangguan pembuluh

    darah, kaki bisa terasa sakit, jika diraba terasa dingin, jika ada luka sukar sembuh

    karena aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Pemeriksaan nadi pada

    kaki sukar diraba, kulit tampak pucat atau kebiru-biruan, kemudian pada akhirnya

    dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian terinfeksi dan kuman tumbuh

    subur, hal ini akan membahayakan pasien karena infeksi bisa menjalar ke seluruh

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    5/25

    5

    tubuh (sepsis). Bila terjadi gangguan saraf, disebut neuropati diabetik dapat timbul

    gangguan rasa (sensorik) baal, kurang berasa sampai mati rasa. Selain itu

    gangguan motorik, timbul kelemahan otot, otot mengecil, kram otot, mudah lelah.

    Kaki yang tidak berasa akan berbahaya karena bila menginjak benda tajam tidak

    akan dirasa padahal telah timbul luka, ditambah dengan mudahnya terjadi infeksi.

    Kalau sudah gangren, kaki harus dipotong di atas bagian yang membusuk

    tersebut.

    Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan

    emboli trombus kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan

    neuropati perifer. Neuropati diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan

    autonom yang masing-masing memegang peranan pada terjadinya luka kaki.

    Paralisis otot kaki menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan di sendi

    kaki, perubahan cara berjalan, dan akan menimbulkan titik tekan baru pada

    telapak kaki sehingga terjadi kalus pada tempat itu.

    Gangguan sensorik menyebabkan mati rasa setempat dan hilangnya

    perlindungan terhadap trauma sehingga penderita mengalami cedera tanpa

    disadari. Akibatnya, kalus dapat berubah menjadi ulkus yang bila disertai dengan

    infeksi berkembang menjadi selulitis dan berakhir dengan gangren.

    Gangguan saraf autonom mengakibatkan hilangnya sekresi kulit sehingga

    kulit kering dan mudah mengalami luka yang sukar sembuh. Infeksi dan luka ini

    sukar sembuh dan mudah mengalami nekrosis akibat dari tiga faktor. Faktor

    pertama adalah angiopati arteriol yang menyebabkan perfusi jaringan kaki kurang

    baik sehingga mekanisme radang jadi tidak efektif. Faktor kedua adalah

    lingkungan gula darah yang subur untuk perkembangan bakteri patogen. Faktor

    ketiga terbukanya pintas arteri-vena di subkutis, aliran nutrien akan memintastempat infeksi di kulit.

    D. DiagnosisBerbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan

    adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti tersebut

    di bawah ini. Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan

    penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    6/25

    6

    dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi

    pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.

    Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara. Pertama, jika keluhan

    klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah

    cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Kedua, dengan pemeriksaan glukosa

    plasma puasa yang lebih mudah dilakukan, mudah diterima oleh pasien serta

    murah, sehingga pemeriksaan ini dianjurkan untuk diagnosis DM. Ketiga dengan

    TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sensitif dan spesifik

    dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa,namun memiliki

    keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam

    praktek sangat jarang dilakukan.

    TGT : Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan

    glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 199 mg/dL (7.8-11.0

    mmol/L).

    GDPT : Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma

    puasa didapatkan antara 100125 mg/dL (5.66.9 mmol/L).

    KRITERIA DIAGNOSIS DM

  • 7/31/2019 CRS - DM tipe 2

    7/25

    7

    E. KomplikasiGangren diabetik akibat mikroangiopatik disebut juga gangren panas

    karena walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh

    peradangan, dan biasanya teraba pulsasi arteri di bagian distal. Biasanya terdapat

    ulkus diabetik pada telapak kaki.

    Proses makroangiopati menyebabkan sumbatan pembuluh darah, sedangkan

    secara akut emboli akan memberikan gejala klinis 5 P, yaitu :

    a. Pain (nyeri).

    b. Paleness (kepucatan).

    c. Paresthesia (parestesia dan kesemutan).

    d. Pulselessn