Case Kulit Tinea Korporis et Cruris ILA.docx

  • View
    20

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan kasus kulit tegal

Text of Case Kulit Tinea Korporis et Cruris ILA.docx

LAPORAN KASUSTINEA KORPORIS ET CRURIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Pendidikan Profesi Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Di Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Tegal

Pembimbing :dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK, MM

Disusun oleh:Nama : Ila MahiraNim : 030.10.131

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMINRSUD KARDINAH TEGALPERIODE 28 DESEMBER 2015 30 JANUARI 2016FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTIJANUARI 2016

LAPORAN KASUSTINEA KORPORIS ET CRURISPembimbing : dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK, MMOleh : Ila Mahira (030.10.131)

I. PENDAHULUANTinea korporis adalah dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut (Glabrous skin) kecuali bagian telapak tangan, telapak kaki, dan daerah inguinal. Sedangkan tinea kruris adalah dermatofitosis subakut atau kronis pada paha bagian atas, inguinal dan regio pubis.[footnoteRef:1] Lesi pada tinea kruris dapat terbatas pada daerah genito-krural saja atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah. Kedua kelainan ini dapat terjadi secara bersamaan, dalam hal ini disebut tinea korporis et kruris atau sebaliknya tine kruris et korporis. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Berdasarkan lokasi anatomi yang terinfeksi, dermatofitosis diklasifikasikan menjadi : [1: Mirmirani P, Rogers M. Fitzpatrick Dermatology In General Medicine. 8th edition. McGraw-Hill Medical Publishing Division, New York. 2012.p.2277-88]

Tinea kapitis: dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala Tinea barbae: dermatofitosis pada dagu dan janggut Tinea kruris: dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang hingga perut bagian bawah Tinea pedis et manum: dermatofitosis pada kaki dan tangan Tinea unguium: dermatofitosis pada kuku Tinea korporis: dermatofitosis pada kulit tubuh tak berambut

Dermatofita adalah golongan jamur yang bersifat mencerna keratin. Dermatofita termasuk ke dalam kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophtyon.[footnoteRef:2] Masing-masing spesies dermatofita dapat menyebabkan tinea korporis, namun penyebab terseringnya adalah Trichophyton rubrum.[footnoteRef:3] [2: Budimulja U. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI. 2010. p.89-109] [3: Mirmirani P, Rogers M, loc. cit]

Kelainan kulit ini merupakan bagian dari penyakit kulit dermatosis eritroskuamosa yaitu penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritema dan skuama yang meliputi psoriasis, parapsoriasis, pitiriasis rosea, dermatitis seboroik, lupus erimatosus, dan dermatofitosis. Selain itu penyakit ini juga merupakan diagnosis banding dari kandidosis kutis lokalisata. Namun kandidosis kutis lokalisata sering terjadi pada bayi.[footnoteRef:4] Gejala klinis yang biasa dijumpai pada tinea korporis adalah lesi berbentuk bulat atau lonjong, berbatas tegas dan terdiri atas eritema dan skuama, dan terkadang disertai papul dan vesikel di tepi. Daerah tengah biasanya lebih tenang. Kadang-kadang dapat terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah, namun dapat pula terlihat polisiklik karena beberapa lesi yang menjadi satu. Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang biasanya tidak terlihat lagi. Pada tine kruris, kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan sekunder (polimorfi). Bila tinea kruris terjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.[footnoteRef:5] [4: Djuanda A. Dermatosis Eritroskuamosa. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI. 2010. p.189-202] [5: Budimulja U, loc. cit]

Mikosis superfisial, terutama disebabkan oleh dermatofita merupakan jenis infeksi jamur terbanyak didunia yang dapat mengenai berbagai kelompok usia dan mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Infeksi dermatofitosis diperkirakan mengenai sekitar 20-25% dari populasi di seluruh dunia.[footnoteRef:6] Sebuah variasi yang signifikan dalam pola infeksi jamur di berbagai negara terlihat jelas dari penelitian yang dilakukan di negara yang berbeda seperti Aljazair, Afrika Selatan, Meksiko, Italia, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Brasil, India, dan Australia. Heterogenitas ini dalam prevalensi infeksi dermatofitosis di berbagai negara dikaitkan dengan faktor-faktor seperti iklim (kelembaban, suhu), gaya hidup (higienitas), keterlibatan dalam kegiatan di luar ruangan dan prevalensi penyakit yang mendasari (diabetes, kekurangan gizi, gangguan fungsi hati dan ginjal, serta imunosupresi). Faktor lain adalah keengganan pasien untuk mencari pengobatan karena sifat ringan dari penyakit atau karena malu, kecuali kondisi penyakit menjadi serius sehingga mempengaruhi kualitas hidup.[footnoteRef:7] Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai di daerah yang panas. Tricophyton rubrum merupakan penyebab infeksi yang paling umum diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis.[footnoteRef:8] Distribusi tinea kruris terjadi diseluruh dunia namun kejadiannya kerap dijumpai pada daerah dengan iklim yang panas dan lembab.[footnoteRef:9] [6: Havlickova B, Czaika VA, Fredrich M. Epidemiological trends in skin mycoses worldwide. Mycoses. 2008;51:2-15] [7: Rahman MH, et al. Prevalence of Superficial Fungal Infections in the Rural Areas of Bangladesh. Iran J Dermatol 2011;14;86-91] [8: Lesher JL, et al. Tinea Korporis. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1091473-overview#a6. Accessed on 12 January 2016 ] [9: Wiederkehr M, et al. Tinea Cruris. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1091806-overview#a6. Accesed on 12 January 2016]

Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi, merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur, sehingga jamur dapat ditemukan hampir disemua tempat. Dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis, dimana tinea krusis dan tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak.[footnoteRef:10] Dari data beberapa rumah sakit pendidikan di Indonesia pada tahun 1998 didapatkan persentase dermatomikosis terhadap seluruh kasus dermatosis bervariasi dari 2,93% (Semarang) sampai 27,6% (Padang).[footnoteRef:11] [10: Yossela T. Diagnosis and Treatment of Tinea Cruris. J Majority. 2015;4(2):122-8] [11: Adiguna MS. Epidemiologi dermatomikosis di Indonesia. In : Budimulya U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S. editor. Dermatomikosis superfisialis. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2001:1-6]

Di RSUD Kardinah pada tahun 2014 didapatkan insiden dermatofitosis sebanyak 282 kasus kasus. Terdiri dari Tinea Manum 4 kasus, Tinea Pedis 24 kasus, Tinea kruris 122 kasus, Tinea kapitis 6 kasus, Tinea Fasialis 15 kasus, Tinea Unguium 8 kasus dan Tinea Korporis 103 kasus. Dari 103 kasus baru Tinea Korporis terdapat 49 jumlah penderita laki-laki dan 54 orang jumlah penderita perempuan. Sedangkan dari 122 kasus baru tinea kruris, terdapat 52 orang jumlah penderita laki-laki dan 70 orang penderita perempuan. Jumlah kasus dermatofitosis berdasarkan kelompok usia didapatkan 2 kasus untuk usia < 1 tahun, 7 kasus untuk usia 1-4 tahun, 39 kasus untuk usia 5-14 tahun, 47 kasus untuk usia 15-24 tahun, 94 kasus untuk usia 25-44 tahun, 75 kasus untuk usia 45-64 tahun dan 18 kasus untuk usia > 66 tahun.

Di RSUD Kardinah pada tahun 2015 didapatkan insiden dermatofitosis sebanyak 185 kasus. Terdiri dari Tinea Manum 4 kasus, Tinea Pedis 12 kasus, Tinea kruris 77 kasus, Tinea kapitis 9 kasus, Tinea Fasialis 22 kasus, Tinea Unguium 3 kasus dan Tinea Korporis 58 kasus. Dari 58 kasus baru tinea korporis terdapat 21 penderita laki-laki dan 37 penderita perempuan. Sedangkan dari 77 kasus baru tinea kruris, terdapat penderita laki-laki sebanyak 27 orang dan perempuan 50 orang. Jumlah kasus dermatofitosis berdasarkan kelompok usia didapatkan 3 kasus untuk usia < 1 tahun, 8 kasus untuk usia 1-4 tahun, 24 kasus untuk usia 5-14 tahun, 42 kasus untuk usia 15-24 tahun, 35 kasus untuk usia 25-44 tahun, 62 kasus untuk usia 45-64 tahun dan 11 kasus untuk usia > 66 tahun.

Berikut akan dilaporkan sebuah kasus tinea korporis et kruris pada seorang perempuan berusia 53 tahun.

II. KASUSSeorang perempuan berusia 53 tahun, pendidikan terakhir S1, bekerja sebagai seorang guru Matematika di salah satu SMP Negeri di Kota Tegal, sudah menikah, dan beragama Islam, datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 10.00 WIB dengan keluhan utama bercak-bercak merah yang bersisik dan terasa gatal pada lipatan dibawah kedua payudara, punggung kanan atas serta sela paha kiri dan kanan.

A. Anamnesis Khusus(Autoanamnesis pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 10.00 WIB di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal) Sejak 1 tahun yang lalu timbul bercak-bercak merah bersisik pada lipatan dibawah kedua payudara dan disertai rasa gatal, terutama saat berkeringat. Bercak kemerahan tersebut sejak 3 bulan yang lalu semakin meluas ke punggung atas kanan serta di sela paha kiri dan kanan. Kulit pada bagian yang kemerahan tampak menebal dan bersisik halus berwarna putih dan tidak kekuningan. Kulit yang bersisik halus tampak kering, tidak berminyak dan tidak berlapis-lapis. Pinggiran bercak tampak kemerahan dan bagian tengah tampak mulai menyembuh. Gatal dirasakan setiap saat dan gatal semakin bertambah terutama saat berkeringat, sehingga sering digaruk. Pasien m