Resusitasi Pada Neonatus Preterm Dengan Asfiksia

  • View
    76

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

asd

Text of Resusitasi Pada Neonatus Preterm Dengan Asfiksia

Resusitasi pada Neonatus Preterm dengan Asfiksia

Kelompok D7

Meilan Tahir Refra (102010026) Ani Kusumadewi Akbar (102010061)Veronica C Angel Leiwakabessy (102010160)Piter Pical (102010235)Karolus Refandake (102010275)Jasreena Kaur Sandal (102010362)Muhammad S bin Baharudin (102010391)Mohamed Asri bin Mohamed Zaini (102008283)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaArjuna Utara No.6 Jakarta 11510Telephone : (021) 5694-2061 (hunting),Fax : (021) 563-1731

PendahuluanAsfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan factor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin. Penilaiian statistic dan pengalaman klinis atau patologi anatomis menunjukkan bahwa keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Hal ini dibuktikan oleh Drage dan Brendes yang mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi hipoksia berat pada bayi saat lahir akan memperlihatkan angka kematian yang tinggi.Asfiksia neonatorum disebabkan oleh banyak hal, antaranya ialah faktor plasenta(solusia plasenta, degenerasi vaskuler), faktor maternal(hipotensi, syok, anemia), faktor uterus yang mengalami kontraksi memanjang atau hiperaktivitas dan faktor janin sendiri seperti infeksi. Fetal distress adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan O2 dan nutrisi janin sehingga menimbulkan perubahan metabolism janin menuju metabolism anaerob, yang menyebabkan hasil akhir metabolismenya bukan lagi CO2.1Kira-kira 6% dari semua bayi baru lahir dan lebih dari 50% bayi yang dilahirkan premature memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri secara baik dengan kehidupan ekstrauterin. Kesulitan tersebut mencakup mengembangkan dan mengisi paru dengan udara, membentuk pernapasan ritmis, dan berubah dari pola sirkulasi janin menjadi sirkulasi dewasa. Bila terjadi kesulitan-kesulitan ini, bayi memerlukan resusitasi.

PembahasanPemeriksaan Rutin Pada Bayi Baru LahirSegera setelah bayi lahir, pemeriksaan yang singkat dan teliti pada wajah, mata, mulut, dada, abdomen, tulang belakang dan ekstremitas harus dapat menyingkirkan kelainan mayor. Tangisan yang kuat serta warna kemerahan pada wajah dan tubuh menunjukkan penyesuaian diri yang baik terhadap kehidupan yang independen. Lebih dari 48 jam setelah lahir, semua bayi harus diperiksa menyeluruh dan pada waktu luang setelah riwayat kesehatan keluarga, kehamilan, dan persalinana diketahui secara rinci. Pemeriksaan ini dilakukan dengan dihadiri oleh ibu atau lebih ideal lagi oleh kedua orang tua. Pemeriksaan medis pertama ini merupakan prsedur skrining dan bertujuan untuk menemukan gangguan-gangguan yang memerlukan tatalaksana dini. Bayi harus telanjang dalam ruang yang hangat dan ibu sebaiknya dapat melihat dengan jelas apa yang anda kerjakan.pemeriksaan harus menyeluruh dan dalam urutan yang logis. Pertama kali nilai ukuran keseluruhan, proporsi dan maturitas kemudian cari kelainana structural mulai dari kepala dan mata kemudian telinga, mulut, dada, abdomen, ekstremitas, tangan dan kaki. Cacat setiap tanda-tanda tambahan, jari-jari tambahan, dan juga cekungan kulit tambahan. Pemeriksaaan lain adalah untuk menilai perilaku dan respons bayi. Ibu dan bidan biasanya akan segera menceritakan kepada anda tentang perilaku, pola makan, menangis dan tidur bayi. Bayi yang terlalu lemas, selalu tidur, iritabel atau tidak dapat diam, ataupun bayi yang reflex isapnya lemah memerlukan evaluasi lebih teliti, terutama dalam hubungannya dengan pemberian ASI yang memuaskan. Orang tua harus diberi penerangan tentang kelainan-kelainan minor. 2

Apgar ScoreApgar Score merupakan system pengukuran sederhana dan handal untuk derajat stress intrapartum saat lahir. Kegunaan utama system skor ini adalah untuk memeriksa anak secara sistematis dan untuk mengevaluasi berbagai factor yang mungkin berkaitan dengan masalah pulmonal.Ada 5 hal yang dinilai dalam APGAR score, yakni:1. Appearance (Warna kulit)Hampir semua bayi berwarna biru saat lahir. Mereka berubah menjadi merah muda setelah tercapainya ventilasi yang efektif.Kebanyakan bayi yang pucat saat lahir mengalami vasokonstriksi perifer. Vasokonstriksi biasanya disebabkan oleh asfiksia, hipovolemia, atau asidosis berat. Alkalosis respiratorik (missal, akibat ventilasi bantuan yang terlalu kuat), penghangatan berlebihan, hipermagnesemia, atau konsumsi alcohol akut pada ibu dapat menyebabkan vasodilatasi. 2. Pulse (denyut jantung)Frekuensi denyut jantung normal saat lahir antara 120-160 denyut per menit. Denyutan di bawah 100 kali per menit biasanya menunjukkan asfiksia dan penurunan curah jantung.3. Grimace (Kepekaan reflex)Respon normal pada pemasukan kateter ke dalam faring posterior melalui lubang hidung adalah menyeringai, batuk atau bersin.4. Activity (tonus otot)Semua bayi normal menggerak-gerakkan semua anggota tubuhnya secara aktif segera setelah lahir. Bayi yang tidak dapat melakukan hal tersebut atau bayi dengan tonus otot yang lemah biasanya asfiksia, mengalami depresi akibat obat atau menderita kerusakan SSP.5. Respiration (upaya bernapas)Bayi normal akan mengap-megap saat lahir, menciptakan upaya bernapas dalam 30 detik dan mencapai pernapasan yang menetap pada frekuensi 30-60 kali per menit pada usia 2 sampai 3 menit. Apnea dan pernapasan yang lambat atau tidak teratur terjadi oleh berbagai sebab, termasuk asidosis berat, asfiksia, infeksi janin, kerusakan SSP, atau pemberian obat pada ibu (barbiturate, narkotik, dan trankuilizer).2,3

Skor Apgar ini biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik serta telah dilakukan pengisapan lendir dengan sempurna. Skor apgar 1 menit ini menunjukkan beratnya asfiksia yang diderita dan baik sekali sebagai pedoman untuk menentukan cara resusitasi. Skor apgar perlu pula dinilai setelah 5 menit bayi lahir, karena hal ini mempunyai korelasi yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatal.2

Skor012

Appearance (warna kulit)Biru, pucatTubuh merah muda, ekstremitas biruSeluruh tubuh merah muda

Pulse (denyut jantung)Tidak ada< 100x/menit>100 x/menit

Grimace (Kepekaan reflex)Tidak adamenyeringaiMenyeringai & batuk atau bersin

Activity (tonus otot)LemasEkstremitas sedikit fleksiGerakan aktif

Respiration (upaya bernapas)Tidak adaLambat, tidak teraturBaik, menangis

Tabel 1. Sistem Skor APGARHasil penilaian skor apgar:1. 7-10. Bayi sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.1. 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung > 100x/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflex iritabilitas tidak ada. Terdapat pada keadaan asfiksia sedang.1. 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung < 100x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflex iritabilitas tidak ada. Terdapat pada keadaan asfiksia berat.2

AnamnesisAnamnesis adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara baik langsung pada pasien (Auto anamnese) atau pada orang tua atau sumber lain (Allo anamnese). 80% untuk menegakkan diagnosa didapatkan dari anamnesis.Tujuan anamnesis yaitu untuk mendapatkan keterangan sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien, membantu menegakkan diagnosa sementara. Ada beberapa kondisi yang sudah dapat ditegaskan dengan anamnesis saja, membantu menentukan penatalaksanaan selanjutnya.1Anamnesis yang baik merupakan tiang utama diagnosis. Anamnesis dimulai dengan mencari keterangan mengenai nama, alamat, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan sebagainya. Keterangan yang didapat ini kadang sudah memberi petunjuk permulaan kepada kita.1Berdasarkan anamnesis yang baik dokter akan menentukan beberapa hal mengenai hal-hal berikut:1. Penyakit atau kondisi yang paling mungkin mendasari keluhan pasien (kemungkinan diagnosis)1. Penyakit atau kondisi lain yang menjadi kemungkinan lain penyebab munculnya keluhan pasien (diagnosis banding)1. Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tersebut (faktor predisposisi dan faktor risiko)1. Kemungkinan penyebab penyakit (kausa/etiologi)1. Faktor-faktor yang dapat memperbaiki dan yang memperburuk keluhan pasien (faktor prognostik, termasuk upaya pengobatan)1. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medis yang diperlukan untuk menentukan diagnosisnya.Yang paling penting tanyakan riwayat kelahirannya dan apakah si ibu menggunakan obat-obatan khusus saat kehamilan dan pada saat melakukan anastesi sebelum section Caesar.

Pemeriksaan Fisik1. Denyut jantung janinFrekuensi normal ialah antara 120-160 denyutan semenit; selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai dibawah 100 semenit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.21. Mekonium dalam air ketubanMekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.2Pemeriksaan Penunjang1. Pemeriksaan pH darah janinDengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya.2Diagnosis gawat janin sangat penting untuk dapat menyelamatkan dan dengan demikian membatasi morbiditas dan mortalitas perinatal. Selain itu kelahiran bayi yang telah menunjukkan tanda