referat kegawatan neonatus

  • View
    17

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kegawatan neonatus

Text of referat kegawatan neonatus

REFERAT

Obat-Obatan dan Tindakan pada Kegawatan Neonatus

PEMBIMBING :dr. Zuhriah Hidajati, Sp. A, Msi Meddr. Slamet Widi Saptadi, Sp.Adr. Lilia Dewiyanti, Sp.A, Msi Meddr. Neni Sumarni, SpA

Disusun oleh :Okky Nafiriana (030.10.214)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAKRSUD KOTA SEMARANGFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI10 AGUSTUS 2015 17 OKTOBER 2015

PENDAHULUAN

Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( usia 28 hari) membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang bisa saja timbul sewaktu-waktu. Sangat penting untuk mengetahui neonates yang berisiko sebagai deteksi dini kegawatan sehingga dapat dilakukan pertolongan lebih cepat, tidak menyebabkan kerusakan organ lebih lanjut dan mencegah gangguan tumbuh kembang.Pada saat ini angka kematian perinatal di Indonesia masih sangat tinggi. Kematian bayi baru lahir (usia 0-28 hari) merupakan 2/3 dari kematian bayi. Adapun beberapa penyebab kematian neonates, yaitu infeksi (33%), asfiksia/trauma (28 %), BBLR (24%), kelainan bawaan (10%) dan lain-lain (5%). Sekitar 80-90 % kematian dapat dicegah dengan teknologi sederhana, sedangkan sekitar 10-20 % kasus rujukan memerlukan biaya mahal dan teknologi tinggi.Penyebab kematian yang paling cepat pada neonatus adalah asfiksia dan perdarahan. Asfiksia perinatal merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang penting. Akibat jangka panjang, asfiksia perinatal dapat diperbaiki secara bermakna jika gangguan ini diketahui sebelum kelahiran sehingga dapat diusahakan memperbaiki sirkulasi/ oksigenasi janin intrauterine atau segera melahirkan janin untuk mempersingkat masa hipoksemia janin yang terjadi.Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kegawatdaruratan pada neonates, yaitu faktor kehamilan (misalnya kehamilan kurang bulan, ibu dengan penyakit DM, kehamilan lebih bulan, pertumbuhan janin terhambat), faktor pada partus (misalnya infeksi, partus dengan penggunaan obat sedative), faktor pada bayi (misalnya skor APGAR rendah, BBLR, bayi preterm, makrosomia, kelainan kongenital).Dari berbagai faktor yang berperan pada kematian bayi, kemampuan kinerja petugas kesehatan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan neonatal terutama kemampuan dalam mengatasi masalah yang bersifat kegawatdaruratan. Alat-alat dan obat yang memadai juga mempengaruhi dalam penanganan masalah kegawatdaruratan tersebut.

BAB IAsfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir

DEFINISIAsfiksia pada BBL menjadi penyebab kematian 19% dari 5 juta kematian BBL setiap tahun. Kebutuhan resusitasi dapat diantisipasi pada sejumlah besar BBL. Oleh karena itu, tempat dan peralatan untuk melakukan resusitasi harus memadai, dan petugas yang sudah dilatih dan terampil harus tersedia setiap saat dan di semua tempat kelahiran bayi. Resusitasi BBL ialah prosedur yang diaplikasikan pada BBL yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir. Asfiksia pada BBL ditandai dengan keadaan hipoksemia, hiperkarbia, dan asidosis.

PATOFISIOLOGIBBL mempunyai karakteristik yang unik. Transisi dari kehidupan janin intrauterine ke kehidupan bayi ekstrauterin, menunjukkan perubahan sebagai berikut. Alveoli paru janin dalam uterus berisi cairan paru. Pada saat lahir dan bayi mengambil napas pertama, udara memasuki alveoli paru dan cairan paru diabsorpsi oleh jaringan paru. Pada napas kedua dan berikutnya, udara yang masuk alveoli bertambah banyak dan cairan paru diabsorpsi sehingga kemudian seluruh alveoli berisi udara yang mengandung oksigen. Aliran darah paru meningkat dramatis. Hal ini disebabkan ekspansi paru yang membutuhkan tekanan puncak inspirasi dan tekanan akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan peningkatan tekanan oksigen alveoli, keduanya menyebabkan penurunan resistensi vaskuler paru dan peningkatan aliran darah paru setelah lahir. Aliran intrakardial dan ekstrakardial mulai beralih arah yang kemudian diikuti penutupan duktus arteriosus. Kegagalan penurunan resistensi vaskuler paru menyebabkan hipertensi pulmonal persisten pada BBL, dengan aliran darah paru yang inadekuat menyebabkan gagal napas.

Gambar 1. Diagram Alur Resusitasi NeonatusSumber : American Heart Association and American Academy of Pediatrics

VENTILASI TEKANAN POSITIFSetelah dilakukan langkah awal resusitasi, ventilasi tekanan positif harus dimulai bila bayi tetap apnea setelah stimulasi atau pernapasan tidak adekuat, dan/atau frekuensi jantung kurang daeu 100x/menit. Bila bayi bernapas adekuat dan frekuensi jantung memadai tetapi sianosis sentral, bayi diberi oksigen aliran bebas. Bila setelah ini bayi tetap sianosis, dapat dicoba melakukan ventilasi tekanan positif. Peralatan yang digunakan untuk ventilasi tekanan positif adalah salah satu dari 3 alat berikut; balon mengembang sendiri (self inflating bag), balon tidak mengembang sendiri (flow inflating bag), atau T-piece resuscitation. Bila menggunakan flow inflating bag atau T-piece resuscitation, tetap harus disiapkan self inflating bag sebagai cadangan bila aliran oksigen terhenti.Cara melakukan VTP:1. Sebelum persalinan berlangsung, pada saat persiapan alat resusitasi, alat yang akan dipakai untuk ventilasi tekanan positif dipasang dan dirangkai serta dihubungkan dengan oksigen sehingga dapat memberikan kadar sampai 90-100%. Siapkan sungkup dengan ukuran yang sesuai berdasarkan antisipasi ukuran/berat bayi. Ukuran sungkup yang tepat ialah yang dapat menutupi hidung, mulut, dan dagu.2. Setelah alat dipilih dan dipasang, pastikan bahwa alat dan sungkup berfungsi baik. 3. Operator berdiri di sisi kepala atau samping bayi. Sungkup diletakkan di wajah bayi dengan lekatan yang baik.4. Dilakukan pemompaan pada balon resusitasi dengan tekanan awal >30 cmH2O dan selanjutnya 15-20 cmH2O dengan frekuensi 40-60 kali/menit.5. VTP dilakukan selama 30 detik sebanyak 20-30 kali, dengan fase ekspirasi lebih lama dari fase inspirasi.6. Setelah 30 detik ventilasi, dilakukan penilaian frekuensi jantung.7. Bila frekuensi jantung 60 kali/menit , hentikan kompresi dada dan VTP dilanjutkan sampai frekuensi jantung mencapai 100 kali/menit atau lebih dan bayi bernapas spontan.

KOMPRESI DADAApabila setelah tindakan VTP selama 30 detik, frekuensi jantung < 60 detik maka lakukan kompresi dada yang terkoordinasi dengan ventilasi selama 30 detik dengan kecepatan 3 kompresi : 1 ventilasi selama 2 detik. Kompresi dilakukan dengan 2 ibu jari atau jari tengah-telunjuk / jari tengah-jari manis. Lokasi kompresi ditentukan dengan menggerakkan jari sepanjang tepi iga terbawah menyusur ke atas sampai mendapatkan sifoid, letakkan ibu jari atau jari-jari pada tulang dada sedikit di atas sifoid. Berikan topangan pada bagian belakang bayi. Tekan sedalam 1/3 diameter anteroposterior dada.

INTUBASI ENDOTRAKEALIndikasi:1. Menghisap meconium dalam trakea bila didapatkan meconium dalam air ketuban dan bayi tidak bugar2. Meningkatkan efektifitas ventilasi bila setelah beberapa menit melakukan ventilasi balon dan sungkup tidak efektif3. Membantu koordinasi kompresi dada dan ventilasi, serta untuk memaksimalkan efisiensi pada setiap ventilasi4. Memberikan obat epinefrin bila diperlukan untuk merangsang jantung sambil menunggu akses intravena5. Kelainan bawaan bedah, misalnya hernia diafragmatica6. Bayi sangat kurang bulan, untuk ventilasi atau pemberian surfactantPeralatan yang harus disiapkan, yaitu: Laringoskop dengan daun laringoskop no.00 dan no.0 untuk BKB dan no.1 untuk BCB. Lampu cadangan dan baterai cadangan untuk laringoskop Pipa endotrakeal no. 2,5-, 3,0-, 3,5-, 4,0- mm diameter internal Stilet Gunting dan plester untuk fiksasi endotrakeal Kapas alcohol

PEMBERIAN OBAT DAN CAIRANObat dan cairan jarang digunakan pada resusitasi BBL. Bradikardia umumnya disebabkan karena hipoksia dan ventilasi yang tidak adekuat. Apnea disebabkan oleh oksigenasi yang tidak cukup pada batang otak. Otot jantung sejumlah kecil bayi (2 per 100 bayi) mungkin kekurangan oksigen dalam jangka panjang yang mengakibatkan berkurangnya efektifitas kontraksi, meski mendapat perfusi darah yang mengandung banyak oksigen. Bayi ini memerlukan epinefrin untuk merangsang jantungnya. Bila terjadi kehilangan darah akut, perlu diberikan cairan penambah volume darah. Karena itu melakukan ventilasi yang adekuat merupakan langkat yang terpenting untuk meningkatkan laju jantung. Bila laju jantung tetap kurang dari 60x/menit walaupun telah dilakukan VTP dan kompresi dada secara terkoordinasi, tindakan pertama ialah memastikan bahwa ventilasi dan kompresi dada dilakukan secara optimal dan menggunakan oksigen 100%. Setelah hal ini dipastikan dan frekuensi jantung tetap di bawah 60 kali/menit, obat perlu diberikan. Karena obat diharapkan mempunyai efek pada jantung, maka secara ideal pemberian obat ialah secara cepat yaitu melalui kateter vena umbilicalis.Pemberian obat dapat diberikan melalui beberapa jalan: Vena umbilical. Cara tercepat untuk memberikan cairan dan dapat digunakan untuk epinefrin, nalokson, dan/atau natrium bikarbonas. Sebelum memberikan obat, kateter diisi salin normal terlebih dahulu. Pipa endotrakeal. Hanya epinefrin dapat diberikan melalui pipa endotrakeal. Vena perifer. Pemasangan vena perifer dapat sulit pada BBL yang syok dan membutuhkan waktu yang lama. Intramuskuler. Selain melalui intravena, nalokson dapat diberikan secara IM. Akses intraoseus. Jalan ini dapat dipakai sebagai alternative bila akses vena tidak didapat. 1. Epinefrin Merupakan obat pemicu jantung yang meningkatkan kekuatan dan kontraksi otot jantung dan mengakibatkan vasokonstriksi perifer, sehingga akan mengakibatkan meningkatnya aliran darah melalui arteria koronata dan aliran darah ke otak. Indikasi pemberian epinefrin ialah bila frekuensi jantung