Click here to load reader

Perforasi Gaster

  • View
    646

  • Download
    9

Embed Size (px)

Text of Perforasi Gaster

BAB ILAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIENNama: Tn. SUmur : 49 tahunJenis kelamin: Laki-lakiAlamat: Jl. Manunggal rt/rw 03 kel. Tungkal II kec. tungkal ilir, TanjabtimAgama: IslamPekerjaan: BuruhTanggal MRS: 8-3-2013

B. ANAMNESIS 1. Keluhan Utama:Nyeri pada seluruh lapangan perut2. Riwayat Perjalanan Penyakit : 1 bulan yang lalu pasien mengeluh nyeri pada perut, mual (+), muntah (+), demam (+). Kemudian pasien berobat ke mantri, namun sakit perutnya tidak juga hilang. Mulanya nyeri dirasakan diulu hati, tidak diperut kanan bawah. Nyeri dirasakan sangat hebat, tiba-tiba dan terus-menerus dan mulai menyebar ke seluruh perut sehingga menyebabkan pasien tidak bisa beraktifitas.1 minggu SMRS pasien tidak bisa BAB sehingga pasien membeli obat pencahar ke toko, namun BAB hanya sedikit. 1 hari SMRS pasien mengeluh nyeri yang bertambah berat pada seluruh perut dan lebih dominan nyeri di epigastrium, BAK (+) lancar, BAB (-), pasien merasa masih bisa kentut namun berkurang, perut kembung, perut terasa kaku, tidak nafsu makan dan minum sehingga pasien dibawa ke RSUD Raden Mattaher Jambi.3. Riwayat Penyakit Dahulu:-Riwayat Penyakit Magh dibenarkan-Riwayat mengkonsumsi obat untuk menghilangkan nyeri sendi dibenarkan - Riwayat perut sering kembung dibenarkan - Riwayat pernah diurut - Riwayat trauma disangkal4. Riwayat Penyakit KeluargaKeluarga tidak ada yang menderita penyakit serupa.C. PEMERIKSAAN FISIK Status GeneralisKeadaan Umum:Tampak sakit beratKesadaran :Compos mentisA. Tanda Vital: TD:100/70 mmHg N:96 x/menit R:24 x/menit T : 37CB. Pemeriksaan Fisik Umuma. Kepala-leherKepala : Normocephal, deformitas (-)Mata: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor ka-ki, reflek cahaya (+/+)Leher: pembesaran KGB (-), massa (-)b. Thorax-CardiovascularInspeksi: bentuk dada simetris, retraksi (-), sela iga dalam batas normal Palpasi: stem fremitus (+) normal, iktus cordis (+)Perkusi : Jantung : Pekak Paru : SonorAuskultasi: Jantung : BJI-II reguler, murmur (-), gallop (-) Paru : vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)c. AbdomenInspeksi: distensi (+), darm countour (-), darm steifung (-), jejas (-)Auskultasi: Bising usus (-) Perkusi: Hipertimpani di seluruh lapang abdomen Palpasi : Defans muskular (+), nyeri tekan di seluruh abdomen (+) d. EkstremitasSuperior :Edema (-/-), akral hangatInferior:Edema (-/-), akral hangat

C. Pemeriksaan rectal toucher Tonus m. spincter ani menjepitMukosa licinAmpula recti mengangaPole atas prostat terabaNyeri tekan di seluruh jamLendir(-), feses (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah Rutin (19-03-2013)WBC:18.8(3.5 10.0.10/mm )RBC :4.47 (3.80 5.80.106/mm )HGB :11.4 (11.0 16.5 g/dl )HCT :37.0 (35.0 50.0 % )PLT :379 (150 390.10/mm )PCT : .340 (.100 - .500 %)MCV:83 (80-97 m )MCH:25.6 (26.5-33.5 pg)MCHC:30.9 (31.5-35.0 gr/dl)RDW : 15.4 (10.0-15.0%)MPV : 9.0 (10.0-18.0%)PDW : 16.9 (10.0-18.0%)Diff :% LYM: 11.8 L % (17.0-48.0%)% MON : 5.6 % (4.0-10.0%)%GRA : 82.6 % (43.0-76.0%)# LYM : 2.2 103/mm3 (1.2-3.2 103/mm3)#MON : 1.0 103/mm3 (0.3-0.8 103/mm3)#GRA : 15.6 103/mm3 (1.2-6.8 103/mm3)

Pemeriksaan Kimia DarahBilirubin Total : 0.6 mg/dlBilirubin Direct : 0.5 mg/dlBilirubin Indirect : 0.1 mg/dlProtein Total : 5.6 g/dlAlbumin : 3.3 g/dlGlobulin : 2.3 g/dlSGOT : 31 U/LSGPT :15 U/LGDS : 94 mg/dl

Pemeriksaan ElektrolitNatrium (Na) : 144.7 mmol/L Kalium (K) : 3.5 mmol/LKlorida (Cl) : 120.7 mmol/L

Foto Polos Abdomen 2 posisi

E. DIAGNOSIS BANDING Perforasi Gaster Appendisitis Perforasi Pankreatitis Akut

F. DIAGNOSIS KERJA Peritonitis et causa Perforasi Gaster

G. PENATALAKSANAAN - IVFD RL 40 gtt/i Pasang NGT Pasang kateter Pasien dipuasakan Inj ranitidin 3 x 50 mg Inj ceftriaxon 1 x 2 g metronidazol 3 x 500 mg Rencana Laparotomi

BAB IIPENDAHULUAN

Peritonitis adalah keadaan akut abdomen akibat peradangan sebagian atau seluruh selaput peritoneum parietale ataupun viserale pada rongga abdomen. Peritonitis seringkali disebabkan dari infeksi yang berasal dari organ-organ di cavum abdomen. Penyebab tersering adalah perforasi dari organ gaster, colon, kandung empedu atau apendiks. Infeksi dapat juga menyebar dari organ lain yang menjalar melalui darah.Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut abdomen. Penyebab perforasi gastrointestinal adalah : ulkus peptik, inflamasi divertikulum kolon sigmoid, kerusakan akibat trauma, perubahan pada kasus penyakit Crohn, kolitis ulserasi, dan tumor ganas di sistem gastrointestinal. Perforasi paling sering adalah akibat ulkus peptik gaster dan duodenum. Perforasi dapat terjadi di rongga abdomen (perforatio libera) atau adesi kantung buatan (perforatio tecta). Pada tahun 1799 gejala klinik ulkus perforasi dikenali untuk pertama kali, meskipun baru pada tahun 1892, Ludwig Hensner, seorang Jerman, pertama kali melakukan tindaka bedah pada ulkus peptik gaster. Pada tahun 1894, Henry Percy Dean melakukan tindakan bedah pada ulkus perforasi usus kecil duodenum. Gastrektomi parsial, meskipun sudah dilaksanakan untuk ulkus gaster perforasi dari awal 1892, tidak menjadi terapi populer sampai tahun 1940. Hal ini karena dirasakan adanya rekurensi yang tinggi dari gejala-gejala setelah perbaikan sederhana. Efek fisiologis vagotomi trunkal pada sekresi asam telah diketahui sejak awal abad 19, dan pendekatan ini diperkenalkan sebagai terapi ulkus duodenum pada tahun 1940. Perkembangan selanjutnya terapi ulkus peptik adalah diperkenalkannya vagotomi selektif tinggi pada akhir 1960. Namun, tidak ada satupun pencapaian ini yang terbukti berhasil, dan beberapa komplikasi post operatif, termasuk angka rekurensi ulkus yang tinggi, telah membatasi penggunaan teknik-teknik ini. Akhir-akhir ini, pada pasien dengan perforasi gaster, penutupan sederhana lebih umum dikerjakan daripada reseksi gaster.

BAB IIITINJAUAN PUSTAKA

Peritonitis adalah keadaan akut abdomen akibat peradangan sebagian atau seluruh selaput peritoneum parietale ataupun viserale pada rongga abdomen. Peritonitis sering kali disebabkan dari infeksi yang berasal dari organ-organ di cavum abdomen. Penyebab tersering adalah perforasi dari organ gaster, colon, kandung empedu atau apendiks. Infeksi dapat juga menyebar dari organ lain yang menjalar melalui darah.

A. ANATOMIPeritoneumDinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di bagian belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang, di sebelah atas pada iga, dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri atas beberapa lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kutis dan subkutis, lemak subkutan dan fasia superfisial (fasia Scarpa) kemudian ketiga otot dinding perut, m.oblikus abdominis eksternus, m.oblikus abdominis internus, dan m.tranversus abdominis dan akhirnya lapis preperitoneal, dan peritoneum. Otot di bagian depan terdiri atas sepasang otot rektus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba.Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kraniakaudal diperoleh pendarahan dari cabang aa.interkostales VI s/d XII dan a.epigastrika superior. Dari kaudal, a.iliaka sirkumfleksa superfisialis, a.pudenda eksterna, dan a.epigastrica inferior. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan pendarahan. Persarafan dinding perut dilayani secara segmental oleh n.torakalis VI s/d XII dan n.lumbalis I.Rongga perut (cavitas abdominalis) dibatasi oleh membran serosa yang tipis mengkilap yang juga melipat untuk meliputi organ-organ di dalam rongga abdominal. Lapisan membran yang membatasi dinding abdomen dinamakan peritoneum parietale, sedangkan bagian yang meliputi organ dinamakan peritoneum viscerale. Di sekitar dan sekeliling organ ada lapisan ganda peritoneum yang membatasi dan menyangga organ, menjaganya agar tetap berada di tempatnya, serta membawa pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Mesenterium ialah bangunan peritoneal yang berlapis ganda, bentuknya seperti kipas, pangkalnya melekat pada dinding belakang perut dan ujungnya yang mengembang melekat pada usus halus. Di antara dua lapisan membran yang membentuk mesenterium terdapat pembuluh darah, saraf dan bangunan lainnya yang memasok usus. Bagian mesenterium di sekitar usus besar dinamakan mesokolon. Lapisan ganda peritoneum yang berisi lemak, menggantung seperti celemek di sebelah atas depan usus bernama olentum majus. Bangunan ini memanjang dari tepi gaster sebelah bawah ke dalam bagian pelvik abdomen dan kemudian melipat kembali dan melekat pada colon tranversum. Ada juga membran yang lebih kecil bernama omentum minus yang terentang antara gaster dan liver.

Gambar 1 Anatomi cavum peritonitis

Anatomi gasterGaster terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat di bawah diafragma. Dalam keadaan kosong gaster menyerupai tabung bentuk J, dan bila penuh, berbentuk seperti buah pir raksasa. Kapasitas normal gaster adalah 1 sampai 2 liter. Secara anatomis gaster terbagi atas fundus, korpus, dan antrumpilorikum atau pilorus. Sebelah kanan atas gaster terdapat cekungan kurvatura minor, dan bagian kiri bawah gaster terdapat kurvatura mayor. Sfingter pada kedua ujung gaster mengatur pengeluaran dan pemasukan yang terjadi. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan masuk ke dalam gaster dan mencegah refluks isi gaster memasuki esofagus kembali. Daerah gaster tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Di saat sfingter pilorikum terminal berelaksasi, makanan masuk ke dalam duodenum, dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isi usus ke dalam gaster. Sfingter pilorus memiliki arti klinis yang penting karena dapat mengalami stenosis (penyempitan pilorus yang menyumbat) sebagai penyulit penyakit ulkus pep