kti Anestesi tonsilektomi

  • View
    60

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas

Text of kti Anestesi tonsilektomi

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Definisi anestesiologi berdasarkan etimologi dibagi menjadi 2 kata yaitu 'an' yang berarti 'tidak', dan 'aestesi' yang artinya 'rasa'. Reanimasi dibagi menjadi 2 kata, yaitu 're' yang artinya kembali dan 'animasi' yang berarti 'gerak' atau 'hidup'. Maka ilmu anestesi dan reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa, baik rasa nyeri, takut, dan rasa tidak nyaman yang lain sehingga pasien nyaman dan ilmu yang mempelajari tatalaksana untuk menjaga/mempertahankan hidup dan kehidupan pasien selama operasi akibat obat anestesia dan mengembalikannya seperti keadaan semula (Mangku, 2010).

General anestesi adalah suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat anestesia. Teknik anestesi umum ada tiga macam, yaitu anestesi umum intravena, anestesi umum inhalasi, danb anestesi imbang (gabungan antara keduanya). Anestesia pediatric adalah anestesia pada pasien yang berumur di bawah 12 tahun, yang dibagi menjadi tiga kelompok umur yaitu neonatus, bayi hingga anak dengan umur dibawah atau sama dengan 3 tahun, dan anak dengan umur lebih dari 3 tahun (Mangku, 2010).

Masalah anestesi pada anak adalah perbedaan anatomi, fisiologi, psikologi, farmakologi dan patologi antara anak dan dewasa. Pada bayi lebih mudah mengalami hipoglikemia, hipotermia, hipertermia, dan bradikardia. Sistem parasimpatis lebih dominan dan angka morbiditas serta mortalitasnya tinggi.

Dalam penggunaan anestesia umum, pasien dapat bernafas sendiri secara spontan yang disebut spontan respiration (SR), dapat juga dengan bernafas spontan tetapi dengan sedikit bantuan dari tim anestesia yang disebut assist respiration (AR), atau pasien tidak bisa bernafas sendiri dan harus benar-benar dibantu tim anestesia atau dikontrol oleh tim anestesia yang disebut control respiration (CR).

Femur merupakan tulang terpanjang pada tubuh manusia. Perkembangan tulang femur terjadi pada bagian proksimal dan distal sehingga memungkinkan koordinasi aktifitas musculoskeletal pada panggul dan lutut. Perkembangan pada femur proksimal khususnya pada epifisis dan fisis sangat kompleks di antara region pertumbuhan skeletal apendikular (Odgen, 2000).

Parsch (2010) menyebutkan bawa fraktur batang femur (femoral shaft fracture) termasuk diantaranya region subtrokanter dan suprakondilar berkisar 1,6% pada semua fraktur pada anak. Rasio antara anak laki laki dan perempuan adalah 2 : 1, rasio ini mungkin akan mengalami perubahan jika semakin banyak anak perempuan yang berpartisipasi pada olah raga. Tingkat terjadinya fraktur batang femur per tahunnya adalah 19 per 100.000 anak anak.ORIF (Open Reduction and Internal Fixation) adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan sepanjang bidang anatomik tempat yang mengalami fraktur. Fraktur direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali, sesudah reduksi, fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat-alat berupa pin, plat, screw, dan paku.I.2. ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)

ORIF (Open Reduction and Internal Fixation) adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal fiksasi ini dapat berupa Intra Medullary Nail biasanya digunakan untuk fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur tranversal (Appley dalam Afifudin, 2010).

I.2.1. Indikasi

Indikasi dilakukannya ORIF yaitu :

1. Fraktur yang tidak bisa sembuh tanpa manipulasi pembedahan.

2. Fraktur yang tidak bisa direposisi secara tertutup.3. Fraktur yang dapat direposisi tapi sulit dipertahankan.4. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik

dengan operasi.I.2.2. Komplikasi

Beberapa komplikasi dari ORIF yaitu :

1. Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya, membentuk sudut atau miring. Komplikasi dapat dicegah dengan melakukan analisa yang cermat sewaktu melakukan reduksi dan mempertahankan reduksi dengan baik dan benar, terutama pada masa awal penyembuhan.2. Delayed union dan non union adalah sambungan tulang yang terlambat dan tulang patah yang tidak menyambung kembali.3. Gejala pada pasien post ORIF yaitu edema, nyeri, pucat, otot tegang dan bengkak, menurunnya pergerakan, deformitas (perubahan bentuk), eritema, dan parestesia atau kesemutan. I.3. Anestesi dan Reanimasi

I.3.1. DefinisiDefinisi anestesiologi berdasarkan etimologi dibagi menjadi 2 kata yaitu 'an' yang berarti 'tidak', dan 'aestesi' yang artinya 'rasa'. Reanimasi dibagi menjadi 2 kata, yaitu 're' yang artinya kembali dan 'animasi' yang berarti 'gerak' atau 'hidup'. Maka ilmu anestesi dan reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa, baik rasa nyeri, takut, dan rasa tidak nyaman yang lain sehingga pasien nyaman dan ilmu yang mempelajari tatalaksana untuk menjaga/mempertahankan hidup dan kehidupan pasien selama operasi akibat obat anestesia dan mengembalikannya seperti keadaan semula (Mangku, 2010).I.3.2. Ruang lingkupRuang lingkup pelayanan medis yang dicakup oleh cabang ilmu anestesi dan reanimasi meliputi usaha penanggulangan nyeri dan stress emosional, usaha kedokteran gawat darurat, dan usaha kedokteran perioperatif (Mangku,2010).

I.3.3. Langkah baku

Langkah baku yang selalu digunakan dalam memberikan pelayanan anestesia pada pasien yang akan dilakukan prosedur pembedahan ataupun prosedur diagnosis antara lain :

a. Evaluasi pra anestesia dan reanimasib. Persiapan pra anestesia dan reanimasic. Anestesia dan reanimasi

1). Induksi

2). Pemeliharaan (maintenance).

3). Pemulihan (recovery)d. Pasca anesthesia

Dalam tindakan anestesia yang memadai, meliputi tiga komponen yang sering disebut trias anestesia, yaitu hipnotik, analgesia, dan relaksasi otot.e. Jenis-jenis pemberian anestesia

1). Anestesia umum (general anesthesia) Batasan dikatakan general anestesi adalah suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat anestesia. Teknik anestesi umum ada tiga macm, yaitu anestesi umum intravena, anestesi umum inhalasi, anestesi imbang.2). Anestesia regional (regional ansteshia)3). Anestesia local (local anestesia)I.4. Penatalaksanaan Anestesi

I.4.1 Penilaian Preoperatif

Selain penilaian anestesi rutin, perhatian terutama di fokuskan pada fungsi organ dalam khususnya jantung dan paru-paru.Indikator yang terbaik bahwa pasien menderita penyakit sistemik adalah riwayat mediknya, sehingga perlu diteliti mengenai riwayat penyakitnya. Pada pemeriksaan fisik sering didapatkan hanya minimal saja yang didapatkan. Pada kasus ini tidak bisa diukur tekanan darah pasien akibat peralatan yang kurang memadai dan pasien adalah anak-anak.

Pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk pasien yang akan melakukan operasi. Hal tersebut untuk menyiapkan pasien dan mengantisipasi keadaan yang tidak menguntungkan terjadi. Urinalisis merupakan pemeriksaan laboratorium yang murah, informatif, dan tersedia. Hitung darah lengkap dapat juga diperlukan untuk mengetahui kondisi pasien. Pemeriksaan lain seperti rontgen thorax dan EKG diperlukan tergantung dari symptom yang ditunjukan pasien.

I.4.2. Obat-obat Premedikasi1.4.2.1. Antikolinergik (Atropin)

Mekanisme atropin menghambat aksi asetilkolin pada bagian parasimpatik otot halus, kelenjar sekresi dan SSP, meningkatkan output jantung, mengeringkan sekresi, mengantagonis histamin dan serotonin. Atropin diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah dan bronkus. Dosis atropin untuk premedikasi injeksi intravena sebesar 300 600 mcg , segera sebelum induksi anestesia. Untuk anak-anak 20 mcg/kg ( maksimal 600 mcg). Pemberian injeksi subcutan atau intramuscular 300 600 mcg 30 60 menit sebelum induksi dan untuk anak-anak 20 mcg/kg (maksimal 600 mcg).

1.4.2.2. Obat Penenang (transquillizer)

MidazolamMidazolam merupakan golongan benzodiazepin. Pemberian dosis rendah bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik. Dosis premedikasi diberikan secara intramuskular 0,2 mg/kg atau 5-10 mg peroral. Untuk induksi diberikan secara intravena dengan dosis 0,2-0,6 mg/kgBB (Mangku, 2010).

I.4.3. Obat-obat InduksiKetalar

Ketalar untuk induksi diberikan intravena dalam bentuk larutan 1%, dengan dosis 1-2/kgBB perlahan. Obat ini sering mrnimbulkan mimpi buruk dan halusinasi pada periode pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi. Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan tekanan tinggi pada intrakranial. Efek-efek tersebut dapat dikurangi dengan pemberian midazolam atau obat lain yang mempunyai khasiat amnesia sebelum diberikan ketalar (Mangku, 2010). I.4.4. Obat Anestesi Inhalasi

1.4.4.1. Dinitrogen Oksida (N2O/ gas gelak)

N2O merupakan gas yang tidak berwarna, berbau manis, tidak iritatif, tidak berasa, lebih berat dari pada udara, tidak mudah terbakar/meledak dan tidak bereaksi dengan soda lime absorber (pengikat CO2). Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N2O:O2 yaitu 60%:40%, 70%:30%, dan 50%:50%. Dosis untuk mendapatkan efek analgesik digunakan dengan perbandingan 20%;80%, untuk induksi 80%:20%, dan pemeliharaan 70%:30%.

1.4.4.2. Sevofluran

Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk induksi inhalasi, induksinya enak dan cepat terutama pada anak. Sevofluran dikemas dalam bentuk c