Referat Tonsilektomi Dr Yus

  • View
    101

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

cdsfsfsffs

Text of Referat Tonsilektomi Dr Yus

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANAFakultas Kedokteran

REFERATTeknik Invasif Operatif pada Tonsilitis

Pembimbing :dr. Yuswandi Affandi, Sp. THT-KLdr. Tantri Kurniawati,Sp. THT-KL, M.KesDisusun Oleh :Fransisca Hilda Carolina Pratiwi ( 112014222 )

RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANGILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKANKEPALA DAN LEHERKEPANITERAAN KLINIKPeriode 4 Mei 2015 s/d 6 Juni 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada TUHAN yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyusun referat ini dengan baik dan benar serta tepat waktunya. Didalam referat ini, penulis akan membahaskan mengenai fraktur maxilofacial.Referat ini telah dibuat dengan pencarian melalui buku-buku rujukan dan juga penelusuran situs medikal serta telah mendapatkan beberapa bantuan dari pelbagai pihak untuk membantu dalam menyelesaikan tantangan dan hambatan selama proses mengerjakan referat ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini.Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada referat ini. Oleh karena itu, penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang dapat membangun nilai kerja penulis ini.Kritikan yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan referat ini selanjutnya.Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Akhir kata semoga referat ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Karawang, 13 Mei 2015

Penulis

Daftar isiKATA PENGANTAR 2DAFRAT ISI 3BAB I PENDAHULUAN 4BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Tonsilektomi 62.2 Epidemiologi62.3 Indikasi tonsilektomi 72.3.1 Indikasi Absolut 72.3.2 Indikasi Relatif 82.4 Kontraindikasi Tonsilektomi 92.5 Pelaksanaan bedah tonsilektomi 102.5.1 Gullotine 102.5.2 Teknik Diseksi 112.5.3 Electrosurgery 122.5.4 Radiofrekuensi 132.5.5 Skalpel Harmoni 132.5.6 Coblation 142.5.7 Intracapsular Parsial Tonsilectomy 152.5.8 Laser ( CO2-KTP ) 152.6 Adenoidektomi 16BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 18DAFTAR PUSTAKA 19BAB I PENDAHULUANTonsilektomi merupakan tindakan pembedahan tertua, berupa tindakan pengangkatan jaringan tonsila palatina dari fossa tonsilaris. Teknik tonsilektomi terus mengalami perkembangan, tahun 1827 tonsil diangkat menggunakan guillotine, pada saat itu dinamakan Primary enucleation, pertama kali digunakan oleh Physick. Tahun 1867, Meyer menggunakan pisau berbentuk lingkaran, mengangkat tonsila adenoid melalui cavitas nasi, pada pasien yang menderita penurunan pendengaran dan sumbatan hidung. Pada tahun 1910 Wilis dan Pybus melaporkan pengangkatan tonsil lengkap dengan kapsulnya. Pada tahun 1912, Sluder menemukan alat untuk mengambil tonsil sehingga keberhasilan pengambilan tonsil lengkap dengan kapsulnya mencapai 99,6 %. Teknik tonsilektomi lain terus dikembangkan seperti elektrokauter ditujukan untuk mengurangi terjadinya efek yang tidak diharapkan dari tonsilektomi.1Kontroversi seputar tonsilektomi telah lama terjadi, meskipun demikian di bidang THT tonsilektomi merupakan tindakan terbanyak dan biasa dilakukan.Tonsilektomi dengan atau tanpa adenoidektomi dilakukan sering dalam usaha untuk mengendalikan penyakit faring berulang, obstruksi jalan nafas atas, dan otitis media kronis. Indikasi absolut dilakukan tonsilektomi adalah timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan nafas yang kronis, hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindrome apnea waktu tidur, hipertrofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat badan penyerta, abses peritonsilar berulang atau abses yang meluas pada ruang sekitarnya.diskrasia darah, ketidakmampuan yang umum atau kegagalan untuk tumbuh, tonus otot yang lemah, sinusitis. Kontraindikasi untuk dilakukan tonsilektomi adalah infeksi pernafasan bagian atas yang berulang, infeksi sistemik atau kronis, demam yang tidak diketahui penyebabnya, pembesaran tonsil tanpa gejala-gejala obstruksi, rinitis alergika, asma, Pengobatan tonsilitis kronik sangat sulit dan lazim dilakukan tonsilektomi. Tonsilektomi dianggap sebagai tindakan yang kecil, namun dapat menimbulkan komplikasi baik durante maupun postoperasi, baik berupa abses paru dan pneumonitis yang diakibatkan aspirasi darah dan debris atau infeksi yang ada sebelumnya maupun perdarahan. Disamping itu tonsilektomi dapat menimbulkan berbagai masalah dan beresiko menimbulkan nyeri pasca tonsilektomi dan infeksi.1Adenoidektomi adalah tindakan bedah untuk membuang hipertrofi adenoid yang menyebabkan obstruksi. Indikasi adenoidektomi adalah obstruksi jalan nafas bagian atas kronis dengan akibat gangguan tidur, kor pulmonale atau sindrom apne waktu tidur, nasofaringitis purulen kronis walaupun penatalaksanaan medik adekuat, adenoiditis kronis atau hipertrofi adenoid berhubungan dengan produksi dan persistensi cairan telinga tengah.Frekuensi tonsilektomi dan adenoidektomi di Inggris tahun 1987-1993 telah dilakukan 70.000 - 90.000 tonsilektomi dan adenoidektomi per tahun. Di Skotlandia antara tahun 1990 1996 terjadi penurunan jumlah adenotonsilektomi, angka tonsilektomi pada anak menurun dari 602 per 100 000 menjadi 511 per 100 000, 44 % perempuan dan 54% dengan adenoidektomi. Di Amerika Serikat tonsilektomi dilakukan sampai 1.500.000 pada tahun 1970 dan 286.000 menjalani adenotonsilektomi, sedangkan tahun 1985 dilakukan 400.000 tonsilektomi. 1

BAB IIPEMBAHASAN2.1 Definisi TonsilektomiTonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil palatina baik unilateral maupun bilateral. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.2 Adapun pengertian lain yang menyebutkan bahwa tonsilektomi adalah pembedahan eksisi tonsil palatina untuk mencegah tonsilitis yang berulang. Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman, namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya. Di AS karena kekhawatiran komplikasi, tonsilektomi digolongkan pada operasi mayor. Di Indonesia, tonsilektomi digolongkan pada operasi sedang karena durasi operasi pendek dan teknik tidak sulit.

Gambar 1. TonsilitisDiunduh dari: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/84/Throat_with_Tonsils_0011J.jpeg pada tanggal 21 Mei 2015 pukul 13.50

2.2 EpidemiologiPada Amerika operasi tonsilektomi masih merupakan operasi yang paling sering dikerjakan pada anak. Pada tahun 1959, 1,4 juta tonsilektomi dikerjakan pada Amerika Serikat. Pada tahun 1987, jumlah operasi yang dikerjakan menurun hingga 260.000. Indikasi operasi berubah dari indikasi karena infeksi, menjadi karena obstruksi jalan nafas.3 Di Indonesia, data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi atau tonsiladenoiktomi belum ada. Namun, data yang didapatkan dari RSUPNCM selama 5 tahun terakhir (1999-2003) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah operasi tonsilektomi. Fenomena ini juga terlihat pada jumlah operasi tonsiloadenoidektomi dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003 (152 kasus).2 2.3 Indikasi TonsilektomiTonsilektomi atau lebih populer dikenal dengan istilah operasi amandel, telah dikenal oleh masyarakat awam sejak dahulu, dan sejak diperkenalkan tonsilektomi dengan cara Guillotine (1828), kecenderungan melakukan pembedahan ini untuk menyembuhkan berbagai penyakit saluran napas atas semakin meningkat. Tonsilektomi biasanya dilakukan pada dewasa muda yang menderita episode ulangan tonsilitis, selulitis peritonsilaris, atau abses peritonsilaris. Tonsilitis kronis dapat menyebabkan hilangnya waktu bekerja yang berlebihan. Anak-anak jarang menderita tonsilitis kronis atau abses peritonsilaris. Paling sering, mereka mengalami episode berulang tonsilitis akut dan hipertrofi penyerta. Beberapa episode mungkin disebabkan oleh virus atau bakteri. Diskusi kemudian mengenai kapan saat atau setelah berapa kali episode tindakan pembedahan dibutuhkan. Pedoman-pedoman yang biasanya dapat diterima sekarang ini ditunjukkan pada bagian ini.4

2.3.1 Indikasi AbsolutIndikasi-indikasi untuk tonsilektomi yang absolut adalah berikut ini:1. Timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan napas yang kronis2. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea waktu tidur yang menyebabkan:a. Obstruksi jalan napas (sleep apnea),b. Kesulitan menelan, danc. Gangguan dalam berbicara3. Hipertrofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat badan penyerta4. Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan (limfoma), terutama pada tonsil yang membesar secara unilateral patut dicurigai sebagai limfoma pada anak-anak dan karsinoma epidermoid pada orang dewasa. 5. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya. Pada anak anak, tonsilektomi dilakukan 4-6 minggu setelah abses sudah diberikan perawatan. Pada orang dewasa, serangan kedua dari abses peritonsilernya akan menjadi indikasi yang absolut6. Infeksi tenggorokan yang rekuren. Ini merupakan indikasi yang paling umum. Infeksi yang rekuren didefinisikan sebagai:a.Tujuh atau lebih episode dalam 1 tahun, ataub.Lima atau lebih episode dalam 2 tahun, atauc.Tiga episode per tahun dalam 3 tahun, ataud.Dua minggu atau lebih tidak mengikuti sekolah atau bekerja dalam 1 tahun7. Tonsilitis. Terutama tonsitis yang menyebabkan kejang demam.5,62.3.2 Indikasi RelatifSeluruh indikasi lain untuk tonsilektomi dianggap relatif. Indikasi yang paling sering adalah episode berulang dari infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A. Biakan tenggorokan standar tidak selalu menunjukkan organisme penyebab dari episode faringitis yang sekarang. Biakan permukaan tonsil tidak selalu menunjukkan flora yang terdapat di dalam tonsil. Demikian juga, keputusan untuk mengobati dengan antibiotik tidak selalu b