Click here to load reader

Refrat Tht Fatma Tonsilektomi

  • View
    309

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Refrat Tht Fatma Tonsilektomi

PEMBIMBING : Dr. Diana Rosalina, Sp. THT

PENYUSUN : Citra Cesilia 030.05.059

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI PERIODE 13 JULI 14 AGUSTUS 2009 JAKARTA LEMBAR PENGESAHAN

Refrat yang berjudul: TONSILEKTOMI Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT di RSUP Fatmawati.

Jakarta, Agustus 2009 Pembimbing

Dr. Diana Rosalina, Sp. THT

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahNya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian Telinga Hidung dan Tenggorok (THT) Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini yaitu dr. Diana Rosalina, Sp.THT, selaku pembimbing dalam penyusunan makalah dan kepada orang tua yang tiada hentinya memberikan doa dan dorongan semangat kepada saya. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, Agustus 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN BAB II. EMBRIOLOGI, ANATOMI, DAN FISILOGI TONSIL 2.1 Embriologi 2.2 Anatomi 2.2.1 Tonsil palatine 2.2.2 Tonsil faringeal 2.3 Fisiologi tonsil BAB III. TONSILEKTOMI 3.1 Definisi 3.2 Epidemiologi 3.3 Indikasi tonsilektomi 3.4 Kontraindikasi 3.5 Persiapan operasi 3.5.1 Penilaian operasi 3.5.1.1 Anamnesis dan Rekam medic 3.5.1.2 Pemeriksaan fisik 3.5.1.3 Pemeriksaan penunjang 3.5.1.4 Inform Consent

3.5.1.5 Persiapan operasi 3.5.2 Penilaian praanestesia 3.5.2.1 Anamnesis dan evaluasi rekam medis 3.5.2.2 Pemeriksaan fisik 3.5.2.3 Tes praoperasi 3.6 Tehnik operasi 3.6.1 Guillotine 3.6.2 Tehnik diseksi 3.6.2.1 Electrosurgery (Bedah listrik) 3.6.2.2 Radiofrekuensi 3.6.2.3 Skalpel harmonic 3.6.2.4 Coblation 3.6.2.5 Intracapsular partial tonsillectomy 3.6.2.6 Laser (CO2-KTP) 3.7 Penyulit 3.8 Komplikasi 3.8.1 Komplikasi anestesi 3.8.2 Komplikasi bedah 3.8.2.1 Perdarahan 3.8.2.2 Nyeri 3.8.2.3 Komplikasi lain

3.9 Terapi pasca tonsilektomi 3.9.1 Perdarahan pasca tonsilektomi 3.9.2 Obstruksi saluran nafas post operasi 3.9.3 Observasi pasca operasi di Ruang pemulihan 3.9.4 Perawatan pasca operasi 3.9.4.1 Diet 3.9.4.1 Medikamentosa BAB IV KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUANTonsilektomi merupakan tindakan pembedahan tertua, berupa tindakan pengangkatan jaringan tonsila palatina dari fossa tonsilaris. Tonsilektomi

didiskripsikan pertama kali di India pada tahun 1000 SM. Pada tahun 30 SM, 2 Celsus melaporkan tindakan tonsilektomi untuk pertama kali, menggunakan scalpel untuk eksisi tonsil, namun pengangkatan ini belum dapat maksimal, karena belum semua jaringan berhasil diangkat. Selanjutnya Meyer (1867) melaporkan kasus

adenotonsilektomi pada wanita 20 tahun yang mengeluh hidung tersumbat dan pendengaran menurun. Crow (1917) melaporkan tonsilektomi pada 1000 pasien dengan mouth gauge, yang sekarang dikenal sebagai Crowe-Davis mouth gauge.2 Teknik tonsilektomi terus mengalami perkembangan, tahun 1827 tonsil diangkat menggunakan guillotine, pada saat itu dinamakan Primary enucleation, pertama kali digunakan oleh Physick. Tahun 1867, Meyer menggunakan pisau berbentuk lingkaran, mengangkat tonsila adenoid melalui cavitas nasi, pada pasien yang menderita penurunan pendengaran dan sumbatan hidung. Pada tahun 1910 Wilis dan Pybus melaporkan pengangkatan tonsil lengkap dengan kapsulnya. Pada tahun 1912, Sluder menemukan alat untuk mengambil tonsil sehingga keberhasilan pengambilan tonsil lengkap dengan kapsulnya mencapai 99,6 %. Teknik tonsilektomi lain terus dikembangkan seperti elektrokauter ditujukan untuk mengurangi terjadinya efek yang tidak diharapkan dari tonsilektomi.2 Kontroversi seputar tonsilektomi telah lama terjadi, meskipun demikian di bidang THT tonsilektomi merupakan tindakan terbanyak dan biasa dilakukan.

Pengaruh rangsangan bakteri yang terus menerus terhadap tonsil pada tonsilitis kronik menyebabkan sistem imunitas lokal tertekan karena menurunnya respon imunologis limfosit tonsil dan perubahan epitel akan mengurangi reseptor antigen. Hal ini menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi tonsil sebagai gatekeeper dan respon imunologi tonsil terhadap antigen.2 Pengobatan tonsilitis kronik sangat sulit dan lazim dilakukan tonsilektomi. Tonsilektomi dianggap sebagai tindakan yang kecil, namun dapat menimbulkan komplikasi baik durante maupun postoperasi, baik berupa abses paru dan pneumonitis yang diakibatkan aspirasi darah dan debris atau infeksi yang ada sebelumnya maupun perdarahan. Disamping itu tonsilektomi dapat menimbulkan berbagai masalah dan beresiko menimbulkan nyeri pasca tonsilektomi dan infeksi.2 Tonsilektomi sebagai tindakan operasi terbanyak di bidang THT belum mempunyai keseragaman indikasi. Kajian manfaat tonsilektomi terhadap kejadian sakit tenggorok, kualitas hidup, keuntungan ekonomi, dan gambaran imunologis tonsil belum dibahas secara mendalam. 1.1 KEKERAPAN Frekuensi tonsilektomi dan adenoidektomi di Inggris tahun 1987-1993 telah dilakukan 70.000 - 90.000 tonsilektomi dan adenoidektomi per tahun. Di Skotlandia antara tahun 1990 1996 terjadi penurunan jumlah adenotonsilektomi, angka tonsilektomi pada anak menurun dari 602 per 100 000 menjadi 511 per 100 000, 44 % perempuan dan 54% dengan adenoidektomi. Di Amerika Serikat tonsilektomi dilakukan sampai 1.500.000 pada tahun 1970 dan 286.000 menjalani

adenotonsilektomi, sedangkan tahun 1985 dilakukan 400.000 tonsilektomi. 2

Di Indonesia sampai saat ini jumlah kasus tonsilektomi masih sulit didapatkan. Di RSUP Dr Sardjito dari catatan medis tonsilektomi merupakan tindakan terbanyak dengan jumlah lebih dari separoh dari seluruh tindakan pembedahan di bagian THT. Data pada tahun 1996 dan tahun 1997 sejumlah 107 tindakan, tahun 1998 ada 102 tindakan, dan tahun 1999 dilakukan 94 tindakan. Angka tonsilektomi tahun 2003 tercatat sebanyak 59 kasus, tahun 2004 hingga bulan Agustus sebanyak 45 kasus, rentang umur terbanyak 5-15 tahun, indikasi tersering adalah tonsillitis kronis. Dari data di atas terlihat angka tonsilektomi dari tahun ke tahun mengalami

penurunan,yang kemungkinan disebabkan indikasi tonsilektomi makin ketat.2

BAB II EMBRIOLOGI, ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL

2.1 Embriologi Pada permulaan pertumbuhan tonsil, terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut, yang kemudian ditutupi epitel. Bagian yang mengalami invaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian, sehingga terjadi kripta. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 hingga ke 6 kehidupan janin, berasal dari epitel permukaan. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada bulan ke 6, yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. Kapsul dan jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim, dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil. 1

2.2 Anatomi Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring. Bagian terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). Unsur yang lain adalah tonsil lingual, gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang

tersebar dalam fosa Rosenmuller, di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius. 1

Gambar 2.2 anatomi Tonsil Diunduh dari http://nhsblogdoc.blogspot.com/2008/12/tonsillectomy-another-reasonto-pause.html pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 20.30

Gamnabar 2.2 Anantomi Tonsil Diunduh dari http://dic.academic.ru/pictures/enwiki/71/Gray994-adenoid.png pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 20.45 2.2.1 Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh: 1. Lateral m. konstriktor faring superior 2. Anterior m. palatoglosus 3. Posterior m. palatofaringeus

4. Superior palatum mole 5. Inferior tonsil lingual Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat, folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan linfoid).1 2.2.1.1 Fosa Tonsil Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut, mulai dari palatum mole dan berakhir di sisi lateral lidah. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah bawah meluas hingga dinding lateral esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus hati-hati agar pilar posterior tidak terluka. Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada palatum mole, ke arah bawah terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring. 2.2.1.2 Kapsul Tonsil Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat, yang disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul ini, tetapi para klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan i