Click here to load reader

Indikasi Tonsilektomi

  • View
    244

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

t

Text of Indikasi Tonsilektomi

TONSILITISPendahuluanTonsilitis adalah peradangan tonsil palatine yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu : tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatine (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/Gerlachs tonsil)Penyebaran infeksi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak. Tonsilitis terbagi kepada 3 yaitu tonsillitis aku, tonsillitis membranosa dan tonsillitis kronis.IsiTONSILITIS AKUTa) Tonsillitis viralGejala tonsillitis viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorokan. Penyebab yang paling sering adalah virus Epstein Barr. Haemophilus influenzae merupakan penyebab tonsillitis akut yang supuratif. Jika terjadi infeksi virus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien.Terapi Istirehat, minum yang cukup, analgetika, dan antivirus diberikan jika gejala berat.

b) Tonsillitis bakterialTonsilitis akut adalah radang akut pada tonsil akibat infeksi kuman.Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta hemolitik yang dikenali sebagai strept throat, pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus.Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit polimorfonuklear, bakteri yang mati dan epitel tonsil yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning. Tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Tonsilitis akut dengan detritus yang menyatu lalu membentuk kanal-kanal disebut tonsilitis lakunaris.Detritus dapat melebar dan membentuk membran semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil.Gejala dan tandaMasa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda-tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorokan dan nyeri waktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (reffered pain) melalui saraf N. glosofaringeus (N. IX). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus berbentuk folikel, lacuna atau tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan.Terapi Antibiotik spectrum lebar penisilin, eritromisin. Antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan.KomplikasiPada anak sering menimbulkan komplikasi otitis media akut, sinusitis, abses peritonsil (Quincy throat), abses parafaring, bronchitis glomerulonifritis akut, miokarditis, arthritis serta septikemia diakibat infeksi V. Jugalaris interna (Sindrom Lemirre)

Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernapas melalui mulut, tidur mendengkur (ngorok), gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS).TONSILITIS MEMBRANOSAa) Tonsilitis difteriPenyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positif pleomorfik penghuni saluran pernapasan atas yaitu hidung, faring dan laring. Tonsillitis difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini. Gejala dan tandaTerbagi kepada 3 golongan utama yaitu:

i) Gejala umum Kenaikan suhu tubuh biasanya subfebris Nyeri kepala Tidak nafsu makan Badan lemah Nadi lambat Nyeri menelanii) Gejala local Tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk satu membrane semu. Membrane meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring, laring, trakea, dan bronkus dan dapat menyumbat saluran napas. Membrane melekat erat pada dasarnya, sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Bila infeksi berjalan terus, kelenjar limfe leher akan membengkak menyerupai leher sapi (bull neck) atau disebut juga Burgemeesters halsiii) Gejala akibat eksotoksin Kerusakan jaringan tubuh Miokarditis sampai decompensatio cordis Kerusakan saraf cranial Kelumpuhan otot palatum Kelumpuhan otot-otot pernapasan Albuminuria pada ginjalDiagnosisDiagnosis tonsillitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dan permukaan bawah membrane semu dan didapatkan kuman Corynebacterium diphteriae.TerapiAnti Difteri Serum(ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit.Antibiotik penisilin atau eritromisin 25-50 mg per kg berat badan dibagi dalam 3dosis selama 14 hari.Kortikosteroid 1,2 mg per kg berat badan per hari. Antipiretik untuk simtomatis. Karena penyakit menular, pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu.Komplikasi Laryngitis difteri dan berlangsung cepat, membrane semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda usia pasien makin cepat timbul komplikasi ini. Miokarditis mengakibatkan payah jantung atau decompensasio cordis Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata untuk akomodasi, otot faring serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan menelan, suara parau dan kelumpuhan otot-otot pernapasan Albuminuria akibat komplikasi ke ginjalb) Tonsillitis septicPenyebab dari tonsillitis ini adalah Streptokokus hemolitikus yang terdapat dalam susu sapi sehingga dapat timbul epidemic. Oleh karena itu perlu adanya pasteurisasi sebelum mengkonsumsi susu sapi tersebut. c) Angina Plaut Vincent (stomatitis ulsero membranosa)Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan hiegine mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C.GejalaPenyakit ini biasanya ditandai dengan demam sampai 39o celcius, nyeri kepala, badan lemah, dan terkadang terdapat gangguan pencernaan. Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi, dan gusi mudah berdarah. PemeriksaanMukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau dan kelenjar submanibula membesar.

TerapiMemperbaiki hygiene mulut, antibiotika spectrum lebar selama 1 minggu, juga pemberian vitamin C dan B kompleks. d) Penyakit kelainan darah Tidak jarang tanda pertama leukimia akut, angina agranulositosis dan infeksi mononukleosis timbul di faring atau tonsil yang tertutup membran semu. Kadang-kadang terdapat perdarahan selaput lendir mulut dan faring dan pembesaran kelenjar submandibula.Leukimia akut Gejala pertama sering berupa epistaksis, perdarahan di mukosa mulut, gusi dan di bawah kulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan. Tonsil membengkak ditutupi membran semu tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebat di tenggorok.Angina agranulositosis Penyebab ialah akibat keracunan obat dari golongan amidopirin, sulfa, dan arsen. Pada pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan faring dan di sekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia dan saluran cerna.Infeksi mononukleosisPada penyakit ini terjadi tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral. Membran semu yang menutupi ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan. Terdapat pembesaran kelenjar limfe leher ketiak dan regio inguinal. Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit mononukleosis dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain ialah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba ( reaksi Paul Bunnel )

TONSILITIS KRONIK Bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut , namun terkadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram negatif. Faktor disposisinya adalah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higine mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat.PatologiKarena proses radang berulang maka epitel mukosa dan jarinagn limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus.proses ini meluas sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan disekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa submandibula.Gejala dan TandaPada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisis oleh dendrites. Rasa ada yang mengganjal di tenggorok, dirasakan kering di tenggorok dan napas berbau.TerapiTerapi local ditujukan pada hygiene mulut dengan berkumur atau obat isap.KomplikasiRadang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, arthritis, miositis, nefritis,uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.Derajat Pembesaran TonsilT0: Post tonsilektomiT1: Tonsil berada dalam fossa tonsilT2: Tonsil sudah melewati fossa tonsil tapi masih berada diantara garis khayal yang terbentuk antara fossa tonsil dan uvula ( Paramedian line )T3: Tonsil sudah melewati Paramedian line dan menyentuh uvulaT4 :Tonsil sudah melewati garis median Indikasi Tonsilektomi Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil.Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi tonsilektomi sudah tidak diperdeb

Search related