Askep Gerontik - Lansia dengan Hipertensi

  • View
    94

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg, atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi (Slamet Suyono, 2001 dan Arif Mansjoer, 2001).Hipertensi menurut WHO adalah hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.Menurut N.G. Yasmin A (1993) hipertensi adalah peningkatan dari tekanan sistolik standar dihubungkan dengan usia, tekanan darah normal adalah refleksi dari kardiak out put atau denyut jantung dan resistensi puerperal.Menurut Alison Hull (1996), hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah, hipertensi, berkaitan dengan kenaikan tekanan diastolik, dan tekanan sistolik atau kedua-duanya secara terus menerus.

Text of Askep Gerontik - Lansia dengan Hipertensi

MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIKAsuhan Keperawatan Gerontik pada Lansia dengan HipertensiDiajukan untuk memenuhi tugas GerontikDosen Pembimbing: Devin Prihar Ninuk, S.Kep, Ns.

Disusun Oleh:

Fatin Furoidah(7312002)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATANFAKULTAS ILMU KESEHATANUNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUMJl. Rejoso Kompleks Ponpes Darul Ulum Peterongan JombangTahun Ajaran 2014-2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah asuhan keperawatan, yang berjudul Asuhan Keperawatan Gerontik pada Lansia dengan Hipertensi. Penyusunan makalah asuhan keperawatan ini merupakan hasil dari pengkajian yang telah penulis lakukan di posyandu lansia, yang juga merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Gerontik di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Jombang. Dalam Penyusunan makalah asuhan keperawatan ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak penulis harapkan, demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada : 1. Devin Prihar Ninuk, S.Kep, Ns. selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Gerontik. 2. Rekan-rekan S1 Keperawatan Semester 6. 3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya dalam memajukan pendidikan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, amin. Jombang, 30 Juli 2015 Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPANiKATA PENGANTARiiDAFTAR ISIiiiBAB I11.1Latar Belakang11.2Rumusan Masalah21.3Tujuan2BAB II32.1Pengertian32.2Etiologi32.3Manifestasi Klinis42.4Klasifikasi52.5Patofisiologi52.6Pencegahan62.7Pemeriksaan Penunjang72.8Penatalaksanaan7BAB III103.1Pengkajian103.2Analisis Data, Diagnosa Keperawatan dan Intervensi18BAB IV214.1Kesimpulan21DAFTAR PUSTAKA22

20

BAB IPENDAHULUAN

1.1Latar BelakangDi Indonesia, hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan oleh dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang ditimbulkannya (Slamet Suyono, 2001). Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain (Slamet Suyono, 2001). Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hanya 50% dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya, dan dari golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya. Oleh karena itu, upaya penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas. Banyak penelitian dilakukan terhadap hipertensi primer, baik mengenai patogenesis maupun tentang pengobatannya. Menurut WHO (1978), batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau di atas 160/95 dinyatakan sebagai hipertensi. Tekanan darah diantara normotensi dan hipertensi disebut borderline hypertension. Batasan tersebut tidak membedakan jenis kelamin dan usia, sedangkan batasan hipertensi yang memperhatikan perbedaan usia dan jenis kelamin diajukan oleh Kaplan (1985) sebagai berikut : pria yang berusia < 45 tahun dinyatakan hipertensi jika tekanan darah pada waktu berbaring 130/90 mmHg atau lebih, sedangkan yang berusia > 45 tahun dinyatakan hipertensi jika tekanan darahnya 145/95 mmHg atau lebih. Wanita yang mempunyai tekanan darah 160/95 mmHg atau lebih dinyatakan hipertensi (Slamet Suyono, 2001).Berdasarkan latar belakang di atas dan pengkajian yang telah kami lakukan di Posyandu lansia Dsn. Beiji. Kami menemukan kasus yang sama, sehingga kami akan membahas bagaimana Asuhan Keperawatan Gerontik pada Lansia dengan Hipertensi dalam makalah ini.

1.2Rumusan Masalah1. Bagaimana konsep medis dari hipertensi?2. Bagaimana asuhan keperawatan lansia yang menderita hipertensi?

1.3 Tujuan 1. Tujuan UmumUntuk memahami tentang asuhan keperawatan pada lansia dengan hipertensi.2. Tujuan Khususa. Untuk mengetahui tentang konsep dasar teori penyakit hipertensi.b. Memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit hipertensi yang meliputi pengkajian sampai intervensi dan rasionalisasi.

BAB IIKONSEP MEDIS

2.1PengertianHipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg, atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi (Slamet Suyono, 2001 dan Arif Mansjoer, 2001).Hipertensi menurut WHO adalah hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.Menurut N.G. Yasmin A (1993) hipertensi adalah peningkatan dari tekanan sistolik standar dihubungkan dengan usia, tekanan darah normal adalah refleksi dari kardiak out put atau denyut jantung dan resistensi puerperal.Menurut Alison Hull (1996), hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah, hipertensi, berkaitan dengan kenaikan tekanan diastolik, dan tekanan sistolik atau kedua-duanya secara terus menerus.

2.2EtiologiPenyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan pada :a. Elastisitas dinding aorta menurunb. Katub jantung menebal dan menjadi kakuc. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasie. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :a. Faktor keturunanDari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensib. Ciri perseoranganCiri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:1. Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat)2. Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan)3. Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih)c. Kebiasaan hidupKebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :1. Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr)2. Kegemukan atau makan berlebihan3. Stress4. Merokok5. Minum alkohol6. Minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin)Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah Ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor, Vascular, Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol, Vaskulitis, Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf, Stroke, Ensepalitis, SGB, Obat obatan Kontrasepsi oral dan Kortikosteroid.

2.3Manifestasi KlinisAdapun gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi biasanya berupa: sakit kepala, pusing, mudah marah (emosi meningkat) susah tidur, rasa berat di tengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang, telinga berdengung, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran menurun.

2.4KlasifikasiHipertensi pada usia lanjut dibedakan atas: (Darmojo, 1999)Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu:a. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnyab. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lainKlasifikasiSistolik (mmHg)Diastolik (mmHg)

Normal tensiHipertensi borderlineHipertensi sedang dan beratHipertensi terisolasi< 140140-160> 180> 140< 9090-95> 105< 90

2.5PatofisiologiMekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

2.6Pencegahan Hal yang perlu diperhatikan penderita hipertensi sebagai tindakan pencegahan antara lain: diet rendah lemak, diet rendah garam, hindari makan daging kambing, durian, minuman beralkohol, melakukan olahraga secara teratur dan terkontrol, jauhi merokok, berhenti minum kopi, turunkan berat badan ke arah yang ideal, hindari stress, hindari penyerta seperti DM dan kolesterol tinggi.

2.7Pemeriksaan Penunjanga. Hemoglobin / hematocritUntuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor-factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.b. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjalc. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.d. Kolesterol dan trigliserid serum: Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)e. Pemeriksaan tiroid: Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensif. Asam urat: Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensig. Foto thorax: Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantungh. EKG: Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

2.8 Penatalaksanaan Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi:1. Terapi tanpa ObatTerapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi:a. Diet: diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :1. Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr2. Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh3. Penurunan berat badan4. Penurunan asupan etanol5. Menghentikan merokokb. Latihan FisikLatihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu :Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x permingguc. Edukasi PsikologisPemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:1. Tehnik BiofeedbackBiofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.2. Tehnik relaksasiRelaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks3. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.2. Terapi dengan ObatTujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint National Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure, Usa, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.Pengobatannya meliputi:1. Step 1Obat pilihan pertama: diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor.2. Step 2Alternatif yang bisa diberikan: Dosis obat pertama dinaikkan,Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama, Ditambah obat ke-2 jenis lain, dapat berupa diuretika, beta blocker, Ca antagonis, Alpablocker, clonidin, reserphin, vasodilator.3. Step 3 Alternatif yang bisa ditempuh: Obat ke-2 diganti, Ditambah obat ke-3 jenis lain4. Step 4 Alternatif pemberian obatnya: Ditambah obat ke-3 dan ke-4, Re-evaluasi dan konsultasi, Follow Up untuk mempertahankan terapi.

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN

3.1Pengkajian1. Identitas KlienNama: Ny. KUmur : 63 thAlamat: Dsn. BeijiPendidikan : Tidak sekolahJenis Kelamin: PerempuanAgama: Islam

2. Data KeluargaNama: An. RHubungan : CucuPekerjaan: PelajarAlamat: Dsn. Beiji

3. STATUS KESEHATAN SEKARANGKeluhan Utama: Ny. K sering mengeluh pusing, pusing dirasakan setiap hari saat bangun tidur, pusing di rasakan seperti nyut-nyutan dan hilang timbul. Selain pusing Ny. K juga mengatakan terkadang mengalami nyeri pada persendiannya, yang akan terasa berat jika melakukan aktivitas dan akan menghilang apabila Ny.K beristirahat.

Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan: Ny.K selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia setiap bulannya, untuk mengetahui keadaan dari tubuhnya, yang mana Ny.K memiliki riwayat hipertensi sejak 9 tahun yang lalu. Setelah melakukan pemeriksaan di posyandu, Ny.K akan mengonsumsi obat hipertensi disaat kondisinya kurang baik.

Obat-obatan: Obat yang dikonsumsi Ny.K biasanya adalah captropil untuk menurunkan tekanan darahnya. Sedangkan untuk nyeri yang dialaminya, Ny.K hanya memberikan pijatan saja pada persendian dan sekitar persendiannya.

4. AGE RELATED CHANGES (PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA)FUNGSI FISIOLOGIS1. Kondisi UmumNy. K tampak lemas dan kurang bersemangat, mengalami perubahan berat badan kurang lebih 2kg. Pada malam hari, Ny.K susah tidur atau mengalami insomnia. Tekanan darah dari hasil pemeriksaan adalah 170/110 mmHg.2. IntegumenWarna kulit sawo matang, kulit tampak keriput, dan kulit Ny. K tampak kering. Sedangkan untuk kuku Ny. K berwarna transparan, ada beberapa kotoran pada kuku kaki, dan tidak ada lesi disekitar kuku.3. HematopoeticNy. K tidak pernah mengalami perdarahan, pembengkakan, dan anemi. Tidak ada keluhan yang dirasakan oleh Ny. K. 4. KepalaNy.K sering mengalami sakit kepala dan pusing, yang bisa terjadi karena hipertensi yang dialaminya. Tidak mengalami gatal pada kulit kepala atau permasalahan lainnya di kepalanya.5. MataFungsi penglihatan berkurang, sedikit kabur. Tetapi Ny.K tidak memeriksakan matanya maupun tidak memakai kaca mata. Penurunan penglihatan, pada mata bagian kanan lebih parah. 6. TelingaTelinga Ny. K tidak kami kaji, karena saat itu Ny. K menggunakan kerudung yang tidak memungkinkan untuk memintanya untuk melepas. 7. Hidung sinusNy. K tidak merasa ada keluhan yang dialami. Saat flu, hidungnya mulai berair. Selama Ny. K kondisinya baik, tidak ada permasalahan yang dialami pada hidungnya. Untuk kebersihan hidung, Ny. K cukup baik menjaga kebersihannya.8. Mulut, tenggorokanTidak memiliki gigi palsu, dan tidak mengalami sakit gigi. Saat makan merasa baik-baik saja, akan tetapi untuk makanan yang teksturnya keras tidak kuat karena ada beberapa gigi yang sudah lepas. Nafas tidak berbau.9. LeherTidak ada permasalahan pada leher, baik kekakuan, adanya massa, ataupun nyeri tekan10. PernafasanNy. K mengalami batuk dan beberapa penyakit pernafasan ringan yang diperngaruhi faktor suhu dan lingkungan (musiman). Tidak ada riwayat asma yang penyakit pernafasan lainnya.11. KardiovaskulerNy. K memiliki riwayat hipertensi, dan Ny. K selalu mengontrol tekanan darahnya sendiri. Terkadang Ny. K merasakan nyeri pada bagian dada. Selain hipertensi, Ny. K tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler lainnya.12. GastrointestinalNy. K sering merasa tidak nafsu makan, pola makan kurang teratur dan jumlahnya sedikit. Frekuensi BAB juga tidak teratur setiap hari. Perubahan berat badan pada Ny.K juga sering terjadi, kisaran 48kg-50kg.13. PerkemihanTidak ada keluhan nyeri saat berkemih, pola BAK teratur dengan frekuensi 6-8x dalam 24 jam. Masih mampu mengontrol/menahan dalam berkemih.14. ReproduksiTidak ada riwayat gangguan reproduksi, menopause sejak 7 tahun yang lalu.15. MusculoskeletalTerkadang Ny. K mengalami nyeri sendi, dan kekakuan sendi. Tidak ada riwayat fraktur. Dan masih mampu menjalankan aktifitas sehari-hari.16. PersyarafanTidak ada gangguan dalam system persyarafan Ny. K.5. POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUALPsikososialHubungan klien dengan lansia yang lain baik, terbukti Ny. K suka ngobrol dengan lansia yang lain dan dengan para tetangga. Ny. K tidak terlihat cemas ataupun depresi, meskipun tinggal serumah hanya dengan cucunya, sementara anak-anaknya sudah berpisah rumah. Dalam pengambilan keputusan sebuah masalah, Ny. K juga minta saran pada anaknya melalui telepon.

SpiritualMenurut penuturan Ny. K, Ny. K selalu melakukan sholat 5 waktu dan sering mengikuti sholat berjamaah di mushollah terdekat. Ny. K setiap hari mengaji Al-Quran sendiri, Ny. K juga suka melakukan pengajian dan tahlilan yang diadakan oleh masyarakat kampung. Ny.K yakin akan kematian, bahwa kematian itu rahasia Allah dan pasti akan terjadi. Dan Ny. K sudah merasa siap saat sewaktu-waktu dipanggil oleh Allah SWT. 6. LINGKUNGAN Kamar: Berdasarkan penjelasan Ny.K, rumahnya terdapat 3 kamar tidur. Pencahayaan bisa masuk melalui jendela yang ada, dan cukup untuk menerangi ruang kamar. Kamar mandi: Berdasarkan penjelasan Ny.K, lokasi kamar mandi berada di dalam rumah, dan melakukan pengurasan saat bak kamar mandi terlihat kotor bersama cucunya. Luar rumah: Berdasarkan penjelasan Ny.K, ada halaman depan rumah yang tidak terlalu lebar dan ada beberapa tanaman juga bunga.

7. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES1. Kemampuan ADLTingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barhel)NoKriteriaDengan bantuanMandiriSkor Yang Didapat

1.Makan-Minum51010Klien mampu makan sendiri, bahkan Ny.K yang memasak.

2.Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, sebaliknya5-101010Klien tidak menggunakan kursi roda, bisa berpindah sendiri.

3.Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, gosok gigi)055Klien mampu melakukan secara mandiri

4.Keluara masuk toilet (mencuci pakaian, menyeka tubuh, menyiram)51010Klien mampu mencuci pakaian sendiri

5.Mandi 055Klien mampu mandi sendiri, Frekwensi : 3 x sehari

6.Jalan di permukaan datar01010Klien mampu berjalan sendiri

7.Naik turun tangga51010Klien mampu naik turun tangga sendiri

8.Mengenakan pakaian51010Klien mampu mengenakan paiakan sendiri.

9.Kontrol bowel (BAB)51010Klien mampu untuk BAB sendiri

10.Kontrol bladder (BAK)51010Klien mampu untuk BAB sendiri

2. Aspek KognitifMMSE (Mini Mental Status Exam)No.Aspek KognitifNilai MaksimalNilai KlienKriteria

1.Orientasi53Klien mampu mengingat hari dan tahun. Namun untuk tanggal dan bulan klien tidak mengingatnya

2.Orientasi55Klien mampu menyebutkan tempat dimana dia tinggal sekarang.

3.Registrasi33Klien masih mampu mengenal semua benda-benda yang ada (Tas, Bulpoin, Hp).

4.Perhatian & Kalkulasi53Klien mampu perhitungan dalam masalah uang, untuk perhitungan yang lain, klien merasa kesulitan.

5.Mengingat33Klien masih mampu mengingat nama benda yang telah disebutkan di point ke-3

6.Bahasa97Klien masih memahami pembicaraan dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Madura.

Total Nilai3024

Interpretasi hasil: Klien tidak ada gangguan kognitif

3. Kecemasan, GDSPengkajian DepresiNo.PertanyaanJawaban

YaTdkHasil

1.Anda puas dengan kehidupan saat ini010

2.Andar merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan100

3.Anda merasa bahwa hidup anda hampa/kosong100

4.Anda sering merasa bosan100

5.Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu010

6.Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda100

7.Anda lebih merasa bahagia disepanjang waktu010

8.Anda sering merasakan butuh bantuan100

9.Anda lebih senang tinggal dirumah dariipada keluar melakukan suatu hal101

10.Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda100

11.Anda menenukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 010

12.Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda100

13.Anda merasa diri anda sangan energik/bersemangat011

14.Anda merasa tidak punya harapan100

15.Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda100

Jumlah2

Interpretasi hasil: Klien tidak diindikasikan depresi

4. Status NutrisiPengkajian determinan nutrisi pada lansia:No.IndikatorSkorPemeriksaan

1.Menderita sakit atau kondisi yang mengakibatkan perubahan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi 21Klien menderita penyakit hipertensi. Dan tidak mempengaruhi jumlah & jenis makanan, akan tetapi klien sering mengalami perubahan nafsu makan.

2.Makan kurang dari 2 kali dalam sehari31Klien makan 3x kali sehari, tapi sering juga 2x dalam sehari. Dan tidak pernah makan kurang dari 2x

3.Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu21Klien makan nasi, lauk-pauk. Untuk buah jarang, sedangkan susu tidak pernah

4.Mempunyai tiga/lebih kebiasaan mnum-minuman beralkohol setiap harinya20Klien tidak pernah meminum-minuman beralkohol

5.Mempunyai masalah dengan mulut atau giginya sehingga tidak dapat makan makanan yang keras21Gigi klien ada beberapa yang sudah tidak ada (lepas) sehingga kesulitan dalam makan makanan yang keras

6.Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk membeli makanan40Klien selalu mendapat jatah uang oleh anak-anaknya, sehingga selalu cukup untuk membeli kebutuhan makan.

7.Lebih sering makan sendirian10Klien selalu makan bersama cucunya, tapi jika cucu tidak berada di rumah, klien akhirnya makan sendiri.

8.Mempunyai keharusan menjalankan terapi minum obat 3 kali atau lebih setiap harinya10Klien tidak menjalankan terapi minum obat, hanya saat hipertensi klien kambu saja.

9.Mengalami pennurunan berat badan 5 kg dalam enam bulan terakhir20Penurunan / perubahan BB klien hanya berkisar 2 kg saja, tidak sampai 5 kg.

10.Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk belanja, memasak atau makan sendiri20Klien maish mampu melakukan aktifitas sendiri, dalam belanja, masak, dan makan sendiri.

Total Skor4

Interpretasi hasil: Klien dalam kondisi (Moderate nutritional risk)

3.2Analisis Data, Diagnosa Keperawatan Dan IntervensiDataDx. KeperawatanNOCNIC

KodeDiagnosisKodeHasilKodeIntervensi

Data Pendukung Masalah Kesehatan Lansia dengan Hipertensi

TTV: 170/110 Ny. K mengatakan bahwa ia sering merasa pusing dan nyeri tengkuk Frekuensi nyeri hilang timbul Berat nyeri tidak menentu Ny. K tahu bahwa dia memiliki penyakit hipertensi sejak 9 tahun yang lalu Ny. K selalu mengkonsumsi obat hipertensi (captropil) disaat tekanan darahnya naik. Ny. K terkadang merasa malas untuk makan Ny. K tampak lemas00312Nyeri Akut0414041401041402041406041426041430

08082080820908082020808208

1605160502

160503

160501

160505160509

1837183703

183705

183706

183711183707

1928192801

192807

192806

192812

192814192813

192810 Status kardiopulmunari Tekanan sistolik Tekanan diastolic Respiratory rate (RR) Fatigue Kehilangan berat badan

Tanda-tanda vital Pulse pressure Apical heart rate Apical heart rhytm

Kontrol nyeri Mengetahui tempat nyeri Mengetahui seberapa berat nyeri Mejelaskan faktor penyebab Menggunakan analgesic Mengetahui gejala nyeri

Manajemen hipertensi Target tekanan darah normal Potensi komplikasi dari hipertensi Pilihan pengobatan yang ada Efek pengobatan Manfaat pengoobatan jangka panjang

Control resiko: hipertensi Mengetahui informasi tentang hipertensi Memantau perubahan status kesehatan Memeriksan tekanan darah secara teratur Melakukan tekhnik relaksasi Mengurangi stress Mengatur waktu tidur yang tepat Memelihara berat bedan yang direkomendasikan1400

2210

6040

5602

Manajemen nyeri Mengkaji lokasi, karakteristik, durasi, dan frekuansi nyeri Menggunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien Memberikan informasi tentang nyeri, faktor penyebab nyeri

Pemberian analgestik Cek riwayat alergi obat Memeriksa obat dan dosis dari yang diresepkan Memantau TTV sebelum dan sesudah pemberian analgestik

Terapi relaksasi Menjelaskan secara rasional fungsi relaksasi, tipe-tipe relaksasi Mengatur posisi yang nyaman untuk pasien Evalusi berkala hasil dari relaksasi klien

Pendidikan kesehatan: proses pemyakit Menjelaskan bagaimana proses penyakit yang dialami klien Mereview pengetahuan pasien tentang kondisi yang dialaminya sendiri Menjelaskan penyebab terjadinya penyakit Mendiskusikan perawatan yang akan diberikan

BAB IVPENUTUP

4.1 KesimpulanHipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik>140 mmHg dan tekanan darah diastolik>90 mmHg, atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi. Penyebab hipertensi adalah Keturunan,Hormonal, Metabolik, Emosi,Kebiasaan diet. Adapun tanda dan gejala hipertensi adalah Sakit kepala, Pusing, Mudah marah, Rasa berat di tengkuk, Mudah lelah, Mata berkunang-kunang. Akibat lanjut dari hipertensi adalah Stroke, Gagal ginjal, Jantung koroner.

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M. 2014. Nursing Interventions Classification, edisi 6. Elsevier.Fatimah. 2010. Merawat Manusia Lanjut Usia. Trans Info media: Jakarta.Marifatul Lilik, Azizah. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Graha ilmu: Jogjakarta.Moorhead, Sue. 2014. Nursing Outcomes Classification, edisi 4. Elsevier.