of 31 /31
ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA DENGAN MASALAH HIPERTENSI DIRUANG ANGGREK PANTI WREDH PUCANG GADING SEMARANG Disusun Oleh KHOIRIYAH G2A5040700 SARINTI G2A50407004 WAHYUNINGSIH G2A5040700

Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

s

Text of Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

BABI

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA

DENGAN MASALAH HIPERTENSI DIRUANG ANGGREK

PANTI WREDH PUCANG GADING SEMARANG

Disusun OlehKHOIRIYAH G2A5040700SARINTI G2A50407004WAHYUNINGSIHG2A5040700PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2008

BAB I

PENDAHULUANA. Latar Belakang

Menurut sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik ( BPS ),

pada tahun 1996 jumlah penduduk Indonesia adalah 198,83 juta jiwa.Dari jumlah tersebut terdapat 13,5 juta penduduk yang berumur antara 60 75 tahun keatas atau biasa disebut sebagai kelompok usia lanjut.Kelompok usia lanjut dari tahun ke tahun semakin bertambah. Akan tetapi pada umumnya kelompok ini merupakan kelompok yang kurang produktif, ditambah lagi dengan kondisi kesehatan yang mulai menurun seiring dengan bertambahnya usia mereka. Degenerasi organ tubuh yang menyebabkan kelompok usia usia lanjut sangat rentan terhadap penyakit baik yang bersifat akut maupun kronik. Beberapa penyakit pada usia lanjut yang sering kita temui adalah ISPA, Kardiovaskuler, Pembuluh darah, penyakit urogenital, penyakit pencernaan, dan penyakit degeneratif seperti osteoporosis, ostewo arthritis, PPOK, hipertensi, dan lain lain ( Depkes RI, 1994 ).

Salah satu penyakit yang akan dibahas adalah hipertensi pada lansia. Dimana Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi 90 mmHg.Secara umum penyakit ini bisa menimpa pada laki laki dan perempuan, karena proses perubahan pada pembuluh darah dan pengaruh dari perubahan krdiovaskuler. Hal ini akibat dari proses degeneratif dan pengaruh diit sebelumnya.Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di ruang Anggrek terdapat 80% dari jumlah kelayan yang mengalami masalah hipertensi dengan keluhan nyeri kepala, kaku pada tengkuk, kelemahan pada satu sisi, gringgingen ( kesemutan ). Dengan demikian kelompok merasa tertarik untuk membuat makalah tentang asuhan keperawatan dengan masalah hipertensi.

B. Tujuan

1. Tujuan umumMakalah ini dibuat agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang asuhan keperawatan dan lansia dengan masalah hipertensi diruang Anggrek Panti Wredha Pucang Gading Semarang. 2. Tujuan khusus

Setelah tersusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :

a. Menjelaskan konsep tentang masalah hipertensi.

b. Menyusun konsep asuhan keperawatan dengan masalah hipertensi.

c. Menerapkan asuhan keperawatan pada kelayan dengan masalah hpertensi.C. Proses Pembuatan Makalah

Penulisan makalah pada studi khusus menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan masalah-masalah yang terjadi dan didapat pada saat melaksanakan asuhan keperawatan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :

1. Wawancara

Yaitu melakukan tanya jawab langsung kepada kelayan.2. Observasi partisipatif aktif

Yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap kelayan serta melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

3. Studi kepustakaan

Yaitu mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah hipertensi.4. Studi Dokumentasi

Yaitu pengumpulan data dengan mempelajari catatan medik dan hasil pemeriksaan yang ada.

BAB II

KONSEP TEORI

A. Konsep Dasar Lansia

1. Pengertian

Lansia merupakan perubahan progresif pada organ yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat inversible serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu (Charlotte, 2005). Menua bukan suatu penyakit tetapi proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsang dari dalam maupun luar tubuh.

Pengelompokkan lansia menurut WHO (1996) :

1) Model Age (45 49 tahun)

2) Alder Age (60 74 tahun)

3) Old Age (75 90 tahun)

2. Teori Perubahan Lansia menurut Charlotte (2005) terdiri dari :

a. Teori Biologis

1) Genetik

Teori genetik dipercaya sebagai faktor dominan yang menyebabkan perubahan pada lansia. Seorang lebih mudah ditentukan tipe fungsi mental dan fisik yang secara genetik menentukan cepat tua dan lama hidup seseorang.

2) Stochastice

Merupakan akumulasi kerusakan pada molekul vital (DHA, protein) yang menyebabkan penurunan fisik secara progresif dan akhirnya mati.

3) Reaksi Autoimun

Sistem penting pertahanan melawan sustansi asing yang masuk tubuh. Menua merupakan penurunan kemampuan untuk memproduksi antibodi yang melawan penyakit.

4) Wear and tear

Adalah primer menua tidak terbatas pada organ tetapi sampai pada tingkat sel, suplemen nutrisi dan pengobatan yang mampu untuk memperbaiki dan memelihara organ atau sel.

5) Penyakit

Bakteri, jamur, virus dan beberapa mikroorganisme lain dapat menjadi faktor terjadinya proses menua. Pada beberapa kasus patologis hal ini disebabkan karena sistem antibodi.

6) Radiasi

Radiasi sinar ultraviolet juga merupakan faktor yang mempengaruhi perubahan pada lansia, hal ini karena radiasi dapat menyebabkan mutasi sel.

7) Nutrisi

Pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat mempengaruhi kesehatan dan proses penuaan. Misalnya obesitas dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai penyakit.

b. Teori psikologis

Teori psikologis yang mempengaruhi penuaan disebabkan karena proses mental, lingkungan dan emosi.

B. Konsep Dasar Penyakit Hipertensi1. Definisi

Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi 90 mmHg.

2. Etiologi

Hipertensi dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam faktor antara lain:

- Kelelahan - Proses penuaan

- Keturunan - Diet yang tidak seimbang

- Stress - Sosial budaya

Akibat/ komplikasi dari penyakit hipertensi:

Gagal jantung, gagal ginjal, stroke (kerusakan otak), kelumpuhan.

3. Patofisiologi

Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tahanan perifer. Curah jantung pada penderita hipertensi umumnya normal. Kelainannya terutama pada peninggian tahanan perifer. Kenaikan tahanan perifer ini disebabkan karena vasokonstriksi arteriol akibat naiknya tonus otot polos pembuluh darah tersebut. Bila hipertensi sudah berjalan cukup lama maka akan dijumpai perubahan-perubahan struktural pada pembuluh darah arteriol berupa penebalan tunika interna dan hipertropi tunika media. Dengan adanya hipertropi dan hiperplasi, maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi lagi sehingga terjadi anoksia relatif. Keadaan ini dapat diperkuat dengan adanya sklerosis koroner.

4. Tanda dan gejala

a. Sakit kepala - Perdarahan hidung

b. Vertigo - Mual muntah

c. Perubahan penglihatan - Kesemutan pada kaki dan tangan

d. Sesak nafas - Kejang atau koma

e. Nyeri dada

C. Pengkajian Data Dasar

1. Data dasar pengkajian klien dengan hipertensi

Aktifitas/ istirahat

Gejala: Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton

Tanda: Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung

Sirkulasi

Gejala: Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner.

Tanda: Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disarythmia.

Integritas Ego

Gejala: Ancietas, depresi, marah kronik, faktor-faktor stress.

Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, otot mulai tegang.

Eliminasi

Riwayat penyakit ginjal, obstruksi.

Makanan/ cairan

Gejala: Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat penggunaan diuretik.

Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.

Neurosensori

Gejala: Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan penglihatan.

Tanda: Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori, perubahan retina optik.

Respon motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan.

Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa.

Pernafasan

Gejala: Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.

Tanda: Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat bantu pernafasan.

Keamanan

Gejala: Gangguan koordinasi, cara brejalan.

2. Pemeriksaan Diagnostik

Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan (viskositas).

BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal.

Glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).

Kalsium serum

Kalium serum

Kolesterol dan trygliserid

Px tyroid

Urin analisa

Foto dada

CT Scan

EKG

Prioritas keperawatan:

Mempertahankan/ meningkatkan fungsi kardiovaskuler.

Mencegah komplikasi.

Kontrol aktif terhadap kondisi.

Beri informasi tentang proses/ prognose dan program pengobatan.

3. Pencegahan

a. Pencegahan Primer

Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata, adanya hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk:

1. Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb.

2. Dilarang merokok atau menghentikan merokok.

3. Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam.

4. Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.

b. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita hipertensi berupa:

Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.

Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara normal dan stabil mungkin.

Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.

Batasi aktivitas.

4. Kemungkinan Diagosa Keperawatan

a. Diagnosa Keperawatan:

1. Intoleran aktivitas sehubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2.

Tujuan/ kriteria:

Berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan/ diperlukan.

Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat diukur.

Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi.

Intervensi:

Kaji respon terhadap aktifitas.

Perhatikan tekanan darah, nadi selama/ sesudah istirahat.

Perhatikan nyeri dada, dyspnea, pusing.

Instruksikan tentang tehnik menghemat tenaga, misal: menggunakan kursi saat mandi, sisir rambut.

Melakukan aktifitas dengan perlahan-lahan.

Beri dorongan untuk melakukan aktifitas/ perawatan diri secara bertahap jika dapat ditoleransi.

Beri bantuan sesuai dengan kebutuhan.

2. Nyeri (akut), sakit kepala sehubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.

Hasil yang diharapkan: melapor nyeri/ ketidaknyamanan berkurang.

Intervensi:

Pertahankan tirah baring selama fase akut.

Beri tindakan non farmakologik untuk menghilangkan nyeri seperti pijat punggung, leher, tenang, tehnik relaksasi.

Meminimalkan aktifitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan nyeri kepala,misal: membungkuk, mengejan saat buang air besar.

Kolaborasi dalam pemberian analgetika, anti ancietas.3. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan fungsi motorik sekunder terhadap kerusakan neuron motorik atas.

Kriteria:

Klien akan menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.

Intervensi:

1) Ajarkan klien untuk melakukan latihan rentang gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit pada sedikitnya empat kali sehari.

R/ Rentang gerak aktif meningkatkan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.

2) Lakukan latihan rentang gerak pasif pada ekstremitas yang sakit tiga sampai empat kali sehari. Lakukan latihan dengan perlahan untuk memberikan waktu agar otot rileks dan sangga ekstremitas di atas dan di bawah sendi untuk mencegah regangan pada sendi dan jaringan.

R/ Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak digunakan. Kontraktur pada otot fleksor dan adduktor dapat terjadi karena otot ini lebih kuat dari ekstensor dan abduktor.

3) Bila klien di tempat tidur lakukan tindakan untuk meluruskan postur tubuh.

R/ Mobilitas dan kerusakan fungsi neurosensori yang berkepanjangan dapat menyebabkan kontraktur permanen.

4) Siapkan mobilisasi progresif.

R/ Tirah baring lama atau penurunan volume darah dapat menyebabkan penurunan tekanan darah tiba-tiba (hipotensi orthostatik) karena darah kembali ke sirkulasi perifer. Peningkatan aktivitas secara bertahap akan menurunkan keletihan dan peningkatan tahanan.

5) Secara perlahan bantu klien maju dari ROM aktif ke aktivitas fungsional sesuai indikasi.

R/ Memberikan dorongan pada klien untuk melakukan secara teratur.

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA DENGAN MASALAH HIPERTENSI DI RUANG ANGGREK

PANTI WREDHA PUCANG GADING SEMARANGA. Data Umum

1. Nama Panti:Pucang Gading Semarang

2. Alamat Panti : Jl. Pucang Gading

3. Nama Pimpinan Panti :

4. Pengelola :

5. Karakteristik Penghuni

a. Berdasarkan umur:60 90 tahun

b. Berdasarkan Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)

c. Berdasarkan Agama : Islam

d. Keluhan Utama :Sebagian besar klien mengatakan pusing, lemas, tengkuk terasa kaku dan marah marah.

B. Data Khusus

1. Biologis

a. Keadaan kesehatan : 10 keluhan saat dilakukan pengkajian 31 -7-2008NoNama KlienKeluhan

Pegal/ nyeri sendiPusingGatalBatukSulit tidurKatarakTengkuk kakuSesak nafasPendengaran berkurangTekanan darah sistolik > 140- 230

1Ny. SSVVVVV

2Ny. AVVVVVV

3Ny. SRVVVVV

4Ny. MrytVV

5Ny. WVVVV

6Ny. NgVVV

7Ny. YVV

8Ny. KVVVV

9Ny. MrsmVVVVV

10Ny. RVVV

11Ny. JVV

12Ny. WgVVV

13Ny.SVV

14Ny.SpVV

15Ny.PVVV

16Ny.SV

17Ny.MVVVVVV

18Ny.SV

19Ny.WjV

20Ny.AV

21Ny.PnVVV

22Ny.HV

23Ny.SVV

24Ny.StVVVVV

25Ny.KsVV

Total1010536483916

Prosentase 40402012241632123664

b. Pola Makan dan Minum

Klien makan 3 x sehari, menu sesuai yang tersedia dipantai. Jenis nasi + kerupuk + tahu tempe. 70% kien makan nasi + tempe/tahu + kerupuk. Minum 3 gelas per hari jenis air putih.

c. Pola Tidur

Sebagian besar klien tidur siang jam 13.00 s/d 15.00 WIB dan tidur malam jam 21.00 s/d 03.00 WIB. Tetapi dalam tidurnya klien selalu terbangun dan keluhan terbesarnya karena pusing dan tengkuk merasa kaku.

2. Psikologis dan Sosial

a. Kebiasaan buruk kelompok

1) Membuang sampah sembarangan

2) BAB / BAK di tempat tidur terutama klien dengan gangguan ..

3) Meludah disembarang tempat

b. Perilaku mencari pelayanan kesehatan

Para klien di ruang Anggrek sebagia besar tidak memeriksakan kesehatan ke Poli yang ada di pantai, karena klien beranggapan penyakit yang diderita merupakan penyakit kebanyakan orang lansia.

c. Keadaan ekonomi

Para klien di ruang Anggrek semua kebutuhan dipenuhi oleh panti karena sebagian besar kegiatan klien tidak pernah berkunjung ke panti.

3. Keadaan Lingkungan Dalam

a. Penerangan Penerangan di ruang Anggrek terang terdapat lampu didalamnya.

b. Kebersihan dan kerapian

Dalam ruangan kurang karena para klien sebagian besar tidak dapat membersihkan tempat tidur sendiri maupun ruangan karena keterbatasan aktivitas fisik.

c. Sirkulasi udara

Di ruang Anggrek memiliki Jendela yang cukup banyak tapi jarang dibuka, ventilasi kurang.

d. Sumber air minum

Air minum dan kebutuhan lainnya didapat dari sumur tanah.

4. Keadaan lingkungan dan halaman

a. Pemanfaatan halaman

Halaman depan ruang Anggrek diberikan tempat duduk yang digunakan duduk para kelayan.

b. Pembuangan air limbah

Air limbah dibuang pada saluran got.

c. Pembuangan sampah

Setiap ruang terdapat tempat sampah.

d. Sanitasi

Kebersihan di Ruang Anggrek kurang terjaga dan sanitasi lingkungan terhadap populasi udara kurang baik.

e. Sumber pencemaran

Sumber pencemaran berasal dari BAK / BAB di dalam ruangan serta sampah di sekitar lingkungan.

C. Analisa Data

NoDataDiagnosa Keperawatan

1.DS:-70% kelayan mengeluh kalau lantai kamar mandi di ruang Anggrek licin

-30% klien mengeluh pengelihatan kabur.

DO:-Penerangan di kamar mandi Ruang Anggrek kurang terang.

-Membuang sampah sembarangan

-Membuang ludah sembarangan

- Resiko injury berhubungan dengan lingkungan yang kurang mendukung.

2.DS:-64% kelayan TD tinggi, dan suka marah marah antar kelayan

-40% kelayan mengatakan pusing, lemas, tengkuk kaku

DO : -Kelayan tidak dapat menahan emosi, dalam komunikasi antar kelayan . - sering terjadi keributan antar kelayan.Resiko terjadi peningkatan tekanan darah b.d kerusakan komunikasi sosial antar kelayan

D. Prioritas Masalah Keperawatan

1. Resiko cidera berhubungan dengan lingkungan yang kurang mendukung.

2. Resiko terjadi peningkatan tekanan darah b,d kerusakan komukasi social antar kelayan.

E. Rencana Keperawatan

Dx. KepTUMTUKStrategi Rencana KeperawatanRencana Evaluasi

Kriteria Standar

Resiko cidera berhubungan dengan lingkungan yang kurang mendukungSetelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan risiko cidera pada kelayan diruang anggrek dapat diminimalkan. Klien mampu menjaga kebersihan lingkungan. -Menciptakan lingkungan yang aman (orientasi tempat)

-Menganjurkan untuk menggunakan alat bantu.1. Kaji lingkungan sekitar panti Wredha

2.Motivasi klien untuk menjaga kebutuhan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya.

3.Bantu klien dalam personal hygiene bagi klien yang tidak mampu beraktifitas.

4.Kolaborasi dalam penambahan tempat sampah, lampu.

5.Sediakan tempat pot sputum.Klien merasa aman dalam beraktifitas. Klien mampu menjaga kebersihan lingkungan.

Resiko terjadi peningkatan darah b.d kerusakan komunikasi social antar kelayanSetelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi peningkatan tekanan darah pada kelayan diruang anggrek

F. Implementasi

Tgl/

Jam No

DxImplementasi ResponTtd

I

1. Mengkaji lingkungan sekitar panti WredaS:Klien mengatakan lampu penerangan kurang. O:-Lantai licin

-Sampah berserakan

2. Memotivasi klien untuk menjaga kebutuhan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. S:Klien mengatakan akan membuang sampah di tempat sampah.

O :Sebagian klien masih membuang sampah sembarangan.

3. Membantu klien dalam personal hygiene berhubungan dengan klien tidak mampu beraktifitas. S:-

O :Perawat membantu klien berjalan dengan memapah klien ke kamar mandi untuk BAB

4. Berkolaborasi dalam penambahan tempat sampah, lampu penerangan, alat bantu jalan. S:Pegawai panti mengatakan akan mengusahakan barang-barang yang dibutuhkan panti.

O :Pegawai mengangguk setuju.

5. Mengatur menu makanan setiap hari S:Juru masak mengatakan untuk mengatur jenis makanan yang bergizi sulit karena dana yang tidak mencukupi.

O :-Pegawai panti menggelengkan kepala.

-Pegawati tampak berpikir.

Tgl/

Jam No

DxImplementasi ResponTtd

6. Mengkaji pola makan klien S:-Klien mengatakan makan 3x sehari dengan nasi + tempe/tahu + kerupuk, teh hanget kadang-kadang.

O:

-Menu makan nasi + tempe + kerupuk.

7. Berkolaborasi dengan juru masak untuk menghindari benjolS:Juru masak mengatakan akan mempertimbangkan dengan pegawai panti yang lain.

O :Juru masak kooperatif.

G. Evaluasi

Tgl/

jamNo. DxEvaluasiTtd

13 Nov 20071S:-Klien mengatakan lantai masih kotor dan penerangan masih kurang.

-Pegawai panti mengatakan akan mempertimbangkan masalah keamanan panti. O:-Lantai dibersihkan setiap hari

-Lam penerangan 1A:Masalah teratasi sebagian.P:Lanjutkan intervensi.

2S:-Klien mengatakan menu makan masih sama seperti kemarin.

-Pegawai panti mengatakan belum bisa melaksanakan pemenuhan nutrisi gigi klien di panti. O:Menu makan nasi + tempe/tahu + kerupuk ditambah kadang-kadang sayur sup. A:Masalah teratasi sebagian.P:Lanjutkan intervensi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC.

Carpenito L.J. (2001). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Eliopoulus, Arif. (2005). Gerontologi Nursing. Sixth Edition. Lipincott Willans. Philadelpia.

Manjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta : FKUI.

Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Prince, Sylvia Anderson. (1999). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.

EMBED Word.Picture.8

_1076502269.doc