of 31 /31
ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA DENGAN MASALAH HIPERTENSI DIRUANG ANGGREK PANTI WREDH PUCANG GADING SEMARANG Disusun Oleh KHOIRIYAH G2A5040700 SARINTI G2A50407004 WAHYUNINGSIH G2A5040700

Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

s

Citation preview

Page 1: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA

DENGAN MASALAH HIPERTENSI DIRUANG ANGGREK

PANTI WREDH PUCANG GADING SEMARANG

Disusun Oleh

KHOIRIYAH G2A5040700

SARINTI G2A50407004

WAHYUNINGSIH G2A5040700

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2008

Page 2: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik ( BPS ),

pada tahun 1996 jumlah penduduk Indonesia adalah 198,83 juta jiwa.Dari

jumlah tersebut terdapat 13,5 juta penduduk yang berumur antara 60 – 75

tahun keatas atau biasa disebut sebagai kelompok usia lanjut.

Kelompok usia lanjut dari tahun ke tahun semakin bertambah. Akan

tetapi pada umumnya kelompok ini merupakan kelompok yang kurang

produktif, ditambah lagi dengan kondisi kesehatan yang mulai menurun

seiring dengan bertambahnya usia mereka. Degenerasi organ tubuh yang

menyebabkan kelompok usia usia lanjut sangat rentan terhadap penyakit baik

yang bersifat akut maupun kronik. Beberapa penyakit pada usia lanjut yang

sering kita temui adalah ISPA, Kardiovaskuler, Pembuluh darah, penyakit

urogenital, penyakit pencernaan, dan penyakit degeneratif seperti

osteoporosis, ostewo arthritis, PPOK, hipertensi, dan lain – lain ( Depkes RI,

1994 ).

Salah satu penyakit yang akan dibahas adalah hipertensi pada lansia.

Dimana Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya

tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi 90

mmHg.

Secara umum penyakit ini bisa menimpa pada laki – laki dan

perempuan, karena proses perubahan pada pembuluh darah dan pengaruh dari

perubahan krdiovaskuler. Hal ini akibat dari proses degeneratif dan pengaruh

diit sebelumnya.

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di ruang Anggrek terdapat

80% dari jumlah kelayan yang mengalami masalah hipertensi dengan

keluhan nyeri kepala, kaku pada tengkuk, kelemahan pada satu sisi,

gringgingen ( kesemutan ). Dengan demikian kelompok merasa tertarik untuk

membuat makalah tentang asuhan keperawatan dengan masalah hipertensi.

Page 3: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

B. Tujuan

1. Tujuan umum

Makalah ini dibuat agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran secara

nyata dan lebih mendalam tentang asuhan keperawatan dan lansia dengan

masalah hipertensi diruang Anggrek Panti Wredha Pucang Gading

Semarang.

2. Tujuan khusus

Setelah tersusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :

a. Menjelaskan konsep tentang masalah hipertensi.

b. Menyusun konsep asuhan keperawatan dengan masalah hipertensi.

c. Menerapkan asuhan keperawatan pada kelayan dengan masalah

hpertensi.

C. Proses Pembuatan Makalah

Penulisan makalah pada studi khusus menggunakan metode deskriptif

yaitu menggambarkan masalah-masalah yang terjadi dan didapat pada saat

melaksanakan asuhan keperawatan. Adapun teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah :

1. Wawancara

Yaitu melakukan tanya jawab langsung kepada kelayan.

2. Observasi partisipatif aktif

Yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap kelayan serta

melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan permasalahan yang

dihadapi.

3. Studi kepustakaan

Yaitu mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah

hipertensi.

4. Studi Dokumentasi

Yaitu pengumpulan data dengan mempelajari catatan medik dan hasil

pemeriksaan yang ada.

Page 4: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

BAB II

KONSEP TEORI

A. Konsep Dasar Lansia

1. Pengertian

Lansia merupakan perubahan progresif pada organ yang telah

mencapai kematangan intrinsik dan bersifat inversible serta

menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu (Charlotte,

2005). Menua bukan suatu penyakit tetapi proses berkurangnya daya

tahan tubuh dalam menghadapi rangsang dari dalam maupun luar

tubuh.

Pengelompokkan lansia menurut WHO (1996) :

1) Model Age (45 – 49 tahun)

2) Alder Age (60 – 74 tahun)

3) Old Age (75 – 90 tahun)

2. Teori Perubahan Lansia menurut Charlotte (2005) terdiri dari :

a. Teori Biologis

1) Genetik

Teori genetik dipercaya sebagai faktor dominan yang

menyebabkan perubahan pada lansia. Seorang lebih mudah

ditentukan tipe fungsi mental dan fisik yang secara genetik

menentukan cepat tua dan lama hidup seseorang.

2) Stochastice

Merupakan akumulasi kerusakan pada molekul vital (DHA,

protein) yang menyebabkan penurunan fisik secara progresif dan

akhirnya mati.

3) Reaksi Autoimun

Sistem penting pertahanan melawan sustansi asing yang masuk

tubuh. Menua merupakan penurunan kemampuan untuk

memproduksi antibodi yang melawan penyakit.

Page 5: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

4) Wear and tear

Adalah primer menua tidak terbatas pada organ tetapi sampai

pada tingkat sel, suplemen nutrisi dan pengobatan yang mampu

untuk memperbaiki dan memelihara organ atau sel.

5) Penyakit

Bakteri, jamur, virus dan beberapa mikroorganisme lain dapat

menjadi faktor terjadinya proses menua. Pada beberapa kasus

patologis hal ini disebabkan karena sistem antibodi.

6) Radiasi

Radiasi sinar ultraviolet juga merupakan faktor yang

mempengaruhi perubahan pada lansia, hal ini karena radiasi

dapat menyebabkan mutasi sel.

7) Nutrisi

Pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat mempengaruhi kesehatan

dan proses penuaan. Misalnya obesitas dapat meningkatkan

resiko terjadinya berbagai penyakit.

b. Teori psikologis

Teori psikologis yang mempengaruhi penuaan disebabkan karena

proses mental, lingkungan dan emosi.

B. Konsep Dasar Penyakit Hipertensi

1. Definisi

Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi 90 mmHg.

2. Etiologi

Hipertensi dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam faktor antara lain:

- Kelelahan - Proses penuaan

- Keturunan - Diet yang tidak seimbang

- Stress - Sosial budaya

Page 6: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

Akibat/ komplikasi dari penyakit hipertensi:Gagal jantung, gagal ginjal, stroke (kerusakan otak), kelumpuhan.

3. Patofisiologi

Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan

tahanan perifer. Curah jantung pada penderita hipertensi umumnya

normal. Kelainannya terutama pada peninggian tahanan perifer.

Kenaikan tahanan perifer ini disebabkan karena vasokonstriksi arteriol

akibat naiknya tonus otot polos pembuluh darah tersebut. Bila hipertensi

sudah berjalan cukup lama maka akan dijumpai perubahan-perubahan

struktural pada pembuluh darah arteriol berupa penebalan tunika interna

dan hipertropi tunika media. Dengan adanya hipertropi dan hiperplasi,

maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi lagi sehingga

terjadi anoksia relatif. Keadaan ini dapat diperkuat dengan adanya

sklerosis koroner.

4. Tanda dan gejala

a. Sakit kepala - Perdarahan hidung

b. Vertigo - Mual muntah

c. Perubahan penglihatan - Kesemutan pada kaki dan tangan

d. Sesak nafas - Kejang atau koma

e. Nyeri dada

C. Pengkajian Data Dasar

1. Data dasar pengkajian klien dengan hipertensi

- Aktifitas/ istirahat

Gejala: Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton

Tanda: Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung

- Sirkulasi

Gejala: Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner.

Tanda: Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disarythmia.

- Integritas Ego

Gejala: Ancietas, depresi, marah kronik, faktor-faktor stress.

Page 7: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, otot mulai tegang.

- Eliminasi

Riwayat penyakit ginjal, obstruksi.

- Makanan/ cairan

Gejala: Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol),

mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat penggunaan

diuretik.

Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.

- Neurosensori

Gejala: Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan

penglihatan.

Tanda: Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori, perubahan

retina optik.

Respon motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan.

- Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa.

- Pernafasan

Gejala: Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk

dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.

Tanda: Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat

bantu pernafasan.

- Keamanan

Gejala: Gangguan koordinasi, cara brejalan.

2. Pemeriksaan Diagnostik

- Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan

(viskositas).

- BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal.

- Glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh peningkatan

kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).

Page 8: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

- Kalsium serum

- Kalium serum

- Kolesterol dan trygliserid

- Px tyroid

- Urin analisa

- Foto dada

- CT Scan

- EKG

Prioritas keperawatan:

- Mempertahankan/ meningkatkan fungsi kardiovaskuler.

- Mencegah komplikasi.

- Kontrol aktif terhadap kondisi.

- Beri informasi tentang proses/ prognose dan program pengobatan.

3. Pencegahan

a. Pencegahan Primer

Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata, adanya

hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas dan

konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk:

1. Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak

terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb.

2. Dilarang merokok atau menghentikan merokok.

3. Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam.

4. Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.

b. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita

hipertensi berupa:

- Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat maupun

dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.

Page 9: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

- Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara

normal dan stabil mungkin.

- Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.

- Batasi aktivitas.

4. Kemungkinan Diagosa Keperawatan

a. Diagnosa Keperawatan:

1. Intoleran aktivitas sehubungan dengan kelemahan umum,

ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2.

Tujuan/ kriteria:

- Berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan/ diperlukan.

- Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat diukur.

- Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi.

Intervensi:

- Kaji respon terhadap aktifitas.

- Perhatikan tekanan darah, nadi selama/ sesudah istirahat.

- Perhatikan nyeri dada, dyspnea, pusing.

- Instruksikan tentang tehnik menghemat tenaga, misal: menggunakan kursi

saat mandi, sisir rambut.

- Melakukan aktifitas dengan perlahan-lahan.

- Beri dorongan untuk melakukan aktifitas/ perawatan diri secara bertahap jika

dapat ditoleransi.

- Beri bantuan sesuai dengan kebutuhan.

2. Nyeri (akut), sakit kepala sehubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler

serebral.

Hasil yang diharapkan: melapor nyeri/ ketidaknyamanan berkurang.

Intervensi:

- Pertahankan tirah baring selama fase akut.

Page 10: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

- Beri tindakan non farmakologik untuk menghilangkan nyeri seperti pijat

punggung, leher, tenang, tehnik relaksasi.

- Meminimalkan aktifitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan nyeri

kepala,misal: membungkuk, mengejan saat buang air besar.

- Kolaborasi dalam pemberian analgetika, anti ancietas.

3. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan fungsi

motorik sekunder terhadap kerusakan neuron motorik atas.

Kriteria:

Klien akan menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.

Intervensi:

1) Ajarkan klien untuk melakukan latihan rentang gerak aktif pada ekstremitas

yang tidak sakit pada sedikitnya empat kali sehari.

R/ Rentang gerak aktif meningkatkan massa, tonus dan kekuatan otot serta

memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.

2) Lakukan latihan rentang gerak pasif pada ekstremitas yang sakit tiga sampai

empat kali sehari. Lakukan latihan dengan perlahan untuk memberikan

waktu agar otot rileks dan sangga ekstremitas di atas dan di bawah sendi

untuk mencegah regangan pada sendi dan jaringan.

R/ Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak

digunakan. Kontraktur pada otot fleksor dan adduktor dapat terjadi

karena otot ini lebih kuat dari ekstensor dan abduktor.

3) Bila klien di tempat tidur lakukan tindakan untuk meluruskan postur tubuh.

R/ Mobilitas dan kerusakan fungsi neurosensori yang berkepanjangan dapat

menyebabkan kontraktur permanen.

4) Siapkan mobilisasi progresif.

R/ Tirah baring lama atau penurunan volume darah dapat menyebabkan

penurunan tekanan darah tiba-tiba (hipotensi orthostatik) karena darah

kembali ke sirkulasi perifer. Peningkatan aktivitas secara bertahap akan

menurunkan keletihan dan peningkatan tahanan.

Page 11: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

5) Secara perlahan bantu klien maju dari ROM aktif ke aktivitas fungsional

sesuai indikasi.

R/ Memberikan dorongan pada klien untuk melakukan secara teratur.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA

DENGAN MASALAH HIPERTENSI DI RUANG ANGGREK

PANTI WREDHA PUCANG GADING SEMARANG

A. Data Umum

1. Nama Panti : Pucang Gading Semarang

2. Alamat Panti : Jl. Pucang Gading

3. Nama Pimpinan Panti :

4. Pengelola :

5. Karakteristik Penghuni

a. Berdasarkan umur : 60 – 90 tahun

b. Berdasarkan Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)

c. Berdasarkan Agama : Islam

d. Keluhan Utama : Sebagian besar klien mengatakan

pusing, lemas, tengkuk terasa kaku dan

marah – marah.

Page 12: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

B. Data Khusus

1. Biologis

a. Keadaan kesehatan : 10 keluhan saat dilakukan pengkajian 31 -7-2008

No Nama Klien

KeluhanPegal/ nyeri sendi

Pusing Gatal BatukSulit tidur

KatarakTengkuk

kakuSesak nafas

Pendengaran berkurang

Tekanan darah sistolik > 140- 230

1 Ny. SS V V V V V2 Ny. A V V V V V V3 Ny. SR V V V V V4 Ny. Mryt V V5 Ny. W V V V V6 Ny. Ng V V V7 Ny. Y V V8 Ny. K V V V V9 Ny. Mrsm V V V V V10 Ny. R V V V11 Ny. J V V12 Ny. Wg V V V13 Ny.S V V14 Ny.Sp V V15 Ny.P V V V16 Ny.S V17 Ny.M V V V V V V18 Ny.S V19 Ny.Wj V20 Ny.A V21 Ny.Pn V V V22 Ny.H V23 Ny.S V V24 Ny.St V V V V V25 Ny.Ks V V

Total 10 10 5 3 6 4 8 3 9 16

Prosentase 40 40 20 12 24 16 32 12 36 64

b. Pola Makan dan Minum

Klien makan 3 x sehari, menu sesuai yang tersedia dipantai. Jenis nasi

+ kerupuk + tahu tempe. 70% kien makan nasi + tempe/tahu +

kerupuk. Minum ± 3 gelas per hari jenis air putih.

c. Pola Tidur

Sebagian besar klien tidur siang jam 13.00 s/d 15.00 WIB dan tidur

Page 13: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

malam jam 21.00 s/d 03.00 WIB. Tetapi dalam tidurnya klien selalu

terbangun dan keluhan terbesarnya karena pusing dan tengkuk merasa

kaku.

2. Psikologis dan Sosial

a. Kebiasaan buruk kelompok

1) Membuang sampah sembarangan

2) BAB / BAK di tempat tidur terutama klien dengan gangguan …..

3) Meludah disembarang tempat

b. Perilaku mencari pelayanan kesehatan

Para klien di ruang Anggrek sebagia besar tidak memeriksakan

kesehatan ke Poli yang ada di pantai, karena klien beranggapan

penyakit yang diderita merupakan penyakit kebanyakan orang lansia.

c. Keadaan ekonomi

Para klien di ruang Anggrek semua kebutuhan dipenuhi oleh panti

karena sebagian besar kegiatan klien tidak pernah berkunjung ke panti.

3. Keadaan Lingkungan Dalam

a. Penerangan

Penerangan di ruang Anggrek terang terdapat lampu didalamnya.

b. Kebersihan dan kerapian

Dalam ruangan kurang karena para klien sebagian besar tidak dapat

membersihkan tempat tidur sendiri maupun ruangan karena

keterbatasan aktivitas fisik.

Page 14: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

c. Sirkulasi udara

Di ruang Anggrek memiliki Jendela yang cukup banyak tapi jarang

dibuka, ventilasi kurang.

d. Sumber air minum

Air minum dan kebutuhan lainnya didapat dari sumur tanah.

4. Keadaan lingkungan dan halaman

a. Pemanfaatan halaman

Halaman depan ruang Anggrek diberikan tempat duduk yang

digunakan duduk para kelayan.

b. Pembuangan air limbah

Air limbah dibuang pada saluran got.

c. Pembuangan sampah

Setiap ruang terdapat tempat sampah.

d. Sanitasi

Kebersihan di Ruang Anggrek kurang terjaga dan sanitasi lingkungan

terhadap populasi udara kurang baik.

e. Sumber pencemaran

Sumber pencemaran berasal dari BAK / BAB di dalam ruangan serta

sampah di sekitar lingkungan.

Page 15: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

C. Analisa Data

No Data Diagnosa Keperawatan

1. DS : - 70% kelayan mengeluh kalau

lantai kamar mandi di ruang

Anggrek licin

- 30% klien mengeluh pengelihatan

kabur.

DO : - Penerangan di kamar mandi

Ruang Anggrek kurang terang.

- Membuang sampah sembarangan

- Membuang ludah sembarangan

-

Resiko injury berhubungan

dengan lingkungan yang

kurang mendukung.

2. DS : - 64% kelayan TD tinggi, dan suka

marah – marah antar kelayan

- 40% kelayan mengatakan pusing,

lemas, tengkuk kaku

DO : - Kelayan tidak dapat menahan

emosi, dalam komunikasi antar

kelayan .

- sering terjadi keributan antar

kelayan.

Resiko terjadi peningkatan

tekanan darah b.d kerusakan

komunikasi sosial antar

kelayan

D. Prioritas Masalah Keperawatan

1. Resiko cidera berhubungan dengan lingkungan yang kurang mendukung.

2. Resiko terjadi peningkatan tekanan darah b,d kerusakan komukasi social

antar kelayan.

Page 16: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

E. Rencana Keperawatan

Dx. Kep TUM TUK Strategi Rencana

Keperawatan

Rencana Evaluasi

Kriteria StandarResiko cidera

berhubungan

dengan

lingkungan

yang kurang

mendukung

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

selama 2 x 24

jam diharapkan

risiko cidera

pada kelayan

diruang anggrek

dapat

diminimalkan.

Klien

mampu

menjaga

kebersihan

lingkungan.

- Menciptakan

lingkungan

yang aman

(orientasi

tempat)

- Menganjurkan

untuk

menggunakan

alat bantu.

1. Kaji lingkungan

sekitar panti

Wredha

2. Motivasi klien

untuk menjaga

kebutuhan

lingkungan dengan

membuang sampah

pada tempatnya.

3. Bantu klien dalam

personal hygiene

bagi klien yang

tidak mampu

beraktifitas.

4. Kolaborasi dalam

penambahan tempat

sampah, lampu.

5. Sediakan tempat pot

sputum.

Klien merasa

aman dalam

beraktifitas.

Klien mampu

menjaga

kebersihan

lingkungan.

Resiko

terjadi

peningkatan

darah b.d

kerusakan

komunikasi

social antar

kelayan

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

selama 3 x 24

jam diharapkan

tidak terjadi

peningkatan

tekanan darah

pada kelayan

diruang anggrek

Page 17: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

F. Implementasi

Tgl/Jam

NoDx

Implementasi Respon Ttd

I 1. Mengkaji lingkungan

sekitar panti Wreda

S : Klien mengatakan lampu

penerangan kurang.

O : - Lantai licin

- Sampah berserakan

2. Memotivasi klien untuk

menjaga kebutuhan

lingkungan dengan

membuang sampah

pada tempatnya.

S : Klien mengatakan akan

membuang sampah di tempat

sampah.

O : Sebagian klien masih

membuang sampah

sembarangan.

3. Membantu klien dalam

personal hygiene

berhubungan dengan

klien tidak mampu

beraktifitas.

S : -

O : Perawat membantu klien

berjalan dengan memapah

klien ke kamar mandi untuk

BAB

4. Berkolaborasi dalam

penambahan tempat

sampah, lampu

penerangan, alat bantu

jalan.

S : Pegawai panti mengatakan

akan mengusahakan barang-

barang yang dibutuhkan panti.

O : Pegawai mengangguk setuju.

5. Mengatur menu

makanan setiap hari

S : Juru masak mengatakan untuk

mengatur jenis makanan yang

bergizi sulit karena dana yang

tidak mencukupi.

O : - Pegawai panti

menggelengkan kepala.

- Pegawati tampak berpikir.

Page 18: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

Tgl/Jam

NoDx

Implementasi Respon Ttd

6. Mengkaji pola makan

klien

S : - Klien mengatakan makan

3x sehari dengan nasi +

tempe/tahu + kerupuk, teh

hanget kadang-kadang.

O : - Menu makan nasi +

tempe + kerupuk.

7. Berkolaborasi dengan

juru masak untuk

menghindari “benjol”

S : Juru masak mengatakan akan

mempertimbangkan dengan

pegawai panti yang lain.

O : Juru masak kooperatif.

Page 19: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

G. Evaluasi

Tgl/jam

No. Dx

Evaluasi Ttd

13 Nov

2007

1 S : - Klien mengatakan lantai masih kotor dan

penerangan masih kurang.

- Pegawai panti mengatakan akan

mempertimbangkan masalah keamanan panti.

O : - Lantai dibersihkan setiap hari

- Lam penerangan 1

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Lanjutkan intervensi.

2 S : - Klien mengatakan menu makan masih sama

seperti kemarin.

- Pegawai panti mengatakan belum bisa

melaksanakan pemenuhan nutrisi gigi klien di

panti.

O : Menu makan nasi + tempe/tahu + kerupuk ditambah

kadang-kadang sayur sup.

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Lanjutkan intervensi.

Page 20: Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC.

Carpenito L.J. (2001). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Eliopoulus, Arif. (2005). Gerontologi Nursing. Sixth Edition. Lipincott Willans. Philadelpia.

Manjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta : FKUI.

Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Prince, Sylvia Anderson. (1999). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.