73
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI OLEH : I WAYAN ADI PARWATA 15.901.1150 PROGRAM STUDI PROFESI NERS

Lp Hipertensi Lansia

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Lp Hipertensi Lansia

Citation preview

Page 1: Lp Hipertensi Lansia

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI

OLEH :

I WAYAN ADI PARWATA15.901.1150

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI

BALI TAHUN 2015

Page 2: Lp Hipertensi Lansia

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN HIPERTENSI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi

a. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas

90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai

tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Suzanne C.

Smeltzer, 2001).

b. Hipertensi didefinisikan sebagai suatu peningkatan tekanan

darah sistolik sedikitnya 140 mmHg dan/atau distolik

sedikitnya 90 mmHg (Sylvia A. Price , 2005).

c. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu

peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah

arteri secara terus menerus lebih dari suatu periode. Hal ini

terjadi bila arteriole-arteriole konstriksi. Kontriksi arteriole

membuat pembuluh darah sulit mengalir dan meningkatkan

tekanan melawan dinding arteri . Hipertensi menambah

beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat

menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah

(Udjianti, 2010).

d. Hipertensi adalah tekanan darah t inggi yang abnormal dan

diukur paling tidak pada t iga kesempatan yang berbeda.

Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, setiap

diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia (Corwin,

2009).

e. Menurut WHO, Batasan tekanan darah yang masih dianggap

normal adalah 140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah ≥

160/95 mmHg dinyatakan sebagai Hipertensi.

Page 3: Lp Hipertensi Lansia

2. Epidemiologi

Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di

Amerika Serikat. Sekitar seperempat jumlah penduduk dewasa menderita

hipertensi, dan insidennya lebih tinggi dikalangan Afro-Amerika setelah usia

remaja. Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi essensial dan

sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu.

Hipertensi sering dijumpai pada individu diabetes mellitus (DM)

dimana diperkirakan prevalensinya mencapai 50-70%. Modifikasi gaya

hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan

bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi.

Merokok adalah faktor risiko utama untuk mortalitas kardiovaskuler. Di

Indonesia banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi

hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada

orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi

sehingga mereka  cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak

menghindari dan tidak mengetahui factor risikonya, dan 90% merupakan

hipertensi esensial.

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang

memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti strok untuk

otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot

jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan

mesyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di

dunia. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di

negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000,

di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini

didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan

penduduk saat ini.

3. Etiologi

a. Hipertensi Esensial

Penyebab Hipertensi Esensial belum diketahui. Namun sejumlah

interaksi beberapa energi homeostatik saling terkait. Defek awal

Page 4: Lp Hipertensi Lansia

diperkirakan pada mekanisme pengaturan cairan tubuh dan tekanan oleh

ginjal. Faktor hereditas berperan penting bilamana ketidakmampuan

genetik dalam mengelola kadar natrium normal. Kelebihan intake

natrium dalam diet dapat meningkatkan volume cairan dan curah

jantung. Pembuluh darah memberikan reaksi atas peningkatan aliran

darah melalui kontriksi atau peningkatan tahanan perifer . Tekanan darah

tinggi adalah hasil awal dari peningkatan curah jantung yang kemudian

dipertahankan pada tingkat yang lebih tinggi sebagai suatu timbal balik

peningkatan tahanan perifer.

b. Hipertensi Sekunder

1) Penggunaan kontrasepsi hormonal (estrogen)

Oral kontrasepsi yang berisi estrogen dapat menyebabkan hipertensi

melalui mekanisme Renin-aldosteron-mediated volume expansion.

Dengan penghentian oral kontrasepsi, takanan darah normal kembali

setelah beberapa bulan.

2) Penyakit parenkim dan vaskular ginjal

Merupakan penyebab utama hipertensi sekunder. Hipertensi

renovaskular berhubungan dengan penyempitan satu atau lebih arteri

besar yang secara langsung membawa darah ke ginjal. Sekitar 90%

lesi arteri renal pada klien dengan hipertensi disebabkan oleh

aterosklerosis atau fibrous displasia (pertumbuhan abnormal jaringan

fibrous). Penyakit parenkim ginjal terkait dengan infeksi, inflamasi,

dan perubahan struktur, serta fungsi ginjal.

3) Gangguan endokrin

Disfungsi medula adrenal atau korteks adrenal dapat menyebabkan

hipertensi sekunder. Adrenal-mediated hypertension disebabkan

kelebihan primer aldosteron, kortisol, dan katekolamin. Pada

aldosteronisme primer, kelebihan aldosteron menyebabakan

hipertensi dan hipokalemia. Aldosteronisme primer biasanya timbul

dari benign adenoma korteks adrenal. Pheochromocytomas pada

medula adrenal yang paling umum dan meningkatkan sekresi

Page 5: Lp Hipertensi Lansia

katekolamin yang berlebihan. Pada Sindrom Chusing, kelebihan

glukokortikoid yang diekskresi dari korteks adrenal. Sindrom

Chusing’s mungkin disebabkan oleh hiperplasi adrenokortikal atau

adenoma adrenokortikal .

4) Coarctation aorta

Merupakan penyempitan aorta kongenital yang mungkin terjadi

beberapa tingkat pada aorta torasik atau aorta abdominal.

Penyempitan menghambat aliran darah melalui lengkung aorta dan

mengakibatkan peningkatan tekanan darah di atas area kontriksi.

5) Neurogenik

Tumor otak, encephalitis, dan gangguan psikiatrik

6) Peningkatan volume intravaskular

7) Merokok

Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan katekolamin.

Peningkatan katekolamin menyebabkan iritabilitas miokardial,

peningkatan denyut jantung, dan menyebabkan vasokontriksi , yang

mana pada akhirnya meningkatkan tekanan darah.

4. Faktor Predisposisi

a. Tidak dapat dikontrol, seperti :

1) Keturunan (genetik)

Kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada penderita

kembar monozigot daripada heterozigot, apabila salah satu

diantaranya menderita hipertensi, menyokong bahwa faktor genetik

mempunyai peran terhadap terjadinya hipertensi. Pada percobaan

binatang tikus golongan Japanese spontanously hypertensive rat

(SHR), New Zealand genetically hypertensive rat (GH), Dahl salt

sensitive (H) dan Salt resistant dan Milan hypertensive rat strain

(MHS), dua turunan tikus tersebut mempunyai faktor neurogenik

yang secara genetik diturunkan sebagai faktor penting timbulnya

Page 6: Lp Hipertensi Lansia

hipertensi, sedangkan dua turunan yang lain menunjukkan faktor

kepekaan terhadap garam yang juga diturunkan secara genetik

sebagai faktor utama timbulnya hipertensi.

2) Jenis Kelamin

Kalau ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata

wanita lebih banyak menderita hipertensi. Dari laporan Sugiri di

Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan

11,6% untuk wanita. Laporan dari Sumatera Barat, mendapatkan

18,6% pria dan 17,4% wanita. Dari perkotaan di Jakarta

(pertukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita.

3) Umur

Penderita hipertensi esensial, sebagian besar timbul pada usia

25 – 45 tahun dan hanya 20% yang timbulnya kenaikan tekanan

darah di bawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun (Soeparman,

1999).

b. Dapat dikontrol, seperti:

1) Kegemukan (obesitas)

Belum terdapat mekanisme pasti, yang dapat menjelaskan

hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, akan tetapi pada

penyelidikan dibuktikan bahwa curah jantung dan sirkulasi volume

darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan

dengan penderita yang mempunyai berat badan normal. Pada

obesitas tahanan ferifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas

saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah.

2) Kurang Olahraga

Lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi,

karena olah raga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan

perifer, yang akan menurunkan tekanan darah. Olah raga juga

dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Dengan kurang olah

raga, kemungkinan timbulnya obesitas akan meningkat dan apabila

Page 7: Lp Hipertensi Lansia

asupan garam bertambah, akan mudah timbul hipertensi.

3) Merokok

Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi, walaupun pada

manusia mekanisme secara pasti belum diketahui. Hubungan antara

rokok dengan peningkatan resiko kardiovaskuler telah banyak

dibuktikan.

4) Kolesterol tinggi

Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum

alkohol berat cenderung hipertensi, walaupun mekanisme timbulnya

hipertensi secara pasti belum diketahui.

5) Konsumsi Alkohol

6) Garam

Merupakan hal yang sangat sentral dalam patofisiologi

hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada golongan

suku bangsa dengan asupan garam minimal. Apabila asupan garam

kurang dari 3 gram perhari, prevalensi hipertensi beberapa saja,

sedangkan apabila asupan garam antara 5 – 15 gram perhari,

prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15 – 20%.

5. Patofisiologi

Hipertensi disebabkan oleh banyak faktor penyebab seperti

penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkim ginjal, berbagai obat,

disfungsi organ, tumor dan kehamilan. Gangguan emosi, obesitas, konsumsi

alkohol yang berlebihan, rangsangan kopi yang berlebihan, tembakau dan

obat-obatan dan faktor keturunan, faktor umur. Faktor penyebab diatas dapat

berpengaruh pada sistem saraf simpatis. Mekanisme yang mengontrol

konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor pada

medula diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang

berlanjut ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke

ganglia simpatis ditoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor

dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem

Page 8: Lp Hipertensi Lansia

jarak simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion

melepaskan asetilkolin yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke

pembuluh darah dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan

kontriksi pembuluh darah. Pada saat bersamaan sistem saraf simpatis

merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi kelenjar adrenal

terangsang, vasokonstriksi bertambah. Medula adrenal mensekresi epinofrin

menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid

yang memperkuat respons vasokontriksi dan mengakibatkan penurunan

aliran darah ke ginjal merangsang pelepasan renin. Renin merangsang

pembentukan angiotensin I dan diubah menjadi angiotensin II yang

mengakibatkan retensi natrium dan air yang menimbulkan odema.

Vasokontriksi pembuluh darah juga mengakibatkan peningkatan tahanan

perifer, meningkatnya tekanan arteri juga meningkatkan aliran balik darah

vena ke jantung dalam keadaan ini tubuh akan berkompensasi untuk

meningkatkan curah jantung mengalami penurunan. Hal ini mempengaruhi

suplai O2 miokardium berkurang yang menimbulkan manifestasi klinis

cianosis, nyeri dada/ angina, sesak dan juga mempengaruhi suplai O2 ke

otak sehingga timbul spasme otot sehingga timbul keluhan nyeri

kepala/pusing, sakit pada leher. Tingginya tekanan darah yang terlalu lama

akan merusak pembuluh darah diseluruh tubuh seperti pada mata

menimbulkan gangguan pada penglihatan, jantung, ginjal dan otak karena

jantung dipaksa meningkatkan beban kerja saat memompa melawan

tingginya tekanan darah. Diotak tekanan darah tinggi akan meningkatkan

tekanan intra kranial yang menimbulkan manifestasi klinis penurunan

kesadaran, pusing, dan gangguan pada penglihatan kadang-kadang sampai

menimbulkan kelumpuhan.

Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan struktural dan fungsional

pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan

darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi

aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam

relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan

Page 9: Lp Hipertensi Lansia

kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya,

aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi

volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ),

mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer

( Brunner & Suddarth, 2002 ).

6. Pathway (Terlampir)

7. Manifestasi Klinis

Biasanya Hipertensi tanpa gejala atau tanda- tanda peringatan untuk

hipertensi dan sering disebut “silent killer” (Udjianti, 2010).

Sebagian besar manifestasi klinis terjadi setelah mengalami hipertensi

bertahun- tahun, dan berupa:

a. Sakit kepala saat terjaga, kadang- kadang disertai mual dan muntah,

akibat peningkatan tekanan darah intrakranial

b. Penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retina

c. Cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat

d. Nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjal

e. Edema dependent dan peningkatan akibat tekanan kapiler

f. Palpitasi

g. Keringat berlebihan

h. Tremor otot

i. Nyeri dada

j. Epistaksis

k. Tinnitus (telinga berdenging)

l. Kesulitan tidur (Udjianti, 2010).

8. Klasifikasi

a. The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment

of High Blood Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu : (Smeltzer,

2001)

Page 10: Lp Hipertensi Lansia

b. Klasifikasi Hipertensi berdasarkan level tekanan darah (Guyton dan Hall,

1997 dalam Udjianti, 2010)

Tekanan Darah Sistolik dan

Diastolik

Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *

Kategori Sistolik

(mmhg)

Diastolik

(mmhg)

Normal < 130 <85

Normal tinggi 130-139 85-89

Hipertensi †

Stadium 1 (ringan) 140-159 90-99

Stadium 2 (sedang) 160-179 100-109

Stadium 3 (berat) 180- 209 110-119

Stadium 4 ( sangat berat) ≥210 ≥120

Page 11: Lp Hipertensi Lansia

(SBP dan DBP)

Normotensi <140 SBP dan <90 DBP

Hipertensi Ringan 140 – 180 SBP/ 90 – 105 DBP

Subgroup : garis batas 140 – 160 SBP / 90 – 105 DBP

Subgroup : garis batas 140 – 160 SBP dan <90 DBP

Hipertensi sedang dan berat >140 SBP atau >105 DBP

Hipertensi Sistolik terisolasi >140 SBP dan <90 DBP

c. Klasifikasi Hipertensi berdasarkan Penyebab

1) Hipertensi Esensial / Hipertensi Primer.

Hipertensi primer merupakan 90 % dari seluruh kasus Hipertensi

adalah Hipertensi Esensial yang di definisikan sebagai peningkatan

tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik).

Beberapa faktor diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi

esensial sebagai berikut:

a) Genetik: Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan

hipertensi, berisiko tinggi mendapatkan penyakit ini.

b) Jenis kelamin dan usia: Laki- laki berusia 35 – 50 tahun dan

wanita pasca menoupause berisiko tinggi mengalami hipertensi.

c) Diet: Konsumsi diet tinggi garam atau lemak secara langsung

berhubungan dengan berkembangnya hipertensi.

d) Berat badan: Obesitas (>25% diatas BB ideal) dikaitkan dengan

berkembangnya Hipertensi.

e) Gaya Hidup : Merokok dan konsumsi alkohol dapat

meningkatkan tekanan darah, bila gaya hidup menetap.

2) Hipertensi Sekunder

Merupakan 10 % dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi

sekunder, yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah

karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit

ginjal atau gangguan tiroid. Faktor pencetus munculnya hipertensi

sekunder antara lain: Penggunaan kontrasepsi oral, coarctation aorta,

Page 12: Lp Hipertensi Lansia

neurogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris),

peningkatan volume intravaskular, stress (Udjiati, 2010)

9. Komplikasi

a. Stroke

Dapat terjadi akibat hemoragi tekanan tinggi di otak, atau akibat embolus

yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan tinggi.

Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang

memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran

darah ke area otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak yang

mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan

kemungkinan terbentuknya aneurisma.

b. Infark Miokard

Dapat terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak dapat

menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus

yang menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada

hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen

miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia

jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi ventrikel

dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel

sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan risiko

pembentukan bekuan.

c. Gagal Ginjal

Dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada

kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke

unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut

menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerulus,

protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan osmotik koloid

plasma berkurang dan menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada

hipertensi kronis.

d. Ensefalopati (kerusakan otak)

Page 13: Lp Hipertensi Lansia

Terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat dan

berbahaya). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabakan

peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke ruang interstisial

di seluruh susunan saraf pusat. Neuron- neuron di sekitarnya kolaps dan

terjadi koma serta kematian.

e. Kejang

Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir mungkin

memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi plasenta yang

tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu

mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan (Corwin,

2009)

10. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang

a. Hitung darah lengkap (complete blood cells count) meliputi pemeriksaan

Hemoglobin, Hematrokit untk menilai viskositas dan indikator faktor

resiko seperti Hiperkoagulabilitas, anemia.

b. Kimia Darah

1) BUN , Kreatin: peningkatan kadar menandakan penurunan perfusi

atau faal renal

2) Serum Glukosa: hiperglisemia (diabetes melitus adalah presipitator

hipertensi) akibat dari peningkatan kadar katekolamin.

3) Kadar kolesterol atau trigliserida: peningakatan kadar

mengindikasikan predisposisi pembentukan plaque atheromatus.

4) Kadar serum aldosteron : menilai adanya aldosteronisme primer.

5) Studi tiroid (T3 dan T4): menilai adanya hipertiroidisme yang

berkontribusi terhadap vasokontriksi dan hipertensi.

6) Asam urat : hiperuricemia merupakan implikasi faktor risiko

hipertensi.

c. Elektrolit

1) Serum Potasium atau Kalium (hipokalemia mengindikasikan adanya

aldosteronisme atau efek samping terapi diuretik)

Page 14: Lp Hipertensi Lansia

2) Serum Kalsium bila meningkat berkontribusi terhadap hipertensi .

d. Urine

1) Analisis urine adanya darah, protein, glukosa dalam urine

mengindikasikan disfungsi renal atau diabetes

2) Urine VMA (catecholamine metabolite): peningkatan kadar

mengindikasikan adanya pheochromacytoma

3) Steroid urine : peningkatan kadar mengindikasikan hiperadrenalisme,

pheochromacytoma, atau disfungsi pituitary , Sindrom Chusing’s;

kadar renin juga meningkat.

e. Radiologi

1) Intra Venous Pyelografi (IVP) : mengidentifikasi penyebab hipertensi

seperti renal pharenchymal disease, urolithiasis , benign prostate

hyperplasia (BPH).

2) Rontgen toraks: menilai adanya kalsifikasi obstruktif katup jantung,

deposit kalsium pada aorta, dan pembesaran jantung.

f. EKG

Menilai adanya hipertrofi miokard, pola strain, gangguan konduksi atau

disritmia. (Udjiati, 2010)

11. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Non Farmakologis

1) Diet

Berbagai studi menunjukkan bahwa diet dan pola hidup sehat dan

atau dengan obat-obatan yang menurunkan gejala gagal jantung dan

bisa memperbaiki keadaan LVH. Beberapa diet yang dianjurkan

antara lain:

a) Rendah garam,

Beberapa studi menunjukan bahwa diet rendah garam dapat

menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.Dengan

pengurangan komsumsi garam dapat mengurangi stimulasi

system renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi sebagai anti

Page 15: Lp Hipertensi Lansia

hipertensi. Jumlah intake sodium yang dianjurkan 50–100 mmol

atau setara dengan 3-6 gram garam per hari.

b) Diet tinggi potassium

Dapat menurunkan tekanan darah tapi mekanismenya belum

jelas.Pemberian Potassium secara intravena dapat menyebabkan

vasodilatasi,yang dipercaya dimediasi oleh nitric oxide pada

dinding vascular.

c) Diet kaya buah dan sayur.

d) Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung

koroner.

e) Tidak mengkomsumsi Alkohol.

2) Olahraga Teratur

Olahraga teratur seperti berjalan, bermanfaat untuk menurunkan

tekanan darah dan dapat memperbaiki keadaan jantung. Olaharaga

isotonik dapat juga bisa meningkatkan fungsi endotel, vasodilatasi

perifer, dan mengurangi katekolamin plasma. Olahraga teratur

selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat

dinjurkan untuk menurunkan tekanan darah.

3) Penurunan Berat Badan

Pada beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan

dengan kejadian hipertensi dan LVH. Jadi penurunan berat badan

adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah.

Penurunan berat badan (1kg/minggu) sangat dianjurkan. Penurunan

berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu menjadi

perhatian khusus karena umumnya obat penurun berat badan yang

terjual bebas mengandung simpatomimetik, sehingga dapat

meningkatan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal

jantung dan terjainya eksaserbasi aritmia.

4) Menghindari obat-obatan seperti NSAIDs, simpatomimetik, dan

MAO yang dapat meningkatkan tekanan darah atau

menggunakannya dengan obat antihipertensi.

Page 16: Lp Hipertensi Lansia

5) Aktivitas

Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan

dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti

berjalan, jogging.

b. Penatalaksanaan Farmakologis

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan

darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat

hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi

umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar

yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint National

Comittee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood

Pressure, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat

beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai

obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan

penyakit lain yang ada pada penderita.

Penatalaksanaan farmakologis meliputi :

1) Diuretika

a) Tiazid : obat yang paling sering digunakan dan salah satu obat

golongan ini yang paling luas diteliti. Secara tradisional, diuretika

tiazid membentuk dasar sebagian besar program terapeutik yang

dibentuk untuk menurunkan tekanan arteri dan biasanya efektif

dalam 3-4 hari. Selanjutnya obat ini ditujukan untuk mengurangi

mortalitas dan morbiditas dalam uji klinis jangka panjang. Contoh

diuretik tiazid yaitu hidroklorotiazida.

b) Diuretik yang bekerja pada angsa henle tubulus yang lebih poten

seperti furosemid dan bumetanid juga ditujukan sebagai

antihipertensi tetapi penggunaanya kurang luas karena lama

kerjanya yang lebih pendek.

Page 17: Lp Hipertensi Lansia

c) Diuretik Hemat Kalium

Terdapat 3 jenis diuretik kalium yaitu Spironolakton, Triamteren

dan Amilorid. Ketiga diuretika hemat kalium ini dapat diberikan

bersamaan dengan diuretika tiazid untuk mengurangi kehilangan

kalium ginjal.

2) Obat anti – adrenergik

Obat ini bertindak pada satu tempat atau lebih secara sentral pada

pusat vasomotor, pada neuron perifer mengubah pelepasan

katekolamin, atau dengan menghambat tempat reseptor adrenergik

pada jaringan target. Obat yang tampaknya mempunyai kerja sentral

lebih menonjol adalah klonidin, metildopa, guanabenz, dan

guanfasin. Kelompok obat anti-adrenergik lain adalah obat

penghambat ganglionik, yang mempunyai sedikit efek jika pasien

berbaring terlentang tetapi mencegah refleks vasokontriksi pada

posisi berdiri.

3) Vasodilator

a) Hidralazin, obat yang paling serba guna yang menyebabkan

relaksasi langsung otot polos vaskuler, obat ini efektif baik secara

oral maupun parenteralm, terutama bekerja pada resistensi arteri

dibandingkan kapasitas pembuluh vena.

b) Minoxidil, penggunaannya terbatas terutama pada pasien dengan

hipertensi berat dan insufisiensi renal

c) Diazoksid, derivat tiazid, terbatas penggunaannya pada keadaan

akut. Obat ini harus diberikan dengan cepat secara intravena

untuk menjamin efeknya. Obat ini segera bekerja menurunkan

tekanan darah, dan efeknya berakhir selama beberapa jam.

d) Nitroprusid, diberikan secara intravena juga bekerja sebagai

vasodilator langsung, dengan mulai dan berhenti kerjanya yang

hampir segera.

Page 18: Lp Hipertensi Lansia

4) Inhibitor enzim pengubah angiotensin (ACE, angiotensin converting

enzim)

Obat ini meliputi klonidin, reserpin, metil-dopa, dan penghambat

beta. Obat ini berguna karena tidak hanya menghambat pembentukan

vasokontriktor poten (angiotensin I) tetapi juga memperlambat

degradasi vasodilator poten (bradikinin), mengubah produksi

prostaglandin, dan dapat mengubah aktivitas sistem adrenergik

5) Antagonis saluran Kalsium

Obat ini mengubah jalan masuk kalsium ke dalam sel dengan

menghambat aliran atau saluran kalsium yang tergantung voltase.

Antagonis kalsium juga berguna pada angina pektoris karena kerja

inotrofik negatifnya, obat- obat ini sebaiknya digunakan dengan hati-

hati pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal. Contoh obat ini

seperti Nifedipin, Amlodipin, Diltiazem. (Harrison, 2000)

c. Follow Up untuk mempertahankan terapi

Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan

interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan

(perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal

yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan

adalah sebagai berikut :

a) Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran

tekanan darahnya

b) Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai

tekanan darahnya

c) Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh,

namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan

mortilitas

Page 19: Lp Hipertensi Lansia

d) Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan

tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan

darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat

tensimeter

e) Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih

dahulu

f) Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup

penderita

g) Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi

h) Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita

atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah

i) Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal

1 x sehari atau 2 x sehari

j) Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek

samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi

k) Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis

atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan

efektifitas maksimal

l) Usahakan biaya terapi seminimal mungkin

m)Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih

sering

n) Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang

ditentukan.

Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka

sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman

dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

12. Prognosis

Page 20: Lp Hipertensi Lansia

Pasien yang menderita hipertensi mempunyai harapan hidup sebanyak 50

%. Tetapi bila ditangani secara tidak benar pasien tersebut akan mempunyai

prognosis yang jelek (menyebabkan kematian).

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI

1. Pengkajian

a. Identitas klien

Identitas klien meliputi pengkajian mengenai nama, tempat/tanggal lahir

klien, umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, golongan darah, agama,

status perkawinan klien, alamat, jenis kelamin, orang yang paling dekat

dengan klien atau yang bertanggung jawab, hubungan orang tersebut

dengan klien, alamat dan jenis kelamin orang tersebut.

b. Status kesehatan saat ini

1) Keluhan utama

Keluhan penderita hipertensi biasanya seperti sakit kepala, fatigue,

lemah dan sulit bernapas. Temuan fisik meliputi peningkatan

frekuensi denyut jantung, disritmia dan takipnea.

2) Pengetahuan/pemahaman dan penatalaksanaan masalah kesehatan

3) Derajat keseluruhan fungsi relative terhadap masalah kesehatan dan

diagnose medis.

4) Alasan masuk panti (jika dipanti) :

a) Obat-obatan

Nama dan dosis obat yang diberikan, waktu dan cara penggunaan

Page 21: Lp Hipertensi Lansia

b) Status imunisasi

Tanggal terbaru imunisasi tetanus, difteria, dll

c) Alergi (catat agen dan reaksi spesifik)

d) Penyakit yang diderita

e) Nutrisi

Diet yang diberikan, riwayat peningkatan dan penurunan BB,

masalah dalam pemenuhan nutrisi, kebiasaan, pola makan.

c. Status kesehatan masa lalu

Penyakit pada masa kanak-kanak, penyakit serius atau kronik yang

pernah dialami, trauma, perawatan dirumahsakit (alasan, tanggal, tempat,

durasi), operasi yang pernah dijalani (jenis, tanggal, tempat, alasan,

hasil), riwayat obstetric, ada/ tidaknya riwayat hipertensi.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Riwayat hipertensi dalam keluarga

e. Riwayat pekerjaan

Mengkaji mengenai status pekerjaan saat ini, pekerjaan sebelumnya,

sumber-sumber pendapatan, dan kecukupan terhadap kebutuhan, jarak

tempat kerja dari rumah, dan alat transportasi yang digunakan untuk

bekerja.

f. Riwayat lingkungan hidup

Type tempat tinggal/panti, jumlah kamar, jumlah orang yang tinggal di

dalam rumah/panti, derajat privasi, tetangga terdekat, kondisi

rumah/panti, nomor telepon rumah/panti.

g. Riwayat rekreasi

Mengkaji tentang hobby/minat, keanggotaan organisasi, liburan

perjalanan, kegiatan dirumah/panti.

h. Sumber/system pendukung yang digunakan

Mengkaji tentang dokter/fisioterapi yang pernah dikunjungi, rumah sakit,

klinik, yankes lain yang pernah dikunjungi, pernah tidaknya di opname,

Page 22: Lp Hipertensi Lansia

jarak pelayanan kesehatan dari rumah panti, bagaimana perawatan sehari-

hari dirumah/panti.

i. Kebiasaan ritual

Mengkaji tentang agama, kebiasaan ibadah, kepercayaan.

j. Tinjauan sistem

1) Sistem Endokrin

Biasanya penderita hipertensi mengalami disfungsi medula adrenal

atau korteks adrenal yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder.

2) Sistem Kardiovaskuler

Melaporkan peningkatan tekanan darah, angina, sakit kepala hebat di

oksipital, takikardi, distritmia, palpitasi, sesak nafas, dispnea pada

aktivitas, murmur, edema, frekuensi denyut jantung, tekanan darah

meningkat, penyakit jantung koroner/ katup.

3) Sistem Pernapasan

Mengeluh sesak napas saat aktivitas, takipnea, orthopnea, PND, batuk

dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok. Temuan fisik meliputi

penggunaan otot bantu napas, terdengar suara tambahan (ronkhi,

wheezing)

4) Sistem Pencernaan

Riwayat mengonsumsi makanan tinggi lemak atau kolesterol, tinggi

garam, dan tinggi kalori, riwayat penggunaan diuretik. Temuan fisik

meliputi berat badan normal atau obesitas, edema, dan glikosuria

(riwayat diabetes melitus)

5) Sistem Perkemihan

Riwayat penyakit ginjal (obstruksi atau infeksi). Temuan fisik seperti

produksi urine <50 ml/jam atau oliguri.

6) Sistem Integument

Biasanya ditemukan warna kulit pucat, suhu kulit dingin, pengisian

kapiler lambat (>2 detik), sianosis, diaforesis atau flushing,

kemerahan (feokromositoma) dan keringat yang berlebih.

7) Sistem Muskuloskeletal

Page 23: Lp Hipertensi Lansia

Biasanya penderita hipertensi mengalami kelemahan dan cepat letih.

8) Sistem Persarafan/ Neuro

Biasanya penderita hipertensi melaporkan adanya serangan pusing/

pening, sakit kepala berdenyut di suboksipital, episode mati rasa,

penurunan refleks tendon. Status mental: perubahan keterjagaan,

orientasi, pola/ isi bicara, afek, proses pikir, atau memori (ingatan).

9) Sistem Pengindraan

Biasanya didapatkan data gangguan visual seperti diplopia-pandangan

ganda/kabur dan episode epitaksis. Fundus optik: pemeriksaan retina

dapat ditemukan penyempitan atau sklerosis arteri, edema atau

papiledema (eksudat atau hemoragi) tergantung derajat dan lamanya

hipertensi.

10) Sistem Reproduksi

Biasanya didapatkan data impoten pada pria, dan penurunan libido

pada wanita

k. Pengkajian status fungsional

Mengukur kemampuan lansia untuk melakukan aktifitas sehari – hari secara

mandiri. Penentuan kemandirian fungsional dapat mengidentifikasi

kemampuan dan keterbatasan klien, menimbulkan pemilihan intervensi

yang tepat. Kemandirian pada aktifitas kehidupan sehari – hari dapat diukur

dengan menggunakan INDEKS KATZ. Pengkajian dengan menggunakan

Indeks Katz, dijelaskan sebagai berikut :

INDEKS KATZ

SKOR

E

1 Kemandirian dalam hal makan, kontinensia ( BAB/BAK),

berpindah, ke kamar kecil, berpakaian dan mandi

2 Kemandirian, dalam semua aktifitas hidup sehari – hari, kecuali

salah satu dari fungsi diatas

Page 24: Lp Hipertensi Lansia

3 Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi dan salah satu fungsi dari di atas

4 Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi, berpakaian dan salah satu dari fungsi di atas

5 Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi, berpakaian ke kamar kecil/toilet, dan salah satu dari

fungsi yang lain.

6 Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi, berpakaian, berpindah dan salah satu dari fungsi yang

lain.

7 Ketergantungan pada enam fungsi yang lain.

l. Pengkajian status kognitif dan afektif

Pengkajian status kognitif dan afektif menggunakan :

1) Short Portable Mental Status Quesstionnaire ( SPMSQ ) untuk

mendeteksi adanya tingkat kerusakan intelektual lansia, yang terdiri dari

10 hal.

SPSMQ

NO Pertanyaan Benar Salah

1 Tanggal berapa hari ini ?

2 Hari apa sekarang ? ( hari, tanggal, tahun )

3 Apa nama tempat ini ?

4 Alamat anda ?

5 Berapa umur anda ?

6 Kapan anda lahir ? ( minimal tahun lahir )

7 Siapa nama presiden Indonesia sekarang ?

8 Siapa nama presiden sebelumnya ?

9 Siapa nama ibu anda ?

Page 25: Lp Hipertensi Lansia

10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari

setiap angka baru, semua secara menurun

Kesimpulan dari penjelasan di atas :

Salah 0 – 3 : fungsi intelektual utuh

Salah 4 – 5 : kerusakan intelektual ringan

Salah 6 – 8 : kerusakan intelektual sedang

Salah 9 – 10 : kerusakan intelektual berat

2) Mini Mental State Exam ( MMSE )

MMSE digunakan untuk menguji aspek – aspek kognitif dari fungsi

mental : orientasi, regristasi, perhatian dan kalkulasi, mengingat kembali

dan bahasa.

MMSE

No Aspek Kognitif Nilai

Maks.

Nilai

klien

Kriteria

1 Orientasi 5 Menyebutkan dengan benar :

tahun/ musim/ tanggal/ hari/ bulan

2 Orientasi 5 Dimana anda sekarang ? Negara

Indo/provinsi/kota/panti

werdha/wisma

3 Registrasi 3 Sebutkan 3 objek(oleh pemeriksa)

1detik untuk mengatakan masing-

masing objek, kemudian tanyakan

kepada klien ketiga objek

tadi(untuk disebutkan):

4 Perhatian dan kalkulasi 5 Minta klien untuk memulai dari

angka 100kemudian dikurangi 7

sampai 5 kali ( 93, 86, 79, 72, 65 )

5 Mengingat 3 Minta klien untuk mengulangi

ketiga objek , pada no 2( registrasi

Page 26: Lp Hipertensi Lansia

) tadi, bila benar 1 poin untuk

masing-masing objek

6 Bahasa 9 Tunjukan pada klien suatu benda

dan tanyakan namanya pada klien

( missal jam tangan atau pensil).

Minta pada klien untuk

mengulang kata berikut “tidak

ada, jika, dan, atau, tetapi”. Bila

benar, nilai 2 poin. Bila

pertanyaan benar 2-3 buah, misal :

tidak ada, tetapi, maka nilai 1

poin. Minta klien untuk mengikuti

perintah yang terdiri dari 3

langkah: “ambil kertas ditangan

anda, lipat 2 dan taruh dilantai”

-ambil kertas

-lipat 2

-taruh dilantai

Perintahkan pada klien untuk hal

berikut (bila aktivitas sesuai

perintah nilai 1 point).

-tutup mata anda

Perintahkan pada klien untuk

menulis satu kalimat dan

menyalin gambar.

-tulis satu kalimat

-menyalin gambar

Kesimpulan MMSE

>23 : aspek kognitif dari fungsi mental baik

Page 27: Lp Hipertensi Lansia

18-22 : kerusakan aspek fungsi mental ringan

≤17 : terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat

m. Pengkajian psikososial dan spiritual

1) Pengkajian psikososial

Pengkajian ini menjelaskan kemampuan lansia tentang: sosialisasi lansia

pada saat sekarang; sikap pada orang lain; harapan dalam bersosialisasi.

Pengkajian ini dilakukan dengan cara:

a) Pertanyaan tahap 1:

(1) Apakah klien mengalami kesulitan tidur

(2) Apakah klien sering merasa gelisah

(3) Apakah klien sering murung da menangis sendiri

(4) Apakah klien sering was-was atau khawatir

Lanjutkan ke pertanyaan tahap 2, jika ≥1 jawaban “YA”

b) Pertanyaan tahap 2 :

(1) Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam sebulan

(2) Ada atau banyak fikiran

(3) Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain

(4) Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter

(5) Cendrung mengurung diri

Bila jawaban ≥1 jawaban “YA” berarti terjadi MASALAH

EMOSIONAL (MASALAH EMOSIONAL POSITIF).

2) Pengkajian spiritual

Mengkaji tentang :

a) Agama

b) Kegiatan keagamaan

c) Konsep/ keyakinan klien tentang kematian

d) Harapan-harapan klien

2. Diagnosa Keperawatan

Page 28: Lp Hipertensi Lansia

a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,

vasokontriksi, iskemia miokard.

b. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral.

c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

d. Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan perubahan

persepsi sensori.

e. Resiko ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan masukan berlebih berlebihan, pola hidup monoton.

f. Resiko cedera berhubungan dengan pandangan kabur, epistaksis.

g. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan

berhubungan dengan kurang pengetahuan/ daya ingat, misinterpretasi

informasi, keterbatasan kognitif.

3. Rencana Keperawatan/ Intervensi

No

.

Dx. Kep Tujuan & Kriteria

Evaluasi

Intervensi Rasional

1. Penurunan

curah jantung

berhubungan

dengan

peningkatan

afterload,

vasokontriksi,

iskemia

miokard.

Setelah diberikan

tindakan

keperawatan

diharapkan curah

jantung kembali

normal. Dengan

Kriteria Hasil :

Klien

berpartisifasi

dalam aktivitas

yang

1. Observasi

tekanan darah

2. Catat

keberadaan,

1. Perbanding

an dari tekanan

memberikan

gambaran

yang lebih

lengkap tentang

keterlibatan /

bidang masalah

vaskuler.

2. Denyutan

karotis,jugularis

Page 29: Lp Hipertensi Lansia

menurunkan

tekanan darah /

beban

kerja jantung

M

empertahankan

TD dalam

rentang

individu yang

dapat

diterima

Memperlihatka

n frekwensi

jantung stabil

dalam rentang

normal pasien.

kualitas denyutan

sentral dan perifer

3. Auskultasi

tonus jantung dan

bunyi napas.

, radialis dan

femoralis

mungkin

teramati /

palpasi. Dunyut

pada tungkai

mungkin

menurun,

mencerminkan

efek dari

vasokontriksi

(peningkatan

SVR) dan

kongesti vena.

3. S4 umum

terdengar pada

pasien

hipertensi berat

karena adanya

hipertropi

atrium,

perkembangan

S3

menunjukan

hipertropi

ventrikel dan

kerusakan

fungsi, adanya

krakels,

mengi dapat

Page 30: Lp Hipertensi Lansia

4. Amati warna

kulit, kelembaban,

suhu, dan masa

pengisian kapiler.

5. Catat adanya

demam umum /

tertentu.

6. Berikan

lingkungan yang

nyaman, tenang,

kurangi aktivitas /

keributan

mengindikasika

n kongesti paru

sekunder

terhadap

terjadinya

atau gagal

jantung kronik.

4. Adanya

pucat, dingin,

kulit lembab

dan masa

pengisian

kapiler lambat

mencerminkan

dekompensasi /

penurunan

curah jantung.

5. Dapat

mengindikasika

n gagal

jantung,

kerusakan ginjal

atau vaskuler.

6. Membantu

untuk

menurunkan

Page 31: Lp Hipertensi Lansia

ligkungan, batasi

jumlah pengunjung

dan lamanya

tinggal.

7. Anjurkan

teknik relaksasi,

panduan imajinasi

dan distraksi.

Kolaborasi dengan

dokter

8. Pemberian

theraphy anti

hipertensi,deuritik.

Kolaborasi dengan

ahli gizi

9. Berikan

pembatasan cairan

dan diit natrium

sesuai indikasi

rangsangan

simpatis,

meningkatkan

relaksasi.

7. Dapat

menurunkan

rangsangan

yang

menimbulkan

stress, membuat

efek tenang,

sehingga akan

menurunkan

tekanan darah.

8. Menurunkan

tekanan darah.

9. Pembatasan ini

dapat

menangani

retensi cairan

dengan respons

Page 32: Lp Hipertensi Lansia

hipertensif,

dengan

demikian

menurunkan

kerja jantung.

2. Nyeri akut

berhubungan

dengan

peningkatan

tekanan

vascular

serebral

Setelah diberikan

tindakan

keperawatan

diharapkan nyeri

berkurang atau

teratasi

Kriteria Hasil :

Melaporkan

nyeri / ketidak

nyamanan

terkontrol

Mengungkapka

n

metode yang

memberikan

pengurangan

nyeri

Mengikuti

regiment

farmakologi

yang

diresepkan.

1. Mempertahankan

tirah baring selama

fase akut

2. Berikan tindakan

nonfarmakologi

untuk

menghilangkan

sakit kepala, misal

kompres dingin

pada dahi, pijat

punggung dan

leher, tenang,

redupkan lampu

kamar, teknik

relaksasi (panduan

imajinasi, ditraksi)

dan aktivitas waktu

senggang.

3. Hilangkan/

minimalkan

aktivitas

vasokonstriksi

yang dapat

1. Meminimalkan

stimulasi/menin

gkat-kan

relaksasi

2. Tindakan yang

menurunkan

tekanan

vaskuler

serebral dan

yang

memperlambat/

memblok

respons

simpatis efektif

dalam

menghilangkan

sakit kepala dan

komplikasinya.

3. Aktivitas yang

meningkatkan

vasokontriksi

Page 33: Lp Hipertensi Lansia

meningkatkan sakit

kepala, mis.,

mengejan saat

BAB, batuk

panjang,

membungkuk.

4. Bantu pasien dalam

ambulasi sesuai

kebutuhan

Kolaborasi

5.Pemberian obat:

a. analgesik

b. antiansietas

menyebabkan

sakit kepala

pada adanya

peningkatan

tekanan

vaskular

serebral

4. Pusing dan

penglihatan

kabur sering

berhubungan

dengan sakit

kepala. Pasien

juga dapat

mengalami

episode

hipotensi

postural.

a. Menurunkan/

mengontrol

nyeri dan

menurunkan

rangsang sistem

saraf simpatis.

Page 34: Lp Hipertensi Lansia

b. Dapat

mengurangi

tegangan dan

ketidaknyaman

an yang

diperberat oleh

stres.

3. Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum dan

ketidakseimban

gan antara

suplai dan

kebutuhan

oksigen

Setelah diberikan

tindakan

keperawatan

diharapkan klien

mampu

melakukan

aktivitas sesuai

dengan batas

toleransinya

dengan

Kriteria Hasil :

Klien dapat

berpartisipasi

dalam aktivitas

yang di

inginkan /

diperlukan

Melaporkan

peningkatan

dalam toleransi

aktivitas yang

dapat diukur.

1. Observasi respons

pasien terhadap

aktivitas,

perhatikan

frekuensi nadi lebih

dari 20 kali per

menit di atas

frekuensi istirahat:

peningkatan TD

yang nyata

selama/sesudah

aktivitas (tekanan

sistolik meningkat

40 mmHg atau

tekanan diastolik

meningkat 20

mmHg); dispnea

atau nyeri dada;

keletihan dan

kelemahan yang

berlebihan;

diaforesis; pusing

atau pingsan.

1. Menyebutkan

parameter

membantu

dalam mengkaji

respons

fisiologi

terhadap stres

aktivitas dan,

bila ada

merupakan

indikator dari

kelebihan kerja

yang berkaitan

dengan tingkat

aktivitas.

2. Teknik

menghemat

Page 35: Lp Hipertensi Lansia

2. Instruksikan pasien

tentang teknik

penghematan

energi, mis.,

menggunakan kursi

saat mandi, duduk

saat menyisir

rambut atau

menyikat gigi,

melakukan

aktivitas dengan

perlahan.

3. Berikan dorongan

untuk melakukan

aktivitas/perawatan

diri bertahap jika

dapat ditoleransi.

Berikan bantuan

sesuai kebutuhan.

energi

mengurangi

penggunaan

energi, juga

membantu

keseimbangan

antara suplai

dan kebutuhan

oksigen.

3. Kemajuan

aktivitas

bertahap

mencegah

peningkatan

kerja jantung

tiba-tiba.

Memberikan

bantuan hanya

sebatas

kebutuhan akan

mendorong

kemandirian

dalam

melakukan

aktivitas.

4. Gangguan

sensori persepsi

visual

berhubungan

Setelah dilakukan

tindakan

keperawatan

diharapkan

1. Tentukan

ketajaman

penglihatan, catat

apakah satu atau

1. Kebutuhan

individu dan

pilihan

intervensi

Page 36: Lp Hipertensi Lansia

dengan

perubahan

persepsi sensori

gangguan sensori

perseptual ;

penglihatan dapat

ditoleransi

dengan Kriteria

Hasil :

Klien

maengatakan

mampu melihat

barang atau

benda sesuai

dengan batas

kemampuan

klien

kedua mata terlibat.

2. Perhatikan

tentang suram atau

penglihatan kabur

dan iritasi mata,

dimana dapat

terjadi bila

menggunakan tetes

mata.

bervariasi sebab

kehilangan

penglihatan

terjadi lambat

dan progresif.

Bila bilateral,

tiap mata dapat

berlanjut pada

laju yang

berbeda, tetapi

biasanya hanya

satu mata

diperbaiki per

prosedur.

2. Gangguang

penglihatan/irita

si dapat

berakhir 1-2

jam setelah

tetesan mata

tetapi secara

bertahap

menurun

dengan

penggunaan.

Catatan: iritasi

lokal harus

dilaporkan ke

dokter, tetapi

jangan hentikan

Page 37: Lp Hipertensi Lansia

3. Letakan

barang yang

dibutuhkan/posisi

bel pemanggil

dalam jangkauan

pada sisi yang tak

bermasalah atau

pada jangkauan

tangan klien

penggunaan

obat sementara.

3. Memungki

nkan pasien

melighat objek

lebih mudah

dan

memudahkan

panggilan untuk

perolongan bila

diperlukan.

5. Resiko

ketidakseimban

gan nutrisi lebih

dari kebutuhan

tubuh

berhubungan

dengan

masukan

berlebih

berlebihan, pola

hidup monoton

Setelah diberikan

asuhan

keperawatan

diharapkan nutrisi

klien

cukup/optimal

sesuai kebutuhan

dengan

Kriteria Hasil :

Klien mampu

mengidentifika

si hubungan

antara

hipertensi dan

kegemukan

Klien mampu

menunjukkan

perubahan pola

1. Kaji ulang

masukan kalori

harian dan pilihan

diit

2. Kaji pemahaman

pasien tentang

hubungan langsung

antara hipertensi

dan kegemukan

1.

Mengidentifikas

i kekuatan/

kelemahan

dalam program

diet terakhir.

Membantu

dalam

menentukan

kebutuhan

individu untuk

penyesuaian/

penyuluhan.

2. Kegemukan

adalah resiko

tambahan pada

tekanan darah

Page 38: Lp Hipertensi Lansia

makan

Klien mampu

melakukan/

mempertahank

an program

olahraga yang

tepat

3. Bicarakan

pentingnya

menurunkan

masukan kalori dan

batasi masukan

lemak,garam,dan

gula,sesuai indikasi.

4. Tetapkan keinginan

pasien menurunkan

berat badan

5. Tetapkan rencana

penurunan berat

badan yang

realistik dengan

pasien, misal

penurunan BB 0,5

kg/ minggu

tinggi karena

disproporsi

antara kapasitas

aorta dan

peningkatan

curah jantung

berkaitan

dengan

peningkatan

massa tubuh

3. Kesalahan

kebiasaan

makan makan

menujang

terjadinya

ateroskerosis

dan kegemukan.

4. Motivasi untuk

menurunkan

berat badan

adalah internal,

individu harus

berkeinginan

untuk

menurunkan

berat badan

5. Penurunan

masukan kalori

seseorang

Page 39: Lp Hipertensi Lansia

6. Dorong pasien

untuk

mempertahankan

masukan makanan

harian termasuk

kapan, dan dimana

makan dilakukan

5. Intruksikan dan

bantu memilih

makanan yang

tepat, hindari

makanan dengan

kejenuhan lemak

tinggi dan

kolesterol

Kolaborasi

dengan ahli gizi:

6. Rujuk ke ahli gizi

sesuai indikasi

sebanyak 500

kalori per hari

secara teori

dapat

menurunkan

BB 0,5

kg/minggu

6. Memberikan

data dasar

tentang

keadekuatan

nutrisi yang

dimakan dan

kondisi emosi

saat makan

7. Menghindari

makanan tinggi

lemak jenuh

dan kolesterol

penting dalam

mencegah

perkembangan

aterogenesis

8. Memberikan

konseling, dan

bantuan dengan

Page 40: Lp Hipertensi Lansia

memenuhi

kebutuhan diit

individual

6. Resiko tinggi

cedera

berhubungan

dengan

pandangan

kabur,

epistaksis.

Setelah diberikan

asuhan

keperawatan

diharapkan

cedera tidak

terjadi

Kriteria hasil :

Tidak mengalami

tanda/gejala

perdarahan/traum

a

1. Kaji ulang visus

klien, tanyakan

keluhan terhadap

pandangan kabur

2. Berikan

lingkungan yang

aman

3. Pasang pengaman

tempat tidur

pasien

4. Anjurkan

keluarga untuk

mengawasi klien

1. Pandangan

kabur dan

penurunan visus

adalah indikator

kerusakan retina

mata.

2. Meminimalkan

dan

menghindari

penyebab

tersering

terjadinya

cedera

3. Mengurangi

resiko

terjadinya

cedera

4. Keluarga adalah

orang yang

paling dekat

dengan pasien

dan bisa

mengawasi

setiap kegiatan

Page 41: Lp Hipertensi Lansia

Kolaborasi dengan

dokter

5. Pemberian obat :

a. Analgesik

b. Tranquilizer

(diazepam)

pasien.

a. Mengurangi

nyeri kepala

b. Menurunkan

kecemasan dan

membantu tidur

7. Kurang

pengetahuan

mengenai

kondisi dan

rencana

pengobatan

berhubungan

dengan kurang

pengetahuan/

daya ingat,

misinterpretasi

informasi,

keterbatasan

kognitif.

Setelah diberikan

asuhan

keperawatan

diharapkan pasien

menyatakan

pemahaman

tentang proses

penyakit dan

regimen

pengobatan

dengan kriteria

hasil :

Mengidentifika

si efek

samping obat

dan

kemungkinan

komplikasi

yang perlu

diperhatikan

1. Kaji kesiapan

dan hambatan

dalam belajar.

Termasuk orang

terdekat

2. Tetapkan dan

nyatakan batas

TD normal.

Jelaskan tentang

1. Kesalahan

konsep dan

menyangkal

diagnosa

karena

perasaan

sejahtera yang

sudah lama

dinikmati

mempengaruhi

minat

pasien/orang

terdekat untuk

mempelajari

penyakit,

kemajuan dan

prognosis.

2.Pemahaman

bahwa tekanan

darah tinggi

Page 42: Lp Hipertensi Lansia

Mempertahank

an TD dalam

parameter

normal

hipertensi

efeknya pada

jantung,

pembuluh darah,

ginjal dan otak.

3. Hindari

mengatakan TD ”

normal ” dan

gunakan istilah ”

terkontrol dengan

baik ” saat

menggambarkan

TD pasien dalam

batas yang

diinginkan.

4. Bantu pasien

dalam

mengidentifikasi

faktor-faktor

risiko

kardiovaskuler

yang dapa diubah

dapat terjadi

tanpa gejala

adalah untuk

memungkinkan

pasien

melanjutkan

pengobatan

meskipun ketika

merasa sehat.

3. Karena

pengobatan

untuk

hipertensi

adalah

sepanjang

kehidupan,

maka dengan

penyampaian

ide ”terkotrol”

akan

membantu

pasien untuk

memahami

kebutuhan

untuk

melanjutkan

pengobatan/me

dikasi.

Page 43: Lp Hipertensi Lansia

misal, obesitas,

diet tinggi lemak

jenuh dan

kolesterol, pola

hidup

monoton,meroko

k, minum

alkohol, pola

hidup penuh

stres.

5. Atasi masalah

dengan pasien

untuk

mengidentifikasi

cara dimana

perubahan gaya

hidup yang tepat

dapat dibuat

untuk

mengurangi

faktor-faktor

penyebab

Hipertensi.

6. Bahas pentingnya

menghentikan

merokok dan

bantu pasien

4.Faktor-faktor

risiko ini telah

menunjukkan

hubungan dalam

menunjang

hipertensi dan

penyakit

kardiovaskular

serta ginjal.

5.Dengan

mengubah pola

perilaku yang

”biasa/memberi

kan rasa

aman”akan

sangat

menyusahkan.

Dukungan,

petunjuk dan

empati dapat

meningkatkan

keberhasilan

pasien dalam

menyelesaikan

Page 44: Lp Hipertensi Lansia

dalam membuat

rencana untuk

berhenti

merokok.

7. Sarankan untuk

sering mengubah

posisi, olah raga

kaki saat

berbaring.

tugas

6.Nikotin

meningkatkan

pelepasan

ketokolamin,

mengakibatkan

peningkatan

frekuensi

jantung, TD, dan

vasokontriksi,

mengurangi

oksigenasi

jaringan, dan

meningkatkan

beban kerja

miokardium.

7.Menurunkan

bendungan vena

perifer yang

dapat

ditimbulkan oleh

vasodilator dan

duduk / berdiri

terlalu lama.

4. Implementasi

Implementasi dilakukan sesuai intervensi

Page 45: Lp Hipertensi Lansia

5. Evaluasi

a. Diagnosa 1: Curah jantung kembali normal

b. Diagnosa 2: Nyeri klien berkurang/ teratasi

c. Diagnosa 3: Dapat melakukan aktivitas sesuai batas intoleransinya

d. Diagnosa 4: Gangguan sensori perseptual tidak terjadi/ dapat ditoleransi

e. Diagnosa 5: Nutrisi klien cukup/ optimal

f. Diagnosa 6: Tidak terjadi resiko cedera

g. Diagnosa 7: Klien memahami tentang proses penyakit dan pengobatannya.

Page 46: Lp Hipertensi Lansia

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Nur Meity Sulistia. 2007. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik. Edisi 2.

Jakarta: EGC

Corwin,Elizabeth J.2009.Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3.Jakarta:EGC

Doengoes, Marilynn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Guyton, Arthur C .2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Kardiovaskuler.Jakarta: Salemba Medika

Mubarak, Wahit Iqbal. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta: Sagung Seto

Price, Sylvia A.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses- proses Penyakit. Edisi 6.

Volume 1.Jakarta: EGC

Santosa Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta: Prima

Medika

Smeltzer, Suzanne C. 2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruner &

Suddarth. Edisi 8 Volume 2.Jakarta: EGC

Udjianti, Wajan Juni. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba

Medika

http://jurnalmedika.com/component/content/article/143-hipertensi-primer-

patofisiologi-dan-tata-laksana-klinis (diakses tanggal 16 Mei 2012)

http://siswa.univpancasila.ac.id/yoland08/2011/01/12/patofisiologi-hipertensi/

(diakses tanggal 16 Mei 2012)

Page 47: Lp Hipertensi Lansia