of 73 /73
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI OLEH : I WAYAN ADI PARWATA 15.901.1150 PROGRAM STUDI PROFESI NERS

Lp Hipertensi Lansia

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Lp Hipertensi Lansia

Text of Lp Hipertensi Lansia

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI

OLEH :I WAYAN ADI PARWATA15.901.1150

PROGRAM STUDI PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI TAHUN 2015

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT1. Definisia. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Suzanne C. Smeltzer, 2001).b. Hipertensi didefinisikan sebagai suatu peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg dan/atau distolik sedikitnya 90 mmHg (Sylvia A. Price, 2005).c. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih dari suatu periode. Hal ini terjadi bila arteriole-arteriole konstriksi. Kontriksi arteriole membuat pembuluh darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah (Udjianti, 2010). d. Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia (Corwin, 2009).e. Menurut WHO, Batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah 160/95 mmHg dinyatakan sebagai Hipertensi.2. EpidemiologiHipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat. Sekitar seperempat jumlah penduduk dewasa menderita hipertensi, dan insidennya lebih tinggi dikalangan Afro-Amerika setelah usia remaja. Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi essensial dan sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu.Hipertensi sering dijumpai pada individu diabetes mellitus (DM) dimana diperkirakan prevalensinya mencapai 50-70%. Modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi. Merokok adalah faktor risiko utama untuk mortalitaskardiovaskuler. Di Indonesia banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui factor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial.Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti strok untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan mesyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini.3. Etiologi a. Hipertensi EsensialPenyebab Hipertensi Esensial belum diketahui. Namun sejumlah interaksi beberapa energi homeostatik saling terkait. Defek awal diperkirakan pada mekanisme pengaturan cairan tubuh dan tekanan oleh ginjal. Faktor hereditas berperan penting bilamana ketidakmampuan genetik dalam mengelola kadar natrium normal. Kelebihan intake natrium dalam diet dapat meningkatkan volume cairan dan curah jantung. Pembuluh darah memberikan reaksi atas peningkatan aliran darah melalui kontriksi atau peningkatan tahanan perifer . Tekanan darah tinggi adalah hasil awal dari peningkatan curah jantung yang kemudian dipertahankan pada tingkat yang lebih tinggi sebagai suatu timbal balik peningkatan tahanan perifer.b. Hipertensi Sekunder1) Penggunaan kontrasepsi hormonal (estrogen)Oral kontrasepsi yang berisi estrogen dapat menyebabkan hipertensi melalui mekanisme Renin-aldosteron-mediated volume expansion. Dengan penghentian oral kontrasepsi, takanan darah normal kembali setelah beberapa bulan.2) Penyakit parenkim dan vaskular ginjalMerupakan penyebab utama hipertensi sekunder. Hipertensi renovaskular berhubungan dengan penyempitan satu atau lebih arteri besar yang secara langsung membawa darah ke ginjal. Sekitar 90% lesi arteri renal pada klien dengan hipertensi disebabkan oleh aterosklerosis atau fibrous displasia (pertumbuhan abnormal jaringan fibrous). Penyakit parenkim ginjal terkait dengan infeksi, inflamasi, dan perubahan struktur, serta fungsi ginjal.3) Gangguan endokrinDisfungsi medula adrenal atau korteks adrenal dapat menyebabkan hipertensi sekunder. Adrenal-mediated hypertension disebabkan kelebihan primer aldosteron, kortisol, dan katekolamin. Pada aldosteronisme primer, kelebihan aldosteron menyebabakan hipertensi dan hipokalemia. Aldosteronisme primer biasanya timbul dari benign adenoma korteks adrenal. Pheochromocytomas pada medula adrenal yang paling umum dan meningkatkan sekresi katekolamin yang berlebihan. Pada Sindrom Chusing, kelebihan glukokortikoid yang diekskresi dari korteks adrenal. Sindrom Chusings mungkin disebabkan oleh hiperplasi adrenokortikal atau adenoma adrenokortikal .4) Coarctation aortaMerupakan penyempitan aorta kongenital yang mungkin terjadi beberapa tingkat pada aorta torasik atau aorta abdominal. Penyempitan menghambat aliran darah melalui lengkung aorta dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah di atas area kontriksi.5) NeurogenikTumor otak, encephalitis, dan gangguan psikiatrik6) Peningkatan volume intravaskular7) MerokokNikotin dalam rokok merangsang pelepasan katekolamin. Peningkatan katekolamin menyebabkan iritabilitas miokardial, peningkatan denyut jantung, dan menyebabkan vasokontriksi , yang mana pada akhirnya meningkatkan tekanan darah.

4. Faktor Predisposisia. Tidak dapat dikontrol, seperti :1) Keturunan (genetik)Kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot daripada heterozigot, apabila salah satu diantaranya menderita hipertensi, menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran terhadap terjadinya hipertensi. Pada percobaan binatang tikus golongan Japanese spontanously hypertensive rat (SHR), New Zealand genetically hypertensive rat (GH), Dahl salt sensitive (H) dan Salt resistant dan Milan hypertensive rat strain (MHS), dua turunan tikus tersebut mempunyai faktor neurogenik yang secara genetik diturunkan sebagai faktor penting timbulnya hipertensi, sedangkan dua turunan yang lain menunjukkan faktor kepekaan terhadap garam yang juga diturunkan secara genetik sebagai faktor utama timbulnya hipertensi.2) Jenis KelaminKalau ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata wanita lebih banyak menderita hipertensi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Laporan dari Sumatera Barat, mendapatkan 18,6% pria dan 17,4% wanita. Dari perkotaan di Jakarta (pertukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita. 3) UmurPenderita hipertensi esensial, sebagian besar timbul pada usia 25 45 tahun dan hanya 20% yang timbulnya kenaikan tekanan darah di bawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun (Soeparman, 1999).

b. Dapat dikontrol, seperti:1) Kegemukan (obesitas)Belum terdapat mekanisme pasti, yang dapat menjelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, akan tetapi pada penyelidikan dibuktikan bahwa curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal. Pada obesitas tahanan ferifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah.2) Kurang OlahragaLebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olah raga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer, yang akan menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Dengan kurang olah raga, kemungkinan timbulnya obesitas akan meningkat dan apabila asupan garam bertambah, akan mudah timbul hipertensi. 3) MerokokRokok juga dihubungkan dengan hipertensi, walaupun pada manusia mekanisme secara pasti belum diketahui. Hubungan antara rokok dengan peningkatan resiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. 4) Kolesterol tinggiAlkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum alkohol berat cenderung hipertensi, walaupun mekanisme timbulnya hipertensi secara pasti belum diketahui.5) Konsumsi Alkohol6) GaramMerupakan hal yang sangat sentral dalam patofisiologi hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada golongan suku bangsa dengan asupan garam minimal. Apabila asupan garam kurang dari 3 gram perhari, prevalensi hipertensi beberapa saja, sedangkan apabila asupan garam antara 5 15 gram perhari, prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15 20%.

5. PatofisiologiHipertensi disebabkan oleh banyak faktor penyebab seperti penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkim ginjal, berbagai obat, disfungsi organ, tumor dan kehamilan. Gangguan emosi, obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, rangsangan kopi yang berlebihan, tembakau dan obat-obatan dan faktor keturunan, faktor umur. Faktor penyebab diatas dapat berpengaruh pada sistem saraf simpatis. Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor pada medula diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis ditoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem jarak simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Pada saat bersamaan sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi kelenjar adrenal terangsang, vasokonstriksi bertambah. Medula adrenal mensekresi epinofrin menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid yang memperkuat respons vasokontriksi dan mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal merangsang pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I dan diubah menjadi angiotensin II yang mengakibatkan retensi natrium dan air yang menimbulkan odema. Vasokontriksi pembuluh darah juga mengakibatkan peningkatan tahanan perifer, meningkatnya tekanan arteri juga meningkatkan aliran balik darah vena ke jantung dalam keadaan ini tubuh akan berkompensasi untuk meningkatkan curah jantung mengalami penurunan. Hal ini mempengaruhi suplai O2 miokardium berkurang yang menimbulkan manifestasi klinis cianosis, nyeri dada/ angina, sesak dan juga mempengaruhi suplai O2 ke otak sehingga timbul spasme otot sehingga timbul keluhan nyeri kepala/pusing, sakit pada leher. Tingginya tekanan darah yang terlalu lama akan merusak pembuluh darah diseluruh tubuh seperti pada mata menimbulkan gangguan pada penglihatan, jantung, ginjal dan otak karena jantung dipaksa meningkatkan beban kerja saat memompa melawan tingginya tekanan darah. Diotak tekanan darah tinggi akan meningkatkan tekanan intra kranial yang menimbulkan manifestasi klinis penurunan kesadaran, pusing, dan gangguan pada penglihatan kadang-kadang sampai menimbulkan kelumpuhan.Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan struktural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer ( Brunner & Suddarth, 2002 ).

6. Pathway (Terlampir)

7. Manifestasi KlinisBiasanya Hipertensi tanpa gejala atau tanda- tanda peringatan untuk hipertensi dan sering disebut silent killer (Udjianti, 2010). Sebagian besar manifestasi klinis terjadi setelah mengalami hipertensi bertahun- tahun, dan berupa:a. Sakit kepala saat terjaga, kadang- kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranialb. Penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retinac. Cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusatd. Nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjale. Edema dependent dan peningkatan akibat tekanan kapilerf. Palpitasig. Keringat berlebihanh. Tremor ototi. Nyeri dadaj. Epistaksisk. Tinnitus (telinga berdenging)l. Kesulitan tidur (Udjianti, 2010).

8. Klasifikasia. The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu : (Smeltzer, 2001)Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *

KategoriSistolik(mmhg)Diastolik(mmhg)

Normal< 13023: aspek kognitif dari fungsi mental baik18-22: kerusakan aspek fungsi mental ringan17: terdapat kerusakan aspek fungsi mental beratm. Pengkajian psikososial dan spiritual1) Pengkajian psikososialPengkajian ini menjelaskan kemampuan lansia tentang: sosialisasi lansia pada saat sekarang; sikap pada orang lain; harapan dalam bersosialisasi. Pengkajian ini dilakukan dengan cara:a) Pertanyaan tahap 1:(1) Apakah klien mengalami kesulitan tidur(2) Apakah klien sering merasa gelisah(3) Apakah klien sering murung da menangis sendiri(4) Apakah klien sering was-was atau khawatirLanjutkan ke pertanyaan tahap 2, jika 1 jawaban YAb) Pertanyaan tahap 2 :(1) Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam sebulan(2) Ada atau banyak fikiran(3) Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain(4) Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter(5) Cendrung mengurung diriBila jawaban 1 jawaban YA berarti terjadi MASALAH EMOSIONAL (MASALAH EMOSIONAL POSITIF).2) Pengkajian spiritualMengkaji tentang :a) Agamab) Kegiatan keagamaanc) Konsep/ keyakinan klien tentang kematiand) Harapan-harapan klien

2. Diagnosa Keperawatana. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard.b. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral. c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.d. Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan perubahan persepsi sensori.e. Resiko ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebih berlebihan, pola hidup monoton.f. Resiko cedera berhubungan dengan pandangan kabur, epistaksis.g. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/ daya ingat, misinterpretasi informasi, keterbatasan kognitif. 3. Rencana Keperawatan/ IntervensiNo.Dx. KepTujuan & Kriteria EvaluasiIntervensiRasional

1.Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard.

Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan curah jantung kembali normal. Dengan Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima Memperlihatkan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.

1. Observasi tekanan darah

2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer

3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.

4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.

5. Catat adanya demam umum / tertentu.

6. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas / keributanligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.

7. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi.

Kolaborasi dengan dokter8. Pemberian theraphy antihipertensi,deuritik.

Kolaborasi dengan ahli gizi

9. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi

1. Perbandingan dari tekanan memberikan gambaranyang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler.2. Denyutankarotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi. Dunyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi(peningkatan SVR) dan kongesti vena.

3. S4 umum terdengar padapasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels,mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinyaatau gagal jantung kronik.

4. Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambatmencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung.

5. Dapat mengindikasikan gagaljantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.

6. Membantu untukmenurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi.

7. Dapatmenurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang,sehingga akan menurunkan tekanan darah.

8. Menurunkan tekanan darah.

9. Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dengan respons hipertensif, dengan demikian menurunkan kerja jantung.

2.Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral

Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau teratasi Kriteria Hasil : Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan terkontrol Mengungkapkanmetode yang memberikan pengurangan nyeri Mengikuti regiment farmakologi yangdiresepkan.

1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut

2. Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misal kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (panduan imajinasi, ditraksi) dan aktivitas waktu senggang.

3. Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, mis., mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.

4. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan

Kolaborasi

5.Pemberian obat: a. analgesik

b. antiansietas1. Meminimalkan stimulasi/meningkat-kan relaksasi

2. Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/ memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.

3. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskular serebral

4. Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.

a. Menurunkan/ mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.

b. Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang diperberat oleh stres.

3.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan aktivitas sesuai dengan batas toleransinya dengan Kriteria Hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.

1. Observasi respons pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat: peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktivitas (tekanan sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolik meningkat 20 mmHg); dispnea atau nyeri dada; keletihan dan kelemahan yang berlebihan; diaforesis; pusing atau pingsan.2. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi, mis., menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan.

3. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.1. Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap stres aktivitas dan, bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.

2. Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

3. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.

4.Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan perubahan persepsi sensori

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan sensori perseptual ; penglihatan dapat ditoleransi dengan Kriteria Hasil : Klien maengatakan mampu melihat barang atau benda sesuai dengan batas kemampuan klien1. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.

2. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.

3. Letakan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan pada sisi yang tak bermasalah atau pada jangkauan tangan klien1. Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif. Bila bilateral, tiap mata dapat berlanjut pada laju yang berbeda, tetapi biasanya hanya satu mata diperbaiki per prosedur.

2. Gangguang penglihatan/iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah tetesan mata tetapi secara bertahap menurun dengan penggunaan. Catatan: iritasi lokal harus dilaporkan ke dokter, tetapi jangan hentikan penggunaan obat sementara.

3. Memungkinkan pasien melighat objek lebih mudah dan memudahkan panggilan untuk perolongan bila diperlukan.

5.Resiko ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebih berlebihan, pola hidup monoton

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nutrisi klien cukup/optimal sesuai kebutuhan dengan Kriteria Hasil : Klien mampu mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan Klien mampu menunjukkan perubahan pola makan Klien mampu melakukan/ mempertahankan program olahraga yang tepat1. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diit

2. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan

3. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak,garam,dan gula,sesuai indikasi.4. Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan

5. Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistik dengan pasien, misal penurunan BB 0,5 kg/ minggu

6. Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan, dan dimana makan dilakukan

5. Intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi dan kolesterol

Kolaborasi dengan ahli gizi:

6. Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi

1. Mengidentifikasi kekuatan/ kelemahan dalam program diet terakhir. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/ penyuluhan.

2. Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh

3. Kesalahan kebiasaan makan makan menujang terjadinya ateroskerosis dan kegemukan.

4. Motivasi untuk menurunkan berat badan adalah internal, individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan5. Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan BB 0,5 kg/minggu

6. Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan

7. Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis

8. Memberikan konseling, dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individual

6. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan pandangan kabur, epistaksis.Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cedera tidak terjadi Kriteria hasil :Tidak mengalami tanda/gejala perdarahan/trauma1. Kaji ulang visus klien, tanyakan keluhan terhadap pandangan kabur

2. Berikan lingkungan yang aman

3. Pasang pengaman tempat tidur pasien

4. Anjurkan keluarga untuk mengawasi klien

Kolaborasi dengan dokter 5. Pemberian obat :a. Analgesik

b. Tranquilizer (diazepam)1. Pandangan kabur dan penurunan visus adalah indikator kerusakan retina mata.

2. Meminimalkan dan menghindari penyebab tersering terjadinya cedera

3. Mengurangi resiko terjadinya cedera

4. Keluarga adalah orang yang paling dekat dengan pasien dan bisa mengawasi setiap kegiatan pasien.

a. Mengurangi nyeri kepala

b. Menurunkan kecemasan dan membantu tidur

7. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/ daya ingat, misinterpretasi informasi, keterbatasan kognitif.

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan dengan kriteria hasil : Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan Mempertahankan TD dalam parameter normal

1. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar. Termasuk orang terdekat

2. Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Jelaskan tentang hipertensi efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak.

3. Hindari mengatakan TD normal dan gunakan istilah terkontrol dengan baik saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang diinginkan.

4. Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor risiko kardiovaskuler yang dapa diubah misal, obesitas, diet tinggi lemak jenuh dan kolesterol, pola hidup monoton,merokok, minum alkohol, pola hidup penuh stres.5. Atasi masalah dengan pasien untuk mengidentifikasi cara dimana perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi faktor-faktor penyebab Hipertensi.

6. Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok.

7. Sarankan untuk sering mengubah posisi, olah raga kaki saat berbaring.1. Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis.

2. Pemahaman bahwa tekanan darah tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat.

3. Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka dengan penyampaian ide terkotrol akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi.

4. Faktor-faktor risiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta ginjal.

5. Dengan mengubah pola perilaku yang biasa/memberikan rasa amanakan sangat menyusahkan. Dukungan, petunjuk dan empati dapat meningkatkan keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas6. Nikotin meningkatkan pelepasan ketokolamin, mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung, TD, dan vasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan, dan meningkatkan beban kerja miokardium.

7. Menurunkan bendungan vena perifer yang dapat ditimbulkan oleh vasodilator dan duduk / berdiri terlalu lama.

4. ImplementasiImplementasi dilakukan sesuai intervensi5. Evaluasia. Diagnosa 1: Curah jantung kembali normalb. Diagnosa 2: Nyeri klien berkurang/ teratasic. Diagnosa 3: Dapat melakukan aktivitas sesuai batas intoleransinyad. Diagnosa 4: Gangguan sensori perseptual tidak terjadi/ dapat ditoleransie. Diagnosa 5: Nutrisi klien cukup/ optimalf. Diagnosa 6: Tidak terjadi resiko cederag. Diagnosa 7: Klien memahami tentang proses penyakit dan pengobatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Nur Meity Sulistia. 2007. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik. Edisi 2. Jakarta: EGCCorwin,Elizabeth J.2009.Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3.Jakarta:EGCDoengoes, Marilynn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGCGuyton, Arthur C .2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGCMuttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler.Jakarta: Salemba MedikaMubarak, Wahit Iqbal. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta: Sagung SetoPrice, Sylvia A.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses- proses Penyakit. Edisi 6. Volume 1.Jakarta: EGCSantosa Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta: Prima MedikaSmeltzer, Suzanne C. 2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruner & Suddarth. Edisi 8 Volume 2.Jakarta: EGCUdjianti, Wajan Juni. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medikahttp://jurnalmedika.com/component/content/article/143-hipertensi-primer-patofisiologi-dan-tata-laksana-klinis (diakses tanggal 16 Mei 2012)http://siswa.univpancasila.ac.id/yoland08/2011/01/12/patofisiologi-hipertensi/ (diakses tanggal 16 Mei 2012)