of 26 /26
Rabu, 19 Desember 2012 ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI RUMAH BAHAGIA BINTAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut sumber dari situs internet “penuaan adalah proses yang dinamis dan kompleks yang dihasilkan oleh perubahan-perubahan sel, fisiologis, dan psikologis” (Ahmad Fauzi dkk, 2002). Pengertian lain mengatakan “menua (aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap penyakit (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita” (Constantinides, 1994). “Menua merupakan proses yang dapat dilihat sebagai sebuah kejadian yang berkesinambungan dari lahir sampai meninggal” (Ignativicus, Workman, Mishler, 1999). Dengan makin lanjutnya usia maka kemungkinan akan terjadinya penurunan anatomik (dan fungsional) atas organ-organnya amakin besar. Peneliti Andres dan Tobin ( seperti dikutip oleh Kane et all) meng-intrroduksi “hukum 1%” yang menyatakan fungsi organ-organ akan menurun setiap tahunnya satu persen setelah usia 30 tahun. ( Geriatrti, 2004) Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).Menurut Stanley (2007), Hipertensi

Lp Lansia Dengan Hipertensi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

lembar balik menyusui

Text of Lp Lansia Dengan Hipertensi

Rabu, 19 Desember 2012ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI RUMAH BAHAGIA BINTAN

BAB IPENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Menurut sumber dari situs internet penuaan adalah proses yang dinamis dan kompleks yang dihasilkan oleh perubahan-perubahan sel, fisiologis, dan psikologis (Ahmad Fauzi dkk, 2002).Pengertian lain mengatakan menua (aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap penyakit (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994). Menua merupakan proses yang dapat dilihat sebagai sebuah kejadian yang berkesinambungan dari lahir sampai meninggal(Ignativicus,Workman, Mishler,1999).Dengan makin lanjutnya usia maka kemungkinan akan terjadinya penurunan anatomik (dan fungsional) atas organ-organnya amakin besar. Peneliti Andres dan Tobin ( seperti dikutip oleh Kane et all) meng-intrroduksi hukum 1% yang menyatakan fungsi organ-organ akan menurun setiap tahunnya satu persen setelah usia 30 tahun. ( Geriatrti, 2004)Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).Menurut Stanley (2007), Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler.Untuk itu hipertensi harus diwaspadai secara dini, agar tidak muncul berbagai macam penyakit kardiovaskuler yang tentunya dapat berbahaya bagi manusia itu sendiri.Semakin dini diketahui dan diatasi semakin rendah risiko untuk terserang berbagai penyakit sistem kardiovaskuler.1.2.TujuanTujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada dewasa lanjut, perubahan yang dimaksud yaitu perubahan yang terjadi pada sistem persyarafan lansia dan juga dampaknya.

1.3.Manfaat1.3.1.Bagi PenyusunMeningkatkan kemampuan dalam pembuatan makalah dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia.1.3.2.Bagi PembacaDiharapkan dapat menjadi salah contoh pembuatan makalah pada mata ajar keperawatan gerontik.1.3.3.Bagi Prodi Keperawatan TanjungpinangMenjadi bahan bacaan untuk menambah wawasan bagi mahasiswa di Program Studi Keperawatan Tanjungpinangtentang Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Hipertensi.

BAB IILAPORAN PENDAHULUANHIPERTENSI

2. 1.PengertianHipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.

2. 2.KlasifikasiHipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo, 1999 )1.Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg2.Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.Kalsifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :1.Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya2.Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain3.2. 3.EtiologiPenyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan perubahan pada :1.Elastisitas dinding aorta menurun2.Katub jantung menebal dan menjadi kaku3.Kemampuan jantung memompa darah menurun4.1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.5.Kehilangan elastisitas pembuluh darah6.Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi7.Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :1.Faktor keturunan2.Ciri perseorangan3.Kebiasaan hidupPenyebab hipertensi sekunder adalah :Ginjal

GlomerulonefritisPielonefritisNekrosis tubular akutTumorVascularAterosklerosisHiperplasiaTrombosisAneurismaEmboli kolestrolVaskulitisKelainan endokrinDMHipertiroidismeHipotiroidismeSarafStrokeEnsepalitisSGBObat obatanKontrasepsi oralKortikosteroid

2. 4.PatofisiologIMekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak.Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin.Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler.Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).

Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

2. 5.Tanda Dan GejalaTanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :1.Tidak ada gejalaTidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

2.Gejala yang lazimSering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan.Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :Mengeluh sakit kepala, pusingLemas, kelelahanSesak nafasGelisahMualMuntahEpistaksisKesadaran menurun

2. 6.Pemeriksaan PenunjangHemoglobin / hematokritUntuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.BUN: memberikan informasi tentang perfusi ginjalGlukosaKalsium serumPeningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensiKolesterol dan trigliserid serumPeningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )Pemeriksaan tiroidKadar aldosteron urin/serumUrinalisaDarah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.Asam uratHiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensiSteroid urinKenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalismeIVPDapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal / ureterFoto dadaMenunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantungCT scanUntuk mengkaji tumor serebral, ensefalopatiEKGDapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi

2. 7.PenatalaksanaanPengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :1.Terapi tanpa Obata.Dietb.Latihan Fisikc.Edukasi PsikologisPemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :

Tehnik BiofeedbackTehnik relaksasi

d.Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )2.Terapi dengan ObatTujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat.Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.Pengobatannya meliputi :1.Step 1Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor2.Step 2Alternatif yang bisa diberikan :Dosis obat pertama dinaikkanDiganti jenis lain dari obat pilihan pertamaDitambah obat ke 2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator3.Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuhObat ke-2 digantiDitambah obat ke-3 jenis lain4.Step 4 : Alternatif pemberian obatnyaDitambah obat ke-3 dan ke-4

BAB IIIPROSES KEPERAWATAN

3. 1.Pengkajian1. Data Umum :a)Kepala keluargab)Komposisi keluargac)Genogramd)Tipe keluargae)Suku bangsaf)Status sosial-ekonomig)Aktivitas rekreasi keluarga

2. Pemeriksaan FisikA.Head to ToeKepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, thorak, abdomen, genetalia, ekstremitas, integumen, status neurologi.

B.Kebutuhan Dasar Manusiai.Nutrisiii.Eleminasiiii.Tidur dan istirahativ.Gerak dan aktivitasv.Rasa aman dan nyamanvi.Personal hygieneC.Data Data yang Dapat Ditemukan1.Aktivitas / istirahatvGejala :KelemahanLetihNapas pendekGaya hidup monotonvTanda :Frekuensi jantung meningkatPerubahan irama jantungTakipnea

2.SirkulasivGejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner / katup, penyakit serebrovaskulervTanda :Kenaikan TDNadi : denyutan jelasFrekuensi / irama : takikardia, berbagai disritmiaBunyi jantung : murmurDistensi vena jugularis

3.EkstermitasPerubahan warna kulit, suhu dingin( vasokontriksi perifer ), pengisian kapiler mungkin lambat4.Integritas EgovGejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor stress multiple ( hubungsn, keuangan, pekerjaan )vTanda :Letupan suasana hatiGelisahPenyempitan kontinue perhatianTangisan yang meledakotot muka tegang ( khususnya sekitar mata )Peningkatan pola bicara

5.EliminasiGejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat penyakit ginjal )

6.Makanan / CairanvGejala :Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterolMualMuntahRiwayat penggunaan diureticvTanda :BB normal atau obesitasEdemaKongesti venaPeningkatan JVPGlikosuria7.NeurosensorivGejala :Keluhan pusing / pening, sakit kepalaEpisode kebasKelemahan pada satu sisi tubuhGangguan penglihatan ( penglihatan kabur, diplopia )vTanda :Perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau memori ( ingatan )Respon motorik : penurunan kekuatan genggamanPerubahan retinal optik8.Nyeri/ketidaknyamananvGejala :nyeri hilang timbul pada tungkaisakit kepala oksipital beratnyeri abdomen9.PernapasanvGejala :Dispnea yang berkaitan dengan aktivitasTakipneaOrtopneaDispnea nocturnal proksimalBatuk dengan atau tanpa sputumRiwayat merokokvTanda :Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasanBunyi napas tambahan ( krekles, mengi )Sianosis

3. 2.Diagnosa Keperawatan Dan Rencana Keperawatan1.Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricularTujuan :Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.Kriteria hasil :Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TDMempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterimaMemperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabilIntervensi :1)Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat2)Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer3)Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas4)Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler5)Catat edema umum6)Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas, batasi jumlah pengunjung.7)Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi8)Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan9)Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.10)Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan11)Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah12)Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi13)Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi

2.Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebralTujuan :Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jamKriteria hasil :Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepalaPasien tampak nyamanTTV dalam batas normalIntervensi :1)Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan2)Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan3)Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan4)Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin5)Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi6)Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk7)Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium )3.Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darahTujuan :Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jamKriteria hasil :Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.Haluaran urin 30 ml/ menitTanda-tanda vital stabil

Intervensi:1)Pertahankan tirah baring2)Tinggikan kepala tempat tidur3)Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia4)Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan5)Amati adanya hipotensi mendadak6)Ukur masukan dan pengeluaran7)Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program8)Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai program

4.Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac outputTujuan :Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jamKriteria hasil :Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari hariMenunjukkan penurunan gejala gejala intoleransi aktifitasIntervensi:1)Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan2)Instruksikan pasien tentang penghematan energi3)Kaji respon pasien terhadap aktifitas4)Monitor adanya diaforesis, pusing5)Observasi TTV tiap 4 jam6)Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu, berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore

BAB IVLAPORAN KASUS PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSIA.Pengkajian1.Identitas KlienNama:Ny. AUmur:78 tahunJenis Kelamin:PerempuanAgama:IslamPendidikan:Tidak SekolahSuku:BugisStatus Perkawinan:KawinTanggal Masuk Panti:28 Maret 2008Tanggal Pengkajian:19 April 2012Alamat:Kawal2.Status Kesehatan Saat IniKlien mengatakan kepala terasa sakit ( pusing ), skala nyeri 5, badan terasa lemah, mata trasa seperti berkunang kunang, tidak enak badan, terkadang nafas terasa sesak.3.Riwayat Kesehatan DahuluKlien sebelumnya pernah dirawat di Rumah Sakit karena menderita penyakit hipertensi, asma dan gastritis.4.Riwayat Kesehatan KeluargaKlien mengaku bahwa suami klien telah meninggal karena menderita5.Tinjauan Sistema.Keadaan UmumTingkat Kesadaran:Compos MentisTanda tanda VitalTekanan Darah:160 / 100 mmHgDenyut Nadi:82 x / ib.Sistem IntegumenKulit keriput, turgor kulit jelek, tidak ada oedem, tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan.c.Sistem Hemopoetik

d.KepalaRambut keriting, panjang, ubanan, tidak ada ketombe, kepala tidak ada benjolan, tidak ada lesi, tidak ada oedem, tidak ada nyeri tekan.e.MataMata simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, mata simetris, tidak ada nyeri tekanf.TelingaTelinga simetris, tidak ada serumen, lubang ada, tidak ada lesi, telnga tidak ada nyeri tekan.g.Mulut TenggorokanMulut simetris, bibir lengkap, palatum ada, ada sariawan, tidak ada kesulitan menelan.h.LeherLeher simetris, ada reflek menelan, tidak ada pembesaran vena juguralis, tidak ada nyeri tekan.i.Sistem PernafasanDada simetris, pernafasan vesikuler, tidak ada ronchi, tidak ada wheezing, RR= 18 x/ij.Sistem KardiovaskularDada simetris, terdapat ictus cordis di ICS 5, tidak ada BJ 3, HR = 80x/i, BJ1 = BJ 2, tidak ada pembesaran jantungk.Sistem GastrointestinalAbdomen simetris, bunyi perkusi dullness, bising usus normal = 8x/i, tidak ada nyeri tekan, tidak ada lesil.Sistem MuskuloskeletalTidak ada oedem, tidak ada nyeri tekan, tidak ada lesi6.Pengkajian Psikososial dan Spiritual6.1 PsikososialKlien mampu bergaul dengan lingkungan sekitarnya, klien tidak menarik diri6.2 Identifikasi masalah EmosionalKlien mengaku kadang kadang tidur tidak nyenyak, tdur sering pernah erasa gelisah, terkadang klien pernah menangis sendiri. Klien juga mengaku dalam waktu kurang dari 3 bulan juga menderita suatu penyakit yaitu hipertensi, gastritis dan asthma.6.3 SpiritualKlien mengaku bahwa klien sholat 5 waktu, klien dapat mengerjakan sholat, klien hanya hafal beberapa surat pendek, klien juga mengaku tidak pandai mengaji.7. Pengkajian Fungsional Klien7.1 KATZ IndeksKlien mampu makan, kontinensia ( BAK, BAB ), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi secara mandiri tanpa bantuan.7.2 Modifikasi dari bartel IndeksKlien mampu makan, minum, berpindah dari kursi, personal toilet, keluar masuk toilet, mandi, jalan dipermukaan datar, mengenakan pakaian, kontrol bowel dan blader olahraga dan memanfaatkan waktu rekreasi secara mandiri.8. Pengkajian status Mental Gerontik8.1. identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable Mental Questioner ( SPSMQ )Klien mengaku tidak mampu mengingat tanggal, hari, umur, tanggal lahir, nama presiden sekarang dan sebelumnya dan melakukan pengurangan 3 dari 10.Klien hanya mampu mengingat nama tempat tinggal, alamat rumah, dan nama ibunya8.2. identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE ( Mini Mental Status Exam )Klien tidak mampu menyebutkan tahun, musim, tanggal, hari dan bulan dengan benar. Klien hanya mampu menyebutkan negara, provinsi, kota, PSTW wisma dan nama 3 obyek yang ditunjuk.Lien tidak mampu untuk mengurangi pengurangan 3 dari 100, tetpai klien mampu mengingat nama obyek dan mengulangi bahasa di contohkan.8.3. Pengkajian Keseimbangan untuk klien lansia (TINNETI,ME, DAN GINTER, SF, 1998)Klien mampu bangun dan duduk kekursi, menutup mata, memutar leher, menggapai sesuatu dan membungkuk tanpa bantuan.

ANALISA DATANoDataEtiologiMasalah

1.

2.DS :Klien mengatakan badan lemah, tidak enak badan mata berkunang kunang, terkadang nafas terasa sesakDO :Klien tampak lemah,TD : 160 / 100 mm Hg; HR : 80 x / iT : 36, 2 C

DS :Klien mengatakan Kepala terasa pusing, mata terasa berkunang kunang, kepala terasa seperti di timpa benda kerasDO :Klien tampak lemah, skala nyeri 5Vasokontriksi

Peningkatyan tekanan vaskular serebralResiko penurunan curah jantung

Gangguan Rasa Nyaman Nyeri

IMPLEMENTASI KEPERAWATANNoImplementasiEvaluasi

1.1.Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat2.Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas, batasi jumlah pengunjung.3.Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi4.Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan5.Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.6.Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan7.Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah8.Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi9.Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi

S = klien mengatakan badan sudah enakan, sudah tidak terasa lemahO = klien tidak tampak lemah, TD : 140 / 90 mmHg, HR : 80x/iThy : - Captopril 3 x 1-Furosemid 1 x 1A : tidak tetjadi penurunan curah jantungP : - Pantau TD-Berikan lingkungan yang tenang, nyaman-Pertahankan pembatasan aktivitas-Lakukan tindakan yang nyaman-Anjurkantehnik relaksasi-Kolaborasi untuk pemberian obat obatan.

2.1.Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan2.Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan3.Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan4.Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi

S = klien mengatakan nyeri sudah mulai berkurang, mata sudah tidak berkunang kunangO = Klien tampak sehat, skala Nyeri 3A = Gangguan Rasa Nyaman Nyeri TeratasiP =- pertahankan tirah baring-Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan-Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan-Beri tindakan nonfarmakologi untuk mengurangi sakit

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PASIEN NY. ADENGAN HIPERTENSI DI RUMAH BAHAGIA BINTANKECAMATAN GUNUNG KIJANGKABUPATEN BINTAN

DI SUSUN OLEH :

ADI WINATAAMELIA ROSYANAAZURACITRA MAYA SARIDELIMA SILALAHIILHAM SUJANDININDIO RIZKA SEPTIANSRI DIANASRI RAFIDAHSURATMIZULAIKA AYU NINGTYAS

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIAPOLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGPINANGJURUSAN KEPERAWATAN2012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDULKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUAN1.1Latar Belakang1.2Tujuan1.3ManfaatBAB II LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI2.1 Pengertian2.2 Klasifikasi2.3 Etiologi2.4 Patofisiologi2.5 Tanda dan Gejala2.6 Pemeriksaan Penunjang2.7 PenatalaksanaanBAB III PROSES KEPERAWATAN3.1 Pengkajian3.2 Diagnosa KeperawatanBAB IV LAPORAN KASUS4.1 Pengkajian4.2 Analisa Data4.3 Rencana Kegiatan4.4 Implementasi Keperawatan