ASKEP LANSIA HIPERTENSI

  • View
    68

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep kardiovaskular

Text of ASKEP LANSIA HIPERTENSI

MAKALAH SISTEM KARDIOVASKULARASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSIKELOMPOK 1BOBI YUNOV PUTRAFADHLI RAHMANPROGRAM STUDI S1 KEPERAWATANSTIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG2015KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal Sistem Pencernaan dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Hipertensi.Penyusunan proposal ini tidak banyak mendapatkan kesulitan, maka dari itu penulis dapat meyelesaikannya dalam waktu yang tepat.Mudah-mudahan semua bimbingan, petunjuk dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis dapat diterima sebagai suatu amal baik dan mendapatkan balasan dari ALLAH SWT.Penulis menyadari bahwa proposal ini masih belum sempurna dan bayak kekurangannya. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar penulis dapat menghasilkan proposal yang lebih baik. Permohonan maaf penulis ucapkan jika ada kesalahan dalam penulisan proposal ini. Semoga proposal ini dapat berguna bagi mahasiswa, para dosen dan pembaca lainnya. Padang, Juli 2015 PenulisBAB IPENDAHULUANLatar BelakangHipertensi berarti tekanan darah di dalam pembuluh-pembuluh darah sangat tinggi atau di atas nilai normal. Batasan mengenai tekanan darah yang dikemukakan oleh JNC VII (The Seventh Reporth of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of Hight Blood Pressure) seseorang dikatakan memiliki tekanan darah normal bila tekanan darahnya kurang dari 120/80 mmHg. Dikatakan pre-hipertensi adalah yang memiliki tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan diastolic 80-90 mmHg. Sedangkan orang yang mengalami hipertensi juga dapat dibedakan berdasarkan derajat ketinggiannya. Hipertensi derajat 1 adalah mereka yang memiliki tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan tekanan darah diastolik 90-99 mmHg. Hipertensi derajat 2 adalah orang-orang yang memiliki tekanan darah lebih dari 160/90 mmHg (Susilo, 2011). Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Darah tinggi sering diberi gelar The Silent Killer, karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi, 50% penderita hipertensi tidak menunjukkan gejala yang jelas, apalagi bila masih dalam taraf awal. Penyakit ini banyak ditemui seiring perkembangan zaman dan perubahan pola dan gaya hidup. Perubahan beberapa jenis gaya hidup menjadi modern ternyata membawa dampak yang besar bagi sektor kesehatan masyarakat.Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, sama atau lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi menyebabkan kerusakan pelbagai organ tubuh seperti otak, jantung, ginjal, aorta, pembuluh darah perifer, dan retina. Selain itu, juga menyebabkan peningkatan morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) pada gangguan kardiovaskuler dan stroke.Di Amerika Serikat dan beberapa negara maju lainnya hipertensi terjadi pada satu dari empat orang dewasa di antara umur 18 tahun dan satu dari dua orang di atas 50 tahun.Satu-satunya jalan untuk mengetahui bahwa seseorang menderita hipertensi atau tidak, adalah dengan melakukan kontrol teratur terutama bagi yang berusia di atas 40 tahun. "Bila angka diastolik di atas 85, seharusnya sudah mulai hati-hati," Untuk mereka yang mempunyai bawaan atau keturunan, pengontrolan hendaknya sudah dimulai sejak usia 20 - 30-an. Kontrol tekanan darah 24 jam sangat penting pada pasien hipertensi Hipertensi dapat dicegah dengan memodifikasi gaya hidup seseorang,Salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi disebabkan oleh perilaku masyarakat itu sendiri. Diperkirakan bahwa 40% sampai 50% klien dengan hipertensi menghentikan program pengobatan dalam tahun pertama. Mengidentifikasi adanya hambatan terhadap kepatuhan memungkinkan perawat untuk merencanakan intervensi untuk menghilangkan masalah ini dan memperbaiki kepatuhan (Miller,1992). Ketidakpatuhan terhadap program terapi merupakan perilaku yang menjadi masalah besar pada penderita hipertensi. Diperkirakan 50% diantara mereka menghentikan pengobatan dalam 1 tahun pemulihan. Pengontrolan tekanan darah yang memadai hanya dapat dipertahankan pada 20%. Namun bila pasien berpartisipasi secara aktif dalam program, termasuk pemantauan diri mengenai tekanan darah dan diit, kepatuhan cenderung meningkat karena dapat segera diperoleh umpan balik sejalan dengan perasaan semakin terkontrol.(Brunner and Suddart, 2002).Hak seseorang untuk menentukan diri sendiri dilindungi melalui proses persetujuan tindakan (inform consent) yang mempunyai tiga syarat: seseorang harus mendapatkan penjelasan akibat dari suatu tindakan, harus mengerti keuntungan dan kerugiannya, serta tidak ada paksaan. Ketika seseorang menolak untuk patuh terhadap anjuran atau intruksi, perawat perlu mengkaji adanya semua elemen yang diperlukan untuk persetujuan tindakan (Cassels &Redman, 1989). Persepsi yang tidak akurat tentang status kesehatan biasanya meliputi kesalahan pengertian penyakit yang dialaminya, keseriusan penyakit, kerentanan untuk terjadinya komplikasi, dan perlunya prosedur untuk pengobatan atau mengontrol penyakit. Untuk itu diperlukan adanya suatu proses penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah proses belajar mengajar yang mempengaruhi perilaku klien dan keluarga melalui perubahan dalam pengetahuan, sikap dan kepercayaan, dan melalui kemahiran ketrampilan psikomotor. Tujuan Tujuan UmumUntuk menerapkan Asuhan Keperawatan yang menyeluruh kepada lansia dengan hipertensiTujuan KhususMampu dan mengetahui pengertian pada pasien lansia dengan hipertensiMampu dan mngetahui anatomi fisiologi pada pasien lansia dengan hipertensiMampu dan mengetahui penyebab pada pasien lansia dengan hipertensiMampu dan mengetahui tanda dan gejala pada pasien lansia dengan hipertensiMampu dan mengetahui patofisiologi pada pasien lansia dengan hipertensiMampu melaksanakan pengkajian terhadap pasien lansia dengan hipertensiMampu mendiagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah.Mampu membuat rencana tindakan dan rasional dalam praktek nyata sesuai dengan masalah yang diprioritaskan.Mampu melaksanakan tindakan dalam praktek nyata sesuai dengan masalah yang telah diprioritaskan.Mampu menilai dan mengevaluasi hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan pada pasien lansia dengan hipertensiMampu mendokumentasikan rencana tindakan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. BAB IIKONSEP TEORIKONSEP HIPERTENSIDefinisiHipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Institut Nasional Jantung, Paru, dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Begitu penyakit ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau dengan interval teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup (Brunner and Suddart , 2002).Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. Karenanya, kontrol tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. Jose Roesma, dari divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari penuaan.Anatomi fisiologiJantung terletak dalam rongga dada. Ukuran jantung sebesar genggaman tangan pemiliknya dengan berat sekitar 300 gram. Jantung dalam sistem sirkulasi berfungsi sebagai alat pemompa darah.Jantung tersusun atas otot jantung ( miokardium ) . Bagian jantung luar dilapisi oleh selaput jantung ( perikardium ). Perikardium terdiri dari 2 lapisan. Lapisan luar disebut lamina panistalis dan lapisan dalam yang menempel pada dinding jantung disebut lamina viseralis. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat ruangan kavum perikardii yang berisi cairan perikardii. Cairan ini berfungsi untuk menahan gesekan. Bagian dalam jantung dilapisi endokardium.Jantung mempunyai empat ruangan, yaitu atrium sinister (serambi kiri), atrium dexter (serambi kanan), ventrikel sinister (bilik kiri), dan ventrikel dexter (bilik kanan). Antarsisi kiri dan kanan jantung dipisahkan oleh septum (sekat) yang berupa otot yang padat. Atrium merupakan ruangan jantung tempat masuknya darah dari pembuluh balik (vena). Antara atrium kiri dan ventrikel kiri terdapat katup valvula bikuspidalis (katup berdaun dua). Katup ini berfungsi mencegah darah dalam ventrikel kiri agar tidak mengalir kembali ke atrium kiri saat jantung berkontraksi.Ventrikel mempunyai otot lebih tebal dari pada atrium, keadaan ini disebabkan ventrikel berfungsi memompa darah keluar jantung. Antara atrium kanan dengan ventrikel kanan terdapat katup valvula trikuspidalis (katup berdaun tiga). Katup ini berfungsi mencegah darah dalam ventrikel kanan agar tidak mengalir kembali ke atrium saat jantung berkontraksi.Jantung terus-menerus memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Jantung memompa darah dengan cara berkontraksi sehingga jantung dapat mengembang dan mengempis. Kontraksi jantung ini menimbulkan denyutan yang dapat dirasakan pada pembuluh nadi di beberapa tempat.Saat berkontraksi, atrium dan ventrikel mengembang dan menguncup secara bergantian. Bila atrium mengembang, jantung mengisap darah dari seluruh tubuh melalui pembuluh balik (vena kava superior dan vena kava inferior). Darah yang diisap ini masuk ke atrium kanan dan darah dari vena pulmonalis yang kaya oksigen masuk ke atrium kiri.Bila atrium menguncup maka ventrikel mengembang dan darah mengalir dari atrium ke ventrikel. Ventrikel merupakan bagian jantung yang berfungsi memompa darah meninggalkan jantung.EtiologiHipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis: Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90% dari seluruh hipertensi).Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan / sebagai akibat dari adanya penyakit lain. Faktor pemicu hipertensi dapat dibedakan atas :Tidak dapat dikontrol, seperti :1). Keturunan (genetik), kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot daripada heterozigot, apabila salah satu diantaranya menderita hipertensi, menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran terhadap terjadinya hipertensi. Pada percobaan binatang tikus golongan Japanese spontanously hypertensive rat (SHR), New Zealand genetically hypertensive rat (GH), Dahl salt sensitive (H) dan Salt resistant dan Milan hypertensive rat strain (MHS), dua turunan tikus tersebut mempunyai faktor neurogenik yang secara genetik diturunkan sebagai faktor penting timbulnya hipertensi, sedangkan dua turunan yang lain menunjukkan faktor kepekaan terhadap garam yang juga diturunkan secara genetik sebagai faktor utama timbulnya hipertensi.2). Jenis Kelamin, kalau ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata, ternyata wanita lebih banyak menderita hipertensi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Laporan dari Sumatera Barat, mendapatkan 18,6% pria dan 17,4% wanita. Dari perkotaan di Jakarta (pertukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita. 3). Umur, Penderita hipertensi esensial, sebagian besar timbul pada usia 25 45 tahun dan hanya 20% yang timbulnya kenaikan tekanan darah di bawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun (Soeparman, 1999).b. Dapat dikontrol :1). Kegemukan (obesitas), belum terdapat mekanisme pasti, yang dapat menjelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, akan tetapi pada penyelidikan dibuktikan bahwa curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal. Pada obesitas tahanan ferifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah.2). Kurang Olahraga, lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olah raga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer, yang akan menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Dengan kurang olah raga, kemungkinan timbulnya obesitas akan meningkat dan apabila asupan garam bertambah, akan mudah timbul hipertensi. 3).Merokok, rokok juga dihubungkan dengan hipertensi, walaupun pada manusia mekanisme secara pasti belum diketahui. Hubungan antara rokok dengan peningkatan resiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. 4). Kolesterol tinggi, kehamilan, 5). Konsumsi Alkohol. Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum alkohol berat cenderung hipertensi, walaupun mekanisme timbulnya hipertensi secara pasti belum diketahui.6). Garam merupakan hal yang sangat sentral dalam patofisiologi hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada golongan suku bangsa dengan asupan garam minimal. Apabila asupan garam kurang dari 3 gram perhari, prevalensi hipertensi beberapa saja, sedangkan apabila asupan garam antara 5 15 gram perhari, prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15 20%.Klasifikasi Klasifikasi Hipertensi berdasarkan WHO-ISH 1999KategoriTekanan Sistolik(mmHg)Tekanan Diastolik(mmHg)OptimalNormalNormal TinggiDerajat 1 (ringan) - subgroup borderline - Derajat 2 (sedang) - Derajat 3 (berat)Hipertensi Sistolik< 120< 130130 139140 159140 149160 179 180 140< 80< 8585 8990 9990 94100 109 110 90 Sumber : Zulkhair Ali, Standar Profesi Ilmu Penyakit Dalam (2002).Tanda Dan GejalaPada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus).Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala, bila ada, biasanya menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai dengan sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai hipertensi.Hipertropi ventrikel kiri terjadi sebagai respon peningkatan beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yag meningkat. Apabila jantung tidak mampu lagi menahan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azotemia (peningkatan nitrogen urea darah [BUN] dan kreatinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang termanifestasikan sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan. Pada penderita stroke, dan pada penderita hipertensi disertai serangan iskemia, insiden infark otak mencapai 80%.Patofisiologi Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel jugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Danapabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkanretensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanandarah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung.PenatalaksanaanTujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mecapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90mmHg. Efektivitas setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi. Beberapa penelitian menunjukan bahwa pendekatan nonfarmakologis, termasuk penurunan berat badan, pembatasan alkohol, natrium dan tembakau: latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria, perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap, diatas 85-95 mmHg dan sistoliknya diatas 130 sampai 139mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan.Modifikasi gaya hidupPenurunan berat badanPengurangan asupan alkoholAktifitas fisik teraturPengurangan masukan natriumPenghentian rokokPada kenyataannya, modifikasi gaya hidup telah terbukti menghilangkan hipertensi pada beberapa individu tanpa menggunakan obat (JNC,1992). Modifikasi gaya hidup yang dapat menurunkan hipertensi (JNC,1992):Mencapai penurunan berat badan sampai 10% dari berat badan ideal.Batasi masukan alkohol tiap hari(2 oz liquor, 8 oz anggur, atau 24 oz bir)Ikut serta dalam latihan aerobik reguler (30-45 menit) tiga sampai lima kali seminggu.Kurangi masukan natrium sampai < 2,3 g natrium atau 6 g natrium klorida.Berhenti merokok.Kurangi lemak jenuh dan kolesterol sampai < 3% dari masukan dietPastikan mengkonsumsi kalsium, kalium dan diet magnesium dalam jumlah yang diizinkan setiap hari. Obesitas meningkatkan tahanan perifer dan beban kerja jantung sehingga meningkatkan tekanan darah. Alkohol adalah vasodilatator yang akan menyebabkan vasokonstriktor rebound, yang mempunyai keterkaitan dengan tekanan darah (Cunningham, 1992).Latihan reguler meningkatkan aliran darah perife- dan otot se` efisiensi jantung. Hasilnya adalah sistem kardiovaskuler yang lebih efektif (Hill,1985). Natrium mengontrol distribusi air keseluruh tubuh. Peningkatan natrium menyebabkan peningkatan air, dengan demikian meningkatkan volume sirkulasi dan meningkatkan tekanan darah. Tembakau bekerja sebagai vasokonstriktor, yang meningkatkan tekanan darah. Diet tinggi lemak membantu pembentukan plaque dan penyempitan pembuluh darah (Cunningham, 1992).ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS Pengkajian Identitas Meliputi nama, umur, no mr, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal masuk RS, dll. Riwayat kesehatan1). Riwayat kesehatan sekarangBiasanya klien mengeluhkan pusing, sakit kepala, kuduk terasa berat, pandangan kabur.2). Riwayat kesehatan dahuluBiasanya klien pernah mengalami penyakit yang sama seperti ini3). Riwayat kesehatan keluargaBiasanya ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang samaPemeriksaan fisikKepalaRambut : biasanya rambut klien bersih, tidak ada lesi dan tidak ada ketombeMata : biasanya konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata simetris kiri dan kananHidung : biasanya hidung bersih, ada secret, tidak ada polipMulut : biasanya bibir tampak pucat, keringWajah : biasanya wajah tidak ada edema, lesi atau bekas luka lainnya.Leher : biasanya tidak ada pembesaran kelenjer tyroid dan getah beningDada / ThorakInspeksi : Biasanya simetris kiri dan kanan, terlihat dispneaPalpasi : Biasanya fremitus kiri dan kananPerkusi : Biasanya SonorAuskultasi : Biasanya vesicularJantung Inspeksi : Biasanya ictus cordis tidak terlihat, tachicardiaPalpasi : Biasanya ictus Cordis teraba di ruang inter costal 2 linea deksta sinistraPerkusi : Biasanya PekakAuskultasi : Biasanya irama jantung teraturPerut / AbdomenInspeksi :Biasanya tidak acitesAuskultasi : Biasanya bising usus normal, berkisar antara 5-35 kali/menitPalpasi : Biasanya tidak teraba lien, teraba hepar, teraba ginjal.Perkusi : Biasanya TympaniGenitalia :Biasanya tidak ada gangguanEkstremitas : Biasanya kekuatan otot tidak ada gangguanData Pola Kebiasaan Sehari-hariNutrisi Biasanya tidak mengalami anoreksia, penurunan BB Eliminasi Biasanya pada defekasi terjadi BAB encerIstirahat dan tidur Biasanya pada pasien membutuhkan istirahat dan tidurData Sosial EkonomiBiasanya klien masih bisa melakukan aktivitas di tempat tidurData PsikososialBiasanya klien mengalami factor stress contoh financial, hubungan dan sebabnya, perasaan tidak berdayaDiagnosa keperawatan Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.Intervensi keperawatanNo.Diagnosa KeperawatanNOCNIC1.Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umumSetelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam status nutrisi klien baik, dengan kriteria hasil:1. Istirahat dan aktifitas seimbang2. Mengetahui keterbatasan energi3. Menggunakan teknik konservasi energi4. Mengubah gaya hidup sesuai dengan tingkat energi5. Persiapan energi cukup untuk beraktifitasTerapi AktifitasMenentukan penyebab toleransi aktivitasBerikan periode istirahat selama aktifitasPantau respon kardiopulmonalTingkatkan aktifitas secara bertahapMonitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan energiAjarkan pada klien bagaimana mengggunakan teknik control pernafasan ketika beraktifitas.Kaji penyebab gangguan pola tidurAtur lingkungan sebelum tidur(cahaya,suhu ruangan,selimut)Instruksikan pada keluarga untuk menjaga lingkungan yang tenang saat pasien tidurAnjurkan pasien untuk minum obat sebelum tidur2.Gangguan rasa nyaman nyeri ( sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama 1x24 jam klien tidak mengalami nyeriNOC : Pain Levelpain controlcomfort levelLakukan pengkajian nyeri secara komprehensif Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisinganKurangi faktor presipitasi nyeriKaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensiAjarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dinginBerikan analgetik untuk mengurangi nyeriTingkatkan istirahatBerikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kaliDAFTAR PUSTAKABrunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996