of 24 /24
ASKEP GADAR HIPERGLIKEMIA/DIABETES MELITUS SINDROM A. Definisi Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002) dan Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002) serta Diabetes Melllitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolic akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron (Kapita Selekta Kedokteran jilid 1) Dapat kami simpulkan bahwa Hiperglikemia sindrom/ Diabetes sindrom adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula darah akibat kekurangan insulin yang akan mengakibatkan gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis. B. Klasifikasi

Askep Gadar Hiperglikemia

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep Gadar Hiperglikemia

ASKEP GADAR HIPERGLIKEMIA/DIABETES MELITUS

SINDROM

A. Definisi

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh

kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002)

dan Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang

disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan

insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002) serta Diabetes Melllitus adalah

keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolic akibat gangguan

hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan

pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan

mikroskop electron (Kapita Selekta Kedokteran jilid 1)

Dapat kami simpulkan bahwa Hiperglikemia sindrom/ Diabetes sindrom adalah

suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh peningkatan

kadar gula darah akibat kekurangan insulin yang akan mengakibatkan gangguan hormonal,

yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh

darah, disertai lesi pada membrane basalis.

B. Klasifikasi

1. IDDM ( INSULIN DEPENDENT DIABETES MELITUS )

Sangat tergantung pada insulin. Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas

karena reaksi autoimin sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin alami untuk

mengontrol kadar glukosa darah.

2. NIDDM ( NON INSULIN DEPENDENT DIABETES MELITUS )

Tidak tergantung insulin. Diabetes ini dsebabkan oleh gangguan metabolisme

dan penurunan fungsi hormon insulin dalam mengontrol kadar glukosa darah dan hal

ini bisa terjadi karena faktor genetik dan juga dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat.

Page 2: Askep Gadar Hiperglikemia

3. GESTATIONAL DIABETES

Disebabkan oleh gangguan hormonal pada wanita hamil. Diabetes melitus

( gestational diabetes mellitus, GDM) juga melibatkan suatu kombinasi dari

kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, sama dengan

jenis-jenis kencing manis lain. Hal ini dikembangkan selama kehamilan dan dapat

meningkatkan atau menghilang setelah persalinan. Walaupun demikian, tidak

menutup kemungkinan diabetes gestational dapat mengganggu kesehatan dari janin

atau ibu, dan sekitar 20%–50% dari wanita-wanita dengan Diabetes Melitus

gestational sewaktu-waktu dapat menjadi penderita.

C. Etiologi

1. DM type 1

a. Faktor genetik

Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan ditularkan.

Anggota keluarga penderita DM memiliki kemungkinan lebih besar terserang

penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM.

Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut

kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita

sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen

untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

b. Faktor-faktor imunologik

Adanya respons autoimun yang merupakan respons abnormal dimana sel-sel beta

dihancurkan oleh antibodi karena dianggap sebagai sel asing

c. Faktor lingkungan

Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan

destruksi sel beta. Beberapa contoh dari virus dan toksin tersebut, antara lain :

1) Virus & Bakteri

Virus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4.

Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan

Page 3: Askep Gadar Hiperglikemia

destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi

autoimunitas yang menyebabkan hilangnya autoimun dalam sel beta. Diabetes

mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan

menduga bakteri cukup berperan menyebabkan DM

2) Bahan toksik atau Beracun

Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan,

pyrinuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan

lain adalah sianida yang berasal dari singkong

2. DM tye 2

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi

insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetic diperkirakan

memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko :

a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)

b. Obesitas

c. Riwayat keluarga

3. Gestasional

Diabetes Gestasional terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum

kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormon-hormon

plasenta. Setelah melahirkan bayi, kadar glukosa darah akan kembali normal

D. Patofisiologi

Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa

dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah hormon yang dilepaskan

oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang

normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau

disimpan sebagai cadangan energi.

Pada Diabetes, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun,

atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin. Keadaan ini

menimbulkan hiperglikemia yang dapat mengakibatkan komplikasi metabolic akut seperti

diabetes ketoasidosis dan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketonik (HHNK).

Hiperglikemia jangka panjang dapat ikut menyebabkan komplikasi mikrovaskuler yang

Page 4: Askep Gadar Hiperglikemia

kronis (penyakit ginjal dan mata) dan komplikasi neuropati (penyakit pada saraf). Diabetes

juga disertai dengan peningkatan insiden penyakit makrovaskuler yang mencangkup infark

miokardium, stroke, dan penyakit vaskuler perifer

E. Manifestasi klinis

Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :

Pada tahap awal sering ditemukan :

1. Poliuri (banyak kencing)

Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui

daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula

banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.

2. Polidipsi (banyak minum)

Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena

poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.

3. Polipagi (banyak makan)

Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar).

Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak

makan, tetap saja makanan tersebut hanyaakan berada sampai pada pembuluh darah.

4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.

Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh

berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan

protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah

cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan

lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus

5. Mata kabur

Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang

disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari

lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.

Page 5: Askep Gadar Hiperglikemia

F. Komplikasi

Komplikasi dari diabetes ada beberapa yaitu :

a. Jangka pendek:

Hipoglikemia

Ketoasidosis diabetik

Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik

b. Jangka panjang

Retinopati

Nefropati

Neuropati : polineuropati sensori(neuropati perifer), neuropati cranial, dan

neuropati otonom

G. Pemeriksaan Diagnosis

1. Glukosa darah: meningkat 100-200 mg/dL, atau lebih

2. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok.

3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat.

4. Osmolaritas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330mOsm/l.

5. Elektrolit:

a. Natrium: mungkin normal, meningkat atau menurun.

b. Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan

menurun.

c. Fosfor : lebih sering menurun.

d. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang

mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup

SDM) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol

tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden.

6. Pemeriksaan mikroalbumin : Mendeteksi komplikasi pada ginjal dan kardiovaskular

7. Nefropati Diabetik. Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit diabetes

adalah terjadinya nefropati diabetic, yang dapat menyebabkan gagal ginjal terminal

sehingga penderita perlu menjalani cuci darah atau hemodialisis.

Page 6: Askep Gadar Hiperglikemia

8. Nefropati diabetic ditandai dengan kerusakan glomerolus ginjal yang berfungsi

sebagai alat penyaring.

9. Gangguan pada glomerulus ginjal dapat menyebabkan lolosnya protein albumin ke

dalam urine.

10. Adanya albumin dalam urin (=albuminoria) merupakan indikasi terjadinya nefropati

diabetic.

Manfaat pemeriksaan Mikroalbumin (MAU)

Diagnosis dini nefropati diabetik

Memperkirakan morbiditas penyakit kardiovaskular dan mortalitas pada pasien

DM

Jadwal pemeriksaan Mikroalbumin

Untuk DM Tipe 1, diperiksa pada masa pubertas atau setelah 5 tahun didiagnosis

DM

Untuk DM tipe 2,

a. Untuk pemeriksaan awal setelah diagnosis ditegakkan

b. Secara periodic setahun sekali atau sesuai petunjuk dokter

11. Pemeriksaan HbA1C atau pemeriksaan A1C

Dapat Memperkirakan Risiko Komplikasi Akibat DM

HbA1c atau A1C Merupakan senyawa yang terbentuk dari ikatan antara glukosa

dengan hemoglobin (glycohemoglobin)

a. Jumlah A1C yang terbentuk, tergantung pada kadar glukosa darah

b. Ikatan A1c stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan sel darah

merah)

c. Kadar A1C mencerminkan kadarglukosa darah rata-rata dalam jangka waktu 2-3

bulan sebelum pemriksaan

Manfaat pemeriksaan A1C

Menilai kualitas pengendalian DM

Menilai efek terapi atau perubahan terapi setelah 8-12 minggu dijalankan

Tujuan Pemeriksaan A1C

Mencegah terjadinya komplikasi (kronik) diabetes karena :

A1C dapat memperkirakan risiko berkembangnya komplikasi Diabetes

Komplikasi diabetes dapat muncul jika kadar glukosa darah terus menerus tinggi

dalam jangka panjang

Page 7: Askep Gadar Hiperglikemia

Kadar glukosa darah rata-rata dalam jangka panjang (2-3 bulan) dapat

diperkirakan dengan pemeriksaan A1C

Jadwal pemeriksaan A1C

Untuk evaluasi awal setelah diagnosis DM dipastikan

Secara periodic (sebagai bagian dari pengelolaan DM) yaitu :

a. Setiap 3 bulan (terutama bila sasaran pengobatan belum tercapai)

b. Minimal 2 kali dalam setahun.

H. Askep

1. Pengkajian ( Primer assessment/primer survey )

a. ( Primer assessment/primer survey )

b. Keluhan Utama

1) Keluhan utama saat masuk rumah sakit, Keluhan yang paling utama di

keluhkan oleh pasien sehingga masuk rumah sakit

2) Keluhan saat pengkajian, Keluhan yang dikeluhkan pasien saat dilakukan

pengkajian

c. Riwayat Penyakit

1) Riwayat Penyakit Terdahulu, Catatan tentang penyakit yang pernah dialami

pasien sebelum masuk rumah sakit

2) Riwayat Penyakit Sekarang, Catatan tentang penyakit yang dialami pasien saat

ini (saat pengkajian)

3) Riwayat Penyakit Keluarga, Catatan tentang penyakit keluarga pasien yang

berhubungan dengan penyakit saat ini

2. Analisa Data

a. Data Subyektif ( yang kita lihat )

b. Data Obyektif

Primary survey

Page 8: Askep Gadar Hiperglikemia

1) Airway : --

2) Breathing: hiperventilasi, napas bau aseton

3) Circulation: lemah, tampak pucat ( disebabkan karena glukosa Intra Sel

Menurun sehingga Proses Pembentukan ATP/Energi Terganggu)

4) Disability: perubahan kesadaran (jika sudah terjadi ketoasidosis metabolik)

Secondary assesment

1) Exposure: -

2) Five Intervension: Glukosa darah: meningkat 100-200 mg/dL, atau lebih,

Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok, Asam lemak bebas : kadar

lipid dan kolesterol meningkat, Osmolaritas serum : meningkat tetapi biasanya

kurang dari 330mOsm/l, Elektrolit : Natrium: mungkin normal, meningkat atau

menurun, Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler),

selanjutnya akan menurun, Fosfor : lebih sering menurun, Hemoglobin

glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan

kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan

karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak

adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden.

3) Pemeriksaan mikroalbumin, Mendeteksi komplikasi pada ginjal dan

kardiovaskular

4) Nefropati Diabetik, Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit

diabetes adalah terjadinya nefropati diabetic, yang dapat menyebabkan gagal

ginjal terminal sehingga penderita perlu menjalani cuci darah atau hemodialisis.

Nefropati diabetic ditandai dengan kerusakan glomerolus ginjal yang berfungsi

sebagai alat penyaring. Gangguan pada glomerulus ginjal dapat menyebabkan

lolosnya protein albumin ke dalam urine. Adanya albumin dalam urin

(=albuminoria) merupakan indikasi terjadinya nefropati diabetic.

5) Pemeriksaan HbA1C atau pemeriksaan A1C, Dapat Memperkirakan Risiko

Komplikasi Akibat DM HbA1c atau A1C Merupakan senyawa yang terbentuk

dari ikatan antara glukosa dengan hemoglobin (glycohemoglobin). Jumlah A1C

Page 9: Askep Gadar Hiperglikemia

yang terbentuk, tergantung pada kadar glukosa darah. Ikatan A1c stabil dan

dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan sel darah merah) Kadar A1C

mencerminkan kadarglukosa darah rata-rata dalam jangka waktu 2-3 bulan

sebelum pemriksaan. Give Comfort: Nyeri di bagian abdomen karena

ketoasidosis diabetik

3. Head to toe

a. Kepala, Bentuk simetris, warna rambut hitam, persebaran rambut merata, kebersihan

cukup, benjolan tidak ada, nyeri tekan tidak ada.

b. Muka, Bentuk simetris, agak pucat, edema tidak ada, nyeri tidak ada.

c. Mata, Konjungtiva anemis, reflek pupil ishokor, benjolan tidak ada, nyeri tekan

tidak ada.

d. Hidung, Bentuk simetris, secret tidak ada

e. Telinga, Serumen tidak ada, bentuk simetris, nyeri tekan tidak ada.

f. Mulut dan Gigi

g. Bentuk simetris, mukosa mulut kering, kebersihan cukup, lidah bersih, pembesaran

tonsil tidak ada.

h. Leher, Pembesaran kelenjar tiroid tidak ada, distensi vena jugularis tidak ada

i. Thorak, Bentuk dada simetris, suara nafas wheezing dan krekel tidak ada, retraksi

otot dada tidak ada

j. Abdomen, Bentuk simetris, lesi tidak ada, peristaltic usus 8 x/menit, pembesaran

hati tidak ada, nyeri lepas dan nyeri tekan tidak ada, asites tidak ada.

k. Ekstermitas, Edema tidak ada, sianosis tidak ada, pergerakan terkoordinir tetapi

lemah.

4. Diagnosa Keperawatan

a. Kurang volume cairan b/d diuresis osmotik (dari hiperglikemia).

Page 10: Askep Gadar Hiperglikemia

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakcukupan insulin

( penurunan ambilan dan penggunaan glokosa oleh jaringan mengakibatkan

peningkatan metabolisme protein/lemak)

c. Intoleransi aktivitas b/d penurunan energy metabolic

d. Ansietas b/d kurang informasi tentang penyakit diabetes melitus

5. Intervensi Keperawatan

a. Kurang volume cairan b/d diuresis osmotik (dari hiperglikemia).

Diagnosa Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Defisit Volume Cairan

Berhubungan dengan:

- Kehilangan volume cairan

secara aktif

- Kegagalan mekanisme

pengaturan

DS :

- Haus

DO:

- Penurunan turgor

kulit/lidah

- Membran mukosa/kulit

kering

- Peningkatan denyut nadi,

penurunan tekanan darah,

penurunan volume/tekanan

nadi

- Pengisian vena menurun

- Perubahan status mental

- Konsentrasi urine

meningkat

NOC:

Fluid balance

Hydration

Nutritional Status : Food

and Fluid Intake

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama…..

defisit volume cairan teratasi

dengan kriteria hasil:

Mempertahankan urine

output sesuai dengan

usia dan BB, BJ urine

normal,

Tekanan darah, nadi,

suhu tubuh dalam batas

normal

Tidak ada tanda tanda

dehidrasi, Elastisitas

turgor kulit baik,

membran mukosa

lembab, tidak ada rasa

haus yang berlebihan

Orientasi terhadap waktu

NIC :

Pertahankan catatan intake dan

output yang akurat

Monitor status hidrasi

( kelembaban membran

mukosa, nadi adekuat, tekanan

darah ortostatik ), jika

diperlukan

Monitor hasil lab yang sesuai

dengan retensi cairan (BUN ,

Hmt , osmolalitas urin, albumin,

total protein )

Monitor vital sign setiap

15menit – 1 jam

Kolaborasi pemberian cairan IV

Monitor status nutrisi

Berikan cairan oral

Berikan penggantian nasogatrik

sesuai output (50 – 100cc/jam)

Dorong keluarga untuk

membantu pasien makan

Kolaborasi dokter jika tanda

cairan berlebih muncul

Page 11: Askep Gadar Hiperglikemia

- Temperatur tubuh

meningkat

- Kehilangan berat badan

secara tiba-tiba

- Penurunan urine output

- HMT meningkat

- Kelemahan

dan tempat baik

Jumlah dan irama

pernapasan dalam batas

normal

Elektrolit, Hb, Hmt dalam

batas normal

pH urin dalam batas

normal

Intake oral dan intravena

adekuat

meburuk

Atur kemungkinan tranfusi

Persiapan untuk tranfusi

Pasang kateter jika perlu

Monitor intake dan urin output

setiap 8 jam

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakcukupan insulin

( penurunan ambilan dan penggunaan glokosa oleh jaringan mengakibatkan

peningkatan metabolisme protein/lemak)

Diagnosa Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan

tubuh

Berhubungan dengan :

Ketidakmampuan untuk

memasukkan atau mencerna

nutrisi oleh karena faktor

biologis, psikologis atau

ekonomi.

DS:

- Nyeri abdomen

- Muntah

- Kejang perut

- Rasa penuh tiba-tiba

setelah makan

DO:

NOC:

a. Nutritional status:

Adequacy of nutrient

b. Nutritional Status : food

and Fluid Intake

c. Weight Control

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan

selama….nutrisi kurang

teratasi dengan indikator:

Albumin serum

Pre albumin serum

Hematokrit

Hemoglobin

Total iron binding

capacity

Kaji adanya alergi makanan

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

menentukan jumlah kalori dan

nutrisi yang dibutuhkan pasien

Yakinkan diet yang dimakan

mengandung tinggi serat untuk

mencegah konstipasi

Ajarkan pasien bagaimana

membuat catatan makanan harian.

Monitor adanya penurunan BB dan

gula darah

Monitor lingkungan selama makan

Jadwalkan pengobatan dan

tindakan tidak selama jam makan

Monitor turgor kulit

Monitor kekeringan, rambut kusam,

Page 12: Askep Gadar Hiperglikemia

- Diare

- Rontok rambut yang

berlebih

- Kurang nafsu makan

- Bising usus berlebih

- Konjungtiva pucat

- Denyut nadi lemah

Jumlah limfosit total protein, Hb dan kadar Ht

Monitor mual dan muntah

Monitor pucat, kemerahan, dan

kekeringan jaringan konjungtiva

Monitor intake nuntrisi

Informasikan pada klien dan

keluarga tentang manfaat nutrisi

Kolaborasi dengan dokter tentang

kebutuhan suplemen makanan

seperti NGT/ TPN sehingga intake

cairan yang adekuat dapat

dipertahankan.

Atur posisi semi fowler atau fowler

tinggi selama makan

Kelola pemberan anti emetik:.....

Anjurkan banyak minum

Pertahankan terapi IV line

Catat adanya edema, hiperemik,

hipertonik papila lidah dan cavitas

oval

c. Intoleransi aktivitas b/d penurunan energy metabolic

Diagnosa Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Page 13: Askep Gadar Hiperglikemia

Intoleransi aktivitas

Berhubungan dengan :

Tirah Baring atau

imobilisasi

Kelemahan menyeluruh

Ketidakseimbangan

antara suplei oksigen

dengan kebutuhan

Gaya hidup yang

dipertahankan.

DS:

Melaporkan secara

verbal adanya kelelahan

atau kelemahan.

Adanya dyspneu atau

ketidaknyamanan saat

beraktivitas.

DO :

Respon abnormal dari

tekanan darah atau nadi

terhadap aktifitas

Perubahan ECG :

aritmia, iskemia

NOC :

Self Care : ADLs

Toleransi aktivitas

Konservasi eneergi

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama ….

Pasien bertoleransi terhadap

aktivitas dengan Kriteria

Hasil :

Berpartisipasi dalam

aktivitas fisik tanpa disertai

peningkatan tekanan

darah, nadi dan RR

Mampu melakukan

aktivitas sehari hari (ADLs)

secara mandiri

Keseimbangan aktivitas

dan istirahat

NIC :

Observasi adanya pembatasan

klien dalam melakukan

aktivitas

Kaji adanya faktor yang

menyebabkan kelelahan

Monitor nutrisi dan sumber

energi yang adekuat

Monitor pasien akan adanya

kelelahan fisik dan emosi

secara berlebihan

Monitor respon kardivaskuler

terhadap aktivitas (takikardi,

disritmia, sesak nafas,

diaporesis, pucat, perubahan

hemodinamik)

Monitor pola tidur dan lamanya

tidur/istirahat pasien

Kolaborasikan dengan Tenaga

Rehabilitasi Medik dalam

merencanakan progran terapi

yang tepat.

Bantu klien untuk

mengidentifikasi aktivitas yang

mampu dilakukan

Bantu untuk memilih aktivitas

konsisten yang sesuai dengan

kemampuan fisik, psikologi

dan sosial

Bantu untuk mengidentifikasi

dan mendapatkan sumber

yang diperlukan untuk

aktivitas yang diinginkan

Bantu untuk mendpatkan alat

bantuan aktivitas seperti kursi

Page 14: Askep Gadar Hiperglikemia

roda, krek

Bantu untuk mengidentifikasi

aktivitas yang disukai

Bantu klien untuk membuat

jadwal latihan diwaktu luang

Bantu pasien/keluarga untuk

mengidentifikasi kekurangan

dalam beraktivitas

Sediakan penguatan positif

bagi yang aktif beraktivitas

Bantu pasien untuk

mengembangkan motivasi diri

dan penguatan

Monitor respon fisik, emosi,

sosial dan spiritual

d. Ansietas b/d kurang informasi tentang penyakit diabetes melitus

Diagnosa Keperawatan/

Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kecemasan berhubungan NOC : NIC :

Page 15: Askep Gadar Hiperglikemia

dengan

Faktor keturunan, Krisis

situasional, Stress, perubahan

status kesehatan, ancaman

kematian, perubahan konsep

diri, kurang pengetahuan dan

hospitalisasi

DO/DS:

- Insomnia

- Kontak mata kurang

- Kurang istirahat

- Berfokus pada diri sendiri

- Iritabilitas

- Takut

- Nyeri perut

- Penurunan TD dan denyut

nadi

- Diare, mual, kelelahan

- Gangguan tidur

- Gemetar

- Anoreksia, mulut kering

- Peningkatan TD, denyut

nadi, RR

- Kesulitan bernafas

- Bingung

- Bloking dalam pembicaraan

- Sulit berkonsentrasi

- Kontrol kecemasan

- Koping

Setelah dilakukan asuhan

selama ……………klien

kecemasan teratasi dgn

kriteria hasil:

Klien mampu

mengidentifikasi dan

mengungkapkan gejala

cemas

Mengidentifikasi,

mengungkapkan dan

menunjukkan tehnik

untuk mengontol cemas

Vital sign dalam batas

normal

Postur tubuh, ekspresi

wajah, bahasa tubuh

dan tingkat aktivitas

menunjukkan

berkurangnya

kecemasan

Anxiety Reduction (penurunan

kecemasan)

Gunakan pendekatan yang

menenangkan

Nyatakan dengan jelas harapan

terhadap pelaku pasien

Jelaskan semua prosedur dan

apa yang dirasakan selama

prosedur

Temani pasien untuk

memberikan keamanan dan

mengurangi takut

Berikan informasi faktual

mengenai diagnosis, tindakan

prognosis

Libatkan keluarga untuk

mendampingi klien

Instruksikan pada pasien untuk

menggunakan tehnik relaksasi

Dengarkan dengan penuh

perhatian

Identifikasi tingkat kecemasan

Bantu pasien mengenal situasi

yang menimbulkan kecemasan

Dorong pasien untuk

mengungkapkan perasaan,

ketakutan, persepsi

Kelola pemberian obat anti

cemas:........