Askep Gadar Kejang

Embed Size (px)

Text of Askep Gadar Kejang

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    1/26

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai

    akibat dari aktifitas neuronal yang abnormal dan sebagai pelepasan listrik serebral

    yang berlebihan. Aktivitas ini bersifat dapat parsial atau vokal, berasal dari daerah

    spesifik korteks serebri, atau umum, melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi

    jenis ini bervariasi, tergantung bagian otak yang terkena.

    Penyebab kejang mencakup factor-faktor perinatal, malformasi otak

    congenital, factor genetic, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit

    demam, gangguan metabilisme, trauma, neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi,

    dan penyakit degeneratif susunan saraf. Kejang disebut idiopatik bila tidak dapat

    ditemukan penyebabnya.

    Epilepsi adalah gangguan yang ditandai dengan kejang yang kronik,

    kejang yang terutama berasal dari serebri menunjukkan disfungsi otak yang

    mendasarinya. Epilepsy sendiri bukan suatu penyakit

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    2/26

    BAB II

    PEMBAHSAN

    A. DefinisiKejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan

    sementara sebagai mengakibatkan akibat dari aktivitas neuronal yang

    abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.(betz &

    Sowden,2002)

    Kejang adalah gerakan otot tonik atau klonik yang involuntar yang

    merupakan serangan berkala, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik neuron

    kortikal secara berlebihan. Kejang tidak secara otomatis berarti epilepsi.

    Dengan demikian perlu ditarik garis pemisah yang tegas : manakah kejang

    epilepsi dan mana pula kejang yang bukan epilepsi? Tetanus, histeri, dan

    kejang demam bukanlah epilepsi walaupun ketiganya menunjukkan kejang

    seluruh tubuh. Cedera kepala yang berat, radang otak, radang selaput otak,

    gangguan elektrolit dalam darah, kadar gula darah yang terlalu tinggi, tumor

    otak, stroke, hipoksia, semuanya dapat menimbulkan kejang. Kecuali tetanus,

    histeri, hal-hal yang tadi, kelak di kemudian hari dapat menimbulkan epilepsi.

    Spasme kuat dengan kontraksi dan relaksasi otot yang silih berganti,

    yang disebabkan oleh penyebab dari otak maupun diluar otak. Merupakan

    akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel sel kortek

    cerebral yang ditandai dengan serangan tiba tiba, terjadi penurunan

    kesadaran, aktifitas motorik atau ganguan sensori.

    B. Anatomi Otak Dan Fisiologi1.

    Anatomia. Otak

    Gambar : 1

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    3/26

    Otak adalah suatu alat tubuh yang sangat penting karena

    merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh, bagian dari

    syaraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (Kranium)

    yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat.

    Bagian-bagian otak :

    1) Hipotalamus merupakan bagian ujung depan diesenfalon yangterletak di bawah sulkus hipotalamik dan di depan nucleus

    interpundenkuler hipotalamus terbagi dalam berbagai inti dan

    daerah inti. Terletak pada anterior dan inferior talamus

    berfungsi mengontrol dan mengatur sistem syaraf autonom

    juga bekerja dengan hipofisis untuk mempertahankan

    keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh

    melalui peningkatan vasokontriksi atau vasodilatasi dan

    mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis,

    juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan, sebagai

    pengatur tidur, tekana n darah, perilaku agresif dan seksual dan

    pusat respon emosional.

    2) Talamus berada pada salah satu sisi pada sepertigaventrikel dan aktivitas primernya sebagai pusat

    penyambung sensasi bau yang diterima semua impuls

    memori, sensasi dan nyeri melalui bagian ini.

    3) Traktus Spinotalamus (serabut -serabut segera menyilangkesisi yang berlawanan dan masuk ke medulla spinulis dan

    naik). Bagian ini bertugas mengirim impuls nyeri dan

    temperatur ke talamus dan kortek serebri.4) Kelenjar Hipofisis dianggap sebagai masker kelenjar

    karena sejumlah hormon- hormon dan fungsinya diatur oleh

    kelenjar ini. Hipofisis merupakan bagian otak yang tiga kali

    lebih sering timbul tumor pada orang dewasa.

    5) Hipotesis Termostatik : mengajukan bahwa suhu tubuh diatastitik tersebut akan menghambat nafsu makan.

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    4/26

    6) Mekanisme Aferen : empat hipotesis utama tentangmekanisme aferen yang terlibat dalam pengaturan masukan

    makanan telah diajukan, dan keempat hipotesis itu tidak ada

    hubunganya satu dengan yang lain.

    b. FisiologiHipotalamus mempunyai fungsi sebagai pengaturan suhu

    tubuh dan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh.

    1) Pirogen EndogenDemam yang ditimbulkan oleh Sitokin mungkin disebabkan

    oleh pelepasan prostaglandin lokal di hipotalamus.

    Penyuntikan prostaglandin kedalam hipotalamus

    menyebabkan demam. Selain itu efek antipiretik aspirin

    bekerja langsung pada hipotalamus, dan aspirin menghambat

    sintesis prostaglandin.

    2) Pengaturan SuhuDalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi

    makanan, dan oleh semua proses vital yang berperan dalam

    metabolisme basal. Panas dikeluarkan dari tubuh melalui

    radiasi, konduksi (hantaran) dan penguapan air disaluran

    nafas dan kulit. Keseimbangan pembentukan pengeluaran

    panas menentukan suhu tubuh, karena kecepatan reaksi-reaksi

    kimia bervariasi sesuai dengan suhu dank arena sistem enzim

    dalam tubuh memiliki rentang suhu normal yang sempit agar

    berfungsi optimal, fungsi tubuh normal bergantung pada suhu

    yang relatif konstan (Price Sylvia A : 1995)C. Insiden

    Sedikitnya kejang terjadi sebanyak 3% sampai 5% dari semua anak-

    anak sampai usia 5 tahun, kebanyakan terjadi karena demam.

    D. EtiologiKejang dapat disebabkan oleh berbagai patologis termasuk tumor

    otak , truma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan

    elektrolit dan gejala putus alcohol dan gangguan metabolic, uremia,

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    5/26

    overhidrasi, toksik subcutan, sabagian kejang merupakan idiopatuk ( tidak

    diketahui etiologinya )

    E. PatofisiologiUntuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak

    diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk

    metabolisme otak yang terpenting adalah glaukosa. Sifat proses itu adalah

    oksidasi dimana oksigen disediakan dengan peraataraan fungsi paru dan

    diteruskan ke otak melalui system kardiovaskuler. Jadi sumber energi otak

    adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.

    Sel dikelilingi oleh suatu membrane yang terdiri dari permukaan

    dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionic. Dalam keadaan

    normal membrane sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium

    (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (NA+) dan elektrolit lainnya,

    kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron

    tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat

    keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam

    dan di luar sel, maka terdapat perbedaan yang disebut potensial membrane

    dari selneuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membrane ini

    diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada

    permukaan sel. Keseimbangan potensial membrane ini dapat dirubah oleh

    adanya :

    1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi

    atau aliran listrik dari sekitarnya.

    3.Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atauketurunan.

    Pada keadaan demam kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan

    kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan

    meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak

    mencapai 65% dari seluruh tubu, dibandingkan dengan orang dewasa

    yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi

    perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    6/26

    yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion Natrium melalui

    membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.

    Lepas muatan ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh

    sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut

    neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang

    yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang

    seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.

    Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang terjadi

    pada suhu 380C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi,

    kejang baru terjadi pada suhu 400C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah

    disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada

    ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu

    diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. Kejang demam yang

    berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak

    menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama

    (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya

    kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang

    akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh

    metabolisme anaerob, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak

    teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktivitas

    otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat

    Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga

    terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.

    Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan

    hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak

    yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah

    mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung

    lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan

    epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat

    menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.(FKUI,

    2007).

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    7/26

    F. PathwayExogenous Pyrogene

    Sel host inflamasi

    Pusat termoregulator

    Meningkatkan thermostat

    Perubahan fisiologi & tingkah laku

    Anorexiaprosesperadangan suhu

    Demam/hipertermi

    Mengubah keseimbangan membrane sel neuron

    Melepaskan muatan listrik yang besar

    Kejang

    Cemas

    Kurang Pengetahuan

    Sumber : www.google.com

    Resiko kekurangan

    nutrisi

    Evaporasi/Keringat

    Gangguan pemenuhan

    cairan

    Dehidrasi

    Defisit Volume

    Cairan

    Resiko TerjadiKerusakan Sel Otak

    Resiko Cidera

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    8/26

    G. KlasifikasiKejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus

    b adan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu :

    kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.

    1. Kejang TonikKejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan

    berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34

    minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis

    kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau

    pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang

    menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah

    dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai

    deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang

    disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau

    kernikterus

    2. Kejang KlonikKejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan

    berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34

    minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis

    kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau

    pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang

    menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah

    dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai

    deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang

    disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak ataukernikterus

    3. Kejang MioklonikGambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan

    fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan

    terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang

    ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    9/26

    hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak

    spesifik.(Lumbang Tebing, 1997)

    H. Manifestasi Klinik1. Kejang parsial ( fokal, lokal )

    a. Kejang parsial sederhana :Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal

    berikut ini :

    1) Tanda tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satusisi Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka

    merah, dilatasi pupil.

    2) Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengarmusik, merasa seakan ajtuh dari udara, parestesia.

    3) Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.4) Kejang tubuh; umumnya gerakan setipa kejang sama.

    b. Parsial kompleks1) Terdapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya

    sebagai kejang parsial

    2) simpleks3) Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik :

    mengecap-ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel

    yang berulang-ulang pada tangan dan gerakan tangan

    lainnya.

    4) Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )

    a.

    Kejang absens1) Gangguan kewaspadaan dan responsivitas2) Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung

    kurang dari 15 detik

    3) Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dankonsentrasi penuh

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    10/26

    b. Kejang mioklonik1) Kedutan kedutan involunter pada otot atau sekelompok

    otot yang terjadi secara mendadak.

    2) Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bilapatologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher,

    lengan atas dan kaki.

    3) Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalamkelompok

    4) Kehilangan kesadaran hanya sesaat.c. Kejang tonik klonik

    1) Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik,kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah

    yang berlangsung kurang dari 1 menit

    2) Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih3) Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.4) Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal

    d. Kejang atonik1) Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat

    menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk,atau

    jatuh ke tanah.

    2) Singkat dan terjadi tanpa peringatan.I. Komplikasi

    Walaupun kejang demam menyebabkan rasa cemas yang amat

    sangat pada orang tua, sebagian kejang demam tidak mempengaruhi

    kesehatan jangka panjang, kejang demam tidak mengakibatkan kerusakanotak, keterbelakangan mental atau kesulitan belajar / ataupun epiksi Epilepsy

    pada anak di artikan sebagai kejang berulang tanpa adanya demam

    kecil kemungkinan epilepsy timbul se telah kejng demam. Sekitar 2 4

    anak kejang demam dapat menimbulkan epilepsy, tetapi bukan karena

    kejang demam itu sendiri kejang pertama kadang di alami oleh anak

    dengan epilepsy pada saat mereka mengalami demam. Namun begitu

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    11/26

    antara 95 98 % anak yang mengalami kejang demam tidak menimbulkan

    epilepsy.

    Komplikasi yang paloing umum dari kejang demam adalah

    adanya kejang demam berulang. Sekitar 33% anaka akan mengalami kejang

    berulang jika ,ereka demam kembali. Sekitar 33% anka akan mengalami

    kejang berulan g jika mereka demam kembali resiko terulangnya kejang

    demam akan lebih tinggi jika :

    1. Pada kejang yang pertama, anak hanya mengalami demam yang tidakterlalu tinggi

    2. Jarak waktu antara mulainya demam dengan kejang yang sempit3. Ada faktor turunan dari ayah ibunya

    Risiko yang akan dihadapi seorang anak sesudah menderita kejang

    demam tergantung dari faktor:

    1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga2. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum

    anak menderita kejang demam.

    3. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal.Namun begitu faktor terbesar adanya kejang demam berulang ini

    adalah usia. Semakin muda usia anak saat mengalami kejang demam, akan

    semakin besar kemungkinan mengalami kejang berulang

    J. Penyakit-penyakit yang Menyebabkan KejangPenyakit-penyakit yang menyebabkan kejang dapat dikelompokkan

    secara sederhana menjadi penyebab kejang epileptik dan penyebab kejang

    non-epileptik. Penyakit epilepsi akan dibahas tersendiri sementara kelompok

    non-epileptik terbagi lagi menjadi penyakit sistemik, tumor, trauma, infeksi,dan serebrovaskuler.

    1. SistemikMetabolik : Hiponatremia, Hipernatremia,

    a. HiponatremiaHiponatremia terjadi bila :

    1) Jumlah asupan cairan melebihi kemampuan ekskresi,

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    12/26

    2) Ketidakmampuan menekan sekresi ADH (mis : padakehilangan cairan melalui saluran cerna atau gagal jantung

    atau sirosis hati atau pada SIADH = Syndrom of

    Inappropriate ADH-secretion). Hiponatremia dengan gejala

    berat (mis : penurunan kesadaran dan kejang) yang terjadi

    akibat adanya edema sel otak karena air dari ektrasel masuk

    ke intrasel yang osmolalitas-nya lebih tinggi digolongkan

    sebagai hiponatremia akut (hiponatremia simptomatik).

    Sebaliknya bila gejalanya hanya ringan saja (mis : lemas

    dan mengantuk) maka ini masuk dalam kategori kronik

    (hiponatremia asimptomatik).

    3) Langkah pertama dalam penatalaksanaan hiponatremiaadalah mencari sebab terjadinya hiponatremia melalui

    anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang.

    Langkah selanjutnya adalah pengobatan yang tepat sasaran

    dengan koreksi Na berdasarkan kategori hiponatremia-nya.

    b. HipernatremiaHipernatremia terjadi bila kekurangan air tidak diatasi

    dengan baik misalnya pada orang dengan usia lanjut atau penderita

    diabetes insipidus. Oleh karena air keluar maka volume otak

    mengecil dan menimbulkan robekan pada vena menyebabkan

    perdarahan lokal dan subarakhnoid.

    Setelah etiologi ditetapkan, maka langkah penatalaksanaan

    berikutnya ialah mencoba menurunkan kadar Na dalam plasma ke

    arah normal. Pada diabetes insipidus, sasaran pengobatan adalahmengurangi volume urin. Bila penyebabnya adalah asupan Na

    berlebihan maka pemberian Na dihentikan.

    2. TumorGangguan kesadaran akibat tekanan intrakranial yang

    meninggi. Selain menempati ruang, tumor intrakranial juga

    menimbulkan perdarahan setempat. Penimbunan katabolit di sekitar

    jaringan tumor menyebabkan jaringan otak bereaksi dengan

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    13/26

    menimbulkan edema yang juga bisa diakibatkan penekanan pada vena

    sehingga terjadi stasis. Sumbatan oleh tumor terhadap likuor sehingga

    terjadi penimbunan juga meningkatkan tekanan intrakranial.

    3. TraumaKejang dapat terjadi setelah cedera kepala dan harus segera

    diatasi karena akan menyebabkan hipoksia otak dan kenaikan tekanan

    intrakranial serta memperberat edem otak. Mula-mula berikan

    diazepam 10 mg intravena perlahan-lahan dan dapat diulangi sampai 3

    kali bila masih kejang. Bila tidak berhasil dapat diberikan fenitoin 15

    mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan dengan kecepatan tidak

    melebihi 50 mg/menit.

    4. InfeksiInfeksi pada susunan saraf dapat berupa meningitis atau abses

    dalam bentuk empiema epidural, subdural, atau abses otak. Klasifikasi

    lain membahas menurut jenis kuman yang mencakup sekaligus

    diagnosa kausal

    a. Infeksi viralb. Infeksi bakterialc. Infeksi spiroketald. Infeksi fungale. Infeksi protozoalf. Infeksi metazoal

    5. SerebrovaskulerStroke mengacu kepada semua gangguan neurologik

    mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya alirandarah melalui sistem suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya

    digunakan secara spesifik untuk menjelaskan infark serebrum. CVA

    (Cerebralvascular accident) dan serangan otak sering digunakan

    secara sinonim untuk stroke. Konvulsi umum atau fokal dapat bangkit

    baik pada stroke hemoragik maupun strok non-hemoragik.

    Stroke sebagai diagnosis klinis untuk gambaran manifestasi

    lesi vaskuler serebral dapat dibagi dalam :

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    14/26

    a. Transient ischemic attack,b. Stroke in evolution,c. Completed stroke, yang bisa dibagi menjadi tipe hemoragik

    dan tipe non

    d. hemoragikK. UjiLaboratoriumdanDiagnostik

    1. Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai unutk membantu menetapkanjenis dan fokus dari kejang.

    2. Pemindaian CT : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dribiasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.

    3. Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangandengan menggunakan lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna

    untuk memperlihatkan daerah daerah otak yang itdak jelas terliht bila

    menggunakan pemindaian CT

    4. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasikejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi,

    perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak

    5. Uji laboratoriuma. Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler

    b. Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit c.Panel elektrolit

    c. Skrining toksik dari serum dan urind. GDAe. Kadar kalsium darahf.

    Kadar natrium darah

    g. Kadar magnesium darahL. Penatalaksanaan

    1. Pengobatan fase akutDalam penanganan kejang demam, orang tua harus mengupayakan

    diri setenang mungkin dalam mengobservasi anak. Beberapa hal

    yang harus di perhatikan adalah sebagai berikut

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    15/26

    a. Anak harus di baringkan di tempat yang datar dengan posisimenyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya

    tersedak.

    b. Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut sianakseperti sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut

    dapat menyumbat jalan nafas.

    c. Jangan memegangi anak untuk melawan kejang.d. Sebagian besar kejang berlangsung singkat & dan tidak

    memerlukan penanganan khusus.

    e. Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan

    anak untuk di bawa ke fasilitas kesehatan jika kejang masih

    berlanjut setelah 5 menit. Ada pula sumber yang menyatakan

    bahwa penanganan lebih baik di lakukan secepat mungkin tanpa

    menyatakan batasan menit.

    f. Setelah kejang berakhir ( jika < 10 menit ), anak perlu di bawamenemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada

    kakakuan leher, muntah-muntah yang berat,atau anak terus tampak

    lemas.

    Jika anak di bawa kefasilitas kesehatan , penanganan yang akan

    di lakukan selain point-point di atas adalah sebagai berikut :

    a. Memastikan jalan nafas anak tidak tersumbatb. Pemberian oksigen melalui face maskc. Pemberian diazepam 0.5 mg /kg berat badan per rectal (melalui)

    atau jika terpasang selang infuse 0.2 mg / kg per infuse.d. Pengawasan tanda-tanda depresi pernafasan

    Berikut ini table dosis diazepam yang di berikan :

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    16/26

    UsiaDosis IV

    (infuse) (0,2 mg/kg)

    Dosis per rectal

    ( 0.5 mg / kg )

    < 1 tahun 1-2 mg 2.55 mg

    15 tahun 3 mg 7.5 Mg

    5-10 tahun 5 mg 10 mg

    >10 tahun 5-10 mg 1015 mg

    Jika kejang masih berlanjut :

    a. Pemberian diazepam 0.2 mg / kg per infuse diulangi. Jikabelum terpasang selang infuse 0.5 mg / kg per rectal

    b. Pengawasan tandatanda depresi pernapasan .c. Pemberian fenobarbital 20 30 mg / kg per infuse dalam 30

    menit atau fenitoin 15-40 mg / kg per infuse dalam 30 menit .

    d. Pemberian Fenitoin hendaknya di sertai dengan monitor EKG(rekam jantung)

    Jika kejang masih berlajut, diperlukan penanganan lebih lanjut

    di ruang perawatan intensif dengan thiopentone, dan alat bantu

    pernafasan.

    M.Terapi KejangPenanganan kejang secara modern bermula dari tahun 1850 dengan

    pemberian Bromida, dengan dasar teori bahwa epilepsi disebabkan oleh suatu

    dorongan sex yang berlebih. Pada tahun 1910, kemudian digunakan

    Fenobarbital yang awalnya dipakai untuk menginduksi tidur, kemudian

    diketahui mempunyai efek antikonvulsan dan menjadi obat pilihan selama

    bertahun-tahun. Sejumlah obat lain yang juga digunakan sebagai pengganti

    Fenobarbital termasuk Pirimidone, dan Fenitoin yang kemudian menjadi first

    line drug epilepsi utama untuk penanganan kejang parsial dan generalisata

    sekunder.

    Pada tahun 1968, Karbamazepin awalnya digunakan untuk neuralgia

    trigeminal, kemudian pada tahun 1974 digunakan untuk kejang parsial.

    Etosuksimid telah digunakan sejak 1958 sebagai obat utama untuk

    penanganan absence seizures tanpa kejang tonik klonik generalisata.

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    17/26

    Valproate mulai digunakan 1960 dan saat ini sudah tersedia di seluruh

    dunia dan menjadi drug of choice pada epilepsy primer generalisata dan

    kejang parsial.

    1. FenobarbitalMerupakan obat antiepilepsi atau antikonvulsi yang efektif.

    Toksisitasnya relatif rendah, murah, efektif, dan banyak dipakai. Dosis

    antikonvulsinya berada di bawah dosis untuk hipnotis. Ia merupakan

    antikonvulsan yang non-selektive. Manfaat terapeutik pada serangan

    tonik-klonik generalisata (grand mall) dan serangan fokal kortikal.

    2. PrimidonEfektif untuk semua jenis epilepsy kecuali absence. Efek

    antikonvulsi ditimbulkan oleh primidon dan metabolit aktifnya.

    3. HidantoinYang termasuk dalamm golongan ini adalah fenitoin,

    mefenitoin dan etotoin. Fenitoin : Fenitoin adalah obat primer untuk

    semua bangkitan parsial dan bangkitan tonik-klonik, kecuali bangkitan

    absence (absence seizure). Fenitoin tidak sedative pada dosis biasa.

    Berbeda dengan fenobarbital, obat ini juga efektif pada beberapa

    kasus epilepsy lobus temporalis.

    4. KarbamazepineTermasuk dalam golongan iminostilbenes. Manfaat terapeutik

    ialah untuk Epilepsi lobus temporalis, sendiri atau kombinasi dengan

    bangkitan generalisata tonik-klonik (GTCS).

    5. EtosuksimidObat ini dipakai untuk bangkitan absence. Efek antikonvulsi

    pada binatang sama halnya dengan trimetadion. Proteksi terhadap

    pentilentetrazol, akan menaikkan nilai ambang serangan. Manfaat

    terapeutik ialah terhadap bengkitan absence.

    6. Asam valproat (Valproic acid)Asam valproat dipakai untuk berbagai jenis serangan atau

    bangkitan. Efek sedasinya minimal, efek terhadap SSP lain juga

    minimal. Terhadap Pentilen tetrazol, potensi asam valproat lebih besar

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    18/26

    daripada etosuksimid, tapi lebih kecil pada fenobarbital. Asam

    valproat lebih bermanfaat untuk bangkitan absence daripada terhadap

    bangkitan umum tonik-klonik.

    N. PrognosisKejang adalah suatu masalah neurologik yang relative sering dijupai.

    Sekitar 10% populasi akan mengalami paling sedikit satu kali kejang seumur

    hidup mereka, dengan insiden paling tinggi terjadi pada masa anak-anak dini

    dan lanjut usia (setelah usia 60 tahun), dan 0,3% sampai 0,5% akan

    didiagnosa mengidap epilepsi (berdasarkan kriteria dua kali kejang tanpa

    pemicu)

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    19/26

    KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

    A. Pengkajian1. Pengkajian kondisi/kesan umum

    Kondisi umum Klien nampak sakit berat

    2. Pengkajian kesadaranSetelah melakukan pengkajian kesan umum, kaji status mental

    pasien dengan berbicara padanya. Kenalkan diri, dan tanya nama pasien.

    Perhatikan respon pasien. Bila terjadi penurunan kesadaran, lakukan

    pengkajian selanjutnya.

    Pengkajian kesadaran dengan metode AVPU meliputi :

    a. Alert (A) : Klien tidak berespon terhadap lingkungan sekelilingnya.b. Respon velbal (V) : klien tidak berespon terhadap pertanyaan

    perawat.

    c. Respon nyeri (P) : klien tidak berespon terhadap respon nyeri.d. Tidak berespon (U) : klien tidak berespon terhadap stimulus verbal

    dan nyeri ketika dicubit dan ditepuk wajahnya

    3. Pengkajian PrimerPengkajian primer adalah pengkajian cepat (30 detik) untuk

    mengidentifikasi dengan segera masalah aktual dari kondisi life

    treatening (mengancam kehidupan). Pengkajian berpedoman pada

    inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika hal memugkinkan.

    Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan :

    a. Airway (jalan nafas) dengan kontrol servikalDitujukan untuk mengkaji sumbatan total atau sebagian dangangguan servikal :

    1) Ada/tidaknya sumbatan jalan nafas2) Distres pernafasan3) Adanya kemungkinan fraktur cervical4) Pada fase iktal, biasanya ditemukan klien mengatupkan

    giginya sehingga menghalangi jalan napas, klien menggigit

    lidah, mulut berbusa, , dan pada fase posiktal, biasanya

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    20/26

    ditemukan perlukaan pada lidah dan gusi akibat gigitan

    tersebut

    b. Breathing dan ventilasiPada fase iktal, pernapasan klien menurun/cepat, peningkatan

    sekresi mukus, dan kulit tampak pucat bahkan sianosis. Pada fase

    post iktal, klien mengalami apneu

    c. Circulation dengan kontrol perdarahanPada fase iktal terjadi peningkatan nadi dan sianosis, klien biasanya

    dalam keadaan tidak sadar.

    d. DisabilityKlien bisa sadar atau tidak tergantung pada jenis serangan atau

    karakteristik dari epilepsi yang diderita. Biasanya pasien merasa

    bingung, dan tidak teringat kejadian saat kejang

    e. ExposurePakaian klien di buka untuk melakukan pemeriksaan thoraks,

    apakah ada cedera tambahan akibat kejang

    4. Pengkajian sekundera. Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku

    bangsa,alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal

    pengkajian dan diagnosa medis.

    b. Keluhan utama:Klien masuk dengan kejang, dan disertai penurunan kesadaran

    c. Riwayat penyakit:Klien yang berhubungan dengan faktor resiko bio-psiko-spiritual.

    Kapan klien mulai serangan, pada usia berapa. Frekuansi serangan,ada faktor presipitasi seperti suhu tinggi, kurang tidur, dan emosi

    yang labil. Apakah pernah menderita sakit berat yang disertai

    hilangnya kesadaran, kejang, cedera otak operasi otak. Apakah klien

    terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau obat terlarang, atau

    mengkonsumsi alcohol. Klien mengalami gangguan interaksi dengan

    orang lain / keluarga karena malu ,merasa rendah diri, ketidak

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    21/26

    berdayaan, tidak mempunyai harapan dan selalu waspada/berhati-hati

    dalam hubungan dengan orang lain.

    1) Riwayat kesehatan2) Riwayat keluarga dengan kejang3) Riwayat kejang demam4) Tumor intrakranial5) Trauma kepala terbuka, stroke

    d. Riwayat kejang :1) Bagaimana frekwensi kejang.2) Gambaran kejang seperti apa3) Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda awal.4) Apakah ada kehilangan kesadaran atau pingsan5) Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.6) Apakah pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.

    e. Pemeriksaan fisik1) Kepala dan leher

    Sakit kepala, leher terasa kaku

    2) ThoraksPada klien dengan sesak, biasanya menggunakan otot bantu

    napas

    3) EkstermitasKeletihan,, kelemahan umum, keterbatasan dalam

    beraktivitas, perubahan tonus otot, gerakan

    involunter/kontraksi otot

    4)

    EliminasiPeningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter. Pada

    post iktal terjadi inkontinensia (urine/fekal) akibat otot

    relaksasi

    5) Sistem pencernaanSensitivitas terhadap makanan, mual/muntah yang

    berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan

    lunak

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    22/26

    B. DiagnosaDiagnosa keperawatan yang mungkin muncul

    1. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan2. Devisit volume cairan berhubungan dengan output berlebihan

    (dehidrasi)

    3. Risiko terjadi kerusakn sel otak berhubungan dengn kejang4. Resiko tinggi injuri berhubungan dengan kejang5. Risiko kurang nutrisi berhubungan dengan anoreksia6. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya

    informasi

    C. IntervensiDx1 : Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan

    Tujuan : Yang diharapkan adalah setelah dilakukan tindakan

    keperawatan hipertermi tidak terjadi

    riteria Hasil : suhu tubuh normal ( 360c 370c), klien bebas dari

    demam Efendi,1995Interverensi Rasional

    Beri kompres hangat Dapat membantu mengurangi

    demam

    Beri dan anjurkan klien banyakminum

    Semakin banyak minum akan dapatantu menurunkan demam

    anjurkan klien istirahat dengan tirah Istirahat yang baik akan dapat

    sedikit membantu penyembuhan

    Anjurkan klien untuk memakai

    pakaian tipis dan menyerap keringat

    Pakaian yang tipis akan memudahkan

    sirkulasi dalam dan luar tubuh

    Ciptakan suasana yang nyaman (aturventilasi)

    Suhu ruangan harus diubah untukmempertahankan suhu mendekati

    normal

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    23/26

    Dx2 : Devisit volume cairan berhubungan dengan output berlebihan

    (dehidrasi )

    Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan devisit voleme cairan tidak

    terjadi

    Kriteria Hasil : menunjukkan keseimbangan cairan, tanda-tanda vital dalam

    Interverensi Rasional

    kaji perubahan tanda- tanda vital peningkatan suhu atau

    memanjangnya demam

    meningkatnya laju metabolic dan

    kehilangan cairan melalui evaporasi

    kaji turgor kelembapan membrane

    mukosa ( bibir dan lidah )

    Indikator langsung keadekuatan

    voleme cairan meskipun membran

    mukosa mulut mungkin kering

    karena napas mulut dan oksigentambahan.

    catat laporan mual atau

    muntah

    adanya gejala ini menurunkan

    masukan oral

    pantau masukan dan haluaran memberikan informasi tentang

    keadekuatan volume cairan dan

    kebutuhan pengganti

    tekankan cairan sedikitnya 2500

    ml/hari atau sesuai kondisi

    individual.

    pemenuhan kebutuhan dasar

    cairan, menurunkan risiko

    dehidrasi

    Dx3 : Risiko terjadi kerusakan sel otak berhubungan dengan kejng

    (Ngastiyah, 1997, hal:236)

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi kerusakan

    sel otak, tidakterjadi komplikasi

    Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda kejang, peredaran darah lancar,

    suplai oksigen lancar, tidak ada tanda-tanda apnue.

    Intervensi RasionalBila terjadi kejang, tidurkan pasien

    ditempat yang rata, miringkan

    kepala

    Diharapkan sistem pernpasan tidak

    terjadi gangguan ataupun sumbatan

    Pasang sudip lidah Agar lidah tidak tergigit atau lidah

    menutup jalan napas

    Longgarkan pakaian yang mengikat Proses inspirasi dan ekspirasi

    dapat maksimal dan dapat

    memberikan rasa nyaman pada

    pasien

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    24/26

    Isap lendir sesuai indikasi Melonggarkan pernapasan dan

    mencegah terjadinya aspirasi

    Berikan oksigen Diharapkan dapat memenuhi

    kebutuhan oksigen diseluruh

    aringan

    Kolaborasi dengan dokter untuk

    pemberian obat anti kejang

    Diharapkan dapat mempercepat

    proses penyembuhan dan juga

    dengan memantau efek samping

    secara dini jika timbul efek samping

    Dx4 : Risiko injuri berhubungan dengan kejang (suriadi,2001,hal:52)

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko injuri tidak terjadi

    Keriteria hasil : Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturanpengobatan, meningkatkan keamanan lingkungan

    Intervensi Rasional

    Hindarkan anak dari benda-

    bendayang membahayakan

    Tindakan ini dapat membantu

    menurunkan injuri

    Gunakan alat pengaman dapat melindungi klien dari

    bahaya injuri

    Bila terjadi kejang, pasang sudip

    Lidah

    Agar lidah tidak tergigit atau

    lidah menutup jalan napas.

    Kolaborasi pemberian obat anti kejang Diharapkan dapat mempercepat

    proses penyembuhan dan juga

    dengan memantau efek samping

    secara dini jika timbul efek samping

    Dx5 : Risiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia (

    carpenito, 1999, hal:259)

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan risiko kekurangan nutrisitidak terjadi

    Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan nafsu makan, mempertahankanatau meningkatkan berat badan

    Intervensi Rasional

    Identifikasi faktor penyebab mual atau

    muntah

    Pilihan intervensi tergantung pada

    penyebab masalah

    Auskultasi bunyi usus. Observasi

    atau palpasi distensi abdomen

    Bunyi usus mungkin menurun atau

    tidak ada bila proses infeksi berat

    atau memanjang. Distensi abdomen

    terjadi sebagai akibaat menelan

    udara

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    25/26

    Pertahankan atau tingkatkan oral

    higine

    Kondisi mulut yang baik dapat

    meningkatkan nafsu makan

    Berikan porsi kecil tapi sering tindakan ini dapat meningkatkan

    masukan meskipun nafsu makan

    mungkin lambat untuk kembali

    Ukur berat badan dasar adanya kondisi kronis rendahnya

    tahanan terhadap infeksi

    Dx6 : Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya

    informasi (Doenges,1999)

    Tujuan : Setelah dilakukan keperawatan, pengetahuan keluarga meningkat.Kriteria hasil : - Keluarga mengerti proses penyakit kejang demam

    - Keluarga kooperatif

    - Keluargaberperan serta dalam proses perawatan klien

    Intervensi Rasional

    Kaji tingkat pendidikan

    klien/keluarga

    Mempengaruhi proses terhadap

    penerimaan materi pengetahuan

    Kaji tingkat pengetahuan

    keluarga/klien

    Menentukan pilihan intervensi yang tepat

    dalam penyampaian

    Lakukan pendidikan kesehatan

    tentang kejang demam pada

    keluarga klien

    Memberikan informasi yang adekuat,

    meningkatkan peran serta keluarga dalam

    perawatan klienBeri kesempatan keluarga

    untuk bertanya

    Mengetahui sejauh mana intervensi

    berhasil dilakukan

    Libatkan keluarga dalam

    setiap tindakan pada klien

    Masalah kesehatan kesehatan pada anak

    melibatkan peranan orang mempersiapkan

    perawatan klien ketika dirumah

    D. ImplementasiSesuai dengan intervensi

  • 7/27/2019 Askep Gadar Kejang

    26/26

    DAFTAR PUSTAKA

    Mardjono, Mahar, Prof.Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat. Jakarta: 2006

    Budiman, Gregory. Basic Neuroanatomical Pathways. Second Edition. FKUI.

    Jakarta: 2009.

    Dewanto, George, dkk. Panduan Praktis Diangnosis dan Tata Laksana Penyakit

    Saraf. EGC. Jakarta: 2009.