of 58 /58
BAB 2 KONSEP TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep teori yang memuat: Konsep Lansia, Konsep Penyakit Post Operasi Katarak dan Konsep Asuhan Keperawatan Klien Dengan Post Operasi Katarak. 2.1 Konsep Teori Lansia 2.1.1 Batasan Lansia Menurut oraganisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi: 1) Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun. 2) Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun 3) Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun 4) Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun 2.1.2 Proses Menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.

Askep gerontik-katarak

Embed Size (px)

DESCRIPTION

katarak

Citation preview

Page 1: Askep gerontik-katarak

BAB 2

KONSEP TEORI

Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep teori yang memuat: Konsep

Lansia, Konsep Penyakit Post Operasi Katarak dan Konsep Asuhan Keperawatan

Klien Dengan Post Operasi Katarak.

2.1 Konsep Teori Lansia

2.1.1 Batasan Lansia

Menurut oraganisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi:

1) Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59

tahun.

2) Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun

3) Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun

4) Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

2.1.2 Proses Menua

Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang

berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak,

masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik

secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti

mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik

ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan

pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai

fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.

Meskpun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ,

tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus

sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:

1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,

2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,

3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat

(Rahardjo, 1996)

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan – perubahan

yangmenuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus – menerus. Apabila proses

penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai

Page 2: Askep gerontik-katarak

masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994)

menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu:

1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada

orang lain,

2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam

pola hidupnya,

3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah

meninggal atau pindah,

4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang

bertambah banyak dan

5) Belajar memperlakukan anak – anak yang telah tumbuh dewasa.

Berkaitan dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa

perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak.

Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri

makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga

minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta terhadap kegiatan –

kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan

motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut untuk selalu menjaga kebugaran

fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlukan untuk

melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran

fisiknya.

Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa

perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap

perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap

yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari

pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag

diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah

peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992)

Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri

– ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar,

1994) adalah:

1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.

2) Penarikan diri ke dalam dunia fantasi

3) Selalu mengingat kembali masa lalu

4) Selalu khawatir karena pengangguran,

5) Kurang ada motivasi,

Page 3: Askep gerontik-katarak

6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan

7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan.

Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat

yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja

dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki

kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain.

2.1.3 Teori Proses Menua

1) Teori – teori biologi

a) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik

untuk spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat

dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul – molekul

/ DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin

(terjadi penurunan kemampuan fungsional sel)

b) Pemakaian dan rusak

Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh

lelah (rusak)

c) Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat

diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang

tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh

menjadi lemah dan sakit.

d) Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory)

Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia

dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab

kerusakan organ tubuh.

e) Teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa

digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat

mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan

usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.

f) Teori radikal bebas

Page 4: Askep gerontik-katarak

Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak

stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan

osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan

protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak

dapat regenerasi.

g) Teori rantai silang

Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya

menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen.

Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan

hilangnya fungsi.

h) Teori program

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel

yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

2) Teori kejiwaan sosial

a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)

- Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah

kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia

lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak

dalam kegiatan sosial.

- Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari

lanjut usia.

- Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu

agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia

b) Kepribadian berlanjut (continuity theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada

lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas.

Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada

seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe

personality yang dimiliki.

c) Teori pembebasan (disengagement theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,

seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari

kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi

sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun

kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple

Page 5: Askep gerontik-katarak

loss), yakni :

1. kehilangan peran

2. hambatan kontak sosial

3. berkurangnya kontak komitmen

2.1.4 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian

kesejahteraan lanjut usia, antara lain: (Setiabudhi, T. 1999 : 40-42)

1) Permasalahan umum

a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.

b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga

yang berusia lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.

c) Lahirnya kelompok masyarakat industri.

d) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional

pelayanan lanjut usia.

e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan

kesejahteraan lansia.

2) Permasalahan khusus :

a) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah

baik fisik, mental maupun sosial.

b) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.

c) Rendahnya produktifitas kerja lansia.

d) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.

e) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan

masyarakat individualistik.

f) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat

mengganggu kesehatan fisik lansia

2.1.5 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan

1) Hereditas atau ketuaan genetik

2) Nutrisi atau makanan

3) Status kesehatan

4) Pengalaman hidup

5) Lingkungan

6) Stres

Page 6: Askep gerontik-katarak

2.1.6 Perubahan – perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

1) Perubahan fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistim

organ tubuh, diantaranya sistim pernafasan, pendengaran,

penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh,

muskuloskeletal, gastro intestinal, genito urinaria, endokrin dan

integumen.

2) Perubahan mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :

a) Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.

b) Kesehatan umum

c) Tingkat pendidikan

d) Keturunan (hereditas)

e) Lingkungan

f) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan

ketulian.

g) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.

h) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan

dengan teman dan famili.

i) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan

terhadap gambaran diri, perubahan konsep dir.

3) Perubahan spiritual

Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam

kehidupannya (Maslow, 1970)

Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal

ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari

(Murray dan Zentner, 1970)

2.1.7 Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia

Menurut the National Old People’s Welfare Council , dikemukakan

12 macam penyakit lansia, yaitu :

1) Depresi mental

2) Gangguan pendengaran

3) Bronkhitis kronis

4) Gangguan pada tungkai/sikap berjalan.

Page 7: Askep gerontik-katarak

5) Gangguan pada koksa / sendi pangul

6) Anemia

7) Demensia

2.2 Konsep Penyakit Katarak

2.2.1 Definisi

Katarak adalah kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur –

angsur penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara

C.Long, 1996)

2.2.2 Etiologi

1) Ketuaan biasanya dijumpai pada katarak Senilis

2) Trauma terjadi oleh karena pukulan benda tajam/tumpul, terpapar

oleh sinar X atau benda – benda radioaktif.

3) Penyakit mata seperti uveitis.

4) Penyakit sistemis seperti DM.

5) Defek kongenital

2.2.3 Patofisiologi

Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena

adanya keseimbangan atara protein yang dapat larut dalam protein yang

tidak dapat larut dalam membran semipermiabel. Apabila terjadi

peningkatan jumlah protein yang tdak dapat diserap dapat

mengakibatkan penurunan sintesa protein, perubahan biokimiawi dan

fisik dan protein tersebut mengakibatkan jumlah protein dalam lens

melebihi jumlah protein dalam lensa melebihi jumlah protein dalam

bagian ynag lain sehingga membentuk suatu kapsul yang dikenal

dengan nama katarak. Terjadinya penumpukan cairan/degenerasi dan

desintegrasi pada serabut tersebut menyebabkan jalannya cahaya

terhambat dan mengakibatkan gangguan penglihatan.

2.2.4 Macam – macam Katarak

1) katarak kongenital

Adalah katarak sebagian pada lensa yang sdah idapatkan pada

waktu lahir. Jenisnya adalah:

a) Katarak lamelar atau zonular.

b) Katarak polaris posterior.

Page 8: Askep gerontik-katarak

c) Katarak polaris anterior

d) Katarak inti (katarak nuklear)

e) Katarak sutural

2) Katarak juvenil

Adalah katarak yang terjadi pada anak – anak sesudah lahir.

3) Katarak senil

Adalah kekeruhan lensa ang terjadi karena bertambahnya usia.

Ada beberapa macam yaitu:

a) katarak nuklear

Kekeruhan yang terjadi pada inti lensa

b) Katarak kortikal

Kekeruhan yang terjadi pada korteks lensa

c) Katarak kupliform

Terlihat pada stadium dini katarak nuklear atau kortikal.

Katarak senil dapat dibagi atas stadium:

a) katarak insipiens

Katarak yang tidak teratur seperti bercak – bercak yang

membentuk gerigi dengandasar di perifer dan daerah jernih

di antaranya.

b) katarak imatur

Terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum

mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapt bagian-

bagian yang jernih pada lensa.

c) katarak matur

Bila proses degenerasi berjala terus maka akan terjadi

pengeluaran air bersama – sama hasil desintegritas melalui

kapsul.

d) katarak hipermatur

Merupakan proses degenerasi lanjut sehingga korteks lensa

mencair dan dapat keluar melalui kapsul lensa.

4) Katarak komplikasi

Terjadi akibat penyakit lain. Penyakit tersebut dapat intra okular

atau penyakit umum.

Page 9: Askep gerontik-katarak

5) Katarak traumatik

Terjadi akibat ruda paksa atau atarak traumatik.

2.3 Kosep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Operasi

Katarak

2.3.1 Pengkajian

1) Data Subyektif

a) Nyeri

b) Mual

c) Diaporesis

d) Riwayat jatuh sebelumnya

e) Pengetahuan tentang regimen terapeutik

f) Sistem pendukung, lingkungan rumah.

2) Data obyektif

a) Perubahan tanda – tanda vital

b) Respon yang azim terhadap nyeri

c) Tanda – tanda infeksi:

- Kemerahan

- Edema

- Infeksi konjungtiva (pembuluh darah konjungtiva

menonjol)

- Drainase pada kelopak mata dan bulu mata

- Zat purulen

- Peningaktan suhu tubuh

- Nilai laboratorium: peningkatan SDP, perubahan

SDP, hasil pemeriksaan kultur sesitivitas abnormal.

d) Ketajaman penglihatan masing – masing mata.

e) Cara berjalan, riwayat jatuh sebelumnya.

f) Kemungkinan penghalang lingkungan seperti;

- kaki kursi, perabot yang rendah

- Tiang infus

- Tempat sampah

- Sandal

g) Kesiapan dan kemampuan untuk belajar dan menyerap

informasi.

2.3.2 Perumusan Diagnosa Keperawatan

Page 10: Askep gerontik-katarak

1) Nyeri akut b/d interupsi pembedahan jaringan tubuh

2) Resiko tinggi terhadap infeksi b/d peningkatan perentanan

sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.

3) Resiko tinggi terhadap cidera b/d keterbatasan penglihatan, berada

di lingkungan yang asing dan keterbatasan mobilitas dan

perubahan kedalaman persepsi karena pelindung mata.

4) Resiko tinggi terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapeutik

b/d kurang aktivitas yang diijinkan, obat – obatan, komplikasi dan

perawatan lanjutan.

2.3.3 Perencanaan

1) Nyeri akut

a) Tujuan: nyeri teratasi

b) Kriteria hasil: klien melaporkan penurunan nyeri progresif

dan penghilangan nyeri setelah intervensi.

c) Intervensi:

Bantu klien dalam mengidentifikasi tindakan

penghilangan nyeri yang efektif.

Rasional: Membantu dalam membuat diagnosa dan

kebutuhan terapi.

Jelaskan bahwa nyeri dapat akan terjadi sampai

beberapa jam setelah pembedahan.

Rasional: Nyeri post op dapat terjadi sampai 6 jam post op.

Lakukan tindakan penghilanagn nyeri non invasif

atau non farmakologik, seperti berikut;

- Posisi: tinggikan bagian kepala tempat tidur,

berubah – ubah antara berbaring pada punggung dan

pada sisi yang tidak dioperasi.

- Distraksi

- Latihan relaksasi

Rasional: beberapa tindakan penghilang nyeri non invasif

adalah tindakan mandiri yang dapat dilaksanakan perawat

dalam usaha meningkatkan kenyamanan pada klien.

Berikan dukungan tindakan penghilangan nyeri

dengan analgesik yang diresepkan.

Rasional: Analgesik mambantu dalam menekan respon

nyeri dan menimbulkan kenyamanan pada klien.

Page 11: Askep gerontik-katarak

Beritahu doker jika nyeri tidak hilang setelah ½ jam

pemberian obat, jika nyeri disertai mual atau jika anda

memperhatikan drainase pada pelindung mata.

Rasional: Tanda ini menunjukkan peningaktan tekanan intra

okuli (TIO) atau komplikasi lain.

2) Resiko tinggi terhadap infeksi

a) Tujuan: infeksi tidak terjadi.

b) Kriteria hasil: klien akan menunjukkan penyembuhan insisi

tanpa gejala infeksi.

c) Intervensi:

Tingkatkan penyembuhan luka:

- Berikan dorongan untuk mengikuti diet yang

seimbang dan asupancairan yang adekuat.

- Instruksikan klien untuk tetap menutup mata sampai

hari pertama setelah operasi atau sampai diberitahukan

Rasional: Nutrisi dan hidrasi yang optimal meningkatkan

kesehatan secara keseluruhan, yang meningkatkan

penyembuhan

Gunakan teknik aseptik untuk meneteskan tetes

mata:

- Cuci tangan sebelum memulai

- Pegang alat penetes agak jauh dari mata

- Ketika meneteskan, hindari kontak antara ata,

tetesan dan alat penetes.

Ajarkan teknik ini kepada klien dan anggota keluarganya.

Rasional: Teknik aseptik meminimialkan masuknya

mikroorganisme dan mengurangi resiko infeksi.

Kaji tanda dan gejala infeksi:

- Kemerahan, edema pada kelopak mata

- Infeksi konjungtiva (pembuluh darah menonjol)

- Drainase pada kelopak mata dan bulu mata

- Materi purulen pada bilik anterior (antara korm\nea

dan iris)

- Peningkatan suhu

- Nilai laboratorium abnormal (mis. Peningkatan SDP,

hasil kultur dan sensitivitas positif)

Page 12: Askep gerontik-katarak

Rasional: Deteksi dini infeksi memungkinkan penanganan

yang cepat untuk meminimalkan keseriusan infeksi.

Lakukan tindakan untuk mencegah ketegangan

pada jahtan (misal anjurkan klien menggunakan kacamata

protektif dan pelindung mata pada siang hari dan pelindung

mata pada malam hari).

Rasional: Ketegangan pada jahitan dapat menimbulkan

interupsi menciptakan jalan masuk untuk mikroorganisme.

Beritahu dokter tentang semua drainase yang

terlihat mencurigakan.

Rasional: Drainase abnormal memerlukan evaluasi medis

dan kemungkinan memulai penanganan farmakologi.

3) Resiko tinggi terhadap cidera

a) Tujuan: Cidera tidak terjadi.

b) Kriteria hasil: Klien tidak mengalami cidera atau trauma

jaringan selama dirawat.

c) Intervesi:

Orientasikan klien pada lingkungan ketika tiba.

Rasional: Pengenalan klien dengan lingkungan membantu

mengurangi kecelakaan.

Modifikasi lingkungan untuk menghilangkan

kemungkinan bahaya.

- Singkirkan penghalang dari jalur berjalan.

- Singkrkan sedotan dari baki.

- Pastikan pintu dan laci tetap tertutup atau terbuka

secara sempurna.

Rasonal: Kehilangan atau gangguan penglihatan atau

menggunakan pelindung mata juga apat mempengaruhi

resiko cidera yang berasal dari gangguan ketajaman dan

kedalaman persepsi.

Tinggikan pengaman tempat tidur. Letakkan benda

dimana klien dapat melihat dan meraihnya tanpa klien

menjangkau terlalu jauh.

Rasional: Tinakan ini dapat membantu mengurangi resiko

terjatuh.

Bantu klien dan keluarga mengevaluasi lingkungan

Page 13: Askep gerontik-katarak

rumah untuk kemungkinan bahaya.

- karpet yang tersingkap.

- Kabel listrik yang terpapar.

- Perabot yang rendah

- Binatang peliharaan

- Tangga

Rasional: Perlunya untuk empertahankan lingkungan yang

aman dilanjutkan setelah pulang.

4) Resiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen

terapeutik

a) Tujuan: Inefektif penatalaksanaan regimen tidak terjadi.

b) Kriteria hasil: Berkaitan dengan rencana pemulangan rujuk

pada rencana pemulangan.

c) Intervensi:

Diskusikan aktifitas yang diperbolehkan setelah

pembedahan.

- Membaca

- Menonton televisi

- Memasak

- Melakukan pekerjaan rumah tangga yang ringan

- Mandi siram atau mandi di bak mandi.

Rasional: Memulai diskusi dengan menguraikan aktifitas

yang diperbolehkan daripada pembatasan memfokuskan

klien pada aspek positif penyembuhan daripada aspek

negatifnya.

Pertegas pembatasan aktifitas yang disebutkan

dokter yang mungkin termasuk menghindari aktifitas berikut:

- Berbaring pada sisi yang dioperasi

- Membungkuk melewati pinggang

- Mengangkat benda yang beratnya melebihi 10 kg.

- Mandi

- Mengedan selama defekasi.

Rasional: Pembatasan diperlukan utnuk menguangi gerakan

mata dan mencegah peningkatan tekanan okuler.

Pembatasan yang spesifik tergantung pada beberapa faktor,

termasuk sifat dan luasnya pembedahan, preferensi dokter,

Page 14: Askep gerontik-katarak

umur serta status kesehatan klien secara keseluruhan.

Pemahaman klein tentang alasan untuk pembatasan ini

dapat mendorong kepatuhan klien.

Tekankan pentingnya tidak mengusap mata atau

menggosok mata dan menjaga balutan serta pelindung

protektif tetap pada tempatnya sampai hari pertama setelah

operasi.

Rasional: Mengusap atau menggosok mata dapat merusak

integritas jahitan dan memebrikan jalan masuk untk

mikroorganisme. Menjaga mata tertutup mengurangi resiko

kontaminasi oleh mikroorganisme di udara.

Jelaskan informasi berikut untuk tetap setiap obat –

obatan yang diresepkan.

- Nama, tujuan dan kerja obat.

- Jadwal, dosis (jumlah dan waktu)

- Teknik pemberian

- Instruksi atau kewaspadaan khusus

Rasional: Memberikan informasi yang akurat sebelum

pulang dapat meningkatkan kepatuhan dengan regimen

pengobatan dan membantu mencegah kesalahan dalam

pemberian obat.

Instruksikan klien dan keluarga untuk melaporkan

tanda dan gejala berikut:

- Kehilangan penglihatan

- Nyeri pada mata

- Abnormalitas penglihatan (misalnya, kilasan cahaya

atau mengeras)

- Emerahan, drainase meningkat, suhu meningkat.

Rasional: Melaporkan tanda dan gejala ini lebih awal

memungkinkan intervensi yang cepat untuk mencegah atau

meminimalkan infeksi, peningkatan tekanan intra okular,

perdarahan, terlepasnya retina atau komplikasi lain.

Instruksikan untuk menjaga hygiene mata

(membuang drainase yang mengeras dengan menyeka

kelopak mata yang terpejam menggunakan bola kapas yang

dielmbabakan dengan larutan irigasi mata).

Rasional: Sekresi dapat melekat pada kelopak mata dan blu

Page 15: Askep gerontik-katarak

mata. Pembuangan sekresi dapat memberikan kenyamanan

dan mengurangi resiko infeksi dengan mneghilangkan

sumber mikroorganisme.

Tekankan pentingnya perawatan lanjutan yang

adekuat, dengan adwal yang ditentukan oleh ahli bedah.

Klien harus mengetahui tanggal dan waktu jadwal perjanjian

pertamanya sebelum pulang.

Rasional: Perawatan lanjutan memberikan kemungkinan

penyembuhan dan memngkinkan deteksi dini komplikasi.

Sediakan instruksi tertulis pada waktu klien pulang.

Rasional: Instruksi tertulis memberikan klien dan keluarga

sumber informasi yang dapat merekam rujuk jika diperlukan.

2.3.4 Pelaksanaan

Disesuaikan dengan intervensi yang telah ditetapkan serta

keadaan umum klien.

2.3.5 Evaluasi

Disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan,

menggunakan metode SOAP.

Page 16: Askep gerontik-katarak

BAB 3

A S U H A N K E P E R A W A T A N

PADA KLIEN LANSIA IBU JAIKEM DENGAN POST OPERASI KATARAK

DI WISMA PANDU, PSTW “BAHAGIA” MAGETAN

TANGGAL 03 – 07 DESEMBER 2001

3.1 Pengkajian

Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2001 pada pukul

11.30 WIB samapi dengan selesai pada pukul 12.30 WIB.

3.1.1 Pengumpulan data

1) Data biografi klien

a) Nama : J A I K E M

b) Tempat dan tanggal lahir: Bojonegoro, 1916

c) Pendidikan terakhir: tidak sekolah

d) Agama: Islam

e) Satus perkawinan: janda meninggal tanpa anak

f) TB/BB: 140 cm / 33 kg

g) Penampilan umum: bersih dan rapi, tubuh kurus, ramah.

h) Ciri – ciri tubuh: jalan masih tegak, rambut sebagian

memutih.

i) Alamat: Sepanjang, Surabaya

j) Orang yang dekat dihubungi: adik klien

k) Hubungan dengan klien: adik kandung.

2) Riwayat keluarga

Keterangan:

= laki - laki = klien Ibu Jaikem

= perempuan = Tinggal sendiri di

panti

Page 17: Askep gerontik-katarak

= meninggal

3) Riwayat pekerjaan

Pekerjaan saat ini: -- Pekerjaan sebelumnya: tukang pijat keliling,

sumber – sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan:

--

4) Riwayat lingkungan hidup

Klien tinggal di Wisma Pandu, 1 kamar berdua dengan Ibu

Darmiatun. Kondisi kamar cukup bersih, peralatan makan tertata

rapi di atas meja, tidak ada pakaian kotor yang menumpuk atau

tergantung, kondisi tempat tidur cukup bersih. Pertukaran udara an

cahaya matahari cukup bersih. Tingkat kenyamanan dan privacy

cukup terjamin. Klien juga punya tongkat 1 buah, tapi jarang

digunakan.

5) Riwayat rekreasi

Klien mengaku sering jalan – jalan kewisma – wisma yang lain

untuk menengok teman – temannya atau sekedar mengobrol. Klien

juga mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan senam

lansia setiap hari Selasa dan Kamis serta kegiatan rekreatif setiap

hari Rabu, karena ada hiburan serta kesempatan bertemu dengan

teman – temannya yang lain.

6) Sistem pendukung

Di panti ada seorang perawat lulusan SPK dan panti telah

mengkibatkan kerjasama sistem rujukan dengan puskesmas

pembantu Candirejo serta RSUD Magetan. Serta keberadaan

teman sekamar klien yang sangat memperhatikan kondisi klien

sangat membantu pegawasan kesehatan klien.

7) Deskripsi kekhususan

Klien semenjak bulan puasa, rajin puasa setiap hari dan sampai

har ini belum pernah gagal puasa. Sholat 5 waktu juga

dilaksanakan oleh klien secara rutin, bahkan shalat tarawih pun

dilaksanakan setiap hari di musholla.

8) Status kesehatan

Klien mengatakan penglihatannya mulai terasa kabur sejak lebih

kurang 3 tahun yang lalu. Klien juga mengatakan tidak menderita

penyakit lain, klien merasa seat – sehat saja. Semenjak operasi

klien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata kiri terasa panas, berair,

nyeri terasa sampai menyebar ke kepala.

Page 18: Askep gerontik-katarak

Provokative : Nyeri dirasa setelah klien terpapar

sinarmatahari langsung atau baru bangun tidur.

Quality : Nyeri dirasakan menyebarsampai ke kepala

disertai mata kiri terasa panas dan berair.

Region : Nyeri terasa pada mata kiri menyebar sampai

kepala

Severity scale : Bila nyeri kambuh, klien mengatakan sulit tidur.

Timming : saat bangun tidur dan setelah terpapar sinar

matahari langsung.

Klien post op 16 hari yang lalu dan telah banyak mendapatkan

informasi dari perawat panti serta pendamping wisma yang

bertugas mengenai perawatan luka pada post operasi serta

pantangan – pantangan yang harus diperhatikan oleh klien. Tetapi

setelah dilaksanakan pengkajian , terlihat banyak sekret yang

menumpuk pada mata kiri dan ternyata klien belum memahami

beberapa pantangan yang arus dijalaninya.

Obat – obatan: bila nyeri biasanya perawat memberikan

Gentamycin Salp 3x1

Satus imunisasi: --

Alergi terhadap obat – obatan, makanan maupun zat paparan lain

seperti debu, cuaca tidak ada pada klien.

9) A D L (activity daily living)

Berdasarkan indeks KATZS, pemenuhan kebutuhan ADL klien

diskor dengan A karena berdasarkan pengamatan mahasiswa,

klien mampu memenuhi kebutuhan makan, kontinen, berpindah, ke

kamar kecil dan berpakaian secara mandiri.

Kebutuhan istirahat tidur kadang – kadang terganggu bila nyeri

pada luka post operasi kambuh. Pada pengkajian personal hygiene

tampak penumpukan sekret pada mata kiri klien.

Psikologis kien meliputi:

Persepsi klien terhadap penyakit: klien merasa

wajar karena umurnya sudah tua.

Konsep diri baik karena klien mampu memandang

dirinya secara positif dan mau menerima kehadiran orang lain.

Emosi klien stabil

Kemampuan adaptasi klien baik, terlihat daris

eringnya klien mengunjungi teman – temannya di wisma yang

Page 19: Askep gerontik-katarak

lain.

Mekanisme pertahanan diri: klien mengnaggap

kehidupan di luar panti sudah tidak menarik lagi baginya, klien

ingin menghabiskan hari tuanya di panti. Klien mengatakan

senang tinggal di panti karena mendapatkan keteraturan dalam

hal makan, istirahat dan kebutuhan lain terpenuhi.

10)Tinjauan sistem

a) Keadaan umum: baik, klien tampak bersih.

b) Tingkat kesadraan : CM (compos mentis)

c) Skala koma glasgow: 15

d) Tanda – tanda vital: N: 76 x/mnt; S: 36,80C, RR: 18 x/mnt;

TD: 130/80 mmHg.

e) Sistem kardiovaskuler:

- Inspeksi: keadaan umum terlihat baik

- Palpasi: Tidak ada pelebaran pembuluh darah dan

pembesaran jantung.

- Perkusi: Tidak ada suara redup, pekak atau suara

abnoral lain.

- Auskultasi: Irama jantung teratur, tidak ada suara

lain menyertai.

f) Sistem pernafasan:

- Inspeksi: dada ka/ki terlihat simetris, pergerakan

otot dada (-)

- Palpasi: Tidak ada pembesaran abnormal, iktus

kordis teraba.

- Perkusi: Suara paru ka/ki sama dan seimbang

- Auskultasi: Suara pekak, redup, wheezing (-)

g) Sistem integumen

Inspeksi: tekstur kulit terlihat kendur, keriput(+), peningkatan

pigmen (+), dekubitus (-), bekas luka (-). Palpasi: turgor kulit

baik.

h) Sistem perkemihan

Klien mengatakan biasa buang air kecil di kamar mandi,

frekuensi 3-4 x/hari, jumlah baias (100 cc). Ngompol (-)

i) Sistem muskuloskletal

ROM klien baik/penuh, klien seimbang dalam berjalan,

osteoporosis (-), kemampuan menggenggam kuat, otot

Page 20: Askep gerontik-katarak

ekstremitas ka/ki sama kuat, tidak ada kelainan tulang, atrofi dll.

j) Sistem endokrin

Klien mengatakan tidak menderita kencing manis. Palpasi: tidak

ada pembesaran kelenjar.

k) Sistem immune

Klien mengatkan belum pernah disuntik imunisasi, sensitivitas

terhadap zat alergen (-), riwayat penyakit berkaitan dengan

imunisasi, klien mengatakan tidak tahu.

l) Sistem gastrointestinal

Klien hanya mengkonsumsi makanan yang disediakan dari

dapur umum panti ditambah dengan kadang – kadang minum

kopi. Klien mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang

disediakan pendamping wisma tanpa keluhan mual. Klien

mengatakan tinggal di panti membuatnya makan teratur 3x/hari

dengan snack 2x/hari dan tambahan susu, teh atau kopi

sehingga klien merasakan badannya lebih gemuk semenjak

tinggal di panti. BB sekarang: 33 kg, keadaan gigi klien: sudah

ompong semuanya, klien mengatakan tidak ada kesulitan

menelan an mengunyah makanan.

m) Sistem reproduksi

Klien mengatakan tidak punya anak dari hasil pernikahannya,

riwayat berhenti menstruasi lebih kurang 30 tahun yll.

n) Sistem persyarafan

Keadaan status mental klien baik dengan emosi stabil. Respon

klien terhadap pembicaraan (+) dengan bicara yang normal dan

jelas, suara pelo (-), bahasa yang digunakan adalah bahasa

Jawa dan bahasa Indonesia. Interpretasi klien terhadap lawan

bicara cukup aik.

Keadaan mata kiri tampak penumpukan sekret, penglihatan

agak kabur tetapi klien mampu pergi ke wisma lain tanpa

bimbingan orang lain atau menggunakan tongkat dan klien juga

mampu mengikuti kegiatan senam dengan baik. IOL (+),

hiperemis (+). Klien mampu melihat dalam jarak pandang 50

mtr. Kemampuan pendengaran agak menurun sehingga lawan

bicara harus berbicara agak keras supaya klien mendengar.

Page 21: Askep gerontik-katarak

11)Status kognitif/afektif/sosial

a) Short potable mental status questionaire (SPMSQ) dengan

skor: 10, fungsi intelektual utuh.

b) Mini mental state exam (MMSE) dengan skor: 25, aspek

kognitif dari fungsi mental dalam keadaan baik.

c) Inventaris depresi beck, dengan skor: 3 pada keraguan –

raguan, kesulitan kerja dan keletihan. Jadi tidak ada tanda –

tanda depresi pada klien.

d) Apgar keluarga denagn lansia, skor: 8 dimana fungsi sosial

klien dalam kedaan normal.

12)Data penunjang

Hasil pemeriksaan gluko test (-)

3.1.2 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1.

2.

DS:

- Klie

n mengeluh nyeri pada mata

kiri pot op menyebar ke

kepala saat terpapar sinar

matahari atau baru bangun

tidur.

- Klie

n mengatakan bila nyeri

kambuh, mengalami kesulitan

tidur.

- Klie

n mengatakan riwayat

operasi katarak mata kiri 16

hari yll.

DO:

- Mat

a kiri berair, hiperemis(+)

- IOL

(+)

Interupsi

pembedahan

katarak pada mata

kiri.

Peningkatan

kerentanan

skunder terhadap

interupsi

pembedahan

Nyeri

Resiko infeksi

Page 22: Askep gerontik-katarak

3.

DS:

- Klie

n mengatakan mata kiri

terasa nyeri, panas dan nyeri

menyebar sampai ke kepala.

- Klie

n mengatakan mata kirinya

terus berair dan

mengeluarkan kotoran.

DO:

- Sekr

et pada mata kiri (+).

- Mat

a kiri berair(+)

- Riw

ayat post op katarak 16 hari

yll.

DS:

- Klie

n mengatakan matanya

terasa kabur sejak 3 tahun

yang lalu.

- Klie

n mengatakan usianya

sudah 85 tahun.

DO:

- Klie

n berjalan tegap, cara

berjalan seimbang tapi

ragu – ragu.

- Klie

n mampu melihat dalam

jarak pandang 50 mtr.

katarak.

Keterbatasan

penglihatan. Resiko cidera

Page 23: Askep gerontik-katarak

3.1.3 Perumusan Masalah

1) Nyeri

2) Resiko infeksi

3) Resiko cidera

3.2 Diagnosa Keperawatan dan Perumusan Prioritas keperawatan

3.2.1 Diagnosa Keperawatan

1) Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri ditandai

dengan:

DS:

- Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke

kepala saat terpapar sinar matahari atau baru bangun tidur.

- Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami

kesulitan tidur.

- Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16

hari yll.

DO:

- Mata kiri berair, hiperemis(+)

- IOL (+)

2) Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap

interupsi pembedahan katarak ditandai dengan:

DS:

- Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri

menyebar sampai ke kepala.

- Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan

mengeluarkan kotoran.

DO:

- Sekret pada mata kiri (+).

- Mata kiri berair(+)

- Riwayat post op katarak 16 hari yll.

3) Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan ditandai dengan:

DS:

- Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak 3 tahun

yang lalu.

- Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.

DO:

- Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi

Page 24: Askep gerontik-katarak

ragu – ragu.

- Klien mampu melihat dalam jarak pandang 50 mtr.

3.2.2 Proritas Keperawatan

1) Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri ditandai

dengan:

DS:

- Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke

kepala saat terpapar sinar matahari atau baru bangun tidur.

- Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami

kesulitan tidur.

- Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16

hari yll.

DO:

- Mata kiri berair, hiperemis(+)

- IOL (+)

2) Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap

interupsi pembedahan katarak ditandai dengan:

DS:

- Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri

menyebar sampai ke kepala.

- Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan

mengeluarkan kotoran.

DO:

- Sekret pada mata kiri (+).

- Mata kiri berair(+)

- Riwayat post op katarak 16 hari yll.

3) Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan ditandai dengan:

DS:

- Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak 3 tahun

yang lalu.

- Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.

DO:

- Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi

ragu – ragu.

- Klien mampu melihat dalam jarak pandang 50 mtr.

Page 25: Askep gerontik-katarak

3.3 Perencanaan

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL EVALUASI

1. Nyeri b/d interupsi

pembedahan katarak

pada mata kiri.

Setelah diberikan

asuhan keperawatan

selama 3 hari, nyeri

berkurang ditandai

dengan:

-

-

tercukupi 8 jam.

-

dan tidak merah.

Bantu klien

dalam mengidentifikasi tindakan

penghilangan nyeri yang efektif

dengan tidur dalam posisi ½

duduk.

Lakukan

tindakan penghilanagn nyeri non

invasif atau non farmakologik,

seperti berikut;

- Posisi:

tinggikan bagian kepala

tempat tidur, berubah – ubah

antara berbaring pada

punggung dan pada sisi yang

tidak dioperasi.

- Distraksi

- Latihan

relaksasi

M

embantu memberikan

kenyamanan dan

mengurangi tekanan

pada bola mata.

B

eberapa tindakan

penghilang nyeri non

invasif adalah tindakan

mandiri yang dapat

dilaksanakan perawat

dalam usaha

meningkatkan

kenyamanan pada klien.

Klien melaporan

adanya

pengurangan nyeri

yang progresif

ditandai dengan:

-

-

tercukupi 8 jam.

- Mata tidak berair

dan tidak merah.

Page 26: Askep gerontik-katarak

Berikan

dukungan tindakan penghilangan

nyeri dengan aalgesik yang

diresepkan.

Observasi

nyeri terutama bila disertai mual.

Pertegas

pembatasan aktifitas yang

disebutkan dokter yang mungkin

termasuk menghindari aktifitas

berikut:

- Berbaring

pada sisi yang dioperasi

- Membungk

uk melewati pinggang

- Mengangka

t benda yang beratnya

melebihi 10 kg.

A

nalgesik mambantu

dalam menekan respon

nyeri dan menimbulkan

kenyamanan pada

klien.

T

anda ini menunjukkan

peningaktan tekanan

intra okuli (TIO) atau

komplikasi lain.

P

embatasan diperlukan

utnuk menguangi gerakan

mata dan mencegah

peningkatan tekanan

okuler. Pembatasan yang

spesifik tergantung pada

beberapa faktor, termasuk

Infeksi tidak terjadi

ditandai dengan:

Page 27: Askep gerontik-katarak

2.

Resiko infeksi b/d

peningkatan

kerentanan skunder

terhadap interupsi

pembedahan katarak.

Setelah diberikan

asuhan

keperawatan

selama 3 hari,

infeksi tidak terjadi

ditandai dengan:

-

insisi tanpa infeksi.

-

-

mata (-)

-

kelopak mata (-)

-

-

tubuh (-)

- Mandi

- Mengedan

selama defekasi.

Tingkatkan

penyembuhan luka:

- Berikan

dorongan untuk mengikuti diet

yang seimbang dan

asupancairan yang adekuat.

Gunakan

teknik aseptik untuk meneteskan

tetes mata:

- Cuci tangan

sebelum memulai

- Pegang alat

penetes agak jauh dari mata

- Ketika

sifat dan luasnya

pembedahan, preferensi

dokter, umur serta status

kesehatan klien secara

keseluruhan. Pemahaman

klein tentang alasan

untuk pembatasan ini

dapat mendorong

kepatuhan klien.

N

utrisi dan hidrasi yang

optimal meningkatkan

kesehatan secara

keseluruhan, yang

meningkatkan

penyembuhan

T

eknik aseptik

meminimialkan

-

-

mata (-)

-

kelopak mata (-)

-

-

tubuh (-)

Page 28: Askep gerontik-katarak

Resiko cidera b/d

Setelah diberikan

asuhan

meneteskan, hindari kontak

antara ata, tetesan dan alat

penetes.

Ajarkan teknik ini kepada klien

dan anggota keluarganya.

Kaji tanda

dan gejala infeksi:

- Kemerahan,

edema pada kelopak mata

- Infeksi

konjungtiva (pembuluh darah

menonjol)

- Drainase

pada kelopak mata dan bulu

mata

- Materi

purulen pada bilik anterior

(antara korm\nea dan iris)

- Peningkata

n suhu

- Nilai

masuknya

mikroorganisme dan

mengurangi resiko

infeksi.

D

eteksi dini infeksi

memungkinkan

penanganan yang

cepat untuk

meminimalkan

keseriusan infeksi.

Cidera tidak

terjadi. Klien tidak

mengalami cidera

atau trauma

jarigan selama

dirawat.

Page 29: Askep gerontik-katarak

3.

keterbatasan

penglihatan.

keperawatan

selama 3 hari,

cidera tidak terjadi

ditandai dengan:

-

mengalami cidera

atau trauma

jaringan selama

dirawat.

laboratorium abnormal (mis.

Peningkatan SDP, hasil kultur

dan sensitivitas positif)

Lakukan

tindakan untuk mencegah

ketegangan pada jahtan (misal

anjurkan klien menggunakan

kacamata protektif dan pelindung

mata pada siang hari dan

pelindung mata pada malam

hari).

Modifikasi

lingkungan untuk menghilangkan

kemungkinan bahaya:

- Singkirkan

penghalang dari jalur

berjalan.

- Pastikan

pintu dan laci tertutup atau

terbuka dengan sempurna.

K

etegangan pada

jahitan dapat

menimbulkan

interupsi menciptakan

jalan masuk untuk

mikroorganisme.

G

angguan penglihatan

atau menggunakan

pelindung mata dapat

Page 30: Askep gerontik-katarak

Tinggikan

tempat tidur. Letakkan benda

dimana klien dapat melihat dan

meraihnya tanpa klien

menjangkau terlalu jauh.

mempengaruhi resiko

cidera yang berasal

dari gangguan

ketajaman dan

edalaman persepsi.

T

indakan ini dapat

mengurangi resiko

terjatuh.

Page 31: Askep gerontik-katarak

3.4 Implementasi

Waktu/tgl Implementasi Evaluasi

4 – 12 – 2001

09.00

5 – 12 – 2001

09.30

5 – 12 – 2001

11.00

Memb

erikan HE pentingnya:

- Pemba

tasan aktifitas.

- Asupa

n gizi dan minum yang

memadai (makan 1 porsi

habis).

- Mengu

rangi paparan terhadap

sinar matahai atau kontak

langsung dengan benda

alergen.

Menge

valuasi lingkungan kamar

tidur klien:

- Penem

patan benda – benda di

meja.

- Kebers

ihan lantai kamar.

- Mema

sang gorden untuk

mengurangi paparan

terhadap snar matahari.

Menga

jarkan teknik perawatan

kebersihan mata:

- Cara

K

lien kooperatif.

K

lien berjanji akan selalu

mengahbiskan porsi

makanannya.Klien

banyak bertanya

tentang nyeri yang

dirasakannya.

K

lien marapikan meja

kecil di samping tempat

tidur.

K

lien menata barang –

barang (gelas, piring,

sendok) di atas tempat

tidur.

G

orden telah terpasang.

L

antai kamar disapu dan

dipel oleh petugas.

K

lien bersemangat

belajar memebrsihkan

sekret mata.Klien

dapat meneteskan obat

tetes mata sendiri

dibantu oleh teman

sekamarnya.

K

Page 32: Askep gerontik-katarak

5 – 12 – 2001

12.30

6 – 12 – 2001

09.00

membersihkan sekret.

- Cara

meneteskan obat tetes

mata.

- Mengg

unakan pelindung mata

bila keluar wisma di

siang hari.

Menga

tur posisi tidur klien berbaring

ke sisi mata yang tidak

dioperasi.

Melatih

relaksasi untuk mengurangi

rasa sakit pada mata kiri.

lien sudah punya

kacamata pelindung

sinar matahari.

K

lien berbaring ke posisi

sebelah kanan, kadang

berganti posisi dengan

semi fowler.

K

lien tampak kesulitan

mengikuti instruksi,

tetapi mau mencoba

unutk berlatih.

3.5 Evaluasi

No Diagnosa Keperawatan Evaluasi

1.

2.

Nyeri b/d interupsi

pembedahan katarak pada

mata kiri.

Resiko infeksi b/d

peningkatan kerentanan

S: Klien mengatakan nyeri pada mata kiri

sudah agak berkurang, klien sudah

dapat istirahat dengan baik.

O: Mata berair (-), kemerahan (-)

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan perencanaan dengan

mengadakan koordinasi dengan

pendamping wisma.

S: Klien mengatakan matanya sudah

Page 33: Askep gerontik-katarak

3.

skunder terhadap interupsi

pembedahan katarak.

Resiko cidera b/d

keterbatasan penglihatan.

tidak panas lagi,berair (-)

O: mata berair (-), kemerahan (-), sekret

(-)

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan perencanaan dengan

mengadakan koordinasi dengan

pendamping wisma.

S: Klien mengatakan penglihatannya

sudah lebih terang.

O: Klien berjalan ke luar wisma tanpa

dibimbing dan tanpa memakai

tongkat.

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan perencanaan dengan

mengadakan koordinasi dengan

pendamping wisma.

Page 34: Askep gerontik-katarak

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Asuhan keperawatan gerontik merupakan salah satu bagian dari

asuhan keperawatan yang diberikan kepada indivdu atau sekleompok

lansia dalam konteks peran perawat sebagai penerima asuhan

keperawatan yang diberikan secara profesional.

Dalam konteks keperawatan gerontik yang dilaksanakan di Panti

Sosial Tresna Werdha “Bahagia” Magetan dari tanggal 03 – 07 Deseber

2001, mahasiswa diberikan tanggung jawab untuk membina satu orang

klien lansia yang memiliki masalah kesehatan dengan menggunakan

pendekatan proses keperawatan dimulai dari tahap pengkajian sampai

pada tahap evaluasi guna mengetahui perkembangan kesehatan klien

lansia secara komprehensif.

4.2 Saran

1) Bagi institusi pengelola Panti Sosial Tresna Werdha “Bahagia”

Magetan.

Agar seoptimal mungkin menerapkan konsep pemikiran yang telah

disepakati guna meningkatkan fungsi dan peran panti secara

optimal.

2) Bagi pembimbing PSIK FK Unair Surabaya

Agar seoptimal mungkin mengupayakan kehadiran serta

bimbingannya guna membantu mahasiswa menjalani proses

praktek keperawatan gerontik dengan lebih baik sesuai target

pencapaian yang ingin diraih.

3) Bagi mahasiswa sendiri

Untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengetahuan guna

mnegembangkan konsep asuhan keperawatan gerontik secara

optimal.

Page 35: Askep gerontik-katarak

DAFTAR PUSTAKA

Afdol. Et all. (1995). Latar Belakang Sosial Ekonomi dan Tingkat Kepuasan Hidup Lanjut Usia Penghuni Panti Werdha. PPKP lemlit Unair. Surabaya

Agus Purwadianto (2000), Kedaruratan Medik: Pedoman Penatalaksanaan Praktis, Binarupa Aksara, Jakarta.

Callahan, Barton, Schumaker (1997), Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan gawat Darurat Medis, Binarupa Aksara, Jakarta.

Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Decker DL. (1990). Social Gerontology an Introduction to Dinamyc of Aging.

Little Brown and Company. Boston

Depkes RI Badan Litbangkes. (1986). Survei Kesehatan Rumah Tangga.

Jakarta

Depsos RI. (----). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pelayanan Kesejahteraan

Sosial Lanjut Usia Dalam Panti. Depsos RI. Jakarta

...........(1993). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas

Kesehatan I. Depkes Ri. Jakarta

...........(1994). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas

Kesehatan II. Depkes Ri. Jakarta

Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Evelyn C.pearce (1999), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

Gallo, J.J (1998). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James

Veldman. EGC. Jakarta

Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Page 36: Askep gerontik-katarak

Hudak and Gallo (1996), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Lueckenotte.A.G. (1996). Gerontologic Nursing. Mosby Year Book. Missouri

Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta

Page 37: Askep gerontik-katarak

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Materi : Perawatan Mata Post Operasi Katarak

Sasaran : Ibu Jaikem

Waktu : 30 menit

Tempat : Wisma Pandu, PSTW “Bahagia” Magetan

1. Analisis Situasi

Klien Ibu Jaikem riwayat operasi katarak pada mata kiri 16 hari

yang lalu. Pada saat pengkajian Ibu jaikem mengeluh mata kiri terasa

nyeri menyebar sampai ke kepala dan terasa panas. Mahasiswa juga

melihat adanya penumpukan sekret pada mata kiri post op, mata

kemerahan (+), keterbatasan penglihatan (+) lk. 50 meter.

2. Latar Belakang

Katarak merupakan suatu penyakit akibat kekeruhan pada lensa

yang mengakibatkan terjadinya penurunna fungsi penglihatan secara

progresif. Pada lanjut usia masalah penyakit katarak merupakan salah

satu penyakit yang umum terjadi pada klien. Untuk mengoptimalkan

fungsi penglihatan klien sehingga klien dapat seaksimal mungkin

memenuhi kebutuhan aktivitas dan pemenuhan kebutuhan sehari –

hariinya secara mandiri, maka perlu kiranya dilakukan suatu pendidikan

kesehatan agar klien dapat memahami pentingnya melakukan perawatan

mata post operasi serta mampu melakukan perawatan mata post operasi

secara mandiri.

3. Tujuan

3.1 Tujuan umum

Agar klien mampu melakukan perawatan mata post operasi secara

mandiri.

3.2 Tujuan khusus

a) Klien mampu memahami pentingnya melakukan perawatan mata

post operasi secara teratur.

b) Klien mampu mengenal pembatasan aktifitas yang

Page 38: Askep gerontik-katarak

sementara harus diperhatikan.

c) Klien mampu melakukan perawatan mata secara mandiri.

4. Materi

4.1 Tujuan perawatan mata post operasi

4.2 Pembatasan aktifitas sementara

4.3 Teknik perawatan mata post operasi

5. Metode

Diskusi dan tanya jawab.

6. Kegiatan

No Tahap kegiatan Kegiatan

1.

2.

3.

Pembukaan (5’)

Isi dan

pengembangan (15’)

Penutup (10’)

Menyampaikan

salam.

Mengingatkan

kontrak kemarin untuk mengadakan

kegiatan diskusi.

Menyampaikan

tujuan kegiatan.

Menjelaskan

tujuan perawatan mata post operasi

Menjelaskan

pembatasan aktifitas sementara yang

harus dilakukan klien.

Memberi

kesempatan untuk bertanya.

Mengajarkan

teknik perawatan mata post operasi

secara sederhana.

Memberi

kesempatan redemonstrasi

Memberi

Page 39: Askep gerontik-katarak

kesempatan bertanya.

Menyimpulkan

kegiatan bersama klien.

Menutup kegiatan

denagn ucapan salam.

7. Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan secara lisan dan redemonstrasi.

8. Daftar Pustaka

Agus Purwadianto (2000), Kedaruratan Medik: Pedoman Penatalaksanaan Praktis, Binarupa Aksara, Jakarta.

Callahan, Barton, Schumaker (1997), Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan gawat Darurat Medis, Binarupa Aksara, Jakarta.

Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Decker DL. (1990). Social Gerontology an Introduction to Dinamyc of

Aging. Little Brown and Company. Boston

Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Evelyn C.pearce (1999), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

Gallo, J.J (1998). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James

Veldman. EGC. Jakarta

Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Hudak and Gallo (1996), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Lueckenotte.A.G. (1996). Gerontologic Nursing. Mosby Year Book.

Missouri

Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta

Penyusun,

Mahasiswa PSIK II, Gerbong I,

Page 40: Askep gerontik-katarak

Ni Wayan Dewi Tarini

NIM. 019930093 B

Page 41: Askep gerontik-katarak

Lampiran Materi

PERAWATAN MATA POST OPERASI KATARAK

BAGI KLIEN LANSIA DENGAN KATARAK

1. Tujuan perawatan mata post operasi

katarak

a) Mencegah terjadinya resiko infeksi akibat interupsi

pembedahan pada mata yang katarak.

b) Meningkatkan kemampuan penglihatan secara optimal.

c) Menunjang pemenuhan kebutuhan aktifitas sehari –

hari secara mandiri.

2. Pembatasan aktifitas sementara bagi klien

post operasi katarak

a) Berbaring atau tidur pada sisi yang dioperasi

b) Mengangkat beban berat > 10 kilogram

c) Membungkuk melewati pinggang.

d) Mandi keramas

e) Mengedan

f) Melakukan pijatan atau memijat.

g) Mengucek – ucek atau menggosok – gosok mata.

h) Terpapar sinar matahari secara langsung.

3. Teknik perawatan mata post operasi

katarak secara sederhana

a) Alat dan bahan yang diperlukan:

- Air hangat kuku dalam tempat yang bersih.

- Boorwater kalau ada.

- Kapas bersih

- Handuk bersih

- Obat salp mata

b) Persiapan sebelum melakukan perawatan mata

Page 42: Askep gerontik-katarak

- Cuci tangan sebelum melakukan perawatan mata.

- Rapikan rambut agar tidak mengenai mata

c) Cara perawatan mata secara sederhana

- Basahi kapas dengan air hangat atau boorwater,

peras sedikit supaya kapas tidak terlalu basah.

- Usapkan kapas secara perlahan – lahan kepada

mata yang akan dibersihkan dengan cara mengusap dari bagian

dalam mata ke arah luar dengan sekali usapan. Bila kapas dirasa

telah kotor, ganti dengan yang baru,

- Setelah bersih, keringkan mata dengan cara

mengusap perlahan – lahan dengan handuk bersih atau dengan

cara menekan – nekan secara perlahan – lahan serta kelopak mata

menutup.

- Beri obat salp mata, tunggu sampai meresap.

- Hindari dari paparan sinar matahari langsung atau

dari zat alergen lain.