of 21 /21
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN LANSIA I. PENGKAJIAN A. Data Biografi Nama : Jenis kelamin : Umur : Status perkawinan : Agama : Pendidikan terakhir : Suku : Sumber Pendapatan : ada/tidak ada dijelaskan Keluarga yang dapat dihubungi : ada/tidak dijelaskan Riwayat Pekerjaan : Alamat : B. Riwayat Kesehatan 1. Keluhan yang dirasakan saat ini : 2. Penyebab : 3. Waktu Timbul : 4. Faktor yang memperberat : 5. Apa keluhan yang anda rasakan 3 bulan terakhir : 6. Penyakit saat ini :

Askep Gerontik Sex

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep Gerontik Sex

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN LANSIA

 I.  PENGKAJIAN

A. Data Biografi

Nama :

Jenis kelamin     :

Umur                      :

Status perkawinan :

Agama  :

Pendidikan terakhir :

Suku :

Sumber Pendapatan : ada/tidak ada dijelaskan

Keluarga yang dapat dihubungi : ada/tidak dijelaskan

Riwayat Pekerjaan :

Alamat  :

B. Riwayat Kesehatan

1. Keluhan yang dirasakan saat ini :

2. Penyebab :

3. Waktu Timbul                    :

4. Faktor yang memperberat :

5. Apa keluhan yang anda rasakan 3 bulan terakhir :

6. Penyakit saat ini :

7.Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya:

8. Kejadian penyakit 3 bulan terakhir :

C. Status Fisiologis

1. Keadaan Umum

2. Bagaimana postur tulang belakang lansia

3. Tanda-tanda vital dan status gizi

a) Suhu    :  ············································

Page 2: Askep Gerontik Sex

b) TD       : ··············································

c) Nadi     :  ············································

d) Respirasi : ··········································            

e) BB       : ··············································

f) TB        : ··············································

4. Pemeriksaan Penunjang

5. Riwayat terapi dan Obat-obatan

D. Pengkajian Head to toe (sistem genetalia)

1. Genetalia Wanita

Langkah Normal/variasi

individu/penyimpangan

Inspeksi distribusi rambut Tipis, jarang

Penyimpangan:

Kerontokan rambut local atau tidaka

ada rambut

Inspeksi karakteristik mons

pubis dan labia mayor

Mons pubis dalam lipatan labia mayor

mendatar

Simetris

Penyimpangan:

Lesi, nodulus, inflamasi, asimetris

Inspeksi klitoris Ukuran bervarias, tetapi biasanya

lebih kecil dari orang dewasa

Penyimpangan:

Besar, atrofi, inflamasi

Inspeksi serviks berupa

warna, posisi, ukuran,

rabas dan karakteristik

pembukaaan

Warna merah muda pucat,

didistribusikan secara merta, posisi

pada garis tengah, projeksi 1-3 cm

dalam kubah vagina, lebih kecil 2-3

cm ukuran daripada orang dewasa

Page 3: Askep Gerontik Sex

muda

Rabas minimal: jika ada, harus tidak

berbau, jernih hingga putih dan tipis

Permukaan halus

Kista-kista Nabothian

Penyimpangan:

Hipermik, sangat pucat, sianotik,

penyimpangan ke kanan atau ke kiri,

projeksi >3cm ke dalam kubah vagina,

diameter > 4cm, bau rabas tak sedap,

warna bervariasi dari putih hingga

kuning, hijau, abu-abu, rabas

berdarah: erosi-erosi tidak teratur,

kasar, mudah rapuh, hemoragi

punctile atau “titik stroberi”(adanya

ketidakteraturan atau nodularitas)

Inspeksi vagina mengenai

warna, karakteristik

permukaan dan sekresi

Warna konsisten engan serviks (merah

uda pucat)

Agak lembab agak kering tanpa rugae

Penyimpangan:

Bercak kemerahan, pucat, leukoplakia,

tanda-tanda kering, pecah-pecah, lesi,

perdarahan, nodulus, pembengkakan,

bau tak sedap, warna kuning: hijau,

hijau, abu-abu, atau sekresi yang

berlebihan.

2. Genetalia laki-laki

Perubahan anatomik –fisiologik sistem seksual

Page 4: Askep Gerontik Sex

Pada usia lanjut terjadi perubahan-perubahan anatomik yang mengenai

hampir seluruh sususnan anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau

organ yang bersangkutan (Yudha, 2012)

1. Perubahan anatomik

a. Wanita

Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, genitalia interna

dan eksterna berangsur-angsur mengalami atrofi.

1) Vagina

‐ Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina

mengalami pengecilan.

‐ Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi menonjol

ke dalam vagina. Sejak klimakterium, vagina berangsur-angsur

mengalami atropi, meskipun pada wanita belum pernah

melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan ber¬henti berfungsi.

Mukosa genitalia menipis begitu pula jaringan sub-mukosa tidak

lagi mempertahankan elastisitas¬nya akibat fibrosis.

‐ Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh

keber¬langsungan koitus, artinya makin lama kegiatan tersebut

dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan genitalia

eksterna.

2) Uterus

Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya

menyusut dan dindingnya menipis, miometrium menjadi sedikit dan

lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks menyusut tidak menonjol,

bahkan lama-lama akan merata dengan dinding jaringan.

3) Ovarium

Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan permukaannya

menjadi “keriput” sebagai akibat atrofi dari medula, bukan  akibat dari

ovulasi yang berulang sebelumnya, permukaan ovarium menjadi  rata

lagi seperti anak oleh karena tidak terdapat  folikel. Secara umum,

perubahan fisik genetalia interna dan eksterna dipengaruhi oleh fungsi

Page 5: Askep Gerontik Sex

ovarium. Bila ovarium berhenti berfungsi, pada umumnya terjadi atrofi

dan terjadi inaktivitas organ yang pertumbuhannya oleh hormon

estrogen dan progesteron.

4) Payudara (Glandula Mamae)

Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita

yang gemuk, dimana payudara tetap besar dan menggantung. Keadaan

ini disebabkan oleh karena atrofi hanya mempengaruhi kelenjar

payudara saja. Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara

histologik maupun fungsional, begitu pula kelenjar tiroid dan adrenal

menjadi “keras” dan mengkibatkan bentuk tubuh serupa akromegali

ringan. Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang

timbul pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis

mengurang, oleh karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelenjar

adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut kepala menjadi jarang.

Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa klimakterik.

b. Laki-laki

1) Prostat

Pembesaran prostat merupakan kejadian yang sering pada pria

lansia, gejala yang timbul merupakan efek mekanik akibat pembesaran

lobus medius yang kemudian seolah-olah bertindak sebagai katup yang

berbentuk bola (Ball Valve Effect). Disamping itu terdapat efek

dinamik dari otot polos yang merupakan 40% dari komponen kelenjar,

kapsul dan leher kantong kemih, otot polos ini dibawah pengaruh

sistem alfa adrenergik. Timbulnya nodul mikros¬kopik sudah terlihat

pada usia 25-30 tahun dan terdapat pada  60% pria berusia 60 tahun,

90% pada pria berusia 85 tahun, tetapi hanya 50% yang menjadi BPH

Makroskopik dan dari itu hanya 50% berkembang menjadi BPH klinik

yang menimbulkan problem medik.

Kadar dehidrosteron pada orang tua meningkat karena

meningkatnya enzim 5 alfa reduktase yang mengkonfersi tetosteron

menjadi dehidro steron. Ini yang dianggap menjadi pendorong

Page 6: Askep Gerontik Sex

hiperplasi kelenjar, otot dan stroma prostat. Sebenarnya selain  proses

menua rangsangan androgen ikut berperan timbulnya BPH ini dapat

dibuktikan pada pria yang di kastrasi menjelang pubertas tidak akan

menderita BPH pada usia lanjut.

2) Testis

Penuaan pada pria tidak menyebabkan berkurangnya ukuran dan

berat testis tetapi sel yang memproduksi dan memberi nutrisi (sel

Leydic) pada sperma berkurang jumlah dan aktifitasnya sehingga

sperma berkurang sampai 50% dan testoteron juga menurun. Hal ini

menyebabkan penuruna libido dan kegiatan sex yang jelas menurun

adalah multipel ejakulasi dan perpanjangan periode refrakter. Tetapi

banyak golongan lansia tetap menjalankan aktifitas sexsual sampai

umur lanjut.

2. Perubahan fisiologis

Alexander dan Allison dalam Martono (2004), mengatakn bahwa pada

dasarnya perubahan fisiologik yang terjadi pada aktivitas seksual pada usia

lanjut biasanya berlangsung secara berahap dan menunjukan status dasar dari

aspek vascular, hormonal dan neurologiknya sesuai dengan tahapan seksual

menurut Kaplan, yaitu:

Fase tanggapan

seksualwanita lansia pria lansia

Fase desire Terutama dipengaruhi oleh

penyakit baik dirinya atau

pasangan masalah

hubungan antar

keduanya ,harapan cultural

dan hal-hal tentang harga

diri .desire/hasrat padfa

lansia wanita mungkin

munurun dengan makin

Interval untuk

meningkatkan hasrat

melakukan kontak seksual

meningkat .hasrat

dipengaruhi oleh

penyakit,kecemasan akan

melakukan seks dan

masalah hubungan antara

pasangan .mulai usia 55

Page 7: Askep Gerontik Sex

lanjutnya usia ,teta[I hal ini

bisa bervariasi.

tahun testosterone menurun

bertahap yang akan

mempengarihi libido.

Fase orousal

(penggairahan)

=fase vaskuler

Pembesaran payudara

berkurang ,semburat panas

dikulit menurun ;elastisitas

dinding vagina

menurun ,lubrikasi vagina

menurun .iritasi uretra dan

kandung kemih

miningkat ,otot-otot yang

menegang pada fase ini

menurun

Membutuhkan waktu lebih

lama untuk ereksi ,ereksi

kurang begitu

kuat .testosteron

menurun ,produksi sperma

menurun bertahap mulai

dari usia 40 tahun ‘elevasi

testis ke perineum lebih

lambat dan lebih

sedikit ,penguasaan atas

ejakulasi biasanya mulai

sedikit

Fase argasmik

(fase

muskular)

Tanggapan orgasmic

mungkin kurang intens

disertai lebih sedikit

kontraksi ;kemampuan

untuk mendapatkan

orgasme multiple

berkurang dengan makin

lanjut usia

Kemampuan mengontrol

ejakulasi

membaik,kekuatan

kontraksi otot dirasakan

berkurang jumlah kontraksi

/orgasme menurun ,volume

ejakulat menirun

Fase pasca

orgasmik

Mungkin terdapat periode

refrakter dimana

pembangkitan gairah

secara segera lebih sukar

Periode refrakter

memanjang secara

fisiologik ,dimana ereksi

dan orgasme berukutnya

lebih sukar terjadi .

Page 8: Askep Gerontik Sex

Hambatan aktivitas seksual

Menurut Martono (2004), pada usia lanjut terdapat berbagai hambatan

untik melakukan aktivitas seksual yang dapat dibagi menjadi hambatan

eksternal yang datang dari lingkungan dan hambatan internal yang terutama

berasal dari subyek lansianya sendiri .Hambatan eksternal biasanya berupa

pandangan social ,yang mengaggap bahwa aktivitas sosial tidak layak .

Pada lansia yang yang berada diinstitusi ,misalnya di panti wreda

hambatan terutama adalah karena peraturan dan ketiadaan privasi di institusi

tersebut . Hambatan internal psikologik seringkali sulit dipisahkan secara

jelas degan hambatan eksternal .seringkali seorang lansia sudah merasa tidak

bias dan tidak pantas berpenampilan untuk bisa menarik lawan jenisnya.

Obat-obatan yang sering diberikan pada penderita usia lanjut dengan

patologi multipel juga sering menyebabkan berbagai gangguan fungsi seksual

pada usia lanjut.

Penyebab masalah seksual

Menurut Yudha (2012), beberapa hal yag dapat menyebabkan masalah

seksual, antara lain:

1. Infark miokard

Mungkin mempunyai efek yang kecil pada fungsi seksual. Banyak pasien

segan untuk terlibat dalam hubungan seksual karena takut menyebabkan

infark.

2. Pasca stroke

Masalah seksual mungkin timbul setelah perawatan di rumah sakit karena

pasien mengalami anxietas akibat perubahan gambaran diri, hilangnya

kapasitas, takut akan kehilangan cinta atau dukungan relasi serta pekerjaan

atau rasa bersalah dan malu atas situasi. Pola seksual termasuk kuantitas

dan kualitas aktivitas seksual sebelum stroke sangat penting untuk

diketahui sebelum nasehat spesifik tentang aktivitas seksual ditawarkan.

Karena sistem saraf otonomik jarang mengalami kerusakan pada stroke,

maka respon seksual mungkin tidak terpengaruh.

Page 9: Askep Gerontik Sex

Libido biasanya tidak terpengaruh secara langsung. Jika terjadi hemiplegi

permanent maka diperlukan penyesuaian pada aktivitas seksual. Perubahan

penglihatan mungkin membatasi pengenalan orang atau benda-benda,

dalam beberapa kasus, pasien dan pasangannya mungkin perlu belajar

untuk menggunakan area yang tidak mengalami kerusakan. Kelemahan

motorik dapat menimbulkan kesulitan mekanik, namun dapat diatasi

dengan bantuan fisik atau tehnik “bercinta” alternatif. Kehilangan

kemampuan berbicara mungkin memerlukan sistem non-verbal untuk

berkomunikasi.

3. Kanker

Masalah seksual tidak terbatas pada kanker yang mengenai organ-organ

seksual. Baik operasi maupun pengobatan mengubah citra diri dan dapat

menyebabkan disfungsi seksual (kekuatan dan libido) untuk sementara

waktu saja, walaupun tidak ada kerusakan saraf.

4. Diabetes mellitus

Diabetes menyebabkan arteriosklerosis dan pada banyak kasus

menyebabkan neuropati autonomik. Hal ini mungkin menyebabkan

disfungsi ereksi dan disfungsi vasokonstriksi yang memberikan kontribusi

untuk terjadinya disfungsi seksual.

5. Arthritis

Beberapa posisi bersenggama adalah menyakitkan dan kelemahan atau

kontraktur fleksi mungkin mengganggu apabila distimulasi secara

memadai. Nyeri dan kaku mungkin berkurang dengan pemanasan, latihan,

analgetik sebelum aktivitas seksual.

6. Rokok dan alcohol

Pengkonsumsian alkohol dan rokok tembakau mengurangi fungsi seksual,

khususnya bila terjadi kerusakan hepar yang akan mempengaruhi

metabolisme testoteron. Merokok juga mungkin mengurangi vasokongesti

respon seksual dan mempengaruhi kemampuan untuk mengalami

kenikmatan.

7. Penyakit paru obstruktif kronik

Page 10: Askep Gerontik Sex

Ada penyakit paru obstruktif kronik, libido mungkin terpengaruh karena

adanya kelelahan umum, kebutuhan pernafasan selama aktivitas seksual

mungkin dapat menyebabkan dispnoe, yang mungkin dapat

membahayakan jiwa.

8. Obat-obatan

Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual,

antara lain beberapa obat anti hipertensi, estrogen, anti psikotik, sedatif,

dan lain-lain.

Diagnosa keperawatan

1. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi

yang ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual

Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan struktur tubuh terutama pada

fungsi seksual yang dialaminya

Kriteria hasil :

- Mengekspresikan kenyamanan

- Mengekspresikan kepercayaan diri

Intervensi:

a. Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh termasuk

organ seksual seiring dengan bertambahnya usia.

b. Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan.

c. Berikan pendidikan kesehatan tentang penurunan fungsi seksual.

d. Motivasi klien untuk mengkonsumsi makanan yang rendah lemak,

rendah kolestrol, dan berupa diet vegetarian

e. Anjurkan klien untuk menggunakan krim vagina dan gel untuk

mengurangi kekeringan dan rasa gatal pada vagina, serta untuk

megurangi rasa sakit pada saat berhubungan seksual

Page 11: Askep Gerontik Sex

2. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu

anggota tubuh.

Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu angota

tubuhnya secara positif

Kriteria hasil:

- Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan tanpa rasa

malu dan rendah diri

- Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki

Intervensi:

a. Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri

berhubungan dengan keadaan angota tubuhnya yang kurang berfungsi

secara normal

b. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien

c. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien

d. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain

e. Beri kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan

kehilangan

f. Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan

hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien.

3. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan efek penyakit akut dan

kronis

Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan pola seksualitas yang

disebabkan masalah kesehatannya.

Kriteria Hasil :

- Mengidentifikasi keterbatasannya pada aktivitas seksual yang

disebabkan masalah kesehatan

- Mengidentifikasi modifikasi kegiatan seksual yang pantas dalam

respon terhadap keterbatasannya

Page 12: Askep Gerontik Sex

Interversi :

a. Kaji factor-faktor penyebab dan penunjang, yang meliputi

- Kelelahan

- Nyeri

- Nafas pendek

- Keterbatasan suplai oksigen

- Imobilisasi

- Kerusakan inervasi saraf

- Perubahan hormone

- Depresi

- Kurangnya informasi yang tepat

b. Hilangkan atau kurangi factor-faktor penyebab bila mungkin. Ajarkan

pentingnya mentaati aturan medis yang dibuat untuk mengontrol gejala

penyakit

c. Berikan informasi terbatas dan saran khusus

- Berikan informasi yang tepat pada pasien dan pasangannya tentang

keterbatasan fungsi seksual yang disebabkan oleh keadaan sakit

- Ajarkan modifikasi yang mungkin dalam kegiatan seksual untuk

membantu penyesuaian dengan keterbatasan akibat sakit (saran

khusus)

Page 13: Askep Gerontik Sex

DAFTAR PUSTAKA

Martono, Hadi. 2004. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FKUI

NANDA, diagnosis keperawatan:definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC, 2010

Yudha Iriansyah, E. 2012. Makalah: Asuhan Keperawatan Klien dengan Disfungsi Seksual. (Online http://yudhasooematera.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2013)

Page 14: Askep Gerontik Sex

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

BERKAITAN DENGAN SEKSUALITAS

Di Susun Oleh:

Sartika Alvianita I P27220010 114

Venty Meitasari P27220010 116

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

DIII BERLANJUT DIV KEPERAWATAN KRITIS

2013