TumorJinak Parotis

  • View
    24

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Parotis

Transcript

TUMOR KELENJAR LUDAH

PAGE

BAB I

PENDAHULUAN

Menurut kamus kedokteran Merriam Webster (1994), tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru suatu jaringan atau massa yang bersifat jinak atau ganas yang bukan merupakan suatu jaringan inflamasi dan tidak mempunyai fungsi fisiologis. Tumor disebut juga dengan neoplasma. Neoplasma kelenjar ludah adalah neoplasma jinak atau ganas yang berasal dari sel epitel kelenjar ludah. (Albar, ZA., et al, 2003)

Tumor jinak kelenjar ludah dapat terjadi pada kelenjar ludah mayor dan kelenjar ludah minor. Kelenjar ludah mayor yang paling sering mengalami tumor jinak adalah kelenjar parotis yaitu sekitar 67,7 %, kemudian kelenjar submandibula, dan kelenjar sublingual. Jenis tumor jinak yang paling sering ditemukan adalah pleomorfik adenoma, sekitar 53 % dari semua kasus. (Neville, 2002).Tumor jinak parotis jarang terjadi pada anak-anak. Massa pada kelenjar parotis pada anak-anak pada umumnya disebabkan oleh abnormal vasoformatif, kista, proses inflamasi, atau bahkan neoplasma walaupun jarang terjadi. Massa intraparotis yang sering terjadi adalah massa jinak dari modus limfatikus dikarenakan banyaknya nodus limfatikus yang terdapat di dalam parotis. (Dubner, 2008).Penyebab dari tumor jinak kelenjar ludah pada umumnya belum diketahui dengan pasti, ada beberapa faktor yang dikaitkan dengan terjadinya suatu tumor kelenjar ludah seperti iritasi kronis, diet, komsumsi alkohol dan tembakau, virus, bakteri dan faktor genetik. Perawatan dari tumor jinak kelenjar ludah pada umumnya dengan eksisi bedah, kadang-kadang dilakukan parotidektomi superfisial dengan tetap mempertahankan nervus yang terlibat. Prognosisnya baik karena tingkat rekurensi rendah hanya ada beberapa yang memiliki kecenderungan rekurensi seperti pleomorfik adenoma. (Neville, 2002; Regezi, et al, 2000).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Anatomi

Kelenjar ludah terbagi atas dua yaitu kelenjar ludah mayor dan kelenjar ludah minor. Kelenjar ludah mayor antara lain kelenjar parotis sebagai kelenjar ludah terbesar, kelenjar submandibula, dan kelenjar sub lingual. Kelenjar ludah minor terletak dalam membran mukosa mulut yang meliputi kelenjar labialis, bukalis, palatinalis, lingualis dan insisif.Duktus utama dari kelenjar parotis (Stensens Duct) bermuara di rongga mulut yaitu di sekitar molar kedua rahang atas. Duktus kelenjar submandibularis (Warthins duct) dan kelenjar sublingual (Bartholins duct) bermuara di dasar mulut.

Kelenjar parotis terletak di depan telinga dan meluas dari zigoma dan ke bawah menuju tengah-tengah sudut mandibula dan prosesus mastoideus. Bagian bawah ini disebut juga dengan ujung atau ekor dari kelenjar parotis. Batas anterior berhubungan dengan ramus mandibula (Gambar 1A).

Gambar 1. Anatomis kelenjar parotis (Wray D, et al, 2003)

Nervus fasialis terletak dekat dan melewati kelenjar parotis, membagi kelenjar parotis menjadi lobus superfisial yang keluar lateral nervus fasialis, serta lobus terdalam, yang terletak lebih dalam dari nervus ketujuh. Kelenjar parotis normal terdiri dari 80% lobus superfisial dan 20% lobus dalam. Nervus fasialis memasuki kelenjar parotis dari foramen stilomastoideus dan kemudian terbagi menjadi divisi atas dan bawah. Divisi atas menjadi cabang temporal menyuplai otot-otot di daerah dahi dan mata, dan cabang bukal menyuplai otot nostril dan bibir atas. Sedangkan divisi bawah menjadi cabang mandibular menyuplai otot-otot bibir bawah dan cabang servikal yang menyuplai platisma leher. Nervus fasialis mengontrol otot-otot ekspresi wajah (Gambar 1B). (Wray D, et al, 2003)

II.2 Etiologi

Pada hampir keseluruhan kasus tumor jinak kelenjar ludah, etiologi tumor jinak ini masih dipertanyakan. Terdapat dua teori yang terkenal yaitu :

a. Biseluler stem theory yaitu tumor berasal dari satu atau dua stem sel yang berdiferensiasi. Sebagai contoh duktus ekskretori reserve cell menyebabkan karsinoma mukoepidermoid.

b. Multiseluler stem theory bahwa tumor berasal dari diferensiasi sel-sel origin oleh kelenjar ludah.

Terdapat juga beberapa faktor predisposing yang bisa diidentifikasikan. Individu yang pernah mengalami paparan terhadap radiasi ionisasi didapati mempunyai tumor jinak kelenjar ludah, diantaranya adalah korban yang selamat dari ledakan bom atom di Hiroshima dan individual yang menjalani iridiasi dosis rendah pada daerah leher dan kepala di usia anak-anak. Bukti terbaru menemukan adanya hubungan antara Whartins tumour dengan kebiasaan merokok.(Montgomery, 2009)

II.3 Klasifikasi

Klasifikasi tumor jinak menurut WHO / AJCC berdasarkan histopatologisnya adalah sebagai berikut (Albar, ZA, et al, 2003; Montgomery, 2009):

1. Adenoma pleomorfik (mixed benign tumor)

2. Adenoma monomorfik

a. Adenoma sel basal

b. Onkositoma

c. Papillary cystadenoma lymphomatosum (Whartins tumor)

II.3.1. Adenoma pleomorfik (mixed benign tumor)

Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak yang sering mengenai kelenjar parotis sekitar (3% -77%) dari keseluruhan tumor parotis. (Michael 2003, Neville, 2002; Regezi, et al, 2000). Tumor ini disebut juga dengan mixed benign tumor karena pemeriksaan histopatologis menunjukkan adanya dua elemen yaitu elemen epitelial dan elemen mesenkim.

Gambaran Klinis

Adenoma pleomorfik secara khas muncul sebagai masa yang tidak menimbulkan rasa sakit dan tumbuh secara pelahan-lahan. Mungkin saja pasien sadar akan adanya benjolan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelum dia memutuskan untuk diperiksa. Tumor ini dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi paling sering terjadi pada usia dewasa muda antara umur (30 50) tahun. Dimana ada sedikit kecenderungan bahwa kaum wanita lebih banyak menderita tumor ini dibanding kaum pria. (Regezi, et al, 2000)

Hampir semua adenoma pleomorfik kelenjar ludah terjadi pada lobus atas dan dengan gambaran klinik pembengkakan pada ramus mandibular di depan telinga (Gambar 2). Jika inferior kelenjar parotis yang terkena, tumor terlihat di bawah angulus mandibula dan anterior muskulus sternokleidomastoideus. Ukurannya berkisar dari beberapa milimeter hingga sentimeter dalam diameter dan jika dibiarkan, benjolan ini dapat tumbuh mencapai ukuran besar. Keriput dan rasa sakit di wajah jarang sekali terjadi. Awalnya, tumor ini dapat digerakkan, tetapi begitu pertumbuhannya semakin membesar, mobilitasnya menjadi melemah. (Regezi, et al, 2000)

Gambar 2. Adenoma pleomorfik kelenjar parotis

(Wray D, et al, 2003)

Gambaran Histopatologis dan Radiologis

Adenoma pleomorfik dibungkus leh psudokapsul (Gambar 3). (Elizabeth, 2002). Pada area yang tidak tertutup kapsul maka jaringan tumor melekat langsung dengan kelenjar ludah yang berdekatan sehingga rekurensi dapat terjadi.(Montgomery, 2009; Regezi et al, 2000)

Gambar 3. Adenoma pleomorfik. (Neville, 2002; Regezi, et al, 2000)

Gambaran histopatologis secara mikroskopis (Gambar 4) memperlihatkan adanya elemen epitel dan mesenkim dalam rasio yang hampir sama banyaknya. Komponen epitel terlihat seperti duktus, pita, dan lembaran solid, sedangkan komponen mesenkim terlihat sebagai miksoid, jaringan ikat hialin (Gambar 5) Secara imunohistokimia sel-sel tumor ini menunjukan tanda-tanda diferensiasi sel epitelial atau myoepitelial, atau berupa campuran keduanya. (Regezi, et al, 2000; Neville, 2002).

Gambar 4. Adenoma pleomorfik dengan komponen miksoid (kanan)

dan komponen fibrous/ epitel (Regezi, et al, 2000)

Gambar 5. Adenoma pleomorfik. Banyak saluran dan sel myoepitelial

dikelilingi oleh hialin (Neville, 2002)

Gambar 6. MRI pada lobus dalam terlihat datar

(Neville, 2002)

Terapi dan prognosis

Terapi pilihan untuk adenoma pleomorfik adalah eksisi. Enukleasi tidak dianjurkan karena risiko rekurensi karena penyebaran tumor disebabkan oleh rusaknya kapsul tumor. Pengangkatan tumor pada kelenjar parotis dapat menjadi komplikasi dikarenakan adanya nervus fasialis. Setiap tindakan pembedahan harus mempertimbangkan nervus fasialis. Parotidektomi superfisial (lobektomi lateral) dengan tetap mempertahankan nervus fasialis adalah terapi yang lebih dipilih. (Regezi, et al, 2000)

Prognosis adenoma pleomorfik adalah ad bonam jika dilakukan pengangkatan tumor secara adekuat, dan buruk jika tidak adekuat.

Komplikasi (Regezi, et al, 2000., Montgomery, 2009)

Jika tidak dilakukan pengangkatan tumor, tumor akan bertransformasi ke arah malignan (lebih kurang 25%) dalam tahunan atau dekade

Jika pengangkatan tumor tidak dilakukan dengan adekuat, maka rekurensi tumor ini akan terjadi, sering menjadi multipel dan multifokal. Lesi rekuren bisa pada daerah yang telah dioperasi sebelumnya dan dapat pula pada daerah skar akibat operasi. Kemudian ada juga kemungkinan transformasi lesi rekuren ke arah malignan.

Tindakan operasi selalu mengusahakan menjaga nervus fasialis yang tidak terkena. Jika nervus fasialis terkena maka harus dikorbankan sehingga dapat terjadi paralisis otot wajah setelah operasi.

II.3.2 Adenoma monomorfik

Tumor ini sering terjadi pada ujung / ekor kelenjar parotis, secara histologis berasal dari epitel duktus.(Wray D, et al, 2003). Adenoma monomorfik tersusun dari sel epitel isomorfik dan sangat sedikit element jaringan ikat, dimana jaringan ikat ini merupakan karakteristik dari tumor campuran. (Regezi et al, 2000). Awalnya dipergunakan untuk menggambarkan sekolompok tumor jinak kelenjar ludah yang menunjukkan gambaran histopatologi yang lebih sama / seragam dan tidak adanya stroma khondromiksoid dibandingkan dengan adenoma pleomorfik. Yang termasuk golongan tumor ini adalah adenoma sel basal, adenoma kanalikular, myoepitelioma, adenoma sebaseus, onkositoma dan papillari sistadenoma