of 80 /80
DALAM M NOVEL Diaju Mem PR JURUSAN TOK L JEJAK ukan untuk mperoleh G Program G N ROGRAM S N SASTRA UNIVERS Y N KOH DA K KALA K Tugas A k Memenu Gelar Sarja m Studi Sa Oleh Gayung Wi NIM : 0341 STUDI SAS A INDONES SITAS SAN YOGYAKA NOVEMBE AN PLOT KARYA A khir uhi Salah S ana Sastra stra Indon h isnu Aji 114035 STRA IND SIA FAKU NATA DHA ARTA ER 2011 ANINDITA Satu Syara a Indonesi nesia DONESIA ULTAS SAS ARMA A S. THA at a STRA AYF PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TOKOH DA DALAM NOVEL JEJAK KALA KARYA … MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN

Embed Size (px)

Text of TOKOH DA DALAM NOVEL JEJAK KALA KARYA … MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN...

DALAMM NOVEL

DiajuMem

PRJURUSAN

TOK

L JEJAK

ukan untukmperoleh G

Program

GN

ROGRAM SN SASTRAUNIVERS

YN

KOH DA

K KALA K

Tugas A

k MemenuGelar Sarjam Studi Sa

OlehGayung WiNIM : 0341

STUDI SASA INDONESSITAS SANYOGYAKA

NOVEMBE

AN PLOT

KARYA A

khir

uhi Salah Sana Sastrastra Indon

h isnu Aji 114035

STRA INDSIA FAKU

NATA DHAARTA

ER 2011

ANINDITA

Satu Syaraa Indonesinesia

DONESIAULTAS SASARMA

A S. THA

at a

STRA

AYF

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

v

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis

menyusun skripsi ini dalam rangka menyelesaikan Program Strata Satu (S1) pada

Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan

mempunyai beberapa kekurangan karena keterbatasan kemampuan serta

pengalaman penulis. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis

mengharapkan saran dan kritik yang membangun kesempurnaan dan perbaikan

skripsi ini.

Dalam meyusun skripsi ini penulis telah banyak memperoleh bimbingan,

pengarahan, saran, serta dorongan yang bermanfaat dan mendukung penyelesaian

skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Dra. Fr. Tjandrasih Adji, M. Hum selaku pembimbing I yang telah

memberikan perngarahan dan membimbing dengan sabar sehingga

penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu S.E. Peni Adji, SS, M.Hum selaku pembimbing II yang secara

langsung telah memberikan motivasi kepada peulis untuk tetap

semangat dalam meyelesaikan skripsi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

vii

3. Bapak Drs. Hery Antono, M.Hum selaku pembimbing akademik

angkatan 2003 yang selalu mengingatkan dan selalu men-support

untuk segera menyelesaikan skripsi.

4. Seluruh dosen di Fakultas Sastra, terutama para dosen Program Studi

Sastra Indonesia yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan.

5. Segenap keluarga besar Program Studi Sastra Indonesia. Terima kasih

untuk persahabatannya.

6. Bapak, Ibu, Kakak, dan Adik tercinta. Terima kasih atas doa,

kesabaran, semangat, cinta, dan kepercayaan, juga cambukkan yang

diberikan kepada penulis untuk segera meyelesaikan skripsi.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna dan mempunyai

beberpa kekurangan karena keterbatasan kemampuan serta pengalaman penulis.

Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik

yang membangun demi kesempurnaan dan perbaikan skripsi ini.

Penulis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

viii

ABSTRAK

Aji, Gayung Wisnu. 2011. Tokoh dan Plot dalam Novel Jejak Kala Karya

Anindita S. Thayf. Skripsi S1. Yogyakarta: Sastra Indonesia, Uneversitas Sanata Dharma.

Penelitian ini berisi analisis tokoh Kala dan penokohannya Kala serta analisis plot dalam novel Jejak Kala karya Anindita S. Thayf. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural. Teori struktural ini bertujuan membongkar dan memaparkan secermat mungkin tokoh Kala dan penokohannya dalam novel Jejak Kala. Teori struktural juga bertujuan memaparkan plot dalam novel Jejak Kala. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Dengan metode tersebut penulis menganalisis dari segi strukturalnya kemudian mendeskripsikan fakta-fakta yang ada dalam novel Jejak Kala karya Anindita S. Thayf tersebut. Dalam kajian struktural yang diteliti adalah tokoh Kala dan penokohannya dalam novel Jejak Kala. Tokoh Kala digambarkan sebagai tokoh yang patuh kepada ibunya, selalu ingin tahu, senang berfantasi, menghargai pekerjaan orang lain, mandiri, jujur, sejak kecil kerja di rumah Pak Dukuh sebagai pembantu lalu ia pindah bekerja di rumah keponakan Pak Dukuh, Kala mempunyai pendirian yang kuat tentang pernikahan, selalu berusaha untuk menjadi sesuatu bagi orang lain.

Lewat kajian struktural juga, yang diteliti adalah plot dalam novel Jejak Kala. Analisis plot menggunakan tahapan plot yang memiliki lima tahapan. Pertama, tahap situation atau penyituasian. Kedua, tahap generating circumtance atau pemunculan konflik. Ketiga, tahap rising action atau peningkatan konflik. Kempat, tahap climax atau klimaks. Kelima, tahap denoument atau penyelesaian Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang diteliti melalui kajian struktural tersebut dalam hal ini adalah tokoh Kala dan penokohannya serta plot, merupakan unsur-unsur yang membangun karya sastra serta mendukung jalannya cerita dan menjadi kekuatan novel itu sendiri lewat gejala-gejala jiwa yang ditampilkan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ix

ABSTRACT

Aji, Gayung Wisnu. 2011. Characters and Plot in the Novel Jejak Kala by Anindita S. Thayf. S1 Thesis. Yogyakarta: Indonesian Literature, Sanata Dharma University.

This research was about a character analysis of Kala and his characterization, and the plot analysis in the novel Jejak Kala by Anindita S. Thayf. The theory used in this research was structural theory. Structural theory was aimed to dismantle and expose the character of Kala and the characterization in the novel Jejak Kala as carefully as possible. Structural theory was also to expose the plot in the novel Jejak Kala. The method used in this research was descriptive-analytic method. This method was used to analyze the structural aspect, and then to describe the facts in the novel Jejak Kala by Anindita S. Thayf. In the structural study, the character of Kala and the characterization in the novel Jejak Kala were analyzed. Kala was described as a character who was obedient to his mother, curious, imaginative, appreciative, independent, honest. He had worked as a house maid in Pak Dukuhs house, and then moved to Pak Dukuhs nieces house. Kala had a strong stance on marriage, always tried to be something for others. Through the structural study as well, the plot in the novel Jejak Kala was examined. Plot analysis used plot stages that consisted of five stages. The first stage was situation. The second stage was generating circumstance. The third stage was rising action. The fourth stage was climax. The fifth stage was denoument. Based on the results, in can be concluded that the elements examined through structural study in this regard, Kala and his characterization and plot, were the elements that built a work of literature and supported the story and the strength of the novel itself through mental symptoms displayed.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ................................................ iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................ iv

HALAMAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ........................................ v

KATA PENGANTAR ............................................................................ vi

ABSTRAK .............................................................................................. viii

ABSTRACT .............................................................................................. ix

DAFTAR ISI ........................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 4

1.3 Tujuan Penelitian ................................................................... 4

1.4 Manfaat Penelitian ................................................................. 4

1.5 Tinjauan Pustaka ................................................................... 5

1.6 Landasan Teori ...................................................................... 5

1.6.1 Tokoh ......................................................................... 6

1.6.2 Penokohan .................................................................. 7

1.6.3 Plot ............................................................................. 8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xi

1.7 Metode Penelitian .................................................................. 11

1.7.1 Pendekatan .................................................................. 11

1.7.2 Metode Penelitian ........................................................ 11

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data .......................................... 11

1.7.4 Sumber Data ................................................................. 12

1.8 Sistematika Penyajian ........................................................... 12

BAB II ANALISIS TOKOH KALA DAN PENOKOHANNYA

DALAM NOVEL JEJAK KALA KARYA ANINDITA

S. THAYF ................................................................................. 14

BAB III PLOT DALAM NOVEL JEJAK KALA KARYA

ANINDITA S. THAYF ........................................................... 29

3.1 Tahap Situation atau Tahap Penyituasian ............................ 39

3.2 Tahap Generating Circumtance

atau Pemunculan Konflik .................................................... 39

3.3 Tahap Rising Action

atau Tahap Peningkatan Konflik ......................................... 46

3.4 Tahap Climax atau Klimaks ................................................. 49

3.5 Tahap Denoument atau Tahap Penyelesaian ........................ 54

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Hasil Analisis Novel Jejak Kala ....................... 60

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xii

4.1.1 Tokoh Kala dan Penokohannya .................................. 60

4.1.2 Plot ............................................................................. 62

4.1.2.1 Tahap Situation atau Tahap Penyituasian ........... 62

4.1.2.2 Tahap Generating Circumtance

atau Pemunculan Konflik ................................... 63

4.1.2.3 Tahap Rising Action

atau Tahap Peningkatan Konflik ........................ 63

4.1.2.4 Tahap Climax atau Klimaks ............................... 64

4.1.2.5 Tahap Denoument atau Tahap Penyelesaian ...... 65

4.2 Saran ...................................................................................... 66

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 67

BIBLIOGRAFI ....................................................................................... 68

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni (Wellek, Warren via

Budianta, 1989: 3). Dalam hal ini karya seni salah satunya berupa suatu tulisan,

seperti yang diungkapkan oleh Wellek dan Warren via Budianta (1989: 11)

bahwa batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Tidak

hanya tertulis dan tercetak, tetapi karya sastra juga merupakan suatu proses

kreativitas dan imajinasi. Karya sastra merupakan seni yang memuat kreativitas

dan imajinasi. Karena sifat rekaannya, karya sastra secara tidak langsung

mengatakan sesuatu mengenai kenyataan dan juga tidak menggugah kita untuk

langsung bertindak (Luxemburg via Hartoko, 1989: 5).

Proses penciptaan karya sastra tersebut merupakan gambaran daya tangkap

pengarang dalam mengolah situasi lingkungan pengarang. Situasi tersebut bisa

berasal dari pengalaman pribadi pengarang atau dari pengamatan pengarang

terhadap sesuatu yang berada di sekitarnya. Menurut Endraswara (2003: 96) karya

sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang

berada pada situasi setengah sadar, setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk

secara sadar. Antara sadar dan tak sadar selalu mewarnai dalam proses imajinasi

pengarang. Hal tersebut yang menjadi kekuatan karya sastra, yaitu seberapa jauh

pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan tidak sadar itu ke dalam

karya sastra.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2

Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan

manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Fiksi menceritakan berbagai

masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama

interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Fiksi

merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan

dan kehidupan. Walau berupa khayalan, tidak benar jika fiksi dianggap sebagai

hasil kerja lamunan belaka, melainkan penghayatan dan perenungan secara intens,

perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, perenungan yang dilakukan

dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Fiksi merupakan karya imajinatif

yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreatifitas sebagai karya

seni (Nurgiyantoro, 2005: 2-3).

Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya.

Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan

dilengkapi dengan kejiwaannya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya

juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing (Endraswara, 2003: 96). Gejala

jiwa tersebut dimunculkan oleh pengarang melalui tokoh-tokoh dalam karya

sastra yang dihasilkan, dan ini yang dipandang sebagai fenomena psikologis.

Karya sastra, dalam hal ini adalah novel, selain memunculkan gejala-

gejala jiwa, juga dimunculkan unsur-unsur yang saling membangun, yang

mendukung jalannya cerita dan juga bisa menjadi kekuatan dalam novel itu

sendiri, unsur-unsur itu yang disebut sebagai unsur intrisik. Nurgiyantoro (2005:

23) mengungkapkan bahwa unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang

membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3

sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai

orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsuru-unsur

yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai

unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Atau, sebaliknya,

jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan

dijumpai jika kita membaca sebuah novel. Unsur yang dimaksud, untuk menyebut

sebagian saja, misalnya, peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut

pandang penceritaan, bahasa atau gaya penceritaan, dan lain-lain.

Unsur-unsur intrinsik tersebut diatas yang akan dianalisis oleh penulis.

Dalam hal ini, penulis ingin menganalisis hubungan penokohan dan plot saja

karena yang dianggap mewakili dalam memunculkan gejala jiwa tokoh Kala

dalam novel Jejak Kala.

Penulis tertarik dengan topik ini karena apa yang dialami tokoh Kala juga

bisa dijumpai pada kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia sebagai makhluk

bermasyarakat. Secara tidak sadar itu terjadi dalam kehidupan kita sebagai

manusia.

Untuk meneliti karya sastra ini, penulis akan menganalisis unsur

pembangun karya tersebut secara struktural. Strukturalisme dapat dipandang

sebagai salah satu pendekatan (baca: penelititan) kesastraan yang menekankan

pada kajian hubungan antar unsur pembangun karya yang bersangkutan

(Nurgiyantoro, 2005: 36-37). Hal ini dapat menekankan pada unsur intrinsik,

yaitu tokoh dan penokohan serta plot sebagai pendekatan terhadap karya sastra

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4

yang diteliti, karena dari unsur intrinsik inilah gejala jiwa yang ada dalam novel

Jejak Kala ini dimunculkan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan

dibahas adalah sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimanakah tokoh Kala dan penokohannya dalam novel Jejak

Kala karya Anindita S. Thayf?

1.2.2 Bagaimanakah plot dalam novel Jejak Kala karya Anindita S.

Thayf?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah adalah:

1.3.1 Mendeskripsikan tokoh Kala dan penokohannya dalam novel Jejak

Kala karya Anindita S. Thayf.

1.3.2 Mendeskripsikan plot dalam novel Jejak Kala karya Anindita S.

Thayf.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang dipaparkan di atas, maka manfaat

penelitian ini adalah sebagai berikut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5

1.4.1 Hasil penelititan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi studi sastra

khususnya dalam menelitit plot yang dapat memunculkan suatu

gejala-gejala jiwa dalam keterkaitannya dengan penokohan.

1.4.2 Hasil penelitian ini diharapkan bisa membantu pembaca dan

sastrawan untuk mengetahui peran plot dalam memunculkan gejala

jiwa dalam karya sastra.

1.4.3 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk

meningkatkan apresiasi sastra Indonesia yang menyangkut tokoh

dan penokohan serta plot dalam karya sastra.

1.5 Tinjauan Pustaka

Sejauh pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis, belum ada tulisan

yang membahas novel Jejak Kala sebagai bahan tulisan ilmiah.

1.6 Landasan Teori

Dalam landasan teori, penulis menggunakan pendekatan teori struktural.

Strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri,

dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur unsur

yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur (unsur)

dengan totalitasnya (Ratna, 2007: 91). Strukturalisme dapat dipandang sebagai

salah satu pendekatan (baca: penelitian) kesastraan yang menekankan pada kajian

hubungan antarunsur pembangun karya yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2005:

36-37). Analisis struktural karya sastra , yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

6

dengan mengidentifikasikan dan dideskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur

intrinsik fiksi yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2005:37).

Unsur intrinsik (intrinsic) itu sendiri adalah unsur-unsur yang membangun

karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir

sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang

membaca karya sastra (Nurgiyantoro, 2005: 23).

Penulis menggunakan teori struktural berupa tokoh dan penokohan yang

menjadi salah satu unsur intrinsik. Melalui tokoh dan penokohan ini penulis dapat

mengetahui gejala jiwa yang muncul dalam jalan cerita (plot) yang ada pada

munculnya tokoh yang dituju.

1.6.1 Tokoh

Menurut Abrams via Nurgiyantoro (2005: 165), tokoh cerita adalah

orang(-orang) yang karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca

ditafsirka memiliki kualitas moral dan kecnderungan tertentu seperti yang

diekpresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Dijelaskan oleh Nurgiyantoro (2005: 165), bahwa istilah tokoh

menunjuk pada orangnya yaitu sebagai pelaku cerita

Dilihat dari segi peranan dan tingkat pentingnya tokoh dalam

sebuah cerita, ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus

menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita, dan

sebaliknya, ada tokoh(-tokoh) yang hanya dimunculkan sekali atau

beberapa kali dalam cerita, dan itu pun mungkin dalam porsi penceritaan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

7

yang relatif pendek. Tokoh yang disebut pertama adalah tokoh utama

cerita (central character, main character), sedang yang kedua adalah

tokoh tambahan (peripheral character) (Nurgiyantoro, 2005: 176).

Dalam tugas akhir ini penulis hanya akan membahas satu tokoh

saja, yaitu tokoh Kala sebagai tokoh utama dalam novel Jejak Kala. Tokoh

utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang

bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik

sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian (Nurgiyantoro,

2005: 176-177). Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu

berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan

perkembangan plot secara keseluruhan. Ia selalu hadir sebagai pelaku atau

yang dikenai kejadian dan konflik, penting yang mempengaruhi

perkembangan plot (Nurgiyantoro, 2005: 177).

1.6.2 Penokohan

Jones via Nurgiyantoro (2005: 165), menjelaskan bahwa

penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang

ditampilkan dalam sebuah cerita. Penokohan memberikan ciri lahir (fisik)

maupun batin (watak) tokoh (Sudjiman, 1998: 25).

Dalam bukunya, Nurgiyantoro (2005: 13) juga menjelaskan bahwa

penggambaran tokoh yang ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya

yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik , keadaan sosial, tingkah laku, sifat

dan kebiasaan, dan lain-lain, termasuk bagaimana hubungan antartokoh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

8

itu, baik hal hal itu dilukiskan secara langsung maupun tidak langsung.

Kesemuanya itu tentu saja akan dapat memberikan gambaran yang lebih

jelas dan konkret tentang keadaan para tokoh cerita tersebut.

1.6.3 Plot

Nurgiyantoro (2005: 94) menjelaskan bahwa plot lebih

menekankan mengapa justru peristiwa itu yang ditampilkan menyusul

peristiwa sebelumnya, mengapa bukan peristiwa (-peristiwa) yang lain,

adakah (atau: bagaimanakah) hubungan kausalitas antarberbagai peristiwa

yang dikisahkan itu. Plot lebih menekankan permasalahannya pada

hubungan kausalitas, kelogisan hubungan antarperistiwa yang dikisahkan

dalam karya naratif yang bersangkutan.

Plot merupakan cerminan, atau bahkan berupa perjalanan tingkah

laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa, dan bersikap dalam

berbagai masalah kehidupan. Namun, tidak dengan sendirinya semua

tingkah laku kehidupan manusia boleh disebut (mengandung) plot, tidak

semua kejadian yang dialami manusia bersifat plot. Apalagi kalau kita

lihat kenyataan kehidupan begitu kompleks dan sering tak berkaitan.

Kejadian, perbuatan, atau tingkah laku kehidupan manusia bersifat plot

jika bersifat khas, mengandung unsur konflik, saling berkaitan, dan yang

terpenting adalah: menarik untuk diceritakan, dan karenanya bersifat

dramatik (Nurgiyantoro, 2005: 114).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

9

Peristiwa, konflik, dan klimaks merupakan tiga unsur yang amat

esensial dalam pengembangan plot cerita. Eksistensi plot itu sendiri sangat

ditentukan oleh ketiga unsur tersebut (Nurgiyantoro, 2005: 116). Peristiwa

dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain

(Nurgiyantoro, 2005: 117). Konflik (conflict), menyaran pada pengertian

sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami

oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang, jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai

kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu

menimpa dirinya (Nurgiyantoro, 2005: 122). Klimaks adalah saat konflik

telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan (hal) itu merupakan sesuatu

yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Artinya, berdasarkan tuntutan dan

kelogisan cerita, peristiwa dan saat itu memang harus terjadi, tidak boleh

tidak. Klimaks juga merupakan titik pertemuan antara dua (atau lebih) hal

(keadaan) yang dipertentangkan dan menentukan bagaimana permasalahan

(konflik itu) akan diselesaikan. Secara lebih ekstrem, barangkali, boleh

dikatakan bahwa dalam klimaks nasib (dalam pengertian yang luas)

tokoh utama (protagonis dan antagonis) cerita akan ditentukan

(Nurgiyantoro, 2005: 127).

Plot juga memiliki tahapan-tahapan bagian. Seperti rincian yang

dikemukakan oleh Tasrif (dalam Nurgiyantoro, 2005: 149-150) bahwa

rincian yang membedakan tahapan plot menjadi lima bagian. Kelima

tahapan itu adalah: Pertama, tahap situation atau tahap penyituasian, tahap

yang terutama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh(-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

tokoh) cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian

informasi awal, dan lain-lain yang terutama berfungsi untuk

melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya. Kedua,

adalah tahap generating circumtance atau tahap pemunculan konflik,

masalah(-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya

konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awalnya

munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau

dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. Tahap

ketiga adalah tahap rising action atau tahap peningkatan konflik, konflik

yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan

dikembangkan kadar intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang

menjadi inti cerita semakin mencekam dan menegangkan. Tahap empat

adalah tahap climax atau klimaks, konflik dan atau pertentangan-

pertentangan yang terjadi, yang dilakui ada atau ditimpakan kepada para

tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan

dialami oleh tokoh(-tokoh) utama yang yang berperan sebagai pelaku atau

penderita terjadinya onflik utama. Dan tahap yang kelima adalah tahap

denoument atau tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks

diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain,

sub-konflik, atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga diberi jalan

keluar, cerita diakhiri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

1.7 Metode Penelitian

Dalam metode penelitian akan dikemukakan pendekatan, metode, teknik

pengumpulan data, dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini.

1.7.1 Pendekatan

Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan

struktural. Penedekatan ini adalah dengan menganalisis struktural karya

sastra, yang dalam hal ini fiksi, dilakukan dengan mengidendifikasi,

mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik

fiksi yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2005: 37).

1.7.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara

mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis

(Ratna, 2004:53).

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui studi

pustaka. Dalam teknik ini, penulis akan menggunakn data yang terdapat

dalam novel Jejak Kala, maupun sumber pustaka lain yang berupa buku-

buku, karya tulis, atau sumber dari internet yang berkaitan dengan objek

penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

1.7.4 Sumber Data

Data adalah bahan penelitian. Dari bahan itulah diharapkan objek

penelitian dapat dijelaskan karena di dalam bahan terdapat objek penelitian

yang dimaksud (Sudaryanto, 1988: 9-10). Sumber data adalah tempat data

diambil atau diperoleh yang berupa karya sastra, buku-buku, karya tulis,

serta data dari internet yang berkaitan dengan objek penelitian. Karya

sastra yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah novel dengan

identitas sebagai berikut.

Judul : Jejak Kala

Pengarang : Anindita S. Thayf

Tahun Terbit : 2009

Penerbit : Sheila

Tebal : ii + 194 halaman

Cetakan : Pertama

1.8 Sistematika Penyajian

Penelitian ini akan disajikan dalam empat bab. Keempat bab tersebut

adalah:

Bab I berupa pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode

penelitian, serta sistematika penyajian.

Bab II berupa pembahasan struktural, yakni tokoh Kala dan

penokohannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

Bab III berupa pembahasan analisis plot dalam novel Jejak Kala karya

Anindita S. Thayf.

Bab IV berupa kesimpulan hasil analisis data, saran, serta diakhiri dengan

pemaparan daftar pustaka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

BAB II

ANALISIS TOKOH KALA DAN PENOKOHANNYA

DALAM NOVEL JEJAK KALA

KARYA ANINDITA S.THAYF

Analisis struktural dalam kajian sastra merupakan salah satu cara untuk

memahami dan mengerti isi dari sebuah karya sastra. Analisis dilakukan dengan

cara memperhatikan dan mengkaji unsur-unsur intrinsik. Tokoh dan penokohan

merupakan unsur intrinsik karya sastra. Kedua unsur inilah yang akan dianalisis

oleh penulis untuk mempermudah memahami karya sastra.

Dalam bab II ini penulis akan menganalisis salah satu unsur intrinsik novel

Jejak Kala yaitu tokoh dan penokohan. Analisis unsur intrinsik yang berupa tokoh

dan penokohan diperlukan untuk mengetahui pengambaran individu-individu

beserta perilaku mereka dalam sebuah karya sastra. Dalam analisis tokoh dan

penokohan ini penulis membatasi pada tokoh utamanya saja. Tokoh ini dipilih

karena dianggap memiliki makna hidup yang mendominasi dalam cerita.

Tokoh Kala

Tokoh Kala merupakan tokoh utama dalam novel Jejak Kala karena

intensitasnya paling banyak dalam setiap kejadian yang berhubungan dengan

tokoh-tokoh lain dan juga karena tokoh Kala yang mendominasi keseluruhan

jalannya cerita. Berikut penokohan tokoh Kala dalam Novel Jejak Kala.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

Di usia yang masih kecil Kala setiap hari harus bangun pagi dan

membantu emak bekerja di rumah Pak Dukuh. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan

berikut.

(1) Tiap hari begini. Selalu seperti ini. Tanpa pernah ada yang berubah sejak kakinya mulai lincah berjalan dan tangannya cekatan bekerja, dan emak membawanya ke rumah Pak Dukuh entah beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, Kala sudah tidak ingat . Kala, bangun! Waktunya mulai bekerja, bisik perempuan itu tegas, sangat dekat di telinga. Di awali suara mengeluh yang panjang, Kala menggeliat malas. Menggosok-gosok kelopak matanya yang masih setengah terkatup dengan gerakan enggan, menyeka sisa liur yang belum kering di sudut bibir, sebelum kemudian mengakhiri ritual bangun itu dengan merentangkan kedua tangan jauh-jauh ke atas (Thayf, 2009: 3).

Tokoh Kala selalu menghibur dirinya sendiri saat muncul keinginan Kala

untuk hidup normal sesuai umurnya, keinginannya untuk bersekolah juga bermain

sepuas hati bersama anak-anak lain, tapi Kala tidak bisa karena Kala harus

bekerja. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(2) Ah, mungkin nanti jika aku sudah tidak ingusan lagi, tubuhku bertambah tinggi. Dan, kalau sudah bersekolah, emak tidak akan menyuruhku bekerja seperti ini, Jika sudak begitu, aku bisa bermain sepuas hati dari pagi sampai sore. Wah senangnya! (Thayf, 2009:5).

Kala membayangkan dalam benaknya bahwa sangat enak menjadi

anaknya Pak dukuh. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(3) Tidak ada yang lebih enak selain menjadi anaknya Pak Dukuh, begitu menurut Kala. Sambil bersusah payah menimba air dari sumur untuk mengisi penuh bak mandi, dicobanya mengingat-ingat apa saja keenakan itu. Bisa tidur lebih lama, ucap Kala spontan dalam hati (Thayf, 2009: 8).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

Tokoh Kala kecil digambarkan sebagai tokoh yang sabar melakukan

sesuatu. Kala sadar akan tanggung jawab pada pekerjaannya bahwa pekerjaan

yang dilakukannya itu haruslah selesai meskipun pekerjaan itu cukup berat untuk

ukuran umur seorang bocah seperti Kala. Dalam kutipan berikut, Kala diingatkan

oleh Bu Dukuh untuk istirahat setelah lama menimba air mengisi bak mandi yang

digunakan untuk mandi oleh lima orang anggota keluarga Pak Dukuh.

(4) Kala! Kalau baknya sudah penuh, istirahatlah dulu, Nak. Pergilah ke dapur untuk sarapan pagi. Bukankah setelah aku tidak ada lagi yang mandi pagi? (Thayf, 2009: 12).

(5) Iya, Bu. Sebentar lagi, Kala menjawab setengah berteriak sambil terus menarik tali timba dengan tangannya yang mulai gemetar. Bayangkan, ia sudah menimba satu jam lebih, tapi bak itu tidak pernah bertahan penuh karena selalu saja ada yang mandi (Thayf, 2009: 12-13).

Tokoh Kala kecil digambarkan sebagai seorang anak yang bertubuh kecil

dan pendek. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan percakapan Kala dengan Ano

(tukang masak Bu Dukuh) saat sedang berada di dapur saat sedang makan sebagai

berikut.

(6) He-eh. Aku hanya makan ikan kecil-kecil, nasi, dan sambal. Nah, itu dia. Makanya tubuhmu seperti itu terus sejak dulu. Seperti bagaimana? Kecil dan pendek. (Thayf, 2009: 15).

Kala kecil digambarkan senang berfantasi dengan hal-hal yang

dijumpainya. Dalam kutipan berikut, saat Kala berada di pasar bersama Bu

Dukuh, Kala berkhayal layaknya anak-anak seusianya, dan khayalan itu dirasa

sangat indah baginya.

(7) Di mata Kala, panggung itu sangat tinggi. Dia harus membuang kepalanya jauh ke belakang untuk dapat melihat dengan jelas hingga ke puncak. Di matanya, undak-undakan itu serupa tangga menuju langit dan membuat si penjual yang sedang duduk di puncak sana

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

seakan-akan tinggal di atas gunung tinggi. Gunung yang ditumbuhi sabun mandi, bedak, sisir, dan bermacam barang jualan lain, bukan rumput atau bunga. Oh, betapa menyenangkan! (Thayf, 2009: 16).

Pada kutipan berikut, tokoh Kala kecil digambarkan sebagai bocah yang

pantang menyerah, Kala mempunyai semangat yang besar. Kala harus membawa

barang belanjaan yang dibeli Bu Dukuh ditumpangkan di atas kepalanya

walaupun beban itu dirasa cukup berat bagi Kala.

(8) Tanpa berkata-kata, Kala mempersiapkan kepalanya untuk kembali ditumpangi beban. Sehelai kain lusuh yang berfungsi sebagai pengalas dilipatnya beberapa kali hingga cukup tebal, sebelum kemudian ditaruh tepat di puncak kepala. Setelah itu, barulah meletakkan keranjang belanjaan yang berat itu di atasnya dengan hati-hati. Sesaat, leher Kala tampak menggigil menerima beban di luar kemampuannya. Tapi, dengan semangat yang besar, Kala menguatkan-nguatkan lehernya hingga bertonjolanlah urat-urat yang ada di situ (Thayf, 2009: 18-19).

Kala kecil sudah mempunyai rasa tidak tega terhadap sesuatu yang

membuat orang susah. Dalam kutipan berikut Kala merasa tidak tega saat melihat

emak sedang dengan susahnya menghilangkan noda kotor pada celana Ina saat

sedang dicucinya. Belum lagi jika Ina mengadukan hal itu kepada Bu Dukuh

bahwa emak tidak bersih mencuci pakaiannya.

(9) Kala menemukan emak sedang menyikat sebuah celana selutut berwarna merah. Tanpa perlu bertanya, ia sudah tahu siapa pemiliknya. Ina. Hanya anak itu yang suka berpakaian warna mencolok seperti merah dan kuning. Pun, tidak ada yang lain selain Ina yang pakaiannya paling kotor karena kerap dipakai memanjat pohon atau duduk sembarangan. Setiap kali melihat susahnya emak menghilangkan noda kotor akibat ulah Ina itu, ingin rasanya Kala mencelup semua pakaian berwarna Ina ke dalam seember cat hitam agar noda yang ditinggalkannya tidak begitu kelihatan. Apalagi, Kala selalu mendengar Ina mengadu pada mamaknya bahwa emak tidak bersih mencuci, tanpa mau tahu betapa kerasnya usaha emak menyikat pakaian itu tanpa membuatnya sobek (Yhayf, 2009: 19-20).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

Tokoh Kala kecil sadar akan tanggung jawab yang besar di usianya yang

masih kanak-kanak. Meskipun begitu Kala kecil tetaplah kanak-kanak yang masih

mempunyai keinginan untuk bermain seperti anak-anak kecil lainnya. Tetapi

keinginannya hanya bisa ia lakukan dalam angan dan Kala cukup bisa menerima

keadaan yang berbeda itu, bahwa Kala sadar akan tanggung jawab yang

diembannya dan karena Kala juga tidak ingin menyusahkan orang lain akibat dari

kesalahannya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.

(10) Andai saja ada yang tahu isi hati Kala, sebenarnya ia sangat ingin bermain di tengah siang yang terik begini. Membasahi yang telah dipakainya bekerja sejak subuh dengan kesejukan air, seperti tingkah segerombolan anak-anak yang dilihatnya saat melewati jembatan tadi. Mereka berkecipak-cipak girang tanpa beban di sengai kecil berair kecil yang bahagia. Sayang, Kala tidak bisa begitu. Jika ia memaksa singgah walau sebentar, sudah pasti telinganya akan mendengar omelan banyak orang. Pak Zae yang kelaparan, Ano yang terlalu lama kehilangan cerek dan gelas, dan emak yang mendapat teguran Bu Dukuh - karena laporan Pak Zae. Kala hanya bisa bermain air dalam angan, seperti biasa. Memang tidak semenyenangkan yang nyata, tapi cukuplah menerbitkan senyum di bibir bocah itu (Thayf, 2009: 27).

Dalam diri Kala, ia ingin menjadi seseorang yang disukai oleh orang lain

dan orang lain bisa merasa nyaman berada di dekatnya, Kala tidak ingin dibenci

orang-orang. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(11) Um, aku ... aku kalau marah, malah merasa tidak enak ya, Ano? Seperti sedang sakit gigi. Semua serba murung. Makin tidak enak. Tidur tidak enak. Dan rasanya, wajahku tiba-tiba berubah menyeramkan sehingga orang-orang malah menjauh, termasuk emak dan kemi. Padahal, aku tidak ingin begitu, Ano. Aku ingin semua orang suka berada di dekatku. Makanya, aku berusaha untuk tidak marah. Aku tidak mau dibenci orang-orang. (Thayf, 2009: 32 -33).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

Biarpun masih kecil, Kala sudah mampu untuk mengurus dirinya sendiri

juga dalam hal mengurus keperluan makan anggota keluarganya (Emak dan

Kemi-kakak perenpuan Kala). dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(12) Aroma khas ikan goreng masih mengapung di langit-langit rumah ketika Kemi datang. Kala baru saja selesai memasak. Ia sedang sibuk mengaduk-aduk nasi panas dalam bakul sambil sesekali meniup-niup uapnya yang memedihkan kulit (Thayf, 2009: 36).

Kala pernah berdebat hebat dengan Ina (anak prempuan ke dua Pak

Dukuh). Kala berusaha mempertahankan apa yang ia lakukan itu adalah benar.

Kala berusaha mempertahankan apa yang telah menjadi kebulatan kata hatinya

dan pendiriannya, karena Kala merasa bahwa ia dan emak yang selalu saja

disalahkan, padahal itu bukan kesalahan mereka. Hal ini dapat dilihat dalam

kutipan berikut.

(13) Ahhh! Sudah, diam! Kau benar-benar jahat, Kala. Kau telah melihat nilai ulanganku tanpa izin, juga dengan sengaja menaruhnya di atas meja agar dilihat Mamak dan Bapak. Tidak, Ina! Bukan aku yang jahat, tapi kau. Kau selalu mengadu yang tidak-tidak pada mamak dan bapakmu. Kaulah yang jahat. Aha! Jadi, ini balas dendam, ya? Tidak. Lalu? Aku hanya tidak suka perbuatanmu. Tapi, itu kan bukan urusanmu. Memang bukan, tapi yang selalu kau salahkan itu kan aku dan emakku, Ina. Aku tidak suka! (Thayf, 2009: 53-54).

Kala kecil digambarkan sebagai anak yang memiliki kulit hitam yang

kusam, rambut keribo yang bergerombol, mata sipit nyaris tanpa alis, dan tubuh

yang tidak pernah lebih tinggi dari pucuk tanaman jagung yang masih muda. Hal

itu terdapat dalam kutipan berikut ini.

(14) Entah sejak kapan , Kala mulai bisa melihat perbedaan yang ada antara ia dan kakaknya itu. Kulit hitam yang kusam dan kering,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

rambut keribo yang bergerombol serpa kembang kol , mata sipit yang nyaris tanpa alis - saking tipisnya dan tubuh yang seakan tidak pernah lebih tinggi dari pucuk tanaman jagung yang masih muda (Thayf, 2009: 59).

Tokoh Kala berada pada usia remaja. Tokoh Kala juga digambarkan

sebagai tokoh yang ramah, ceria, juga hangat pada siapapun. Hal ini dapat dilihat

dalam kutipan berikut.

(15) Sosok itu memang kecil, tapi ia sudah bukan anak kecil lagi. Sikapnya menunjukkan itu, begitu pula perubahan di beberapa bagian tubuh yang tampak membesar dan menonjol, meski kadang berusaha ia samarkan dengan berjalan membungkuk atau menutupinya dengan buku yang didekap dekat di dada. Namun begitu, di wajahnya yang bulat penuh, ceria kanak-kanak itu masih terpancar. Apalagi, ketika ia mulai menyapa satu per satu orang yang ditemuinya di jalan. Selamat pagi, Jamila! Pagi Sroja! Hai, Enal! Sepedamu sudah tidak rusak lagi, ya? Baguslah. Pagi, Suli. Maaf, aku tidak melihatmu tadi. Eh ... Tiar. Kukira siapa. Pagi juga. Hehe .... Aduh, Ros! Kau itu selalu saja terlambat. Ayo, larilah. Cepat! Selamat pagi, Bu Suwarni, Pak Jamal. Hai, teman-teman! Selamat pagi semuanya! Dan rona gadis itu semakin berseri seiring banyaknya orang yang membalas salamnya sekaligus memberikan senyuman. Selamat pagi juga, Kala. Hari ini kau seceria biasa. Hehe ... terima kasih. (Thayf, 2009: 71-72).

Kala sangat menghargai Kak Banar yang telah menyekolahkan Kala.

Meskipun Kala sadar betapa terbatasnya kemampuan Kala dalam bidang-bidang

yang dipelajari di sekolahnya. Tetapi Kala tetap mau berusaha dengan sangat,

tidak mau mengecewakan orang yang telah baik padanya. Hal itu dapat dilihat

dalam kutipan berikut.

(16) Bertolak belakang dengan Kala yang tidak pernah bisa lari menyelesaikan satu putaran dan suaranyasangat datar tanpa irama saat bernyanyi. Kala sadar, ia sangat bodoh di kedua mata pelajaran itu-demikian juga di pelajaran lain-sehingga wajarlah ia berkesimpulan kalau dirinya mungkin tidak cocok bersekolah. Ia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

tidak merasa menjadi lebih pintar dengan itu. Tapi, demi Kak Banar yang telah membiayai pendidikannya selama ini, Kala memaksa dirinya untuk terus belajar (Thayf, 2009: 78).

Kala, ia mau dengan tulus mengerjakan semua yang menjadi atau yang

bukan menjadi tanggung jawabnya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(17) Kala! Tolong kau buatkan Kak Banar kopi. Ya, Kak Tien. Kopinya kau bawa ke kamar, ya? Iya. Eh, hampir lupa. Apakah sudah kau siapkan seragam Is untuk besok, Kala? Jika belum, segera kau siapkan dan jangan lupa periksa kaos kakinya. Baik , Kak Tien. Akan aku lakukan. Sumar! Jangan lupa kunci pintu gerbang depan. Tidak mau ah, Kak! Kala saja. Aku sedang sibuk baca. Ya, sudah. Kala! Kau yang kunci gerbang depan, ya? Iya, Kak Tien. Akan kukunci. (Thayf, 2009: 80-81).

Kutipan di atas menjelaskan kesibukkan Kala dalam mengurus keperluan Is (anak

laki-laki Kak Tien dan Kak Banar) tetapi Kala masih mau melakukan tugas yang

sebelumnya bukan menjadi tugasnya, karena Kak Tein terlebih dahulu menyuruh

Sumar (adik tiri Kak Tien).

(18) Suka atau tidak, Kala harus mau membersihkan kaca pintu dan jendela, yang merupakan tugas Sumar, setiap dua hari sekali, di sore hari (Thayf, 2009: 95).

(19) Adapun Kak Mien , yang ternyata bertubuh lemah dan menderita banyak alergi, Kala dengan senang hati menggantikan tugasnya untuk merapikan tempat tidur mereka di pagi hari (Thayf, 2009: 95).

(20) Dari Siah, Kala mendapat limpahan tanggung jawab untuk menyiapkan hidangan jika Kak Banar ingin makan sepulang kerja, di malam hari (Thayf, 2009: 95-96).

Pada kutipan (18), (19), dan (20), kala juga digambarkan sebagai tokoh yang mau

membantu dan menyelesaikan tugas-tugas yang belum tentu itu menjadi tanggung

jawabnya, melainkan adalah tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Sumar,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

Kak Mien (adik perempuan Kak Tien), dan juga Siah (tukang masak di rumah

Kak Tien).

Seorang Kala juga ingin meringankan pekerjaan orang lain, padahal itu

bukanlah tanggung jawab Kala untuk melakukan tugas itu, sudah ada seseorang

yang bertugas mengerjakannya. Seperti yang dilakukan Kala untuk meringankan

tugas dari Akko (seorang keluarga jauh sekaligus pesuruh setia Kak Banar).

(21) Tugas Akko-lah yang paling banyak dan berat-berat. Hanya Akko yang tidak pernah menyuruh Kala melakukan tugasnya. Tapi , terkadang karena merasa kasihan dan ingin sedikit membantu, Kala selalu menyempatkan diri mengisi penuh kembali bak selesai dirinya mandi atau sekedar mengepel kamarnya sendiri setiap kali selesai disapu (Thayf, 2009: 96).

Kala yang dikenal sebagai seseorang yang sabar dan menerima apapun

keadaan yang ia alami, juga pernah memaki seseorang walaupun itu hanya dalam

hati. Saat itu Kala sangat merasa patah hati saat Koes (ajudan Kak Banar)

mengatakan bahwa ternyata tidak pernah menganggap Kala lebih dari seorang

adik dan Koes akan menikah, padahal Kala sangat menaruh hati padanya.

(22) O, benar-benar terkutuk engkau Koes! Dasar pengumpul cinta! Mata keranjang! Pergilah kau ke kerak neraka terjahanam dari yang terjahanam. Laki-laki tak tahu diri! Semoga kutuk jatuh padamu! Kala benar-benar memaki sepenuh hati, walau hanya terucap di hati. Hari ini adalah puncak sengsaranya (Thayf, 2009: 106).

Meskipun Kala bukanlah gadis berparas menarik, berkulit putih, bertubuh

seksi, atau berambut indah, atau juga bukan dari kelurga kaya. Akan tetapi Kala

tumbuh menjadi seorang gadis ramah, rajin, cekatan, mau bekerja keras, dan tak

pernah mengeluh. Hal itu gambarkan dalam kutipan berikut.

(23) Memang, si Kribo Kala bukanlah gadis berparas menarik, berkulit putih, bertubuh seksi, atau berambut indah yang selalu diharapkan datang ke setiap pesta ajojing para anak muda. Si Kribo Kala juga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

bukan gadis keluarga kaya yang selalu dihujani ajakn bergabung ke dalam salah satu geng muda-mudi yang merasa diri paling yahud. Tapi, si Kribo Kala adalah gadis yang ramah, rajin, cekatan, mau bekerja keras, dan tak pernah mengeluh, yang selalu dicari oleh siapa pun yang butuh bantuan atau sekedar uluran tangan. Kala si Kribo Penolong (Thayf, 2009: 114).

Kala berada di antara himpitan dua perasaan. Perasaan senang saat melihat

teman sebaya Kala sudah menikah dan memiliki anak. Satu perasaan yang lain,

Kala merasakan kekawatiran, Kala memikirkan tentang pernikahan. Tetapi Kala

bisa mengatasi kekawatiran itu. Kala optimis bahwa ia masih mempunyai waktu

untuk mencari dan ia yakin bahwa setiap orang memiliki jodohnya sendiri. Dapat

dilihat dalam kutipan berikut.

(24) Lingkungan membuat Kala mulai memikirkan tentang pernikahan. Beberapa teman sebayanya sudah menikah dan memiliki anak, sementara sisanya telah punya pacar dan bersiap menuju jenjang itu. Waktunya masih panjang untuk mencari. Apalagi, ia juga yakin bahwa setiap manusi pasti ada jodohnya (Thayf, 2009: 130).

Kala tahu bagaimana harus bersikap, tahu bagaimana ia harus mengasuh

Ela (anak perempuan Iswadi) saat di rumah majikannya itu terjadi pertengkaran

hebat (pertengkaran antara Kak Banar dan Kak Tien). Karena pada saat itu orang

tua Ela (Iswadi dan Putri-istri Iswadi) sedang tidak ada di rumah.

(25) Kala, kau dengar itu? Aku takut. Nenek dan kakek marahan lagi. Ya, Nak. Aku dengar. Ayo kita keluar saja ke depan sana. (Thayf, 2009:135).

(26) Tak lama, dengan membawa tubuh montok Ela dalam pelukan, Kala menderapkan kaki-kaki pendeknya menuju teras, melintas halaman rumah, cepat-cepat keluar pagar, berusaha menjauhkan anak asuh kesayangannya itu dari suara-suara amarah dan kebencian, yang bisa mengotori kepolosannya, yang berkumandang di dalam rumah sana (Thayf, 2009: 136).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

Tokoh Kala selalu ingin membantu dengan segala jerih payah usaha

pikirannya, dengan segala kemampuannya. Hal ini terjadi saat Kala mencoba

menenangkan Kak Tien yang tengah ingin membuktikan perselingkuhan Kak

Banar.

(27) Beragam masalah telah menghantam Kala, tapi semua itu tidaklah membuat dirinya kacau balau disebabkan masalah itu hanya melibatkan ia seorang, dan kalau pun melibatkan orang lain tetap masih bisa ditanganinya karena ia punya kedudukan dalam maslah itu. Namun, kali ini, Kala hanyalah orang luar yang tidak bisa menerobos masuk dan ikut campur begitu saja. Sampai pusing kepala Kala memikirkan cara yang harus ia lakukan untuk membantu Kak Tien menyelesaikan hal itu tanpa melukai banyak orang (Thayf, 2009: 140).

Kala peduli pada siapapun. Kala selalu ingin membantu jika ada orang

yang memang Kala pikir membutuhkan bantuan. Seperti saat Kala menemukan

Putri (istri Iswadi) sedang menangis. Kepedulian Kala tidak selalu juga harus

turun tangan langsung menenangkan, tetapi dengan membiarkan Putri. Maksud

Kala adalah supaya Putri bisa menempa hati atas semua derita yang dirasakan.

(28) Kala hanya sering mendengar istri Is itu menangis diam-diam di dalam kamar. Awalnya, Kala ingin membujuk dan menawarkan pelukan hangat untuk meredakan kesedihan putri, tapi sesuatu mencegahnya. Bukannya tega, tapi Kala hanya ingin membiarkan perempuan muda itu menmpa hati dan jiwanya (Thayf, 2009: 145).

(29) Menangislah dengan cukup, setelah itu, cepat keringkan air mata itu. Karena kesedihan yang berlebihan adalah candu, yang membuat seseorang akan selalu kembali padanya untuk bersembunyi setiap kali bertemu masalah atau penderitaa. Padahal tidak ada hidup yang tanpa rasa sakit dan resiko. Jadi, kuatkan dirimu. Jangan jadikan menangis kebiasaan, cetus Kala pada suatu hari ketika menemukan Putri sedang menangis di belakang rumah (Thayf, 2009: 145).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

Setelah orang-orang tercinta Kala pergi meninggalkan lewat kematian,

pertama adalah kepergian emak, kemudian Kak Tien dan Kak Banar yang

meninggal kaena kecelakaan, lalu disusul Is yang menyusul kepergian orang

tuanya karena kelemahan fisik yang berangsur menurun terus menerus karena

kesedihan yang sangat dirasakannya. Kala akhirnya memutuskan untuk pergi.

(30) Ia kini tercengkram rasa kesepian. Begitu terpencil. Meski berada di tengah ketiga anak Is, entah mengapa, Kala tak bisa merasa lagi seceria dulu. Sepi itu membuat badannya sering sakit-sakit inikah yang dirasakan Is sebelum ia meninggal?- semikian Kala pernah berpikir. Ruang kosong yang telah lama padanya, semakin bertambah luas saja kosongnya. Di saat-saat tertentu, Kala merasa ruang itu menyedot jiwanya, lalu menawannya jauh di jantung kegelapan. Ia tak tahan lagi. Ia tak mau berakhir seperti Is; merepotkan anak-istrinya dengan sakit yang disebabkan duka yang dalam. Atau emak; yang meninggal dalam penantian akan dirinya. ia juga tidak mau menambah daftar sesalnya, seperti Kak Tien, karena terlambat melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan saat badan masih memiliki nyawa. Lalu, sekelebat, muncullah kesadaran itu (Thayf, 2009: 168-169).

Kala menyadari kondisi dirinya dan tidak ingin merepotkan orang lain.

meskipun dengan kondisi sakit, Kala tetap melanjutkan hidupnya. Kala pergi

mencari tampat tinggal juga pekerjaan.

Kala lalu bertemu dengan Lilik (teman Kala). Kala meminta tampat

tinggal juga pekerjaan pada Lilik. Tetapi Kala yang masih punya sisa semangat

tidak ingin tinggal dengan cuma-cuma karena ia tidak ingin meyusahkan orang

yang sudah mau menolongnya.

(31) Sesungguhnya, Lilik, bantuanmu itu sangat tak terhingga berartinya bagiku. Ketulusanmu menyentuh hatiku. Tapi, ketahuilah, aku bersedia tinggal di rumahmu, tapi tidak mau dengan cuma-cuma. Akan kubayar harganya dengan melakukan kerja apa sajayang aku mampu. Jadi jangan kasihani aku (Thayf, 2009: 171).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

Saat Kala berada pada ujung usianya, bahwa ajal akan segera menjemput

Kala. Ada kekawatiran dalam diri Kala bahwa ia belum punya keturunan seorang

pun akan tetapi ia mengerti akan suatu hal, atas apa telah ia berikan pada hidup.

Dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(32) Entah bagaimana ia tahu kalau jejak keberadaanya di dunia akan berakhir sebentar lagi, tanpa seorang keturunan pun yang akan meneruskan. Sebersit kekawatiran Kala muncul, tapi segera lenyap. Sekedip mata, suatu kesadaran tiba-tiba muncul dalam benak permpuan itu, bahwa jejak tak selamanya harus terpatri jelas di atas permukaan tanah, melainkan bisa pula terukir indah jauh di lubuk hati; dalam bentuk cinta, ketulusan, kebaikan, kenangan, dan kepedulian pada orang lain (Thayf, 2009: 187-188).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diperoleh kesimpulan bagaimana

penokohan Kala. Kala, meskipun umurnya masih kanak-kanak tetapi ia setiap

pagi harus bangun untuk bekerja membantu Emak di rumah Pak Dukuh (1). Kala

berpikiran mungkin saja nanti jika ia sudah tidak ingusan lagi dan sudah

bersekolah, mungkin Emak tidak akan menyuruh ia untuk bekerja (2). Tidak ada

yang lebih enak selain menjadi anaknya Pak Dukuh, seperti itu yang di rasakan

Kala, tidak perlu harus bangun pagi, melainkan bisa tidur lebih lama (3). Kala

begitu sabar melakukan pekerjaannya yang sangat gigih dalam bekerja, meskipun

telah di suruh beristirahat oleh Bu Dukuh, tetapi Kala tetap melanjutkan menimba

air sampai selesai (4), (5). Kala bertubuh kecil dan pendek (6). Kala kecil suka

berfantasi jika pergi ke pasar bersama Bu Dukuh (7). Meskipun tubuh Kala kecil

tapi ia sanggup membawa beban berat yang ia taruh di atas kepalanya (8). Kala,

meskipun ia masih kana-kanak, tetapi ia punya rasa tidak tega atau kepedulian

terhadap orang lain, bagaimana Kala merasa tidak tega saat melihat emak dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

bersusah payah menghilangkan noda kotoran pada celana Ina (9). Dalam

kesibukkannya Kala bekerja, tetapi tetaplah ia seorang anak yang mempunyai rasa

ingin bermain (10). Kala adalah seseorang yang berusaha bahwa kehadirannya

bisa disukai oleh orang lain dan tidak ingin dibenci oleh orang lain (11). Kala

adalah seorang yang mandiri (12). Seorang Kala tidak harus selamanya diam atas

ketidakadilan, ia menjadi anak yang gigih dalam pendiriannya, ia yakin akan

sesuatu yang dianggapnya benar (13). Kala kecil memiliki ciri fisik kulit hitam

yang kusam, rambut keribo yang bergerombol, mata sipit nyaris tanpa alis, dan

tubuh yang tidak pernah lebih tinggi dari pucuk tanaman jagung yang masih muda

(14). Kala remaja tumbuh menjadi Kala yang ramah, ceria, juga hangat pada

siapapun (15). Kala bisa menghargai orang yang telah baik tehadapnya, yang

sudah membiayai Kala sekolah (16). Kala mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan

yang padahal itu bukanlah tugas Kala (17), (18), (19), (20). Kala dengan baik hati

bersedia untuk meringankan pekerjaan orang lain (21). Meskipun Kala dikenal

sebagai seorang yang sabar, tetapi ia pernah memaki seseorang meski hanya

dalam hati (22). Kala adalah gadis yang ramah, rajin, cekatan, mau bekerja keras,

dan tak pernah mengeluh, yang selalu dicari oleh siapa pun yang butuh bantuan

atau sekedar uluran tangan dan semua senang dengan Kala (23). Kala mulai

memikirkan tentang pernikahan (24). Meskipun Ela bukanlah anaknya tetapi Kala

berusaha memberikan perlindungan terhadap Ela dari pertengkaran yang di

dengarnya (25), (26). Kala selalu ingin membantu dengan setiap jerih payah

pikirannya (27). Kala juga sangat peduli terhadap perasaan seorang wanita (28),

(29). Kala sakit-sakitan karena disebabkan beban perasaan yang ia rasakan, ia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

banyak mengalami kehilangan orang-orang yang dicintainya (30). Kala adalah

seseorang yang tidak ingin membuat orang lain susah akan kehadirannya (31).

Kala menemukan jawaban bahwa semua yang ia lakukan dalam kehidupannya

tidaklah melulu harus selalu yang bisa dilihat nyata, tetapi sesuatu yang telah

membekas dalam hati pada orang-orang yang ditinggalkannnya (32).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

BAB III

PLOT DALAM NOVEL JEJAK KALA

KARYA ANINDITA S. THAYF

Plot memiliki tahapan-tahapan bagian. Seperti rincian yang dikemukakan

oleh Tasrif (dalam Nurgiyantoro, 2005: 149-150) bahwa rincian yang

membedakan tahapan plot menjadi lima bagian. Kelima tahapan itu adalah:

Pertama, tahap situation atau tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi

pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh(-tokoh) cerita. Tahap ini

merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain yang

terutama berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap

berikutnya. Kedua, adalah tahap generating circumtance atau tahap pemunculan

konflik, masalah(-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya

konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awalnya munculnya

konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi

konflik-konflik pada tahap berikutnya. Tahap ketiga adalah tahap rising action

atau tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada tahap

sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya.

Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencekam dan

menegangkan. Tahap empat adalah tahap climax atau klimaks, konflik dan atau

pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakui ada atau ditimpakan kepada

para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan

dialami oleh tokoh(-tokoh) utama yang yang berperan sebagai pelaku atau

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

penderita terjadinya konflik utama. Dan tahap yang kelima adalah tahap

denoument atau tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberi

penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain, sub-konflik,

atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga diberi jalan keluar, cerita diakhiri.

Pada bab ini penulis akan membahas lima tahapan plot tersebut diatas.

3.1 Tahap Situation atau Tahap Penyituasian

Tahap Situation atau tahap penyituasian adalah tahap yang terutama berisi

pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh(-tokoh) cerita. Tahap ini

merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain

yang, terutama, berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada

tahap berikutnya.

Tahapan ini dapat dilihat pada kutipan-kutipan berikut.

Kutipan berikut menjelaskan tentang latar tempat cerita dalam novel Jejak

Kala dikisahkan dan juga informasi tentang tempat dan waktu yaitu di Kaki

Gunung Boliohutu pada tahun 1963. Informasi tentang tempat dan waktu tersebut

terdapat pada kutipan (33). Pada kutipan (34), mulai diperkenalkan adanya tokoh

Emak dan juga tokoh Kala. Sebagai tokoh utama dalam cerita, Kala, sudah

diperkenalkan tentang rutinitas Kala setiap hari. Kala harus selalu bangun pagi

untuk segera bekerja di tempat Pak Dukuh. pengenalan yang di dapat adalah

Emak sebgai ibu dari Kala juga tempat dimana Kala bekerja setiap hari yaitu di

tempat Pak dukuh.

(33) Kaki Gunung Boliohutu, 1963 (Thayf, 2009: 1). (34) Tiap hari begini. Selalu seperti ini. Tanpa pernah ada yang berubah

sejak kakinya mulai lincah berjalan dan tangannya cekatan bekerja,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

dan emak membawanya ke rumah Pak Dukuh entah beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, Kala sudah tidak ingat. Mungkin, rupa-rupa keranjang beban selalu dibawa di atas kepalanya mendesak keluar sebagian ingatan itu lewat keringat yang membasahi rambut. Sebelum subuh benar-benar mengakhiri malam, emak sudah lebih dulu mengakhiri kenikmatan lelapnya dengan tepukan lembut di pipi. Kala, bangun! Waktunya mulai bekerja, bisik perempuan itu tegas, sangat dekat di telinga. Seketika buyarlah mimpi-mimpi Kala (Thayf, 2009: 3).

Kutipan (35) berikut memberikan pengenalan tokoh Kala waktu kecil,

bahwa Kala kecil masih ingusan, tingginya masih setinggi anak pohon pisang dan

belum bisa bersekolah. Kutipan tersebut di atas juga mengenalkan adanya tokoh

Bu Dukuh.

(35) Masih ingusan, menurut orang-orang yang sering melihatnya melap ingus dengan baju. Masih setinggi anak pohon pisang, komentar tetangganya, si pemilik kebun pisang. Masih belum bisa bersekolah, kata istri Pak Dukuh (Thayf, 2009: 4).

Kutipan (36) berikut memberikan informasi tentang tokoh Kala, bahwa

Kala adalah seorang yang optimis.

(36) Ah, mungkin nanti jika aku sudah tidak ingusan lagi, tubuhku bertambah tinggi. Dan, kalau sudah bersekolah, emak tidak akan menyuruhku bekerja seperti ini, Jika sudah begitu, aku bisa bermain sepuas hati dari pagi sampai sore. Wah senangnya! (Thayf, 2009:5).

Kutipan (37) menggambarkan bagaimana situasi latar saat Kala harus

menuju ke sungai. Kutipan ini juga menjelaskan pekerjaan Kala yang harus

menuju sungai untuk mencuci pakaian dan mengambil air untuk memasak.

(37) Kala sangat hafal jalan menuju sungai jernih yang mengalir lancar di kaki bukit sana. Dari rumahnya, ia cukup berjalan lurus melintasi hamparan padang ilalang, terus hingga sampai ke sisi tanah yang melandai. Selanjutnya, Kala harus turun melalui jalan setapak yang licin dan berlumut, memutari rimbun bambu, sebelum kemudian tiba di sungai yang dituju. Sungguh tidak butuh waktu yang lama.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

Karenanya, tugas mencuci pakaian dan mengambil air untuk masak pun bisa ia selesaikan cukup cepat (Thayf, 2009: 5).

Kutipan (38) berikut menunjukkan latar dan keadaan perjalanan yang

harus ditempuh Kala saat berangkat dari rumah menuju tempat kerjanya yaitu di

tempat Pak Dukuh.

(38) Ada pun rumah Pak Dukuh begitu jauh dari rumahnya. Melewati sebuah hutan kecil, kebun, halaman rumah orang, menyusuri jalan besar, hingga tiba di sebuah rumah paling besar di tangah desa. Di rumah itulah, Kala bekerja sebagai pesuruh dengan bayaran kecil. Suasana di rumah Pak Dukuh cukup terang karena ada lampu minyak kecil di teras depan dan bagian belakang rumah. Sebaliknya, di sepanjang jalan menuju ke tempat itu sungguh gelap, apalagi di hutan. Benar-benar gelap! (Thayf, 2009: 5-6).

Kutipan (39) memberikan informasi adanya tokoh Ina (anak perempuan

Pak Dukuh) yang suka mengejek Kala.

(39) Baru kali ini Kala berlari sekencang itu, seakan berlomba dengan angin. Wajar saja, ia benar-benar takut. Mau menangis rasanya. Untunglah, tidak ada anak majikannya, Ina yang melihat. Jika tidak, wah, sudah pasti dirinya akan mendapat ejekan baru dari si mulut cerewet itu: Kala si penakut (Thayf, 2009: 7).

Kutipan (40) memberikan gambaran tentang kepatuhan Kala kepada

Emak.

(40) Sejak mulai bekerja pada Pak Dukuh, selama itu pula Kala harus melewati hutan kecil itu sendirian, tanpa ditemani emak yang sudah lebih dulu pergi berkeliling mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di pasar, demi kepatuhannya pada emak, Kala terpaksa harus melawan rasa kantuk, dingin, dan takut itu hari demi hari (Thayf, 2009: 7-8).

Kutipan (41) berikut memberikan gambaran tokoh Kala yang

membayangkan dalam benaknya bahwa sangat enak menjadi anaknya Pak dukuh.

(41) Tidak ada yang lebih enak selain menjadi anaknya Pak Dukuh, begitu menurut Kala. Sambil bersusah payah menimba air dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

sumur untuk mengisi penuh bak mandi, dicobanya mengingat-ingat apa saja keenakan itu. Bisa tidur lebih lama, ucap Kala spontan dalam hati (Thayf, 2009: 8).

Kala kecil belajar untuk menyadari ada banyak hal yang lebih penting

daripada dirinya sendiri. Kala menyadari bahwa apa yang dilakukan Kemi

merupakan hal yang sangat penting bagi keluarga mereka, terutama karena Kemi

menghidupi keluarga. Kala juga belajar lebih menghargai Kemi dan pekerjaanya

setelah mendengar jawaban Emak. Hal tersebut digambarkan pada kutipan

berikut, sekaligus memberikan informasi bahwa Kemi adalah kakak perempuan

Kala.

(42) Mengapa Kemi boleh tidur lebih lama, sedangkan aku tidak? Sekali waktu pertanyaan itu pernah diutarakannya kepada emak. Karena kakakmu punya pekerjaan yang lebih berat dan penghasilan yang lebih besar. Ia harus seharian menjaga toko dan tidak boleh mengantuk, kecuali ia akan menghitung uang dan merugikan majikannya. Bukankah kita tidak ingin kakakmu dipecat gara-gara kurang tidur? jawab emak. Sejak itu, Kala berhenti mengomel jika melihat Kemi masih meringkuk di balik kehangatan sarung, sementara dirinya harus mulai berbaur dalam selimut kabut pagi yang dingin (Thayf, 2009: 8-9).

Kutipan berikut memberikan pengenalan pada tokoh Ina yang paling anti

diperintah. Juga adanya tokoh yang bernama Kei (anak bungsu Pak Dukuh)

adik Ina.

(43) Ia tahu, Ina paling anti-diperintah, kecuali oleh bapaknya. Tapi, apa boleh buat, bocah perempuan yang lebih tua beberapa tahun dari Kala itu tidak bisa mengelak dari kebenaran kata-kata Kala. Si bungsu, Kei, memang akan bangun sebentar lagi (Thayf, 2009: 9).

Dalam kutipan berikut terdapat pengenalan juga pelukisan tokoh Pak

Dukuh yang bertubuh pendek dan gemuk dan cepat marah tanpa alasan. Pada

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

kutipan berikut juga digambarkan bahwa Kala adalah seorang anak yang senang

berfantasi, Kala membayangkan Pak Dukuh seperti benda atau bentuk dari

makanan dan juga bentuk dari tanaman.

(44) Begitu Kei selesai, giliran Pak Dukuh yang mendatangi kamar mandi. Ia adalah seorang laki-laki paruh baya bertubuh bulat. Betul bulat! Menurut Kala, semua yang ada pada majikannya itu serba bulat; tubuh pendek yang gemuk, lengan dan kaki serupa lontong padat, perut buncit mirip separuh bola, dan bentuk wajah yang sesempurna bulan di hari kelima belas. Bahkan Kala melihat kalau jari-jari Pak Dukuh pun mirip bulat-bulatan jahe-membuatnya selalu tertawa jika kebetulan teringat hal itu saat sedang berbelanja di pasar. Pak Dukuhlah yang paling lama mandi di antara semua penghuni rumah itu. Ia selalu masuk kamar mandi sambil tersenyum kecut dan keluar dengan senyuman lebar. Hampir mirip sifat kei, Pak Dukuh cepat marah tanpa alasan (Thayf, 2009: 11).

Kutipan berikut menginformasikan adanya tokoh Salma (anak perempuan

tertua Pak Dukuh; kakak perempuan dari Ina dan Kei) dan pelukisannya dalam

cerita. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

(45) Berikutnya sudah menunggu anak tertua majikan Kala, Salma. Ia yang sejak tadi duduk di ruang tengah segera bangkit berdiri begitu melihat bapaknya keluar dari kamar mandi dengan leher berkalung handuk. Dari ruang tengah yang pintunya hanya diberi kain tipis, suasana kamar mandi dan ruang cuci terlihat cukup jelas. Sambil tersenyum ramah, gadis hitam manis itu berjalan mendekati Kala yang tampak kelelahan (Thayf, 2009: 11).

Tokoh Salma dipaparkan pelukisan ciri fisiknya, seperti pada kutipan

berikut.

(46) Ia juga menggumi fisiknya; rambut ikal panjang sepunggung, bibir tipis yang merah, hidung mungil berujung lancip, san mata bulat yang berpayung bulu mata lentik. Sungguh cantik Kak Salma! (Thayf, 2009: 12).

Tokoh Kala kecil digambarkan sebagai tokoh yang sabar melakukan

sesuatu. Kala sadar akan tanggung jawab pada pekerjaannya bahwa pekerjaan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

yang dilakukannya itu haruslah selesai meskipun pekerjaan itu cukup berat untuk

ukuran umur seorang bocah seperti Kala. Hal tersebut terdapat pada kutipan

berikut.

(47) Kala! Kalau baknya sudah penuh, istirahatlah dulu, Nak. Pergilah ke dapur untuk sarapan pagi. Bukankah setelah aku tidak ada lagi yang mandi pagi? (Thayf, 2009: 12).

(48) Iya, Bu. Sebentar lagi, Kala menjawab setengah berteriak sambil terus menarik tali timba dengan tangannya yang mulai gemetar. Bayangkan, ia sudah menimba satu jam lebih, tapi bak itu tidak pernah bertahan penuh karena selalu saja ada yang mandi (Thayf, 2009: 12-13).

Pelukisan tokoh Bu Dukuh (istri Pak Dukuh-majikan Kala) terdapat pada

kutipan berikut.

(49) Suara keibuan yang hangat itu adalah suara istri Pak Dukuh. ia seorang perempuan berkulit putih seperti Ina, berambut ikal seperti qSalma, dan berbadan gemuk-besar seperti Kei. Kala hafal sekali dengan raa keakraban yang ditawarkannya (Thayf, 2009: 12).

Kutipan berikut menginformasikan adanya tokoh Ano dalam cerita,

diceritakan juga bagaimana penggambaran tokoh Ano. Ano adalah tukang masak

di rumah Bu Dukuh tempat Kala bekerja. Berikut kutipannya.

(50) Tadi Ano masak nasi goreng terasi, ucap Bu Dukuh sambil berjalan mendekat. Ano adalah tukang masak di rumah itu (Thayf, 2009: 13).

(51) Lalu, terbayang dalam kepala Kala, sosok si tukang masak, Ano. Seorang perempuan tua bertubuh agak bongkok dan berambut cepol sedang berdiri dengan tubuh mengerut di depan kompor, sembari memegang penggorengan (Thayf, 2009: 13).

Tokoh Kala kecil digambarkan sebagai seorang anak yang bertubuh kecil

dan pendek. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan percakapan Kala dengan Ano

(tukang masak Bu Dukuh) saat sedang berada di dapur saat sedang makan sebagai

berikut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

(52) He-eh. Aku hanya makan ikan kecil-kecil, nasi, dan sambal. Nah, itu dia. Makanya tubuhmu seperti itu terus sejak dulu. Seperti bagaimana? Kecil dan pendek. (Thayf, 2009: 15).

Kala kecil digambarkan senang berfantasi dengan hal-hal yang

dijumpainya. Dalam kutipan berikut, saat Kala berada di pasar bersama Bu

Dukuh, Kala berkhayal layaknya anak-anak seusianya, dan khayalan itu dirasa

sangat indah baginya. Berikut kutipannya.

(53) Di mata Kala, panggung itu sangat tinggi. Dia harus membuang kepalanya jauh ke belakang untuk dapat melihat dengan jelas hingga ke puncak. Di matanya, undak-undakan itu serupa tangga menuju langit dan membuat si penjual yang sedang duduk di puncak sana seakan-akan tinggal di atas gunung tinggi. Gunung yang ditumbuhi sabun mandi, bedak, sisir, dan bermacam barang jualan lain, bukan rumput atau bunga. Oh, betapa menyenangkan! (Thayf, 2009: 16).

Pada kutipan berikut, tokoh Kala kecil digambarkan sebagai bocah yang

pantang menyerah, Kala mempunyai semangat yang besar. Kala harus membawa

barang belanjaan yang dibeli Bu Dukuh ditumpangkan di atas kepalanya

walaupun beban itu dirasa cukup berat bagi Kala.

(54) Tanpa berkata-kata, Kala mempersiapkan kepalanya untuk kembali ditumpangi beban. Sehelai kain lusuh yang berfungsi sebagai pengalas dilipatnya beberapa kali hingga cukup tebal, sebelum kemudian ditaruh tepat di puncak kepala. Setelah itu, barulah meletakkan keranjang belanjaan yang berat itu di atasnya dengan hati-hati. Sesaat, leher Kala tampak menggigil menerima beban di luar kemampuannya. Tapi, dengan semangat yang besar, Kala menguatkan-nguatkan lehernya hingga bertonjolanlah urat-urat yang ada di situ (Thayf, 2009: 18-19).

Pada kutipan berikut digambarkan bahwa Kala belajar untuk bekerja keras

dan menghargai pekerjaan orang lain. Pekerjaan di rumah Pak Dukuh harus

dikerjakan dengan penuh tanggung jawab, dan Kala juga tahu Emaknya berusaha

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

memenuhi tanggung jawab itu sebagai pekerja di rumah Pak Dukuh. Kala tidak

senang melihat ibunya bekerja terlalu keras, apalagi karena anak-anak Pak Dukuh

yang tidak pernah menghargai pekerjaan Emak.

(55) Kala menemukan emak sedang menyikat sebuah celana selutut berwarna merah. Tanpa perlu bertanya, ia sudah tahu siapa pemiliknya. Ina. Hanya anak itu yang suka berpakaian warna mencolok seperti merah dan kuning. Pun, tiasa yang lain selain Ina yang pakaiannya paling kotor karena kerap dipakai memanjat pohon atau duduk sembarangan. Setiap kali melihat susahnya emak menhilangkan noda kotor akibat ulah Ina itu, ingin rasanya Kala mencelup semua pakaian berwarna ke dalam seember cat hitam agar noda yang ditinggalkannya tidak begitu kelihatan. Apalagi, Kala selalu mendengar Ina mengadu pada mamaknya bahwa emak tidak bersih mencuci, tanpa mau tahu betapa kerasnya usaha emak menyikat pakaian itu tanpa membuatnya sobek (Thayf, 2009: 19-20).

Meskipun Kala sudah merasakan capek, tetapi ia seperti tidak pernah

kehabisan tenaga. Kala digambarkan sebagai seorang anak yang selalu bersedia

dan ingin membantu meringankan pekerjaan orang lain. Hal tersebut terdapat pada

kutipan berikut.

(56) Mmm... aku akan membantu Emak saja. Biar cuciannya bisa segera dijemur, jawab Kala cepat sebelum terdengar ada yang mengomel lagi (Thayf, 2009: 21).

Pengenalan terhadap adanya tokoh Pak Zae. Pak Zae adalah buruh tani

yang dipekerjakan oleh Pak Dukuh. Pak Zae juga digambarkan sebagai orang

yang suka mencaci. Berikut kutipannya.

(57) Maaf, Pak Zae. Bukan salahku, jawab Kala ketika sudah mendekat, Tapi Ano baru saja selesai memasak. (Thayf, 2009: 26).

(58) Perawan tua itu memeang begitu, Pak Zae seakan berbicara pada dirinya. Selalu bikin kesal dengan tingkahnya yang aneh. Mungkin sengaja cari perhatian atau apalah. Dasar perempuan tidak laku! Lalu terdengar dengus kerasnya mengakhiri omongan (Thayf, 2009: 26).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

(59) Kasihan Ano, sudah capek-capek memasak, malah dicaci, gumam batinnya keras. Rasa tidak enak hati terpancar di wajah Kala saat ia bergegas menaruh barang bawaannya dan mulai sibuk mempersiapkan makan siang untuk kesepuluh buruh tani Pak Dukuh yang pasti sudah kelaparan (Thayf, 2009:26).

Tokoh Kala kecil digambarkan sebagai tokoh yang sadar akan tanggung

jawab yang besar di usianya yang masih kanak-kanak. Meskipun begitu Kala kecil

tetaplah kanak-kanak yang masih mempunyai keinginan untuk bermain seperti

anak-anak kecil lainnya. Tetapi keinginannya hanya bisa ia lakukan dalam angan

dan Kala cukup bisa menerima keadaan yang berbeda itu, bahwa Kala sadar akan

tanggung jawab yang diembannya dan karena Kala juga tidak ingin menyusahkan

orang lain akibat dari kesalahannya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut

ini.

(60) Andai saja ada yang tahu isi hati Kala, sebenarnya ia sangat ingin bermain di tengah siang yang terik begini. Membasahi yang telah dipakainya bekerja sejak subuh dengan kesejukan air, seperti tingkah segerombolan anak-anak yang dilihatnya saat melewati jembatan tadi. Mereka berkecipak-cipak girang tanpa beban di sengai kecil berair kecil yang bahagia. Sayang, Kala tidak bisa begitu. Jika ia memaksa singgah walau sebentar, sudah pasti telinganya akan mendengar omelan banyak orang. Pak Zae yang kelaparan, Ano yang terlalu lama kehilangan cerek dan gelas, dan emak yang mendapat teguran Bu Dukuh - karena laporan Pak Zae. Kala hanya bisa bermain air dalam angan, seperti biasa. Memang tidak semenyenangkan yang nyata, tapi cukuplah menerbitkan senyum di bibir bocah itu (Thayf, 2009: 27).

Kala digambarkan sebagai anak yang ingin menjadi seseorang yang

disukai oleh orang lain dan orang lain bisa merasa nyaman berada di dekatnya,

Kala tidak ingin dibenci orang-orang. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(61) Um, aku ... aku kalau marah, malah merasa tidak enak ya, Ano? Seperti sedang sakit gigi. Semua serba murung. Makin tidak enak. Tidur tidak enak. Dan rasanya, wajahku tiba-tiba berubah menyeramkan sehingga orang-orang malah menjauh, termasuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

emak dan kemi. Padahal, aku tidak ingin begitu, Ano. Aku ingin semua orang suka berada di dekatku. Makanya, aku berusaha untuk tidak marah. Aku tidak mau dibenci orang-orang. (Thayf, 2009: 32 -33).

Kala kecil juga digambarkan pula seorang anak kecil yang sudah mampu

untuk mengurus dirinya sendiri juga dalam hal mengurus keperluan makan

anggota keluarganya (Emak dan Kemi-kakak perempuan Kala). Hal ini dapat

dilihat dalam kutipan berikut.

(62) Aroma khas ikan goreng masih mengapung di langit-langit rumah ketika Kemi datang. Kala baru saja selesai memasak. Ia sedang sibuk mengaduk-aduk nasi panas dalam bakul sambil sesekali meniup-niup uapnya yang memedihkan kulit (Thayf, 2009: 36).

3.2 Tahap Generating Circumtance atau Tahap Pemunculan Konflik

Tahap generating circumtance atau tahap pemunculan konflik merupakan

tahap yang memunculkan masalah(-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang

menyulut terjadinya konflik. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya

konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi

konflik-konflik pada tahap berikutnya.

Tahapan ini dapat dilihat pada kutipan-kutipan berikut.

Kutipan (63), Kala memulai kenakalannya, seperti sengaja mengoleskan

getah buah jambu monyet pada apel yang akan dimakan Pak Zae, sehingga Pak

Zae jadi gatal-gatal. Pada kutipan (64), (65) dan (66), Kala juga menaruh kertas

ulangan Ina di meja sehingga dilihat oleh orang tua Ina yang sebelumnya Ina telah

dengan sengaja menaruh kertas ulangannya yang mendapat nilai jelek itu di

tumpukan sampah yang siap di bakar oleh Kala saat setelah menyapu halaman

dengan maksud supaya nilai ulangan yang jelek itu tidak diketahui oleh mamak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

juga bapaknya, hal itu membuat Ina sangat marah dan akhirnya terjadi perkelahian

Ina dengan Kala. Kutipan (67), kenakalannya ini adalah sebagai bentuk protes

terhadap keputusan yang telah diambil Emak bahwa Kala harus ikut bersama

majikannnya yang baru, pindah dan bekerja di kota. Alasan Kala melakukan

kenakalan itu karena disebabkan oleh perasaan Kala yang merasa bahwa Emak

sengaja berbuat begitu untuk menyingkirkannya, bahwa Emak tidak mau

mengurusnya lagi dan Emak ingin membuang Kala dan juga Emak merasa malu

dengan Kala, dan juga karena Kala sebenarnya tidak ingin pergi ke kota. Itulah

yang ada dalam benak Kala saat ia tahu Emak mengambil keputusan atas dirinya.

Berikut kutipannya.

(63) O, ho, ho! Kala menahan gelinjang kesenangan di hatinya. Getah itu kini sudah menyebar. Bercak-bercak cokelatnya tampak dimana-mana. Rencananya berhasil. Tak lama lagi, getah yang berasal dari buah jambu monyet, yang sengaja diolesnya dengan hati-hati ke seluruh permukaan apel, akan membuat Pak Zae bertingakh mirirp monyet sungguhan, menggaruk kulitnya yang gatal terkena getah (Thayf, 2009: 51).

(64) Ternyata kau sudah berani melawan ya, Kala, Ina membuka percakapan dengan suara perlahan, tapi kemudian berubah sengit, Katakan padaku! Apa maksudmu menaruh kertas-kertas itu di atas meja?! Bukankah kertas itu sudah kutaruh di antara tumpukan dun kering yang akan kau bakar sore nanti? Lalu, mengapa tidak kau bakar saja seperti biasa? Apakah kau tidak tahu betapa marahnya Mamak dan Bapak padaku tadi? Sekarang, aku kena hukuman. Kena omelan. Itu semua gara-gara kau, Kala! (Thayf, 2009: 52-53).

(65) Tubuh Ina yang lebih tinggai membuat Kala tidak mungkin balas menarik rambut anak itu, apalagi potongannya pendek model laki-laki. Kala juga tidak mungkin menggigit lengan Ina yang tergantung cukup tinggi dari mulutnya. Maka, dengan mengandalkan naluri, Kala memulai serangan dengan terlebih dulu menghantamkan tumitnya pada punggung kaki Ina kuat-kuat (Thayf, 2009: 54-55).

(66) Dari wajahnya yang memucat dan lelehan air mata di kedua sisi pipi, Kala tahu betapa parah rasa sakit yang dirasa Ina saat ini,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

lebih sakit daripada benturan tanpa sengaja kaki meja pada tulang kering (Thayf, 2009: 55).

(67) Kala pun sengaja berbuat nakal untuk menyakiti hati perempuan itu, sekaligus sebagai protes atas keputusan yang telah diambil emak. Selain itu, Kala juga berpikir bahwa mungkin saja tamu-tamu Pak Dukuh akan batal mengajaknya ke kota jika ia menunjukkan sikap nakal (Thayf, 2009: 59).

Kala merasa sakit dan sedih, bukan cuma sakit fisik karena akibat dari

kenakalannya ia dipukuli pantatnya dengan tongkat bambu oleh Emak, yang

selama ini tidak pernah menyakiti fisiknya. Dari peristiwa itu Kala merasakan

bentuk perbedaan, perbedaan fisik Kala dengan Kemi dan juga perbedaan sikap

Emak kepada Kala yang berbeda daripada sikap emak ke Kemi bahwa Kala

merasa emak selalu perhatian dan dan tidak pernah terlalu keras pada Kemi. Pada

kutipan ini juga dipaparkan kembali ciri-ciri fisik Tokoh Kala. Berikut

kutipannya.

(68) Dengan memendam rasa sakit dan kecewa, bocah itu memaksa kakinya berlari menjauhi petak kamar kecil di bagian belakang rumah Pak Dukuh, tempat ia menerima hukuman tadi. Meninggalkan Emak yang duduk termenung di depan meja setrika setelah kelelahan memukul dan mengomel, melarikan diri dari seluruh penghuni rumah itu terutama Ina. Tanpa peduli tatapan penuh selidik orang-orang yang dijumpainya sepanjang perjalanan , Kala membiarkan kakinya menentukan arah ke mana semua sakit hati dan kecewa itu akan ia labuhkan (Thayf, 2009: 58).

(69) Entah sejak kapan, Kala mulai bisa melihat perbedaan yang ada antara ia dan kakaknya itu. Kulit hitam yang kusam dan kering, rambut kribo yang bergerombol serupa kembang kol, mata sipit yang nyaris tanpa alis saking tipisnya- dan tubuh yang seakan tidak pernah lebih tinggi dari pucuk tanaman jagung yang masih muda. Berlawanan dengan milik Kemi. Tapi, perbedaan yang palling menyakitkan bagi Kala adalah sikap Emak. Seingatnya, Emak selalu perhatian dan tidak pernah terlalu keras pada Kemi. Yang terjadi pada dirinya adalah kebalikan daripada itu. Kata-kata Emak selalu tegas padanya. Kerja, kerja, dan kerja, itulah yang tak henti diserukan emak di telinga Kala sejak hari masih terlalu dini untuk dimulai hingga petang tiba. Adakah ia benar-benar anak Emak atau bukan? Pertanyaan serupa itu selalu membuat kepalanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

tiba-tiba sakit. Bocah itu mengerutkan dahi dalam-dalam sambil meringis pedih (Thayf, 2009: 59-60).

(70) Lama, Kala bertahan dalam posisi itu, tak bergerak. Entah tidur atau melamun, yang pasti, semua kejadian di hari ini datang silih berganti dalam pikirannya, berseling rasa kecewanya pada Emak-yang jika makin diingat, kecewa itu berubah jadi marah, lalu benci. Ya ia benci pada emak yang telah menghukumnya begitu rupa, padahal menurutnya, kesalahan itu tidaklah sedemikian besar. Ia juga benci pada Ina yang tidak mendapat hukuman sama sekali dari mamak atau bapaknya, padahal anak itulah yang sering berbuat salah dan mengawali perkelahian. Pak Zae juga dibencinya karena langsung melapor pada Bu Dukuh begitu merasa dirinya dijahili Kala, padahal sejak pertama kali mandor itu melakukan hal serupa pada Kala, dirinya tidak perna dilaporkan. Baru kali ini, Kala merasa dunia begitu pilih kasih. Begitu kejam. Ia pun mulai berpikir untuk membenci dunia. Maka, direngutkan wajahnya (Thayf, 2009: 60-61).

Pada kutipan berikut dipaparkan tentang informasi tentang adanya tokoh

sepasang suami istri yaitu Kak Tien juga Kak Banar sebagai majikan Kala yang

baru di kota. Sepasang suami istri ini telah sebelumnya datang ke tempat Pak

Dukuh untuk mencari seorang anak perempuan yang masih kecil tetapi sudah bisa

bekerja, dan bekerja sebagai pengasuh anak dari pasangan suami istri majikan

baru Kala tersebut. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.

(71) Tamu dari kota itu mencari seorang anak perempuan yang masih kecil, tapi sudah bisa bekerja, untuk dijadikan teman sekaligus pengurus anak pertama mereka (Thayf, 2009: 67).

(72) Mulai sekarang, panggil saja aku Kak. Kak Tien, tegasnya (Thayf, 2009: 69).

(73) Dan suamiku itu, selanjutnya, Kak Tien menunjuk ke sosok laki-laki yang duduk di kursi penumpang depan, sebelah sopir, panggil saja Kak Banar. (Thayf, 2009: 69).

Terdapat informasi yang menjelaskan tentang latar tempat yaitu di Manado

dan latar waktu yaitu pada tahun 1969 dan juga memeberikan gambaran tentang

tokoh Kala bahwa ia sudah bukan anak kecil lagi. Hal ini terdapat pada kutipan

berikut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

(74) Manado, 1969 (Thayf, 2009: 71). (75) Sosok itu memang kecil, tapi ia sudah bukan anak kecil lagi.

Sikapnya menunjukkan itu, begitu pula perubahan di beberapa bagian tubuh yang tampak membesar dan menonjol, meski terkadan