MAKALAH sgd 3

  • View
    56

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

data

Text of MAKALAH sgd 3

DISASTER NURSING

SGD 7

Thayakinta Pertiwi1002105019Kadek Dwi Pradnya Iswari1002105040Ni Made Dewi Ratnasari 1002105045Ayu Ervyna Novita Sari 1002105051Ni Luh Putu Devi Kusumayanti 1002105053I Gede Ardi Suyasa1002105057Ni Wayan Yuliantari 1002105059Ni Made Putri Karuniawati1002105065Kadek Ana Dwijayanti 1002105075Ni Luh Putu Dian Yunita Sari 1002105083Ni Putu Ayu Jayanti 1002105089

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA2013Learning task kamis, 5 Desember 20131. Sebutkan dan jelaskan jenis pendarahan dan jelaskan penanganannya 2. Sebutkan dan jelaskan fraktur dan jelaskan penanganannya3. Jelaskan tentang syndrome kompartemen 4. Jelaskan tentang syok, jenis syok dan manifestasi klinis dari syok5. Jelaskan tentang peningkatan tekanan intracranial, penyebab dan tanda klinisnya6. Sebutkan dan jelaskan isi dari kotak P3K7. Carilah gambar atau video tentang bandage dan splinting

Didemonstrasikan Buatlah balutan pada cedera kepala Buatlah balutan pada trauma dada Buatlah balutan pada luka laserasi pada lengan \ ketiak Buatlah balutan pada luka amputasi Buatlah balutan mitela untuk menggantungkan lengan yang cedera Buatlah balutan pada fraktur klavikula Buatlah bidai pada fraktur femur sinistra

1. Jenis perdarahan dan penanganannya:A. Perdarahan Luar (terbuka)Jenis perdarahan ini terjadi akibat kerusakan dinding pembuluh darah disertai dengan kerusakan jaringan kulit, yang memungkinkan darah keluar dari tubuh dan terlihat jelas dari luka. Bila kita menjumpai perdarahan terbuka, makakita sebagai penolong harus berhati-hati karena darah korban bisa saja menular pada kita. Berdasarkan rusaknya pembuluh darah yang mengalami gangguan, perdarahan luar diklasifikasikan menjadi:a) Perdarahan nadi (arteri)Plasma darah yang berasal dari pembuluh nadi keluar menyembur sesuai dengan denyut nadi dan berwarna merah terang karena masih kaya oksigen (O2). Banyaknya plasma darah yang keluar dipengaruhi tekanan sistoloik, bila tekanan menurun maka pancaran darah berkurang. Hal inilah yang membuat perdarahan arteri sulit dikendalikan, sehingga perlu pemantauan dan pengendalian ekstra sepanjang perjalanan menuju fasilitas kesehatan.b) Perdarahan balik (vena)Plasma darah yang berasal dari pembuluh balik keluar mengalir dan berwarna merah gelap. Pendarahan jenis ini mudah untuk dikendalikan karena tekanan dalam pembuluh balik lebih rendah dari pada tekanan luar.c) Perdarahan kapiler Pendarahan berasal dari pembuluh kapiler, darah yang keluar merembes perlahan. Hal ini dikarenakan tekanan pembuluh darah ini sangat kecil dibandingkan pembuluh arteri dan vena. Warna plasma darah yang keluar bervariasi antara merah terang seperti darah arteri dan merah gelap sepertidarah vena.Perdarahan luar pada dasarnya bisa dikendalikan dengan 4 cara berikut:a) Tekanan langsung di tempat perdarahanCara ini adalah yang terbaik untuk perdarahan luar pada umumnya. Caranya adalah dengan menggunakan setumpuk kasa steril atau kain bersih biasa,tempat perdarahan itu ditekan. Tekanan tersebut harus dipertahankan sampai terhenti atau sampai pertolongan yang lebih lanjut (pertolongan olehtenaga medis) dapat di berikan. Penekanan ini dilakukan selama 15-20 menit atau sampai terfiksasi sehingga tidak ada lagi perdarahan. Kasa boleh dilepas apabila kasa sudah terlalu basah oleh darah dan perlu diganti denganyang baru. Kemudian kasa tersebut di tutup dengan dengan balutan yang menekan, dan bawa penderita ke rumah sakit.b) Elevasi (dilakukan bersamaan penekanan)Tindakan ini hanya berlaku untuk perdarahan di daerah alat gerak saja.Tinggikan anggotan badan yang berdarah lebih tinggi dari jantung. Ini akan menyebabkan daya tarik bumi mengurangi tekanan darah, sehingga memperlambat perdarahan. Jangan menggunakan metode ini bila ada indikasi cedera otot rangka dan benda tertancap.c) Tekanan pada tempat-tempat tertentuTempat-tempat yang di tekan adalah hulu (pangkal) pembuluh nadi yang terbuka. Jadi tujuan dari penekanan ini adalah untuk menghentikan aliran darah yang menuju ke pembuluh nadi yang cidera. Perhatikan gambar berikut, garis garis panah menunjukkan arah aliran darah di dalam pembuluh nadi, tempat-tempat yang ditekan terletak diantara jantung dan tempat luka.

Cara lain yang dapat membantu menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut : Imobilisasi dengan atau tanpa pembidaian Kompres dingin Metode TorniketPenggunaan metode Torniket: Torniket adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah di bawahnya terhenti sama sekali. Sehelai pita kain yang lebar, pembalut segitiga yang di lipat-lipat, atau sepotong ban dalam sepeda dapat digunakan untuk keperluan ini. Panjang torniket harus cukup untuk dua kali melilit bagian yang hendak di balut. Tempat yang paling baik untuk memasang torniket ini adalah lima jari di bawah ketiak (untuk perdarahan di lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk perdarahan di kaki).Cara menggunakan torniket ini adalah:1) Lilitkan torniket di tempat yang dikehendaki. Lebih bagus lagi apabila sebelumnya dialasi dengan kain atau kain kasa untuk mencegah timbulnya lecet pada kulit yang terkena torniket langsung.2) Apabila menggunakan kain maka ikatkan dengan sebuah simpul hidup,kemudian selipkan sebatang kayu di atas simpul tersebut. Selanjutnya diikatlagi dengan simpul air untuk mengencangkan torniket, tetapi jangan diputar terlalu keras, karena dapat melukai jaringan-jaringan di bawahnya.3) Tanda-tanda apabila torniket ini sudah dapat memperkecil denyut nadi bagian tubuh yang berada di bawah torniket, akan terlihat dari warna kulitdi sekitar daerah tersebut menjadi kekuningan.4) Untuk memudahkan pengusungan, perlihatkan torniket, jangan di tutup dengan selimut. Selain itu setiap 10 menit torniket harus dikendurkan selama 30 detik, untuk memberi kesempatan darah memberi makanan-makanan ke jaringan di bawah torniket tersebut. Sementara torniket kendor,luka dapat ditekan dengan kasa steril.5) Penderita yang ditorniket harus segera dikirim ke rumah sakit, untuk memperoleh pertolongan selanjutnya.B. Pendarahan Dalam (tertutup)Jenis perdarahan ini terjadi akibat kerusakan dinding pembuluh darah tetapitidak disertai dengan kerusakan jaringan kulit, yang memungkinkan darah tidak keluar dari tubuh dan tidak terlihat jelas seperti pada luka memar. Perdarahan dalam umumnya disebabkan oleh benturan tubuh korban dengan benda tumpul, ataukarena jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, ledakan dan lain sebagainya. Perdarahan dalam ini juga bevariasi mulai dari yang ringan hingga yang dapat menyebabkan kematian. Mengingat perdarahan dalam berbahaya dan tidak terlihat (tersamar), maka penolong harus melakukan penilaian dari pemeriksaan fisik lengkap termasuk wawancara dan analisa mekanisme kejadiannya.Penatalaksanaan pada pendarahan dalam:1) Baringkan penderita2) Periksa dan pertahankan A-B-C (Air Breath Control)3) Berikan oksigen bila ada4) Rawat sebagai penderita syok5) Jangan memberikan makan dan minum sementara6) Jangan lupa menangani cedera atau gangguan lain7) Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat2. Fraktur dan penanganannya:A. DefinisiFraktur adalah gangguan kontinuitas yang terjadi ketika tulang mendapat tekanan yang lebih besar dari pada yang dapat diabsorbsinya dan dapat tejadi juga injuri jaringan lunak disekitarnya. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000). Sedangkan menurut Carpenito (1999), menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan dari tulang itu sendiri dan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price, 1995).Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999).B. Klasifikasia. Berdasarkan sifat fraktur.1) Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu: Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit/tanpa cidera jaringan lunak sekitarnya Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.2) Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.a) Derajat I luka kurang dari 1 cm kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk. fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan. Kontaminasi ringan.b) Derajat II Laserasi lebih dari 1 cm Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse Fraktur komuniti sedang.c) Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.

b. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.2). Fraktrur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:a) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.b) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.2) Fraktur Oblik: