54
Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah- Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan tutorial berdasarkan hasil diskusi kami ini dengan tepat waktu. Di dalam laporan ini, kami membahas skenario dengan judul Individu dan Kebersamaan” yang berisikan mengenai prinsip dasar sistem limbik meliputi anatomi dan fisiologi, selain itu skenario ini juga berisikan mengenai sistem saraf otonom yang meliputi fungsi, penjalarannya, dan organ-organ yang mengaturnya. Demikian laporan ini kami susun dengan harapan semoga dapat bermanfaat bagi mahasiswa kedokteran untuk memotivasi diri. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu untuk menyelesaikan laporan ini, masukan dan kritikan sangat diharapkan untuk menyempurnakan laporan ini. Mataram, 16 November 2012 Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 1

laptut kelompok 2

  • Upload
    ditanh

  • View
    261

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gyu

Citation preview

Page 1: laptut kelompok 2

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat

menyelesaikan laporan tutorial berdasarkan hasil diskusi kami ini dengan tepat

waktu.

Di dalam laporan ini, kami membahas skenario dengan judul “Individu

dan Kebersamaan” yang berisikan mengenai prinsip dasar sistem limbik

meliputi anatomi dan fisiologi, selain itu skenario ini juga berisikan mengenai

sistem saraf otonom yang meliputi fungsi, penjalarannya, dan organ-organ yang

mengaturnya.

Demikian laporan ini kami susun dengan harapan semoga dapat

bermanfaat bagi mahasiswa kedokteran untuk memotivasi diri. Terimakasih

kepada semua pihak yang telah membantu untuk menyelesaikan laporan ini,

masukan dan kritikan sangat diharapkan untuk menyempurnakan laporan ini.

Mataram, 16 November 2012

(Kelompok Tutorial II)

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 1

Page 2: laptut kelompok 2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................... 1

Daftar Isi.......................................................................................................... 2

I. Pendahuluan

1.1 Skenario 24Blok 8................................................................................ 3

1.2 Mind Map............................................................................................. 4

1.3 Learning Objective............................................................................... 4

II. Pembahasan

2.1 Proses belajar sosial yang menimbulkan sifat agresifitas…………….. 5

2.2 Bagaimana individu dapat mempengaruhi ribuan orang…………….. 7

2.3 Faktor-faktor dari individu yang dapat mempengaruhi massa……….. 8

2.4 Faktor-faktor yang menyebabkan individu masuk kedalam massa….. 12

2.5 Peranan individu dalam massa……………………………………….. 20

2.6 Cara mengendalikan suatu massa……………………………………. 20

2.7 Faktor-faktor eksternal agresifitas…………………………………… 21

2.8 Proses psikologis individu dalam massa…………………………….. 27

2.9 Konflik dalam massa…………………………………………………. 28

Daftar Pustaka................................................................................................ 35

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 2

Page 3: laptut kelompok 2

PENDAHULUAN

1.1 Skenario 4 Blok 8

” Individu dan Kebersamaan”

Apa yang dapat Saudara petik dari cuplikan kedua video tersebut?

Ilustrasi dari kedua cuplikan video diatas menggambarkan bagaimana satu

individu dapat mempengaruhi beberapa orang bahkan ribuan orang untuk

mengikutinya. Hal ini dapat terjadi karena proses dinamika gerakan massa,

yaitu penciptaan rasa kebersamaan. Tapi mengapa hal itu bisa terjadi? Apa

latar belakang yang mempengaruhi?

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 3

Page 4: laptut kelompok 2

1.2 Mind Map

1.3 Learning Objective

1. Proses belajar sosial yang menimbulkan sifat agresifitas

2. Bagaimana individu dapat mempengaruhi ribuan orang

3. Faktor-faktor dari individu yang dapat mempengaruhi massa

4. Faktor-faktor yang menyebabkan individu masuk kedalam massa

5. Peranan individu dalam massa

6. Cara mengendalikan suatu massa

7. Faktor-faktor eksternal agresifitas

8. Proses psikologis individu dalam massa

9. Konflik dalam massa

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 4

Page 5: laptut kelompok 2

I. Proses Belajar Sosial Yang Menimbulkan Sifat Agresifitas

Teori lain tentang agresi dalam lingkungan adalah teori belajar sosial.

Berbeda dari teori bawaan dan teori frustasi-agresi yang menekankan faktor-

faktor dorongan dari dalam, teori belajar sosial lebih memperhatikan faktor

tarikan dari luar. Teori belajar social mengungkapkan bahwa perilaku agresif

dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan

kebudayaan setempat atau melalui media massa. Petterson, Littman & Bricker

(1967) menemukan bahwa pada anak-anak kecil, agresivitas yang

membuahkan hasil yang berupa peningkatan frekuensi perilaku agresif itu

sendiri. Rubin (1986) mengemukakan bahwa aksi terorisme yang tidak

mendapat tanggapan dari media massa tidak akan berlanjut. Jadi, ganjaran

yang diperoleh dari perilaku agresi tersebut. Demikian pula White &

Humphrey (1994) mendapatkan bahwa wanita-wanita yang agresif telah

mengalami sendiri perlakuan agresif terhadap dirinya, baik yang diperolehnya

dari orang tuanya, teman prianya, maupun pacarnya.

Ganjaran atau hukuman terhadap perilakuan agresif tidak perlu dialami

sendiri oleh pelaku. Seperti sudah dikemukakan dalam percobaan dengan

boneka Bo-bo telah membuktikan bahwa hanya dengan melihat rekaman

video anak bisa menjadi agresif atau tidak agresif, tergantung pada jenis film

yang dilihatnya dalam rekaman video tersebut (Bandura, Ross & Ross, 1961).

Bandura (1979) juga mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun

perilaku agresif dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam

lingkungan kebudayaan setempat atau melalui media massa. Penelitian-

penelitian di Indonesia juga membuktikan bahwa kenakalan remaja sangat

terkait dengan hubungan yang tidak baik antara orang tua dan anak (Ilahude,

1983) atau apa yang dilihatnya di rumah, sekolah, dan di kalangan teman

(Retnowati,1983; Sarifuddin, 1982). Walaupun demikian, tidak berarti bahwa

tidak ada penelitian yang memandang sebagai sesuatu yang tidak negative.

McCloskey, Figuerendo & Koss (1995) adalah pakar-pakar yang menemukan

bahwa tidak ada kaitan antara pengalaman agresi dan disfungsi keluarga pada

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 5

Page 6: laptut kelompok 2

masa kanak-kanak dengan perkembangan agresivitas dan kesehatan mental

orang yang bersangkutan pada masa dewasanya. Jadi, kalaupun terjadi agresi,

menurut mereka hal tersebut bukan disebabkan oleh pengalaman masa lalu

atau kondisi kesehatan mental mereka yang kurang baik. Dengan demikian,

agresi dianggap hanya merupakan reaksi sesaat saja.

Proses-proses belajar sosial yang dapat menimbulkan perilaku

agresif:

1. Classical conditioning. Perilaku agresif terjadi karena adanya proses

mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya. Contoh: pelajar

STM X yang sering tawuran dengan pelajar STM Y akan mengasosiasikan

pelajar STM Y sebagai musuh/ancaman sehingga mereka akan berperilaku

agresif (ingin memukul/berkelahi) ketika melihat pelajar STM Y atau orang

yang memakai seragam STM Y.

2. Operant Conditioning. Perilaku agresif terjadi akibat adanya reward yang

diperoleh setelah melakukan perilaku agresif tersebut. Reward tersebut

bersifat tangible (memperoleh sesuatu yang dia mau), sosial

(dikagumi/disegani oleh kelompoknya), dan internal (meningkatkan self-

esteem orang tersebut). Contoh: A sering berkelahi dan menganggu

temannya karena ia merasa disegani oleh teman-temannya dengan

melakukan tindakan agresif tersebut.

3. Modelling   (meniru) . Perilaku agresif terjadi karena seseorang meniru

seseorang yang ia kagumi. Contoh: seorang anak kecil yang mengagumi

seorang petinju terkenal akan cenderung meniru tingkah laku petinju

favoritnya tersebut, misalnya menonjok temannya.

4. Observational Learning. Perilaku agresif terjadi karena seseorang

mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maaupun

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 6

Page 7: laptut kelompok 2

tidak langsung. Contoh: seorang anak kecil memiting tangan temannya

setelah menonton acara Smack Down.

5. Social Comparison. Perilaku agresif terjadi karena seseorang

membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai.

Contoh: seorang anak yang bergaul dengan kelompok berandalan jadi ikut-

ikutan suka berkelahi atau berkata-kata kasar karena ia merasa harus

bertingkah laku seperti itu agar dapat diterima oleh kelompoknya.

6. Learning by Experience. Perilaku agresif terjadi karena pengalaman masa

lalu yang dimiliki oleh orang tersebut. Contoh: anak yang sejak kecil sering

mengalami perilaku agresif (berkelahi/dipukuli) cenderung akan menjadi

anak yang agresif (suka berkelahi).

II. Bagaimana Individu Dapat Mempengaruhi Ribuan Orang

.

Le Bon menyatakan bagaimanapun individu-individu yang berada

dalam massa, apapun pekerjaannya, karakteristiknya, inteligensinya, mereka

akan bereaksi mengikuti pemikiran kelompok dan menghasilkan perilaku

yang berbeda dengan perilaku saat mereka terpisah dari kelompok. Menurut

Le Bon adanya efek contagion yang menyebarkan emosi dan perilaku dari

satu kepala ke lainnya, sehingga menyebabkan individu-individu dalam

massa bereaksi dengan cara yang sama. Orang yang tergabung dalam suatu

massa akan berbuat sesuatu, yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat

bila individu itu tidak tergabung dalam suatu massa. Sehingga massa itu

seakan-akan mempunyai daya melarutkan individu dalam suatu massa,

melarutkan individu dalam jiwa massa. Seperti yang dikemukakan oleh

Durkheim bahwa adanya individual mind dan collective mind, yang berbeda

satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon dalam massa itu terdapat

apa yang dinamakan hukum mental unity atau law mental unity, yaitu

bahwa massa adalah kesatuan mind, kesatuan jiwa. Menurut Allport,

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 7

Page 8: laptut kelompok 2

sekalipun kurang dapat menyetujui tentang collective mind tetapi dapat

memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity), tidak hanya

dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal perasaan (feeling)

dan dalam perbuatan yang tampak (overt behaviour).

Menurut teori dari Durkhum (mengenai teori subjektifisme) dan

Gustav Le Bon (mengenai teori objektivisme), yaitu sebagai berikut:

1. Subjektifisme teori ini menyatakan bahwa individulah yang

membentuk masyarakat dalam tingkah lakunya.

2. Objektifisme menyatakan bahwa masyarakatlah yang

menentukan tingkah laku dari suatu individu.

III. Faktor-Faktor Dari Individu Yang Dapat Mempengaruhi Massa

a. Memiliki Kharisma

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Tidak semudah yang

dibayangkan orang. Ia harus siap secara intelektual dan moral.

Karena ia akan menjadi figur yang diharapkan banyak orang /

bawahan. Perilakunya harus menjadi teladan / patut diteladani.

Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan

diatas kemampuan rata-rata bawahannya. Singkatnya: seorang

pemimipin harus mempunyai karisma. Karakteristik pemimpin yang

punya karisma adalah:

1. Perilakunya terpuji

2. Jujur dan dapat dipercaya

3. Memegang komitmen

4. Konsisten dengan ucapan

5. Memiliki moral agama yang cukup.

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 8

Page 9: laptut kelompok 2

b. Memiliki Keberanian

Tidak lucu bila seorang pemimpin tidak memiliki keberanian.

Minimal keberanian berbicara, mengemukakan pendapat, beradu

argumentasi dan berani membela kebenaran. Secara lebih khusus

keberanian itu ditunjukkan dalam komitmen berani membela yang

benar, memegang tegug pada pendirian yang benar, tidak takut

gagal, berani ambil resiko, dan berani bertanggungjawab.

c. Memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain

Salah satu ciri bahwa seseorang memiliki jiwa kepemimpinan adalah

kemampuannya mempengaruhi seseorang untuk mencapai suatu

tujuan tertentu. Dengan kemampuannya berkomunikasi, ia dapat

mempengaruhi orang lain. Adapun cara-cara untuk mempengaruhi

orang lain antara lain:

1. Membuat orang lain merasa penting

2. Membantu kesulitan orang lain

3. Mengemukakan wawasan dengan cara pandang yang positif

4. Tidak merendahkan orang lain

5. Memiliki kelebihan atau keahlian.

d. Mampu Membuat Strategi

Seorang pemimpin semestinya identik dengan seorang ahli strategi.

Maju-mundurnya perusahaan, gagal-berhasilnya suatu organisasi,

banyak ditentukan oleh strategi yang dirancang oleh pimpinan

perusahaan atau pimpinan organisasi. Adapun kriteria seorang

pemimpin yang mampu menyusun strategi:

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 9

Page 10: laptut kelompok 2

1. Menguasai medan

2. Memiliki wawasan luas

3. Berpikir cerdas

4. Kreatif dan inovatif

5. Mampu melihat masalah secara komprehensif

6. Mampu menyusun skala prioritas

7. Mampu memprediksi masa depan.

e. Memiliki Moral yang Tinggi

Banyak orang berpendapat bahwa moralitas merupakan ukuran

berkualitas atau tidaknya hidup seseorang. Apalagi seorang pemimpin

yang akan menjadi panutan. Seorang pemimpin adalah seorang

panutan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan. Tanda-

tanda seorang pemimpin yang bermoral tinggi:

1. Tidak menyakiti orang lain

2. Menghargai siapa saja

3. Bersikap santun

3. Tidak suka konflik

4. Tidak gegabah

5. Tidak mau memiliki yang bukan haknya

6. Perkataannya terkendali dan penuh perhitungan

7. Perilakunya mampu dijadikan contoh.

f. Mampu menjadi Mediator

Seorang pemimpin yang bijak mampu bertindak adil dan berpikir

obyektif. Dua hal tersebut akan menunjang tugas pimpinan untuk

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 10

Page 11: laptut kelompok 2

menjadi seorang mediator. Syarat seorang mediator meliputi beberapa

kriteria:

1. Berpikir positif

2. Setiap ada masalah selalu berada di tengah

3. Memiliki kemampuan melobi

4. Mampu mendudukkan masalah secara proporsional

5. Mampu membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

g. Mampu menjadi Motivator

Hubungan seorang pemimpin dengan motivasi yaitu seorang

pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Demikianlah memang

seharusnya. Pimpinan adalah titik sentral dan titik awal sebuah

langkah akan dimulai. Motivasi akan lahir jika pimpinan menyadari

fungsinya sebagai motivator. Tanda-tanda seorang pemimpin

menyadari fungsinya sebagai motivator:

1. Memiliki kepedulian kepada orang lain

2. Mampu menjadi pendengar yang baik

3. Mengajak kepada kebaikan

4. Mampu meyakinkan orang lain

5. Berusaha mengerti keinginan orang lain.

h. Memiliki Rasa Humor

Akan lebih mudah seorang pemimpin melaksanakan tugas

kepemimpinannya - jika didukang sifat humoris pimpinan - memiliki

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 11

Page 12: laptut kelompok 2

humor yang tinggi. Kata orang humor lebih penting dari kenaikan

gaji. Termasuk kategori pemimpin yang memiliki rasa humor adalah

sebagai berikut:

1. Murah senyum

2. Mampu memecahkan kebekuan suasana

3. Mampu menciptakan kalimat yang menyegarkan

4. Kaya akan cerita dan kisah-kisah lucu

5. Mampu menempatkan humor pada situasi yang tepat.

IV. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Individu Masuk Kedalam Massa

Massa merupakan sekumpulan banyak orang atau sekelompok

orang yang berkumpul dalam suatu kegiatan yang bersifat sementara.

Dimana dalam hal ini terdapat individu yang memasuki suatu massa.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan individu masuk dalam massa

menurut Shaw antara lain :

1. Ketertarikan Interpersonal

Manusia sebagai makhluk social secara alami akan mengadakan

hubungan atau interaksi dengan orang lain. Namun, dalam

perkembangannya interaksi merupakan hal yang dipelajari dalam

kehidupan selanjutnya, interaksi merupakan suatu proses. Oleh karena

itu, ada yang baik dalam interaksi seseorang, tetapi ada pula yang

kurang baik. Hal demikian menunjukan bahwa interaksi merupakan

suatu kemampuan yang dipelajari. Interaksi merupakan suatu

keterampilan, sesuatu sebagai hasilnya.

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 12

Page 13: laptut kelompok 2

Dalam kehidupan sehari-hari kontak sosial dapat dilakukan dengan

cara :

Kontak Sosial yang dilakukan menurut cara pihak – pihak yang

berkomunikasi . Cara kontak sosial itu ada 2 macam yaitu :

Kontak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan

pesannya secara langsung kepada pihak komunikan .

Kontak Tidak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan

pesannya kepada pihak komunikan melalui perantara pihak

ketiga

Kontak Sosial yang dilakukan menurut terjadinya proses komunikasi .

Ada 2 macam kontak sosial .

Kontak Primer

Kontak Sekunder

Bentuk – Bentuk interaksi yang mendorong terjadinya lembaga ,

kelompok dan organisasi sosial .

Bentuk Interaksi sosial menurut jumlah pelakunya .

Interaksi antara individu dan individu

Individu yang satu memberikan pengaruh ,

rangsangan \ Stimulus kepada individu lainnya . Wujud

interaksi bisa dalam dalam bentuk berjabat tangan ,

saling menegur , bercakap – cakap \ mungkin

bertengkar.

Interaksi antara individu dan kelompok 

Bentuk interaksi antara individu dengan kelompok :

Misalnya : Seorang ustadz sedang berpidato didepan

orang banyak . Bentuk semacam ini menunjukkan

bahwa kepentingan individu berhadapan dengan

kepentingan kelompok .

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 13

Page 14: laptut kelompok 2

Interaksi antara Kelompok dan Kelompok

Bentuk interaksi seperti ini berhubungan dengan

kepentingan individu dalam kelompok lain . Contoh :

Satu Kesebelasan Sepak Bola bertanding melawan

kesebelasan lain

2. Aktifitas Kelompok

Apabila kelompok telah terbentuk, maka persoalan yang segera

timbul adalah masalah struktur atau organisasi kelompok. Struktur

kelompok merpakan pola interelasi anggota kelompok. Oleh karena itu,

kelompok sosial merupakan kelompok yang berstruktur, yaitu kelompok

yang mempunyai organisasi tertentu. Kelompok sosial dibedakandengan

kelompok yang tidak berstruktur, yaitu agreat, maupun massa (Sherif dan

Sherif, 1957). Struktur atau organisasi kelompok adalah pembagian tugas

masing-masing anggota kelompok, sehingga ada hirearki yang jelas dalam

kelompok bersangkutan. Kelompok tentu dapat diorganisasikan dengan

berbagai macam cara. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan dan dapat mempengaruhi putusan kelompok, yaitu bagaimana

kelompok diorganisasikan secara efisien, mengingat lingkungan fisik dan

sosial kelompok, bagaimana kemampuan, sikap, kebutuhan-kebutuhan dan

motivasi para anggota kelompok. Ketiganya dapat mempengaruhi

ketentuan struktur suaru kelompok lingkungan sosial dan fisik,

kemampuan para anggota, serta sikap dan kebutuhan yang berbeda antara

kelompok satu dengan kelompok lain akan membawa perbedaan dalam

struktur yang ada dalam kelompok bersangkutan. Struktur dapat dibentuk

secara formal maupun informal.

Dengan terbentuknya struktur kelompok, maka kelompok akan

memiliki pembagian tugas masing-masing anggota, masing-masing akan

mempunyai status dan peran (role) sendiri-sendiri. Semuanya tentu

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 14

Page 15: laptut kelompok 2

mengacu pada tujuan yang dicapai. Karena status yang bermacam-macam

dan peran yang bermacam-macam pula, maka seseorang mengalami

konflik peran. Konflik peran akan dapat terjadi apabila seseorang tidak

dapat membedakan status dan perannya pada sesuatu waktu.

Manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan

dengan manusia lain, sehingga akhirnya membentuk kelompok-kelompok

tertentu dengan norma-norma tertentu pula. Karena dasar pembentukan

kelompok yang satu mingkin berbeda dengan kelompok lain, normanya

mungkin berbeda pula. Kelompok dimana individu secara riil menjadi

anggota disebut membership group dari individu bersangkutan. Sebaiknya

para anggota yang tergabung dalam suatu kelompok menaati norma

kelompok bersangutan.

3. Tujuan Kelompok

Tujuan mempunyai pengertian motivating power. Artinya, tujuan

akan mendorong orang untuk mencapai tujuannya, demikian pula dalam

kelompok. Ada hubungan yang positif antara motif dengan tujuan.

Semakin jelas tujuan, semakin kuat motif yang ada, demikian sebaliknya.

Prinsip dasar mengungkapkan bahwa seseorang masuk dalam suatu

kelompok dengan harapan akan memperoleh sesuatu yang sulit atau

kurang mungkin diperoleh secara pribadi. Namun, meskipun seseorang

masuk dalam suatu kelompok, tujuan individu pada umumnya tidak akan

dilepas.

Selain person oriented yang dikaitkan dengan tujuan individu dan

group oriented yang dkaitkan dengan tujuan kelompok, ada tujuan formal

dan informal serta tujuan operasional dan non operasional. Tujuan formal

adalah tujuan yang secara formal dipasang atau menjadi sasaran dalam

suatu kegiatan kelompok, sedangkan tujuan informal adalah tujuan yang

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 15

Page 16: laptut kelompok 2

dicapai disamping tujuan formal yang ditentukan. Tujuan operasional

adalah tujuan yang jelas dan spesifik. Kemudian, langkah-langkah untuk

mencapai tujuan yang jelas pula. Operasional dalam rangka pencapaian

tujuan telah jelas. Sebaliknya, tujuan non operasional adalah tujuan yang

abstrak dan cara pencapaian tujuan tidak jelas atau masih kabur. Pada

umumnya, tujuan nonoperasional begitu luas dan kurang jelas, masih

samar samar. Tujuan operasioanal nersifat spesifik, jelas targetnya, action

plan-nya jelas.

4. Keanggotaan Kelompok. Teori Johnson dan Johnson (2000)

Defining and structuring procedure

Apabila kelompok mulai, umumnya para anggota mulai

memusatkan perhatiannya pada hal yang menyangkut dirinya

mengenai hal hal apakah yang diharapkan pada mereka dan mengenai

tujuan kelompok.

Conforming to procedures and getting acquainted

Para anggota kelompok menyesuaikan dengan prosedur yang telah

ditentukan, menyesuaikan dengan tugas, menyesuaikan dengan tugas,

serta mengenal satu dengan yang lain agar menjadi familier dengan

prosedur yang ada dan dapat mengikutinya dengan mudah

Recognizing mutually and building trust

Anggota kelompok menyadari mengenai saling bergantung satu

dengan yang lain dan membentuk kepercayaan satu dengan yang lain.

Rebelling and differentiating

Tahapan ditandai anggota kelompok yang menentang pimpinan

dan prosedur yang telah ditentukan.

Commiting to the groups’s goals and procedures

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 16

Page 17: laptut kelompok 2

Dalam tahapan ini, ketergantungan pada pimpinan dan konformitas

pada prosedur beralih pada ketergantungan pada anggota lain dan

komitmen personal terhadap kolaboratif dari pengalaman.

Functioning maturely and produvtivity

Dalam tahapan ini, kelompok telah menjadi dewasa, otonomi dan

produktif, sehingga terbentuklah identitas kelompok.

Terminating

Dengan berakhirnya kelompok, para anggota pergi meninggalkan

kelompok sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

5. Efek instrumental dari keanggotaan kelompok

Individu menjadi anggota dari kategori sosial tertentu dengan

menyadari adanya sesuatu yang sama diantara mereka yang sesuatu

tersebut mempengaruhi perilakunya, seperti laki-laki, perempuan, negro,

dan anggota sejenis kelas sosial.

Kelompok sosial mirip dengan kategori sosial, yaitu ada kesadaran

dari anggota kelompok akan adanya kesamaan diantara mereka, namun

kelompok memiliki kriteria lain yaitu adanya interaksi diantara anggota-

anggotanya; contoh dari kelompok sosial ini adalah kelompok pertemanan

dan keluarga batih. Organisasi formal mirip dengan kategori sosial dan

kelompok sosial, namun organisasi formal ini muncul ketika kelompok

tersebut secara sengaja dibangun menjadi sebuah unit sosial untuk

mencapai tujuan tertentu; contoh organisasi formal adalah perusahaan,

instansi pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga kemasyarakatan.

Biasanya dalam organisasi akan disertai dengan birokrasi yang dibuat

untuk lebih menjamin adanya pencapaian tujuan.

Pembahasan tentang kelompok dalam masyarakat biasanya akan

lebih merujuk kepada dua jenis kelompok terakhir, yaitu kelompok sosial

dan organisasi formal; bahkan fokus pembahasan seringkali lebih terfokus

pada kelompok sosial. Atas dasar itu pula dikatakan bahwa tidak semua

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 17

Page 18: laptut kelompok 2

kelompok merupakan kelompok sosial, karena ada suatu jenis kelompok

lain yang hampir sama dengan kelompok sosial, yang oleh Soerjono

Soekanto (1987) disebut dengan kelompok tak teratur, seperti kelompok

kerumunan dan antrian karcis. Kelompok tak teratur memiliki kesadaran

dan hubungan antar anggota, namun tidak sekuat pada kelompok sosial.

Bila memperhatikan sifat manusia yang memiliki keterbatasan

sampai tingkat tertentu, maka tidak semua kebutuhan manusia dapat

dipenuhi sendiri. Oleh karena itu, untuk menanggulangi kelemahan dan

kekuranganmampuannya, seorang individu akan menggabungkan diri

dengan individu lain. Proses pembentukan ini akan mengikutsertakan

berbagai komponen yang biasanya mengarah kepada adanya atribut yang

sama dan kesamaan lain diantara individu-individu tersebut.

Berkaitan dengan proses pembentukan kelompok ini, Bierens den

Haan (dalam Astrid S.Susanto, 1983) bahwa “kelompok tidak terdiri dari

jumlah anggota-anggotanya saja, melainkan akan suatu kenyataan yang

ditentukan oleh datang-perginya anggota-anggotanya… Kenyataan

kelompok ditentukan oleh nilai-nilai yang dihayati bersama, oleh fungsi

kelompok sebagaimana disadari anggota.” Dengan kata lain, den Haan

ingin menegaskan bahwa suatu kelompok memperoleh bentuknya dari

kesadaran akan keterikatan pada anggota-anggotanya; jadi suatu kelompok

memiliki suatu ikatan psikologis diantara anggota-anggotanya. Hal ini

sejalan dengan Anderson dan Parker (1964) yang menekankan bahwa

“kelompok merupakan kesatuan dari dua atau lebih individu yang

mengalami interaksi psikologis satu sama lain.” Hal ini berarti bahwa

kelompok terbentuk karena manusia menyadari tidak dapat menyelesaikan

atau mencapai tujuannya sendiri, ternyata terlalu rasional. Ada alasan lain

yang lebih mendasar, yaitu suatu kebutuhan manusia untuk mempunyai

dan digolongkan pada suatu kelompok, tempat dia berlindung dan merasa

aman.

Individu yang mengidentifikasikan dirinya dalam suatu kelompok

akan memiliki kertikatan yang kuat untuk mengikuti semua aturan yang

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 18

Page 19: laptut kelompok 2

berlaku dalam kelompok tersebut. Norma-norma yang dikembangkan

dalam kelompok menjadi pedoman yang penting baginya dan

mempertegas dirinya sebagai bagian dari in-groupnya. Sikap in-group dan

out-group dapat menjadi dasar bagi munculnya antagonisme dan antipati,

bahkan lebih jauh lagi dapat menimbulkan adanya sikap etnosentrisme.

Dengan kata lain, pengembangan sikap in-group dan out-group ini dapat

dipacu pula oleh pandangan streotif dari dalam kelompok terhadap

kelompok lainnya.

Seiring dengan perkembangan masyarakat, maka seorang individu

tidak selalu hanya menjadi anggota dari satu kelompok saja, namun

cenderung untuk menjadi anggota beberapa kelompok sekaligus. Di lain

fihak, tidak selalu individu dapat menjadi anggota suatu kelompok secara

formal. Yang lebih sering terjadi adalah individu mengembangkan

kepribadian dan perilakunya berdasarkan kepada kelompok yang

diacunya. Kelompok demikian dikenal dengan istilah kelompok acuan

(reference group). Individu yang mengacu akan berprilaku seperti yang

dilakukan oleh individu-individu anggota kelompok acuannya. Proses

interaksi antara anggota kelompok acuan dengan individu tersebut tidak

dilakukan secara langsung, namun pengaruh kelompok tersebut dirasakan

juga oleh orang-orang yang tidak menjadi anggota. Pengaruh kelompok

terhadap perubahan perilaku individu ini sangat besar, dan memiliki

dampak yang sangat luas.

Faktor-faktor yang menyebabkan individu masuk dalam massa menurut

Vaughan dan Hogg (2005) antara lain :

1. Proksimitas, Individu cenderung bergabung dengan individu lain yang

berdekatan.

2. Kesamaan minat, sikap, dan keyakinan. Individu-individu yang punya

minat atau keyakinan yang sama cenderung berkelompok.

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 19

Page 20: laptut kelompok 2

3. Saling tergantung untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Adanya tujuan

bersama menyebabkan beberapa individu bergabung dalam satu

kelompok.

4. Dukungan timbal balik yang positif dan kenikmatan berafiliasi. Kelompok

bias memberikan dukungan yang positif kepada individu serta membuat

individu merasa memiliki afiliasi. Hal ini dapat menghindarkan individu

dalam kesepian.

5. Dukungan emosional, kelompok juga bisa memberikan dukungan

emosional untuk para anggotanya.

6. Identitas kelompok, keanggotaan individu di dalam kelompok membuat

individu memiliki identitas.

V. Peranan Individu Dalam Massa

Menurut Drs. H. Dedi Herdiana, berikut ini adalah jenis – jenis peranan

individu dalam massa :

1. Penggalak : memuji, menyetujui, menerima, menunjukan kehangatan

dan kesetiakawanan

2. Wasit : melerai pertikaian antar anggota

3. Kompromis : menawarkan kompromi

4. Pengamat : menyimpan catatan berbagai aspek proses massa

5. Pengikut  : mengikuti kegiatan / aktivitas massa ; pasif

6. Penjaga gawang : mambuka saluran komunikasi dengan mendorong

partisipasi yang lain

7. Agresor ; merendahkan status yang lain

8. Penghambat : bersikap negatif, selalu menolak dan membantah

9. Pencari muka : sering membual

10. Pengungkap diri : pengungkap perasaan

11. Dominator : menguasai orang lain

12. Help seeker : berusaha menarik simpati

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 20

Page 21: laptut kelompok 2

VI. Cara Mengendalikan Suatu Massa

Pengendalian massa pada dasarnya terbagi dalam dua tingkatan,

tingkat awal dan tingkat lanjutan. Pengendalian massa tingkat awal

dilakukan tanpa menggunakan peralatan khusus. Sedangkan tingkat

lanjutan dilakukan dengan menggunakan peralatan khusus seperti helm,

tameng, rompi, mobil water canon dan sebagainya.

Pembagian kategori massa dapat digolongkan menjadi dua, yaitu

golongan massa yang bersifat tertib/teratur, dan golongan massa tidak

tertib/tidak teratur. Proses pengendalian massa yang bersifat tertib/teratur

termasuk tingkat awal dan lebih diutamakan dalam hal negosiasi dan

pengendalian emosi dari tindakan-tindakan yang bersifat provokasi.

Sedangkan pengendalian massa yang tidak tertib/tidak teratur termasuk

dalam tingkat lanjutan.

Langkah-langkah dalam menyikapi suatu prilaku massa atau pengendalian

prilaku massa antara lain :

1. Memahami bentuk perilaku kolektif : apakah massa itu tergolong

dalam crowd, mob

2. Memahami motif perilaku kolektif : apakah massa melakukan itu

gara-gara politik, kepentingan pribadi, atau kepentingan bersama.

3. Setelah mengetahui motif dan bentuk perilaku massa tersebut

barulah dibuat perencanaan penyelesaian yang matang

4. Petugas yang akan digunakan dalam menyikapi atau mengendalikan

prilaku massa tersebut harus memiliki kesiapan mental

5. Mengendalikan diri agar tidak terpengaruh dengan prilaku massa

tersebut

6. Keberanian dalam bersikap dan mengambil keputusan dalam

pengendalian atau menyikapi suatu prilaku massa 

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 21

Page 22: laptut kelompok 2

VII. Faktor-Faktor Eksternal Agresifitas

Perilaku agresif banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor yang

menstimulus kejadiannya, antara lain:

1. Faktor Predisposisi

a) Faktor Neurobiologi

Teori dorongan insting merupakan dua faktor utama yang

dikemukakan oleh Sigmund Freud dan Konrad Lorenz melalui

hipotesis yang menyatakan bahwa manusia berevolusi dari kendali

insting agresif. Freud manyatakan bahwa manusia berada di bawah

pengaruh dua kendali tersebut, yang pertama adalah insting untuk

hidup yang dinyatakan melalui seksualitas, yang kedua adalah

insting kematian yang diungkapkan melalui agresi (Stuart &

Sundeen, 1991).

Peran neurotransmiter dalam studi tentang agresif telah dipelajari

pada hewan dan manusia, tetapi tidak ada satu pun penyebab yang

ditemukan. Hasil temuan menyatakan bahwa serotonin berperan

sebagai inhibitor utama pada perilaku agresif. Dengan demikian,

kadar serotonin yang rendah dapat menyebabkan peningkatan

perilaku agresif. Hal ini dapat berhubungan dengan serangan marah

yang terlihat pada beberapa klien depresi. Selain itu peningkatan

aktivitas dopamin dan norepinefrin diotak dikaitkan dengan

peningkatan perilaku kekerasan yang impulsif (Kavoussi et al.,

1997). Selanjutnya; kerusakan struktur pada sistem limbik (untuk

emosi dan perilaku) dan lobus frontal (untuk pemikiran rasional)

serta lobus temporal otak (untuk interpretasi indera penciuman dan

memori) dapat mengubah kemampuan individu untuk memodulasi

agresif sehingga menyebabkan perilaku agresif (Videbeck, 2008 &

Yosep, 2007).

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 22

Page 23: laptut kelompok 2

Neurotransmitter yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif:

serotonin, dopamin, norepinephrine, acetilkolin, dan asam amino

GABA. Faktor-faktor lain yang mendukung antara lain; masa

kanak- kanak yang tidak menyenangkan, sering mengalami

kegagalan, kehidupan yang penuh tindakan agresif, dan lingkungan

yang tidak kondusif (Yosep, 2007; Stuart & Sundeen, 1991).

b) Faktor Psikologis

Teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan akibat dari

instinctual drives. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia

dipengaruhi oleh dua insting. Kesatu insting hidup yang

diekspresikan dengan seksualitas; dan kedua, insting kematian yang

diekspresikan dengan agresifitas (Yosep, 2007).

Frustation-aggresion theory; teori yang dikembangkan oleh

pengikut Freud yang berawal dari asumsi, bahwa bila usaha

seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan maka

akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi

perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang

menyebabkan frustasi. Jadi hampir semua orang yang melakukan

tindakan agresif mempunyai riwayat perilaku agresif (Yosep, 2007;

Stuart & Sundeen, 1991).

Pentingnya peran dari perkembangan predisposisi atau pengalaman

hidup, misalnya rejeksi yang berlebihan pada masa kanak- kanak,

yang mungkin telah merusak hubungan saling percaya (trust) dan

harga diri. Terpapar kekerasan selama perkembangan, termasuk

child abuse atau mengobservasi kekerasan dalam keluarga, sehingga

membentuk pola pertahanan atau koping (Yosep, 2007).

Kegagalan untuk mengembangkan kualitas kemampuan untuk

menunda terpenuhinya keinginan dan perilaku yang tepat secara

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 23

Page 24: laptut kelompok 2

sosial dapat menyebabkan individu yang impulsif, mudah frustasi,

dan rentan terhadap perilaku agresif (Videbeck, 2008).

c) Faktor Sosial Budaya

Social-LearningTheory; teori yang dikembangkan oleh Bandura

(1977) mengemukakan bahwa agresif tidak berbeda dengan respon-

respon yang lain. Agresif dapat dipelajari melalui observasi atau

imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin

besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon

terhadap keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan

respon yang dipelajarinya. Pembelajaran ini bisa internal atau

eksternal. Contoh internal: orang yang mengalami keterbangkitan

seksual karena menonton film erotis menjadi lebih agresif

dibandingkan mereka yang tidak menonton film tersebut; seorang

anak yang marah karena tidak boleh beli es kemudian ibunya

memberinya es agar si anak berhenti marah. Anak tersebut akan

belajar bahwa bila ia marah maka ia akan mendapatkan apa yang ia

inginkan. Contoh ekternal: seorang anak menunjukkan perilaku

agresif setelah melihat seorang dewasa mengekspresikan berbagai

bentuk perilaku agresif terhadap sebuah boneka (Yosep, 2007)

Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya

norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang

dapat diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat membantu

individu untuk mengekpresikan marah dengan cara yang asertif.

Ekspresi kemarahan sangat dipengaruhi oleh apa yang diterima

dalam suatu budaya (Videbeck, 2008; Yosep, 2007; Stuart &

Sundeen, 1991).

d) Faktor Situasional

Dosis kecil alkohol menghambat agresif dan dosis besar

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 24

Page 25: laptut kelompok 2

mempermudah agresif, barbiturat mempunyai efek yang mirip

dengan efek alkohol, aerosal dan zat pelarut komersial mempunyai

efek yang mirip dengan alkohol (Sadock, 1997). 50 persen orang

yang melakukan pembunuhan kriminal dan melakukan tindakan

penyerangan dilaporkan telah meminum sejumlah bermakna alkohol

segera sebelum tindakan agresif (Kaplan & Sadock, 1997).

e) Faktor Spiritual (Kesadaran Beragama)

Kepercayaan, nilai, dan moral mempengaruhi ungkapan marah

seseorang. Aspek ini mampengaruhi hubungan individu dengan

lingkungan. Hal ini bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat

menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan

rasa tidak berdosa. Individu yang percaya kepada Tuhan Yang

Maha Esa, selalu meminta kebutuhan dan bimbingan kepada-Nya

(Yosep, 2007).

Dalam kenyataan sehari-hari menunjukkan, bahwa anak-anak

remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang

memahami norma-norma agama bahkan mungkin lalai menunaikan

perintah- perintah agama antara lain mengikuti acara kebaktian,

acara missa, puasa dan shalat (Sudarsono, 2008).

2. Faktor Presipitasi

Secara umum, kemarahan terjadi sebagai respon terhadap ancaman

yang dirasakan. Hal ini mungkin merupakan ancaman fisik terhadap

ancaman yang dirasakan seperti ancaman cedera fisik, ancaman

terhadap konsep diri. Suatu ancaman dapat eksternal atau internal

(Stuart & Sundeen, 1991).Faktor yang mencetuskan terjadinya

perilaku agresif terbagi dua, yakni:

a. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kurang

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 25

Page 26: laptut kelompok 2

percaya diri (internal).

b. Lingkungan : ribut, kehilangan orang/objek yang berharga,

konflik interaksi sosial (Yosep, 2007). Dimana lingkungan

tersebut terdiri dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah,

dan teman sebaya (eksternal).

Keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan

pendidikan. Orang tua pada umumnya memberikan pelayanan

kepada putri dan putranya sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada

kalanya orang tua sangat memanjakan, ada pula yang bertindak

keras (Rumini & Sundari, 2004). Keluarga menurut Clemen dan

Buchaman (1982) seperti yang dikutip oleh Yosep (2007)

merupakan suatu konteks dimana individu memulai hubungan

interpersonal. Keluarga mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap,

dan perilaku seseorang. Sedangkan Spradey (1985) mengemukakan

bahwa keluarga mempunyai fungsi dasar seperti memberi kasih

sayang, rasa aman, rasa dimiliki, dan menyiapkan peran dewasa

individu di masyarakat (Yosep, 2007). Pola hubungan keluarga

yang memudahkan seseorang berperilaku menyimpang, kurangnya

perhatian, penghargaan dan pendidikan keluarga; serta pola asuh

orang tua yang terlalu overprotektif merupakan beberapa contoh

yang dapat menyebabkan seseorang berperilaku agresif.

Masyarakat, setiap orang sangat akrab dengan lingkungan

masyarakat dimana ia bertempat tinggal. Anak remaja sebagai

anggota masyarakat selalu mendapat pengaruh masyarakat dan

lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pengaruh yang dominan adalah perubahan sosial kehidupan

masyarakat yang ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang sering

menimbulkan ketegangan, seperti persaingan, perekonomian, terjadi

diskriminasi, mass media (misal pornografi, pornoaksi), fasilitas

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 26

Page 27: laptut kelompok 2

rekreasi (seperti play station), dan penyelenggaraan klub-klub

malam, seperti diskotik (Sudarsono, 2008) kondisi-kondisi ini

menjadi faktor pendorong munculnya perilaku destruktif (negatif)

remaja.

Sekolah merupakan masyarakat yang lebih besar dari keluarga.

Sekolah bukan hanya sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga

berusaha memberikan pendidikan yang sesuai dengan

perkembangan, berusaha agar anak didik mengembangkan

potensinya secara puas dan senang serta mempunyai pribadi yang

integral (Rumini & Sundari, 2004). Sekolah merupakan salah satu

faktor pendukung perkembangan remaja. Di sekolah remaja

menerima pendidikan secara formal, sebagian besar aktifitas lebih

ditekankan kepada pembinaan intelektual. Dalam proses belajar

tidak jarang terjadinya konflik antar peserta didik dengan pendidik.

Misalnya dalam proses belajar mengajar, seringkali terjadi sikap

peserta didik yang tidak berkenan di hati pendidik menjadikan

pendidik memberi respon yang kurang simpati. Terkadang ada

kalanya sikap pendidik yang kurang menarik simpatik bagi peserta

didik, sehingga peserta didik kurang memberi respon yang kurang

simpatik terhadapnya (Krahe, 2005).

Teman sebaya, sebaya adalah orang dengan tingkat umur dan

kedewasaan yang kira-kira sama. Sebaya memegang peran yang

unik dalam perkembangan anak. Salah satu fungsi terpenting sebaya

adalah memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang

dunia di luar keluarga. Anak-anak menerima umpan balik

kemampuan mereka dari grup sebaya mereka. Mereka mengevaluasi

apa yang mereka lakukan dengan ukuran apakah lebih baik, sama

baiknya, atau lebih buruk daripada apa yang dilakukan anak lain.

Hubungan sebaya bisa negatif maupun positif. Beberapa teoritisi

menjelaskan bahwa budaya sebaya anak sebagai pengaruh buruk

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 27

Page 28: laptut kelompok 2

yang melemahkan nilai dan kontrol orang tua. Sebaya dapat

memperkenalkan remaja kepada alkohol, obat- obatan, kenakalan

dan bentuk lain dari perilaku yang maladaptif (Santrock, 2007).

Hubungan dengan teman sebaya merupakan sumber pengaruh sosial

yang sangat relevan dengan agresif. Kandel (1983) mengemukakan

bahwa ada kesamaan dalam menggunakan obat-obat terlarang,

merokok dan minuman keras mempunyai pengaruh yang kuat dalam

pemilihan teman (Syamsu, 2004). Sebuah grup sebaya remaja

mungkin merujuk kepada orang-orang lingkungan tetangga, tim

olahraga, kelompok sahabat, dan teman. Pengaruh sebaya atau grup

sebaya bergantung pada latar dan konteks spesifiknya (Santrock,

2007). Dalam hal ini hubungan dengan teman sebaya merupakan

sumber pengaruh bagi seseorang untuk melakukan atau mendukung

tindakan-tindakan agresifnya.

VIII. Proses Psikologis Individu Dalam Massa

Menurut Gustave Le Bon, massa itu mempunyai sifat-sifat

psikologis tersendiri. Orang yang tergabung dalam suatu massa akan

berbuat sesuatu, yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat bila individu

itu tidak tergabung dalam suatu massa. Sehingga massa itu seakan-akan

mempunyai daya melarutkan individu dalam suatu massa, melarutkan

individu dalam jiwa massa.

Seperti yang dikemukakan oleh Durkheim bahwa adnaya individual

mind dan collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut

Gustave Le Bon dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum

mental unity atau law mental unity, yaitu bahwa massa adalah kesatuan

mind, kesatuan jiwa.

Menurut Allport, kurang dapat menyetujui tentang collective mind

tetapi dapat memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity),

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 28

Page 29: laptut kelompok 2

tidak hanya dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal

perasaan (feeling) dan dalam perbuatan yang tampak (overt behavior).

Individu Dalam Massa

• Kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, tindakan kasar dan

irasional, menurut Secar membabi buta pada pemimpin.

• Melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan yang akan berubah

menjadi agresi.

IX. Konflik Dalam Massa

Munculnya disagreement, pertengkaran, dan friksi diantara kelompok yang

melibatkan kata-kata, emosi, dan tindakan.

Tahap-tahap perkembangan konflik:

1. Disagreement

Perlu segera diidentifikasi disagreementnya:

Apakah benar-benar ada atau sekedar kesalahpahaman

Apakah perlu segera ditangani atau terselesaikan sendiri

Jika benar-benar ada dan menyangkut beberapa factor situasional

minor

2. Confrontation

Dua orang atau lebih saling bertentangan (verbal attack)

Di akhir tahap ini, tingkat koalisi (sub kelompok dalam kelompok)

dimana anggota kelompok menjadi terpolarisasi (membentuk blok-

blok)

3. Escalation

Pada tahap ini, anggota kelompok menjadi semakin kasar, suka

memaksa, mengancam, sampai pada kekerasan fisik kemudian

timbul mosi tidak percaya (distrust), frustasi, dan negative

reciprocity

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 29

Page 30: laptut kelompok 2

4. De-escalation

Berkurangnya atau menurunnya konflik anggota mulai sadar waktu

dan energy yang terbuang sia-sia dengan berdebat.

Mekanisme pengolahan konflik:

a. Negosiasi

Secara interpersonal dengan asumsi bahwa tiap orang akan

mendapatkan keuntungan dengan adanya situasi

o Distributive issue : negosiasi berhasil, satu pihak puas, pihak

yang lain mengikuti karena pihak yang lain itu memiliki power

o Integrative issue : negosiasi berhasil, kedua pihak merasa puas

(win win solution)

b. Membangun kepercayaan

Dengan mengkomunikasikan keinginan individu secara hati-hati dan

harus konsisten antara apa yang diomongkan dengan perilaku

aktualnya

5. Conflict Resolution

Tiap konflik sampai pada tahap ini, meskipin tidak semua pihak puas

akan hasilnya

Penyebab konflik:

1. Interdependence

Tidak semua interdependence menyebabkan konflik, jika:

o Ada kerjasama antar anggota dalam interdependence sehingga

konflik menurun

o Ada kompetisi antar anggota dalam interdependence sehingga

konflik meningkat

2. Influence strategies

Strategi-strategi untuk mempengaruhi orang lain, ancaman, hukuman,

dan negative reinforcement sehingga akan meningkatkan konflik

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 30

Page 31: laptut kelompok 2

Manajemen Konflik

Konflik organisasi adalah perbedaan pendapat antara dua atau lebih

anggota organisasi atau kelompok, karena harus membagi sumber daya yang

langka, atau aktivitas kerja dan atau karena mereka mempunyai status, tujuan,

penilaian atau pandangan yang berbeda. Perbedaan antara konflik dengan

persaingan (kompetisi) terletak pada apakah salah satu pihak dapat mencegah

pihak lain dalam pencapaian tujuan. Kompetisi terjadi apabila tujuan kedua pihak

tidak sesuai, akan tetapi kedua belah pihak tidak dapat saling menggangu. Sebagai

contoh dua bagian pemasaran komputer yang saling bersaing dalam satu

organisasi, dimana kedua bagian tersebut siapakah yang pertama-tama mencapai

atau memenuhi kuota penjualan yang paling banyak. Jika dalam hal ini tidak ada

kemungkinan untuk mencampuri usaha pihak lain dalam mencapai tujuannya,

maka terjadilah kompetisi, akan tetapi apabila ada kemungkinan untuk

mencampuri itu dan memang dilakukan, terjadilah konflik.

Jenis-Jenis Konflik

1. Konflik di dalam individu

Konflik ini timbul apabila individu merasa bimbang terhadap pekerjaan mana

yang harus dilakukannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan

atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya

2. Konflik antar individu dalam organisasi yang sama.

Konflik ini timbul akibat tekanan yang berhubungan dengan kedudukan atau

perbedaan perbedaan kepribadian.

3. Konflik antar individu dan kelompok.

Konflik ini berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk

keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka, contohnya seseorang

yang dihukum karena melanggar norma-norma kelompok

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 31

Page 32: laptut kelompok 2

4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama

Adanya pertentangan kepentingan antar kelompok

5. Konflik antar organisasi

Metode-Metode pengelolaan konflik

1. Metode stimulasi konflik

Metode ini digunakan untuk menimbulkan rangsangan karyawan, karena

karyawan pasif yang disebabkan oleh situasi dimana konflik terlalu

rendah.rintangan semacam itu harus diatasi oleh

manajer untuk merangsang konflik yang produktif.

Metode stimulasi konflik meliputi :

Pemasukan atau penempatan orang luar ke dalam kelompok

Penyusunan kembali organisasi

Penawaran bonus,pembayaran insentif dan penghargaan untuk mendorong

persaingan Pemilihan manajer-manajer yang tepat dan

Perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan.

2. Metode pengurangan konflik

Metode ini mengurangi permusuhan (antagonis) yang ditimbulkan oleh

konflik, dengan mengelola tingkat konflik melalui “pendinginan suasana”, akan

tetapi tidak berurusan dengan masalah yang pada awalnya menimbulkan konflik

itu. Metode pertama adalah mengganti tujuan yang menimbulkan persaingan

dengan tujuan yang lebih bias diterima, kedua kelompok, metode kedua

mempersatukan kelompok tersebut untuk menghadapi “ancaman” atau “musuh”

yang sama.

3. Metode penyelesaian konflik

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 32

Page 33: laptut kelompok 2

Metode ini dipusatkan pada tindakan para manajer yang dapat secara

langsung mempengaruhi pihak-pihak yang bertentangan.

Ada 3 metode yang sering digunakan yaitu:

1. Dominasi dan penekanan:

Metode ini dapat terjadi melalui cara-cara :

1. Kekerasan (forcing) yang bersifat penekanan otokratik

2. Penenangan (smoolling) yaitu cara yang lebih diplomatis

3. Penghindaran (avoidance) dimana manajer menghindar untuk mengambil posisi

yang tegas

4. Penentuan melalui suara terbanyak (majority rule) mencoba untuk

menyelesaikan konflik antar kelompok dengan melakukan pemungutan suara

(voting) melalui prosedur yang adil.

2. Kompromi (Compromise)

Manajer mencari jalan keluar yang dapat diterima oleh pihak pihak yang saling

berselisih untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Keputusan dicapai melalui

kompromi bukannya membiarkan pihak-pihak yang berkonflik merasa tenggelam

dalam frustasi dan bermusuhan, akan tetapi kompromi merupakan metode yang

lemah untuk menyelesaikan konflik, karena biasanya tidak menghasilkan

penyelesaian yang dapat membantu untuk tercapainya tujuan organisasi.

Bentuk- bentuk kompromi meliputi :

pemisahan (separation), dimana pihak-pihak yang sedang bertentangan dipisahkan

sampai mereka menyetujui; arbitrasi (perwasitan), dimana pihak-pihak yang

berkonflik tunduk kepada pihak ketiga; kembali keperaturan yang berlaku,

penyelesaian berpedoman kepada peraturan (resort to rules) dimana kemacetan

dikembalikan pada ketentuan yang tertulis yang berlaku dan

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 33

Page 34: laptut kelompok 2

membiarkan peraturan memutuskan penyelesaian konflik; penyuapan (bribing),

dimana salah satu pihak menerima beberapa konpensasi sebagai imbalan untuk

mengakhiri konflik.

Metode Penyelesaian Konflik Secara Menyeluruh

Terdapat tiga metode untuk menyelesaikan konflik, yaitu :

1. Konsensus, dimana pihak-pihak mengadakan pertemuan untuk mencari

pemecahan-pemecahan masalah yang terbaik, bukan mencari kemenangan bagi

masing-masing pihak.

2. Metode Konfrontasi, dimana pihak-pihak yang saling berhadapan menyatakan

pandangannya secara langsung satu sama lain, dengan kepemimpinan yang

terampil dan kesediaan semua pihak untuk mendahulukan kepentingan bersama,

kerap kali dapat ditemukan penyelesaiaan yang rasional.

3. Penggunaan tujuan-tujuan yang lebih tinggi,dapat juga menjadi metode

penyelesaian konflik bila tujuan tersebut disetujui bersama.

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 34

Page 35: laptut kelompok 2

Daftar Pustaka

Guyton & Hall. (2007). Buku Ajar Fisiologi edisi 11. Jakarta: EGC.

Maramis, WF dan Maramis, AA. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.

Surabaya : Airlangga University Press.

Stuart and sundeen, 1991. Principles and Practice of Psychiatric Nursing ed 4. St

louis : The CV Mosby year book.

Coccaro EF, Kavoussi RJ, Cooper TB, et al. Central serotonin activity and

aggression: Inverse relationship with prolactin re- sponse to d-fenfluramine, but

not CSF 5-HIAA concentration, in human subject. Am J Psychiatry 1997;154:10

Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa ( Psychiatric Mental

Health Nursing) . Jakarta : EGC.

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Reflika Aditama.

Kaplan & Sadock. (1997). Sinopsis Psikiatri. Jilid 2. Binarupa Aksara : Jakarta.

Sudarsono. (2008). Kenakalan Remaja. Jakarta : Rineka Cipta.

Rumini S, Sundari S. Perkembangan Anak dan Remaja: Buku Pegangan Kuliah.

Jakarta: Rineka Cipta. 2004.

Santrock, J.W. (2007). Remaja. Edisi 11. Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Krahe, B. 2005. The Social Psychology of Aggresion. Perilaku Agresif. Alih

bahasa: Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar Offset

Yusuf, Syamsu. 2004. Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam

Kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Bani Quraisyi.

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 35

Page 36: laptut kelompok 2

Skenario 4 ”Individu dan Kebersamaan” 36