Lapsus I - OMA Perforasi

  • View
    22

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Oma stadium perforasi

Text of Lapsus I - OMA Perforasi

LAPORAN KASUS IOtitis Media Akut Stadium Perforasi Dextra

Oleh :Nama: Putri Krishna Kumara Dewi

NIM: H1A 007 050

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG, DAN TENGGOROKAN

RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTBFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2011

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media supuratif akut atau otitis media akut (OMA) merupakan bentuk akut dari otitis media supuratif, yang dapat berkembang menjadi OMSK bila tidak diterapi dengan baik. Otitis media akut (OMA) terjadi akibat faktor pertahanan tubuh yang terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab terjadinya OMA. Fungsi tuba sebagai barrier masuknya mikroba ke telinga tengah menjadi terganggu akibat adanya sumbatan tuba. Infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus terjadinya gangguan pada tuba. Makin sering seseorang terutama anak-anak mengalami infeksi saluran napas atas, makin besar kemungkinannya orang tersebut mengalami OMA (Djaafar dkk dalam Soepardi dkk, 2007).Bakteri penyebab OMA yang utama adalah Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, dan Pneumokokus. Selain itu kadang juga dapat disebabkan oleh Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas aurugenosa. Perubahan telinga tengah sebagai akibat infeksi dibagi atas 5 stadium berdasarkan gambaran membran timpani yang tampak dari luar: (1) stadium oklusi tuba yang ditandai adanya retraksi membran timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah; (2) stadium hiperemis, yang ditandai adanya edema, hiperemia, dan pelebaran pembuluh darah pada membran timpani; (3) stadium supurasi, yaitu terbentuknya eksudat yang purulen di dalam telinga tengah, menyebabkan bulging membran timpani, dan nyeri di telinga bertambah berat; (4) Stadium perforasi yang terlihat dengan adanya ruptur membran timpani dan nanah mengalir ke telinga luar; (5) stadium resolusi yaitu bila keadaan telinga tengah kembali normal dan perforasi membran timpani tertutup. Bila pada stadium resolusi penyembuhan tidak berjalan dengan baik, maka perforasi bisa menetap dengan sekret yang mengalir terus atau menghilang, berkembang menjadi OMSK (Djaafar dkk dalam Soepardi dkk, 2007) .Pada laporan kasus ini penulis akan menjabarkan mengenai kasus OMA Dextra Stadium Perforasi yang ditemukan di Poliklinik THT RSU NTB pada tanggal 7 Oktober 2011.BAB IITINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi Telinga TengahAnatomi Telinga

Gambar 1. Anatomi telingaTelinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan. Telinga terdiri atas 3 bagian yaitu (Graaf, 2001):

1. Telinga luar2. Telinga tengah dan 3. Telinga dalamAnatomi Telinga TengahTelinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang terletak di bagian petrosum tulang pendengaran. Telinga tengah berbentuk kubus dengan (Djaafar dkk dalam Soepardi dkk, 2007):

Batas luar: membran timpani

Batas depan: Tuba Eustachius

Batas bawah: Vena jugularis (bulbus jugularis)

Batas belakang: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

Batas atas: tegmen timpani (meningen/ otak)

Batas dalam: Berturut- turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong, tingkap bundar dan promontorium.

1. Membran timpani. Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan di dalamnya merupakan epitel selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian anterior pada pada celah tuba auditiva (tuba Eustachius) epitelnya selapis silindris bersilia. Lamina propria tipis dan menyatu dengan periosteum (Seeley, 2004).

Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Sharpnell) sedangkan bagian bawah disebut pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran pernafasan. Pars tensa memiliki satu lapisan lagi di tengah yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler di bagian dalam (Djaafar dkk dalam Soepardi dkk, 2007) .

Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke arah bawah, yaitu pada pukul 5 untuk membran timpani kanan, sementara membran timpani kiri pada arah jam 7. Refleks cahaya adalah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Di membran timpani terdapat dua serabut yaitu sirkuler dan radier sehingga menyebabkan timbulnya refleks cahaya (Djaafar dkk dalam Soepardi dkk, 2007) .

Membran timpani dibagi menjadi 4 kuadran dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian/kuadran:

Atas-depan

Atas-belakang

Bawah depan

Bawah belakang

2. Tulang pendengaran yaitu tulang maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga sumsum tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan inkus tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes melekat pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam (Seeley, 2004).

3. Terdapat 2 otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot-otot ini berfungsi protektif dengan cara meredam getaran-getaran berfrekuensi tinggi.

a. Otot tensor timpani terletak dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonnya berjalan mula-mula ke arah posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi rongga timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang maleus.

b. Tendo otot stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam dinding posterior dan berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam leher stapes.

4. Dua buah tingkap. Tingkap oval pada dinding medial ditutupi oleh lempeng dasar stapes, memisahkan rongga timpani dari perilimfe dalam skala vestibuli koklea. Oleh karenanya getaran-getaran membrana timpani diteruskan oleh rangkaian tulang-tulang pendengaran ke perilimf telinga dalam. Untuk menjaga keseimbangan tekanan di rongga-rongga perilimf terdapat suatu katup pengaman yang terletak dalam dinding medial rongga timpani di bawah dan belakang tingkap oval dan diliputi oleh suatu membran elastis yang dikenal sebagai tingkap bulat (fenestra rotundum). Membran ini memisahkan rongga timpani dari perilimf dalam skala timpani koklea (Seeley, 2004).

5. Tuba auditiva (Eustachius) menghubungkan rongga timpani dengan nasofarings lumennya gepeng, dengan dinding medial dan lateral bagian tulang rawan biasanya saling berhadapan menutup lumen. Epitelnya bervariasi dari epitel bertingkat, selapis silindris bersilia dengan sel goblet dekat farings. Dengan menelan dinding tuba saling terpisah sehingga lumen terbuka dan udara dapat masuk ke rongga telinga tengah. Dengan demikian tekanan udara pada kedua sisi membran timpani menjadi seimbang (Seeley, 2004).

II. Otitis Media AkutOtitis Media1. Definisi

Djafaar dkk dalam Buku Ajar THT-KL mendefinisikan otitis media sebagai peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. 2. Epidemiologi

Faktor-faktor yang mempenfaruhi angka kejadian otitis media yaitu usia, jenis kelamin, ras, latar belakang genetik, status sosioekonomi, jenis susu saat bayi, derajat paparan terhadap rokok, ada tidaknya alergi pada sistem respirasi, musim, dan status vaksinasi pneumokokus .3. Patogenesis

Otitis Media Akut

a. Factor pencetus terjadinya otitis media akut menurut Djafaar dkk.:

Terganggunya factor pertahanan tubuh, yaitu terganggunya silia pada mukosa tuba Eustachius

Sumbatan tuba Eustachius

Infeksi saluran napas atas, semakin sering terkena ISPA maka makin besar kemungkinan anak mengalami OMA.

Pada anak anatomi tuba Eustachius juga terlibat mempermudah terjadinya OMA.

Bakteri piogenik merupakan penyebab utama OMA (otitis media akut), seperti Streptococcus haemolyticus, Stafilococcus aureus, pneumakokus. Kadang- kadang Haemophylus influenza ditemukan juga.

b. Djafaar dkk. Membagi OMA dalam beberapa 5 stadium (Djaafar dkk dalam Soepardi dkk, 2007) :

Stadium

Oklusi Tuba Eustachius

Retraksi membran timpani karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat absorpsi udara.

kadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat

efusi tidak dapat dideteksi

stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa karena virus atau alergi

stadium

hiperemis (pre-supurasi)

Pelebaran pembuluh darah di membran timpani ( tampak hiperemis dan edem

Terbentuk sekret yang mungkin bersifat eksudat serosa ( sukar terlihat

stadium

supurasi

Edema hebat pada mukosa telinga tengah, sel epitel superfisialis hancur, terbentuk eksudat purulen di kavum timpani ( membran timpani menonjol ke arah telinga luar Pasien terlihat sangat sakit, peningkatan nadi dan suhu, pertambahan nyeri telinga

Jika tekanan di kavum tidak berkurang karena tekanan nanah ( iskemik, tromboflebitis pada vena-vena kecil, nekrosis mukosa dan submukosa ( daerah ini tampak kekuningan dan lebih lembek ( akan terjadi rupture

stadium

perforasi Ruptur membran timpani ( sekret mengalir ke liang telinga luar ( Anak menjadi tenang dan dapat tidur nyenyak

stadium

resolusi

Bil