of 36/36
BAB I PENDAHULUAN Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media supuratif akut atau otitis media akut (OMA) merupakan bentuk akut dari otitis media supuratif, yang dapat berkembang menjadi OMSK bila tidak diterapi dengan baik. Otitis media akut (OMA) terjadi akibat faktor pertahanan tubuh yang terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab terjadinya OMA. Fungsi tuba sebagai barrier masuknya mikroba ke telinga tengah menjadi terganggu akibat adanya sumbatan tuba. Infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus terjadinya gangguan pada tuba. Makin sering seseorang terutama anak-anak mengalami infeksi saluran napas atas, makin besar kemungkinannya orang tersebut mengalami OMA Otitis media ini merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai di seluruh dunia dengan angka kejadian yang bervariasi pada tiap-tiap negara. Senturia et al. (1980) membagi otitis media berdasarkan durasi penyakit atas akut (< 3 minggu), subakut (3-12 minggu) dan kronis (>12 minggu). Sade (1985); Klein, Tos dan Hussl (1989) pada third dan fourth International Symposium on otitis media menganjurkan membagi otitis media berdasarkan gejala klinis atas 4 kelompok yaitu 1

Lapsus Oma Stadium Oklusi (Autosaved)

  • View
    155

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Lapsus Oma Stadium Oklusi (Autosaved)

BAB IPENDAHULUAN

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media supuratif akut atau otitis media akut (OMA) merupakan bentuk akut dari otitis media supuratif, yang dapat berkembang menjadi OMSK bila tidak diterapi dengan baik. Otitis media akut (OMA) terjadi akibat faktor pertahanan tubuh yang terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab terjadinya OMA. Fungsi tuba sebagai barrier masuknya mikroba ke telinga tengah menjadi terganggu akibat adanya sumbatan tuba. Infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus terjadinya gangguan pada tuba. Makin sering seseorang terutama anak-anak mengalami infeksi saluran napas atas, makin besar kemungkinannya orang tersebut mengalami OMAOtitis media ini merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai di seluruh dunia dengan angka kejadian yang bervariasi pada tiap-tiap negara. Senturia et al. (1980) membagi otitis media berdasarkan durasi penyakit atas akut (< 3 minggu), subakut (3-12 minggu) dan kronis (>12 minggu). Sade (1985); Klein, Tos dan Hussl (1989) pada third dan fourth International Symposium on otitis media menganjurkan membagi otitis media berdasarkan gejala klinis atas 4 kelompok yaitu miringitis, otitis media supuratif akut (OMSA), otitis media sekretori (OMS) dan otitis media supuratif kronis (OMSK).3Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Bakteri penyebab OMA yang utama adalah Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, dan Pneumokokus. Selain itu kadang juga dapat disebabkan oleh Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas aurugenosa. Perubahan telinga tengah sebagai akibat infeksi dibagi atas 5 stadium berdasarkan gambaran membran timpani yang tampak dari luar.

BAB IILAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIENNama : Tn. R SUmur: 29 tahunJenis Kelamin: Laki-LakiAlamat: Jl. Dr No.79 RT.12 Buluran Kenali. Telanai Pura JambiAgama: IslamPekerjaan : SwastaPendidikan: SLTA

II. ANAMNESIS(Autoanamnesis, Tgl: 07 Februari 2014) Keluhan utamaOs datang dengan keluhan telinga kanan terasa pengap sejak 7 hari yang lalu.

Riwayat perjalanan penyakit Sejak 7 hari yang lalu pasien mengeluh telinga kanan terasa pengap. Sakit (+) hilang timbul, telinga berdengung (+), pendengaran berkurang (+), keluar cairan/darah (-), gatal (+), riwayat di korek (+), riwayat masuk air (-), riwayat masuk binatang (-), terdapat nyeri kepala sebelah kiri (+) riwayat pusing berputar (+), pilek (+) batuk (+) kurang lebih sejak 1 minggu yang lalu, riwayat batuk pilek sebelum sakit telinga (+), demam (-), telinga sebelah kanan tidak ada keluhan. Riwayat merokok (+) Minimal 1 bungkus sehari.

Riwayat pengobatanPasien belum pernah berobat karena keluhan yang dirasakan saat ini

Riwayat penyakit dahuluOs sering mengalami batuk & pilek berulang selama beberapa waktu iniRiwayat Hipertensi disangkalRiwayat asma disangkalRiwayat kencing manis disangkalRiwayat mengalami penyakit yang sama disangkal

Riwayat penyakit keluargaTidak ada keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasienIII. HAL- HAL PENTINGTelingaHidungTenggorokLaring

Gatal : +/-Rinore : +/+Sukar menelan : -Suara parau : -

Dikorek : +/+Buntu : +/-Sakit menelan : -Afonia : -

Nyeri : +/-Bersin : +/-Trismus : -Sesak napas : -

Bengkak : -/-*Dingin/Lembab: Ptyalismus : -Rasa sakit : -

Otore : -/-*Debu rumah :Rasa mengganjal : -Rasa mengganjal : -

Tuli : +/-Berbau : -/-Rasa berlendir : -

Tinitus : +/-Mimisan : -/-Rasa kering : -

Vertigo : +Nyeri hidung : -

Mual : +Suara sengau : -

Muntah : -

IV. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum: compos mentis Tekanan darah : 120/80mm/Hg Pernafasan : 20x/menit Suhu : 36,5 0C Nadi: 80x/menit Anemia: (-) Sianosis: (-) Stridor inspirasi: (-) Retraksi suprasternal: (-) Retraksi interkostal: (-)

a) TelingaTelingaKananKiri

Daun Telinga Anotia, mikrotia, makrotia Keloid Perikondritis Kista Fistel Ott hematom Nyeri tekan tragus/daun telinga--------------

Liang Telinga Atresia Serumen prop Epidermis prop Korpus alineum Jaringan granulasi Exositosis Osteoma Furunkel----------------

Membran timpani Warna Reflek cahaya

Hiperemis Retraksi Bulging Atropi Perforasi Bula SekretsuramTidak ada reflek cahaya, retraksi(+)-+-----Putih Seperti mutiara Arah jam 5-------

Retro auricular Fistel Kista Abses------

Pre auricular Fistel Kista Abses------

b) HidungHidungKananKiri

Rinoskopi anterior

Vestibulum Nasi

Lebar lubang hidung normal, krusta (-), bisul (-),Lebar lubang hidung normal, krusta (-), bisul (-),

Kavum NasiHiperemis (+), sekret (+), rambut (+)Hiperemis (+), sekret (+), rambut (+)

Selaput LendirHiperemis (-), edema (-)Hiperemis (-), edema (-)

Septum NasiDeviasi (-), perforasi (-)Deviasi (-), perforasi (-)

Lantai+dasar hidungLicin, massa (-)Licin, massa (-)

Konka inferiorKemerahan (+), membesar (+), permukaan licinKemerahan (+), membesar (+), permukaan licin

Meatus nasi inferiorSekret (-)Sekret (-)

Konka mediaTidak terlihatTidaka terlihat

Meatus nasi mediaSekret (-), polip (-)Sekret (-), polip (-)

Polip--

Korpus alienum--

Massa tumor--

Fenomena palatum moleSulit dinilaiSulit dinilai

HidungKananKiri

Rinoskopi posterior

Sulit dinilai

Kavum Nasi

Selaput Lendir

Koana

Septum nasi

Konka superior

Meatus nasi media

Muara tuba

Adenoid

Massa tumor

Polip

Transluminasi sinusKananKiri

Sinus maksilaristerangTerang

Sinus frotalterangTerang

c) MulutHasil

Selaput lendir mulutHiperemis (-), Edema (-), ulkus (-), massa (-)

BibirKering, hiperemis (-), krusta (-), ulkus (-)

LidahHiperemis (-), Edema (-), atropi (-), ulkus (-), gerakan segala arah

GigiLengkap, karies (+), gigi sakit (-)

Kelenjar ludahDbn

d) FaringHasil

UvulaDitengah, hiperemis (-), edema (-), ulkus (-), permukaan licin.

Palatum molleHiperemis (-), edema (-), ulkus (-)

Palatum durumHiperemis (-), edema (-), ulkus (-), benjolan (-).

Plika anteriorHiperemis (-), edema (-)

TonsilDekstra: Tonsil T1, hiperemis (-), permukaan rata, mobile

Sinistra: Tonsil T1, hiperemis (-), permukaan rata, mobile

Plika posteriorHiperemis (-), Edema (-)

Mukosa orofaringHiperemis (-), edema (-), ulkus (-)

e) Laringoskopi indirectHidungKanan

Pangkal lidahHiperemis (-), Edema (-), Papil atropi (-), ulkus (-), massa (-)

EpiglotisHiperemis (-), Edema (-), Permukaan licin (-), ulkus (-)

Sinus piriformisSulit dinilai

AritenoidSulit dinilai

Sulcus aritenoidSulit dinilai

Corda vocalisSulit dinilai

MassaSulit dinilai

f) Kelenjar getah bening leherKepala LeherKananKiri

Regio Idbndbn

Regio IIdbndbn

Regio IIIdbndbn

Regio IVdbndbn

Regio Vdbndbn

Regio VIdbndbn

Area parotisdbndbn

Area postauriculadbndbn

Area occipitaldbndbn

Area supraclaviculadbndbn

V. TES AUDIOLOGITes pendengaranKananKiri

Rinne-+

WeberLateralisasi pada telinga kanan

ScwabachMemendekNormal

Kesimpulan : Tuli konduksi pada telinga kananVI. DIAGNOSIS BANDING:Otitis Media Efusi aurikula dextra

VII. DIAGNOSIS KERJA:Otitis media akut stadium oklusi aurikula dextra

VIII. PENATALAKSANAAN 1. Antibiotik Amoxicilin 3 x 500mg/ hari, selama 7 hari.2. Pemberian dekongestan pseudoefedrin HCl 3 x 60 mg/hari.3. Analgetik asam mefenamat 3 x 500 mg diminum bila terasa nyeri telinga setelah makan

BAB IIITINJAUAN PUSTAKA

Telinga dibagi menjadi 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (daun telinga) dan canalis auditorius eksternus ( liang telinga ). Telinga dalam terdiri dari koklea ( rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis.Anatomi telinga tengahTelinga tengah terdiri dari 3 bagian yaitu membran timpani, cavum timpani dan tuba eustachius.1. Membrana timpaniMembrana timpani memisahkan cavum timpani dari kanalis akustikus eksternus. Letak membrana timpai pada anak lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dibandingkan orang dewasa. Bentuknya ellips, sumbu panjangnya 9-10 mm dan sumbu pendeknya 8-9 mm, tebalnya kira-kira 0,1 mm.Membran timpani terdiri dari 2 bagian yaitu pars tensa (merupakan bagian terbesar) yang terletak di bawah malleolar fold anterior dan posterior dan pars flacida (membran sharpnell) yang terletak diatas malleolar fold dan melekat langsung pada os petrosa. Pars tensa memiliki 3 lapisan yaitu lapiasan luar terdiri dari epitel squamosa bertingkat, lapisan dalam dibentuk oleh mukosa telinga tengah dan diantaranya terdapat lapisan fibrosa dengan serabut berbentuk radier dan sirkuler. Pars placida hanya memiliki lapisan luar dan dalam tanpa lapisan fibrosa.Vaskularisasi membran timpani sangat kompleks. Membrana timpani mendapat perdarahan dari kanalis akustikus eksternus dan dari telinga tengah, dan beranastomosis pada lapisan jaringan ikat lamina propia membrana timpani. Pada permukaan lateral, arteri aurikularis profunda membentuk cincin vaskuler perifer dan berjalan secara radier menuju membrana timpani. Di bagian superior dari cincin vaskuler ini muncul arteri descendent eksterna menuju ke umbo, sejajar dengan manubrium. Pada permukaan dalam dibentuk cincin vaskuler perifer yang kedua, yang berasal dari cabang stilomastoid arteri aurikularis posterior dan cabang timpani anterior arteri maksilaris. Dari cincin vaskuler kedua ini muncul arteri descendent interna yang letaknya sejajar dengan arteri descendent eksterna.2. Kavum timpaniKavum timpani merupakan suatu ruangan yang berbentuk irreguler diselaputi oleh mukosa. Kavum timpani terdiri dari 3 bagian yaitu epitimpanium yang terletak di atas kanalis timpani nervus fascialis, hipotimpananum yang terletak di bawah sulcus timpani, dan mesotimpanum yang terletak diantaranya.Batas cavum timpani ;Atas: tegmen timpaniDasar: dinding vena jugularis dan promenensia styloidPosterior: mastoid, m.stapedius, prominensia pyramidalAnterior: dinding arteri karotis, tuba eustachius, m.tensor timpaniMedial: dinding labirinLateral : membrana timpaniKavum timpani berisi 3 tulang pendengaran yaitu maleus, inkus, dan stapes. Ketiga tulang pendengaran ini saling berhubungan melalui artikulatio dan dilapisi oleh mukosa telinga tengah. Ketiga tulang tersebut menghubungkan membran timpani dengan foramen ovale, seingga suara dapat ditransmisikan ke telinga dalam.Maleus, merupakan tulang pendengaran yang letaknya paling lateral. Malleus terdiri 3 bagian yaitu kapitulum mallei yang terletak di epitimpanum, manubrium mallei yang melekat pada membran timpani dan kollum mallei yang menghubungkan kapitullum mallei dengan manubrium mallei. Inkus terdiri atas korpus, krus brevis dan krus longus. Sudut antara krus brevis dan krus longus sekitar 100 derajat. Pada medial puncak krus longus terdapat processus lentikularis. Stapes terletak paling medial, terdiri dari kaput, kolum, krus anterior dan posterior, serta basis stapedius/foot plate. Basis stapedius tepat menutup foramen ovale dan letaknya hampir pada bidang horizontal.Dalam cavum timpani terdapat 2 otot, yaitu :- M.tensor timpani, merupakan otot yang tipis, panjangnya sekitar 2 cm, dan berasal dari kartilago tuba eustachius. Otot ini menyilang cavum timpani ke lateral dan menempel pada manubrium mallei dekat kollum. Fungsinya untuk menarik manubrium mallei ke medial sehingga membran timpani menjadi lebih tegang.- M. Stapedius, membentang antara stapes dan manubrium mallei dipersarafi oleh cabang nervus fascialis. Otot ini berfungsi sebagai proteksi terhadap foramen ovale dari getaran yang terlalu kuat.3. Tuba eustachiusKavitas tuba eustachius adalah saluran yang meneghubungkan kavum timpani dan nasofaring. Panjangnya sekitar 31-38 mm, mengarah ke antero-inferomedial, membentuk sudut 30-40 dengan bidang horizontal, dan 45 dengan bidang sagital. 1/3 bagian atas saluran ini adalah bagian tulang yang terletak anterolateral terhadap kanalis karotikus dan 2/3 bagian bawahnya merupakan kartilago. Muara tuba di faring terbuka dengan ukuran 1-1,25 cm, terletak setinggi ujung posterior konka inferior. Pinggir anteroposterior muara tuba membentuk plika yang disebut torus tubarius, dan di belakang torus tubarius terdapat resesus faring yang disebut fossa rosenmuller. Pada perbatasan bagian tulang dan kartilago, lumen tuba menyempit dan disebut isthmus dengan diameter 1-2 mm. Isthmus ini mudah tertutup oleh pembengkakan mukosa atau oleh infeksi yang berlangsung lama, sehingga terbentuk jaringan sikatriks. Pada anak-anak, tuba ini lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dibandingkan orang dewasa, sehinggga infeksi dari nasofaring mudah masuk ke kavum timpani.

OTITIS MEDIA AKUTOtitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba ke dalam di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibody. Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran nafas atas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran nafas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA.

Sembuh / Normal

Fungsi tuba tetap terganggu

OMEEfusiTekanan negative telinga tengahGangguan tuba

Infeksi (-)

Etiologi :- Perubahan tekanan udara tiba-tiba- Alergi- Infeksi- Sumbatan : Sekret Tampon Tumor

Tuba tetap terganggu dan Infeksi (+)

OMA

SembuhOMEOMSK/OMP

EtiologiSumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media. Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu, ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab yang paling sering. Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus, Staphylococcus aureus, Pneumococcus, Haemophilus influenza, Escherichia coli, Streptococcus anhemolyticus, Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa. Sejauh ini Streptococcus pneumonia merupakan organisme penyebab tersering pada semua kelompok umur. Sedangkan Haemophilus influenza adalah patogen tersering yang ditemukan pada anak di bawah usia lima tahun. Meskipun juga patogen pada orang dewasa.Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal.Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal, yaitu:(1)Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan, (2)Saluran eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah. (3)Adenoid (salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relative lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu, adenoid sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.PatogenesisOtitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

Stadium OMAPerubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati melalui liang telinga luar.1. Stadium oklusi tuba EustachiusTanda oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.2. Stadium hiperemis (stadium pre-supurasi)Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

3. Stadium supurasiEdema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.

Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi, dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan pus di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia,akibat tekanan pada kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan, di tempat ini akan terjadi ruptur.Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur (perforasi) tidak mudah menutup kembali.4. Stadium perforasiKarena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan pus keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut otitis media akut stadium perforasi.

5. Stadium resolusiBila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.Gejala klinikGejala klinik otitis media akut tergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah nyeri telinga, suhu tubuh tinggi dan biasanya ada riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa disamping rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA adalah suhu tubuh tinggi sampai 39,5 C (stadium supurasi), anak gelisah dan sulit tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang. Bila terjadi ruptur membran timpani maka sekret mengalir ke liang telinga luar, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.DiagnosisDiagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.1. Penyakitnya muncul mendadak (akut)2. Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: (1)menggembungnya gendang telinga, (2)terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga, (3)adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga, (4)cairan yang keluar dari telinga.3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: (1)kemerahan pada gendang telinga, (2)nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.Penatalaksanaan Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Tujuan dari pengobatan yaitu menghilangkan tanda dan gejala penyakit, eradikasi infeksi, dan pencegahan komplikasi.Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak 12 thn atau dewasa. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik.Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala- gejala klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat dihindari. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.Miringotomi adalah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainese sekret telinga tengah. Miringotomi dilakukan bila ada cairan yang menetap di telinga setelah 3 bulan penanganan medis dan terdapat gangguan pendengaran. Miringotomi harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat dikuasai agar membran timpani dapat terlihat dengan baik. Biasanya pada anak kecil dignakan anastesi umum. Lokasi miringotomi adalah di kuadran posteroinferior.Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.Stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membrane timpani. Pada keadaan ini antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu.

KomplikasiSebelum ada antibiotika komplikasi dapat terjadi dari yang ringan hingga berat tetapi setelah ada antibiotika komplikasi biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronis.OMA dengan perforasi membran timpani dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat, pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik.Komplikasi yang dapat terjadi adalah mastoidis, paralisis nervus fascialis, komplikasi ke intrakranial seperti abses ekstradural, abses subdural, meningitis, abses otak, trombosis sinus lateralis, otittis hidrocephalus, labirintis dan petrosis.

BAB IVANALISA KASUS

Diagnosis Otitis Media Akut Stadium Oklusi pada kasus ini didapatkan melalui hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik telinga yang dilakukan. Pada anamnesis, tergambar jelas mengenai etiologi dan perjalanan penyakit pasien. Anamnesis adanya riwayat batuk-pilek dengan sekret kuning keruh sebelum keluhan telinga muncul menunjukkan penyebab terjadinya infeksi pada telinga tengah. Infeksi pada hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan gangguan tuba auditiva yang selanjutnya menyebabkan tekanan negatif pada telinga tengah, bermanifestasi sebagai rasa penuh pada telinga yang dirasakan pasien. Sumbatan tuba yang terus berlanjut menyebabkan hipersekresi sel goblet pada mukosa telinga tengah. Sekret merupakan media pertumbuhan bakteri yang baik, sehingga kemudian timbul proses infeksi pada telinga tengah. Rasa nyeri pada telinga akibat proses inflamasi. Pada kasus ini penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien di atas ialah rhinitis yang sudah lama dialami. Pasien mengalami batuk pilek sudah lama. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mengalami edema & hiperemis yang disertai adanya cairan mukus. Kemungkinan pasien mengalami rhinitis kronis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab dari otitis medianya ialah komplikasi dari rhinitis kronis.Pada pemeriksaan fisik menggunakan otoskop telinga kiri nyeri tragus dan nyeri tarik daun teliga (-), membrane timpani intak/ perforasi (-), hiperemis (-), warna suram dan reflek cahaya tidak ada retraksi (+). Penanganan ditujukan pada eradikasi infeksi dan simtomatis untuk mengurangi gejala yang dirasakan pasien. Eradikasi infeksi pada OMA harus adekuat sehingga infeksi tidak menetap dan berubah menjadi OMSK. Terapi lini pertama diberikan pada pasien ini berupa antibiotik selama 7 hari. Dekongestan nasal topikal digunakan untuk mengurangi sumbatan pada tuba Eustachius, sehingga drainase sekret lebih lancar dan fungsi fisiologis proteksi tuba kembali normal. Pseudoefedrin HCl dipilih dalam bentuk tablet oral untuk meringankan sumbatan pada rongga hidung bagian posterior atar tuba Eustachius agar fungsi normal tuba kembali normal. Prognosis dubia ad bonam, prognosis sangat tergantung pada tindakan pengobatan yang dilakukan dan mencegah komplikasi. Edukasi pasien tidak disarankan mengorek-ngorek telinga, menjaga telinga tidak masuk air saat mandi, dilarang berenang dan berobat bila ada penyakit infeksi pernapasan terutama ISPA.

BAB VKESIMPULAN

1. Telah dilaporkan pasien Tn. RS. 29 tahun dengan diagnosa otitis media akut stadium oklusi tuba aurikula dextra yang diterapi dengan antibiotik, dekongestan dan analgetik2. Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. 3. Faktor etiologi dan predisposisi adalah Infeksi saluran napas atas oleh bakteri piogenik yang berulang dan disfungsi tuba eustachii.4. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu telinga terasa pengap (+), sakit hilang timbul (+), telinga berdengung (+), pendengaran pasien berkurang (+), tidak adanya sekret yang keluar, demam tidak ada.5. Pemeriksaan fisik dengan otoskop didapatkan membrane timpani intak, warna suram, hiperemis (-), reflek cahaya (-) Retraksi (+)6. Pada pemeriksaan garpu tala didapatkan tuli konduktif pada telinga kanan7. Edukasi mencegah penyakit aktif kembali. Pasien tidak disarankan mengorek-ngorek telinga, menjaga agar tidak masuk air sewaktu mandi, dilarang berenang dan berobat bila ada penyakit infeksi pernapasan terutama ISPA.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi, EA. et al.BukuAjar Ilmu Kesehatan TelingaHidung Tenggorok Kepala danLeher Edisi Ketujuh. Jakarta: Fakultas Kedokteran Indonesia. 2012 hal 12, 57-612. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6.Jakarta: EGC, 1997: 88-1183. Aboet,A.Terapi Pada Otitis Media Supuratif Akut. Departemen Telinga Hidung Tenggorok danBedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP H. Adam Malik, Medan. 20124. Healy GB, Rosbe KW. Otitis media and middle ear effusions. In: Snow JB, Ballenger JJ,eds. Ballengers otorhinolaryngology head and neck surgery. 16th edition. New York: BC Decker; 2003. p.249-59. 5. Donaldson JD. Acute Otitis Media. Updated Oct 28, 2011. Available from: http://www.emedicine.medscape.com. Accessed January 27, 2014 6. Ghanie A. Penatalaksanaan otitis media akut pada anak. Tinjauan pustaka. Palembang: Departemen THT-KL FK Unsri/RSUP M.Hoesin; 2010

5