of 24/24
1 BAB I PENDAHULUAN Masalah telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) merupakan masalah yang sering terjadi pada semua kalangan terutama anak-anak. Saluran napas atas merupakan tempat infeksi tersering pada anak. Infeksi saluran pernapasan atas ini terkadang juga dapat menimbulkan keluhan lain seperti infeksi pada telinga, salah satunya otitis media. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non-supuratif, dimana masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis.Otitis media supuratif akut atau otitis media akut (OMA) merupakan bentuk akut dari otitis media supuratif, yang dapat berkembang menjadi OMSK bila tidak diterapi dengan baik.Otitis media akut (OMA) terjadi akibat faktor pertahanan tubuh yang terganggu.Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab terjadinya OMA.Fungsi tuba sebagai barrier masuknya mikroba ke telinga tengah menjadi terganggu akibat adanya sumbatan tuba.Infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus terjadinya gangguan pada tuba. Makin sering seseorang terutama anak-anak mengalami infeksi saluran napas atas, makin besar kemungkinannya orang tersebut mengalami OMA. 1 Otitis media pada anak-anak sering kali disertai dengan infeksi pada saluran pernapasan atas. Pada penelitian terhadap 112 pasien ISPA (6-35 bulan), didapatkan 30% mengalami otitis media akut dan 8% sinusitis. Epidemiologi seluruh dunia terjadinya otitis media berusia 1 thn sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 thn sekitar 83%. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. 2

Lapsus Oma Udayana

  • View
    57

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Lapsus Oma Udayana

Text of Lapsus Oma Udayana

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Masalah telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) merupakan masalah yang

    sering terjadi pada semua kalangan terutama anak-anak. Saluran napas atas

    merupakan tempat infeksi tersering pada anak. Infeksi saluran pernapasan atas ini

    terkadang juga dapat menimbulkan keluhan lain seperti infeksi pada telinga, salah

    satunya otitis media.

    Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,

    tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.Otitis media terbagi atas otitis

    media supuratif dan otitis media non-supuratif, dimana masing-masing golongan

    mempunyai bentuk akut dan kronis.Otitis media supuratif akut atau otitis media akut

    (OMA) merupakan bentuk akut dari otitis media supuratif, yang dapat berkembang

    menjadi OMSK bila tidak diterapi dengan baik.Otitis media akut (OMA) terjadi

    akibat faktor pertahanan tubuh yang terganggu.Sumbatan tuba Eustachius merupakan

    faktor penyebab terjadinya OMA.Fungsi tuba sebagai barrier masuknya mikroba ke

    telinga tengah menjadi terganggu akibat adanya sumbatan tuba.Infeksi saluran napas

    atas merupakan faktor pencetus terjadinya gangguan pada tuba. Makin sering

    seseorang terutama anak-anak mengalami infeksi saluran napas atas, makin besar

    kemungkinannya orang tersebut mengalami OMA.1

    Otitis media pada anak-anak sering kali disertai dengan infeksi pada saluran

    pernapasan atas. Pada penelitian terhadap 112 pasien ISPA (6-35 bulan), didapatkan

    30% mengalami otitis media akut dan 8% sinusitis. Epidemiologi seluruh dunia

    terjadinya otitis media berusia 1 thn sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 thn

    sekitar 83%. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu

    episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka

    mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami

    minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun.2

  • 2

    Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa faktor, antara lain

    usia

  • 3

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Definisi

    Otitis media adalah suatu peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga

    tengah.Otitis media akut didefinisikan bila proses peradangan pada telinga tengah

    yang terjadi secara cepat dan singkat (dalam waktu kurang dari 3 minggu) yang

    disertai dengan gejala lokal dan sistemik.1

    2.2. Anatomi

    Gambar 1. Anatomi Telinga

    Telinga dibagi menjadi 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga

    dalam.Telinga tengah berbentuk kubus dengan1,3

    :

    - Batas luar : membran timpani

    - Batas depan : tuba Eustachius

    - Batas bawah : vena jugularis

    - Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

    - Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)

  • 4

    - Batas dalam : kanalis semi sirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap

    lonjong, tingkap bundar dan promontorium

    Peradangan pada telinga tengah dapat dilihat dari membran timpani.

    Membran timpani orang dewasa berdiameter sekitar 9 mm.3Membran timpani

    berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik

    terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Sharpnell)

    sedangkan bagian bawah disebut pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya

    berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian

    dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran pernafasan. Pars

    tensa memiliki satu lapisan lagi di tengah yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen

    dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler di

    bagian dalam. 1

    Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut

    sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke arah

    bawah, yaitu pada pukul 5 untuk membran timpani kanan, sementara membran

    timpani kiri pada arah jam 7. Refleks cahaya adalah cahaya dari luar yang

    dipantulkan oleh membran timpani. Di membran timpani terdapat dua serabut yaitu

    sirkuler dan radier sehingga menyebabkan timbulnya refleks cahaya.Membran

    timpani dibagi menjadi 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus

    longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga

    didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah-depan serta bawahbelakang,

    untuk menyatakan letak perforasi membrane timpani. Di dalam telinga tengah

    terdapat tulang-tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes.1,4

  • 5

    Gambar 2. Membran Timpani

    Sumbatan pada tuba Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya

    OMA.Kavitas tuba eustachius adalah saluran yang meneghubungkan kavum timpani

    dan nasofaring. Tuba eustachius meluas sekitar 35 mm dari sisi anterior rongga

    timpani ke sisi posterior nasofaring dan berfungsi untuk ventilasi, membersihkan dan

    melindungi telinga tengah. Lapisan mukosa tuba dipenuhi oleh sel mukosiliar,

    penting untuk fungsi pembersihannya. Bagian dua pertiga antromedial dari tuba

    Eustachius berisi fibrokartilaginosa, sedangkan sisanya adalah tulang. Dalam

    keadaan istirahat, tuba tertutup. Pembukaan tuba dilakukan oleh otot tensor veli

    palatini, dipersarafi oleh saraf trigeminal. Pada anak, tuba lebih pendek, lebih lebar

    dan lebih horizontal dari tuba orang dewasa. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan

    pada anak di bawah 9 bulan adalah 17,5 mm.3,4

    2.3. Etiologi

    Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari

    otitis media.Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu,

    sehingga pencegahaninvasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga.

    Selain itu, ISPA juga merupakansalahsatu faktor penyebab yangpalingsering.1,3

  • 6

    Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti

    Streptococcushemoliticus, Haemophilus Influenzae (27%), Staphylococcus aureus

    (2%), StreptococcusPneumoniae(38%), Pneumococcus.3,4

    Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena

    beberapa hal, yaitu4:

    - Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan

    - Saluran eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek

    sehinggaISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.

    - Adenoid (salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam

    kekebalan tubuh) pada anak relative lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi

    adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang

    besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu, adenoid

    sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga

    tengah lewat saluran Eustachius.

    2.4. Patogenesis

    Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang

    tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran

    Eustachius.Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan

    infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran,

    tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-

    sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri.

    Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah.Selain itu pembengkakan

    jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di

    telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.3,4

    Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena

    gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ

    pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran

    yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih

  • 7

    banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran

    pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat,

    cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena

    tekanannya.3,4

    2.5. Klasifikasi

    OMA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium, bergantung

    pada perubahan pada mukosa telinga tengah, yaitu stadium oklusi tuba Eustachius,

    stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi, stadium perforasi dan

    stadium resolusi.1

    1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius

    Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai

    oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif

    di dalam telinga tengah, dengan adanya absorpsi udara.Retraksi membran

    timpani terjadi dan posisi malleus menjadi lebih horizontal, refleks cahaya

    juga berkurang.Edema yang terjadi pada tuba Eustachius juga

    menyebabkannya tersumbat.Selain retraksi, membran timpani kadang- kadang

    tetap normal dan tidak ada kelainan, atau hanya berwarna keruh pucat.Efusi

    mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi.Stadium ini sulit dibedakan

    dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi.

    Tidak terjadi demam pada stadium ini.1,4

    2. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi

    Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran

    timpani, yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema

    mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat.Hiperemis

    disebabkan oleh oklusi tuba yang berkepanjangan sehingga terjadinya invasi

    oleh mikroorganisme piogenik. Proses inflamasi berlaku di telinga tengah dan

  • 8

    membran timpani menjadi kongesti. Stadium ini merupakan tanda infeksi

    bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh

    dan demam. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan

    ringan, tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena

    terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala

    berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari.1,4

    3. Stadium Supurasi

    Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen

    atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid.Selain itu edema

    pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial

    terhancur. Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani

    menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang telinga

    luar. Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit, nadi dan suhu

    meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Pasien selalu gelisah

    dan tidak dapat tidur nyenyak.Dapat disertai dengan gangguan pendengaran

    konduktif.Pada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang. Stadium

    supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan

    iskemia membran timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa

    membran timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di

    kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan

    kapiler membran timpani meningkat, lalu menimbulkan nekrosis.Daerah

    nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau yellow

    spot.Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan

    miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada

    membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju

    liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan menutup kembali,

    sedangkan apabila terjadi ruptur, lubang tempat perforasi lebih sulit menutup

    kembali.1,4

  • 9

    4. Stadium Perforasi

    Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga

    sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah

    ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi

    (berdenyut).Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian

    antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, penderita

    berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun dan dapat tertidur

    nyenyak.1,4

    Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap

    berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media

    supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih

    satu setengah sampai dengan dua bulan, maka keadaan itu disebut otitis media

    supuratif kronik.1

    5. Stadium Resolusi

    Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan

    berkurangnya dan berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh membran

    timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup

    kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering. Pendengaran

    kembali normal.Stadium ini berlangsung walaupun tanpa pengobatan, jika

    membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman

    rendah. Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi

    otitis media supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi

    membran timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara terus-menerus

    atau hilang timbul.1,4

    Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa

    otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum

    timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.1,4

  • 10

    2.6. Gejala dan Tanda

    Terdapat beberapa gejala dan tanda dari otitis media1:

    1. Nyeri pada telinga dalam yang berat dan biasanya berkembang dengan cepat.

    2. Terkadang dapat terasa nyeri pada daun telinga.

    3. Demam

    4. Gangguan pendengaran

    5. Pada anak-anak biasanya rewel

    6. Dapat keluar cairan dari telinga yang biasanya berwarna putih atau kekuningan

    dan berbau.

    7. Pada anak biasanya diikuti dengan infeksi saluran nafas atas atau setelah

    mengalami infeksi saluran nafas atas.

    2.7. Diagnosis

    Penegakan diagnosis terhadap OMA tidak sulit, cukup dengan melihat gejala

    klinis dan keadaan membran timpani biasanya diagnosis sudah dapat

    ditegakkan.Penilaian membran timpani dapat dilihat melalui pemeriksaan lampu

    kepala dan otoskopi.Menurut Kerschner, kriteria diagnosis OMA harus memenuhi

    tiga hal berikut, yaitu:1,3

    1. Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.

    2. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di

    telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan memperhatikan tanda berikut:

    a. Mengembangnya gendang telinga

    b. Terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga

    c. Adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga

    d. Cairan yang keluar dari telinga

    3. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan

    adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau eritema pada

    membran timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan

    aktivitas normal.

  • 11

    Diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan

    fisik yang cermat. Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium

    dan usia pasien. Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang

    menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau

    agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga.Untuk pemeriksaan

    penunjangnya dapat dilakukan pemeriksaan kultur. Dalam melakukan

    pemeriksaan kultur jaringan maka perlu diperhatikan jenis cairan yang keluar,

    ini akan mebantu membedakan dari tingkat keparahan pada auricular media.

    Pengambilan cairan bersifat seros/ purulen/ mukopurulen yang diambil untuk

    dilakukan kultur, percobaan ini dilakukan selain untuk membedakan bakteri

    atau virus yang menyebabkan infeksi, juga dapat untuk mendapatkan

    diagnosis pasti pada jenis bakteri yang menyebabkan peradangan sehingga

    pemberian antibiotic bisa adekuat dan tepat sasaran. Tetapi kultur cairan ini

    memiliki kelemahan yaitu membutuhkan waktu yang lama untuk

    melakukannya.3

    2.8. Penatalaksanaan

    Tujuan penatalaksanaan OMA adalah mengurangi gejala dan rekurensi.Pada

    fase inisial penatalaksanaan ditujukan pada penyembuhan gejala yang berhubungan

    dengan nyeri dan demam dan mencegah komplikasi supuratif seperti mastoiditis atau

    meningitis.Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya.

    Pada stadium oklusi tuba, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba

    Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat

    tetes hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang

    dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang

    berumur atas 12 tahun pada orang dewasa. Sumber infeksi harus diobati

    dengan pemberian antibiotik.1,4

    Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan

    analgesik. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau

  • 12

    eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam

    klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin

    intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak

    terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan

    kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi

    tehadap penisilin, diberikan eritromisin. Pada anak, diberikan ampisilin 50-

    100 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam empat dosis, amoksisilin atau

    eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis.1,4

    Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk untuk

    melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala

    cepat hilang dan tidak terjadi ruptur.1,4

    Pada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak keluar, kadang secara

    berdenyut atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3%

    selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3

    minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali

    dalam 7 sampai dengan 10 hari.1,4

    Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret

    tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya

    sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani.

    Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila keadaan ini berterusan,

    mungkin telah terjadi mastoiditis.1,4

    OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.

    Seikitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotic.Penggunaan antibiotic tidak

    mengurangi komplikasi yang terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran.Jika gejala

    tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, American Academy of

    Pediatric (APP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus

    segera diberikan terapi antibiotik. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat

    dilakukan pada anak usia 6 bulan-2 tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan atau

    diagnosis meragukan pada anak di atas 2 tahun.

  • 13

    Setelah pengobatan adekuat, perforasi pada membran timpani dapat menutup

    kembali. Sekitar 80% pasien dengan perforasi, didapatkan membran timpani kembali

    intak dalam 14 hari setelah terjadinya perforasi. Penyembuhan membran timpani ini

    akibat migrasi dari sel-sel epitel membran timpani pada tepi perforasi. Namun

    penyembuhan ini tidak disertai pemulihan pada pars tensa lapisan fibrosa dan kolagen

    yang berada ditengahnya. Sehingga lapisan neomembran tersebut cenderung lebih

    tipis dan lebih rentan terjadi perforasi.

    Beberapa terapi bedah yang digunakan untuk penatalaksanaan OMA

    termasuk timpanosintesis,miringotomi, dan adenoidektomi.

    Timpanosintesis adalah pengambilan cairan dari telinga tengah dengan

    denggunakan jarum untuk pemeriksaan mikrobiologi. Timpanosintesis dapat

    mengidentifikasi patogen pada 70-80% kasus. Walaupun timpanosintesis

    dapat memperbaiki kepastian diagnostik untuk OMA, tapi tidak memberikan

    keuntungan terapi dibanding antibiotik sendiri. Timpanosintesis merupakan

    prosedur yang invasif, dapat menimbulkan nyeri, dan berpotensi

    menimbulkan bahaya sebagai penatalaksanaan rutin.1,3

    Miringotomi adalah tindakan insisi pada membran timpani untuk drainase

    cairan dari telinga tengah. Pada miringotomi dilakukan pembedahan kecil di

    kuadran posterior-inferior membran timpani. Miringotomi hanya dilakukan

    pada kasus-kasus terpilih dan dilakukan oleh ahlinya. Disebabkan insisi

    biasanya sembuh dengan cepat (dalam 24-48 jam), prosedur ini sering diikuti

    dengan pemasangan tabung timpanostomi untuk ventilasi ruang telinga

    tengah. Indikasi untuk miringotomi adalah terdapatnya komplikasi supuratif,

    otalgia berat, gagal dengan terapi antibiotik, pasien imunokompromis,

    neonatus, dan pasien yang dirawat di unit perawatan intensif.1,3

  • 14

    2.9. Prognosis Komplikasi

    Prognosis dari penyakit ini adalah dubia et bonam. Komplikasi dari OMA

    dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu melalui erosi tulang, invasi

    langsung dan tromboflebitis. Komplikasi ini dibagi menjadi komplikasi intratemporal

    dan intrakranial.Komplikasi intratemporal terdiri dari: mastoiditis akut, petrositis,

    labirintitis, perforasi pars tensa, atelektasis telinga tengah, paresis fasialis, dan

    gangguan pendengaran. Komplikasi intrakranial yang dapat terjadi antara lain yaitu

    meningitis, encefalitis, hidrosefalus otikus, abses otak, abses epidural, empiema

    subdural, dan trombosis sinus lateralis.1,3

  • 15

    BAB III

    LAPORAN KASUS

    3.1. Identitas Pasien

    Nama : IKAWA

    Umur : 26 Tahun

    Jenis kelamin : Laki-laki

    Bangsa : Indonesia

    Suku : Bali

    Agama : Hindu

    Status Perkawinan : Belum Menikah

    Alamat : Ketewel, Gianyar

    Tanggal Pemeriksaan : 3 November 2014

    3.2. Anamnesis

    Keluhan Utama

    Keluar cairan dari telinga kiri

    Riwayat Penyakit Sekarang

    Pasien datang ke poliklinik THT-KL RSUD Gianyar dengan keluhan keluar

    cairan dari telinga kiri, kurang lebih 5 jam sebelum datang ke poliklinik. Cairan yang

    keluar dikatakan bening dengan jumlah sekitar satu sendok teh. Keluhan dikatakan

    terus menetap dan tidak membaik.

    Pasien juga mengeluhkan pilek dan batuk sejak 7 hari yang lalu. Batuk

    dikatakan berdahak dengan warna putih kekuningan. Batuk hilang timbul dan

    memberat pada malam hari. Pilek dikeluhan encer, dan berwarna putih ke kuningan.

    Pilek terus menetap dan tidak membaik. Pasien mengeluhkan sejak 2 hari yang lalu

    mengalami nyeri pada telinga sebelah kiri dan sudah membaik sejak pagi ini. Riwayat

  • 16

    demam juga didapatkan sejak 2 hari yang lalu dan sudah membaik. Riwayat telinga

    mendenging, berenang, naik pesawat, mengkorek telinga disangkal.

    Riwayat Penyakit Terdahulu

    Pasien mengatakan tidak pernah memiliki keluhan yang sama sebelumnya.

    Riwayat penyakit sistemik seperti hipertensi, DM, ginjal, hati, jantung disangkal.

    Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asma, sinusitis, atau alergi. Pasien tidak

    memiliki riwayat trauma, riwayat operasi telinga, atau berpergian menggunakan

    pesawat terbang sebelumnya.

    Riwayat Pengobatan

    Pasien sebelumnya tidak pergi ke dokter ataupun minum obat-obatan untuk

    mengatasi keluhannya.

    Riwayat Penyakit Keluarga

    Tidak ada keluarga pasien yang menderita sakit yang sama dengan pasien.

    Riwayat pada keluarga menderita alergi dan penyakit sistemik seperti kencing manis,

    tekanan darah tinggi, kelainan metabolik lainnya disangkal.

    Riwayat Sosial Ekonomi

    Pasien adalah seorang pegawai swasta yang bekerja pada sebuah toko bangunan.

    Riwayat merokok dan minum alkohol disangkal.

    3.3. Pemeriksaan Fisik

    Status Vital Sign

    Keadaan umum : Baik

    Kesadaran : Compos Mentis

    Tekanan Darah : 110/80 mmHg

    Denyut Nadi : 80 kali/menit

    Respirasi : 16 kali/menit

    Temperatur Axila : 36,3oC

  • 17

    Status General

    Kepala : Normocephali

    Mata : Konjungtiva Anemi - / - , Sklera Ikterus - / -, isokor 3mm/3mm

    THT : Sesuai status THT

    Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening -/-

    Thorak : Cor : S1S2 Tunggal, Reguler, Murmur -

    Pulmo: Vesikuler + / +, Rhonchi - / -, Wheezing - / -

    Abdomen : Distensi (-), Bising Usus (+) N,Hepar/Lien tidak teraba

    Ekstremitas : Hangat

    Status Lokalis THT

    Telinga Kanan Kiri

    Daun telinga Normal Normal

    Liang telinga Lapang Lapang

    Discharge Tidak ada + mukopurulen

    Membran Timpani intak Perforasi

    Tumor Tidak ada Tidak ada

    Mastoid Normal Normal

    Tes pendengaran Tidak dievaluasi

    Berbisik Tidak dievaluasi

    Weber Lateralisasi ke sisi kiri

    Rinne +/+

    Schwabach Sama dengan pemeriksa / memanjang

    BOA Tidak dievaluasi

    Tympanometri Tidak dievaluasi

    Audiometri Tidak dievaluasi

    Nada Murni Tidak dievaluasi

    BERA Tidak dievaluasi

    + +

    + +

  • 18

    OAE Tidak dievaluasi

    Tes Alat Keseimbangan Tidak dievaluasi

    Hidung Kanan Kiri

    Hidung Luar Normal Normal

    Kavum Nasi Sempit Sempit

    Septum Tidak ada deviasi Tidak ada deviasi

    Discharge Ada, mukoid Ada, mukoid

    Mukosa Merah muda Merah muda

    Tumor Tidak ada Tidak ada

    Konka Kongesti Kongesti

    Sinus Normal Normal

    Koana Normal Normal

    Tenggorok

    Dispneu Tidak ada

    Sianosis Tidak ada

    Mucosa Hiperemi

    Dinding belakang faring Granulasi (-), post nasal drip (-)

    Stridor Tidak ada

    Suara Normal

    Tonsil T1/ T1 hiperemi

    3.4 Resume

    Pasien laki-laki, usia 6 tahun, mengeluh keluar cairan dari telinga kiri sejak

    tadi pagi. Terdapat pilek dan batuk pada pasien yang muncul sejak 7 hari yang lalu.

    Riwayat alergi dan penyakit sistemik disangkal oleh pasien. Pasien belum pernah

    berobat untuk keluhannya.

  • 19

    Pemeriksaan Fisik :

    1. Status Present : Dalam batas normal

    2. Status General : Dalam batas normal

    3. Status Lokalis THT

    - Liang telinga : lapang/lapang

    - Discharge : mukopurulen (- / +)

    - Membran timpani : intak / perforasi

    4. Hidung

    - Discharge :+/+ (mukoid)

    - Konka nasi : kongesti/kongesti

    - Mukosa :merah muda/ merah muda

    5. Tenggorok

    - Mukosa : hiperemi/hiperemi

    - Tonsil : T1/T1 hiperemi

    3.5. Diagnosis Banding

    OMA stadium perforasi sinistras

    OMA eksterna sinistra

    OMSK sinistra

    3.6. Pemeriksaan Penunjang

    Kultur mikroba

    3.7. Diagnosis Kerja

    OMA stadium perforasi sinistra

    3.8. Penatalaksanaan

    Medikamentosa :

    - Ear toillet

    - Amoxicilin 3x500mg (PO)

    - Pseudoephedrine HCl 3x60 mg (PO)

    - Ambroxol tab 3X 30mg (PO)

  • 20

    KIE:

    - Hindari faktor pencetus yang dapat menyebabkan ISPA

    - Selalu menjaga kebersihan telinga

    - Lindungi telinga dari suara- suara keras

    - Antibiotik harus digunakan hingga habis walaupun gejala sudah hilang agar

    penyembuhan berlangsung baik dan tidak terjadi komplikasi

    - Untuk sementara telinga kiri jangan sampai terkena air. Bila mandi sebauknya

    tutup telinga kiri dengan kapas.

    - Kontrol kembali ke poliklinik TKT-KL setelah 3 hari untuk melihat

    perkembangan pengobatan dan evaluasi pengobatan.

    3.9. Prognosis

    Dubius et bonam

  • 21

    BAB IV

    PEMBAHASAN

    Otitis media merupakan suatu peradangan pada telingah tengah. Otitis

    dapatdisebabkan oleh beberapa factor diantaranya yang paling sering ialah sumbatan

    tubaeustachius akibat infeksi. Selain itu,otitis media dapat juga merupakan suatu

    komplikasi akibat penyakit lain misalnya rhinitis, sinusitis, faringitis, otitis eksterna,

    dan lain-lain. Gejala yang sering ditimbulkan pada otitis media biasanya ialah

    rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing, juga kadang disertai mendengar

    suaradengung (tinitus).

    Pada kasus didapatkan keluhan pasien yaitu keluarnya cairan dari telinga kiri.

    Keluhan ini dirasakan sejak tadi pagi. Pasien juga mengalami pilek dan batuk sejak 7

    hari yang lalu. Sebelumnya pasien mengatakan tidak pernah mengalami keluhan

    yang sama. Dari munculnya keluhan saat ini, pasien belum pernah memeriksakan diri

    ke dokter. Riwayat penyakit lain seperti alergi dan penyakit sistemik disangkal.

    Diagnosis Otitis Media Akut Stasium Perforasi didapatkan melalui hasil

    anamnesis dan pemeriksaan fisik telinga yang dilakukan.Pada anamnesis, tergambar

    jelas mengenai etiologi dan perjalanan penyakit pasien.Anamnesis adanya riwayat

    pilek dengan sekret bening kental menunjukkan penyebab terjadinya infeksi pada

    telinga tengah.Infeksi pada hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan gangguan

    tuba auditiva yang selanjutnya menyebabkan tekanan negatif pada telinga tengah,

    bermanifestasi sebagai rasa penuh pada telinga yang dirasakan pasien.Sumbatan tuba

    yang terus berlanjut menyebabkan hipersekresi sel goblet pada mukosa telinga

    tengah. Sekret merupakan media pertumbuhan bakteri yang baik, sehingga kemudian

    timbul proses infeksi pada telinga tengah. Rasa nyeri pada telinga akibat proses

    inflamasi.

  • 22

    Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien ini meliputi pemeriksaan tanda

    vital, status general dan THT. Pada pemeriksaan fisik tanda vital dan general pasien,

    tidak ditemukan hasil yang diluar normal. Pada status THT, dari pemeriksaan telinga

    didapatkan membran timpani kiri mengalami perforasi sentral disertai adanya

    pengeluaran cairan. Pada pemeriksaan hidung didapatkan sekret pada kavum nasi

    kanan dan kiri, terdapat kongesti pada konka nasi. Pada pemeriksaan tenggorok,

    terdapat hiperemi pada mukosa faring. Dilakukan juga tes tajam dengar dengan garpu

    tala pada pasien. Hasil yang didapatkan adalah Rinne +/+, Weber lateralisasi ke kiri

    (sisi yang sakit), Schwabach sama/memanjang. Dari hasil ini diperoleh kesimpulan

    pasien mengalami gangguan pendengaran tuli konduksi sebagai gejala dari otitis

    media akut. Namun tes ini perlu dilakukan tes ulang untuk mengkonfirmasi hasil tes

    pada ruangan kedap suara agar diperoleh hasil tes yang akurat.

    Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan sudah dapat ditentukan

    diagnosis ke arah otitis media akut. Untuk diagnosis OMA sebenarnya diperlukan 3

    kriteria yaitu kejadian yang mendadak atau akut, tanda-tanda efusi dan tanda

    peradangan telinga tengah. Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media

    pada pasien di atas ialah rhinitis alergi yang sedang dialami. Pasien mengalami pilek

    bersamaan dengan timbulnya keluhan. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior

    didapatkan konka nasalis inferior mengalami hiperemi yang disertai adanya cairan

    mukus.Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab dari otitis medianya

    ialah komplikasi dari rhinitis alergi.

    Penatalaksanaan OMA disesuaikan dengan stadiumnya. Pada kasus ini,

    diberikan antibiotik untuk mengatasi patogen yang menyebabkan infeksi,

    pseudoephedrine HCl untuk mengurangi kongesti pada saluran napas dan tuba

    Eustachius. KIE yang diberikan adalah untuk menghindari faktor pencetus terjadinya

    ISPA sebagai tindakan pencegahan. Pasien sebaiknya mengikuti pengobatan yang

    diberikan dengan baik, agar gejala tidak bertambah parah hingga stadium yang lebih

    berat.

  • 23

    BAB V

    KESIMPULAN

    Otitis media adalah suatu peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga

    tengahyang terjadi secara cepat dan singkat (dalam waktu kurang dari 3 minggu)

    yang disertai dengan gejala lokal dan sistemik.

    Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari

    otitis media.Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti

    Streptococcushemoliticus, Haemophilus Influenzae (27%), Staphylococcus aureus

    (2%), StreptococcusPneumoniae(38%), Pneumococcus.Anak lebih mudah terserang

    otitis media dibanding orang dewasa.

    Untuk mendiagnosis Otitis media akut atau OMA diperlukan kriteria yang

    meliputi gejala yang timbul mendadak, tanda-tanda efusi cairan dari telinga tengah

    dan tanda-tanda inflamasi telinga tengah. Berdasarkan perjalanan penyakitnya OMA

    dibagi menjadi lima stadium, bergantung pada perubahan pada mukosa telinga

    tengah, yaitu stadium oklusi tuba Eustachius, stadium hiperemis atau stadium pre-

    supurasi, stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium resolusi. Penanganan yang

    diberikan harus disesuaikan dengan stadium-stadium tersebut agar memberikan hasil

    yang optimal dan tidak berkembang ke stadium yang lebih parah.

  • 24

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Djaafar ZA, Helmi, Restuti R D. Kelainan Telinga Tengah. Dalam : Soepardi

    EA, Iskandar HN editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

    Tenggorokan Kepala Leher. Edisi ketujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012,

    hal 58-62.

    2. Revai, Krystal et al. Incidence of AcuteOtitisMedia and Sinusitis Complicating

    Upper Respiratory Tract Infection: The Effect of Age. PEDIATRICS Vol. 119

    No. 6 June 2007, pp. e1408-e1412. Accessed: 20 Oktober 2014.

    3. Jacky Munilson, Yan Edward, Yolazenia. Penatalaksanaan Otitis Media Akut.

    Padang; Bagian THT-KL FK Universitas Andalas. 2012.

    4. Abla Ghanie. Penatalaksanaan Otitis Media Akut Pada Anak. Palembang;

    Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FK UNSRI. 2010.