of 13 /13
Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia Komda Bali UNIVERSITAS UDAYANA

UNIVERSITAS UDAYANA - erepo.unud.ac.id

  • Author
    others

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of UNIVERSITAS UDAYANA - erepo.unud.ac.id

Komda Bali
UNIVERSITAS UDAYANA
SEMNAS PERSEPSI II i Denpasar, 28-29 April 2017
Prosiding Seminar Nasional PERSEPSI II (Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Indonesia) Pengembangan Agribisnis Peternakan untuk Memperkuat Ekonomi Perdesaan di Indonesia Denpasar, 28-29 April 2017 Penyunting: I Made Antara I. G. A. Annie Ambarawati I. N. Suparta I. G. N. G. Bidura Budi Rahayu Tanama Putri N. L. G. Sumardani N. P. Sukanteri A. A. P. Putra Wibawa
Diterbitkan Oleh:
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Denpasar – Bali 80232
Telp./Fax. (0361) 235231 email: [email protected]
SEMNAS PERSEPSI II ii Denpasar, 28-29 April 2017
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA 2017
Prosiding Seminar Nasional PERSEPSI II Pengembangan Agribisnis Peternakan untuk Memperkuat Ekonomi Perdesaan di Indonesia PERSEPSI Komda Bali bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Udayana Denpasar – Bali 80232 Telp./Fax. (0361) 235231 email: [email protected] Isi prosiding dapat disitasi dengan menyebutkan sumbernya
Dicetak di Denpasar, Bali, Indonesia
Penyunting : I Made Antara, I.G.A. Annie Ambarawati, I. N. Suparta, I. G. N. G. Bidura, Budi Rahayu Tanama Putri, N. L. G. Sumardani, N. P. Sukanteri, A. A. P. Putra Wibawa Prosiding Seminar Nasional PERSEPSI II, diselenggarakan di Denpasar, 28-29 April 2017 xi + 334 halaman ISBN: 978-602-294-218-4
SEMNAS PERSEPSI II iii Denpasar, 28-29 April 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan, kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa Karena berkat asung kerta wara nugraha-Nya Prosiding Seminar Nasional PERSEPSI II dengan Tema: Pengembangan Agribisnis Peternakan untuk Memperkuat Perekonomian Masyarakat Perdesaan di Indonesia dapat terselesaikan dengan baik. Prosiding ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh dosen-dosen Fakultas Peternakan dari Perguruan Tinggi se- Indonesia yang diseminarkan pada Seminar Nasional PERSEPSI II pada tanggal 28 – 29 April 2017.
Prosiding ini berisikan makalah tentang: Manajemen Usaha Peternakan, Sosial Ekonomi Peternakan, Manajemen dan Strategi Pemasaran, Analisa dan Kebijakan Pemerintah, Penyuluhan Pembangunan Masyarakat Perdesaan, Kewirausahaan, Sosiologi Pedesaan, Nutrisi dan Makanan Ternak, Bioteknologi Peternakan, Pemuliaan Ternak, Teknologi Pengolahan Hasil Ternak, dan Teknologi Pengolahan Limbah Peternakan.
Kepada Rektor Universitas Udayana, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Ketua Program Studi Magister Ilmu Peternakan Universitas Udayana, Ketua Pusat Pengembangan Agribisnis dan Kewirausahaan Universitas Udayana, Fave Hotel Tohpati, PT Eka Farma Semarang, PT Medion, PT Charoen Pokhpand, dan CV Bali Indah, kami ucapkan terima kasih telah memfasilitasi kegiatan Semianr Nasional PERSEPSI II dan peneribitan Prosiding ini. Kepada seluruh tim editor dan panitia lainnya kami ucapkan terima kasih atas kinerjanya yang luar biasa.
Harapan kami, semoga prosiding ini dapat bermanfaat bagi peserta Seminar Nasional PERSEPSI II serta pembaca lainnya. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk kesempurnaanya.
Denpasar, April 2017 Ketua Panitia
Dr. Budi Rahayu Tanama Putri,S.Pt.,MM
SEMNAS PERSEPSI II iv Denpasar, 28-29 April 2017
DAFTAR ISI
1 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Drh. I Ketut Diarmita, MP): “Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Agribisnis Sapi untuk Mewujudkan Swasembada Daging Sapi Nasional” .....................
1
2 Ketua PERSEPSI Komda Bali (Prof. Dr. Ir. I Nyoman Suparta, MS., MM): “Strategi Tata Niaga Sapi Lokal untuk Memperkuat Ekonomi Perdesaan di Indonesia” .......................................................................................................
10
3 Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PPSKI dan Ketua Peternak Nasional (Ir. Teguh Budiyana, M.Si): “Strategi Produksi Daging Sapi yang Efisien untuk Meningkatkan Pendapatan Petani Peternak” ........................................
19
MAKALAH KELOMPOK I
1 ANALISIS KETAHANAN PANGAN PROTEIN HEWANI DAGING SAPI DI SUMATERA BARAT Dwi Yuzaria, M. Ikhsan Rias ....................................................................................
26 2 ADOPSI INOVASI PADA USAHA PETERNAKAN SAPI PESISIR DI
KABUPATEN PESISIR SELATAN, PROVINSI SUMATERA BARAT Amrizal Anas, Edwin Heriyanto................................................................................ 34
3 PENDAPATAN DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA DARI INVESTASI PETERNAKAN S. Mulatsih dan I. R. Sarmila...................................................................................... 40
4 STRATEGI PENGEMBANGAN POLA INTEGRASI PERTANIAN - PETERNAKAN UNTUK MASYARAKAT KAWASAN SUKU YEINAN DI KABUPATEN MERAUKE Maria M. D. Widiastuti, Marthen Nahumury, Irine Ike Pratiwi................................ 47
5 POTENSI PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI BAWAH POHON KELAPA DI KECAMATAN BINTAUNA A.H.S. Salendu, I.D.R. Lumenta dan H.O. Gijoh....................................................... 54
6 PROFIL MODAL SOSIAL DAN TINGKAT PARTISIPASI PETERNAK PADA PENGEMBANGAN USAHA TERNAK KAMBING DI KABUPATEN JENEPONTO Amrullah T; Muhammad Aminawar; Ikrar Mohammad Saleh; Muhammad Erik Kurniawan....................................................................................................... 59
SEMNAS PERSEPSI II v Denpasar, 28-29 April 2017
7 EFISIENSI PEMASARAN SAPI BALI POTONG ANTAR PULAU DI PROVINSI BALI Sukanata, I W., N. Suparta, I W. Budiartha, dan I G. Suarta.................................... 65
8 ANALISIS KEMAUAN PETERNAK TERHADAP BANTUAN PERMODALAN PADA TERNAK KAMBING PERANAKAN ETTAWA DI YOGYAKARTA INDONESIA T.A. Kusumastuti, Rini W, dan Agung W.................................................................... 74
9 POTENSI PRODUKSI DAN DAYA DUKUNG PAKAN HIJAUAN UNTUK PENGEMBANGAN SAPI BALI DI KABUPATEN KLUNGKUNG BALI I Made Rai Yasa, Ni Luh Gede Budiari dan I Putu Agus Kertawirawan .................. 79
10 PENGEMBANGAN TERNAK SAPI MELALUI INTRODUKSI TEKNOLOGI DI KECAMATAN SANGKUB Femi H. Elly, A.H.S. Salendu, Ch. L. Kaunang, Indriana, R. Pomolango, Syarifuddin ................................................................................................................ 88
11 KERAGAMAN POTENSI INDIVIDU PETERNAK SAPI PO KEBUMEN DI KABUPATEN KEBUMEN Moch.Sugiarto, Syarifuddin Nur, Oentoeng E. Jatmiko. Marti Ike Wahyu ............... 94
12 STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI TERNAK BABI PADA USAHA PETERNAKAN RAKYAT N. L. G. Sumardani, I. P. Arnaya, I. P. Gede Bawa .................................................. 102
MAKALAH KELOMPOK II
1 LUMPUHNYA SUBSISTEM JASA LAYANAN PENDUKUNG “PENYULUHAN PETERNAKAN” DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PETERNAKAN SAPI POTONG DI SUMATERA BARAT Basril Basyar ............................................................................................................. 107
2 ANALISIS LALULINTAS TERNAK SAPI POTONG SEBAGAI UPAYA DETEKSI WILAYAH-WILAYAH SURPLUS SUPPLY DAN DEMAND DARI DAN KE PROVINSI JAWA BARAT Firman A, Sulistyati M, Herlina L, Sulaeman MM, dan Paturochman M ................ 113
3 PEMETAAN DAYA SAING PRODUK PETERNAKAN DI PROVINSI SUMATERA BARAT Rahmi Wati, James Hellyward, Amna Suresti dan Uyung Gatot S. Dinata .............. 119
4 DAMPAK KENAIKAN HARGA DAGING SAPI TERHADAP POLA KONSUMSI PANGAN SUMBER PROTEIN HEWANI DI KAB. BOGOR S. Mulatsih dan Zulfati R. M .................................................................................... 124
5 PEMASARAN TERNAK SAPI POTONG (STUDI KASUS UPTD BALAI PERBIBITAN TERNAK DESA WONGGAHU KECAMATAN PAGUYAMAN) Indriana dan Salma Siru ............................................................................................ 131
6 KUALITAS PRODUK DAN HARGA SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA UMKM KERUPUK KULIT DI KOTA PADANG Fitrini dan James Hellyward ..................................................................................... 136
7 POTENSI AYAM KAMPUNG SEBAGAI SUMBER PROTEIN HEWANI DI PROVINSI SULAWESI UTARA Jein Rinny Leke, Jet Mandey, Denny Rembet ............................................................ 144
8 PEMBERDAYAAN PENYULUH PETERNAKAN UNTUK MENJEMBATANI PETERNAK SAPI POTONG DENGAN SUBSISTEM HULU DAN HILIR DI SUMATERA BARAT Muhamad Reza .......................................................................................................... 150
SEMNAS PERSEPSI II vi Denpasar, 28-29 April 2017
9 PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU RUANG TERHADAP ANGKA PEROKSIDA DAN TBA DAGING ASAP MATANG Yusnaini ..................................................................................................................... 156
10 PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN ASAM ASETAT TERHADAP KARAKTERISTIK GELATIN KULIT KAKI BROILER Meity Sompie, Wiesje J Ponto, dan Linda Karisoh ................................................... 162
11 KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI PENGEMBANGBIAKKAN SAPI BALI PADA MODEL SIMANTRI DI PROVINSI BALI Sukanata I W., B.R.T. Putri, I K.Warsa, dan I G. Suranjaya .................................... 167
MAKALAH KELOMPOK III
1 ANALISIS MARGIN, BIAYA, KEUNTUNGAN DAN SISTEM TRANSAKSI JUAL BELI TERNAK SAPI OLEH PEDAGANG PENGUMPUL (TOKE) DI PASAR TERNAK PAYAKUMBUH PROVINSI SUMATERA BARAT Elfi Rahmi, Alan Maulana ......................................................................................... 176
2 TINJAUAN POLA PEMELIHARAAN USAHA TERNAK SAPI BALI YANG PALING PREVALEN DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN SUMBAWA, NTB Sudirman .................................................................................................................... 184
3 ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAPI- KELAPA SAWIT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI DI KECAMATAN PADANG LAWEH KABUPATEN DHARMASRAYA Ida Indrayani, Amrizal Anas, Asdi Agustar ............................................................... 192
4 EFEKTIVITAS PELATIHAN PAKAN ALTERNATIF PADA TERNAK SAPI DI MUSIM KEMARAU BAGI MASYARAKAT KAMPUNG SOTA PERBATASAN RI/ PNG Nurcholis dan Irine Ike Praptiwi ............................................................................... 197
5 PEMETAAN TINGKAT KEMATANGAN SISTEM INOVASI DAERAH SUB SEKTOR PETERNAKAN DI KOTA PAYAKUMBUH Amna Suresti , Uyung Gatot S.Dinata , Rahmi Wati ................................................. 203
6 PENGEMBANGAN TERNAK ITIK PADI DI KECAMATAN REMBOKEN KABUPATEN MINAHASA J.C. Loing, Derek Polakitan, Merry A.V. Manese, Adrie Sajow dan A. Malingkas .. 209
7 PERCEPATAN REPLIKASI MODEL SAWIT-SAPI: HAMBATAN DAN PELUANG Rohardian Aji Putra, Hasnudi, Erwin Pane, E Harso Kardhinata ........................... 214
8 PERANAN PENYULUH UNTUK PEMBERDAYAAN KELOMPOK PADA PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI POTONG DI DESA TONDEGESAN 2 KECAMATAN KAWANGKOAN KAB. MINAHASA Anneke K.Rintjap, Fietje S. Oley, Stanly O.B.Lombogia ........................................... 220
9 PENGARUH LAMA PEMBERIAN BUNGKIL INTI SAWIT (BIS) DALAM RANSUM TERHADAP PENDAPATAN PETERNAK BABI LANDRACE Tjok Istri Putri ........................................................................................................... 227
10 IMPLIKASI PECKING ORDER THEORY PADA PEMBIAYAAN USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG Aslina Asnawi, Veronica Sri Lestari, Ega Yusraningsih Yunus ................................ 233
11 ANALISIS KELAYAKAN FINANSIALUSAHAPERBIBITAN SAPI BALI YANG MENGGUNAKAN DANA BANSOS DI PROVINSI BALI
SEMNAS PERSEPSI II vii Denpasar, 28-29 April 2017
Putri, B. R. T; I. N. Suparta; I. W. Sukanata; dan Suciani ........................................ 240 12 MOTIVASI PETERNAK ANGGOTA KELOMPOK PUTRA YASA DALAM
MENANGANI LIMBAH TERNAK SAPI DI DESA TENGANAN KECAMATAN MANGGIS KARANGASEM Ni WayanTatik Inggriati, GdeSuarta, dan Budi Rahayu Tanam Putri ..................... 246
MAKALAH KELOMPOK IV 1 THE CONTRIBUTION OF BEEF CATTLE FARMING TO FARMERS’
HOUSEHOLD INCOME IN NARMADA SUB-DISTRICT, WEST LOMBOK REGENCY Prof. Dr. Ir. Soekardono, S.U .................................................................................... 255
2 PENERAPAN INOVASI PADA USAHA PETERNAKAN KAMBING DI KABUPATEN DHARMASRAYA, SUMATERA BARAT Edwin Heriyanto dan Ediset ...................................................................................... 267
3 ANALISIS TATANIAGA SUSU KAMBING EL FITRA FARM DI KOTA PADANG Winda Sartika dan Ismet Iskandar ............................................................................ 274
4 “WILLINGNESS TO PAY” KONSUMEN TELUR DARI PETERNAKAN AYAM YANG MENERAPKAN BIOSEKURITI Veronica Sri Lestari, Asmuddin Natsir, Ian Patrick, Hasmida Karim ...................... 278
5 STRATEGI PENYULUHAN INOVASI FERMENTASI JERAMI JAGUNG (FJJ) SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI POTONG ( Studi Kasus: Kelompok Tani Padang Alai, Kecamatan Tigo Nagari, Pasaman, Provinsi Sumatera Barat) Ediset, Amrizal Anas ................................................................................................. 283
6 PERFORMA DAN PRODUKSI KARKASAYAM BROILER YANG MENGKONSUMSI RANSUM MENGANDUNG KULIT NENAS TERFERMENTASI RAGI TAPE Jet Saartje Mandey, Bernat Tulung, Jein Rinny Leke,Bonie F. J. Sondakh .............. 289
7 PENGARUH LIMBAH DAUN PEPAYA TERFERMENTASI TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM ITIK BALI Siti, N. W, Sukmawati, N.M. S, Ardika, I N. dan Putri, B.R.T .................................. 298
8 UJI TOTAL MIKROBIA DAN COLIFORM PADA DAGING AYAM BROILER YANG BEREDAR DI PASAR WAMANGGU KABUPATEN MERAUKE Aloysia Tenny Damayanti Indrastuti , Dirwan Muclis, Heny Vensye Saiya, Irine Ike Praptiwi, Jumadi ......................................................................................... 304
9 ANALISIS PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI-PETERNAK SETELAH MENGIKUTI PROGRAM SIMANTRI DI BALI I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya, Nyoman Suparta ................................................ 308
10 PENGUNAANTEPUNG KULIT BUAH NAGA (Hylocereuspolyrhizus) PADA RANSUM AYAM KAMPUNG TERHADAP INCOME OVER FEED AND CHICK COST (IOFCC) Gusti A.M. Kristina Dewi. I M Muriyasa ,I W. Wijana ............................................. 313
11 GADUHAN SAPI INDUK UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETERNAK Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti ............................................................................... 321
12 POTENSI AGRIBISNIS USAHA PENGGEMUKAN BABI LANDRACE SECARA FINANSIAL BAGI MASYARAKAT BALI Ni Putu Sukanteri ...................................................................................................... 327
SEMNAS PERSEPSI II viii Denpasar, 28-29 April 2017
UCAPAN TERIMAKASIH .................................................................................... 332
JADWAL ACARA .................................................................................................. 333
STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI TERNAK BABI PADA USAHA PETERNAKAN RAKYAT
N. L. G. Sumardani1, I. P. Arnaya2, I. P. Gede Bawa2
1Lab. Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Udayana, 2UPT Balai Inseminasi Buatan Daerah Provinsi Bali, Jl. Raya Bedugul KM 43
Baturiti-Tabanan-Bali. Telp./Fak.: (0368)21776 Coressponding email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi ternak babi pada usaha peternakan rakyat melalui penerapan Inseminasi Buatan (IB). Sebanyak 15 ekor babi Landrace induk digunakan dalam penelitian ini. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu P1 (IB satu kali, 24 jam setelah onset berahi), P2 (IB satu kali, 30 jam setelah onset berahi), dan P3 (IB dua kali, 24 dan 30 jam setelah onset berahi). Dosis satu kali IB adalah 80 ml dengan konsentrasi spermatozoa 2000-3000 x 106 sel/80ml. Jumlah anak yang lahir dapat diketahui setelah kebuntingan berakhir dengan lama kebuntingan rata-rata 111-119 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rataan jumlah anak yang lahir pada P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 4.40 ± 0.548; 6.80 ± 0.837; dan 9.20 ± 0.837 ekor, dengan rataan bobot lahir masing- masing adalah 1.313 ± 0.096; 1.294 ± 0.161; dan 1.231 ± 0.220 kg. Kesimpulan dari penelitian ini adalah program inseminasi buatan dapat diaplikasikan pada usaha peternakan rakyat dalam upaya meningkatkan produksi ternak babi.
Kata kunci: Landrace, inseminasi buatan, onset berahi, spermatozoa.
ABSTRACT The aim of this study was to increase the production of Landrace using
Artificial Insemination (AI) in 15 sows. The research used a completely randomized design (CRD) with three treatments i.e. P1 (AI on 24 h post-estrous), P2 (AI on 30 h post-estrous) and P3 (treatments combination of P1 and P2). AI dose of 2000-3000 x 106 cells/80ml. The results showed that average litter size of Landrace receiving combined treatments P1, P2 and P3 were 4.40 ± 0.548; 6.80 ± 0.837; and 9.20 ± 0.837 piglets, and the average birdth weight per individual were 1.313 ± 0.096; 1.294 ± 0.161; dan 1.231 ± 0.220 kg. In conclusion, the production of Landrace can be increased with insemination program in the field.
Key words: Landrace, artificial insemination, estrous, spermatozoa.
PENDAHULUAN
Pemanfaatan teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam usaha peternakan babi di daerah Bali, belum sepenuhnya diaplikasikan oleh masyarakat peternak karena peternakan babi yang ada di daerah Bali masih merupakan peternakan rakyat dalam skala kecil, dan produksi daging babi hanya untuk memenuhi keperluan konsumsi masyarakat sekitarnya. Pengaturan sistem pengawinan induk babi melalui penerapan teknologi IB sangat diperlukan untuk meningkatkan
jumlah produksi babi. Inseminasi buatan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang komplek dan teratur, dimulai dari penampungan semen secara manual, pengolahan semen cair, sampai dengan pelaksanaan inseminasi menggunakan alat khusus yaitu kateter yang menyerupai bentuk penis babi pejantan berbentuk spiral pada bagian ujungnya. Dengan teknik IB diharapkan pengawinan yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pengawinan secara alami, serta diharapkan dapat meningkatkan nilai mutu dari ternak tersebut baik dalam hal peningkatan bobot badan maupun produksi daging. Hal ini mengingat induk babi memiliki kemampuan beranak banyak (polytocous), memiliki dua tanduk uterus yang panjang (bicornuate uterine) dan berahi sepanjang tahun (polyestrous), dengan lama berahi adalah 30-60 jam, ovulasi terjadi antara 36-40 jam setelah tanda berahi muncul, dan panjang siklus berahi rata-rata 21 hari (19- 23 hari), serta lama kebuntingan 111-119 hari (Hunter 1982).
Pengawinan yang dilakukan lebih dari satu kali sepanjang masa berahi akan memberikan peluang yang lebih besar terhadap spermatozoa untuk membuahi sel telur, dan memberikan penampilan reproduksi yang lebih baik khususnya dalam peningkatan jumlah produksi anak babi per-kelahiran. Penelitian ini dilakukan sebagai usaha untuk meningkatkan jumlah produksi ternak babi melalui aplikasi teknologi Inseminasi Buatan, yang dapat diterapkan secara meluas oleh masyarakat peternak.
MATERI DAN METODE
Induk babi yang digunakan sebanyak 15 ekor, dari bangsa Landrace, sehat dan ditempatkan pada kandang model battrey yang masing-masing kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan water nipple. Pakan yang diberikan mengandung 18% protein dan energi 16 MJ (3824.16 kkal/kg), yang terdiri dari dedak padi, dedak jagung, polar, gandum, konsentrat 152, mineral, lisin, dan starbio, dengan total pemberian pakan sebanyak 2,5 kg/ekor/hari. Dosis IB adalah 80 ml dengan motilitas spermatozoa diatas 60% dan konsentrasi spermatozoa sebesar 2000-3000 x 106 sel (Sumardani et al. 2008).
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan pertama (P1) adalah IB satu kali, 24 jam setelah onset berahi, perlakuan kedua (P2) adalah IB satu kali, 30 jam setelah onset berahi, dan perlakuan ketiga (P3) adalah IB dua kali, 24 dan 30 jam setelah onset berahi. Pendeteksian berahi dilakukan dengan mengamati perubahan yang terjadi pada vulva yaitu membengkak, hangat, merah, dan adanya cairan atau perlendiran pada vulva, serta adanya reaksi diam saat punggung ditekan. Jumlah anak yang lahir diketahui setelah kebuntingan berakhir, dengan lama kebuntingan berkisar antara 111-119 hari.
Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis of variance (ANOVA) menggunakan program SAS dan bila terdapat perbedaan yang nyata (P<0.05) atau sangat nyata (P<0.01) dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari penelitian ini menunjukkan rataan jumlah anak per-kelahiran pada P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 4.40 ± 0.548; 6.80 ± 0.837; dan 9.20 ± 0.837 ekor, serta rataan bobot lahir anak pada P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah
SEMNAS PERSEPSI II 104 Denpasar, 28-29 April 2017
1.313 ± 0.096; 1.294 ± 0.161; dan 1.231 ± 0.220 kg, seperti yang tercantum dalam Tabel 1. Tabel 1. Jumlah anak per-kelahiran dan bobot lahir anak babi yang dihasilkakn
melalui teknologi inseminasi buatan Perlakuan Jumlah anak (ekor) Bobot lahir anak (kg)
P1 4.40 ± 0.548a 1.313 ± 0.096a P2 6.80 ± 0.837b 1.294 ± 0.161b P3 9.20 ± 0.837b 1.231 ± 0.220b
Ket.: P1 = IB satu kali, 24 jam setelah onset berahi; P2 = IB satu kali, 30 jam setelah onset berahi; P3 = IB dua kali, 24 dan 30 jam setelah onset berahi; Angka yang diikuti oleh huruf yang sama adalah tidak berbeda nyata (P>0.05) Inseminasi yang dilakukan satu kali, 24 jam setelah onset berahi
menghasilkan rataan jumlah anak yang paling rendah (4.40 ± 0.548). Hal ini menunjukkan bahwa waktu inseminasi kurang tepat sehingga spermatozoa memerlukan waktu yang lebih panjang untuk dapat membuahi sel telur dalam saluran reproduksi betina. Hal ini menyebabkan terganggunya proses fertilisasi akibat dari hilangnya kemampuan spermatozoa untuk dapat membuahi sel telur. Lama estrus pada babi adalah 48-72 jam dan ovulasi terjadi pada 35-45 jam setelah tanda-tanda berahi muncul, maka waktu optimum untuk inseminasi pada babi adalah 10-12 jam sebelum ovulasi terjadi atau inseminasi pada hari kedua setelah munculnya tanda-tanda berahi. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan bertahan sel telur dan spermatozoa di dalam saluran reproduksi betina, yaitu 8-10 jam, sehingga perkawinan atau inseminasi harus dilakukan sebelum ovulasi (Ax et al. 2000, Hafez et al. 2000, Hunter 1982, Toelihere 1993).
Inseminasi yang dilakukan dua kali pada periode puncak berahi dapat meningkatkan laju konsepsi atau pembuahan rata-rata 10% dan juga menghasilkan peningkatan jumlah anak per-kelahiran (Sihombing 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Harya Putra (2001) dan Suyadnya (2006). Peningkatan laju konsepsi dikarenakan spermatozoa tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu dan membuahi sel-sel telur yang telah diovulasikan, sehingga peluang untuk terjadinya pembuahan akan semakin besar, dan hal ini berarti meningkatkan jumlah embrio (calon anak) pada saluran reproduksi babi betina. Jumlah embrio yang terdapat di dalam uterus induk babi akan berpengaruh terhadap bobot anak yang dilahirkan. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan embrio dalam bertahan hidup dan menyerap zat-zat makanan yang disalurkan melalui umbilicus placentalis (tali pusar). Semakin banyak embrio yang terdapat di dalam uterus induk maka persaingan dalam menyerap zat-zat makanan akan semakin besar, sehingga hal ini dapat mempengaruhi bobot anak yang dilahirkan (Anderson 2000, Ax et al. 2000, Hafez et al. 2000). Namun dengan manajemen pemeliharaan induk bunting yang tepat serta mengurangi cekaman atau stress pada induk yang sedang bunting akan menghasilkan bobot anak per-kelahiran yang cukup tinggi, antara 1.04-1.10 kg (Sihombing 2006), disamping juga memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dalam usaha meningkatkan jumlah produksi anak per-kelahiran antara lain: faktor hormonal, makanan dan cekaman (stress) selama induk bunting (Stevenson & Britt 1981;
SEMNAS PERSEPSI II 105 Denpasar, 28-29 April 2017
Kemp & Soede 1996), serta keterampilan atau kemampuan inseminator ataupun peternak dalam pengamatan atau pendeteksian berahi secara akurat dan tepat (Ax et al. 2000).
SIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pelaksanaan inseminasi buatan terhadap induk babi dapat dilakukan satu kali pada berahi hari kedua (30 jam setelah onset berahi), dan penerapan inseminasi buatan dapat meningkatkan jumlah produksi anak per-kelahiran. Pendeteksian berahi secara tepat dan akurat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan. DAFTAR PUSTAKA Anderson LL. 2000. Pigs. In: Hafez ESE, Hafez B, editor. Reproduction in farm
Animals.7th Ed. USA: Williams & Wilkins. Ax RL, Dally M, Didion BA, Lenz RW, Love CC, Varner DD, Hafez B, Bellin
ME. 2000. Artificial Insemination. In: Hafez ESE, Hafez B, editor. Reproduction in farm Animals.7th Ed. USA: Williams & Wilkins.
Hafez B, Hafez ESE. 2000. Reproductive Behavior. In: Hafez ESE, Hafez B, editor. Reproduction in farm Animals.7th Ed. USA: Williams & Wilkins.
Harya Putra IDK. 2001. Application of artificial insemination in an effort to increase pig population. J.Vet. 2(2): 65-72.
Hunter RHF. 1982. Reproduction of Farm Animals. 1st Ed. London & New York: Longman.
Kemp B, Soede NM. 1996. Relationship of weaning-to-estrus interval to timing of ovulation and fertilization in sows. J Anim. Sci. 74: 944-949.
Sumardani NLG, Tuty LY, Pollung HS. 2008. Viabilitas spermatozoa babi dalam pengencer BTS (Beltsville Thawing Solution) yang dimodifikasi pada penyimpanan berbeda. Jurnal Media Peternakan 31(2): 81-86.
Sihombing DTH. 2006. Ilmu Ternak Babi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Stell RGD, Torrie JH. 1993. Principles and Procedures of Statistics. 2th Ed. London: International Student Edition.
Stevenson JS, Britt JH. 1981. Interval to estrus in sows and performance of pigs after alteration of litter size during late lactation. J Anim. Sci. 53: 177-181.
Suyadnya P. 2006. Effect of time and frequency of mating to the number and mortality of embryos in Bali gilts. Majalah Ilmiah Peternakan 9(2): 64-67.
Toelihere MR. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung: Angkasa.
COVER Buku Prosiding Persepsi..
POTENSI AGRIBISNIS USAHA PENGGEMUKAN BABI LANDRACE SECARA FINANSIAL BAGI MASYARAKAT BALI
MATERI DAN METODE
HASIL DAN PEMBAHASAN
DARI INVESTASI PETERNAKAN
Penelitian ini dilaksanakan di provinsi Bali dan beberapa pasar tradisional di Jakarta. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja didasarkan pada pertimbangan bahwa Bali merupakan sentra produksi sapi bali murni. Sedangkan Jakarta merupakan daerah tuj...
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan wawancara. Wawancara langsung terhadap responden dilakukan dengan bantuan kuisioner. Responden dalam penelitian ini be...
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Efisiensi pemasaran sapi bali potong ditentukan berdasarkan pendekatan struktur pasar, perilaku pasar, dan keragaan pasar. Analisis kualitatif dilakukan dengan mendeskripsika...
PENDAHULUAN
Potensi produksi pakan dari limbah tanaman pangan
Potensi produksi pakan dari limbah perkebunan
Potensi produksi pakan dari lahan
Potensi produksi pakan dari tanaman pakan
SIMPULAN
PENDAHULUAN
Selain itu jika dilihat dari tingkat kesejahteraan peternak dan pedagang (toke), toke jauh lebih tinggi tingkat kesejahteraannya. Selama ini dalam pemasaran ternak sapi potong sering disebutkan bahwa toke mengambil untung lebih besar, peternak dihadap...
MATERI DAN METODE
HASIL DAN PEMBAHASAN
Raimbault, M.J. 1998.General and microbiological aspects of solid substrate fermentation. Electronic J. Biotech.,1(3):395-399.
Snedecor, G. W. and Cochran, W. G. 1967.Statistical Methods. 6PthP Ed. Iowa State Univ. Press, Ames, IA.
POTENSI AGRIBISNIS USAHA PENGGEMUKAN BABI LANDRACE SECARA FINANSIAL BAGI MASYARAKAT BALI