of 28 /28
Presentasi Kasus Fraktur Segmental Mandibula Disusun oleh Yhoga Timur Laga 09.20221.233 FAKULTAS KEDOKTERAN 1

Fraktur Segmental Mandibula

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Fraktur Segmental Mandibula

Presentasi Kasus

Fraktur Segmental Mandibula

Disusun oleh

Yhoga Timur Laga

09.20221.233

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

JAKARTA 2012

1

Page 2: Fraktur Segmental Mandibula

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas ijin-Nya lah penulis dapat

menyelesaikan presentasi kasus ini. Adapun presentasi kasus ini penulis susun

untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Departemen Bedah Rumah Sakit

Pusat Persahabatan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah

membantu hingga tersusunnya presentasi kasus ini, karena tanpa bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak, presentasi kasus ini akan menemui berbagai

kendala.

Tentu saja presentasi kasus ini masih membutuhkan penyempurnaan,

untuk itu saran dan kritik sangat penulis butuhkan, guna memperbaiki tugas

selanjutnya. Semoga presentasi kasus ini dapat bermanfaat bagi yang

membacanya.

Jakarta, 8 Agustus 2012

Penulis

2

Page 3: Fraktur Segmental Mandibula

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………..

i

Daftar isi ……………………………………………………………..

ii

BAB I STATUS PASIEN……………………………………………………..

1

1. Identitas …….………………………………………………..

1

2. Anamnesis…………………………………………………..…………..

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………..

7

1. Definisi Fraktur Mandibula …..…….………………………………..

7

2. Klasifikasi

……………………………………………………………….7

3. Diagnosis.

……………………………………………………………….10

4. Penatalaksanaan.

……………………………………………………….11

5. Komplikasi.

……………………………………………………….15

BAB III ANALISA KASUS…..…………………………………………………..

17

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………

18

3

Page 4: Fraktur Segmental Mandibula

BAB I

STATUS PASIEN

IDENTITAS

Nama : Tn. Ahmad Fahrul

Usia : 23 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Kampung Rawa RT 04/03 Pondok Kopi Jakarta Timur

No. RM : 1370333

Tanggal masuk: 8 Juli 2012

Ruang rawat : Bedah kelas

ANAMNESA

Auto dan alloanamnesa dengan keluarga pada tanggal 17 Juli 2012.

Keluhan utama : Tidak bisa mengunyah sejak 1 minggu SMRS

Keluhan tambahan : Nyeri pada rahang bawah

Riwayat penyakit sekarang :

Pasien datang dengan keluhan tidak bisa mengunyah sejak 1 minggu SMRS. 1

minggu yag lalu pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat itu pasien mengendarai

sepeda motor dengan kecepatan sedang (± 60 km/jam), pasien menghindari tembok yang

ada di depannya. Pasien kemudian menabrak tembok dan masuk ke selokan di sisi

tembok. Menurut pasien, dia terjatuh dengan bagian wajah sebelah kiri membentur

tembok dan dinding selokan. Saat kejadian, pasien tidak menggunakan helm. Pasien tidak

memiliki riwayat pingsan setelah kejadian. Riwayat muntah tanpa didahului mual tidak

ada. Riwayat keluar darah dari mulut tidak ada. Keluar darah dari telinga dan hidung

disangkal. Pasien juga merasa nyeri pada rahang bawah dan mulut tidak bisa digerakkan

serta tidak bisa merapatkan mulutnya. Keluhan baal pada dagu disangkal.

Keluhan nyeri di leher, dada, perut, pinggang dan anggota gerak disangkal.

Sesak disangkal. Keluhan kelemahan anggota gerak disangkal. BAK dan BAB tidak ada

keluhan.

4

Page 5: Fraktur Segmental Mandibula

Riwayat penyakit dahulu :

Riwayat alergi obat-obatan disangkal. Riwayat DM, hipertensi, dan asma

disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

GCS : E4V5M6 15

Tanda-tanda vital :

TD : 120/80 mmHg

Nadi : 88 x/menit

RR : 20 x/menit

Suhu : 36,7° C

Status Generalis

Kepala : Normocephal, terdapat vulnus laceratum di frontal kiri telah

terjahit dengan ukuran 3x1 cm.

Mata : Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-). Pupil isokor Ø 3mm,

reflek cahaya +/+.

Mulut : Sianosis (-), maloklusi (+), nyeri tekan mandibula (+), false

movement (+).

Leher : Jejas (-), deviasi trakea (-).

Telinga : Sekret (-), darah (-), hematom preaurikuler (-), nyeri tekan (-).

Hidung : Darah (-), sekret (-), hematom (-), simetris

KGB : Tidak ada pembesaran

Toraks : Simetris saat statis dan dinamis

Paru : SD vesikuler +/+, Ronki -/-, wheezing -/-

Jantung : BJ I & II murni regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Datar, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-)

Ekstremitas : Akral hangat, edema -/-/-/-, CRT < 2”.

Status neurologis

Nn. Cranialis: Tidak ada kelainan

Motorik : 5/5/5/5

5

Page 6: Fraktur Segmental Mandibula

Sensorik : Tidak ada kelaianan

Status Lokalis kepala dan wajah

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium

Hasil Nilai rujukan

Leukosit

Hitung jenis

Netrofil

Limfosit

Monosit

Eosinofil

Basofil

Eritrosit

Hemoglobin

Hematokrit

MCV

MCHC

RDW-CV

Trombosit

Blooding Time

Cloting Time

PT

APTT

7.980

59.1

26.7

12.0

1.8

0.4

4.2

13.0

37

89.0

34.8

12.3

242.000

3

7

11.5

34.6

5-10 ribu/ mm3

50-70 %

25-40%

2-8%

2-4%

0-1%

4,5-6,5 juta/uL

13-16 g/dl

40-52 %

80-100 fL

32-35

11,5-14,5

150-440

<6

<11

10-14

28-40

6

I : Asimetri wajah (+), Vulnus laceratum

telah terjahit

P: NT (+), maloklusi (+), false movement (+)

pada mandibular.

Page 7: Fraktur Segmental Mandibula

Foto rontgen

7

Page 8: Fraktur Segmental Mandibula

DIAGNOSIS KERJA

- Fraktur segmental simfisis mandibula

PENATALAKSANAAN

- IVFD RL 500 cc/8 jam

- Ceftriaxon 2x1 gr

- Ketorolac 3x30 mg

- Bethadine gurgle 3x sehari

- Diet cair per oral

- ORIF dengan miniplate

- Persiapan operasi:

o SIO

o Puasa 6 jam pre op

LAPORAN OPERASI

- Pasien dalam GA, dilakukan intubasi nasal

8

Page 9: Fraktur Segmental Mandibula

- A dan antiseptik daerah operasi dan sekitarnya

- Pasang arch bar atas

- Insisi melalui luka lama di dagu diatas fr kiri, insisi baru di sisi kanan, reposisi

dan fiksasi di regio inferior dengan plate 2.0 non rigid 6 hole, screw 8 cm

sebanyak 4 buah.

- Pasang arch bar bawah dan reposisi

- Pasang plate 2.0 6 hole dengan screw 10 cm 2 buah dan 8 cm 2 buah

- Pasang plate 2.0 rigid 6 hole dengan screw 1 cm 2 buah dan 8 cm 2 buah

- Pasang plate 2.0 rigid 6 hole dengan screw 1 cm 2 buah dan 8 cm 2 buah

- Jahit luar

- Operasi selesai

Instruksi pos op

- IVFD DL : D5 1:2/24 jam

- Diet cair

- Ceftriakson 1x2 gr IV

- Ketorolac 3x30 mg IV

- Bila muntah miringkan ke kiri atau kanan

PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam

Quo ad functionam : dubia ad bonam

9

Page 10: Fraktur Segmental Mandibula

Quo ad sanationam : dubia ad bonam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi fraktur mandibula

Fraktur adalah discontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya

disebabkan oleh adanya kecelakaan yang timbul secara langsung. Fraktur mandibula

adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula. Hilangnya kontinuitas pada rahang

bawah (mandibula), yang diakibatkan trauma oleh wajah ataupun keadaan

patologis, dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar.1

B. Klasifikasi fraktur mandibula2,3

Secara umum, fraktur diklasifikasikan menurut penyebab terjadinya, menurut

hubungan dengan jaringan sekitarnya, dan menurut bentuknya.

1. Menurut penyebab terjadinya

a. Fraktur traumatik

Frakur traumatik, dapat disebabkan baik oleh trauma langsung maupun

tidak langsung. Trauma langsung yang mengenai anggota tubuh penderita,

gaya yang diterima oleh tubuh dapat menyebabkan fraktur. Trauma tidak

langsung, terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu

dan lengan atas-bawah lurus, berakibat fraktur kaput radii atau klavikula.

Gaya tersebut dihantarkan melalui tulang-tulang anggota gerak atas dapat

berupa gaya berputar, pembengkokan (bending) atau kombinasi

pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly, maupun

kombinasi gaya berputar, pembengkokan dan kompresi seperti fraktur

oblik dengan garis fraktur pendek. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan

otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak.

b. Fraktur stress

Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan

tulang menjadi lemah. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan.

c. Fraktur patologis

10

Page 11: Fraktur Segmental Mandibula

Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan

tulang tersebut rapuh dan lemah. Biasanya fraktur terjadi spontan.

2. Menurut hubungan dengan jaringan sekitar

a. Fraktur simple/tertutup, disebut juga fraktur tertutup, oleh karena kulit di

sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek.

b. Fraktur terbuka, kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang

berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk

menjadi infeksi. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di

tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut.

c. Fraktur komplikasi, fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan

atau struktur lain seperti saraf, pembuluh darah, organ visera atau sendi.

3. Menurut bentuknya

a. Fraktur komplit, Garis fraktur membagi tulang menjadi dua fragmen atau

lebih. Garis fraktur bisa transversal, oblik atau spiral. Kelainan ini dapat

menggambarkan arah trauma dan menentukan fraktur stabil atau unstabil.

b. Fraktur inkomplit, Kedua fragmen fraktur terlihat saling impaksi atau

masih saling tertancap.

c. Fraktur komunitif, Fraktur yang menimbulkan lebih dari dua fragmen.

d. Fraktur kompresi, Fraktur ini umumnya terjadi di daerah tulang kanselus.

Sedangkan klasifikasi fraktur mandibula, di antaranya:

1. Berdasarkan regio anatomis

Menunjukkan regio-regio pada mandibula yaitu : badan, simfisis, sudut,

ramus, prosesus koronoid, prosesus kondilar, prosesus alveolar. Fraktur yang

terjadi dapat pada satu, dua atau lebih pada region mandibula ini.

11

Page 12: Fraktur Segmental Mandibula

Gambar 1. Regio mandibula2

Simfisis – fraktur terjadi pada insisivus tengah yang berjalan dari alveolar melalui

perbatasan inferior dari mandibula.4

Parasimfisis – fraktur terjadi dibatasi oleh garis vertikal kaninus.4

Gambar 2. Fraktur parasimfisis mandibula kanan4

Badan – Fraktur yang terjadi dari distal simfisis bertepatan dengan perbatasan

alveolar otot masseter.

Ramus mandibula – Dibatasi oleh aspek superior dari sudut dua saluran yang

membentuk puncak pada sigmoid.4

Gambar 3. Fraktur ramus mandibula dan parasimfisis mandibula kiri4

2. Berdasarkan ada tidaknya gigi5

Klasifikasi berdasarkan gigi pasien penting diketahui karena akan

menentukan jenis terapi yang akan kita ambil. Dengan adanya gigi,

penyatuan fraktur dapat dilakukan dengan jalan pengikatan gigi dengan

menggunakan kawat. Berikut derajat fraktur mandibula berdasarkan ada tidaknya

gigi :

12

Page 13: Fraktur Segmental Mandibula

a. Fraktur kelas 1 : gigi terdapat di 2 sisi fraktur, penanganan pada fraktur kelas

1 ini dapat melalui interdental wiring (memasang kawat pada gigi)

b. Fraktur kelas 2 : gigi hanya terdapat di salah satu fraktur

c. Fraktur kelas 3 : tidak terdapat gigi di kedua sisi fraktur, pada keadaan ini

dilakukan melalui open reduction, kemudian dipasangkan plate and screw,

atau bisa juga dengan cara intermaxillary fixation.

C. Diagnosis4,5

Diagnosis fraktur mandibula berdasarkan atas anamnesa, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Pada kasus trauma, pemeriksaan penderita dengan kecurigaan fraktur

mandibula harus mengikuti kaidah ATLS, dimana terdiri dari pemeriksaan awal

(primar survey) yang meliputi pemeriksan airway, breathing, circulation dan

disability. Pada penderita trauma dengan fraktur mandibula harus diperhatikan

adanya kemungkinan obstruksi jalan nafas yang bisa diakibatkan karena fraktur

mandibula itu sendiri ataupun akibat perdarahan intraoral yang menyebabkan

aspirasi darah dan bekuan darah.

Jika pasien stabil, perlu diketahui riwayat trauma. Mekanisme trauma

merupakan informasi yang penting sehingga dapat menggambarkan tipe fraktur

yang terjadi. Bila trauma ragu-ragu atau tidak ada maka kemungkian fraktur

patologis tetap perlu dipikirkan. Riwayat penderita harus dilengkapi apakah ada

trauma daerah lain (kepala, torak, abdomen, pelvis dll).

Pertanyaan-pertanyaan kepada penderita maupun pada orang yang lebih

mengetahui harus jelas dan terarah, sehingga diperoleh informasi mengenai;

keadaan kardiovaskuler maupun sistem respirasi, apakah penderita merupakan

penderita diabetes, atau riwayat alergi.

2. Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi

Inspeksi dimulai dari ektraoral kemudian ke intraoral. Perhatikan

adanya deformitas. Pembengkakan preaurikular sering menunjukkan

adanya fraktur kondilus. Kulit di sekitar wajah dan leher perlu

13

Page 14: Fraktur Segmental Mandibula

diperhatikan apakah hiperemis, ekimosis, laserasi, atau hematom. Pada

luka yang mengarah ke fraktur terbuka harus diidentifikasi dan

ditentukan menurut derajatnya menurut klasifikasi Gustillo. Dilihat juga

apakah terdapat gigi yang hilang. Perhatikan juga apakah terdapat

maloklusi.

b. Palpasi

Pada palpasi dievaluasi daerah TMJ dengan jari pada daerah TMJ

dan penderita disuruh buka-tutup mulut, menilai ada tidaknya nyeri,

deformitas atau dislokasi. Untuk memeriksa apakah ada fraktur mandibula

dengan palpasi dilakukan evaluasi false movement dengan kedua ibujari di

intraoral, korpus mandibula kanan dan kiri dipegang kemudian digerakkan

keatas dan kebawah secara berlawanan sambil diperhatikan disela gigi dan

gusi yang dicurigai ada frakturnya. Bila ada pergerakan yang tidak sinkron

antara kanan dan kiri maka false movement +.

Periksa juga status gusi, apakah terdapat ekimosis, perdarahan, atau

hematom, bila terdapat hal tersebut, menunjukkan adanya fraktur.

3. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan rontgen

Pada fraktur mandibula dapat dilakukan pemeriksaan penunjang foto

Rontgen untuk mengetahui pola fraktur yang terjadi. Timbulnya

kecurigaan fraktur mandibula tergantung dari jenis frakturnya, apakah

cedera tunggal atau multipel. Jika dicurigai cedera tunggal, pemeriksaan

dapat dimulai dengan foto AP, Towne, dan oblik.

b. CT Scan

CT scan dapat digunakan untuk mengidentifikasi fraktur kondilus

kompleks, terutama fraktur sagital atau dislokasi fossa glenoid. CT scan

juga berguna pada pasien dengan cedera serius, seperti luka tembak atau

fraktur komunitif.

D. Penatalaksanaan2,4,5

Prinsip penanganan fraktur mandibula pada langkah awal bersifat

kedaruratan seperti jalan nafas (airway), pernafasan (breathing), sirkulasi darah

14

Page 15: Fraktur Segmental Mandibula

termasuk penanganan syok (circulaation), penaganan luka jaringan lunak dan

imobilisasi sementara serta evaluasi terhadap kemungkinan cedera otak. Tahap

kedua adalah penanganan fraktur secara definitif yaitu reduksi/reposisi fragmen

fraktur (secara tertutup (close reduction) dan secara terbuka (open reduction).

1. Reposisi tertutup

Adapun indikasi untuk reposisi tertutup di antaranya:

Fraktur displace atau terbuka derajat ringan sampai sedang.

Fraktur kondilus

Fraktur pada anak

Fraktur komunitif berat atau fraktur dimana suplai darah menurun.

Fraktur eduntulous mandibula

Fraktur mandibula yang terdapat hubungan dengan fraktur panfacial

Fraktur patologis

Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed

reduction adalah fiksasi intermaksiler. Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada

fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula.

Beberapa teknik fiksasi intermaksila diantaranya:

Ivy loop

Penempatan Ivy loop menggunakan kawat 24-gauge antara 2 gigi yang

stabil, dengan penggunaan kawat yang lebih kecil untuk memberikan fiksasi

maxillomandibular (MMF) antara loop Ivy.

Gambar 4. Ivy loop

15

Page 16: Fraktur Segmental Mandibula

Gambar 5. Fiksasi maksilomandibular

Teknik arch bar

Indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup

untuk pemasangan cara lain, disertai fraktur maksila, didapatkan fragmen

dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai

dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris

Reduksi tertutup pada edentulous mandibula

Pada edentulous mandibula, gigi palsu dapat ditranfer ke rahang

dengan kabel circummandibular. Gigi tiruan rahang atas dapat ditempelkan

ke langit-langit. (Setiap screw dari maxillofacial set dapat digunakan sebagai

lag screw). Arch bar dapat ditempatkan dan intermaxillary fixation (IMF)

dapat tercapai. Gunning Splints juga telah digunakan pada kasus ini

karena memberikan fiksasi dan dapat diberikan asupan makanan. Pada

kasus fraktur kominitif, rekonstruksi mandibula mungkin diperlukan untuk

mengembalikan posisi anatomis dan fungsi.

2. Reposisi terbuka

Indikasi reposisi terbuka di antaranya:

Fraktur terbuka atau displace derajat sedang sampai berat

Fraktur yang tidak tereduksi dengan reposisi tertutup

Unfavorable fracture

16

Page 17: Fraktur Segmental Mandibula

Reposisi terbuka pada fraktur mandibula memiliki pendekatan intra dan

ekstraoral. Pendekatan ekstraoral dapat dilakukan melalui submandibula,

submental, atau preaurikular.

Gambar 6. Approach ekstraoral

Gambar 7. Insisi retromandibular

Dengan pendekatan intraoral, regio mandibula dicapai melalui insisi

vestibular di mukosa. Jika dibandingkan dengan pendekatan

ekstraoral, .pendekatan intraoral lebih cepat dilakukan, tidak memiliki parut

ekstraoral, dan risiko lebih kecil untuk mengenai saraf wajah.

Adapun material yang bisa digunakan pada reposisi terbuka diantaranya

wire, wire mesh, plat dan screw, dll.

Wiring (kawat)

17

Page 18: Fraktur Segmental Mandibula

Kawat dibuat seperti mata, kemudian mata tadi dipasang disekitar dua buah

gigi atau geraham dirahang atas ataupun bawah. Rahang bawah yang patah

difiksasi pada rahang atas melalui mata di kawat atas dan bawah. Jika perlu

ikatan kawat ini dipasang di berbagai tempat untuk memperoleh fiksasi yang

kuat.

Plating

Pemasangan plat bertujuan untuk memberi tahanan pada daerah fraktur,

sehingga dapat menyatukan bagian fraktur dengan alveolus superior. Setelah

plat tepasang, maka tidak dibutuhkan lagi fiksasi maksila. Dengan catatan

pemasangan screw pada plat tidak dengan penekanan yang terlalu kuat.

Karena dengan pemasangan screw yang terlalu kuat akan mengkibatkan

terjadinya kesulitan pada saat pelepasan, oleh karena itu, pemasangan dengan

teknik yang tidak terlalu menekan lebih dipilih dalam pemasangan plat pada

fraktur mandibula.

E. Komplikasi

Komplikasi setelah dilakukannya perbaikan pada fraktur mandibula

umumnya jarang terjadi. Komplikasi yang paling umum terjadi pada fraktur

mandibula adalah infeksi atau osteomyelitis, yang nantinya dapat menyebabkan

berbagai kemungkinan komplikasi lainnya. Tulang mandibula merupakan daerah

yang paling sering mengalami gangguan penyembuhan fraktur baik itu malunion

ataupun non-union, hal ini akan memberi keluhan berupa rasa sakit dan tidak

nyaman (discomfort) yang berkepanjangan pada sendi rahang (Temporo

mandibular joint) oleh karena perubahan posisi dan ketidakstabilan antara sendi

rahang kiri dan kanan. Hal ini tidak hanya berdampak pada sendi tetapi otot-otot

pengunyahan dan otot sekitar wajah juga dapat memberikan respon nyeri

(myofascial pain) Terlebih jika pasien mengkompensasikan atau memaksakan

mengunyah dalam hubungan oklusi yang tidak normal. Kondisi inilah yang

banyak dikeluhkan oleh pasien patah rahang yang tidak dilakukan perbaikan atau

penanganan secara adekuat.

Ada beberapa faktor risiko yang secara spesifik berhubungan dengan fraktur

mandibula dan berpotensi untuk menimbulkan terjadinya malunion ataupun non-

18

Page 19: Fraktur Segmental Mandibula

union. Faktor risiko yang paling besar adalah infeksi, kemudian aposisi yang

kurang baik, kurangnya imobilisasi segmen fraktur, adanya benda asing, tarikan

otot yang tidak menguntungkan pada segmen fraktur. Malunion yang berat pada

mandibula akan mengakibatkan asimetri wajah dan dapat juga disertai gangguan

fungsi. Kelainan-kelainan ini dapat diperbaiki dengan melakukan perencanaan

osteotomi secara tepat untuk merekonstruksi bentuk lengkung mandibula.

19

Page 20: Fraktur Segmental Mandibula

BAB III

ANALISA KASUS

Pasien datang dengan keluhan tidak bisa mengunyah sejak 1 minggu SMRS. 1

minggu yag lalu pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Tanda fraktur basis kranii tidak

didapatkan. Tidak ada riwayat pingsan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS 15 dan

tidak ditemukan adanya defisit neurologis.

Pasien juga mengeluh adanya nyeri pada rahang bawah dan mulut tidak bisa

digerakkan serta tidak bisa merapatkan mulutnya. Mekanisme trauma menurut pasien, dia

terjatuh dengan bagian wajah sebelah kiri membentur tembok dan dinding selokan. Dari

pemeriksaan fisik didapatkan adanya asimetris pada wajah dan VL pada frontal kiri yang

telah terjahit. Selain itu, pada pemeriksaan mulut juga ditemukan adanya maloklusi pada

rahang, nyeri tekan pada mandibula, dan false movement pada mandibula.

Untuk mengetahui letak fraktur, maka dilakukan pemeriksaan penunjang

radiologi. Dari pemeriksaan tersebut didapatkan adanya fraktur segmental pada simfisis

mandibula.

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka

dapat disimpulkan diagnosis kerja pasien ini adalah

Fraktur segmental simfisis mandibula

Adapun penatalaksanaan dari pasien ini adalah penanganan fraktur secara

definitif. Penatalaksanaan definitif berupa reposisi terbuka dengan pemasangan mini

plate.

20

Page 21: Fraktur Segmental Mandibula

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidayat, Wim de Jong. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. EGC: Jakarta. 2004

2. Laub D, R. Facial Trauma, Mandibular Fractures. (2009). Available at

http://emedicine.medscape.com/article/1283150-overview.

3. Thapliyal C. G, Sinha C. R, Menon C. P, Chakranarayan S. L. C. A. (2007).

Management of Mandibular Fractures. Available at

http://medind.nic.in/maa/t08/i3/maat08i3p218.pdf.

4. Donald R Laub. Mandibular fracture. (2011). Available at

http://emedicine.medscape.com/article/1283150-overview#showall

5. Robert W Dolan. Facial plastic, reconstructive, and trauma surgery. New york.

21