Click here to load reader

fraktur mandibula 1.docx

  • View
    74

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of fraktur mandibula 1.docx

http://yandrifauzan.blogspot.com/2011/03/askep-dengan-fraktur-mandibula.htmlASKEP DENGAN FRAKTUR MANDIBULAhttp://yandrifauzan.blogspot.com/

ASKEP DENGAN FRAKTUR MANDIBULAI.Diagnosa medik:Fraktur MendibulaII.Definisi:Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya(Brunner & Suddarth, 2001). Mandibula adalah tulang rahang bawah, tulang yang tidak teratur dan merupakan satu-satunya tulang kepala yang dapat bergerak (Watson,2002). Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibula yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung.III.Etiologi:1.Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut.2.Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan.3.Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa trauma.Contoh fraktur patologis: Osteoporosis, penyakit metabolik, infeksi tulang dan tumor tulang.IV.Jenis-jenis fraktur:1.Fraktur tertutup, merupakan fraktur tidak menyebabkan robek pada kulit2.Fraktur terbuka, merupakan dengan luka pada kulit atau robek dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit3.Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran4.Fraktur tidak komplit, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulangV.Patofisiologi (Web of Caution)Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema, sehingga mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan terjadi penurunan perfusi jaringanVI.Pemeriksaan Fisika.Nyeri pada lokasi frkatur terutama pada saat digerakanb.Adanya pembengkakanc.Pemendekan ekstrmitas yang sakitd.Paralisis (kehilangan daya gerak)e.Krepitasi (sensasi keripik yang ditimbulkan bila mempalpasi patahan-patahan tulangf.Spasme ototg.Peretesia (penurunan sensasi)VII.Pemeriksaan Laboratorium/Diagnostik/Penunjang:Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis frakturScan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunakPemeriksaan darah lengkap: Hb menurun terutama fraktur terbuka, peningkatan leukosit adalah respon stres normal setelah trauma.VIII.Diagnosa keperawatan yang sering muncul1.Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d pergeseran fragmen tulang terhadap jaringan lunak2.Resiko tinggi inefektifnya bersihan jalan nafas b.d trauma pada jaringan lunak3.Kerusakan komunikasi verbal b.d nyeri

IX.Intervensi Keperawatan dan Rasional1.Gangguan rasa nyama: nyeri (akut) b.d pergeseran fragmen tulang terhadap jaringan lunakTujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri dapat berkurang atau terkontrol.Kriteria hasil :a.Nyeri berkurang atau hilangb.Skala nyeri 1c.Klien menunjukkan sikap santaiIntervensiRasional

1.Kaji lokasi nyeri, itensitas dan tipe nyeri2.Pertahankan imobilisasi fraktur wajah dengan alat yang tepat

3.lakukan rentang gerak pasif/ aktif untuk ekstremitas/ sendi

4.Ajarkan dan dorong tehnik relaksasi napas dalam5.Berikan waktu untuk ekspresikan perasaan, dalam tingkat kemampuan berkomunikasiKolaborasiBerikan analgetik sesuai indikasidengan dokter, pemberian analgetik1.Mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi2.Mempertahankan posisi yang tepatndan mencegah stres yang tak diperlukan pada dukungan otot3.menurunkan ketidaknyamanan dan kekakuan, merangsang sirkulasi yang melambat sehubungan dengan tirah baring4.Dengan tehnik relaksasi dapat mengurangi nyeri5.ekspresikan masalah/ rasa takut menurunkan ansietas/ siklus nyeri

Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.

2.Resiko tinggi inefektifnya bersihan jalan nafas b.d trauma pada jaringan lunakTujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam resiko inefektif bersihan jalan nafas tidak terjadiKriteria hasil: a. Pola nafas normalb.Bunyi nafas jelas dan tidak bisingc.Mendemonstrasikan perilaku untuk meningkatkan jalan napas patenIntervensiRasional

1.Tinggikan tempat tidur 30 derajat

2.Observasi frekuensi/ irama pernafasan. Perhatikan penggunaan otot aksesori, pernafasan cuoing hidung, stridor, serak3.Periksa mulut terhadap pembengkakan, perubahan warna, akumulasi sekret mulut atau darah4.Perhatikan keluhan pasien akan peningkatan disfagia, batuk nada tinggi, mengi5.Awasi TTV dan perubahan mental

6.Auskultasi bising usus

7.Kaji warna dasar kukuKolaborasiBerikan antiemetik sesuai indikasi1.Meningkatkan drainase sekresi dan menurunkan terjadinya edema2.Dapat mengindikasikan terjadinya gagal pernafasan

3.Pemeriksaan hati-hati diperlukan karena mungkin adanya perdarahan

4.Menindikasikan pembengkakan jaringan lunak pada faring posterior

5.Takikardi/ peningkatan gelisah dapat mengindikasikan terjadinya hipoksia6.Adanya mengi/ ronki menunjukan sekret tertahan7.Menentukan keadekuatan oksigenasi

Mencegah terjadinya muntah dan aspirasi

3.Kerusakan komunikasi verbal b.d nyeriTujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat berkomunikasi dengan baikKriteria hasil : pasien akan menetapkan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan

IntervensiRasional

Tentukan luasnya ketidakmampuan untuk berkomunikasi

Berikan pilihan cara komunkasi menggunakan alatvalidasi arti upaya komunikasi.gunakan ya atau tidakAntisipasi kebutuhan pasien

1.Tipe cedera/ situasi individual akan menentukan kebuthan yang memerlukan bantuan2.Memampukan pasien untuk mengkomunikasikan kebutuhan atau masalah3.Batasi frusteasi dan kelelahan yang dapat terjadi pada percakapan lama4.Menurunkan ansietas dan perasaan tidak berdaya

DAFTAR PUSTAKADoenges,M. A., Moorhouse, M. F.,& Geissler, A.C (1999).Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien.Jakarta: EGC.Smeltzer, Z. C,& Brenda, G. B .( 2001 )BukuAjar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8, vol 3. Jakarta: EGCRerves, C. J., Roux, G.,& Lockhart, R .( 2001).keperawatan medikal bedah.Jakarta: Salemba Medika.Watson, R. (2002).Anatomi dan fisiologi: untuk perawat. Jakarta: EGC.

http://imagineyourspirit.blogspot.com/2012/07/asuhan-keperawatan-askep-fraktur_20.htmlAsuhan Keperawatan (Askep) FRAKTUR MANDIBULAPosted byARie Kurniawanon 01.49Nama : Ari KurniawanNIM: PO7120010006POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN JURUSAN KEPERAWATAN BANJARBARUTwitter: @KurniawanArie_

FRAKTUR OS.MANDIBULARIS

DEFiNISIRusaknya kontinuitas tulang mandibular yang dapat disebabkan oleh traumabaik secara langsung atau tidak langsung.

PATOFISIOLOGIPenyebab fraktur adalah traumaFraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu :Osteoporosis ImperfektaOsteoporosisPenyakit metabolikTRAUMATrauma, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi dagu langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).

TANDA DAN GEJALANyeri hebat di tempat frakturTak mampu menggerakkan dagu bawahDiikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

PEMERIKSAAN PENUNJANGX.RayBone scans, Tomogram, atau MRI ScansArteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.CCT kalau banyak kerusakan otot.

PENATALAKSANAAN MEDIKKonservatif : Immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur.Operatif : dengan pemasangan Traksi, Pen, Screw, Plate, Wire ( tindakan Asbarg)RENCANA KEPERAWATANPrioritas MasalahMengatasi perdarahanMengatasi nyeriMencegah komplikasiMemberi informasi tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan

NODX. KEPERAWATANINTERVENSIRASIONAL

1.Potensial terjadinya syok sehubungan dengan perdarah-an yang banyakINDENPENDEN:Observasi tanda-tanda vital.Mengkaji sumber, lokasi, dan banyaknya per darahanMemberikan posisi supinasi

Memberikan banyak cairan (minum)

KOLABORASI:Pemberian cairan per infusPemberian obat koagulan sia (vit.K, Adona) dan penghentian perdarahan dengan fiksasi.Pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht)

Untuk mengetahui tanda-tanda syok sedini mungkinUntuk menentukan tindakan

Untuk mengurangi per darahan dan mencegah kekurangan darah ke otak.Untuk mencegah kekurangan cairan(mengganti cairan yang hilang)

Pemberian cairan per infus.

Membantu proses pembekuan darah dan untuk meng hentikan perdarahan.

Untuk mengetahui kadar Hb, Ht apakah perlu transfusi atau tidak.

2.Gangguan rasa nyaman:Nyerisehubungan dengan perubahan fragmen tulang, luka pada jaringan lunak, pemasangan back slab, stress, dan cemasINDEPENDEN:Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan meng-gunakan skala nyeri (0-10)Mempertahankan immobilisasi (back slab)Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka.Menjelaskan seluruh prosedur di atas

KOLABORASI:Pemberian obat-obatan analgesik

Untuk mengetahui tin