ensefalitis Anak3

  • View
    35

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

m

Text of ensefalitis Anak3

PENDAHULUAN

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme, misalnya viral, bakteri, Spirochaeta, fungus, protozoa,dan metazoa ( cacing ).Penyebab yang tersering dan terpenting adalah virus, karena itu sering disebut ensefalitis virus. Virus dapat masuk ke tubuh pasien melalui kulit saluran nafas, dan saluran cerna. Pada keadaan permulaan timbul demam, tetapi belum ada kelainan neurologis. Virus akan terus berkembang biak, kemudian menyerang susunan saraf pusat dan akhirnya diikuti kelainan neurologist. 1

Ensefalitis atau yang lebih sering disebut sebagai viral ensefalitis adalah peradangan pada otak yang biasanya disebabkan oleh virus. Proses peradangannya jarang terbatas pada jaringan otak saja tetapi hampir selalu mengenai selaput otak, maka dari itu lebih tepat bila disebut meningoensefalitis. Ensefalitis mencakup berbagai variasi dari bentuk yang paling ringan sampai dengan yang parah sekali seperti koma dan kematian. Ensefalitis diagnosisnya dapat ditegakkan hanya melalui pemeriksaan mikroskopis jaringan otak. Namun dalam prakteknya diklinik, diagnosis sering dibuat berdasarkan manifestasi-manifestasi neurologis dan temuan-temuan epidemiologis, tanpa bantuan bahan histologis. 1

Diagnosis ensefalitis akut dicurigai pada pasien dengan demam dan terdapat perubahan kesadaran dengan tanda-tanda disfungsi serebral difus. Secara umum, infeksi pada susunan saraf pusat merupakan penyebab tersering dari ensefalitis akut. Herpes Simplex Virus (HSV), Varicella Zoster Virus (VZV), Epstein-Barr Virus (EBV), mumps, measles, dan enterovirus merupakan penyebab sebagian kasus ensefalitis viral akut pada imunokompeten.. Pada penelitian disebutkan bahwa VZV merupakan virus tersering menyebabkan ensefalitis, seperti meningitis dan mielitis, diikuti oleh HSV dan enterovirus (masing-masing 11%), dan virus Influenza A (7%). Tuberkulosis, penyakit Ricketts, dan tripanosomiasis Afrika merupakan penyebab penting non-viral pada meningoensefalitis akut. 6

Virus yang paling sering ditemukan adalah virus herpes simpleks. Virus Herpes simpleks (VHS) terdiri dari 2 tipe,yaitu VHS tipe 1 dan VHS tipe 2. VHS tipe 1 menyebabkan ensefalitis terutama pada anak dan orang dewasa, sedangkan VHS tipe 2 menyebabkan infeksi pada neonatus. 2

Ensefalitis juga dapat terjadi akibat infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus, E. Coli, M. tuberculosa, dan T. pallidum. Tiga bakteri yang pertama merupakan penyebab ensefalitis bakterial akut yang menimbulkan pernanahan pada korteks serebri sehingga terbentuk abses serebri. Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitis supuratif akut. Selain itu terdapat juga beberapa penyebab lain ensefalitis yaitu Infeksi protozoa tertentu seperti Toxoplasma, infeksi Spirochaeta jenis Treponema pallidum ( ensefalitis sifilis), dan infeksi akibat cacing jenis Trikinela spiralis yang kadang-kadang menyebabkan ensefalitis. 9EPIDEMIOLOGI

Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) pada jurnal pediatrics in review yang menggunakan National Hospital Discharge Survey mengestimasi perawatan inap di RS yang disebabkan oleh ensefalitis di AS, dimana per tahun ditemukan kasus 7.3/100.000 dengan data rata- rata per tahun lebih dari 200.000 hari perawatan inap di RS, dan 1.400 kematian. Insiden tertinggi terjadi pada anak- anak dibawah usia 1 tahun dengan kasus 13.7/100.000 dan orang dewasa diatas 65 tahun dengan kasus 10.6/100.000 per tahun. Karena keterbatasan data sehingga kriteria diagnostik spesifiknya pun terbatas. Dalam analisis National Hospital Discharge, didapatkan data penyebab ensefalitis 60% adalah tidak diketahui, dan dari yang diketahui didapatkan penyebab tersering adalah herpes virus, varisela dan arbovirus. 5

Menurut Centers for Disease Control sekitar 20.000 kasus dari ensefalitis viral akut dilaporkan di Amerika. Kematian mencakup 5-20% dari penderita keseluruhan dan gejala sisa seperti deteriorasi mental, defek amnesia, perubahan kepribadian dan hemiparese terlihat pada sekitar 20%. Namun secara keseluruhan hal ini tidak dapat menggambarkan angka kejadian terhadap kematian maupun kelainan neurologis yang khusus dari masing-masing jenis virus. 10

Menurut statistik dari 214 ensefalitis 54% (115 orang) dari penderitanya ialah anak-anak. Virus yang paling sering ditemukan ialah virus herpes simpleks 31%, yang disusul oleh virus ECHO 17%. Statistik lain mengungkapkan bahwa ensefalitis primer yang disebabkan oleh virus yang dikenal mencakup 19%. Ensefalitis primer dengan penyebab yang tidak diketahui dan ensefalitis para infeksiosa masing-masing mencakup 40% dan 41% dari semua kasus ensefalitis yang telah diselidiki. 8

ETIOLOGI 1)Klasifikasi yang diajukan oleh Robin berdasarkan etiologi virus:

1. Infeksi virus yang bersifat epidemik

a. Golongan enterovirus : Poliomyelitis, virus Coxsackie, virus ECHO.

b. Golongan virus ARBO : Western equine encephalitis, St. Louis encephalitis, Eastern equine encephalitis, Japanese B encephalitis, Russian spring summer encephalitis, Murray valley encephalitis.

2. Infeksi virus yang bersifat sporadik : Rabies, Herpes simplex, Herpes zoster, Limfogranuloma, Mumps, Lymphocytic choriomeningitis dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas.

3. Ensefalitis pasca infeksi : pasca morbili, pasca varisela, pasca rubela, pasca vaksinia, pasca mononukleosis infeksious dan jenis-jenis yang mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik.10Meskipun di Indonesia secara klinis dikenal banyak kasus ensefalitis, tetapi baru Japanese B encephalitis yang ditemukan.

Viral: Virus DNA: herpes simplex virus (HSV-1, HSV-2), virus herpes lainnya (HHV-6, EBV, VZV, cytomegalovirus) dan adenovirus (sebagai contoh serotipe 1,6,7,12,32) Virus RNA: virus influenza (serotipe A), enterovirus (serotipe 9,71), virus polio, measles, rubella, mumps, rabies, arbovirus (contoh: Japanese B encephalitis virus, lymphotic choriomeningitis virus, Eastern, Western dan Venezuelan equine encephalitis virus), retro virus(ColoradoickFevervirus),danretrovirus(HIV)

Bakterial:Mycobacterium tuberculosis, Mycoplasma pneumoniae, Listeria monocytogenes, Borrelia burdgorferi (lyme disease), Tropheryma whippeli (Whipples disease), lepstospira, brucella, legionella, Salmonella typhii (typhoid fever), nocardia, actinomyces, Treponema pallidum (meningovascular syphilis) dan seluruh penyebab meningitis bakterial (piogenik).Rickettsia:Rickettsia rickettsii (Rocky Mountain Spotted Fever), Rickettsia typhii (endemic typhus)Rickettsia prowazekii (epidemic typhus), Coxiella burnetii (Q fever).

Fungal:Cryptococcosis, coccidioidomycosis, histoplasmosis, North American Blastomycosis, candidiasis

Parasit:Human African Trypanosomiasis, Toxoplasma gonsii, Nagleria fowleri, Echinococcus granulosus,schistosomiasis

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI

Virus dapat menyebabkan kerusakan neural SSP melalui invasi langsung dan akibat multiplikasi aktif virus (ensefalitis primer atau infeksius) atau melalui mekanisme respon autoimun jaringan SSP terhadap antigen virus pada infeksi sistemik ( acute disseminated encephalomyelitis - ADEM). 6Virus menyebar ke SSP melalui dua mekanisme utama :

(1) Penyebaran hematogen

Setelah masuk ke tubuh, virus bermultiplikasi secara lokal kemudian dapat terjadi viremia dan bersarangnya virus diretikulo-endotelial sistem (RES); terutama dihati. Limpa, kelenjar limfe, dan kadang-kadang muskulus. Dengan berlanjutnya replikasi, viremia sekunder memungkinkan bersarangnya virus diorgan lain termasuk SSP.

Pada umumnya virus dapat dicegah masuk kejaringan SSP oleh sawar darah otak. Virus dibersihkan dalam darah oleh sistem retikuolendotelial, teteapi bila terjadi viremia masif atau terdapat keadaan lain yang menguntungkan virus, maka virus akan masuk SSP melalui pleksus koroideus, migrasi fagosit yang terinfeksi, replikasi virus dalam sel endotel atau transfer pasif melalui sawar darah otak. 6(2) Penyebaran neuronal

Penyebaran neuronal (lebih jarang) terjadi melaui saraf perifer dan kranial. Virus masuk jaringan SSP secara sentripetal melalui transmisi aksonal sepanjang endoneurium, sel Schwann dan fibrosit sraf. Penyebaran neuronal dapat terjadi pada rabies, herpes simpleks, VZV, dan virus polio. HSV dapat menyebar ke SSP melalui neuron olfaktorius dimukosa hidung, kemudian melaui N.olfaktorius terjadi sinaps dibulbus olfaktorius diotak.

Virus tertentu lebih menyenangi sel otak tertentu, misalnya virus polio menyukai sel motorik, rabies menyukai sel limbik dan mumps menyukai sel ependimal. Korteks serebral, terutama lobus temporal sering mengalami kerusakan berat oleh virus herpes simpleks; arbovirus cendrung melibatkan seluruh otak; sedangkan predileksi kelainan pada rabies ialah pada daerah basal otak. Keterlibatan medula spinalis, akar saraf dan saraf perifer bervariasi. 6Kelainan neurologis pada ensefalitis disebabkan oleh : Invasi dan perusakan langsung pada jaringan otak oleh virus yang sedang berkembang biak

Reaksi jaringan saraf pasien terhadap antigen virus yang akan berakibat demielinisasi, kerusakan vascular, dan paravaskular.

Reaksi aktivasi virus neurotropik yang bersifat laten.

Biasanya ensefalitis virus dibagi dalam 3 kelompok : 1. Ensefalitis primer yang bisa disebabkan oleh infeksi virus kelompok herpes simpleks,virus influenza, ECHO ( Enteric Cytophatic Human Orphan ), Coxsackie, dan virus arbo.

2. Ensefalitis primer yang belum diketahui penyebabnya.3. Ensefalitis para-infeksiosa, yaitu ensefalitis yang timbul sebagai komplikasi penyakit virus yang sudah dikenal seperti rubeola, varisela, herpes zoster, parotitis epidemika, mononukleosis infeksiosa dan lain-lain. 4Seberapa berat kerusakan yang terjadi pada SSP tergantung dari virulensi virus, kekuatan teraupetik dari system imun dan