of 146 /146

REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

  • Upload
    others

  • View
    8

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung
Page 2: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung
Page 3: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

-a.iomPIL-ASI PERATURAN SISTEM KAMAR

PADA MAHKAMAH AGUNG

Milik

Perpustakaan

Mahkamah Agung - RI

SEKRETARIAT KEPANITERAAN

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jalan Medan Merdeka Utara Nomor g - 13 Jakarta Pusat

http://kepaniteraan.mahkamahagung.go.id

Page 4: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung
Page 5: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

PENGANTAR PANITERA MAHKAMAH AGUNG

Penerapan sistem kamar di Mahkamah Agung pada akhir tahun 2011 menjadi

jawaban atas sejumlah isu yang menjadi harapan publik terhadap penanganan perkara

di Mahkamah Agung yaitu: konsistensi putusan, kesatuan hukum, profesionalitas

hakim, dan kecepatan proses penanganan perkara. Pemberlakuan sistem kamar di

Mahkamah Agung ditandai dengan lahirnya Surat Keputusan Ketua Mahkamah

Agung Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 tanggal 19 September 2011. Dalam sejarah

Mahkamah Agung, SK KMA Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 menjadi momentum

perubahan sistem penanganan perkara di Mahkamah Agung dari sistem Tim menjadi

Sistem Kamar. Lahirnya SK ini didahului oleh sebuah proses panjang yang dilakukan

secara terstruktur dan melibatkan berbagai kalangan. Untuk efektifitas implementasi

sistem kamar, Mahkamah Agung pun terus menerus melakukan penataan sistem.

Periode 2011 sampai dengan 2013, lebih dari 10 (sepuluh) kebijakan penataan sistem

kamar yang telah dituangkan dalam berbagai surat keputusan.

Dalam pengantar penerbitan Kompilasi Peraturan Sistem Kamar di Mahkamah

Agung, saya akan menguraikan secara ringkas kronologis terbitnya surat-surat

keputusan tersebut. Diharapkan kita bisa membaca sebuah upaya pembaruan proses

manajemen perkara yang terstruktur, terpadu, dan dilakukan secara berkesinambungan.

2011: Peletakan Fondasi Sistem Kamar

Di awal tahun 2011, Ketua Mahkamah Agung membentuk Tim Kelompok Kerja

Penerapan Sistem Kamar. Tim Pokja ini dibentuk melalui Surat Keputusan Ketua

MA Nomor 010/KMA/SK/1/2011 tanggal 21 Januari-Ztll l , Tim ini mempunyai

tugas yang sangat strategis untuk melakukan perubahan sistem penanganan perkara

di Mahkamah Agung dari Sistem Tim ke Sistem Kamar. Diantara butir tugas Tim

Pokja yang termaktub di surat keputusan tersebut adalah: melaksanakan kajian secara

komprehensif dalam rangka menyusun kebijakan yang diperlukan untuk penerapan

sistem kamar pada Mahkamah Agung, menyusun draft-draft kebijakan Mahkamah

Agung dalam rangka penerapan sistem kamar pada Mahkamah Agung.

Delapan bulan setelah Tim Pokja Penerapan Sistem Kamar dibentuk, tepatnya

tanggal 19 September 2011, Mahkamah Agung resmi memberlakukan sistem kamar

melalui Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung 142/KMA/SK/IX/2011. Surat

Keputusan ini dilaunching bersamaan dengan momentum Rapat Kerja Nasional Akbar

di Jakarta.

Berdasar Surat Keputusan Pedoman Penerapan Sistem Kamar, penanganan

perkara kasasi dan peninjauan kembali pada Mahkamah Agung RI dilaksanakan

oleh 5 (lima) kamar, yaitu: kamar pidana, kamar perdata, kamar tata usaha negara,

Page 6: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

kamar agama, dan kamar militer. Sesuai dengan tujuan sistem kamar untuk menjaga

konsistensi putusan, maka dibentuk pula perangkat baru yaitu rapat pleno kamar dan

rapat pleno antar kamar. Salah satu bahasan dalam rapat pleno kamar adalah ketika

ada perkara peninjauan kembali yang akan membatalkan putusan tingkat kasasi dan

adanya perubahan terhadap yurisprudensi tetap. Sedangkan rapat pleno antar kamar

diselenggarakan apabila terdapat perkara yang mengandung masalah hukum yang

menjadi wilayah kewenangan dua kamar atau lebih sekaligus.

Untuk efektifitas pelaksanaan sistem kamar sesuai pedoman yang diatur dalam

SK KMA Nomor 142/KMA/SK/IX/2011, Ketua Mahkamah Agung mengeluarkan

beberapa surat keputusan yang merupakan paket implementasi sistem kamar. Surat

Keputusan tersebut adalah: Penunjukan Ketua Kamar dalam Sistem Kamar di

Mahkamah Agung (SK KMA Nomor 143/KMA/SK/IX/2011 tanggal 19 September

2011) dan Penunjukan Hakim Agung sebagai Anggota Kamar Perkara dalam Sistem

Kamar pada Mahkamah Agung RI (SK KMA Nomor 144/KMA/SK/IX/2011 tanggal

19 September 2011, kemudian dirubah dengan SK KMANomor 163/KMA/SKIX/2011

tanggal 24 Oktober 2011).

Oleh karena sistem kamar bagi Mahkamah Agung merupakan sistem barn yang

berbeda sangat jauh dengan sistem Tim, diperlukan strategi agar sistem tersebut

cepat membumi di semua lini yang terlibat dalam proses penanganan perkara. Perlu

diketahui bahwa sebelumnya ketika MA menerapkan sistem Tim masing-masing tim

diberi nama dari mulai Tim A hingga Tim K. Beberapa nama seringkali diasosiasikan

dengan nama burung, misalnya D= Dadali, F=Falkon, G=Garuda dan lain-lain. Untuk

itu Ketua Mahkamah Agung melakukan penamaan (branding) untuk masing-masing

kamar. Nama yang digunakan adalah nama simbol yang terdapat pada logo hakim.

Kamar Pidana dinamakan Tim Calera yang memiliki 3 (tiga) sub kamar yaitu: Sub

Kamar Pidana Umum : Tim Cakra A (Tim CA}, Sub Kamar Pidana Khusus Tindak

Pidana Korupsi: Tim Cakra B (Tim CB) dan Sub Kamar Pidana Khusus Non Tindak

Pidana Korupsi : Tim Calera C (Tim CC) . Kamar Perdata dinamakan Tim Tirta

yang memiliki tiga sub kamar yaitu: Sub Kamar Perdata : Tim Tirta A (Tim TA),

Sub Kamar Perdata Khusus : Tim Tirta B (Tim TB), dan Sub Kamar Perdata Khusus

Perselisihan Hubungan Industrial : Tim Tirta C (Tim TC). Kamar Agama dinamakan

Tim Kartika (Tim K), Kamar Militer dinamakan Tim Sari (Tim S) sedangkan Kamar

Tata Usaha Negara dinamakan Tim Candra ( Tim C). Kebijakan pemberian nama

kamar ini dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 164/KMA/SKIX/2011 tanggal 24 Oktober 2011.

2012: Mewujudkan Kesatuan Hukum

Setelah satu semester sistem kamar diimplementasikan, Mahkamah Agung

memandang perlu melakukan penyempumaan. Penyempumaan ini terkait dengan

prosedur pengambilan keputusan majelis hakim agung ketika terjadi perbedaan

Page 7: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

pendapat. Tujuan utama implementasi sistem kamar adalah terciptanya konsistensi

dan kesatuan hukum. Sehingga dalam praktek sistem kamar di pengadilan Belanda,

perbedaan pendapat (dissenting opinion) ini tidak diberikan ruang. MahkamahAgung

RI memberikan sedikit "modifikasi" dalam implementasi sistem kamar. Dissenting

opinion tidak dilarang namun ada prosedur yang harus ditempuh. Prosedur ini belum

diatur dalam SK KMA Nomor 142/KMA/SK/IX/2011. Oleh karena itu, Ketua MA

menerbitkan Surat Keputusan Nomor O 17/KMA/SK/11/2012tanggal 3 Februari 2012

tentang Perubahan Pertama Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 142/

KMA/SK/IX/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Kamar di Mahkamah Agung

RI. Menurut SK ini, apabila dalam majelis suatu perkara terdapat perbedaan pendapat

yang tajam yang tidak dapat disatukan, maka Ketua Kamar menambah 2 (dua) anggota

baru. Apabila setelah ada penambahan anggota baru, perbedaan pendapat masih

ada, maka pihak yang berbeda (minoritas) dapat membuat pendapat yang berbeda

(dissenting opinion).

Awal tahun 2012, isu terciptanya konsistensi dan kesatuan hukum menjadi

perhatian utama dalam implementasi sistem kamar di Mahkamah Agung. Setelah

menerbitkan surat keputusan penyempurnaan pedoman sistem kamar, Ketua

Mahkamah Agung meminta masing-masing kamar melakukan rapat pleno untuk

membahas persoalan hukum (question of law) yang seringkali memicu perbedaan

pendapat. Rapat pleno masing-masing kamar pun akhimya digelar sepanjang periode

bulan Maret - Mei 2012. Rapat pleno ini berhasil melahirkan rumusan hukum hasil

kamar yang harus menjadi pedoman bagi hakim agung dalam menangani perkara. Agar

daya ikat rumusan hukum pleno kamar dapat menjangkau pengadilan, maka Ketua

Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA Nomor 7 Tahun 2012 tanggal 12 September

2012 tentang Rumusan Hukum Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung sebagai

Pedoman Pelalcsanaan Togas bagi Pengadilan.

Hukum adalah isu yang sangat dinamis. Sejumlah rumusan hukum yang dalam

pleno kamar tahun 2012 disepakati sebagai pedoman, setahun berikutnya dianggap

"tidak tepat" karena kehilangan konteks sosio-yuridisnya. Selain itu, sejumlah

perkembangan hukum aktual belum terakomodir dalam rumusan tersebut. Maka

di akhir tahun 2013, tepatnya 19-20 Desember 2013, Mahkamah Agung kembali menggelar rapat Pleno Kamar.

Rumusan hukum hasil rapat pleno kamar ini kembali diberlakukan sebagai

pedoman dalam pelaksanaan tugas oleh Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2014. Menurut

SEMA ini, rumusan hukum hasil pleno kamar tahun 2012 dan rumusan hasil pleno

kamar tahun 2013 sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan keduanya

diberlakukan sebagai pedoman dalam penanganan perkara di Mahkamah Agung

dan di pengadilan tingkat pertama dan banding sepanjang substansi rumusannya

berkenaan dengan kewenangan peradilan tingkat pertama dan banding. Sedangkan

rumusan hukum hasil pleno kamar tahun 2012 yang secara tegas dinyatakan direvisi

Page 8: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

atau secara substansi bertentangan dengan rumusan basil pleno kamar tahun 2013,

rumusan hukum tersebut dinyatakan tidak berlaku.

2013: Menuju Percepatan Penanganan Perkara

Untuk memperkuat implementasi sistem kamar, selain melakukan penataan

di bidang teknis yudisial, Mahkamah Agung juga melaku1canpenataan di bidang

administrasi. Pada tanggal 1 April 2013, Mahkamah Agung melakukan perubahan

nomenklatur unsur pimpinan Mahkamah Agung sehingga lebih mencerminkan sistem

kamar. Perubahan nomenklatur ini dilandaskan pada Surat Keputusan Ketua Mahkamah

Agung Nomor 50 A/SK/KMA/IV/2013 tanggal 1 April 2013. Nomenklatur unsur

pimpinan yang berubah berdasarkan surat keputusan tersebut adalah nomenklatur

ketua muda menjadi ketua kamar. Perubahan nomenklatur ini lebih merefleksikan

peran dan tanggung jawab pimpinan (ketua kamar) dalam menjaga kesatuan hukum

melalui implementasi sistem kamar.

Selain merubah nomenklatur, Mahkamah Agung juga melakukan pengurangan

jumlah unsur pimpinan (Ketua Muda) menyesuaikan denganjumlah kamar penanganan

perkara Penanganan perkara di Mahkamah Agung dilakukanoleh 5 (lima) kamar,

yaitu: kamar perdata, kamar pidana, kamar agama, kamar militer dan kamar tata usaha

negara. Untuk menyesuaikan dengan sistem kamar, maka jabatan ketua muda pidana

khusus dan ketua muda perdata khusus yang semula menjadi bagian dari unsur pimpinan

Mahkamah Agung tidak diisi lagi ketika pejabatnya purnabakti dan promosi. Penidaan

kedua jabatan tersebut ditetapkan dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor

50 B/SK/KMA/IV /2013 tanggal 1 April 2013. Berdasarkan SK ini unsur pimpinan

Mahkamah Agung adalah: Ketua Mahkamah Agung, Wakil Ketua Mahkamah Agung

Bidang Yudisial, Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial, Ketua Kamar Pidana,

Ketua Kamar Perdata, Ketua Kamar Agama; Ketua Kamar Militer; Ketua Kamar Tata

Usaha Negara, Ketua Kamar Pembinaan, dan Ketua Kamar Pengawasan.

Selain penataan di bidang organisasi, di tahun 2013 kembali dilakukan

penyempurnaan dalam bidang teknis terkait implementasi sistem kamar.

Penyempurnaan ini dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 112/KMA/SK/

VIl/2013 tanggal 10 Juli 2013 tentang Perubahan Kedua SK KMA No. 142/KMA/

SK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar pada Mahkamah Agung.

Perubahan mendasar yang diatur dalam SK ini adalah menyangkut dua hal, yaitu:

Pertama, kedudukan Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung dalam Sistem Kamar

tidak merangkap sebagai Ketua Kamar. Mereka dapat bersidang di semua kamar

atas dasar penunju1canKetua Mahkamah Agung. Perkara yang ditangani oleh Ketua

dan Wakil Ketua dikhususkan terhadap perkara-perkara yang membawa dampak luas

kepada negara dan perekonornian negara, perkara-perkara yang akan mempengaruhi

kredibilitas lembaga peradilan, atau perkara lain yang dipandang penting oleh Ketua

Mahkamah Agung. Kedua, Kriteria perkara yang dibahas dalam Rapat Pleno Kamar

Page 9: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

dilakukan penyempumaan dari peraturan sebelumnya. Dalam SK KMA Nomor 112/

KMA/SK/VII/2013, diatur bahwa kriteria perkara yang dibawa ke Rapat Pleno, antara

lain:

⎯ Perkara permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang akan membatalkan

putusan tingkat kasasi dimana terdapat perbedaan pendapat dalam Majelis

Hakim Agung yang memeriksa perkara tersebut. (Dengan SK baru ini, maka

mekanisme penambahan anggota majelis menjadi ditiadakan)

⎯ Ketua Majelis berbeda pendapat dengan dua anggotanya dalam perkara yang

menarik perhatian masyarakat.

Masih terkait dengan penguatan sistem kamar, di tahun 2013 Mahkamah Agung

melakukan perubahan dalam sistem pemeriksaan berkas perkara. Kebijakan ini

dituangkan dalam Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 119/KMA/SK/

VII/2013 tentang Penetapan Harl Musyawarah dan Ucapan pada Mahkamah Agung

RI. Melalui SK ini Mahkamah Agung merubah sistem membaca berkas bergiliran

menjadi sistem membaca berkas secara serentak atau bersamaan.

Sistem baru ini membawa perubahan signifikan dalam sistem penanganan

perkara, antara lain: Pertama, keharusan ketua majelis menetapkan hari dan tanggal

musyawarah dan ucapan bagi perkara yang ditanganinya sehingga memberikan

kepastian waktu penyelesaian perkara. Kedua, adanya kalender hari musyawarah

dan ucapan online. Ketiga, Adanya Majelis dan Hari Musyawarah yang Tetap.

Keempat, mendorong lmplementasi e-Dokumen, Hal ini karena penerapan sistem

membaca berkas bersama, mengharuskan berkas bundel B digandakan sesuai jumlah

hakim anggota. Untuk efektifitas sistem membaca berkas sekaligus mengeliminasi

dampak negatif penggandaan berkas fisik, maka pemanfaatan dokumen elektronik

dalam pengajuan kasasi dan peninjauan kembali adalah sebuah keniscayaan.

Uraian di atas menggambarkan milestone perjalanan besar implementasi sistem

kamar di Mahkamah Agung. Di setiap surat keputusan yang diterbitkan hakikatnya

adalah sebuah kebijakan. Saya berharap, upaya kompilasi peraturan sistem kamar

selain memudahkan kita untuk mengakses peraturan tersebut juga mengabadikan

sebuah kebijakan monumental dari Mahkamah Agung RI, yaitu beralihnya dari sistem

tim ke sistem kamar.

Jakarta, Maret 2014

Panitera Mahkamah Agung

SOEROSO ONO

Page 10: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung
Page 11: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

DAFTAR ISI

1. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 010/KMA/

SK/1/2011 Tanggal 21 Januari 2011 Tentang Pembentukan Tim Kelompok Kerja

Penerapan Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung 1

2. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 142/KMA/SK/

IX/2011 Tanggal 19 September 2011 Tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar

di Mahkamah Agung 7

3. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 143/KMA/SK/

IX/2011 Tanggal 19 September 2011 Tentang Penunjukan Ketua Kamar Dalam

Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung Republik Indonesia................................... 17

4. Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 144/KMA/SK/2011

Tanggal 19 September 2011 Tentang Penunjukan Hakim Agung Sebagai

Anggota Kamar Perkara Dalam Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung Republik

Indonesia.................................................................................................................. 22

5. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : l 631KMA/

SK/X/2011 Tanggal 24 Oktober 2011 Tentang Perubahan Surat Keputusan Ketua

Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 144/KMA/SK/IX/2011 Tentang

Penunjukan Hakim Agung Sebagai Anggota Kamar Perkara Dalam Sistem Kamar

Pada Mahkamah Agung Republik Indonesia........................................................... 26

6. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 164/KMA/

SK/X/2011 Tanggal 24 Oktober 2011 Tentang Pemberian Nama Tim Pada Kamar-

Kamar Perkara Pada Mahkamah Agung Republik Indonesia.................................. 30

7. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 017IKMA/

SK/II/2012 Tanggal 3 Februari 2012 Tentang Perubahan Pertama SK KMA

Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar Pada

Mahkamah Agung.................................................................................................... 33

8. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 1061KMA/

SK/IX/2012 Tanggal 6 September 2012 Tentang Pembentukan Kelompok Kerja

Penyusunan Rencana Aksi lmplementasi Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung RI............................................................................................................................. 44

9. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor: 7 Tahun 2012 Tanggal 12 September 2012 Tentang Rumusan Hukum Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung

Sebagai Pedoman Pelaksanaan Togas Bagi Pengadilan .

10. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : SOA/KMA/SK/

IV/2013 Tanggal 1 April 2013 Tentang Perubahan Nomenklatur Unsur Pimpinan

MahkamahAgung Republik Indonesia .

11. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : SOB/KMA/SK/

IV/2013 Tanggal 1 April 2013 Tentang Perubahan Keputusan Ketua Mahkamah

Agung Republik Indonesia Nomor 143/KMA/SK/IX/2011 Tentang Penunjukan

47

105

Ketua Kamar Dalam Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung .. 108

..................................................

...................................................

.............

..................................................................................................

................

.........................................

.........................................

................................

...................................................................

...............................................

.................................

..................................

...................................

............

Page 12: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

12. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 111/KMA/SK/

VIl/2013 Tanggal 10 Juli 2013 Tentang Pembentukan Tim lmplementasi Sistem

Kamar Pada Mahkamah Agung Republik Indonesia............................................... 111

13. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 112/KMA/SK/-

VIl/2013 Tanggal 10 Juli 2013 Tentang Perubahan Kedua SuratKeputusan Ketua

Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan

Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung 115

14. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 119/KMA/SK/

VIl/2013 Tanggal 19 Juli 2013 Tentang Penetapan Harl Musyawarah dan Ucapan

Pada Mahkamah Agung Republik Indonesia...........................................................

124

15. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor :. 1 Tahun 2014 Tanggal 29 Januari 2014

Tentang Perubahan Atas Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 14 Tahun 2010 Tentang Dokumen Elektronik Sebagai Kelengkapan 128

Pennohonan Kasasi dan Peninjauan Kembali .

.........................................................

.........................................................

....................................................................

..............................................

X

Page 13: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 010/KMA/SKJl/2011

TENTANG

PEMBENTUKAN TIM KELOMPOK KERJA PENERAPAN SISTEM

KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG

KETUA MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

Mengingat

: a. bahwa Mahkamah Agung Republik Indonesia dipandang perlu

untuk terus melakukan upaya-upaya pembaruan peradilan

dengan mendasarkan pada perencanaan yang sistematis yang

dituangkan dalam dokumen pokok perencanaan pembaruan

peradilan yang dituangkan dalam Cetak Biru Pembaruan

Peradilan;

b. bahwa dalam Cetak Biru Pembaruan Peradilan tahun 2003

dan Cetak Biru Pembaruan Peradilan tahun 2010-2035

mengamanatkan pembentukan Sistem kamar pada Mahkamah

Agung;

c. bahwa penerapan sistem kamar pada Mahkamah Agung sangat

penting untuk mengefektifkan pelaksanaan fungsi Mahkamah

Agung sebagai pengadilan tertinggi dalam rangka menjaga

kepastian hukum pada Mahkamah Agung dan pengadilan

dibawahnya

: 1. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985, Sebagaimana diubah

dengan Undang-Undang No. 35 tahun 1999 dan diubah

kembali dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004 dan

terakhir kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun

2009 tentang Mahkamah Agung;

Page 14: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Undang-Undang No 5 tahun 1986 sebagaimana diubah dengan

Undang-Undang No 9 tahun 2004 dan terakhir kali diubah

dengan Undang-Undang No. 51 tahun 2009 tentang Peradilan

Tata Usaha Negara;

3. Undang-Undang Nomor 2 tahun 1986 Sebagaimana diubah

dengan Undang-Undang No 8 tahun 2004 dan terakhir kali

diubah dengan Undang-Undang No 49 tahun 2009 tentang

Peradilan Umum;

4. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 Sebagaimana diubah

dengan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 tentang

Peradilan Agama;

5. Undang-Undang Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan

Militer;

6. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Ketentuan

Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.

Menetapkan

MEMUTUSKAN

PERTAMA Membentuk Tim Kelompok Kerja Penerapan Sistem Kamar

pada Mahkamah Agung dengan organisasi yang terdiri dari

Penanggung jawab, Tim Pengarah, Sekretaris dan Anggota

Tim.

KEDUA Struktur organisasi tim kelompok kerja penerapan sistem

kamar pada Mahkamah Agung ini adalah sebagai berikut :

A. PenanggungJawab:

1. Ketua Mahkamah Agung.

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial.

B. Tim Pengarah yang terdiri dari :

1. Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Tata

Usaha Negara MA-RI/Koordinator Tim Pembaruan MA-RI

2. Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama MA-Rl

3. Ketua Muda Pidana Khusus MA-RI

4. Ketua Muda Perdata MA-RI 5. Ketua Muda Pidana MA-RI

6. Ketua Muda Perdata Khusus MA-RI

7. Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Militer

MA-RI

:

:

:

Page 15: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

C. Anggota Yang terdiri dari:

Koordinator

Wakil Koordinator

Sekretariat

merangkap anggota

Anggota

Atja Sondjaja, SH

(Ketua Muda Perdata MA-RI)

Prof. Dr. Takdir Rahmadi, SH.,LLM (Hakim Agung MA-RI)

I.G. Agung Sumanatha, SH.,:MH

(Kepala Pusdiklat Tehnis Peradilan Badan Litbang Kumdil MA•

RI)

1 Prof.Dr.H. Abdul Manan, SH,S.IP.M.Hum

(Hakim Agung MA-RI)

2 Dr. Imam Soebechi, SH.,:MH

(Hakim Agung MA-RI)

3 Suwardi, SH

(Hakim Agung MA-RI)

4 Dr. Syamsul Maarif, SH.LLM (Hakim Agung MA-RI)

5 Soltoni Mohdally, SH.,MH

(Hakim Agung MA-RI)

6 Dr.H. Supandi, SH.,M.HUM

(Hakim Agung MA-RI)

7 Suhadi, SH.,MH ( Panitera Mahkamah Agung RI )

8 Ansyahrul SH.,M.HUM

(Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta)

9 Drs. H. Khalillurahman, SH, MBA, MH

(Ketua Pengadilan TinggiAgama DKI Jakarta)

10 Mayjen TNI Drs. Burhan Dahlan, SH.,MH

(Kepala Pengadilan Militer Utama)

11 Sudarto Radyo Suwamo, SH

(Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta)

12 Prof. Dr. Basuki Rekso Wibowo, SH.,M.S

(Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Mahkamah

Agung RI)

13 Aria Suyudi, SH.,LLM

(Tim Asistensi Pembaruan Peradilan MA-RI)

14 Fifiek Mulyana, SH.,LLM

(TimAsistensi Pembaruan Peradilan MA-RI)

15 Haemiwan Fathony, S.Kom

(TimAsistensi Pembaruan Peradilan MA-RI)

16 Wiwiek Awiati, SH.,M.HUM

(TimAsistensi Pembaruan Peradilan MA-RI)

17 Dian Rosita, SH.,MA (Peneliti)

18 Astriyani, SH (Peneliti )

19 Arsil, SH (Peneliti )

20 Imam Nasima, LLM (Peneliti)

:

:

:

:

3

Page 16: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETIGA Tugas dan Tanggung Jawab :

A. Penganggung j awab memiliki tugas dan tanggung jawab

sebagai berikut :

1. Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan tugas

tim kelompok kerja penerapan sistem kamar secara

umum.

2. Memberikan persetujuan terhadap hasil kerja tim kelompok kerja penerapan sistem kamar.

B. Tim pengarah memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai

berikut:

1. Memberikan arahan mengenai garis-garis besar

kegiatan tim kelompok kerja penerapan sistem kamar.

2. Melakukan pengawasan secara umum terhadap

proses kerja dalam rangka penerapan sistem kamar.

3. Melakukan upaya-upaya untuk memperoleh

dukungan terhadap proses penerapan sistem kamar.

4. Mendukung koordinasi proses penyusunan dengan

proses pembaruan hukum antara Mahkamah Agung,

dengan lembaga eksekutif, legislatif dan masyarakat.

C. Anggota memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai

berikut:

1. Menyusun rencana kerja pada tim kelompok kerja

penerapan sistem kamar.

2. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana kerja

yang sudah disepakati.

3. Melaksanakan kajian secara komprehensif dalam

rangka menyusun kebijakan yang diperlukan untuk

penerapan sistem kamar pada Mahkamah Agung.

4. Menyusun draft-draft kebijakan Mahkamah Agung

yang diperlukan dalam rangka penerapan sistem

kamar pada Mahkamah Agung.

5. Meminta masukan dan melakukan konsultasi dengan

pihak pihak (narasumber) untuk menyempurnakan

hasil kerja dalam rangka penerapan sistem kamar

pada Mahkamah Agung.

6. Melakukan sosialisasi secara internal kepada jajaran

pengadilan mengenai rencana dan penerapan sistem

kamar pada Mahkamah Agung.

Page 17: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

7. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap rencana

kerja penerapan sistem kamar pada Mahkamah

Agung.

8. Mengkomunikasikan hasil kerja secara periodik

kepada penanggung jawab dan tim pengarah.

9. Melakukan pertemuan-pertemuan anggota kelompok

kerja untuk mendukung kelancaran penerapan sistem

kamar pada Mahkamah Agung.

10. Meminta masukan kepada tim pengarah dalam

pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tim kelompok

kerja dalam rangka penerapan sistem kamar pada

Mahkamah Agung.

11. Memberikan hasil kerja tim kelompok kerja berupa

laporan kegiatan, hasil-hasil kajian dan draft kebijakan

kepada penanggung jawab untuk mendapatkan

persetujuan.

D. Sekretariat memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai

berikut:

1. Menyediakan dokumen dan informasi yang

dibutuhkan oleh tim kelompok kerja penerapan

system kamar dalam rangka pelaksanaan tugasnya.

2. Memfasilitasi timkelompokkerja dalammendapatkan

akses data dan informasi di lingkungan Mahkamah

Agung dan pengadilan sesuai kebutuhan.

3. Memfasilitasi pertemuan-pertemuan tim kelompok

kerja dalam rangka pelaksanaan tugas dan tanggung

jawab dalam penerapan sistem kamar pada Mahkamah Agung. .

4. Melaksanakan administrasi surat menyurat sesuai

keperluan dalam mendukung pelaksanaan tugas•

tugas tersebut di atas.

5. Menyediakan kebutuhan teknis dan non teknis dalam

pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tim kelompok

kerja penerapan sistem kamar seperti undangan rapat,

ruang rapat, bahan-bahan dan logistik lain yang

dibutuhkan.

6. Menyusun agenda kerja tim kelompok kerja.

7. Menyusun dokumentasi pertemuan, notulensi,

rekaman, dan lain-lain.

8. Mendukung penyiapan anggaran sesuai dengan

alokasi anggaran Mahkamah Agung RI.

Page 18: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KEEMPAT

KELIMA

KEEN AM

KETUJUH

9. Berkoordinasi dengan tim Asistensi Pembaruan

untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan tugas

dan tanggung jawab di atas apabila diperlukan.

TimKelompokKerjaPenerapanSistemKamarpadaMahkamah

Agung bekerja selama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang

sesuai kebutuhan atas persetujuan dari penanggung jawab.

Segala biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas

tim kelompok kerja penerapan sistem kamar ini dibebankan

kepada anggaran pendapatan dan biaya negara melalui DIPA

Mahkamah Agung RI dan sumber-sumber lain yang tidak

mengikat.

Dalam menjalankan tugasnya tim-tim diatas perlu melakukan

koordinasi, baik secara tertulis maupun dengan mengadakan

pertemuan berkala.

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Salinan keputusan ini disampaikan kepada :

1. Para Pimpinan Mahkamah Agung RI

2. Yang bersangkutan

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal : 21 Januari 2011

KETUA MAHKAMAH AGUNG RI.

ttd

HARIFIN A. TUMPA

6

Page 19: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 142/KMA/SK/IX/2011

TENTANG

PEDOMAN PENERAPAN SISTEM KAMAR DI MAHKAMAH AGUNG

Menimbang

Mengingat

: a. bahwa Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi yang

berwenang memeriksa dan memutus perkara pemohonan

kasasi, peninjauan kembali, kasasi demi kepentingan

hukum, sengketa tentang kewenangan mengadili hak uji

materil dan perkara-perkara lain yang ditentukan oleh

Undang-Undang;

b. bahwa untuk menjalankan fungsi tersebut dengan sebaik-

baiknya Mahkamah Agung harus selalu menjaga kualitas dan

konsistensi putusannya, sehingga dapat dijadikan acuan oleh

pengadilan-pengadilan di tingkat bawah dalam memeriksa

dan memutus perkara-perkara yang serupa;

c. bahwa untuk menjaga kualitas dan konsistensi putusan

Mahkamah Agung, perlu diterapkan penanganan perkara

dengan Sistem Kamar di Mahkamah Agung;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan dalam huruf a sampai

huruf c di atas, perlu diterapkan pedoman penerapan Sistem

Kamar di Mahkamah Agung.

: 1. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung;

2. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

Page 20: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

3. Undang-Undang Nomor 49 tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 2 tahun 1986 tentang

Peradilan Umum;

4. Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 tetang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang

Peradilan Agama;dan

5. Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang

Peradilan Tata U saha Negara;

6. Undang-Undang Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan

Militer;

7. Hasil Rumusan Tim Pengkajian Sistem Kamar di Mahkamah

Agung.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PEDOMAN PENERAPAN SISTEM KAMAR DI

MAHKAMAH AGUNG.

KESATU Menerapkan Sistem Kamar dalam penanganan perkara di

Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam lampiran Surat

Keputusan ini.

KEDUA

KETIGA

KEEMPAT

KELIMA

Sampai dengan bulan April tahun 2014, atau selama masa

transisi, penerapan Sistem Kamar dilakukan dengan

penyelesaian terhadap kondisi dan struktur organisasi

Mahkamah Agung saat ini.

Memerintahkan Panitera MahkamahAgung untuk melakukan

perubahan-perubahan administrasi yang diperlukan untuk

penanganan perkara sesuai Sistem Kamar yang diatur dalam

keputusan ini.

Mekanisme pengaturan Sistem Kamar disebut dalam

lampiran 1 Surat Keputusan ini.

Hal-ha! yang belum diatur dalam lampiran Surat Keputusan

tersebut akan ditetapkan lebih lanjut dengan Surat Keputusan

Ketua Mahkamah Agung sesuai dengan kebutuhan;

:

:

:

:

:

Page 21: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KEEN AM Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan

dengan ketentuan bahwa apabila dikemudian hari terdapat

kekeliruan, akan diadakan perbaikan seperlunya.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 19 September 2011

KETUA MAHKAMAH AGUNG RI

ttd

HARIFIN A. TUMPA

SALINAN : Keputusan ini disampaikan kepada :

1 Para Wakil Ketua Mahkamah Agung RI;

2 Para Ketua Muda Mahkamah Agung RI;

3 Para Hakim Agung Mahkamah Agung RI;

4 Panitera Mahkamah Agung RI;

5 Sekretaris Mahkamah Agung RI;

6 Para Pejabat Eselon I dan Eselon II di Lingkungan Mahkamah Agung RI;

7 Para Panitera Muda Mahkamah Agung RI;

8 Para Ketua Pengadilan Tingkat Banding; dan

9 Para Ketua Pengadilan Tingkat Pertama;

:

9

Page 22: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Lampiran I:

Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI

Nomor 142/KMA/SK/IX/2011

Tanggal : 19 September 2011

I. Tuju a n

Penerapan Sistem Kamar bertujuan untuk menjaga kosistensi putusan,

meningkatkan profesionalitas Hakim Agung, serta mempercepat proses

penanganan perkara di Mahkamah Agung RI.

II. Kam ar Penan gana n Perk ara

1. Penanganan perkara kasasi dan peninjauan kembali di Mahkamah Agung di

bagi menjadi 5 (lima) Kamar, yaitu:

a. Kamar Pidana

b. Kamar Perdata

c.

d.

Kamar

Kamar

Tata Usaha Negara

Agama

e. Kamar Militer

2. Pada masing-masing Kamar, dapat dibentuk Sub Kamar oleh Ketua Mahkamah

Agung berdasarkan jumlah perkara yang di tangani oleh kamar tersebut, atas

usul Ketua Kamar .

3. Perkara permohonan grasi, permohonan Fatwa, hak uji materil, dan sengketa

kewenangan antar lingkungan peradilan diperiksa dan diputus dengan

mekanisme khusus diluar kamar, dengan Majelis Hakim yang terdiri atas

Hakim-Hakim Agung dari beberapa kamar sekaligus.

III. Susunan Kama r

1. Susunan Kamar terdiri atas:

a. Ketua Kamar

b. Hakim Agung sebagai Anggota Kamar

c. Panitera Muda Kamar

d. Panitera Pengganti

2. Masing-masing Kamar dipimpin Ketua Kamar yang ditunjuk oleh Ketua MA.

3. Ketua Kamar adalah Ketua, Wakil Ketua Mahkamah Agung, atau Ketua

Muda Bidang Teknis Yudisial.

4. Dalam hal terdapat sub Ka.mar pada suatu Kamar, Ketua Kamar menunjuk

Ketua Sub Kamar dan Panitera Pengganti yang ada di Kamar tersebut untuk

,

Perpustakaan

Mahkamah Agung - RI

Page 23: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

masing-masing bertindak sebagai Ketua Sub Kamar dan koordinator Sub

Kamar atas perintah Ketua Mahkamah Agung.

5. Penempatan Hakim Agung dimasing-masing K.amar ditetapkan oleh Ketua

Mahkamah Agung berdasarkan:

a. Asal lingkungan peradilan, khusus untuk Hakim Agung yang berasal dari

jalur karier,

b. Latar belakang pendidikan formal, khusus untuk Hakim Agung yang

berasal dari jalur non karier, dan

c. Pelatihan yang pemah dilalui.

6. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Pidana adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan umum, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir, dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

pidana.

7. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Perdata adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan umum, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir, dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

perdata.

8. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Tata Usaha Negara adalah

yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan Tata Usaha Negara, bagi Hakim Agung

yang berasal darijalur karir, dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum Tata Usaha Negara.

9· Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Agama adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan Agama, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir, dan

b. Memili.ki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

Agama (Syariah).

10. HakimAgung yang dapat ditempatkan di Kamar Milter adalah yang memenuhi

kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingk.ungan peradilan Militer, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir, dan

b. Memili.ki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

Militer.

Page 24: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

11. Dengan mempertimbangkan beban perkara dan komposisi keahlian Hakim

Agung, dalam masa transisi Ketua MA dapat menempatkan Hakim Agung

dari lingkungan Kamar tertentu ke dalam Kamar perkara lain, dengan

ketentuan:

a. Pada Kamar Perdata dapat ditempatkan Hakim Agung dari lingkungan

peradilanAgama dan Tata Usaha Negara,

b. Para Kamar Pidana dapat ditempatkan Hakim Agung yang berasal dari

lingkungan peradilan Militer,

12. Jumlah HakimAgung pada masing-masing kamar disesuaikan dengan beban

atau jumlah perkara yang harus ditangani oleh kamar tersebut,

13. Setiap Hakim Agung hanya dapat menjadi Anggota dari salah satu kamar,

kecuali yang disebut dalam butir IL

14. Jumlah Panitera Pengganti pada masing-masing kamar ditetapkan oleh Ketua

Mahkamah Agung dengan mempertimbangkan beban atau jumlah perkara

pada masing-masing Kamar.

15. Panitera Muda Tim terdiri atas:

a. Panitera Muda Tim Bidang Pidana,

b. Panitera Muda Tim Bidang Perdata,

c. Panitera Muda Tim Bidang Agama,

d. Panitera Muda Tim Bidang Pidana Militer dan Tata Usaha Militer, dan

e. Panitera Muda Tim Bidang Tata Usaha Negara.

IV. Distribusi Perkara

1. Pendistribusian perkara merupakan kewenangan Ketua MA.

2. Ketua MA dapat mendelegasikan kewenangan untuk mendistribusikan

perkara kepada Ketua Kamar masing-masing, kecuali untuk perkara:

a. Permohonan Grasi,

b. Permohonan Fatwa,

c. Hak Uji Materil, dan

d. Sengketa kewenangan antar lingkungan peradilan.

V. Tugas dan Wewenang Ketua Kamar

1. Memastikan terwujudnya kesatuan penerapan hukum dengan menjaga

kosistensi putusan di masing-masing kamarnya.

2. Menetapkan susunan majelis dan membagi perkara kepala majelis.

3. Atas persetujuan Ketua MA, Ketua Kamar dapat menarik kembali berkas

perkara dari Anggota Kamar yang bersangkutan apabila setelah lewat

waktu 2 (dua) bulan anggota Kamar yang bersangkutan belum memberikan

Page 25: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

pendapatnya dan selanjutnya Ketua Kamar menunjukAnggota majelis yang

baru, kecuali untuk perkara-perkara khusus disesuaikan dengan undang•

undang yang bersangkutan.

4. Bertindak sebagai Ketua Majelis Hakim Agung, ketika memeriksa dan

memutus perkara.

5. Menentukan jadwal dan agenda Rapat Pleno Kamar.

6. Menentukan perkara mana saja yang akan dibahas dalam Rapat Pleno

Perkara di Kamarnya,

7. Bertanggung jawab atas pencatatan dan penghlmpunan putusan-putusan

yang mengandung penemuan hukum baru sebagai preseden untuk perkara•

perkara serupa untuk diterbitkan dan disebarluaskan kepada pengadilan•

pengadilan tingkat bawah setiap tahun sekali.

VI. Rapat Pleno Kamar

1. Rapat pleno Kamar terdiri atas dua jenis, yaitu:

a. Rapat Pleno Rutin, dan

b. Rapat Pleno perkara.

2. Rapat Pleno Rutin sekurang-kurangnya dilaksanakan sekali dalam satu

bulan, dan wajib dihadiri oleh seluruh Hakim Agung, Panitera, Panitera

Muda, Panitera Muda Tim, Panitera Pengganti dan Koordinator Sub Kamar

dikamar tersebut.

3. Tujuan Rapat Pleno Rutin adalah sebagai mekanisme kontrol dalam

Manajemen Perkara MA, antara lain:

a. Agar Ketua Kamar dapat mengatahui secara teratur jumlah dan status

perkara yang ditangani oleh masing-masing Majelis Hakim Agung

dalam Kamarnya, serta kapan putusan suatu perkara yang telah dan

akan diputuskan,

b. Para pihak yang berperkara dapat mengetahui dengan mudah status penanganan Perkaranya, dan

c. Mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan.

4. Rapat Pleno Perkara dilaksanakan secara rutin sekurang-kurangnya sekali

dalam sebulan, dan pada waktu-waktu yang ditetapkan oleh Ketua Kamar

atau atas usulan mayoritas Anggota Kamar dan wajib dihadiri oleh seluruh Hakim Agung dalam Kamar.

5.· Hakim Agung termuda dalam kamar ditunjuk oleh Ketua Kamar sebagai

sekretaris dalam rapat pleno perkara.

6. Tujuan Rapat Pleno perkara adalah untuk;

a. Menjaga Konsistensi putusan dalam kamar yang bersangkutan.

b. Sebagai mekanisme akuntabilitas Majelis Hakim kepada kolega seluruh

Hakim Agung yang menjadi Anggota Kamar dalam memutus perkara.

Page 26: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

7. Rapat pleno perkara dilaksanakan untuk membahas perkara-perkara sebagai

berikut:

a. Peninjauan Kembali (PK) yang akan membatalkan putusan tingkat

kasasi,

b. Perkara yang pemeriksaannya dilakukan secara terpisah dan diperiksa

oleh majelis hakim yang berbeda dan kemungkinan penjatuhan putusan

yang berbeda,

c. Dalam hal terdapat dua perkara atau lebih yang memiliki permasalahan

hukum yang serupa yang ditangani oleh Majelis Hakim Sgung yang

berbeda dengan pendapat hukum yang berbeda atau saling bertentangan,

d. Memerlukan penafsiran yang lebih luas atas suatu permasalahan hukum,

e. Adanya perubahan terhadap Jurisprudensi tetap,

f. Ketua Majelis yang berbeda pendapat dengan dua orang Anggotanya

dalam perkara yang menarik perhatian masyarakat, atau

g. Alasan lain yang dianggap penting.

8. Putusan Rapat Pleno Perkara sedapat-dapatnya ditaati oleh majelis hakim.

9. Apabila anggota majelis tidak setuju dengan putusan rapat pleno, dapat

mengajukan pengunduran diri atas perkara tersebut atau melakukan

dissenting opinion.

10. Jalanya Rapat Pleno Kamar:

a. Rapat Pleno Kamar dibuka dan dipimpin oleh Ketua atau Wakil Ketua

MA, dan dapat didelegasikan kepada Ketua Kamar yang bersangkutan.

b. Rapat dibuka Pimpinan Rapat dengan membacakan agenda rapat.

c. Dalam Rapat Pleno Rutin, masing-masing Ketua Majelis memaparkan

keadaan atau status terakhir dari perkara-perkara yang sedang

ditangani.

d. Dalam Rapat Pleno Perkara, Pimpinan Rapat membacakan perkara•

perkara yang akan dibahas dan didiskusikan dalam rapat.

e. Setelah Pimpinan Rapat membacakan perkara-perkara yang akan

dibahas masing-masing Ketua Majelis memaparkan:

1. Jumlah dan status perkara yang sedang ditangani, dan

2. Perkara-perkara yang akan diputuskan dan dipaparkan dalam rapat pleno pada hari tersebut.

3. Permasalahan Hukum (question of law) yang dari masing-masing perkara.

4. Penafsiran Hukum Majelis Hakim Agung atas permasalahan

hukum tersebut; dan

5. Konsep amar putusan Majelis HakimAgung.

Page 27: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

f. Setiap putusan kasasi yang akan membatalkan putusan judex facti,

hams didasarkan kaidah hukum yang dilanggar (judexjuris).

g. Setiap HakimAgungAnggotaKamar dapat menyampaikan pendapatnya

atas basil musyawarah yang dipaparkan masing-masing Majelis Hakim

Agung.

11. Pimpinan Rapat menutup setiap rapat pleno dengan membacakan daftar

pekara yang telah selesai dibahas clan daftar perkara yang masih belum

selesai dan tertunda pembahasannya untuk dibahas dalam Rapat Pleno

Kamar selanjutnya.

12. Hasil Pembahasan dalam Rapat Pleno Kamar didokumentasikan untuk

dipedomani.

VII. Alur Penanganan Perkara

1. Setiap Perkara yang masuk dan diterima oleh Biro Umum MA diteruskan

kepada Direktur Pranata Teknis pada Direktorat Jenderal Badan Peradilan

yang sesuai.

2. Berkas perkara yang telah dinilai lengkap, disampaikan oleh Direktur

Pranata Teknis kepada Panitera Muda Perkara setelah diregister kemudian

diteruskan kepada Ketua Kamar, atau Ketua MA untuk Perkara-perkara

yang pendistribusiannya tidak didelegasikan kepada Ketua Kamar.

3. Panitera Muda Tim di Masing-masing Kamar mencatatnya dalam buku

catatan perkara dan kemudian meneruskan berkas perkara tersebut kepada

Ketua Kamar.

4. Ketua Kamar Menetapkan Majelis Hakim Agung yang akan memeriksa dan

memutus perkara tersebut dan menyampaikannya kepada Panitera Muda

Tim.

5. Panitera Muda Tim mencatat Majelis Hakim Agung yang memeriksa

dan memutus perkara tersebut dalam buku catatan perkara, kemudian

menyampaikannya kepada para Hakim Agung sesuai majelis yang

ditetapkan dari Pembaca Pertama (Pl) sampai dengan Pembaca Terakhir

secara beruntun.

6. Majelis Hakim Agung melakukan Musyawarah dan menjatuhkan Putusan atas perkara tersebut.

7. Putusan yang sudah ditandatangani Majelis Hakim dikelompokan per jenis

perkara, dilengkapi dengan kata kunci dimasing-masing perkara (untuk

memasukan kedalam database) dan diserahkan oleh Panitera Pengganti

kepada Panitera Muda Tim.

8. Panitera Muda Tim menyerahkan berkas perkara kepada Panitera Muda

perkara selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah

penandatanganan putusan.

15

Page 28: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

9. Untuk setiap perkara yang putusannya adalah kabul, Panitera Pengganti

wajib menyusun risalah putusan dan memasukkannya dalam database

elektronik.

10. Risalah Putusan setidaknya memuat :

a. Ringkasan duduk perkara;

b. Permasalahan hukum yang dirumuskan Majelis Hakim;

c. Penafsiran atau pendapat hukum Majelis Hakim atas permasalahan

hukum dalam perkara tersebut;

d. Kaidah Hukum yang dilanggar olehJudex Factie.

e. Amar Putusan Majelis Hakim.

11. Panitera Muda Tim (Panitera Muda Kamar) bertanggung jawab

mengumpulkan dan mendokumentasikan risalah putusan Majelis Hakim

Agung dikamar masing-masing, baik dalam bentuk salinan keras (hard copy)

maupun elektronik, dan membantu Ketua Kamar mempublikasikannya.

12. Rapat Pleno Antar Kamar

1. Rapat Pleno Antar Kamar diselenggarakan j ika terdapat perkara yang

mengandung masalah hukum yang menjadi wilayah 2 (dua) Kamar

atau lebih sekaligus.

2. Rapat Pleno Antar Kamar diusulkan oleh salah satu Ketua Kamar dan

disampaikan kepada Ketua Mahkamah Agung, atau ditetapkan oleh

Ketua Mahkamah Agung untuk perkara permohonan grasi, pemohonan

fatwa, hak uji materil, dan sengketa kewenangan antar lingkungan

peradilan.

3. Rapat Pleno Antar Kamar dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung atau

Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial.

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A. TUMPA

Page 29: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 143/KMA/SK/IX/2011

TENTANG

PENUNJUKAN KETUAKAMAR DALAM SISTEM KAMAR PADA

MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : a. Bahwa Mahkamah Agung Republik Indonesia memandang

perlu untuk terus melakukan upaya-upaya pembaruan

peradilan dengan mendasarkan pada perencanaan yang

sistematis yang dituangkan dalam dokumen pokok

perencanaan pembaruan peradilan yang dituangkan dalam

Cetak Biru Pembaruan Peradilan;

b. Bahwa Cetak Biru Pembaruan Peradilan Tahun 2003

dan Cetak Biru Pembaruan Peradilan Tahun 2010-

2035 mengamanatkan pembentukan Sistem Kamar pada

Mahkamah Agung;

c. Bahwa Mahkamah Agung telah menerapkan Sistem Kamar

untuk mengefektifkan pelaksanaan fungsi Mahkamah

Agung sebagai pengadilan tertinggi dalam rangka menjaga

kepastian hukum pada Mahkamah Agung dan pengadilan di

bawahnya;

d. Bahwa untuk tercapainya tujuan dan maksud penerapan

Sistem Kamar pada Mahkamah Agung maka perlu segera

ditunjuk Ketua Kamar yang namanya akan disebut dibawah

ini;

e. Bahwa nama-nama Hakim Agung yang ditunjuk sebagai

Ketua Kamar dianggap telah memenuhi syarat serta dianggap

mampu dan cakap untuk diangkat dalam jabatan sebagai

Ketua Kamar pada Mahkamah Agung Republik Indonesia.

17

Page 30: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Mengingat : a. Pasal 24 dan Pasal 24A Undang-Undang Dasar 1945;

b. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung;

c. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

d. Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.

142/ K.MA/SK/IX/2011 Tentang Penerapan Sistem Kamar

pada Mahkamah Agung;

MEMUTUSKAN

Menetapkan

PERTAMA Menunjuk Ketua Kamar Pidana, Perdata, Agama, Tata Usaha

Negara dan Militer sesuai dengan Sistem Kamar yang berlaku

di Mahkamah Agung sebagai berikut :

Kamar Pidana 1. Ketua Kamar Pidana

2. Ketua Sub Kamar Pidana Khusus

3. Ketua Sub Kamar Pidana Umum

Kamar Perdata

1. Ketua Kamar Perdata

2. Ketua Sub Kamar Perdata Umum

3. Ketua Sub Kamar Perdata Khusus

Kamar Agama Ketua Kamar Agama

Kamar Tata Usaha Negara Ketua Kamar Tata Usaha Negara

Kamar Militer Ketua Kamar Militer

: Djoko Sarwoko, SH.,:MH

: Djoko Sarwoko, SH.,MH

: Dr. Artidjo Alkostar, SH.,LLM

: H. Abdul Kadir

Mappong, SH

: H. Atja Sondjaja, SH.,MH

: Dr. H. Mohammad Saleh, SH.,MH

: Dr. H. Ahmad Kamil, SH.,M.Hum

: Prof. Dr. Paulus

Effendi Lotulung, SH

: H.M. lmron Anwari, SH.,Sp.N.,MH

Page 31: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KEDUA Penunjukan ini berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan dan kepada Hakim Agung yang telah ditunjuk sebagai Ketua Kamar agar melaksanakan tugas-tugasnya dengan rasa penuh tanggung jawab.

KETIGA Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini, maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Salinan keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan unutk dipergunalcan serta dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 2011

KETUA MAIIKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A. TUMPA

:

:

19

Page 32: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Kamar Pidana

1. Djoko Sarwoko, SH.,MH

2. Dr. Artidjo Alkostar, SH.,LLM

3. Dr. H.M. Hatta Ali., SH.,:rvn-I

4. H.R. Imam Harjadi, SH.,MH

5. H.M. Zaharuddin Utama, SH.,M.M

6. Prof. Dr. Komariah E. Sapardjaja, SH

7. Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, SH.,MH

8. Dr. Sofyan Sitompul , SH.,MH

9. Prof. Dr. Surya Jaya, SH.,M.Hum

10. Dr. Salman Luthan, SH.,MH

11. Sri Murwahyuni, SH.,MH

12. H. Achmad Yamanie, SH.,MH

13. H. Mahdi Soroinda Nasution, SH.,M.Hum

14. Dr. H. Mansur Kartayasa, SH.,MH

15. Prof. Dr. H.M. Hakim Nyak Pha, SH.,DEA

Kamar Perdata

1. H. Abdul Kadir Mappong, SH

2. H. Atja Sondjaja, SH.,MH

3. Dr. H. Mohammad Saleh, SH.,MH

4. Prof. Rehngena Purba, SH.,MS

5. Prof. Dr. Mieke Komar, SH.,MCL

6. H. Dirwoto, SH

7. H. Muhammad Tau:fik,SH.,MH

8. I Made Tara, SH

9. Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH

10. Prof. Dr. Takdir Rahmadi, SH.,LLM

11. Syamsul Ma' arif, SH.,LLM, Ph.D

12. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH

13. Prof. Dr. Valerine J.LK., SH.,MA

14. H. Djafni Djamal, SH.

15. Suwardi, SH.,MH

16. Solthoni Mohdally., SH.,MH

Kamar Agama

1. Dr. H. Ahmad Kamil, SH.,M.Hum

2. Dr. H. Andi Syamsu Alam, SH.,MH

3. Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH., S.I.P, M.Hum

Page 33: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

4. Dr. H. Habiburrahman, M.Hum

5. Drs. H. Hamdan, SH.,MH

6. Prof. Dr. Rifyal Ka'bah, MA

7. Drs. H. Muchtar Zamzami, SH.,MH

Kamar Tata Usaha Negara j

1. Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, SH

2. Widayatno Sastro Hardjono, SH.,M.Sc

3. Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH

4. Dr. H. Imam Soebechi, SH.,MH

S. Marina Sidabutar, SH.,MH

6. Dr. H. Supandi, SH.,M.Hum

7. H. Yulius, SH.,MH

Kamar Militer

1. H.M Imron Anwari, SH., Sp.N., MH

2. Timur P. Manurung, SH.,MM

3. Prof. Dr. H.M. Hakim Nyak Pha, SH.,DEA

4. Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, SH.,MH

Page 34: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MAHKAMAH

AGUNG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR :

144/KMA/SK/2011

TENTANG

PENUNJUKAN HAKIM AG UNG SEBAGAI ANGGOTA KAMAR PERKARA

DALAM SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

Mengingat

: a. Bahwa Mahkamah Agung Republik Indonesia memandang

perlu untulcterus melakukan upaya-upaya pembaruan peradilan

dengan mendasarkan pada perencanaan yang sistematis yang

dituangkan dalam dokumen pokok perencanaan pembaruan

peradilan yang dituangkan dalam Cetak Biru Pembaruan

Peradilan;

b. Bahwa Cetak Biru Pembaruan Peradilan tahun 2003 dan

Cetak Biru Pembaruan tahun 2010- 2035 mengamanatkan

pembentukan Sistem Kamar pada Mahkamah Agung;

c. Bahwa Mahkamah Agung telah menerapkan Sistem Kamar

untuk mengefektifkan pelaksanakan fungsi Mahkamah

Agung sebagai pengadilan tertinggi dalam rangka menjaga

kepastian hukum pada Mahkamah Agung dan pengadilan di

bawahnya;

d. Bahwa untuk tercapainya tujuan dan maksud penerapan Sistem

Kamar pada Mahkamah Agung maka perlu segera ditunjuk

Hakim Agung sebagai Anggota Kamar Perkara yang namanya

akan disebut di bawah ini · '

: a. Pasal 24 dan pasal 24A Undang-Undang Dasar 1945;

b. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang No.14 tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung;

Page 35: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

c. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

d. Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

No.142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Penerapan Sistem Kamar

Pada Mahkamah Agung.

MEMUTUSKAN

Menetapkan

PERTAMA

Menunjuk Hakim Agung pada Mahkamah Agung yang

namanya tersebut dibawah ini untuk melaksanakan tugas

sebagai Anggota Kamar Perkara Pidana, Perdata, Agama, Tata

Usaha Negara dan Militer sesuai dengan Sistem Kamar yang

berlaku di Mahkamah Agung sebagai berikut:

Kamar Pidana

1. Djoko Sarwoko, SH,.MH.

2. Dr. Artidjo Alkostar, SH,.LLM.

3. Dr. H.M Hatta Ali, SH.,MH

4. H.R. Imam Harjadi, SH.,MH.

5. H.M. Zaharuddin Utama, SH.,M.M.

6. Prof. Dr. Komariah E,Supardjaja,SH.

7. Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, SH.,MH.

8. Dr. Sofyan Sitompul, SH.,MH.

9. Prof. Dr. SuryaJaya, SH.,M.Hum.

10. Dr. SalmanLutham, SH.,MH.

11. Sri Murwahyuni, SH.,MH.

12. H. Achmad Yamanie, SH,.MH.

13. H. Mahdi Soroinda Nasution, SH.,M.Hum.

14. Dr. H. Mansur Kartayasa, SH.,MH.

15. Prof. Dr. H.M. Hakim Nya Pha, SH.,DEA.

Kamar Perdata

1. H. Abdul Kadir Mappong, SH.

2. H. Atja Sondjaja, SH,.MH

3. Dr. H. Mohammad Saleh, SH,.MH.

4. Prof. Rehngena Purba, SH,MS.

5. Prof. Dr.Mieke Komar, SH,.MCL.

6. H. Dirwoto,SH.

Page 36: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

7. H. Muhammad Taufik, SH,.MH.

8. I Made Tara, SH.

9. Dr. H. Abdurahman, SH,.MH.

10. Prof. Dr. Takdir Rahmadi, SH.,LLM.

11. Syamsul Ma'arif, SH,.LLM.,Ph.D.

12. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH.

13. Prof. Dr. Valerine J.L.K., SH.,MA.

14. H. Djafni Djamal,SH.

15. Suwardi, SH.,MH.

16. Soltoni Mohdally, SH.,MH.

Kamar Agama

1. Dr. H. Ahmad Kamil, SH.,M.Hum.

2. Dr. H. Andi Syamsu Alam, SH,.MH.

3. Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH.,S.I.P.,M.Hum.

4. Dr. H. Habiburrahman, M.Hum.

5. Drs. H. Hamdan, SH.,MH.

6. Prof. Dr. Rifyal Ka'bah, MA.

7. Drs. Muchtar Zamzami, SH.,J\1H.

Kamar Tata Usaha Negara

1. Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, SH.

2. Widayatno Sastro Hardjono, SH.,M.Sc.

3. Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH.

4. Dr. H. Imam Soebechi., SH,.MH.

5. Mariana Sidabutar, SH.,J\1H.

6. Dr. H.Supandi, SH.,M.Hum.

7. H. Yulius, SH.,MH.

Kamar Militer

1. H.M. ImronAnwari, SH.,Sp.N.,MH.

2. Timur P. Manurung, SH.,MH,

3. Prof. Dr. H.M.Hakim Nya Pha, SH.,DEA.

4. Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, SH.,MH.

KEDUA Penunjukan ini berlaku terhitung sejak tanggal di tetapkan dan

kepada Hakim Agung yang telah ditunjuk sebagai Anggota

Kamar Perkara agar melaksanakan tugas-tugasnya dengan

rasa penuh tanggung jawab.

24

Page 37: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETIGA Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini, maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Salinan Keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dipergunakan serta

dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta Pada Tanggal 19 September 2011

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A.TUMPA

25

Page 38: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 163/KMA/SK/X/2011

TENTANG

PERUBAHAN SURAT KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/KMA/SK/IX/2011 TENTANG

PENUNJUKAN HAKIM AGUNG SEBAGAI ANGGOTA KAMAR

PERKARA DALAM SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

Meninbang : a. bahwa berdasarkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung

Republik Indonesia Nomor 144/KMA/SK/IX/2011 tentang

Penunjukan Hakim Agung Sebagai Anggota Kamar Perkara

maka Hakim Agung pada Mahkamah Agung telah ditempatkan

pada Kamar Perkara tertentu;

b. bahwa meskipun baru memasuki masa awal pelaksanaannya,

perkembangan situasi internal dan ekstemal MahkamahAgung

cenderung menunjukkan bahwa distribusi Hakim Agung

yang diatur pada Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung

Republik Indonesia Nomor 144/KMA/SKIIX/2011 Tentang

Penunjukan Hakim Agung Sebagai Anggota Kamar Perkara

perlu disesuaikan;

c. bahwa Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia memiliki

kewenangan untuk menentukan penempatan Hakim Agung

pada kamar perkara yang ada atas dasar pertimbangan asal

lingkungan peradilan, khusus untuk Hakim Agung yang

berasal dari jalur karier, Iatar belakang pendidikan formal,

khusus untuk Hakim Agung yang berasal dari jalur non karier,

dan pelatihan yang pemah dilalui.

26

Page 39: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Mengingat : a. Pasal 24 dan Pasal 24A Undang-Undang Dasar 1945;

b. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung;

c. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

d. Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 142/K.MA/SK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan

Sistem Kamar di Mahkamah Agung.

Memperhatikan : a. Hasil Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Indonesia tanggal 4 Oktober 2011 yang mengesahkan enam

orang calon Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI.

b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 58/P Tahun

2011.

MEMUTUSKAN

Menetapkan

PERTAMA Memperbaiki Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik

Indonesia N omor 144/K.MA/SK/IX/2011tentang Penunjukan

Hakim Agung sebagai Anggota Kamar Perkara dalam Sistem

K.amar pada Mahkamah Agung, yang namanya tersebut

dibawah ini untuk melaksanakan tugas sebagai Anggota

K.amar Perkara Pidana, Perdata, Agama, Tata Usaha Negara

dan Militer sesuai dengan Sistem Kamar yang berlaku di

Mahkamah Agung sebagai berikut :

Kamar Pidana

1. Djoko Sarwoko, SH.,MH

2. Dr. Artidjo Alkostar, SH.,LLM

3. DR. H.M. Hatta Ali, SH.,MH

4. Drs. H. Mansur Kartayasa, SH.,MH

5. Prof. Dr.. H.M. Hakim Nyak Pha, SH.,DEA

6. H.R. Imam Harjadi, SH.,MH

7. H.M. Zaharuddin Utama, SH.,M.M

8. Prof. Dr. Komariah E. Sapardjaja, SH

9. Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, SH.,MH

10. Prof. Dr. Surya Jaya, SH.,M.Hum

27

Page 40: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

11. Dr. Salman Luthan, SH.,MH

12. Dr. Sofyan Sitompul, SH.,1vffi

13. Sri Murwayhuni, SH.,MH

14. H. Achmad Yamanie, SH.,MH

15. Suhadi, SH.,MH

16. Dr. H. Andi Samsan Nganro, SH.,MH

Kamar Perdata

1. H. Abdul Kadir Mappong, SH 2. H. Atja Sondjaja, SH.,MH 3. Dr. H. Mohammad Saleh, SH.,MH 4. Prof. Dr. Valerine J.L.K. SH.,MA

5. Prof. Rehngena Purba, SH.,MS 6. Prof. Dr. Mieke Komar, SH., MCL 7. H. Dirwoto, SH 8. H. Muhammad Taufik, SH.,MH 9. I Made Tara, SH 10. Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH 11. Prof. Dr. Takdir Rahmadi, SH.,LLM 12. Syamsul Ma'arif, SH.,LLM.,Ph.D 13. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH 14. H. Djafni Djamal, SH.,:MH 15. Suwardi, SH.,MH 16. Soltoni Mohdally, SH.,MH 17. H. Mahdi Soroinda Nasution. SH.,M.Hum 18. DR. Nurul Elmiyah, SH.,:MH

Kamar Agama

1. Dr. H. Ahmad Kamil, SH.,M.Hum 2. Dr. H. Andi Syamsu Alam, SH.,MH 3. Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH.,S.I.P., M.Hum 4. Dr. H. Habiburrahman, M.Hum. 5. Ors. H. Hamdan.,SH.,MH 6. Prof. Dr. Rifyal Ka'bah, MA 7. Drs. H. Muchtar Zamzami, SH.,MH

KamarTata Usaha Negara

1. Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, SH 2. Widayatno Sastro Hardjono, SH., M.Sc 3. Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH

4. Dr. H. Imam Soebechi, SH.,lvlH 5. Marina Sidabutar, SH.,MH 6. Dr. H. Supandi, SH.,M.Hum.

Page 41: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

7. H. Yulius, SH.,MH

8. Dr.H.M. Hary Djatmiko, SH.,MS

Kamar Militer

1. H.M. ImronAnwari, SH., Sp.N.,MH

2. Timur P. Manurung, SH.,MM

3. Prof. Dr. H.M. Hakim Nyak Pha, SH.,DEA 4. Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, SH.,MH 5. Dr. Drs. H. Dudu Duswara Machmudin, SH.,H.Hum 6. Prof. Dr. T. Gayus Lumbun, SH.,MH

KEDUA Penunjukan ini berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan dan kepada Hakim Agung yang telah ditunjuk sebagai Anggota Kamar Perkara agar melaksanakan tugas-tugasnya dengan rasa penuh tanggung jawab.

KETIGA

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini, maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Salinan keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dipergunakan serta dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta

Pada tanggal 24 Oktober 2011

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A.TUMPA

29

Page 42: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 164/KMA/SKIX/2011

TENTANG

PEMBERIAN NAMA TIM PADA KAMAR-KAMAR PERKARA PADA

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

Mengingat

a. bahwa Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik

Indonesia Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 tentang Pedoman

Penerapan Sistem Kamar di Mahkamah Agung;

b. bahwa dibawah setiap kamar dapat dibentuk Sub-kamar oleh

Ketua Mahkamah Agung, berdasarkan jumlah perkara yang

ditangani oleh Kamar tersebut, atas usul Ketua Kamar;

c. bahwa setiap kamar memiliki kekhususan dan memerlukan

standarisasi penamaan dan kode panggil yang memudahkan

pelaksanaan administrasi perkantoran dan administrasi

distribusi perkara pada Mahkamah Agung;

d. bahwa sistem penamaan lama perlu disesuaikan untuk

merefleksikan Sistem Kamar yang baru.

a. Pasal 24 dan Pasal 24A Undang-Undang Dasar 1945;

b. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung;

c. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

d. Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.

142/ KMAISK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem

Kamar di Mahkamah Agung.

30

Page 43: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

MEMUTUSKAN

Menetapkan

PERTAMA Menamakan Kamar Pidana, Perdata, Agama, Tata Usaha Negara

dan Militer pada Mahkamah Agung dengan nama panggil Tim

sebagai berikut :

Kamar Pidana : Tim Cakra

1. Sub Kamar Pidana Umum Tim Cakra A (Tim CA)

2. Sub Kamar Pidana Khusus Tindak : Tim Cakra B (Tim CB)

Pidana Korupsi

3. Sub Kamar Pidana Khusus Non

Tindak Pidana Korupsi

Kamar Perdata

1. Sub Kamar Perdata

2. Sub Kamar Perdata Khusus

3. Sub Kamar Perdata Khusus

Perselisihan Hubungan Industrial

KamarAgama

Kamar Militer

Kamar Tata Usaha Negara

: Tim Cakra C (Tim CC)

: Tim Tirta

: Tim TirtaA(Tim TA)

: Tim Tirta B (Tim TB)

: Tim Tirta C (TimTC)

: Tim Kartika (Tim K)

: Tim Sari (Tim S)

: Tim Candra ( Tim C)

KEDUA

KETIGA

Memerintahkan kepada Kepaniteraan Mahkamah Agung RI

sebagai pendukung pelaksanaan administrasi perkara untuk

melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk mendukung

pelaksanaan Surat Keputusan ini.

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila

dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini,

maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

31

Page 44: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

r

Salinan keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dipergunakan serta

dilaksanakan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di Jakarta

Pada tangal 24 Oktober 2011

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A. TUMPA

Page 45: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR: 017/KMA/SK/11/2012

TENTANG

PERUBAHAN PERTAMA SK KMA NOMOR 142/KMA/SK/IX/2011

TENTANG PEDOMAN PENERAPAN SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AG UNG

Menimbang

Mengingat

: a. Bahwa Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar di Mahkamah Agung antara lain mengatur prosedur tentang pengambilan keputusan majelis hakim Kasasi dan Peninjauan Kembali khususnya dalam hal terjadi perbedaan pendapat diantara anggota majelis;

b. Bahwa setelah berlaku untuk beberapa waktu, dan masukan dari berbagai studi banding dan praktek yang berj alan, ketentuan mengenai prosedur pengambil keputusan majelis hakim dipandang perlu untuk disempurnakan;

c. Bahwa oleh karenanya perlu dilakukan penyempurnaan terhadap Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar di Mahkamah Agung.

: a. Pasal 24 dan Pasal 24 A Undang-Undang Dasar 1945;

b. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah

Agung;

c. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

Page 46: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

d. Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor : 142/KMA/SK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan

Sistem Kamar di Mahkamah Agung;

Menetapkan

PERTAMA

KEDUA

KETIGA

KEEMPAT

KE LIMA

MEMUTUSKAN

PERUBAHAN PERTAMA SK KMA NOMOR : 142/

KMA/ SK/IX/2011 TENTANG PEDOMAN PENERAPAN

SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG.

Menerapkan perubahan pertama SK KMA Nomor 142/KMA/

SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar pada

Mahkamah Agung sistem kamar dalam penanganan perkara di

Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam lampiran Surat

Keputusan ini.

Sampai dengan bulanApril tahun 2014 atau selama masa transisi,

penerapan sistem kamar dilakukan sesuai dengan kondisi dan struktur organisasi Mahkamah Agung saat ini.

Memerintahkan Panitera Mahkamah Agung untuk melakukan

perubahan-perubahan administrasi yang diperlukan untuk

penanganan perkara sesuai sistem kamar yang diatur dalam

Keputusan ini.

Hal-hal yang belum diatur dalam lampiran Surat Keputusan

tersebut akan ditetapkan lebih lanjut dengan instrumen hukum

Mahkamah Agung RI sesuai dengan kebutuhan.

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan

ketentuan bahwa apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan,

akan diadakan perbaikan seperlunya.

Salinan keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dipergunakan serta dilaksanakan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di Jakarta

Pada tanggal 3 Februari 2012

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A. TUMPA

Page 47: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

SALINAN : Keputusan ini disampaikan kepada:

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Non Yudisial

3. Para Ketua Muda Mahkamah Agung RI

4. Para Hakim Agung Mahkamah Agung RI

5. Panitera Mahkamah Agung RI;

6. Sekretaris Mahkamah Agung RI;

7. Para Pejabat Eselon I dan Eselon II dilingkungan Mahkamah Agung RI;

8. Para Panitera Muda Mahkamah Agung RI;

9. Para Ketua Pengadilan Tingkat Banding; dan

10. Para Ketua Pengadilan Tingkat Pertama;

35

Page 48: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

LAMPIRAN I : Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor O 17/KMA/SK/II/2012 Tanggal : 3 Februari 2012

I. Tujuan

Penerapan sistem kamar bertujuan untuk menjaga konsistensi putusan,

meningkatkan profesionalitas Hakim Agung, serta mempercepat proses

penanganan perkara di Mahkamah Agung.

II. Kamar Penanganan Perkara

1. Penanganan perkara kasasi dan peninjauan kembali di Mahkamah Agung

dibagi menjadi 5 (lima) kamar, yaitu :

a. Kamar Pidana

b. Kamar Perdata

c. Kamar Tata Usaha Negara

d. Kamar Agama

e. Kamar Militer

2. Padamasing-masing Kamar, dapat dibentuk Sub Kamar oleh Ketua Mahkamah

Agung, berdasarkan jumlah perkara yang ditangani oleh Kamar tersebut, atas

usul Ketua Kamar.

3. Perkara permohonan grasi, permohonan fatwa, hak uji materil, dan sengketa

kewenangan antar lingkungan peradilan diperiksa dan diputus dengan

mekasisme khusus di luar kamar, dengan Majelis Hakim yang terdiri atas

Hakim-hakim Agung dari beberapa kamar sekaligus.

III. Susunan Kamar

1. Susunan kamar terdiri atas :

a. Ketua Kamar

b. Hakim Agung sebagai anggota kamar

c. Panitera Muda Kamar

d. Panitera Pengganti

2. Masing-masing kamar dipimpin Ketua Kamar yang ditunjuk oleh Ketua MA.

3. Ketua Kamar adalah Ketua, Wakil Ketua Mahkamah Agung, atau Ketua Muda Bidang Teknis Yudisial.

4. Dalam hal terdapat Sub Kamar pada suatu Kamar, Ketua Kamar menunjuk

Ketua Sub Kamar dan salah satu Panitera Pengganti yang ada di Kamar

tersebut untuk masing-masing bertindak sebagai Ketua Sub Kamar dan Koordinator Sub Kamar.

Page 49: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

5. Penetapan Hakim Agung dimasing-masing kamar ditetapkan oleh Ketua

Mahkamah Agung berdasarkan :

a. Asal lingkungan peradilan, khusus untuk Hakim Agung yang berasal dari

jalur karier;

b. Latar belakang pendidikan formal, khusus untuk Hakim Agung yang

berasal dari jalur non karir; dan

c. Pelatihan yang pemah dilalui;

6. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Pidana adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan umum, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

pidana.

7. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Perdata adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari Lingkungan Peradilan Umum, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum Perdata.

8. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Tata Usaha Negara adalah

yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, bagi Hakim

Agung yang berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum Tata Usaha Negara.

9. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Agama adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Berasal dari Lingkungan Peradilan Agama, bagi Hakim Agung yang berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum Agama.

10. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Militer adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari Lingkungan Peradilan Militer, bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

pidana Militer atau mempunyai kemampuan dalam bidang pidana militer.

11. Dengan mempertimbangkan beban perkara dan komposisi keahlian Hakim

Agung, dalam masa transisi Ketua MA dapat menempatkan HakimAgung dari

lingkungan Kamar tertentu ke dalam Kamar perkara lain, dengan ketentuan:

Page 50: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

a. Pada Kamar Perdata dapat ditempatkan Hakim Agung yang berasal dari

Lingkungan Peradilan Agama dan Tata Usaha Negara;

b. Pada Kamar Pidana dapat ditempatkan Hakim Agung yang berasal dari

Lingkungan Peradilan Militer;

12. Jumlah Hakim Agung pada masing-masing kamar disesuaikan dengan beban

atau jumlah perkara yang harus ditangani oleh kamar tersebut.

13. Setiap Hakim Agung hanya dapat menjadi anggota dari salah satu kamar,

kecuali yang disebut dalam butir 11.

14. Jumlah Panitera Pengganti pada masing-masing kamar ditetapkan oleh Ketua

Mahkamah Agung dengan mempertimbangkan beban atau jumlah perkara

pada masing-masing Kamar.

15. Susunan Kepaniteraan dalam Sistem Kamar adalah sebagai berikut :

a. Kepaniteraan Muda Pidana

b. Kepaniteraan Muda Perdata

c. Kepaniteraan Muda Agama

d. Kepaniteraan Muda Tata Usaha Negara

e. Kepaniteraan Muda Militer

Panitera Muda Tim bertanggung jawab kepada Panitera Muda Kamar dan

melaksankan tugas dan fungsi yang masih dibebankan kepadanya hingga

masa transisi berakhir.

Panitera Muda Tim terdiri atas :

a. Panitera Muda Tim Bidang Pidana;

b. Panitera Muda Tim Bidang Perdata;

c. Panitera Muda Tim Bidang Agama;

d. Panitera Muda Tim Bidang Militer; dan

e. Panitera Muda Tim Bidang Tata Usaha Negara

IV. Distribusi Perkara

1. Pendistribusian perkara merupakan kewenangan Ketua MA

2. Ketua MA dapat mendelegasikan kewenangan untuk mendistribusikan

perkara kepada Ketua Kamar masing-masing, kecuali perkara:

a. Pennohonan grasi;

b. Pemohonan fatwa;

c. Hak uji materil; dan

d. Sengketa kewenangan antar lingkungan peradilan.

V. Tugas dan Wewenang Ketua Kamar

I. Memastikan terwujudnya kesatuan penerapan hukum dengan menjaga

konsistensi putusan di masing-masing Kamarnya.

Page 51: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Menetapkan susunan majelis dan membagi perkara kepada majelis dan

persetujuan Ketua MA.

3. Atas persetujuan Ketua MA, Ketua Kamar dapat menarik kembali berkas

perkara dari anggota kamar yang bersangkutan apabila setelah lewat waktu

2 (dua) bulan anggota Kamar yang bersangkutan belum memberikan

pendapatnya dan selanjutnya Ketua Kamar menunjuk anggota majelis yang

baru, kecuali untuk perkara-perkara khusus disesuaikan dengan undang-

undang yang bersangkutan.

4. Menentukan jadwal dan agenda Rapat Pleno Kamar.

5. Menentukan perkara mana saja yang akan dibahas dalam Rapat Pleno Perkara

di Kamarnya.

6. Bertanggungjawab atas pencatatan dan penghimpunan putusan-putusan yang

mengandung penemuan hukum baru sebagai preseden untuk perkara-perkara

serupa, untuk diterbitkan dan disebarluaskan kepada pangadilan-pengadilan

tingkat bawah setiap tahun sekali.

VI. Pemerikasaan Perkara dalam Majelis Hakim Agung

1. Anggota Majelis Hakim Agung membaca berkas perkara secara serentak atau

bersamaan.

2. Setelah para Hakim Agung dalam majelis membaca perkara dan memberikan

pendapatnya, maka perkara kemudian dimusyawarahkan.

3. Ketua Majelis menunjuk seorang anggota majelis untuk menyusun Konsep

Putusan serta menetapkan waktu musyawarah majelis.

4. Apabila dalam majelis suatu perkara terdapat perbedaan pendapat yang tajam

yang dapat disatukan, maka Ketua Kamar menambah 2 (dua) anggota baru.

Apabila telah ada penambahan anggota baru, perbedaan masih ada, maka

pihak yang berbeda (minoritas) dapat membuat pendapat yang berbeda (dissenting opinion).

VII. Rapat Pleno Kamar

1. Rapat Pleno Kamar terdiri atas duajenis, yaitu:

a. Rapat Pleno Rutin; dan

b. Rapat Pleno Perkara.

2. Rapat Pleno Rutin sekurang-kurangnya dilaksanakan sekali dalam satu bulan,

dan wajib dihadiri oleh seluruh Hakim Agung, Panitera, Panitera Muda

Kamar, Panitera Muda Tim, Panitera Pengganti dan Koordinator Sub Kamar tersebut.

3. Tujuan Rapat Pleno Rutin adalah sebagai mekanisme kontrol dalam

manajemen perkara MA, antara lain:

a. Agar Ketua Kamar dapat mengetahui secara teratur jumlah dan status

perkara yang ditangani oleh masing-masing Majelis Hakim Agung

39

Page 52: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

dalam Kamarnya, serta kapan putusan suatu perkara yang telah dan akan

diputuskan;

b. Para pihak yang berperkara dapat mengetahui dengan mudah status

penanganan perkaranya; dan

c. Mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan.

4. Rapat Pleno Perkara dilaksanakan secara rutin sekurang-kurangnya sekali

dalam sebulan, dan pada waktu-waktu yang ditetapkan oleh Ketua Kamar

atau atas usulan mayoritas anggota Kamar dan wajib dihadiri oleh seluruh

Hakim Agung dalam Kamar.

5. Hakim Agung termuda dalam Kamar ditunjuk oleh Ketua Kamar sebagai

Sekretaris dalam Rapat Pleno perkara.

6. Tujuan Rapat Pleno Perkara adalah untuk :

a. Menjaga konsistensi putusan dalam kamar yang bersangkutan.

b. Sebagai mekanisme akuntabilitas Majelis Hakim kepada kolega seluruh

Hakim Agung yang menjadi anggota Kamar dalam memutus perkara

7. Rapat Pleno Perkara dilaksanakan untuk membahas perkara-perkara sebagai

berikut:

a. Peninjauan Kembali (PK) yang akan membatalkan putusan tingkat

kasasi;

b. Perkara yang pemeriksaanya dilakukan secara terpisah dan diperiksa

oleh majelis hakim yang berbeda dan kemungkinan penjatuhan putusan

yang berbeda;

c. Dalam hal terdapat dua perkara atau lebih yang memiliki permasalahan

hukum yang serupa yang ditangani oleh Majelis Hakim Agung yang

berbeda dengan pendapat hukum yang berbeda atau saling bertentangan;

d. Memerlukan penafsiran yang lebih luas atas suatu permasalah hukum,

e. Adanya perubahan terhadap jurisprudensi tetap;

f. Ketua Majelis yang berbeda pendapat dengan dua orang anggotanya

dalam perkara yang menarik perhatian masyarakat; atau

g. Alasan lain yang dianggap penting.

8. Putusan Rapat Pleno Perkara sedapat-dapatnya ditaati oleh majelis hakim.

9. Apabila anggota majelis tidak setuju dengan putusan Rapat Pleno, dapat

mengajukan pengunduran diri atas perkara tersebut.

10. Jalannya Rapat Pleno Kamar:

a. Rapat Pleno Kamar dibuka dan dipimpin oleh Ketua atau Wakil Ketua MA, dan dapat didelegasikan kepada Ketua Kamar yang bersangkutan.

b. Rapat dibuka Pimpinan Rapat dengan membacakan agenda rapat.

Page 53: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

c. Dalam Rapat Pleno Rutin, masing-masing Ketua Majelis memaparkan

keadaan atau status terakhir dari perkara-perkara yang sedang ditangani.

d. Dalam Rapat Pleno Perkara, Pimpinan Rapat membacakan perkara-

perkara yang akan dibahas dan didiskusikan dalam rapat.

e. Setelah Pimpinan Rapat membacakan perkara-perkara yang akan dibahas,

masing-masing Ketua Majelis memaparkan :

(1) Jumlah dan status perkara yang sedang ditangani;

(2) Perkara-perkara yang akan diputuskan dan dipaparkan dalam rapat

pleno pada hari tersebut;

(3) Permasalahan hukum (question of law) yang dari masing-masing

perkara;

(4) Penafsiran hukum Majelis Hakim Agung atas permasalahan hukum

tersebut; dan

(5) Konsep amar putusan Majelis Hakim Agung.

f. Setiap putusan kasasi yang akan membatalkan putusanjudexfacti, harus

menyebutkan kaidah hukum yang dilanggar.

g. Setiap Hakim Agung anggota kamar dapat menyampaikan pendapatnya

atas hasil musyawarah yang dipaparkan masing-masing Majelis Hakim Agung.

11. Pimpinan Rapat menutup setiap rapat pleno dengan membacakan daftar

perkara yang telah selesai dibahas dan daftar perkara yang masih belum

selesai dan tertunda pembahasanya untuk dibahas dalam Rapat Pleno Kamar selanjutnya.

12. Hasil pembahasan dalam Rapat Pleno Kamar didokumentasikan untuk dipedomani.

VIII. Rapat Pleno antar Kamar

1. Rapat Pleno antar Kamar diselenggarakan jika terdapat perkara yang

mengandung masalah hukum yang menjadi wilayah 2 (dua) Kamar atau lebih sekaligus.

2. Rapat Pleno antar Kamar diusulkan oleh salah satu Ketua Kamar dan

disampailkan kepada Ketua Mahkamah Agung atau ditetapkan oleh Ketua

Mahkamah Agung untuk perkara permohonan grasi, permoonan fatwa hak

uji materil dan sengketa kewenangan antar lingkungan peradilan.

3. Rapat Pleno antar Kamar dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung atau Wakil

Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial. IX. Akur Penanganan Perkara

1. Setiap perkara yang masuk dan diterima oleh Biro Umum MA diteruskan

kepada Direktur Pranata Teknis pada Direktorat Jendral Badan Peradilan

yang sesuai.

Page 54: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Berkas perkara yang telah dinilai lengkap, disampaikan oleh Direktur

Pranata Teknis kepada Panitera Muda Kamar setelah diregister kemudian

diteruskan kepada Ketua Kamar atau Ketua MA untuk perkara-perkara yang

pendistribusianya tidak didelegasikan kepada Ketua Kamar dan seterusnya

didistribudiskan kepada masing-masing Kamar.

3. Panitera Muda Tim di masing-masing Kamar mencatatnya dalam buku

catatan perkara dan kemudian meneruskan berkas perkara tersebut kepada

Ketua Kamar.

4. Ketua Kamar menetapkan Majelis Hakim Agung yang akan memeriksa

dan memutus perkara tersebut dan menyampaikanya kepada Panitera Muda

Tim.

5. Panitera Muda Tim mencatat Majelis Hakim Agung yang memeriksa

dan memutus perkara tersebut dalam buku catatan perkara, kemudian

menyampaikannya kepada para Hakim Agung sesuai majelis yang ditetapkan

secara serentak.

6. Majelis HakimAgung melakukan musyawarah dan menjatuhkan putusan atas

perkara tersebut. Dalam hal perkara sebagaimana disebutkan dalam angka

VII .7 Majelis Hakim Agung menjatuhkan putusan setelah konsep putusan

dibahas dalam Rapat Pleno

7. Putusan yang sudah ditandatangani Majelis Hakim dikelompokkan per jenis

perkara, dilengkapi dengan kata kunci di masing-masing perkara (untuk

dimasukan ke dalam database) dan diserahkan oleh Panitera Pengganti kepada

Panitera Muda Tim.

8. Panitera Muda Tim menyerahkan berkas perkara kepada Panitera Muda

Kamar selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah

penandatanganan putusan.

9. Untuk setiap perkara yang putusannya adalah kabul, Panitera Pengganti wajib

menyusun risalah putusan dan memasukkanya dalam database elektronik.

10. Risalah putusan setidaknya memuat:

a. Ringkasan duduk perkara.

b. Permasalahan hukum yang dirumuskan Majelis Hakim.

c. Penafsiran atau pendapat hukum Majelis Hukum atas permasalahan

hukum dalam perkara tersebut.

d. Kaidah hukum yang dilanggar olehjudex facti.

e. Amar putusan Majelis Hakim.

Page 55: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

11. Panitera Muda Tim bertanggung jawab mengumpulkan dan mendokumen•

tasikan risalah putusan Majelis Hakim Agung dikamar masing-masing, baik

dalam bentuk salinan keras (hard copy) maupun elektronik dan membantu

Ketua Kamar mempublikasikanya.

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

ttd

HARIFIN A. TUMPA

Page 56: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 106/KMA/SK/IX/2012

TENTANG

PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYUSUNAN RENCANA AKSI

IMPLEMENTASI SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG RI

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPU BLIK INDONESIA

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka kepastian dan konsistensi huk:um,

Mahkamah Agung Republik Indonesia telah menerapkan

Sistem Kamar dalam menerima dan memutus perkara

melalui Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor

1421KMA/SK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem

Kamar di Mahkamah Agung, sebagaimana telah di ubah

dengan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor:

017/KMA/SK/II/2012;

b. Bahwa untuk:mencapai tujuan diterapkannya Sistem Kamar,

Mahkamah Agung perlu secara konsisten melaksanakan

langkah-langkah pembaruan yang diperluk:an secara

sistematis selama masa transisi sampai dengan Tahun 2014;

c. Bahwa oleh karena itu, Mahkamah Agung perlu segera

menyusun Rencana Aksi Implementasi Sistem Kamar untuk:

dijadikan panduan selama masa transisi;

d. Bahwa untuk: itu, perlu dibentuk: Kelompok Kerja Penyusun

Rencana Aksi Implementasi (Rencana Aksi) Sistem Kamar

pada Mahkamah Agung RI;

e. Bahwa mereka yang namanya tercantum dalam Keputusan

Ketua Mahkamah Agung ini dipandang cakap dan mampu

untuk melaksanakan tugas menyusun Rencana Aksi Sistem

Kamar tersebut;

Page 57: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Mengingat

Menetapkan

PERTAMA

KEDUA

: a. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah

Agung sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang

Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang•

Undang Nomor 14 Tahun 1985;

b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009

tentang Kekuasaan Kehakiman;

c. Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik

Indonesia Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 tentang Penerapan

Sistem Kamar pada Mahkamah Agung RI sebagaimana telah

diubah dengan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung

Nomor 017/KMA/SKIIl/2012;

MEMUTUSKAN

Membentuk Kelompok Kerja Penyusunan Rencana Aksi

Implementasi Sistem Kamar pada Mahkamah Agung RI.

Membentuk Kelompok Kerja dengan susunan sebagai berikut: ·

Ketua

Wakil Ketua

Sekretaris

Anggota

Sekretariat

: Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, SH

: Djoko Sarwoko, SH.,MH

: Suhadi, SH.,MH

: Dr. H. Artidjo Alkostar, SH.,LLM

Drs. H. Andi Syamsu Alam, SH.,MH

H.M. ImronAnwari, SH., SpN, MH

Suwardi, SH.,MH

Prof. Dr. Takdir Rahmadi, SH.,LLM

Syamsul Ma'arif, SH.,LLM.Ph.D

Soltoni Mohdally, SH.,MH

Dr. Supandi, SH.,M.Hum

: Aria Suyudi, SH.,LLM

Wiwiek Awiati, SH.,M.Hum

Dian Rositawati, SH.,MA

Astriyani, SH

KETIGA Kelompok Kerja bertugas untuk:

1. Melaksanakan kajian secara komprehensif dalam rangka

menyusun kebijakan yang diperlukan untuk penerapan

Sistem Kamar; dan

Page 58: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KEEMPAT

KE LIMA

2. Menyusun rekomendasi rencana aksi implementasi

Sistem Kamar di Mahkamah Agung sampai dengan tahun

2014.

3. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana kerja

yang sudah disepakati.

Biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas

kelompok kerja dibebankan padaAnggaran DIPAMahkamah

Agung RI dan/atau sumber-sumber lain yang tidak mengikat;

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan

ketentuan bahwa akan diubah dan diperbaiki sebagaimana

mestinya apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan.

Ditetapkan di Jakarta

Pada tanggal 6 September 2012

KETUA MAHKAMAH AGUNG RI

ttd

DR. H. M. HATTA ALI, SH.,MH

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada :

1. Para Pimpinan Mahkamah Agung RI 2. Para Hakim Agung RI

3. Kepaniteraan Mahkamah Agung RI

4. Sekretaris Mahkamah Agung RI

5. Para Pejabat Eselon I dan II pada Mahkamah Agung RI

Page 59: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 10/BUA.6/HS/SP/IX/2012

Jakarta, 12 September 2012

Kepada Yth.

1. Ketua Pengadilan Tingkat Banding

2. Ketua Pengadilan Tingkat Pertama

Di Seluruh Indonesia

SURAT-EDARAN Nomor : 07 Tahon 2012

TENTANG

Rumusan Hukum Basil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Sebagai

Pedoman Pelaksanaan Togas Bagi Pengadilan

Bahwa sejak 19 September 2011, berdasarkan Surat Keputusan Ketua

Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 tanggal 19 September

2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar di Mahkamah Agung,

Mahkamah Agung telah menerapkan sistem kamar dalam proses penanganan

perkara. Penerapan sistem kamar antara lain bertujuan untuk terciptanya

kesatuan hukum. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan kesatuan hukum

ini masing-masing kamar telah melakukan pleno yang membahas persoalan

hukum yang seringkali memicu perbedaan pendapat yang berujung pada

inkonsistensi putusan. Pleno kamar tersebut telah menghasilkan rumusan

hukumsebagaiberikut:

1. Rumusan hukum bidang pidana basil pleno kamar pidana tanggal 8-10 Maret 2012;

2. Rumusan hukum bidang perdata basil pleno kamar perdata tanggal 14-16 Maret 2012;

3. Rumusan hukum bidang perdata khusus hasil pleno sub kamar perdata

khusus pada tanggal 19-21 April 2012; 4. Rumusan hukum bidang tata usaha negara hasil pleno kamar tata usaha

negara pada tanggal 11-13 April 2012; dan 5. Rumusan hukum bidang perdata agama basil pleno kamar agama pada

tanggal 3-5 Mei 2012.

Page 60: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Rumusan-rumusan hukum tersebut selain menjadi pedoman dalam

penanganan perkara di Mahkamah Agung, juga harus menjadi pedoman

pelaksanaan tugas dalam proses penanganan perkara di pengadilan tingkat

pertama dan banding sepanjang substansi rumusannya berkenaan dengan

kewenangan peradilan tingkat pertama dan banding.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd.

DR. H.M. HATTA ALI, SH., MH.

Tembusan K~ada Yth :

1. Para Wakil Ketua Mahkamah Agung RI;

2. Para Ketua Muda Mahkamah Agung RI;

3. Panitera Mahkamah Agung RI;

4. Sekretaris Mahkamah Agung RI;

5. Para Direktur Jenderal Badan Peradilan di Lingkungan Mahkamah Agung RI;

6. Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI;

7. Kepala Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI

Page 61: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

HASIL RUMUSAN RAPAT KAMAR PIDANA

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

TANGERANG, 8 S/D 10 MARET 2012

No.

Urut

PERMASALAHAN

SOLUSI

A. HUKUMACARAPIDANA

1 Status penahanan Terdakwa: Di sampul/ cover

berkas disebutkan "tahanan", namun ternyata oleh

Mahkamah Agung tidak dilakukan penahanan

dengan alasanjika dilakukan penahanan oleh MA

selama 50 (lima puluh hari), maka akan melebihi

masa hukuman/pidana yang dijatuhkan oleh PT,

jika demikian :

- Bagaimana status penahanan yang telah

dijalani oleh Terdakwa tersebut jika dalam

tingkat kasasi ternyata Terdakwa dibebaskan

?, siapa yang bertanggung jawab/ disebutkan

penahanan siapa?

Hakim tidak dapat diminta pertanggung-

jawaban secara pidana maupun perdata

dalam menjalankan tugas yudisialnya.

Oleh karena itu perkara-perkara

Terdakwa yang dalam status tahanan,

agar diprioritaskan pemeriksaan kasasi-

nya.

2 Putusan Mahkamah Agung conform Tuntutan

J/PU, sedangkan mengenai barang bukti yang

tercantum dalam putusan judex facti berbeda

dengan barang bukti dalam Tuntutan J/PU. Mana

yang harus diikuti, barang bukti yang tercantum

dalam Tuntutan atau putusan Judex Facti?

Mengenai barang bukti dalam putusan

kasasi harus sesuai dengan barang bukti

dalam putusan JF.

3 Penghitungan waktu 14 (empat belas) hari dalam

mengajukan permohonan kasasi/menyerahkan

memori kasasi.

a. Apakah 14 hari kerja atau 14 hari kalender ?

b. Bagaimana dengan hari libur nasional ?,

apakah dihitung/tetap termasuk yang 14 hari

tersebut?

c. Dalam praktek kadang penghitungan dari

Panmud pidana sendiri berbeda .. , kadang

lewat 14 hari kalender dianggap permohonan

kasasi tidak memenuhi syarat formil sehingga

di cover berkas dicap permohonan kasasi

tidak dapat diterima, tetapi kadangkala

walau telah lewat 14 hari kalender

permohonan kasasi dinyatakan memenuhi

syarat formil ;

d. Demikian juga di antara Hakim Agung masih

ada perbedaan pendapat mengenai batas waktu

itu;

Patokan hari kalender, jika tenggang

waktu akhir jatuh pada hari libur maka

dihitung pada hari kerja berikutnya.

49

Page 62: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

4 Terdakwa yang telah mengajukan kasasi Mengacu kepada Pasal 77 KUHP:

meninggal dunia sebelum permintaan kasasinya Penuntutan dari Jaksa Penuntut Umum

diputus oleh Mahkamah Agung. Ada dua dinyatakan gugur. (Solusi b)

pendapat:

a. Kasasi tidak dapat diterima.

b. Sesuai Pasal 77 KUHPkewenangan penuntutan

dari Jaksa Penuntut Umum dinyatakan gugur.

5 Pengajuan Peninjauan Kembali oleh Penasihat Filosofinya : Kuasa dalam hukum pidana

Hukum Terdakwa, dibenarkan atau tidak ? tidak mewakili tetapi mendampingi, jadi

Pemohon PK harus hadir.

(Catatan: Bandingkan dengan Memorandum Pada prinsipnya kehadiran Pemohon Tuada Pidsus tanggal 04 Mei 2012) PK dan Jaksa adalah keharusan, kecuali

terdapat pelanggaran HAM sebagai

jalan tengah untuk kasuskasus kecil.

Apabila Pemohon PK tidak hadir, sesuai

ketentuan Pasal 266 ayat ( 1) KUHAP,

maka perkara PK tidak dapat diterima,

dengan pengertian perkara PK tersebut

dikembalikan ke PN untuk dilengkapi

secara administrasi (dari sudut keadilan).

Kesimpulan : Apabila dalam perkara

PK temyata Pemohon PK tidak hadir

maka PANMUD Pidana mengembalikan

perkara PK tersebut ke PN agar

dilengkapi secara administrasinya.

Tetapi kalau sampai ke Majelis, maka

Majelis memberi disposisi kepada

Panmud Pidana untuk mengembalikan

perkara tersebut.

6 PK yang diajukan oleh kuasa pemohon, padahal Pennohonan PK dan Pemeriksaan PK

pada waktu mengajukan permohonan PK tersebut di persidangan harus dihadiri oleh

pemohon/ahli warisnya tidak hadir, akan tetapi Terpidana sendiri dan dapat didampingi

hadir dalam persidangan pemeriksaan PK (pasal oleh penasehat hukum. 265 ayat 2 KUHAP).

7 Apakah putusan PK yang dimohonkan oleh Putusan PK tidak boleh melebihi pidana

terpidana atau ahli warisnya dapat dijatuhkan yang telah dijatuhkan dalam putusan

pidana yang lebih tinggi dari putusan Judex Juris semula (vide : Pasal 266 ayat 3). ? (pasal 266 ayat 2c. dan ayat 3).

8 Banyak di antara Terpidana yang tidak UU telah memberikan jalan/hak kepada

menggunakan upaya hukum banding atau kasasi Terpidana untuk melakukan upaya

tetapi langsung mengajukan permohonan PK hukum PK atas perkara yang sudah

dengan alasan bahwa Putusan Judex Factie berkekuatan hukum tetap (BHT) jika

dengan ielas memperlihatkan suatu kekhilafan memenuhui syarat Pasal 263 ayat ( 1)

hakim atau suatu kekeliruan yang nyata (Pasal KUHP;

263 ayat (2) huruf c KUHAP). Bukankah

Terpidana telah menerima Putusan Judex Factie sehingga in kracht? --

Page 63: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

9 Terpidana yang telah mengajukan permohonan Dikembalikan ke PN oleh Panitera MA

PK meninggal dunia sebelum permohonan untuk dilengkapi persyaratan PK oleh

PK diputus oleh Mahkamah Agung, ada dua Ahli Waris;

pendapat:

a. Permohonan PK tidak dapat diterima karena {Tambahan: bagaimana bila PK diajukan

belum ada kehendak ahli waris untuk ahli waris padahal terpidana tidak

meneruskan permohonan PK. melakukannya?. Catatan:

b. Berkas dikembalikan ke pengadilan negeri Solusi permasalahan ini ditunda). untuk melengkapi permohonan PK oleh ahli waris.

10 Dalam hal terjadi disparitas pidana yang Dikembalikan kepada alasan PK.

dijatuhkan terhadap beberapa orang Terdakwa

yang didakwa bersama-sama dan diadili Hakim

yang berbeda dan telah mempunyai kekuatan

hukum tetap, apakah hal ini dapat menjadi alasan

PK?

a. Dapat.

b. Tidak dapat.

11 Beberapa putusan Kasasi Mahkamah Agung yang Adalah kewajiban dari Majelis Kasasi

dimohonkan PK oleh terpidana dibatalkan karena untuk membuat alasan pertimbangan

putusan tersebut dengan jelas memperlihatkan hukum yang jelas, tepat dan cennat.

sesuatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan

yang nyata, menurut hemat kami tidak

perlu terjadi apabila putusan Kasasi tersebut

dipertimbangkan dengan cennat dan teliti sesuai

dengan ketentuan Hukum yang berlaku.

12 Pasal 265 ayat (2) dan ayat (3) KUHAP, dalam Pennohonan PK dan Pemeriksaan

sidang pemeriksaan pemohon/terpidana dan PK di persidangan harus dihadiri oleh

Jaksa ikut hadir dan berita acara pemeriksaan Terpidana sendiri dan dapat didampingi

ditandatangani oleh Hakim, Jaksa, Pemohon/ oleh penasehat hukum. terpidana dan Panitera.

Karena ketentuan di atas adalah imperative

maka kehadiran pemohon/terpidana merupakan

keharusan sebagaimana dipertegas oleh TUADA

Mahkamah Agung RI bidang Hukum Pidana

Umum No. 4984/TU/8413951/PID. Tanggal

2 November 1984 dan disampaikan/diedarkan

kepada Ketua Pengadilan N egeri dan Pengadilan

Tinggi di seluruh Indonesia. Adalah ironis

apabila terpidana menuntut hale nya, sementara

kewajibannya melaksanakan Putusan Mahkamah

Agung tidak dipenuhi/ dilaksanakan.

13 Perkara tahanan, sering sampai kepada Majelis Tetap diputus dengan pertimbangan Hakim hampir habis masa penahanannya, bahkan hukum sesuai dengan fakta-fakta ada yang sudah habis masa penahanannya. persidangan.

Mas~lah ini sudah berulangkali terjadi,

bagaimana solusinya. Perkara-perkara tahanan harus didahulu•

kan penyelesaiannya.

51

Page 64: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

B. TINDAK PIDANA UMUM

1 Ada perkara dengan dakwaan dijunctokan Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dan disidangkan oleh Majelis yang berbeda, diputus dengan amar putusan yang berbeda pula, yang satu diputus NO E dan yang satu lagi dijatuhi pidana. Padahal dakwaannya jelas perbuatan tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan dakwaan yang sama namun diajukan secara terpisah/ splitsing. Mohon perhatian untuk perbaikan sehingga tidak terjadi disparitas atau perbedaan dalam putusan baik yang menyangkut pembuktian maupun perbedaan pidana.

Harus diputus oleh satu Majelis, namun apabila perkara diterima berbeda waktunya, tidak menjadi alasan untuk dibedakan Majelisnya, agar tidak terjadi

disparitas pidana.

Oleh karena itu dibutuhkan kecermatan dari Panitera/ Panmud. Panmud harus punya catatan tentang perkara-perkara yang saling berkaitan dan harus dibangun suatu sistem untuk itu dan kepada Hakim Agung diberikan agenda khusus I

klapper, untuk mencatat perkara-perkara yang sudah diputusnya, agar ada kontrol. Perkara-perkara yang berhubungan supaya dideteksi lebih awal di Panmud Pidana dan ditegaskan melalui Surat Edaran Ketua MA.

2 Apabila dakwaan bersifat altematif di mana salah satu dakwaannya ancaman pidananya di bawah 1 tahun dan dakwaan yang lainnya ancaman pidananya di atas 1 tahun, apakah juga diterapkan Pasal45A?

Untuk dakwaan yang ancaman pidananya di atas 1 tahun tetap dapat dilakukan pemeriksaan dalam tingkat kasasi.

3 Judex F 'acti sering menerima perkara dari JPU dengan penerapan pasal dan Undang-Undang yang tidak sesuai, tetapi Judex F actie tidak bisa mengkoreksi karena terikat dengan KUHAP yang mewajibkan memeriksa perkara sesuai dakwaan. Pertanyaannya: Apakah Mahkamah Agung sebagai Judex Juris bisa menerapkan Undang• Undang dan pasal yang sesuai ?

Contoh:

- Perkara-perkara yang menimbulkan kema• tian orang, lebih sering digunakan pasal pembunuhan karena desakan masyarakat.

- Pencurian ringan, digunakan pasal yang lebih berat seperti pencurian kayu dengan digunakan UU tentang Kehutanan.

- Hakim dalam memeriksa dan memutus

perkara tetap berpedoman pada surat

dakwaan.

4 Mengenai alasan pemaaf clan pembenar di luar ketentuan Undang-Undang:

a. Sebagian Hakim menolak alasan-alasan pemaaf dan pembenar di luar undang-undang;

b. Sebal~ya sebagian Hakim setuju/dapat menenma adanya alasan pemaaf/ pembenar di luar undang-undang tersebut;

Pada prinsipnya tidak dibenarkan alasan• alasan pemaaf dan pembenar diluar dari yang disebut dalam Undang-undang;

Contoh: - Guru memukul murid. - Dalam perkara lalu lintas sudah ada

perdamaian/ sudah diberikan santunan.

Page 65: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

- Dalam perkara KORT jangan sampai

pidana yang dijatuhkan malah

membuat suami dan istri bercerai.

Alasan pembenar dan pemaaf sudah

merupakan asas yg diatur dalam

KUHP (kembali kepada asas).

Tetapi dalam praktek, terdapat

beberapa yurisprudensi MA yang

telah menggunakan alasan pembenar

dan alasan pemaaf di luar KUHP, se-

perti misalnya berlakunya hukum adat

setempat.

5 Pasal 83 (1) KUHAP menyatakan bahwa

terhadap putusan Praperadilan antara lain

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79, Pasal

80 dan Pasal 81 tidak dapat dimintakan banding,

dalam praktek ada putusan Praperadilan yang

menyatakan "menolak permohonan Pemohon

Praperadilan" dengan kata lain Surat Perintah

Penghentian Penyidikan adalah sah. Terhadap

putusan tersebut di atas Pemohon Praperadilan

mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi

clan cliadili Pengadilan Tinggi dengan putusan

menyatakan :

- Menerima permohonan banding dari Pemohon

Praperadilan.

- Menyatakan Surat Perintah Penghentian

Penyidikan adalah tidak sah.

Putusan Pengadilan Tinggi yang menyatakan

Surat Perintah Penghentian Penyidikan tersebut

jelas bertentangan dengan Pasal 83 ( 1) KUHAP,

apakah putusan yang bertentangan dengan

Undang-Unclang tersebut tidak dapat dibenarkan

untuk mengajukan Peninjauan Kembali ?

Berdasarkan ketentuan Pasal 45 A UU

No. 5 Tahun 2004, bahwa terhadap

perkara-perkara Praperadilan tidak dapat

diajukan kasasi apalagi Peninjauan

Kembali.

Putusannya adalah tidak dapat diterima (NO F);

Terhadap Praperadilan tentang

Penyitaan, maka apakah penyitaan itu

sah akan diputuskan bersamaan dengan

pemeriksaan dalam pokok perkara;

Pasal 82 KUHAP (dimana disebut

ttg Penyitaan terhadap benda yang

tidak termasuk alat bukti), sesuai

praktek selama ini dapat diajukan

"PERLA WANAN";

6 Bagaimana penerapan hukumnya ketentuan Pasal

141 KUHAP yang menggariskan kewajiban

Jaksa/Penuntut Umum sebagai berikut:

Pasal 141:

a. Beberapa tindak pidana yang dilakukan

oleh seorang yang sama dan kepentingan

pemeriksaan tidak menjadikan halangan

terhadap penggabungannya;

b. Beberapa tindak pidana yang bersangkut-paut

satu dengan yang lain;

c. Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut•

paut satu dengan yang lain, akan tetapi yang

satu dengan yang lain itu ada hubungannya,

yang dalam hal ini penggabungan tersebut

perlu bagi kepentingan pemeriksaan;

Hal tersebut merupakan kewenangan

Jaksa/Penuntut Umum.

Page 66: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

7 Mahkamah Agung RI sebagai sumber hukum

dalam menciptakan Yurisprudensi, perlu ataukah

tidak dikeluarkan suatu Yurisprudensi bahwa

apabila beberapa perbuatan yang dilakukan

Terdakwa, waktu dan tempat (Tempus Delicti

dan Locus Delicti) saling bersangkut paut,

kiranya perlu dilakukan penggabungan perkara

sekaligus, guna menghormati Hak-hak Asasi

Manusia, khususnya Terdakwa dalam melakukan

pembelaannya.

Hal tersebut merupakan kewenangan

Jaksa/Penuntut Umum.

8 Apabila terdakwa tidak didampingi oleh

penasihat hukum sejak penyidikan, penuntutan

dan di Pengadilan, apakah didalam tingkat kasasi

putusan PN/PT harus dibatalkan dan dibuat

penetapan untuk pemeriksaan kembali ?

Tidak batal jika :

I. Dakwaan yang ancaman pidana•

nya 5 tahun, kepada Tdw dapat

didampingi PH dan Tdw sudah

ditawarkan untuk didampingi PH tapi

Terdakwa menolak;

2. Dakwaan tersebut ancaman pidananya

5 tahun ke atas, Tdw wajib didampingi

PH, tetapi Tdw tetap menyatakan

menolak didampingi PH.

Catatan: Penolakan Tdw dalam angka l dan 2

tersebut di atas sudah disebutkan dengan

jelas dalam Berita Acara Penyidikan

dan BA. Persidangan; Bila nyata-nyata

hak Tdw dilanggar, maka JJ wajib

mengoreksi putusan JF dengan membuat

"Penetapan" mengembalikan berkas

perkara ke PN untuk diperiksa dan diputus

sesuai KUHAP;

9 Pemeriksaan/pembuktian dakwaan yang bersifat

altematif dalam putusan Hakim tingkat pertama :

a. Sebagian Hakim dalam putusannya memeriksa

semua dakwaan baru kemudian menyatakan

dakwaan yang mana yang terbukti;

b. Sebagian Hakim lainnya langsung memeriksa

dakwaan yang dianggap paling relevan dengan

fakta-fakta persidangan;

Hakim dapat langsung menunjuk

dakwaan altematif mana yang

paling relevan dengan fakta-fakta

persidangan dan atau yang lebih mudah

pembuktiannya.

10 Penerapan Ajaran Concursus/Samenloop.

Kasus:

Dakwaan Kesatu :

- Primer: Pasal 12 huruf e Undang-undang

Tindak Pidana Korupsi

- Lebih Subsidair: Pasal 12 b ayat (I) Undang•

undang Tindak Pidana Korupsi;

- Lebih-lebih Subsidair: Pasal 11 Undang•

undang Tindak Pidana Korupsi;

.

54

Page 67: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Dakwaan kedua :

- Primair : Pasal 3 huruf a Undang-undang

Tindak Pidana Pencucian Uang;

- Subsidair: Pasal 3 hurufb Undang-Undang

Tindak Pidana Pencucian Uang;

- Lebih Subsidair : Pasal 3 huruf c Undang•

undang tindak Pidana Pencucian Uang;

Proses Pemeriksaaan Putusan : a. Di tingkat Pertama : Terbukti Tindak Pidana

Korupsi

b. Di Tingkat banding : Terbukti Tindak Pidana

Korupsi

c. Di Tingkat Kasasi : Terbukti tindak pidana

korupsi clan pencucian uang, dengan 2 (dua)

bentuk pemidanaan sekaligus, yakni :

- Tindak pidana Korupsi = 6 Th

- Tindak Pidana Pencucian uang = 6 Th Total pemidanaan = 12 Th

PERMASALAH HUKUM:

a. Bagaimana penerapan hukum tentang ajaran

concursus/samenloop jika kasus tersebut

dikategorikan/dipandang sebagai gabungan

perbuatan dengan ajaran concursus realis? b. Apakah bentuk pemidanaan yang terpisah lalu

digabungkan sekaligus tidak bertentangan

dengan prinsip pemidanaan yang sangat

me rugikan posisi hukum dan kepentingan

hukum terpidana, dalam menjalankan pidana

yang berlebihan tersebut?

c. Bagaimana kasus tersebut jika dilihat dari

segi HAM, yang berkaitan dengan penegakan

hukum (supremasi hukum) bahwa prinsip

hukum pidana sebagai Hukum Publik, dimana

negara terlibat langsung menjalankan sanksi•

sanksinya: bukan selalu dipikirkan bagaimana

terdakwa dipidana tetapi perlu pula dipikirkan

dari sudut pandang mana terdakwa tidak

dipidana dan/atau tidak memberatkan

pemidanaan?

a. pabila dalam suatu perkara Terdakwa

di dakwa dengan dakwaan kumulatif,

dan lebih dari satu dakwaan yang

terbukti maka dijatuhkan pidana

yang tidak boleh melebihi ancaman

maksimum pidana terberat di tambah

1/3.

b. Kualifikasi pidananya yang terbukti

masing-masing sesuai dengan

dakwaan yang terbukti dan pidananya

hanya satu.

c. Tidak akan terjadi pelanggaran HAM

karena yg akan diterapkan adalah

ketentuan pidana yg tidak melebihi

maksimum ancaman pidana yang

terberat ditambah 1/3.

11 Formulasi putusan Hakim dalam kasus Terdakwa

yang mempunyai alasan "pembenar'':

a. Sebagian Hakim merumuskannya dengan

menyatakan amar putusan "Ons/aag" dan

karena itu melepaskan Terdakwa dari segala

tuntutan hukum;

Amar putusan: Melepaskan Terdakwa

dari segala tuntutan hukum ( Ontslaag van a/le rechtsvervolging). (Pilihan butir

a).

Page 68: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

b. Dan sebagian Hakim merumuskannya dengan putusan "Vrijspraak", membebaskan Terdakwa dari segala dakwaan;

12 Putusan perkara kasasi yang merubah lama pidana, karena onvo/doende gemotiveerd :

a. Sebagian beranggapan diputus dengan "Kabul, batal JF, adili sendiri.., dan kemudian merubah pidana;

b. Sebagian lainnya beranggapan diputus dengan amar "tolak perbaikan";

Perubahan pidana dalam putusan kasasi dengan alasan yang di luar dari ketentuan Pasal 253 KUHAP, maka amar putusan kasasi adalah "Tolak perbaikan";

contoh : salah ketik Pasal dalam amar, atau salah dalam penyebutan kualifikasi delik, dll. :

I. I. Kalau pertimbangan dan amar JF salah maka amar kasasi "Kabul".

1.2. Kalau pertimbangan kurang sedangkan amarnya benar, maka amar kasasi "Tolak Perbaikan"

13 Putusan perkara kasasi yang hanya merubah lama hukuman pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa:

a. Sebagian beranggapan diputus dengan "mengabulkan pennohonan kasasi.., batal JF, adili sendiri.. , dan kemudian merubah lama pidana;

b. Sebagian lainnya beranggapan diputus dengan amar "tolak perbaikan";

a. Judex Juris dapat meringankan/ memberatkan pidana yang dijatuhkan JF dengan alasan kurang pertimbangan hukum (Onvo/doende gemotiveerd).

b. Amarnya : Tolak perbaikan.

c. Tidak diperkenankan menjatuhkan putusan mengabulkan permohonan kasasi JPU, namun substansinya justru meringankan/membebaskan Terdakwa, atau mengabulkan permo• honan kasasi Terdakwa namun pidananya malah diperberat (dikenal dengan istilah: "kabul bodong'').

d. Hakim kasasi dapat mempertim• bangkan terlepas dari alasan kasasi yg diajukan Pemohon Kasasi bila putusan JF tidak cukup pertimbangan hukumnya.

14 Formulasi putusan Hakim dalam kasus Terdakwa yang mempunyai alasan "pembenar":

a. Sebagian Hakim a. Hakim merumuskannya dengan menyatakan amar putusan "Ontslaag"

dan karena itu melepaskan Terdakwa dari segala tuntutan hukum;

b. Dan sebagian Hakim merumuskannya dengan putusan "Vrijspraak", membe-baskan Terdakwa dari segala dakwaan;

Apabila unsur-unsur dari dakwaan tidak terpenuhi, maka diputus bebas ( Vrijspraaky.

Apabila terbukti faktanya tetapi tidak melawan hukum, maka diputus Ontslaag.

Alasan Pembenar dan alasan Pemaaf adalah 2 hal yang berbeda. Alasan pembenar itu kalau unsur dari dakwaan tidak terpenuhi maka vrijspraak, tetapi alasan pemaaf adalah unsur-unsur terpenuhi tetapi ada hal eksepsional (Pasal 48-51 KUHP) maka ontslaag.

Page 69: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

C. TINDAK PIDANA KHUSUS

1 Dalam praktek seringkali mengemuka pertanyaan

yang berhubungan dengan posisi/ kedudukan

Terdakwa sebagai berikut :

a. Apakah Pasal 2 hanya berlaku terhadap

Terdakwa yang berstatus bukan Pegawai

Negeri dan Pasal 3 berlaku terhadap Pegawai

Negeri atau Penyelenggara Negara?

b. Bagaimana menyikapi dakwaan terhadap

Terdakwa Penyelenggara Negara yang

melakukan tindak pidana dengan kerugian

Negara yang besar, yang hanya didakwa dengan

dakwaan Pasal 3?

a. Pasal 2 dan pasal 3 diperuntukkan

untuk setiap orang baik swasta maupun

Pegawai Negeri. Jadi baik pasal 2

maupun pasal 3 berlaku bagi Pegawai

Negeri maupun bukan Pegawai Negeri.

b. Apabila unsur memperkaya cliri sencliri,

orang lain, atau korporasi dalam Pasal

2 tidak terbukti, maka dikenakan Pasal

3, dengan ambang batas minimal Rp.

I 00.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Adalah tidak adil apabila menjatuhkan

pidana bagi Terdakwa yang hanya

merugikan keuangan negara di bawah

Rp.100.000.000,- dikenakan sanksi

minimal pasal 2 yaitu pidana 4 tahun

dan denda Rp.200.000.000,-

c. Hakim mengadili berdasarkan surat

dakwaan. Hakim tetap berpegang

dengan Pasal 3, namun pidana dan

dendanya dapat ditinggikan.

2 Jaksa/Penuntut Umum menyusun surat

dakwaannya dalam bentuk dakwaan subsidiaritas,

yakni dakwaan Primair Pasal 2 ayat (I) dan

dakwaan Subsidair Pasal 3. Dapatkah Hakim

dalam pertimbangan hukumnya menafsirkan

bahwa dakwaan Jaksa/Penuntut Umum itu

sesungguhnya dibaca sebagai dakwaan altematif?

a. KUHAP menentukan bahwa Jaksa

Penuntut Umum yang berwenang

membuat surat dakwaan.

b. Dakwaan subsidaritas tidak dapat

dibaca sebagai dakwaan altematif.

c. Dalam dakwaan subsidaritas hams

dibuktikan dakwaan primair lebih

dahulu.

d. Bahwa pada dakwaan berbentuk

subsidaritas walaupun dalam tuntutan

JPU terbukti dakwaan subsidair, akan

tetapi Hakim wajib membuktikan

dakwaan primair terlebih dahulu.

3 Dapatkah Jaksa/Penuntut Umum menyusun surat

dakwaannya dengan menempatkan pelanggaran

ketentuan Pasal yang ancaman pidananya lebih

rendah lebih dahulu diban-dingkan ketentuan

Pasal yang ancaman pidananya lebih tinggi.

(Contoh: Dakwaan Primair Pasal 3, sedangkan

Dakwaan Subsidair Pasal 2 UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2001);

Penyusunan Surat Dakwaan adalah

wewenang Jaksa Penuntut Umum. Oleh

karena itu Hakim tetap berpedoman

pada surat dakwaan, sehingga terhadap

dakwaan yang disusun secara subsi•

diaritas, dakwaan primair harus

dibuktikan terlebih dahulu, kemudian

dakwaan subsidiair.

4 Dapatkah dijatuhkan pidana Percobaan pada

Tindak Pidana Korupsi?

Pembuat Undang-undang Tipikor telah

menetapkan adanya pidana minimum

khusus, karena itu menjatuhkan pidana

percobaan pada prinsipnya tidak

diperbolehkan, apabila disimpangi maka

Hakim telah menginjakan kakinya ke

ranah kekuasaan pembuat Undang•

Undang.

Page 70: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

5 Jika dibolehkan disimpangi penjatuhan dibawah

minimal pemidanaan, apakah boleh dijatuhkan

pidana di atas maksimal pemidanaan?

Penjatuhan pidana di bawah minimal

dan atau pidana di atas maksimal tidak

diperkenankan (ketentuan UU Tipikor

tidak boleh disimpangi). Walaupun

demikian, penjatuhan pidana minimum

khusus tersebut dapat disimpangi

berdasarkan ketentuan Pasal 12 A

Undang-undang No.20 Tahun 2001.

6 Apakah terhadap tindak pidana korupsi dapat

dikenakan hanya pidana denda tanpa pidana

badan (penjara dan/kurungan)?

Tidak, pasal-pasal tindak pidana korupsi

telah menetapkan adanya pidana

minimum khusus dan pidana maksimal.

Demikian juga mengenai pidana denda,

dijatuhkan secara kumulatif bersama

pidana penjara (misal pasal 2), atau

pidana denda tsb dijatuhkan secara

altematif (misal pasal 3).

7 Bagaimana ketentuan pengenaan uang pengganti

terhadap Terdakwa?

Tentang uang pengganti telah ditentukan

dalam pasal 18 ayat (lb) dan pasal 18

ayat (3) UU No.31 Tahun 1999:

a. Pasal 18 ayat (1.b): ... yangjumlahnya

sebanyak-banyaknya sama dengan

harta benda yang diperoleh dari tindak

pidana korupsi.

b. Pasal 18 ayat (3) : ... maka dipidana

dengan pidana penjara yang lamanya

tidak melebihi pidana ancaman

maksimum dari pidana pokoknya.

8 Dalam hal Terpidana telah memenuhi pembayaran

uang pengganti sebagian namun tidak mampu

membayar kewajiban selebihnya, lalu bagaimana

perhitungan penerapan pidana penjaranya?

a. Tidak ada kriterianya dalam Pasal 18

UU Tipikor. Jadi berapa besarpun yg

sudah dibayar, pidana pengganti tetap

dijalankan.

b. Eksekusinya dihitung oleh Jaksa

Penuntut Umum.

9 Apakah setiap perkara tindak pidana korupsi

yang berhubungan dengan adanya suatu kontrak/

perjanjian, Terdakwa harus diputus lepas, dengan

alasan perbuatan terbukti namun bukan tindak

pidana?

Suatu perjanjian yang disimpangi dan

telah menimbulkan kerugian negara

maka perbuatan tersebut adalah tindak

pidana korupsi.

10 Dimana letak titik singgung suatu perkara itu Pendapat ke-1:

dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap UU Sekalipun modus operandinya masuk

Tindak Pidana Korupsi atau bukan? (Vide: Pasal wilayah peraturan perundangan lain, 14

UU Tipikor); akan tetapi bila unsur-unsur pasal tindak

pidana korupsi telah terpenuhi, maka UU

Tipikor dapat diterapkan.

Pendapat ke-2:

Kalau memang dinyatakan secara tegas

dalam suatu UU bahwa hal tersebut

adalah tindak pidana korupsi maka UU

Tipikor diterapkan, atau sebaliknya.

I

1 .!c-

Page 71: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Catatan:

Solusi permasalahan ini ditunda, sambil menunggu usul MA untuk merevisi Pasal ini (Prof. Surya Jaya & Prof Krisna diminta Pimpinan rapat untuk menyiapkan bahan revisinya).

11 Bagaimana sikap Hakim dalam menerapkan ketentuan penjelasan unsur melawan hukum materiel dalam Pasal 2 UU Tipikor?

Walaupun Penjelasan pasal 2 UU Tipikor telah dibatalkan oleh MK, tetapi Putusan MK tersebut tidak mengikat bagi Hakim.

12 Perbuatan melawan hukum formil dan perbuatan

melawan hukum materil dalam perkara korupsi :

a. Ada Hakim yang berpendirian/berpendapat

bahwa dalam perkara tindak pidana korupsi

sifat melawan hukumnya adalah "melawan hukum formal";

b. Sebagian Hakim berpendirian/berpendapat dalam tindak pidana korupsi sifat melawan hukumnya adalah "melawan hukum materil";

a. Benar bahwa tindak pidana korupsi adalah tindak pidana formal. Hal ini dijelaskan dalam penjelasan pasal- demi pasal (pasal 2 ayat (1 ).

b. Suatu perbuatan yang tidak diatur dalam Undang-undang Pidana akan bertentangan dengan pasal I ayat (1)

KUHP/ asas nullum crimen

praevia sine /ege poenali

Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana yang terjadi secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak- hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasan nya harus dilakukan secara luar biasa.

13 Diskresi dalam penjatuhan pidana minimum dalam Pasal 2 UU. No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001, dalam hal nilai kerugian Negara sangat kecil :

a. Ada yang berpendapat sanksi pidana minimum yang telah disebutkan dalam UU tersebut tidak dapat disimpangi;

b. Ada yang berpendapat ketentuan sanksi minimum tersebut dapat disimpangi dengan pertimbangan rasa keadilan masyarakat;

Ketentuan pidana minimum UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tidak dapat disimpangi. Akan tetapi sebagaimana dalam jawaban No. 5 di atas, dapat dicarikan solusi sebagaimana dalam jawaban no. 5 tersebut. Misalnya terhadap dakwaan pasal 3 yang terbukti, tidak perlu menjatuhkan pidana denda apabila kerugian negara di bawah Rp.50.000.000,-. Walaupun demikian pidana uang pengganti tetap dijatuhkan.

a. Uang pengganti tidak boleh melampaui kerugian Negara, karenanya PK beralasan dan dikabulkan.

b. Uang pengganti harus sesuai dengan ketentuan Pasal 18 ayat ( 1.b)

(Catatan Kepada Ketua PN, PT, MA diharapkan agar tindak pidana yang dilakukan bersama-sama tetapi penuntutannya dilakukan secara terpisah, sebaiknya disidangkan oleh Majelis Hakim yang sama).

59

Page 72: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

15 Sejauh mana pengaruh Putusan Mahkamah

Konstitusi No.003/PPU-IV/2006 tanggal 25 Juli

2007 yang menyatakan bahwa Penjelasan Pasal

2 ayat (I) UU No.31 Tahun 1999 bertentangan

dengan Pasal 28 huruf d ayat (I) UUD 1945

sehingga tidak lagi memiliki kekuatan hukum

yang mengikat ?

Hakim tidak terikat dengan putusan MK.

Lihat jawaban No. 11 di atas.

16 Dalam hal kumulasi dari beberapa perkara yang

didakwakan oleh JPU dalam perkara Tipikor,

berapa minimal pidananya?

a. Jumlah dari seluruh pidana-pidana minimal-

nya.

b. Pidana minimal terberat ditambah sepertiga

(analog dengan aturan maksimalnya).

Pidana yg dijatuhkan adalah ancaman

pidana minimal terberat, ditambah 1/3

nya (absorpsi yang dipertajam)

(Catatan : Tidak diperbolehkan menja-

tuhkan pidana di bawah ancaman pidana

minimal).

17 Pasal 5 Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009

menyatakan Pengadilan Tipikor merupakan satu-

satunya pengadilan yang berwenaog memeriksa,

mengadili dan memutus perkara Tipikor. Ada dua

pendapat tentang kewenangan mengadili seorang

TNI yang didakwa melakukan Tipikor, yaitu :

1. Pengadilan Tipikor yang berwenang mengadi-

linya karena ada kata satu-satunya.

2. Pengadilan Tipikor tidak berwenang mengingat

penjelasan Pasal 5 : yang dimaksud dengan satu-

satunya pengadilan adalah pengadilan yang

memeriksa, mengadili dan memutus perkara

yang penuntutannya diajukan oleh penuntut

umum.

Pendapat pertama :

Kewenangan mengadili seorang TNI

yang didakwa melakukan Tipikor ada

pada Pengadilan Militer (patokannya

adalah pelakunya).

Pendapat kedua :

UU No. 46 Tahun 2009 berpatokan

kepada perbuatan korupsinya clan bukan

pelakunya, terlebih-lebih karena pasal

5 UU Pengadilan Tipikor menyatakan

bahwa "Pengadilan Tipikor merupakan

satu-satunya pengadilan yang berwe-

nang memeriksa, mengadili, clan memutus perkara tindak pidana korupsi.

(Catatan: Solusi permasalahan ini ditunda,

clan diserahkan kepada Pimpinan MA clan Pimpinan 1NI).

18 Pasal 6 hurufb Undang-Undang Nomor 46 Tahun

2009 mengatakan pengadilan Tipikor berwenang

memeriksa, mengadili dan memutus perkara

: Tindak Pencucian Uang yang tindak pidana asalnya adalah Tipikor.

Dalam hal hanya sebagian dari uang yang

dijadikan bukti dalam perkara TPPU tersebut

berasal dari Tipikor, bagaimana nasib uang

selebihnya? Ada dua pendapat :

a. Untuk selebihnya yang tindak pidana asalnya

tidak terbukti berasal dari Tipikor harus

dinyatakan tidak berwenang mengadilinya.

b. Untuk selebihnya tersebut tetap Pengadilan

Tipikor berwenang, karena tidak dapat

dibuktikan oleh Terdakwa asal-usul uangnya

(pembuktian terbalik).

a. Kalau tidak bisa dibuktikan sebagai

barang bukti Tipikor, malca harus

dikembalikan.

b. Hakim pidana hanya berwenang

untuk menetapkan status barang bukti

yang sudah dilakukan penyitaan.

Page 73: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

19 Dakwaan dalam perkara narkotika, dapatkah Kewenangan membuat surat dakwaan dikumulatitkan, padahal pasal-pasal narkotika merupakan domain Jaksa/ Penuntut sendiri sudah mengandung unsur kumulatif. Umum. Hakim mengadili berdasar surat

dakwaan.

20 Tetap dihukum walaupun dengan yg minimal, kalau terbukti . dengan dosis kecil, dan urine

Catatan:

Pendapat terakhir beberapa Majelis MA, terbukti pasal yang didakwakan v(biasanya Pasal 112 jo. Pasal 132) tetapi menerobos pidana minimumnya.

21 Dalam dakwaan J/PU dengan menggunakan Ukuran kedewasaan tergantung kepada Undang-Undang Perlindungan Anak maupun kasusnya (kasuistis).

KUHP (misalnya Pasal 293 KUHP) sering Dalam berbagai undang-undang berbeda disebutkan korban yang telah berusia 17 atau 18 tentang batas usia dewasa akan tetapi tahun dan oleh J/PU masih dikategorikan sebagai khusus untuk pelaku pidana Anak tetap korban "anak/belum dewasa"; mengacu kepada ketentuan batas usia a. Dalam memutus perkara tersebut di antara anak sesuai dengan UU Pengadilan Anak

Hakim Agung masih ada perbedaan dan UU Perlindungan Anak, yaitu 18 pendapat tentang batas usia korban, sebagian tahun.

membenarkan dakwaan Jaksa clan menganggap Mengenai pengertian batas usia di bawah korban masih kategori "anak" ; umur/belum dewasa, dalam Pasal 290 dan

b. Sebagian Hakim ada yang menyatakan Pasal 293 KUHP ada penyebutan angka perbuatan Terdakwa tidak memenuhi unsur- 15 tahun dst...., umumnya dalam praktek unsur dakwaan Jaksa karena korban dianggap batas usia dewasa disebut 21 tahun, akan "sudah dewasa" ; tetapi seiring dengan perkembangan

hukum, antara lain dengan haclirnya UU Pengadilan Anak clan Perlindungan Anak,

maka mengenai nonna-nonna (dalam KUHP) yang tidak mengatur secara eksplisit batas usia dewasa (korban) tersebut, maka disepakati batas usia dewasa (korban)juga merujuk kepada UU Pengadilan Anak clan Perlindungan Anak,

yaitu 18 tahun. Kesepakatan tersebut dapat diatur melalui PERMA.

22 a. Dalam perkara perdata,

memakai ketentuan UU Keuangan Negara dan turunannya. b. Dalam perkara pidana merujuk kepada ketentuan UV Tindak Pidana Korupsi. Apabila unsur dari tindak

pidana korupsi terpenuhi khususnya terdapat kerugian negara dan unsur memperkaya, maka tetap merupakan tindak pidana korupsi.

Perkara Narkotika : dalam hal fakta

membuktikan pidana bahwa Terdakwa adalah

pengguna (jo.Pasal 127 pemakai UU

Narkotika) akan tetapi tidak didakwakan

positif. Bagaimana bunyi putusan akhir?

Bagaimana status "kekayaan negara yang

dipisahkan"? Seandainya dijadikan penyertaan

modal dalam BUMN apakah UTANG-PIUTANG

BUMN merupakan UTANG-PIUTANG Negara?

Apakah Fatwa MA No.WKMA/Yud/20V/III

tanggal 16 Agustus 2006 tetap akan dipertahankan?

Page 74: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

D. KASUS-KASUS

1 Penjatuhan Pidana terhadap Terdakwa, dengan

digabungkan beberapa perkaranya dalam kasus

Gayus Tambunan.

Kasus:

Kompas, Jum'at Tanggal 2 Maret 2012, dengan

topik "Gayus Tambunan dimiskinkan", dalam

berita tersebut yang menarik bukan karena

dimiskinkannya si Gayus Tambunan tersebut

tetapi yang menarik adalah ada 4 (empat)

perkaranya, yang kesemuanya sudah diputuskan,

dengan TOTAL PIDANA = 22 TAHUN dengan pelbagai jenis perkara sesuai kenakalannya si

Gayus Tambunan tersebut.

Pertanyaan/Masalah Hukum :

- Apakah tindakan penyidik dan Jaksa/Penuntut

Umum yang menyicil secara bertahap penga-

juan "KASUS GAYUS TAMBUNAN' ini

tidak bertentangan dengan tertib hukum acara

pidana?

Hakim mengadili berdasarkan surat

dakwaan Jaksa!Penuntut Umum.

2 Mahkamah Agung RI sebagai sumber hukum

dalam menciptakan Yurisprudensi, perlu ataukah

tidak dikeluarkan suatu Yurispruden-si bahwa

apabila beberapa perbuatan yang dilakukan

Terdakwa, waktu dan tempat (Tempus Delicti

dan Locus Delictz) saling bersangkutan paut,

kiranya perlu dilakukan penggabungan perkara

sekaligus, guna menghormati Hak-hak Asasi

Manusia, khususnya Terdakwa dalam melakukan

pembelaannya.

- A sebagai Pejabat Pembuat Komitmen/atau yang

berhak mencairkan dan mengeluarkan dana dari

Operasional Pembayaran Proyek

- B dan C sebagai Pengusaha bersaudara (PT.

ANGIN PUYUH ) yang ditetapkan sebagai

pihak Pemenang dalam Proyek Flu Burung

tersebut pemenang Tender sesuai keputusan

Panitia Tender!KEPPRES.

- A sebagai Terdakwa Tunggal, baik dalam

proses Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan,

Pemeriksaaan di Persidangan sampai dengan di

Tingkat Kasasi MA RI.

- Dalam proses Penyelidikan/Penyidikan B dan

C (Pihak Rekanan) hanyalah sebagai saksi-

saksi saja.

- Pada saat Penyidik melimpahkan berkas ke

Jaksa!Penuntut umum, ternyata Jaksa/ Penuntut

umum menambah dakwaan korupsi dengan

memasang pasal 55 KUHP, sehingga susunan

dakwaan Jaksa/Penuntut umum berbentuk:

Page 75: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

- Dakwaan Primair : pasal 2 Undang-Unclang

tindak pidana korupsi jo. Pasal 55 KUI-IP. - Dakwaan subsidair: pasal 3 Undang-Unclang

tindak pidana korupsi jo. Pasal 55 KUI-IP. - Baile Dakwaan Primair maupun Dakwaan

Subsidair, Perumusan Dakwaan selalu berbunyi : "Bahwa Terdakwa A Bersama-Sama B, dan C

........... sebagai Tindak Piclana Korupsi.

Proses hukum : Penyidik : - tidak melakukan Splitsing Perkara in casu tidak

melibatkan B dan C (PT.ANGIN PUYUH) tersebut dengan alasan hukum perbuatan B dan C sebagai Kontraktor berjalan sesuai Bestek• Bestek, dengan menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya baik.

JPU: Jaksa/Penuntut umum memasang ketentuan pasal 55 KUHP terhadap dakwaan A, karena B dan C sebagai Rekanan turut menandatangani Berita Acara Penyelesaian Proyek Flu Burung

tersebut.

HAKIM TK. PERTAMA: - Telah mempertimbangkan ketentuan Psi 55

KUHP bahwa penerapan hukumnya tidak berdasar hukum untuk dilibatkan B clan C (Pihak Rekanan) tersebut sebab tidak pemah dilakukan Splitsing Perkara dan B dan C tidak terlibat pencairan dana, sehingga

dikeluarkanlah ketentuan Psi 55 KUHP, hasilnya putusan tingkat pertama : terbukti A melakukan Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 Undang-Undang Tipikor, dengan pidana 3 tahun plus denda clan uang pengganti.

HAKIM TK BANDING :

- Memperbaiki Putusan Tingkat Pertama, dengan menambah pemidanaan 4 tahun dengan memasang kembali ketentuan Pasal 55 KUHP.

Pertanyaan/Masalah Hukum :

a. Dapatkah diterapkan Psi 55 KUHP, jika Terdakwanya hanyalah seorang diri dan tidak ada Terdakwa lain?

b. Bagaimana ajaran Deelnemingsleer, yang mensyaratkan bahwa ketentuan Psll 55 KUHP baru diterapkan apabila Terdakwanya lebih dari 1 (satu) orang jadi mutlak 2 atau 3 orang ...... dst. ....

Hakim tidak perlu menyikapi surat dakwaan JPU. Karena penyusunan surat dakwaan merupakan kewenangan JPU.

Page 76: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

c. Mahkamah Agung RI selaku Judex Juris perlu

meluruskan hal ini guna terciptanya penerapan

hukum yang benar !

3 Judex Factl sering menerima perkara dari JPU

dengan penerapan pasal dan Undang-Undang

yang tidak sesuai, tetapi Judex Facti tidak bisa

mengkoreksi karena terikat dengan KUHAP yang

mewajibkan memeriksa perkara sesuai dakwaan.

Pertanyaannya: Apakah MA sebagai Judex Juris

bisa menerapkan undang-undang dan pasal yang

sesuai?

Contoh:

• perkara-perkara yang menirnbulkan kematian

orang, lebih sering digunakan pasal pembu•

nuhan karena desakan masyarakat.

• Pencurian ringan, digunakan pasal yang lebih

berat seperti pencurian kayu dengan digunakan

UU tentang Kehutanan.

Tambahan:

1. Kasus-Kasus yang diartikan salah penerapan

hukumnya oleh masyarakat seperti,

dibolehkannya kasasi JPU terhadap Putusan

Bebas yang oleh KUHAP tidak dibenarkan.

2. Penerapan hukum yang ada dibeberapa UU

yang digunakan oleh Judex Facti, seperti

UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak yang mencantumkan hukumannya lebih

berat terhadap pelaku dan hukuman ringan

yang ada pada UU No. I Tahun 1974 tentang

Perkawinan.

3. Menyimpan dan menggunakan Narkoba yang

penerapannya acap kali berbeda-beda di Judex

Facti. Apakah menyimpan untuk digunakan

itu dilihat dari tertangkap tangan atau pada penafsirannya ?

1. Ketentuan Pasal 244 KUHAP dan

praktek yurisprudensi masih tetap

dipertahankan. (Usul: revisi Pasal

244 KUHAP, diajukan oleh Prof.Dr.

Krisna Harahap, SH.Ml-I.).

2. Hakim dalam memeriksa dan

memutus perkara tetap berpedoman

pada surat dakwaan.

3. Tergantung pada surat dakwaannya.

4 a. Dalam suatu urusan bisnis misalnya antara

penjual dan pembeli, kreditur dengan debitur

pada umumnya diikat dalam suatu perjanjian.

Namun tidak selamanya para pihak dapat

melaksanakan perjanjian tersebut dengan dasar

itikad baik. Dalam praktek terdapat kecen•

derungan terdapat pihak tertentu mempunyai

itikad buruk untuk melakukan tindak pidana

(misalnya Pasal 372 KUH Pidana atau Pasal

378 KUH Pidana) dengan menggunakan

modus perjanjian, sebagai alasan menghindari

tanggung jawab Pidana. Terhadap masalah

tersebut terdapat perbedaan pendapat.

a. Kedua pendapat tersebut benar, ter•

gantung kasusnya.

Page 77: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

1. Pendapatpertama: padaumumnyaputusanJF

maupun JJ, perkara pidana yang didalamnya mengandung suatu ikatan perjanjian berpendapat bahwa penyelesaiannya masuk dalam ranah perdata. Dengan demikian putusan JJ menyatakan "tolak kasasi".

2. Pendapat kedua : penyelesaiannya secara kasuistis, tidak semua perkara pidana yang mengandung suatu ikatan perjanjian diselesaikan dalam ranah perdata, apabila dapat dibuktikan ada unsur itikad buruk, dengan sengaja untuk memiliki dengan melawan hukum maka masuk dalam ranah pidana.

b. Sehubungan dengan alasan Kasasi yang mempermasalahkan berat ringannya pidana, pada dasamya putusan MA menolak dengan alasan tidak tunduk pada pemeriksaan kasasi, tetapi merupakan kewenangan JF. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah berat ringannya hukuman merupakan fakta atau merupakan masalah hukum ? Terhadap masalah ini dikalangan Hakim Agung Terdapat perbedaan pendapat :

1. Pendapat pertama : bahwa meskipun tidak ada alasan hukum lain menjadi pintu membatalkan putusan JF karena dalam mempertimbangkan unsur-unsur pidana sudah tepat dan benar, MA dapat saja memperbaiki/ mengubah pidana yang dijatuhkan JF, sebab alasan berat ringannya pidana merupakan masalah hukum dan keadilan, dan tunduk pada pemeriksaan Kasasi. MA sebagai pengaclilan tertinggi tidak boleh tersandera dengan Pidana yang dijatuhkan JF, apabila MA berpendapat terdapat alasan yang mendasar/elementer, contoh kasus: Amir merasa lapar kemuclian mencuri ubi/singkong dua biji untuk dimakan. JF menjatuhkan Pidana 1 tahun 6 bulan. Dari segi normatif JF sudah tepat dan tidak salah, tetapi dari segi keadilan tentu saja tidak memenuhi rasa keadilan. Apakah MAmembiarkan masalah semacam ini ? Prinsip dasar putusan mengandung tiga aspek yaitu yuridis, sosiologis, dan filosofis.

b. Berat ringannya pidana merupakan kewenangan Judex Facti dan tidak tunduk pada pemeriksaan kasasi. Akan

tetapi bila clitemukan pertimbangan hukum JF kurang cukup beralasan (onvoldoende gemotiveerd), sehingga MA dapat memutus dengan amar :

1. Tolak Perbaikan jika yang menga- jukan kasasi Terdakwa.

2. Kabul kasasijika yang mengajukan kasasi JPU.

Page 78: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Pendapat kedua : JJ tidak dapat memper•

baiki pidana yang dijatuhkan JF kecuali

terdapat alasan hukum lain menjadi pintu

untuk membatalkan putusan kemudian

memperbaiki hukuman. Berat ringannya

hukuman pidana tidak tunduk pada

pemeriksaan Kasasi.

c. Dalam surat dakwaan JPU tidak memuat

tentang pidana tambahan : misalnya Pasal 18

UU Tipikor atau pasal 26 KUHPM, namun

dalam praktek selama ini JF dalam amar

putusannya tetap menjatuhkan pidana tambahan

"pemecatan dari dinas militer''. Terhadap

masalah ini terdapat perbedaan pendapat di

kalangan Hakim Agung.

1. Pendapat pertama : JF dapat dibenarkan dan

tidak salah menerapkan hukum, apabila

mejatuhkan pidana tambahan meskipun

tidak dirumuskan dalam surat dakwaan

2. Pendapat kedua : JF tidak dapat dibenarkan

menjatuhkan pidana tambahan yang tidak

didakwakan dalam surat dakwaan, sebab

dakwaan merupakan dasar pemeriksaan

perkara dipersidangan.

c. Masalah pidana tambahan adalah

diskresi dari Hakim (vide Pasal 35

KUHP);

Sekalipun tidak didakwakan, Hakim

dapat menjatuhkan pidana tambahan.

E. NON TEKNIS

1 Dalam banyak perkara yang diajukan pemerik-

saan Kasasi, baik terdakwa maupun JPU

seringkali menjadi alasan bahwa JF tidak

menyarnpaikan putusan, memori atau kontra,

terdakwa tidak didampingi PH, Hakim

memeriksa perkara seorang diri, meskipun dalam

berita acara ditanda tangani oleh majelis, akan

tetapi hal ini diabaikan dan di anggap angin Ialu

saja, tanpa ada sanksi dan konsekuensi hukum

dalam putusan JJ. Padahal masalah ini sangat

serius bagi para pencari keadilan.

Bagaimana sikap Mahkamah Agung mengenai hal ini?

a. Tidak akan membatalkan putusan.

b. Masalah mengenai perilaku Hakim-

nya, merupakan pelanggaran Kode

Etik dan berada di bawah pengawasan

MA.

66

Page 79: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

cM...:)--

12. Dr. Salman Luthan, SH., MH. (12

13. Sri Murwahyuni, SH., MH.

(13.

r, )

2 Pelaksanaan Pasal 45a Undang-Undang Nomor

5 tahun 2004 tentang Mahkamah Agung jo

Undang-Undang nomor 3 tahun 2009 dan SEMA

nomor 11 tahun 2010. Pennasalahan : Direktorat

Pranata dan Tata Laksana Perkara Pidana

masih menerima berkas perkara yang jelas•

jelas telah dibatasi dalam pasal 45a dan SEMA

nomor 11 tahun 2010, dikarenakan Pengadilan

pengaju belum mendapat kejelasan apa untulc

mengirimkan surat penetapan yang disyaratkan

dalam SEMA tersebut, untuk dikirimkan ke

Mahkamah Agung, melalui Panitera Mahkamah

Agung Cq Panitera Muda Pidana atau melalui

Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Pidana,

Pennasalahan di tingkat PN, ada

pemaksaan agar berkas tersebut tetap

dikirim ke MA. Usul :

1. Perlu ada Policy dari Pimpinan

dengan pedoman apabila dakwaan tunggal yang memenuhi Pasal 45A,

maka berkas dikembalikan ke PN;

2. Agar di Pratalak ditempatkan

orang yang tepat (Hakim), karena

lebih memahami teknis perkara;

Ditetapkan di Tangerang, 10 Maret 2012

Para Peserta Rapat :

I. Hakim-Hakim Agung :

1. Dr. H.M. Hatta Ali., SH., MH.

2. Djoko Sarwoko, SH., MH.

3. Dr. Artidjo Alkostar, SH., MH.

4. H.M. Imron Anwari, SH., Sp.N., MH.

5. Timur P. Manurung, SH., MH.

6. Drs. Mansur Kartayasa, SH., MH.

7. Prof. Komariah E. Sapadjaja, SH.

8. Dr. H.M. Zaharuddin Utama, SH. M.M.

9. Dr. Andi Abu Ayyub Saleh, SH., MM.

10. Prof. Dr. Surya Jaya, SH., MHum.

11. Achmad Yamanie, SH., MH.

~~

( 1 /~-) .

(7. , )

(8. .. . . 1foq. )

(9. . .. . )

(10 ~

(11 .•~ )

efbf )

Page 80: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Prof. Dr. Krisna Harahap, SH., MH.

3. Leopold Luhut Hutagalung, SH., MH.

4. Sophian Marthabaya, SH.

5. H. Surachmin, SH., MH.

6. Prof. Dr. H. Abdul Latif, SH., MHum.

7. H. Syamsul Rakan Chaniago, SH., MH.

8. Prof. Dr. Mohammad Askin, SH.

15. Suhadi, SH., MH. (15· · " ····L

16. Prof. Dr. Gayus T. Lumbun, SH., MH. (16 ~.)

14. Dr. Sofyan Sitompul, SH., MH. (14 :v-4·-.~,. '{..).

t""'")

17. Dr. Ors. H. Dudu Duswara Machmudin, SH., M.Bi.-~;>-J······, ; )

(18. . ) 18. Dr. Andi Samsan Nganro, SH., MH.

Page 81: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

BASIL RAPAT KAMAR PERDATA

Rapat kamar perdata MARI yang diselenggarak:an pada tanggal 14 s .d. 16 Maret

2011 di Hotel Aryaduta Tangerang, diikuti Hakim-Hakim Agung Kamar Perdata,

dihasilkan hal-hal sebagai berikut:

SUB KAMAR PERDATA UMUM

I. Tentang surat kuasa yang telah menyebutkan untuk digunakan dari tingkat

pertama sampai tingkat kasasi dan peninjauan kembali, disepakati:

a. Apabila surat kuasa tersebut dengan tegas menyebut untuk digunakan dalam

tingkat Pengadilan Negeri, Banding dan Kasasi, maka tidak diperlukan lagi

surat kuasa khusus untuk tingkat banding dan kasasi. (pedoman : SEMA No. 6

Tahun 1994).

b. Namun apabila surat kuasa menyebutk:an untuk digunakan sampai dengan

pemeriksaan peninjauan kembali, tetap diperlukan adanya surat kuasa khusus

untuk peninjauan kembali, karena peninjauan kembali bukan peradilan tingkat

selanjutnya dari tingkat pertama, banding dan kasasi. Peninjauan kembali

merupakan upaya hukum luar biasa sehingga harus dibedakan dengan upaya

hukum biasa dalam penilaian atas keberadaan surat kuasa yang digunakan.

c. Ketentuan sebagaimana tersebut dalam SEMA No.6 Tahun 1994 huruf a dan b

tersebut juga berlaku terhadap surat kuasa yang diberikan secara lisan.

d. Di dalam surat kuasa harus disebutkan secara lengkap dan jelas pihak pemberi

kuasa, pihak penerima kuasa dan pokok sengketa. Penyebutan dan kawan-

kawan sebagai pengganti penyebutan para pihak, menjadikan surat kuasa tidak

'jelas dan tidak: dapat diterima.

e. Sesuai dengan Pasal 1816 KUHPer, dalam hal pengangkatan seorang kuasa

baru untuk menjalankan suatu urusan yang sama, menyebabkan ditariknya

kembali kuasa yang lama, terhitung mulai hari diberitahukannya kepada orang

yang diberi kuasa semula tentang pengangkatan tersebut.

f. Surat kuasa yang di buat di Luar Negeri harus dilegalisasi oleh perwakilan RI yaitu Kedutaan atau Konsulat Jenderal di tempat surat kuasa tersebut di boat. (Peraturan Menteri Luar Negeri No. 09/A/KP/XW2006/01 tanggal 28 Desember 2006). Selanjutnya dibubuhi pemateraian kemudian di kantor Pos (naazegelen).

g. Jaksa sebagai Pengacara Negara tidak dapat mewakili BUMN (Pesero), karena

BUMN tersebut berstatus badan hukum Privat (vide Pasal 11 UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN).

h. Surat kuasa insidentil bisa diterima dalam beracara di semua tingkat Peradilan

i. Surat kuasa dengan cap jempol harus di legalisasi dihadapan Pejabat Umum,

untuk Jawa dan Madura (oleh Notaris, Hakim/KPN) dan untuk luar Jawa (oleh

Notaris/Panitera).

Page 82: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

II. Tentang gugatan yang diajukan oleh orang yang buta huruf, disepakati:

a. Sesuai dengan Pasal 120 HIR, maka Penggugat tersebut menghadap kepada

Ketua Pengadilan untuk mengemukakan maksudnya akan mengajukan gugatan

dengan menyebutkan alasan-alasannya, untuk itu Ketua Pengadilan membuat

catatan gugatan. Untuk pekerjaan tersebut Ketua bisa menunjuk salah seorang

Hakim. Yang menandatangani catatan gugatan tersebut KPN atau Hakim yang

ditunjuk.

b. Apabila dalam gugatan tersebut juga dicantumkan adanya pemberian kuasa,

maka penandatanganan catatan gugatan tersebut oleh KPN atau Hakim harus

diatas meterai Rp. 6.000,-.

c. Untuk surat gugatan yang hanya dibubuhi cap jempol sebagai pengganti tanda

tangan, maka gugatan tersebut hams dinyatakan tidak dapat diterima (niet

ontvankelijkverklaard).

III. Tentang mengajukan gugatan secara prodeo, disepakati:

a. Sebagai acuan Pasal 237 s.d. 241 HIR/ 273 s.d. 277 RBg

b. Gugatan tersebut di daftar dan dicatat dalam buku jumal dengan demikian

mendapat nomor perkara, dengan panjar biaya perkara nihil, kemudian

diserahkan ke Ketua Pengadilan/Majelis Hakim untuk disidangkan guna

mendengar tanggapan Tergugat.

c. Dikabulkan atau ditolaknya permohonan beracara secara prodeo dituangkan

dalam putusan sela, terhadap putusan tersebut tidak dapat diajukan upaya

hukum.

d. Permohonan beracara secara prodeo pada tingkat banding dan kasasi, hams

diajukan dalam tenggang 14 hari setelah putusan diumumkan/diberitahukan

kepada yang bersangkutan.

Kemudian disidangkan untuk mendengar pihak lawan oleh Pengadilan Negeri

dan dibuat berita acaranya, hasilnya dikirim ke PT atau MA.

PT atau MA akan mengeluarkan penetapan dikabulkan atau ditolak. Penetapan PT atau MA tersebut diberitahukan oleh Juru sita PN kepada yang bersangkutan. Tenggang waktu mengajukan banding atau kasasi 14 hari setelah pemberitahuan penetapan tersebut di atas.

IV. Tentang putusan bij verstek.

a. Apabila Tergugat tidak datang pada hari itu perkara akan diperiksa lagi pula

tidak menyuruh orang lain menghadap sebagai wakilnya meskipun ia dipanggil

secara patut maka tuntutan itu diterima dengan putusan tidak hadir kecuali

kalau nyata pengadilan negeri bahwa tuntutan itu melawan hukum atau tiada

beralasan. Meskipun Tergugat mengirim jawaban secara tertulis, apabila dia

teta~ tidak hadir di persidangan, putusan tetap dijatuhkan secara verstek (tidak

hadir) karena asas pemeriksaan di persidangan adalah oral dan langsung.

b. Akan tetapi jika si Tergugat didalam surat jawabanya mengemukakan eksepsi

bahwa pengadilan negeri tidak berkuasa maka meskipun dia sendiri atau

wakilnya tidak datang maka PN wajib memberi keputusan tentang eksepsi

Page 83: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

tersebut sesudah didengar Penggugat. Sehingga amarnya berbunyi sebagai

berikut:

Kalau tidak berwenang :

Dalam eksepsi :

- Menyatakan Tergugat yang telah dipanggil dengan patut tidak hadir.

- Mengabulkan eksepsi Tergugat tersebut dengan verstek.

- Menyatakan PN tidak berwenang.

Kalau berwenang :

Dalam eksepsi :

- Menyatakan Tergugat yang telah dipanggil dengan patut tidak hadir.

- Menolak eksepsi Tergugat tersebut dengan verstek.

- Menyatakan PN berwenang.

Dalam pokok perkara :

- Mengabulkan gugatan Penggugat dst.

c. Dalam menjatuhkan putusan secara verstek tidak diperlukan pembuktian,

Hakim dapat mengabulkan gugatan kecuali gugatan tidak beralasan atau

melanggar hukum, hal ini cukup dilihat dari posita surat gugatan, Pasal 125

ayat 1 HIR.

d. Berdasarkan Pasal 128 HIR, putusan verstek dapat dimohonkan eksekusi

setelah lewat 14 hari sejak putusan tersebut diberitahukan.

e. Tenggang waktu mengajukan perlawanan (verzet) terhadap putusan verstek

adalah sebagaimana tercantum dalam Pasal 129 HIR yaitu :

➢ Jika pemberitahuan putusan kepada Tergugat sendiri, maka tenggang

waktu ➢ untuk verzet 14 hari setelah pemberitahuan tersebut.

Jika pemberitahuan tidak disampaikan kepada Tergugat sendiri (via Lurah atau Kepala Desa), maka : ➢ tenggang waktu verzet sampai hari kedelapan sesudah dilakukan teguran

atau aanmanning. ➢ Apabila dalam aanmanning Tergugat tidak hadir, tenggang waktu verzet

sampai hari kedelapan setelah dilaksanakan sita eksekusi (Pasal 197 HIR).

➢ Dalam hal dijalankannya eksekusi riil, maka berdasarkan Pasal 83 Rv, pada saat eksekusi dijalankan verzet masih dapat diajukan.

f. Pada prinsipnya amar putusan dalam perkara verzet adalah :

➢ Dalam hal menolak perlawanan (verzet):

- Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang tidak benar.

- Mempertahank:an putusan verstek nomor . .. . . . .. . . tanggal .....................

(dimungkinkan adanya perubahan amar sesuai hasil pemeriksaan pokok

perkara, kecuali ......................... sehingga selengkapnya sebagai berikut :

......................... ).

Page 84: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

➢ Dalam hal mengabulkan perlawanan (verzet):

- Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang benar.

- Membatalkan putusan verstek nomor........tanggal................

- Menolak gugatan Penggugat/Terlawan untuk seluruhnya atau Menyatakan

gugatan Penggugat/Terlawan tidak dapat diterima.

V. Tentang pemberitahuan putusan yang disampaikan melalui Lurah atau Kepala

Desa, maka tenggang waktu pengajuan upaya hukum atas putusan tersebut adalah

dihitung setelah Lurah atau Kepala Desa menyampaikan pemberitahuan tersebut

kepada yang bersangkutan. Apabila di dalam berkas tidak terlampir keterangan

tersebut, maka diperintahkan PN untuk menanyakan ke Lurah/Kepala Desa.

VI. Tentang gugatan rekonvensi, sesuai dengan Pasal 132 a ayat (1) HIR gugatan

rekonvensi dapat diajukan dalam tiap-tiap perkara tanpa harus ada hubungan objek

sengketa dengan perkara konvensi, kecuali terhadap:

1. Kalau Penggugat konvensi menuntut karena sesuatu kualitas sedang dalam

rekonvensi mengenai dirinya sendiri dan sebaliknya.

2. Kalau PN yang memeriksa perkara konvensi secara absolut tidak berwenang.

3. Dalam perkara perselisihan tentang menjalankan putusan Hakim.

VII.Tentang Perlawanan:

a. Perlawan pihaklpartij verzet berdasarkan Pasal 207 HIR hanya dapat diajukan

dengan alasan bahwa Pelawan sudah memenuhi kewajibannya sesuai amar

putusan atau apabila terjadi kesalahan dalam prosedur penyitaan, misalnya

kelebihan luas objek yang disita, vide Pasal 197 HIR.

b. Perlawanan pihak ketigalderden verzet, berdasarkan Pasal 195 ayat (6) jo. Pasal

208 HIR, hanya dapat diajukan karena alasan "kepemilikan" (HM, HGB, HGU, HP dan Gadai tanah).

c. Bagi Pemegang Hak Tanggungan tidak perlu mengajukan derden verzetl

perlawanan karena obyek Hak Tanggungan tidak dapat diletakkan Sita Eksekusi

kecuali Sita Persamaan, karena itu tidak mungkin dilakukan lelang eksekusi.

VIIl. Pemegang Hak Tanggungan yang beritikad baik harus dilindungi sekalipun kemudian diketahui bahwa pemberi hak tanggungan adalah orang yang tidak berhak.

IX· Perlindungan harus diberikan kepada pembeli yang itikad baik sekalipun kemudian diketahui bahwa penjual adalah orang yang tidak berhak (obyek jual beli tanah).

~emilik asal hanya dapat mengajukan gugatan ganti rugi kepada Penjual yang tidak berhak.

X. Penyitaan terhadap asset BUMN (Persero) dapat dilakukan, pelaksanaannya mengacu ke Pasal 197 HIR.

XI. DEWASA adalah cakap bertindak didalam hukum yaitu orang yang telah mencapai umur 18 Tahun atau telah kawin.

Page 85: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

XII. Tentang akibat perceraian, berdasarkan Pasal 47 dan Pasal 50 UUP, dengan

adanya perceraian tidak menjadikan kekuasaan orang tua berakhir dan tidak

memunculkan Perwalian (bandingkan dengan Pasal 299 KUHPerd), Hakim

harus menunjuk salah satu dari kedua orang tua sebagai pihak yang memelihara

dan mendidik anak tersebut (Pasal 41 UUP).

XIII. Pelelangan Hale Tanggungan yang dilakukan oleh Kreditur sendiri melalui kantor

lelang, apabila terlelang tidak mau mengosongkan obyek yang dilelang tidak

dapat dilakukan pengosongan berdasarkan Pasal 200 ayat ( 11) HIR melainkan

harus diajukan gugatan. Karena pelelangan 7 tersebut diatas bukan lelang

eksekusi melainkan lelang sukarela.

XIV. Tentang pengajuan memori PK.

Berdasarkan Pasal 71 UUMA, memori PK harus diajukan bersama-sama dengan

pengajuan permohonan PK. Pengajuan memori PK yang tidak bersamaan dengan

pengajuan permohonan PK, maka permohonan PK tersebut haruslah dinyatakan

tidak dapat diterima.

XV. Tentang PK kedua kali.

Pada prinsipnya PK kedua kali tidak diperkenankan, kecuali ada dua putusan

yang saling bertentangan baik dalam putusan Perdata, Pidana, TUN maupun

Agama. (usul Review SEMA No. 10 Tahun 2009).

XVI. Tentang kesalahan menerapkan Hukum Acara Perdata, dalam hal :

1. Eksepsi tentang kewenangan mengadili yang tidak diputus terlebih dahulu dengan Putusan Sela.

2. Intervensi terhadap sita jaminan. Tentang "pihak keluarga serta orang

terdekat' yang disumpah sebagai saksi dalam perkara perceraian.

Maka putusan Judex Facti pada masalah nomor l, harus dibatalkan karena salah menerapkan hukum acara (Pasal 136 HIR).

Putusan Judex Facti pada masalah nomor 2, juga harus dibatalkan karena salah menerapkan hukum, upaya hukum keberatan terhadap sita harus dilakukan dengan perlawanan.

Putusan Judex Facti pada masalah nomor 3, berkenaan dengan gugatan perceraian dengan alasan cekcok terus-menerus dan tidak dapat didamaikam lagi (Pasal 19 F PP No. 9 tahun 1975), Hakim wajib mendengar keterangan orang terdekat dan keluarga terdekat kedua belah pihak (Pasal 22 ayat (2) PP No.9 Tahun 1975), bukan disumpah sebagai saksi.

Sehingga putusan Judex Facti tersebut salah menerapkan hukum.

XVII.Tentang Nebis In Idem. Menyimpangi ketentuan Pasal 1917 KUHPerd Majelis

Kasasi dapat menganggap sebagai Nebis In Idem meskipun pihaknya tidak sama persis dengan perkara terdahulu asalkan : Pada prinsipnya pihaknya sama meskipun ada penambahan pihak; Status objek perkara telah ditentukan dalam putusan terdahulu;

Page 86: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

xvm. Titik singgung kewenangan PN dan PA. Apabila terdapat perlawanan terhadap

eksekusi putusan PA tentang "kepemilikan" obyek sengketa (derden verzet)

yang Pelawannya bukan sebagai pihak dalam perkara yang diputus oleh PA

tersebut, maka perlawanan diajukan ke Pengadilan Negeri (lihat penjelasan

Pasal 50 ayat 2 p.3 UU No.3 Tahun 2006).

SUB KAMAR PERDATA KHUSUS

I. Percepatan penyelesaian perkara Perselisihan Hubungan Industrial yang

mempunyai batasan waktu yang begitu singkat, disepakati :

• Untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara PHI sesuai dengan

batas waktu yang ditentukan pada court calender (matrik).

• Untuk pengetikan dan koreksi putusan oleh Panitera Pengganti diberi

kesempatan selama 7 (tujuh) hari terhitung setelah ucapan, sedangkan untuk

koreksi Pl dan P3 masing-masing diberi waktu selama 3 (tiga) hari.

• Pada advisblaad, masing-masing HakimAgung harus mencantumkan tanggal

penerimaan dan mengeluarkan berkas perkara.

II. Kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial dalam memeriksa perkara

Pemutusan Hubungan Kerja terhadap Perusahaan yang dinyatakan pailit oleh

Pengadilan Niaga, disepakati:

• Dalam hal Debitur sudah dinyatakan pailit, maka Pengadilan Hubungan

Industrial tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara pemutusan

hubungan kerja.

ID. Kadaluarsa dalam mengajukan gugatan perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja dan perselisihan Hak, disepakati:

• Kadaluarsa dalam gugatan PHK pada PHI ada 2 macam :

a. Kadaluarsa umum diatur dalam Pasal 96 Undang-Undang No.13 Tahon

2003 selama 2 tahun.

b. Kadaluarsa khusus diatur dalam Pasal 82 Undang-Undang No.2 Tahun

2004 jo Pasal 171 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 selama 1 tahun.

Amar putusan: Tolak gugatan.

IV. Kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial untuk memeriksa perkara PHK yang alasan PHKnya masih dalam proses pemeriksaan pengadilan pidana., disepakati:

• Dal~ perkara-perkara PHI yang alasan PHK nya masih dalam proses

pemeriksaan pengadilan pidana, maka perkara PHI tersebut harus ditunda

sampai adanya putusan pidana yang berkekuatan hokum tetap.

V. Surat kuasa mengenai batasan Serikat Pekerja dan Organisasi Pengusaha yang

dapat menjadi kuasa hokum sehubungan ketentuan Pasal 87 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004, disepakati :

• Yang berhak menerima kuasa dari pekerja yang ingin mengajukan gugatan dalam perkara PHI yaitu:

Page 87: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

4

PROF. DR. VALERINE J.L.K, SH, MA

HAKIM AGUNG MARI

s DR. H. ABDURRAHMAN, SH, MH

HAKIM ACRJNG MARI

5 ... ~

9 DRS. H. HABIBURAHMAN, M.HUM HAKIM AGUNG MARI

10

DRS. H. HAMDAN,S.H.,MH.

HAKIM AGUNG MARI

11

H. MUHAMMAD TAUFIK, SH, MH

HAKIM AGUNG MARJ

12

13

I MADE TARA, SH.

DR. H. IMAM SOEBECHI, SH MH

HAKIM AGUNG MARI

HAKIM AGUNG MARI

------

SH.,MCL,CN

SIP., M.HUM. HAKIM AGUNG MARI

-

-

M.Hum.

16 ~-~ ..........

1. Pengurus dari serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi

yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan pada perusahaan

yang bersangkutan, dimana pekerja/buruh tersebut menjadi anggotanya

dibuktikan dengan kartu tanda anggota; atau

2. Pengurus federasi serikat pekerja/serikat buruh yang merupakan gabungan

serikat pekerja/serikat buruh yang terbentuk pada perusahaan.

VI. Sikap Mahkamah Agung dan Pengadilan Hubungan Industrial terhadap putusan

Mahkamah Konstitusi No. 27 dan No. 37, disepakati :

Untuk putusan Mahkamah Konstitusi No.27/PUU-IX/2011 dan putusan

Mahkamah Konstitusi No.37/PUU-IX/2011 dapat diterapkan sesuai dengan

putusan Mahkamah Konstitusi.

NO. NAMA JABATAN TANDA TANGAN

1 DR. H. AHMAD KAMIL, SH., M.HUM. WAKILKE'IUA MAIIKAMAH AGUNG RI BIDANG

l ..~. .J- NON YUDISIAL

2 H.ATJA SONDJAJA, SH.. MH KElUA SUB KAMAll PERDATA UMUM MA RI ~ ..........

c:::::ltJ.,, ..... 3 DR. H. MOHAMMAD SALEH, SH.,MH. KElUA SUB KAMAR PERDATA KHUSUS MARI 3 ........: ...~ .. :"-

~.

- /!#.{fl.............

6 PROF DR. MiEKE KOMAR,

HAKIM ACRJNG MARJ /] J ~f.'.' .......

1 PROF. REHNGENA PURBA,SH.,MS HAKIM AGUNG MARI 7 ......){~ J

8 PROF. DR. H.ABDUL MANAN, SH., I

~-·······

9 .......... f.i. 1.'vs-,-,.,:.y ............

11. ......~~-. l ('"\ \l \7

I~~-~~~ ....

13 .... ~.r~v

14 MARINA SIDABUTAR, SH.. MH I

HAKIM AGUNG MARI !~~!=""'"

IS DR. H. MUCHTAR ZAMZAMI.S.H., HAKIM AGUNG MARI 15.

. ... -.

PROF. DR. ABDUL GANI ABDULLAH SH. ' HAKIM AGUNG MARI

Page 88: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

}

~

-

v "'

/

A~h.:_·1.~ 17 H. SUWARDI, SH..MH HAKIM AGUNO MARI 17. /J,.':.=:.3 L.-,.-

-

PROF. DR. TAKDIR RAHMADI, SH,, c-o :_ 18

LLM. HAKIM AGUNO MARI -~~ .........

I"

19 SYAMSUL MAARIF, SH., LLM., PH.D HAKIM AGUNG MARI 19

-~ -,_A

.....

-"

' /} 20 H. DIRWOTO, SH HAKIM AGUNO MARI 20/d-:::;"'""'

.

21 H.DJAFNI DJ AM AL, SH.. MH. HAKIM AGUNO MARI

21:.~h:,;"

,.

-....::»

ll IH. MAHDI vu ·~ 11Nll4 N~UllUN. - ,. SH.,MH. HAKIM AGUNG MARI ~~ ...

23 DR. SUPANDI,SH.,M.HUM HAKIM AGUNO MARI 23..... \.b·· -

24 H.YUUUS, SH., MH HAKIM AGUNO MARI ~f,µ_£~ ......

25 SOLTON! MOHDALLY, SH., MH. HAKIAI AGUNO MARI 25... ~ ..

26 DR. NURUL ELMIYAH, SH., MH HAKIM AGUNG MARI ~ .............

~ 27 JONOSIHONO, SH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INDUSTRIAL 27 ...... ~.

- ~

28 BERNARD, SH., MH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INOOSTRIAL ~ ... ·::;;"""' ..........

29 ARIEF SOEDnTO, SH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INDUSTRIAL 29...+:~·

l'lf~""VI"'"''

/ ...

30 ARSYAD, SH., MH HAKIM AD HOC HUBUNGAN lNOOSTRIAL rr~ ......

31 FAUZAN, SH., MH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INOOSTRIAL 31. ... ~i,

-,

32 H. BUYUNG MARIZAL, SH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INDUSTRIAL

33 HORADIN SARAGIH, SH., MH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INDUSTRIAL 33. ..... ~~

~v, ..........

34 DWI TJAHYO SOEWARSONO, SH HAKIM AD HOC HUBUNGAN INOOSTRIAL

-.A......-/ . ·-· '"'7 .........

Page 89: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

RAPAT KAMAR PERDATA KHUSUS

TANGERANG, 19-21 APRIL 2012

KEPAILITAN DAN PKPU

1. Bagaimana bila Pemohon Pailit mendalil-

kan utang yang telah jatuh waktu dan dapat

ditagih tersebut, adalah hutang Kreditor lain

yang tidak mengajukan permohonan Pailit.

1. Seharusnya yang dapat memohonkan Pailit

adalah Kreditor yang hutangnya sudah jatuh

waktu.

2. Kapan pengertian Cessie dapat dikatakan

sebagai Kreditor dari Debitor yang

dirnohonkan pailit?

2. Setelah penyerahan itu diberitahukan kepada Debitor, atau secara tertulis disetujui dan diakuinya. (pasal 613 ayat (2) KUHPdt).

3. Bagaimana apabila setelah tenggang waktu

270 hari tersebut habis, para pihak baik

Debitor maupun Kreditor, masih minta waktu

perpanjangan dalam rangka perdamaian.

3. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang telah menentukan secara tegas tenggang waktu

tersebut, dan tidak dapat diperpanjang lagi

dengan alasan apapun. (Pasal 228 ayat 6 UU

No. 37 Tahun 2004, Penundaan kewajiban

pembayaran utang tetap, tidak boleh melebihi

270 hari).

4. Apabila tuntutan hukum terhadap Debitor

adalah tuntutan pekerja/para pekerja perusa•

haan Debitor tentang perselisihan hak atau

perselisihan PHK di PHI sedang berjalan,

apakah tuntutan/ perkara di PHI tersebut gugur

dengan diajukannya permohonan pemyataan

pailit ? sebab apabila dalam rapat verivikasi

terjadi perbedaan perhitungan mengenai

besamya tuntutan hak para pekerja/kewajiban

Perusahaan (Debitor) (mengingat di PHI

sedang dimasalahkan mengenai perselisihan

hak atau perselisihan PHK), dan Hakim

Pengawas tidak dapat menyelesaikannya,

maka masalah tersebut harus diputus oleh

Majelis Hakim pemutus melalui mekanisme

Renvoi Proses/prosedur. Karena Hakim

Niaga tidak berwenang memutus mengenai

perselisihan hak dan PHK, maka akan

menyatakan tidak berwenang dan menyatakan

PHI yang berwenang. Sehingga perselisihan

tersebut akan diajukan kembali ke PHI.

4. Penyelesaian perselisihan hubungan industrial

pada Pengadilan Hubungan Industrial

sebelum adanya putusan pemyataan pailit,

tetap dilanjutkan sampai Hakim menjatuhkan

putusan. Apabila putusan PHI diucapkan

sebelum putusan Pailit maka basil putusan

PHI diajukan dalam rapat verifikasi.

5. Apakah setiap permohonan untuk menunjuk TIM KURATOR harus dikabulkan di dalam permohonan pemyataan pailit.

5. Tidak

Jika perkara pailit tersebut sederhana, tidak

sulit, harta pailit dan jumlah Kreditor tidak

banyak, karena fee kurator dibebankan kepada

harta pailit. Lagi pula yang dimaksud Kurator

dalam undang-undang kepailitan adalah Balai

Harta Peninggalan dan orang perseorangan

yang diangkat oleh Pengadilan. Penambahan

Kurator dapat diajukan di dalam rapat Kreditor

Page 90: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

berdasarkan Pasal 71 ayat ( 1) dan (2 UU

Kepailitan. Apabila di dalam pengurusan dan

pemberesan harta pailit terdapat kesulitan atau

terdapat banyak Kreditor atau Debitor tidak

kooperatif di dalam memberikan keterangan

tentang harta pailit, maka penambahan Kurator

dapat dilakukan berdasarkan pennohonan

kurator, permintaan Debitor atau usul Hakim

Pengawas. (kasuistis).

6. Bagaimana Amar putusan Kasasi dalam hal mengabulkan permohonan Pemyataan Pailit?

6. Mengabulkan permohonan Kasasi. Memba- talkan Putusan PN Niaga Mengadili Sendiri

Mengabulkan permohonan pemyataan Pailit

tersebut.

Menyatakan Debitur Pailit dengan segala

akibatnya.

Memerintahkan Ketua PN Niaga untuk

menunjuk Kurator dan Hakim Pengawas yang

terdapat pada PN Niaga tersebut.

7. Apakah badan hukum yang dalam proses

likuidasi dapat dipailitkan ? 7. Dapat

Apabila Likuidator belum selesai melakukan

pemberesan atau dengan kata lain perseroan

masih dalam proses pemberesan (dalam

likuidasi) maka badan hukum tersebut masih

ada, sehingga badan hukum da1am likuidasi

masih dapat dimohonkan pailit.

8. Apakah kantor Pajak adalah Kreditor yang dapat mengajukan permohonan pemyataan pailit?

8. Termasuk Kreditor Karena ada kewajiban

yang harus dibayarkan oleh Debitor. Apabila

pada waktu verifikasi mengajukan hak

tagihnya kepada kurator.

9. Apakah penjualan asset pailit melalui lelang 9. Tidak perlu Penetapan

umum harus dengan Penetapan Hakim Karena berdasarkan Pasal 185 ayat (2) UU

Pengawas ? Kepailitan, Penetapan Hakim Pengawas hanya

untuk penjualan di bawah tangan.

10. Bagaimana mekanisme pelaksanaan penno• 10. Sampai saat ini belum dapat dilaksana• honan Gijzeling dalam Kepailitan? kan, oleh karena belum ada Peraturan

Pelaksanaannya, dalam hal biaya, prosedur dan kerjasama dengan instansi terkait.

11.Apakah Kurator dapat melakukan penyitaan 11. Dapat harta Debitor tanpa ada Penetapan penyitaan

dari Pengadilan Niaga? Karena pailit pada dasamya adalah merupakan

sita umum, sehingga tidak diperlukan lagi Penetapan dari pengadilan.

12.Apakah syarat adanya Kreditor kedua cukup 12. Tidak cukup dibuktikan dengan Neraca/ Laporan keuangan

dari Termohon pailit, yang sudah diaudit Kreditor kedua harus dibuktikan dengan bukti

maupun yang belum? surat (loan agreement) atau saksi (Kreditor

kedua hadir), kecuali diakui oleh Debitor.

13. Apakah secured Kreditor berhak mengajukan 13. Secured Kreditor dapat mengajukan permo• permohonan pailit ? honan pailit dengan kehilangan kedudukannya

sebagai kreditor separatis.

Page 91: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

14. Apakah Kurator berhak mewakili pemegang

saham yang sudah pailit untuk menghadiri

dan mengeluarkan suara dalam RUPS?

14. Dalam UU PT tegas-tegas tidak memisahkan

hak yang melekat pada seorang pemegang

saham dari kepemilikan saham karena yang

berhak adalah pemegang saham, tetapi yang

menjual sahamnya adalah Kurator, bukan

pemegang saham.

15. Apakah pembagian asset pailit yang sudah ter•

jual memerlukan Penetapan Majelis pemutus?

15. Tidak perlu.

16. Bagaimana menentukan imbalan jasa

Kurator? Bagaimana apabila Kurator lebih

dari satu orang ?

16. Belum ada aturan yang pasti untuk

menghitung biaya kepalitan dan imbalan jasa

Kurator, meskipun sudah ada Kep.Men.Keh.

RI No.M.09-HT.05.10 Tahun 1998 tentang

besarnya imbalan jasa Kurator. Hakim

Pengawas perlu mempertimbangkan apakah

besarnya imbalan jasa Kurator yang diajukan

tersebut wajar. Keputusan Menteri tersebut

tidak sesuai dengan pasal 17 ayat (3) UU No.

37 Tahun 2004. Usul: Revisi Kep.Men.Keh. RI No.M.09-HT.05.10 Tahun 1998 supaya menentukan nilai maksimal (nilai kewajaran fee profesi) Meskipun Kurator lebih dari 1 (satu) orang, jasa Kurator tetap dibayar untuk

1 (satu) orang.

17. Apakah dalam PKPU, Pengurus yang memerlukan keterangan saksi atau ahli harus berbentuk "permohonan" kepada Hakim Pengawas?

17. Tata cara pemanggilan saksi atau ahli tetap

mengacu pada HIR.

18. Siapakah yang melakukan pemanggilan Kreditor lain untuk menghadiri sidang permohonan pailit, pengadilan atau Pemohon pailit?

18. Yang harus melakukan pemanggilan adalah

Pemohon pailit, oleh karena Kreditor lain

merupakan bagian pembuktian dari Pemohon

pailit.

19. Dimana diajukan gugatan terhadap Kurator

yang melakukan kelalaian/ kesalahan

atau kerugian dalam melaksanakan tugas

pengurusan atau pemberesan ?

19. Gugatan diajukan ke Pengadilan Niaga di

wilayah hukum Kurator bertempat tinggal.

20. Dapatkah pembuktian secara materiil diterapkan dalam menghadapi pennohonan pailit yang diajukan oleh Debitor ?

20. Hakim harus berhati-hati apabila menghadapi

permohonan pailit yang diajukan oleh

Debitor, sehingga Hakim harus aktif dengan

memanggil Kreditor-Kreditor lain yang

disebut dalam permohonan tersebut. 21. Apakah PT dapat dipailitkan atas utang yang

dibuat oleh Direktur yang melanggar AD/ ART?

21. PT tidak dapat dipailitkan

22. Bagaimanakah apabila Debitor menolak

pembayaran fee Kurator, setelah permohonan pailit ditolak di tingkat Kasasi dan PK ?

2~. Kurator dapat mengajukan gugatan perbuatan

melawan hukum kepada Pengadilan Negeri.

23. Debitor pailit sebagai Penggugat di perkara

perdata dalam tingkat banding. Apabila

terhadap perkara perdata tersebut hendak

diajukan permohonan Kasasi, siapakah yang

berhak mengajukan kasasi ?

23. Begitu debitor dinyatakan pailit maka kurator

akan mewakili debitor sebagai penggugat.

79

Page 92: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

24. Bahwa undang-undang kepailitan sendiri

telah menentukan bahwa terhadap perkara

PKPU baik PKPU sementara maupun PKPU

tetap tidak ada upaya hukum, hal ini dapat

dilihat pada :

- Pasal 235 Undang-Undang No. 37 Tahun

2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang, bahwa

"terhadap putusan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang tidak dapat diajukan

upaya hukum apapun".

- Pasal 290 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang, bahwa

"Apabila Pengadilan telah menyatakan

Debitor Pailit maka terhadap putusan

pemyataan pailit tersebut berlaku ketentuan

tentang kepailitan sebagaimana dimaksud

dalam Bab II, kecuali Pasal 11, Pasal 12,

Pasal 13 dan Pasal 13".

- Sudah beberapa perkara semacam ini diteruskan kepada Majelis Hakim Kasasi

maupun Peninjauan Kembali, perkara

tersebut diputus dengan berbagai amar,

ada yang menolak dalam arti menyatakan

tidak dapat diterima, akan tetapi ada juga

yang menerima permohonan kasasi dan

mengabulkan permohonan kasasi.

- Hal ini menimbulkan disparitas putusan.

24. Putusan PKPU berdasarkan pasal 235

tidak dapat diajukan upaya hukum apapun.

Sedangkan upaya hokum terhadap putusan

Pailit berdasarkan atas PKPU sebagaimana

dimaksud dalam pasal 290 tetap diterima

pendaftarannya dan perkara diteruskan

kepada Majelis Hakim.

25. Apakah Sub kamar Perdata Khusus dapat

menyepakati kriteria atau parameter dari

terbukti sederhana?

25. Lihat penjelasan Pasal 8 ayat 4 UU No. 37

Tahun 2004. Parametemya adalah pada waktu

pembuktian adanya hutang.

26. Apakah pemegang Hak Tanggungan dpt

mengajukan permohonan pailit terhadap

Debitur pemegang Hak Tanggungan?

Mengingat kreditur mestinya dapat menggu•

nakan hak istimewanya yaitu mengambil

pelunasan hutang melalui penjualan objek Hak Tanggungan.

26. Pemegang Hak Tanggungan dapatmengajukan

permohononan pailit karena dia juga sebagai

kreditor sebagaimana penjelasan Pasal 2 ayat

I UU No. 37 Tahun 2004.

27. Bahwa di dalam UU Kepailitan No. 37 Th

2004 tdk mengatur mengenai eksepsi, tetapi faktanya ada judex facti yg mengabulkan

perihal Eksepsi, km dalam Undang-undang tersebut sdh menentukan fakta yang harus dibuktikan haruslah sederhana (Ps 8 ayat

4), dengan demikian kalau para pihak

mengajukan Eksepsi, perkara tersebut

mestinya diterjemahkan menjadi tidak sederhana.

27. Dalam UU Kepailitan tidak mengenal

adanya eksepsi, kecuali eksepsi mengenai

kewenangan mengadili.

Page 93: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

28. Bahwa ada Judex Facti dalam amarnya

"Mengabulkan Pailit sebagian" kalau

menyatakan pailit mengapa sebagian dan

bagian mana yang dipailitkan dan bagian

mana yang tidak dipailitkan ?

28. Terhadap permohonan pemyataan pailit amar

putusannya hanya berisi kabul atau tolak.

Sehingga tidak ada amar yang berbunyi kabul

sebagian.

29. Dalam hal pembagian harta pailit disamping

kreditur konkuren terdapat hutang pajak dan

gaji buruh mana hak yang didahulukan antara

pajak dan buruh ?

29. ketika budel pailit tidak cukup dibagi rata

maka dibagi berdasarkan perimbangan dan proporsional.

30. Ketika perkara diperiksa di Pengadilan debitor

membayar utang salah satu kreditor sehingga

kreditor tinggal 1 (satu). Apakah dalam

keadaan demikian debitor dapat dinyatakan

pailit? sesuai pasal 1 ayat (1) UU Kepailitan

danPKPU?

30. Tidak memenuhi syarat Pasal 2 ayat 1 UU No.

3 7 Tahun 2004.

31. Apakah dalam suatu perikatan yang memuat 31. Berdasar pasal 303 UU No 3 7 Tahun 2004

klausula arbitrase dapat diajukan permohonan Kreditor bisa mengajukan permohonan

pemyataan pailit mana yang harus lebih pemyataan pailit di Pengadilan Niaga.

dahulu diajukan?

32. Apabila perkara di PHI sedang berjalan 32. Berdasar Pasal 29 UU No 37 Tahun 2004

terhadap debitor mengenai perselisihan hak terhadap perkara PHI tersebut harus

debitor dinyatakan pailit. Apakah perkara PHI dinyatakan gugur.

gugur (pasal 29) atau diteruskan ?

RAK KEKAVAANINTELEKTUAL

MEREK

1. MEREK /LOGO/ KOP SURAT/ EMBLEM 1. Merek yang dilindungi adalah merek yang BADGE dan lainnya dari sekolah yang sudah terdaftar dalam Daftar Umum Merek. (Pasal 3 lama dibubarkan tapi masih digunakan oleh dan 28 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001). Alumninya. Sejauh mana Alumni dapat terus Merek tersebut dapat digunakan sepanjang menggunakan Merek/logo/emblem tersebut ? telah terdaftar menurut ketentuan yang

berlaku.

2. Penghapusan pendaftaran Merek menurut 2. Penjelasan Pasal 61 ayat (2) menyatakan Pasal 61 ayat (2) huruf A Undang-Undang "Yang ctimaksuddengan "pemakaian terakhir" No. 15 Tahun 2001, tentang merek tidak adalah penggunaan merek tersebut pada digunakan selama 3 (tiga tahun) berturut• produksi barang atau jasa yg diperdagangkan. turut.

• Saat pemakaian terakhir tersebut dihitung Bagaimana cara menghitung saat pemakaian dari tanggal terakhir pemakaian sekalipun terakhir? barang yang bersangkutan masih beredar di

masyarakat. (Undang Undang No. 15 Tahun

2001 tidakjelas).

O Pengaturan di Indonesia hanya mengga•

bungkan " tidak digunakan selama 3 tahun

berturut turut sejak tanggal pendaftarannya

atau pemakaian terakhin " ditambah dengan

Penjelasan Pasal 66, yang_dapat menyusahkan

dalam praktek pembuktian. (seperti dalam

perkara O 18 PK/Pdt.Sus/2008 ).

Kompilasi Peraturan Sfstem Kamar Pada Mahkamah Agung

Page 94: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

• Menetapkan suatu merek tidak digunakan

selama 3 tahun berturut turut sejak tanggal

pendaftarannya tidak terlalu sulit untuk

dibuktikan, dapat dilakukan melalui suatu

survey dan pemeriksaan pasar.

• Menentukan waktu 3 tahun berturut turut

sejak pemakaian terakhir amat sulit dan perlu

diwaspadai.

• Studi banding di bawah ini adalah lebih tegas, dan "pemakaian terakhir'' dihitung 3 (atau 5) tahun sampai dengan satu bulan sebelum

tanggal pennohonan pendaftaran pembatalan,

kecuali dapat dibuktikan pemilik terdaftar

telah/pemah menggunakan produk tersebut

dengan itikad baik dalam jangka waktu tsb.

• UU Singapore mengatur dalam Trade-marks

Act 1992 tentang "non-use" 5 tahun: ...that the appellants ' registered trademark be expunged from the registerfor lack of bona vide usefor a period of 5 years ending one month before the date of application.. (case Swanfu Trading Pte v. Beyer Electrical Enterprises Pte (1994).

• Hukum Australia senada.... A trademark may also be removed if it has been on the register for

a continuous period of 3 years (up to one month before the removal application) and at no time

during that period has the registered owner

used the trademark in good faith in Australia. (The Trademarks Act 1995,s 92 (4)(b))

Usul : Pasal 61 ayat (2) huruf a UU No. 15

Tahun 2001 tentang "atau pemakaian terakhir"

dibaca suatu merek yang tidak digunakan 3

tahun berturut-turut dihitung sebelum tanggal

pennohonan penghapusan pendaftaran merek

diajukan.

3. Bagaimana proses Legalisasi Dokumen Asing

agar dapat diterima sebagai alat Bukti pada

peradilan Indonesia?

3. Sertifikat dan dokumen asing sebagai alat

Bukti harus memenuhi syarat syarat legalisasi

baik di negara asal dan di Indonesia,

disamping itu juga harus diterjemahkan oleh

seorang penterjemah resmi dan disumpah

di RI. Dokumen asing harus dilegalisir oleh

Notaris Publik dan disahkan oleh konsul

jenderal RI di negara setempat.

Berkaitan dengan Pengakuan Hak Merk

Terkenal harus diwaspadai jangan terkecoh

oleh jumlahnya pendaftaran di berbagai

negara.

Yang perlu diwaspadai adalah perihal Alat

Pembuktian. Dalam perkara no 067/RP & Pl

PK/MerekNII/081 terdapat kekurangan dalam

82

Page 95: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

proses Legalisasi Dokumen Asing. Termohon

kasasi dalam perkara aquo mengandalkan diri

pada Sertifikat Surat Penegasan dari Dewan

Promosi Perdagangan lntemasional China

tertanggal IO Mei 2007 ,yang menjelaskan

bahwa "dokumen dokumen Penggugat

(sekarang Termohon PK) yg berasal dr

negara asalnya RRC dan dijadikan bukti dalam

perkara aquo telah disesuaikan dengan aslinya

dan semua isinya benar serta berlaku" . .. padahal Dewan Promosi Perdagangan Intemasional China tidak berkompeten dan tidak berwenang untuk melegalisasi tetang

keabsahan suatu Dokumen Otentik yang akan

clipergunakansebagai alat bukti di persidangan

di peradilan Indonesia. Disamping temyata

Sertifikat ini juga tidak tercantum dalam

daftar bukti Pl- P35, dan bukti no 23 temyata

bukan seperti diakuinya sebagai Sertifkat

Surat Penegasan tersebut.

4. Apakah yang dimaksud dengan itikad tidak

baik dalarn UU Merek?

4. Lihat Penjelasan Pasal UU No.15 Tahun 2001

5. Apakah gugatan pembatalan Merek terkenal

mengharuskan pemilik Merek terse but menga-

jukan pendaftaran Mereknya ke Dirjen HaKI?

5. Ya

DESAIN INDUSTRI

1. Bagaimana cara menentukan adanya unsur

"baru" atau "novelty" dalam suatu desain?

1. Harus clinilai dari unsur-unsur Penampakan/

Visual Features yg terlihat, bukan pada ada-

nya persamaan pada unsur-unsur Fungsional/

Functional features produk tersebut. Mata

adalah penilai yang paling tepat untuk

memperoleh suatu kesan umum dari objek

secara keseluruhan.(The Eye was to be

the judge of similarities and differences? Pengembangan dari suatu desain yang

terdaftar dapat dianggap suatu Novelty Scope

of Desain Rights/ Luas lingkup hak desain :

• Protecting visual appearance/ proteksi penampakkan visual

• Must have a distinctive visual appeal/ harus memiliki suatu penampakan tersendiri/khas

• Design = overall appearance resulting from visual features of the product. If the appearance is not new and distinc-tive there

can be no design right/ Penampakan secara

menyeluruh sebagai basil dari unsur unsur

penampakan visual dari produk tersebut.

Jika Penampakan tidak bersifat Baru dan

distinctive/ Khas, maka tidak ada hak Desain

(hal. 27 Intelectual Property oleh Jill Mc

Keough, Australia, 2004)

.

Page 96: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

ARBITRASE

I. Apakah putusan Arbitrase Intemasional

yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 4,

5, 62 (2) dan Pasal 66 huruf c yaitu dapat

diajukan sebagai alasan untuk tidak dapat

dilaksanakannya eksekusi ?

I. Putusan Arbitrase Intemasional Tidak

dapat dilaksanakan (eksekusi) oleh karena

melanggar ketertiban umum (public policy,

public order, dll) lihat pasal 66 UU No. 30

Tahun 1999.

2. Apakah ketentuan Pasal 70 (dengan Penje-

lasan) tentang alasan pembatalan putusan

arbitrase domestik yang bersifat limitatif bisa

disimpangi ?

2. Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung tidak dapat disimpangi.

3. Apakah putusan Arbitrase yang telah diputus

ditingkat banding pada Mahkamah Agung

yang memutus dalam tingkat pertama dan

terakhir sesuai dengan Pasal 72 (4) dapat

diajukan upaya hukum luar biasa (PK)

3. Dapat, sebagaimana ditentukan Undang-

Undang Mahkamah Agung.

4. Apakah kata-kata banding ke Mahkamah

Agung (Pasal 72 (4)) sama pengertian hukum-

nya dengan kata-kata banding yang diajukan

ke Pengadilan Tinggi, dimana untuk banding

ke Pangadilan Tinggi tidak wajib ada memori

banding (mohon koreksi) dan kewenangan

untuk memeriksa kembali fakta hukum seperti

kewenangan Pengadilan N egeri.

4. Kata banding diartikan kasasi (Perlu Pleno).

Penjelasan Pasal 72 ayat (4) Undang-Undang

No. 30 Tahun 1999 menyebutkan bahwa yang

dimaksud banding adalah hanya terhadap

pem-batalan putusan arbitrase sebagaimana

dimaksud Pasal 70.

5. Apakah pembatalan putusan Arbitrase dapat

diajukan oleh Pihak Ketiga yang tidak ikut

sebagai pihak dalam perjanjian Arbitrase.

5. Pembatalan putusan arbitrase hanya dapat

diajukan oleh para pihak (Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999).

6. Apakah putusan Arbitrase Syari'ah yang

dimintakan pelaksanaanya ke Pengadilan

Negeri dapat diterima PN sesuai dengan Pasal

61 UU No. 30 Tahun 1999, setelah adanya

SEMA No.08 tahun 2008 tanggal 10 Oktober

2008 tentang Eksekusi Putusan Badan Arbitrase Syari 'ah

6. PN tidak berwenang.

7. Sebelum ada proses kepailitan, ada putusan

arbitrase tentang utang, putusan Arbitrase be- lum di dieksekusi. Apakah putusan Arbitrase

yang belum di eksekusi dapat diperhitungkan sebagai utang dalam perkara Kepailitan?

7. Dapat (lihat penjelasan Pasal 2 UU Kepailitan)

8. Pada saat Arbitrase dan proses kepailitan sedang berjalan bersamaan.

8. Sekalipun ada klausula arbitrase pengadilan

niaga tetap berwenang memeriksa perkara

pennohonan pemyataan pailit. (lihat

penjelasan Pasal 303 UU Kepailitan)

9. Pembatalan Putusan Arbitrase Penggugat

dan Tergugat sepakat untuk menyelesaikan

sengketa di Arbitrase, Bank Syariah tidak

puas dengan putusan Arbitrase mengajukan

pembatalan ke Pengadilan Agama, Pengadilan

Agama membatalkan putusan Arbitrase

dengan alasan karena sengketa Niaga

9. Berdasarkan Pasal 71 UU Arbitrase No.

30 Tahun 1999 Jo. SEMA No. 8 Tahun

2010 Pembatalan Putusan Arbitrase adalah

wewenang Pengadilan Negeri, Pengadilan

Agama tidak berwenang memeriksa dan

memutus gugatan pembatalan putusan

Arbitrase sekalipun berasal dari putusan

Arbitrase Syariah. (SEMA No. 8 Tahun 2010

mencabut SEMA No. 8 Tahun 2008).

Page 97: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

10. Perkara Arbitrase di daftar dengan nomor Regis-

ter Kasasi Perdata Khusus, kenyataannya perkara

tersebut adalah banding arbitrase. Di dalam amar

putus-an dicantumkan menerima permohonan

banding arbitrase, akan tetapi perkara tersebut di-

daftar dengan Nomor Register ---K/Pdt.Sus/20--.

Jika tetap perkara tersebut didaftar dengan perkara

kasasi, sedang memori kasasi tidak dilampirkan/

diajukan. Undang-Undang Mahakamah Agung

mewajibkan diaju-kan Memori Kasasi dalam hal

perkara tersebut diajukan upaya hukum kasasi.

10. Meskipun menggunakan istilah Banding, Pemo-

hon Banding Arbitrase wajib mengajukan Memori

Banding.

KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU)

1. Karena saat ini KPPU tidak mempergunakan

kelompok kerja, maka ditugaskanlah staf

sekretariat untuk beracara di pengadilan,

berupa penugasan dan staf sekretariat

mempergunakan surat tugas.

Di beberapa Pengadilan, KPPU diminta untuk

menyerahkan Surat Kuasa.

Bahkan ada juga diminta surat kuasa insidentil.

1. Suatu instansi pemerintah yang akan

mengadiri persidangan jika diwakili oleh

staf, cukup memberikan Surat Togas tanpa

meterai.

2. Dalam perkara keberatan terhadap putusan

KPPU, Pemohon disamping mengajukan

permohonan keberatan kepada Majelis Hakim,

juga mengajukan replik dan duplik. Dasar

yang dipakai adalah Pasal 8 PERMA No.03 Tahun 2005 tentang Tata cara pengajuan upaya

hukum terhadap putusan KPPU menentukan

bahwa "kecuali ditentukan lain dalam

Peraturan Mahkamah Agung ini, Hukum

Acara Perdata yang berlaku diterapkan pula

terhadap Pengadilan N egeri".

Apakah semua hukum acara perdata perlu

diterapkan terhadap persidangan keberatan

persaingan usaha?

2. Tidak perlu adanya replik dan duplik, sebab

PERMA No.03 Tahun 2005 Pasal 5 ayat (4)

menentukan bahwa pemeriksaan keberatan

dilakukan hanya atas dasar putusan KPPU

dan berkas perkara sebagaimana dimaksud

dalam ayat (2).

3. Apakah perlu pihak lain diajukan sebagai

pihak "Turut Termohon keberatan" dalam

keberatan, sebab pihak lain tersebut

sebagai pihak pada KPPU akan tetapi tidak

mengajukan keberatan pada Pengadilan Negeri.

3. Tidak harus ditarik/dijadikan Turut Termohon. Hal ini mengakibatkan semakin lamanya proses Pengadilan, dikarenakan Pengadilan harus mengirimkan relaas panggilan sidang kepada pihak lain yang berdomisili di wilayah

hukum yang berbeda, sehingga waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama.

4. UU No. 5 Tahun 1999 tidak mengatur adanya

PK terhadap perkara persaingan usaha, namun

dengan adanya ketentuan Pasal 8 PERMA

No. 03 Tahun 2005 dapat menjadi celah

untuk pengajuan PK, karena Hukum Acara

Perdata yang berlaku memungkinkan adanya

PK. Apakah dimungkin PK terhadap putusan

perkara persaingan usaha?.

4. Terhadap putusan perkara persaingan usaha

yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap

dimungkinkan untuk diajukan upaya hukum

luar biasa yaitu PK.

Page 98: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

5. Apakah terhadap KPPU dapat diajukan

gugatan PMH oleh FSP, dengan dasar gugatan

merasa dirugikan oleh KPPU karena KPPU

telah mempergunakan laporan yang telah

mereka cabut sebagai dasar KPPU untuk

memeriksa perkara Temasek.

5. Karena KPPU bukan Hakim, konsekwensinya

dapat digugat.

6. Apakah Majelis Hakim dapat meminta untuk

memeriksa alat bukti yang sebelumnya tidak

ada dalam putusan KPPU sebagai pemeriksaan

tambahan ? Mengingat ketentuan Pasal 5 ayat

(4)?.

6. Dimungkinkan berdasarkan Pasal 6 ayat ( 1)

PERMA No.03 Tahun 2005 menentukan

bahwa dalam ha) Majelis Hakim berpendapat

perlu pemeriksaan tambahan, maka melalui

putusan sela memerintahkan kepada KPPU

untuk dilakukan pemeriksaan tambahan.

Pemeriksaan tambahan adalah kebutuhan

dari Majelis Hakim yang menginginkan

suatu permasalahan dalam putusan menjadi

lebih jelas dengan melakukan pemeriksaan

tambahan.

7. Bagaimana cara penghitungan kembalijangka

waktu pemeriksaan basil Konsolidasi, sebab

Pengertian kalimat dihitung kembali masih

menimbulkan intrepretasi yang berbeda, ada

yang menafsirkan dihitung kembali sebagai

meneruskan sisa penghitungan waktu di

pengadilan yang ditunjuk dan ada yang

menafsirkan dihitung dari awal kembali

karena bagaimanapun hal tersebut merupakan

perkara yang berbeda dari segi pemohon

keberatannya. Perlu penegasan yang lebih

jelas mengenai dihitung kembali.

7. Dihitung dari awal lagi. Pasal 5 ayat (6)

PERMA 03 Tahun 2005 menentukan dalam

hal terjadi sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 4 ayat (4), jangka waktu pemeriksaan

dihitung kem bali sejak Majelis Hakim

menerima berkas perkara yang dikirim oleh

Pengadilan Negeri lain yang tidak ditunjuk

oleh Mahkamah Agung. Pasal 4 ayat (4)

menyatakan bahwa dalam hal keberatan

diajukan oleh lebih dari 1 (satu) Pelaku

Usaha untuk putusan KPPU yang sama

tetapi berbeda tempat kedudukan hukumnya,

KPPU dapat mengajukan permohonan tertulis

kepada Mahkamah Agung untuk menunjuk

salah satu Pengadilan Negeri disertai usulan

Pengadilan mana yang akan memeriksa

keberatan tersebut.

8. Bagaimana jika Judex factie memeriksa

keberatan perkara KPPU berdasarkan hukum acara perdata yang tidak mengenal bukti petunjuk, melainkan persangkaan ( 163 HIR),

sedangkan Pasal 42 Undang-Undang No.5

Tahun I 999 mengatur salah satu alat bukti yang digunakan KPPU adalah petunjuk?

8. Tidak menjadi permasalahan

9. Apakah setiap dokumen yang yang diajukan

sebagai bukti pada pemeriksaan perkara

persaingan usaha wajib dibubuhi materai dan

leges? mengingat hal tersebut sulit dilakukan

karena banyaknya dokumen yang ada.

~eberapa pengadilan memerintahkan hanya

hst dokumen saja yang dibubuhi materai.

9. Tidak perlu.

10. Apakah berkas yang diserahkan kepada KPPU

adalah berkas asli atau copy. Didasarkan atas

pendapat bahwa berkas perkara adalah minute

10. Berkas yang harus asli

Page 99: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

dan milikKPPU, makayangdiserahkan dalam

bentuk copy. Namun dikarenakan kendala

biaya, waktu dan banyaknya dokumen, KPPU

seringkali menyerahkan dokumen perkara

dalam bentuk asli, sebagaimana diperoleh

selama pemeriksaan di KPPU.

11. Apakah dibolehkan penerimaan bukti/ 11. Tidak dibolehkan( ditolak). Apabila hakim

dokumen selama dengan alasan kesempatan menganggap perlu dapat diterima melalui

pemohon untulc dalil-dalil dikarenakan dalam pemeriksaan tambahan.

hal ini bertindak sebagai judex factie dengan

memeriksa hal-hal materiil yang berkaitan

dengan pokok perkara, dan bukan Judex Juris

yang hanya memeriksa penerapan hukum.

Meskipun beberapa pengadilan yang ditemui

masih bersikap abu-abu dengan menyatakan

tetap menerima bukti yang diserahkan

Pemohon namun tetap mempertimbangkan

relevansinya dengan pokok perkara dan

dengan berkas perkara yang sudah diserahkan

atau bahkan menyatakan menolaknya pada

saat dibacakan putusan.

12. Terdapat jeda waktu yang cukup signifikan 12. Disarankan melakukan pemantauan secara

antara pendaftaran keberatan di PN oleh aktif kemungkinan pengajuan keberatan dari

Pemohon keberatan dan relaas panggilan beberapa Pengadilan. sidang, mengakibatkan misconclusion bagi KPPU dalam menyusun isi surat pennohonan penggabungan perkara. Kendala yang terjadi

adalah adanya keberatan di pengadilan

negeri lain, setelah terbitnya penetapan MA

mengenai penggabungan perkara. Pada sidang

pertama keberatan, KPPU seringkali meminta

penundaan sidang guna menunggu

ada/tidaknya keberatan di pengadilan negeri

yang berbeda.

13. Dalam beberapa perkara ditemui beberapa 13. Perhitungan sejak dimulainya pemerik-saan hakim yang beranggapan jangka waktu keberatan.

pemeriksaan 30 hari adalah terhitung sejak sidang pertama, meskipun belum ditetapkannya penggabungan perkara oleh MA.

14. Batas waktu pengajuan keberatan terhadap 14. Penyampaian putusan dalam website adalah Putusan KPPU adalah 14 hari setelah putusan sebagai publikasi sedangkan untuk proses dibacakan atau dimuat di website, apakah hal keberatan tetap mengikuti hukum acara yang tersebut tidak bertentangan dengan hukum berlaku. acara?

Ji.lea pengadilan negeri (PN) sebagai domisili Bagaimana penunjukan pengadilan negeri perkara yang sama, berbeda untuk masing- untuk proses perkara yang sama dengan masing terlapor, maka penunjukan PN harus domisili yang berbeda berdasarkan ketentuan mengacu dan tidak boleh menyimpangan dari apa? Peraturan Mahkamah Agung (Penna) No.3

Tahun 2005.

87

Page 100: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

· 15. Pada Pasal 4 ayat 1 dalam Perma No.3 Tahun

2005, tercantum bahwa keberatan diajukan

dalam waktu 14hari. Selanjutnya untuk proses

keberatan di PN juga ditentukan waktunya.

Apakah hal tersebut dimungkinkan ?

15. Untuk menangani suatu perkara, hakim harus

mengetahui subtansinya. Dengan demikian

para hakim diminta untuk mempelajari

dengan baik meskipun dalam Perma No.

3 Tahun 2005 terdapat ketentuan batas

waktu. Pada saat pemeriksaan, hakim diberi

kewenangan untuk melakukan pemeriksaan

tambahan jika diperlukan tetapi juga mengacu

pada ketentuan Perma No. 3 Tahun 2005.

16. Bagaimana mengatasi masalah jika terdapat

ketentuan bahwa relaas harus disampaikan

dalam waktu 3 hari ? Bagaimana jika PN

belum memutus perkara tersebut dan apa

sanksinya?

16. Jika memanggil pelaku usaha diluar wilayah

kewenangan maka sebelum relaas ketentuan

tersebut harus dijalankan. Suatu ketentuan

harus diikuti kewenangannya agar prosedur

yang dijalankan sah.

17. Apakah dalam perkara Putusan KPPU perlu dilakukan mediasi ?

17. Sebagaimana ketentuan dalam PERMA No.3

Tahun 2005, maka perkara tersebut tidak

mengenal mediasi.

18. Bagaimana jika pada saat keberatan diajukan ke Pengadilan N egeri, terdapat bukti

baru ?

18. Bukti baru tidak diperbolehkan, Pengadilan

Negeri hanya bisa memeriksa berdasarkan

bukti dari KPPU (PN keberatan tidak bisa

memeriksa bukti-bukti baru lagi), PN bisa

meminta KPPU untuk memeriksa bukti baru

yang dianggap penting oleh PN keberatan

(dikembalikan), PN memutuskan dengan

putusan sela jika PN meminta KPPU untuk

memeriksa bukti baru.

19. Bagaimana melakukan eksekusi putusan

KPPU yang ada ganti ruginya (inkracht)?

19. PN bisa mengeksekusi kalau perlu bisa

memakai sita jaminan dan KPPU bisa

meminta eksekusi melalui PN.

20. Dalam sidang apakah berhadapan dengan

pihak?

20. Iya, KPPU dan pihak yang berkeberatan.

21. Dalam pemeriksaan apakah kehadiran para

pihak adalah wajib?

21. Dalam proses perkara keberatan yang

masuk ke PN, para pihak harus hadir

dalam sidang pertama, pihak yang

mengajukan keberatan dan KPPU. (Pada

proses tersebut tidak ada jawab menjawab,

replik duplik karena keterbatasan waktu yaitu 30 hari).

BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK)

1. Keberatan terhadap Keputusan diajukan ke

Pengadilan Negeri di tempat BPSK berada.

Kapanjangka waktu. Berapa lama disidangkan

Pengadilan Negeri sejak keberatan diterima?

1. Ditetapkan dalam Undang-Undang No. 8

Tahun 1999, bahwa keberatan terhadap keputusan BPSK diselesaikan Pengadilan Negeri dalam waktu 21 hari dihitung sejak

hari pertama keberatan itu disidangkan,

tetapi tidak diatur berapa lama keberatan

itu mulai disidangkan sejak diterima di

Kepaniteraan Pengadilan Negeri, karena

21 hari itu tidak akan ada artinya bila

saat pendaftaran tidak ditentukan waktu

limitnya.

Page 101: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Siapa pihak-pihak yang diperiksa dalam 2. Yang menjacli pihak yaitu pihak yang perkara keberatan BPSK di Pengaclilan mengajukan keberatan: konsumen sebagai Negeri? Pemohon, bisa juga pelaku usaha -- pihak

yang diajukan keberatan pihak pelaku usaha

atau bisa juga sebaliknya konsumen, tetapi

ada kemungkinan yang diajukan adalah BPSK

dengan alasan keputusan BPSK tidak taat

azas yaitu manfaat, keselamatan konsumen,

atau kepastian hukum, yang diajukan baik

oleh konsumen maupun oleh pelaku usaha.

3. Tidak disyaratkan bentuk tertentu surat 3. Permohonan keberatan cukup diajukan

permohonan keberatan yang cliajukan ke dengan surat biasa yang ditandatangani oleh

Pengadilan N egeri dan demikian juga Pemohon atau kuasa dengan surat kuasa

pembuktian yang diajukan Pemohon. khusus atau melalui LPKSM yang jelas

maksud, tujuan dan alasannya.

Pembuktian cliajukan seperti pembuktian

perkara kontradiktif, bukti tertulis dinazegelen

dilafter, demikian juga pihak lawan dapat

dimintai keterangan baik oleh Pemohon atau

Termohon melalui Pengadilan atas biaya yang

bersangkutan.

4. Apakah BPSK dapat diajukan ke Pengaclilan 4. BPSK dapat diajukan oleh pihak yang Negeri oleh salah satu pihak atas alasan PMH. merasa dirugikan atas tindakannya, meskipun

badan ini berfungsi untuk membantu upaya

menyelesaikan sengketa antara konsumen

dengan pelaku usaha karena BPSK itu sendiri

bukanlah badan peradilan.

5. BPSK merupakan badan atau institusi 5. Jika konsumen/pelaku usaha mgm altematif dengan konsumen/produsen untuk mempercepat mata rantai penyelesaian menyelesaikan perselisihan mereka selain perselisihan mereka asal sengketa mereka kepada Peradilan Umum atau ADR. tidak terlalu safisticated, sebaiknya mereka

selain kepada Perdilan Umum atau ADR.

6. Apakah perkara keberatan atas keputusan 6. PK tidak cliperkenankan, mengingat

BPSK dapat diajukan PK ke MA setelah "semangat dan prinsip" yang ada dalam

upaya kasasi? eksistensinya BPSK adalah percepatan proses,

disyaratkan dengan pembatasan-pembatasan

waktu seperti disebut terdahulu serta alas an-

alasan perlindungan.

7. Sering timbul pennasalahan usaha jika 7. BPSK dapat langsung minta bantuan keputusan BPSK diajukan keberatan ke Kepolisian untuk memanggil yang ber- Pengadilan Negeri, salah satu pihak enggan sangkutan termasuk untuk menghadirkan untuk menghadap, dalam waktu yang saksi atau ahli sekalipun. ditentukan tersebut, apakah dapat minta BPSK juga dapat menyampaikan pangaduan kepada Pengadilan untuk memanggil mereka? bila konsumen/pelaku usaha melakukan

tindak pidana dalam bidang perlindungan

konsumen dan meminta untuk melakukan

tindakan penyidikan.

Page 102: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

8. Pasal 56 ayat (2) Undang-undang 8 tahun

1999 mengatakan bahwa : Para pihak dapat

mengajukan keberatan kepada Pengadilan

Negeri paling lambat 14 (empat belas) hari

kerja setelah menerima pemberitahuan

tersebut, Bagaimanakah halnya apabila dalam

suatu putusan BPSK dimana para pihak hadir

yaitu : pelaku usaha dan konsumen pada waktu

pembacaan atau pengucapan putusan hadir.

Apakah tenggang waktu untuk mengajukan

keberatan terhadap putusan BPSK tersebut,

clihitung sejak putusan diucapkan atau sejak

putusan tersebut diberitahukan sesuai dengan

pasal 56 ayat (2) Undang Undang No. 8 Tahun

1999.

8. Berlaku Ketentuan Hukum Acara Perdata

9. Apakah BPSK dapat diajukan ke Pengadilan

Negeri oleh salah satu pihak atas alasan PMH.

9. BPSK dapat digugat dalam perkara Perbuatan

Melawan Hukum.

10. BPSK merupakan badan atau institusi

altematif dengan konsumenlprodusen untuk

menyelesaikan perselisihan mereka selain

kepada Peradilan Umum atau ADR.

10. Ya.

PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL

1. ApakahAgen assuransi dan Sopir perusahaan 1. Agen bukan merupakan pekerja sebagaimana

dapat disebut sebagai pekerja sebagaimana diatur dalam UU No. 2 Tahun 2004 karena

dimaksud di dalam Undang-Undang No. 2 tidak menerima upah. Sedangkan dalam kasus

Tahun 2004. sopir Perusahaan termasuk lingkup PHI.

2. Jika sengketa perselisihan hubungan indus- 2. Pengadilan · Negeri harus menyatakan diri

trial diajukan ke Pengadilan Negeri sebagai tidak berwenang mengadili sengketa PHI.

gugatan perkara perdata bagaimana sikap Pengadilan Negeri?

3. Bagaimana bentukperjanjian kerjayang dapat 3. Perjanjian kerja tersebut bisa tertulis atau dijadikan bukti di Pengadilan Hubungan lisan, Industrial?

4. Bagairnana menentukan berakhir masa kerja, 4. Berakhirnya masa kerja dapat ditentukan

jika perjanjian kerja dibuat secara lisan. berdasarkan pembuktian kedua belah pihak.

5. Dalam gugatan pemutusan hubungan kerja, 5. Lihat Pasal 156, 157, 158, 160, 162, 164, 167, bagaimana menentukan kapan hubungan kerja 168, 169, 170, 172 UU. NO. 13 Tahun 2003 tersebut putus?, bagaimana pula terhadap PHK kolektif.

6. Dalam menentukanjumlah pembayaran,jenis 6. Pasal 156 pembayaran apa saja yang menjadi hak buruh.

7. Bagaimanakah perhitungan tenggang waktu 7. Pasal 110 UU No.2 Tahun 2004 Permohonan dalam hal penyelesaian perkara PHI dalam Kasasi diajukan dalam waktu selambat• tingkat kasasi di Mahkamah Agung. lambatnya 14 hari kerja terhitung sejak

putusan dibacakan atau terhitung sejak

tanggal menerima salinan putusan Saran

memori kasasi diajukan bersama-sama

dengan permohonan kasasi. Berkas perkara

selambat-lambatnya 14 hari kerja terhitun~

sejak tanggal penerimaan permohonan kasasi

Page 103: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

harus clisampaikan kepada Ketua Mahkamah

Agung.(Pasal 112) Usul: clibuatkan SEMA.

8. Kepada Pengadilan manakah cliajukan

perlawanan terhadap eksekusi perkara

PHI, apakah ke Pengadilan Negeri ataukah

Pengaclilan Hubungan Industri?, mengingat

kewenangan PHI berdasarkan UU No. 2

Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan

Hubungan Industrial pada pasal I butir I jo.

Pasal 2 adalah mengenai :

a) Perselisihan hale,

b) perselisihan kepentingan,

c) perselisihan pemutusan hubungan kerja dan

d) perselisihan antar serikat pekerja/ serikat

buruh hanya dalam satu perusahaan.

Sedangkan masalah rekening Bank adalah

mengenai sengketa kepemilikan.

8. Pengaclilan Negeri

9. Berdasarkan Pasal 58 UU tentang 9. Karena merupakan gugatan rekonpensi yang

Penyelesaian Perselisihan Hubungan merupakan penggabungan gugatan, biaya

Industrial ditentukan bahwa dalam proses perkara clibebankan kepada negara (nilai

beracara di PHI pihak-pihak yang berperkara gugatan dibawah Rp.150.000.000,-)

tidak dikenakan biaya yang nilai gugatannya

clibawah Rp. 150.000.000,- (seratus lima

puluh juta rupiah). Bagaimanakah apabila

terhadap perkara tersebut cliajukan gugatan

rekonpensi dengan nilai tuntutan lebih dari

Rp.150.000.000,-, apakah dikenakan biaya

taukah karena merupakan gugatan rekonpensi

yang merupakan penggabungan gugatan,

sehingga tidak perlu membayar pula ?

10. Berdasarkan HIR dan Buku II, pelaksanaan 10. Untuk melaksanakan putusan uit voerbaar putusan dengan uit voerbaar bij vooraad bij vooraad Ketua PHI harus mendapat

(UVB) harus diwajibkan kepada pemohon persetujuan MA. yang notabenenya

eksekusi untuk membayar uang jaminan. ekonomi lemah (apabila nilai gugatan di atas Bagaimanakah pelaksanaan putusan UVB Rp.150.000.000,-).

PHI yang diajukan oleh pemohon sebagai pekerja/buruh, apakah harus tetap diwajibkan membayar uang jaminan sebesar nilai amar putusan, mengingat gugatan diajukan secara

prodeo karena nilai gugatan di bawah Rp. 150.000.000,- atau diajukan oleh pekerja/

buruh yang notabenenya ekonomi lemah (apa- bila nilai gugatan di atas Rp.150.000.000,-).

11. Apakah perhitungan hari kerja hanya 11. Sepanjang sudah diatur oleh UU No. 2 Tahun

diterapkan terhadap proses penyelesaian 2004 maka diterapkan ketentuan UU tersebut

perkara pada Pengadilan Hubungan Industrial yaitu hari adalah hari kerja.

saja, tidak pada pada proses penyelesaian

perkara PIIl pada tingkat kasasi dan

peniajauan kembali?

Page 104: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

12. Apakah setiap perkara PHI yang diajukan

upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung

wajib disertai dengan memori kasasi.

12. Wajib

Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah

Agung menentukan: bahwa dalam hal

pengajuan permohonan kasasi Pemohon

Kasasi WAJIB menyampaikan pula MEMORI

KASASI yang memuat alasan-alasannya

dalam tenggang waktu 14 (empat belas)

hari kalender setelah permohonan dimaksud

dicatat dalam buku daftar.

13. Apakah bagian Pranata Mahkamah Agung

dapat meminta disetorkan biaya perkara kepada

Pihak,j ilea di dalam gugatan tidak dicantwnkan

nilai gugatan, akan tetapi pada amar putusan

PHI ditentukan nilai uang yang harus dibayar

oleh Tergugat yang nilainya lebih dari 150

juta.

13. Tidak dapat

Karena sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 58 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004, nilai uang Rp.150.000.000 ditentukan sebagaimana tercantum di dalam gugatan, bukan di dalam amar putusan.

14. Apakah Manager Personalia dan Kepala

Cabang suatu PT dapat mewakili perusahaan

di dalam persidangan PHI.

14. Dapat

Bilamana Manager personalia dan Kepala Cabang mendapat kuasa dari Direksi.

15. Apakah perusahaan dapat menghadirkan seseorang dari perusahan yang sama dengan pekerja/buruh untuk didengar keterangan sebagai saksi di persidangan?

15. Dapat sesuai dengan ketentuan HIR (Pasal 146).

16. Apakah biaya pendaftaran Perjanjian Bersama pada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dikutip per perjanjian atau per kasus, karena satu kasus terdiri dari beberapa perjanjian bersama tergantung berapa pekerja yang terlibat di dalam kasus tersebut.

16. Tidak dipungut biaya kecuali biaya PNBP (PP 53 Tahun 2008)

17. Apakah putusan PHI yang tidak mencantum- kan kewarganegaraan pada identitas pihak, batal?

17. Tidak, sepanjang unsur-unsur lain dari pasal tersebut sudah dipenuhi.

PARTAI POLITIK

1. Perselisihan apa saja yang termasuk ke dalam Perselisihan Partai Politik?

1. Lihat penjelasan Pasal 32 ayat (1) Undang- Undang No. 2 Tahun 2008.

2. Sejak diundangkannya Undang-Undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, sengketa partai politik yang diajukan ke Pengadilan Negeri antara lain sengketa kepengurusan partai, penggantian antara waktu (PAW) anggota DPR dari Partai Politik, me1anggar aturan partai, perbuatan melawan hukum dan lain-lain. Bagaimana membedakan perbuatan melawan hukum pada sengketa partai politik dengan perbuatan melawan hukum pada perkara perdata. Hal ini menyangkut kewenangan mengadili Pengadilan Negeri (Perdata).

2. SEMA No 04 Tahun 2003, menentukan bahwa sengketa partai politik adalah perkara yang menyangkut masalah internal dalam tubuh partai terkait yang belum diselesaikan secara musyawarah. Pengadilan Negen Perkara Perdata harus menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili perkara tersebut secara perdata. Disamping itu SEMA No. 11 Tahun 2008 tentang gugatan yang berkaitan dengan Partai Politik, juga menentukan bahwa gugatan yang berkaitan dengan Partai Politik adalah gugatan yang ditujukan ter- hadap pejabat/fungsionaris dalam tubuh

Page 105: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

partai, berkaitan dengan surat-surat keputusan

yang diterbitkannya dalam jangkauan internal

kepartaian.

3. Bahwa latar belakang lahirnya SEMA No.4

Tahun 2003 adalah masa Pemilu 2004, yang

diperkirakan terjadi meningkatnya kasus-

kasus perdata yang berkaitan dengan Pemilu.

ApakahSEMANo. 4 Tahun2003 masihrelevan

dipakai sebagai pedoman/petunjuk

Mahkamah Agung kepada para Hakim

setelah keluamya SEMA No. 11 Tahun 2008

dalam penanganan kasus-kasus Partai Politik

yang diajukan ke Pengadilan.

3. Dengan lahimya SEMA No. 11 Tahun 2008

maka SEMA No.4 Tahun 2003 dianggap tidak

berlaku kecuali ketentuan mengenai konflik

internal partai.

Kesepakatan ini clitandatangani oleh para Hakim Agung Sub Kamar Perdata Khusus

pada hari Jum'at tanggal 20 April 2012, bertempat di Hotel Aryaduta Tangerang :

1. Dr. H. Mohammad Saleh, SH., MH. ~ . 2. H. Muhammad Taufik SH., MH.

3. Prof. Dr. Valerine J L.K., SH., MA.

4. Prof. Rehngena Purba, SH., MS.

5. H. Djafni Djamal, SH., MH.

6. Syamsul Ma'arif, SH. LL.M., Ph.D.

7. Dr. Nurul Elmiyah, SH., MH.

93

Page 106: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

RUMUSAN HASIL RAPAT PLENO KAMAR AGAMA

MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK INDONESIA

TANGGAL 03 S/D 05 MEI 2012

No. MASALAH JAWABAN

1 Putusan Pengadilan Agama tidak menerima gugat- an Penggugat karena bukan tennasuk kewenangan Pengadilan Agama, tingkat banding menguatkan putusan tersebut, Majelis Kasasi membatalkan, mengadili sendiri: menyatakan Pengadilan Agama berwenang dan memerintahkan Pengadilan Agama memeriksa kembali perkara tersebut. • Bagaimana mekanismenya, apakah putusan

Mahkamah Agung tersebut merupakan putusan sela atau putusan akhir ?

• Apakah Pengadilan Agama yang memeriksa kembali perkara tersebut dengan nomor baru atau nomor lama?

• Bagaimana jika Penggugat tidak diketahui lagi tempat tinggalnya ?

• Putusan Mahkamah Agung berupa putusan akhir.

• Pengadilan Agama meneruskan memeriksa perkara lama sesuai bunyi putusan Mahkamah Agung tersebut. Pola bindalminnya dengan cara membuat jurnal/lembaran baru seperti pemeriksaan verzet/jurnal keuangan tidak ditutup dan sisa panjar tidak dikembalikan dulu kepada pihak, pertanggungjawabannya bahwa perkara tersebut belum berkekuatan hukum tetap. Penggugat dipanggil sesuai prosedur panggilan ghaib.

2 Dalam hal adanya eksepsi kompetensi relatif, apa- kah diperlukan adanya putusan sela? Bila tidak, apakah kelalaian hakim atas tidak adanya putusan sela menyebabkan putusan batal demi hukum ?

Pada prinsipnya harus dibuat putusan sela, namun bila tidak dibuat putusan sela tidak menyebabkan putusan batal demi hukum (Pasal 136 HIR).

3 Apakah perkara cerai talak yang sudah ikrar menjatuhkan talak dan sudah mendapatkan akta cerai dapat dibatallkan oleh putusan Peninjauan Kembali?

Pada prinsipnya harus diputus dengan tolak Peninjauan Kembali, kecuali ada kekhilafan yang nyata yang dilakukan oleh hakim dalam memberikan izin untuk mengikrarkan talak.

4 Apakah dibolehkan perkara perceraian menempuh upaya damai sesuai dengan prosedur Undang- Undang No. 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 50 Tahun 2009, tanpa proses mediasi ?

Proses mediasi tetap ditempuh dengan dikumulasikan dengan proses damai sesuai ketentuan undang-undang Peradilan Agama tersebut. Dalam perkara perceraian sebelum menempuh mediasi majelis hakim tetap membuka persidangan pertama guna mengupayakan perdamaian sebagaimana pasal 82 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989, bila belum berhasil dilanjutkan dengan proses mediasi.

Mediator hendaklah memperhatkan seluruh tuntutan yang ada dalam petitum tidak hanya terfokus pada tuntutan perceraian saja. Keberhasilan mediasi tidak hanya pada perkara pokok, akan tetapi tennasuk perkara asessoir.

5 Apakah anggota keluarga dapat menjadi saksi dalam perkara perceraian ?

Pada prinsipnya saksi keluarga hanya pada perkara cerai dengan alasan syiqaq dan harus disumpah, sekalipun pada perkara yang lain dapat memberikan keterangan tanpa disumpah.

Page 107: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

6 Apakah perkara wali adhal diajukan secara voluntair atau contensius ?

Tetap diajukan sebagai perkara voluntair berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 (Pasal 21 ayat 1-5).

7 Seorang Warga Negara Asing telah mendapat izin poligami dari negara asalnya. Apakah Warga

Negara Asing yang akan berpoligami dengan Warga Negara Indonesia di Indonesia tersebut harus mengajukan permohonan izin poligami terlebih dahulu ke Pengadilan Agama ?

Semua perkawinan yag akan dilangsung- kan di Indonesia harus dilakukan menurut hukum Indonesia.

8 Apakah gugatan nafkah anak, hadhanah dan harta bersama dapat dikumulasi diajukan setelah terjadi perceraian ?

Dapat dikumulasi sesuai dengan Pasal 86 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 50 Tahun 2009.

9 Perlukah dibuat Standard Operating Procedures untuk menghindari disparitas putusan pengadilan ?

Tidak perlu. Rapat Pleno ini dalam rangka mengurangi disparitas tersebut.

10 Diantara ahli waris ada yang mengajukan perkara kewarisan ke Pengadilan Negeri, sedangkan pewaris beragama Islam.

Dalam eksepsi ahli waris yang dijadikan Tergugat mengajukan eksepsi bahwa Pengadilan Negeri seharusnya menyatakan tidak berwenang, tetapi eksepsi tersebut ditolak. Apakah dibenarkan Tergugat di Pengadilan Negeri tersebut mengaju- kan gugatan ke Pengadilan Agama selaku Penggugat?

Agama pewaris menentukan pengadilan yang berwenang. Pewaris yang beragama Islam sengketa kewarisannya menjadi kewenangan peradilan agama, sedangkan pewaris yang beragama selainnya ke paradilan umum. Keterangan: Semua tuntutan dalam sengketa kewarisan pada peradilan agama pada dasarnya karena adanya perbuatan melawan hukum, hendaknya Pengadilan Agama memulai memberi petunjuk kepada Penggugat bagaimana seharusnya membuat surat gugatan, sebagaimana ketentuan Pasal 58 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 50 Tahun 2009.

11 Dalam Pasal 7 ayat (3) huruf (a) Kompilasi Hukum Islam dibolehkan menggabungkan ltsbat nikah dengan perceraian. Apakah ketentuan tersebut masih dapat diterapkan ?

Pada prinsipnya isbat nikah dalam rangka perceraian dapat dibenarkan, kecuali pernikahan yang akan diisbatkan tersebut nyata-nyata melanggar undang-undang.

12 Kumulasi isbat nikah atas pemikahan kedua dengan perceraian, sedangkan pemikahan yang kedua tersebut tidak mendapatkan persetujuan dari istri pertama dan belum mendapat izin poligami dari Pengadilan, apakah isbat nikah dan perceraian tersebut dapat dikumulasi ?

Tidak dapat diisbatkan kecuali sudah ada izin poligami dari Pengadilan Agama.

13 Apakah nikah sirri dapat diisbatkan ? Pada prinsipnya nikah sirri dapat diisbatkan sepanjang tidak melanggar undang-undang. Kekuatan hukum penetapan isbat nikah sama dengan kekuatan hukum akta nikah (Pasal 7 ayat ( 1) dan (2) Kompilasi Hukum Islam).

Page 108: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

14 Apakah anak yang lahir dalam perkawinan sirri

dapat mengajukan permohonan pengesahan anak

ke Pengadilan Agama?

Pada prinsipnya dapat mengajukan perkara

ke Pengadilan Agama. Permohonan

pengesahan anak dapat dikabulkan apabila

nikah sirri orang tuanya telah diisbatkan

berdasarkan penetapan Pengadilan

Agama.

15 Perkawinan Warga Negara Indonesia yang

beragama Islam yang dilakukan di luar negeri

dan telah lewat dari satu tahun tidak didaftarkan

di Indonesia, keduanya telah bercerai, kemudian mengajukan gugat pembagian harta bersama ke Pengadilan Agama. Apakah gugatan dapat diterima?

Perkawinan sesama Warga Negara

Indonesia sah bilamana dilakukan sesuai

persyaratan dalam Undang-Undang

No. 1 Tahun 1974, bila Warga Negara

Indonesia dan Warga Negara Asing

dilakukan menurut hokum yang berlaku

di negaranya dan bagi Warga Negara

Indonesia tidak melanggar ketentuan

undang-undang. Perkwainan di luar

negeri yang tidak didaftarkan setelah

melewati tenggang waktu satu tahun

(Pasal 56 ayat (2) Undang-Undang No. 1

Tahun 1974) tergolong perkawinan sirri,

oleh karenanya Pengadilan Agama belum

dapat menyelesaikan sengketa tersebut.

16 Apakah yang menjadi kriteria penentuan besaran mut'ah, nafkah iddah dan nafkah anak?

Kriterianya adalah dengan mempertim- bangkan kemampuan suami dan kepatutan, seperti lamanya masa perkawinan besaran take home pay suami.

17 Apakah dapat dibenarkan salah seorang ahli waris menjual harta warisan tanpa persetujuan waris lainnya?

Apakah pembeli harta warisan yang belum dibagi dapat digolongkan sebagai pembeli yang beritikat baik yang perlu dilindungi ?

Agama Islam melarang mendhalimi

orang lain termasuk seorang ahli waris

atau diantara ahli waris yang menjual

harta warisan yang masih atas nama

orang tuanya tanpa persetujuan ahli waris

lainnya.

Pada prinsipnya harta warisan tersebut

milik semua ahli waris, dengan demikian

pihak yang menjual tanpa persetujuan

ahli waris lainnya tidak dapat dibenarkan.

Apabila hal tersebut terjadi, maka pihak

yang menjual dapat dituntut untuk

mengganti kerugian ahli waris yang lain

tersebut senilai bagian masing-masing

menurut ketentuan hukum waris.

Keterangan : Diusulkan, pembeli yang

telah mengetahui bahwa surat-surat

obyek sengketa bukan atas nama penjual

tidak digolongkan sebagai pembeli yang

beritikad baik yang harus dilindungi.

18 Bolehkah pembagian harta warisan dapat

menyimpang dari ketentuan hukum faraidh ? Harta

warisan semula yang ditinggalkan oleh pewaris

adalah hanya sebuah pabrik (harta produktit)

harta tersebut tidak dibagi dan setelah berkembang

harta waris tersebut menjadi beberapa buah pabrik

Pada prisipnya berlaku azas ijbari, artinya

sesaat setelah pewaris meninggal dunia,

harta warisan berpindah kepemilikannya

kepada ahli waris. Pertanyaan tersebut

berkaitan dengan tradisi masyarakat yang

mempersengketakan harta warisan setelah

Page 109: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

atau basil lainnya barulah diajukan gugatan barta

warisan ke Pengadilan Agam.a ?

barta warisan tersebut berkembang,

berubah bentuk, bahkan berpindah tangan.

Harta warisan produktif tersebut barus

diperhitungkan sebagai basil usaha para

ahli waris secara kolektif.

19 Apakah anak tiri dapat diberi bagian dari harta

warisan karena tidak ada lagi ahli waris lain yang berhak?

Anak tiri yang dipelihara sejak kecil bukan

sebagai ahli waris, tetapi dapat diberi

bagian dari harta warisan berdasakan

wasiat wajibah.

20 Hibah orang tua (suami istri secara bersam-sama) kepada salah seorang anaknya, apakah salah seorang dari orang tua tersebut diperbolehkan mencabut hibah tersebut ?

Menurut Pasal 212 Kompilasi Hukum

Islam, hibah orang tua kepada anak• anaknya

dapat dicabut. Pencabutan hibah oleh

salah seorang orang tua tanpa persetujuan

suami/ isteri, sedangkan harta yang

dihibahkan tersebut adalah harta bersama,

maka hanya 14 dari obyek hibah saja yang

dapat dicabut, setelah hakirn

mempertimbangkan bahwa pencabutan

tersebut cukup beralasan.

Ditetapkan di Tangerang, S Mei 2012

Para Peserta Rapat :

1. Dr. H. Ahmad Kamil, S.H.,M.Hum.

2. Dr. H. Andi Syamsn Alam, S.H., M.H.

3. Dr. H. Habiburrahman, M.Hum.

4. Prof. Dr. H.Abdul Manan, S.H., S.I.P., M.Hum.

s. Prof. Dr. H. Rifyal Ka'bah, M.A.

6. Ors. H. Hamdan, S.H., M.H.

7. Dr. H. Mukhtar Zamzami, S.H., M.H.

8. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, S .H.

-----~ --~ -- ~--

97

Page 110: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

RUMUSAN HASIL RAPAT PLENO PADA KAMAR CANDRA

Rapat Pleno Kamar Candra Mahkamah Agung RI yang diselenggarakan pada

tanggal 11 s/d 13 April 2012 di Hotel Arya Duta, Karawaci Tangerang, yang dipimpin

oleh Ketua Kamar Candra telah membahas dan mendiskusikan permasalahan•

permasalahan yang diajukan oleh para peserta, diperoleh kesimpulan dan kesepakatan

sebagai berikut:

A. MASALAH TEKNIS

1 KRITERIA SENGKETA TUN DAN PERDATA KRITERIA SENGKETA TUN DAN PERDATA

Apa criteria yang dapat dipakai untuk menentukan suatu sengketa merupakan sengketa TUN atau sengketa Perdata ?

Untuk menentukan suatu sengketa merupakan

sengketa TUN atau sengketa Perdata (kepemilikan)

kriterianya:

a. Apabila yang menjadi objek sengketa

(objectum litis) tentang keabsahan KTUN,

maka merupakan sengketa TUN.

b. Apabila dalam posita gugatan memperma•

salahkan kewenangan, keabsahan Prosedur

penerbitan KTUN, maka tennasuk sengketa

TUN; atau

c. Apabila satu-satunya penentu apakah Hakim

dapat menguji keabsahan KTUN objek

sengketa adalah substansi hak karena tentang

hal tersebut menjadi kewenangan peradilan

perdata; atau

d. Apabila norma (kaidah) hukum TUN (hukum

publik) dapat menyelesaikan sengketanya,

maka dapat digolongkan sebagai sengketa

TUN.

2 PENGERTIAN TEORI MELEBUR

(OPPLOSING THEORY) PENGERTIAN TEORI MELEBUR

(OPPLOSING THEORY)

Kapan suatu KTUN dianggap melebur dalam perbuatan hukum perdata ?

Untuk memastikan suatu KTUN dianggap

melebur dalam perbuatan hukum perdata adalah

apabila secara factual KTUN yang disengketakan

dan diminta diuji keabsahannya ternyata :

a Jangkauan akhir dari KTUN diter bitkan

(tujuannya) dimaksudkan untuk melahirkan

suatu perbuatan hukum perdata. Termasuk

didalam-nya adalah KTUN-KTUN yang

diterbitkan dalam rangka mempersiapkan atau

menyelesaikan suatu perbuatan hukum perdata.

b. Apabila Tergugat dalam menerbitkan KTUN

objek sengketa akan menjadi subjek atau pihak

dalam perikatan perdata sebagai kelanjutan

KTUN objek sengketa tersebut.

Page 111: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

c. KTUN yang berkaitan dengan ijin cerai tidak digolongkan sebagai KTUN yang melebur dalam perbuat-an hukum perdatanya (ic. perceraian), karena ijin cerai merupakan

ketentuan hukum public (hukum administrasi) sebagai syarat bagi PNS yang akan melakukan perceraian. Dengan demikian ijin cerai merupakan lex spesialis dan dikecualikan dari penerapan teori melebur.

3 TENTANG KUALIFIKASI TINDAKAN

TERGUGAT DALAM DIKTUM/AMAR

PUTUSAN PTUN

TENTANG KUALIFIKASI TINDAKAN

TERGUGAT DALAM DIKTUM/AMAR

PUTUSAN PTUN

Apakah dalam amar putusan perlu dinyatakan (dicantumkan) kualifikasi tindakan Tergugat (ic. Terbuktinya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Tergugat dalam penerbitan KTUN yang digugat) sebagaimana yang diatur Buku II tentang Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan TUN, mengingat ketentuan Pasal S3 ~at ( 1) Undang• Undang Nomor S Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 terhadap tuntutan/petitum gugatan Penggugat hanya berisi agar KTUN yang disengketakan dinyatakan batal atau tidak sah ?

a. Paralel dengan ketentuan pasal 53 ayat (1) Undang-Undang PERATUN, kualifikasi pelanggaran di dalam penerbitan KTUN oleh Tergugat baik yang bersifat melanggar peraturan perundang-undangan ataupun yang bersifat melanggar aaupb sebaiknya tidak perlu dicantumkan dalam dictum putusan. Akan tetapi hakim harus mempertimbangkannya dan mencantumkannya dalam pertim- bangan hukum (ratio decidendi) putusan.

b. Perlu ada revisi terhadap Buku II Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan TUN.

4 TENTANG UANG PAKSA (DWANGSOM) TENTANG UANG PAKSA (DWANGSOM)

Apakah uang paksa dapat dimintakan dalam gugatan dan diputus oleh hakim, meskipun belum ada peraturan pelaksanaannya ?

a. Uang paksa dapat diminta dalam gugatan dan dapat dikabulkan serta dimuat dalam amar putusan. Hal ini untuk mendorong pemerintah segera membuat peraturan pelaksanaannya sebagaimana yang diperintahkan oleh undang• undang.

b. Agar setiap gugatan yang memuat tuntutan condemnatoir mencantumkan uang paksa.

5 TENTANG PERMOHONAN HUM TENTANG PERMOHONAN HUM

a. Apakah terhadap pennohonan HUM yang telah diputus "NO" karena telah lewat waktu dapat diajukan kembali ?

b. Bagaimanajika diajukan permohonan HUM oleh

beberapa Pemohon dalam perkara yang berbeda atas suatu peraturan yang sama, apakah harus diputus semua atau terhadap perkara berikutnya cukup dinyatakan "NO" ?

a. Permohonan HUM yang telah diputus ''NO" karena telah lewat waktu, apabila diajukan kembali maka harus dinyatakan tidak dapat diterima ("NO"), karena nebis in idem.

b. Apabila terdapat permohonan HUM diajukan oleh beberapa Pemohon dengan nomor perkara yang berbeda terhadap peraturan perundang• undang yang sama (obyek HUMnya sama), maka :

1) Beberapa perkara dengan nomor yang berbeda tersebut harus diputus secara bersamaan pada hari dan tanggal yang sama dengan amar putusan yang sama.

2) Jika diputus tidak secara bersamaan pada hari dan tanggal yang sama, namun ada yang diputus lebih dahulu, maka terhadap perkara HUM yang diputus pada hari dan tanggal berikutnya harus dinyatakan "NO".

99

Page 112: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

c. Apakah terhadap peraturan per-undang-undangan

yang dikeluarkan sebelum Penna Nomor 01 Tahun 2011 diterbitkan dapat diajukan HUM?

c. Penna Nomor 01 Tahun 2011 tidak berlaku

surut. Oleh karenanya pengajuan HUM

terhadap peraturan perundang-undangan

dibawah undang-undang yang diterbitkan dan

pernah diajukan sebelum dikeluarkan Penna

tersebut, berlaku ketentuan Perma sebelumnya

yaitu Perma Nomor I Tahun 2004. Sedangkan

peraturan perundang-undangan dibawah

undang-undang yang diterbitkan sebelum

dikeluarkan Perma tersebut dan belum pernah

diajukan HUM diberlakukan Penna Nomor 1 Tahun 2011.

6 TENTANG KOMULASI GUGATAN TENTANG KOMULASI GUGATAN

a. Apakah dimungkinkan komulasi gugatan terhadap beberapa KTUN yang saling berkaitan ?

b. Apakah dimungkinkan komulasi gugatan dengan objek sengketa berupa KTUN vide pasal 1 butir 9 jo pasal 53 dengan KTUN vide pasal 3 Undang•

undang PERATUN ?

c. Bagaimana cara mengadili gugatan terhadap

himpunan KTUN yang merupakan bundel

beschikking, apakah seluruh KTUN dalam bundel

beschikking harus dibatalkan atau-kah cukup

terhadap KTUN yang menyangkut kepentingan

Penggugat saja yang dibatalkan?

a Komulasi (penggabungan) gugatan terhadap

beberapa KTUN dapat dilakukan, apabila

beberapa KTUN tersebut karakter (sifat)

hukumnya saling berkaitan erat satu sama lain

(inner/ijke samenhang).

b. Penggabungan gugatan semacam itu tidak

dibenarkan karena karakter hukum dari KTUN

yang digugat berbeda, Karakter hukum suatu

KTUN vide pasal 1 butir 9 berbentuk

penetapan tertulis, sedangkan karakter hukum

suatu KTUN fiktif negative vide pasal 3

ditandai oleb tidak ada bentuk penetapan

tertulis yang dikeluarkan Tergugat. Yang ada

adalah sikap diam pejabat yang tidak menjawab

permohonan Penggugat. Sehingga keduanya

tidak dapat digabungkan dalam satu gugatan.

c. Gugatan terhadap bundel beschikking

pengujiannya hanya dilakukan terhadap KTUN

dalam bundel beschikking yang dimohonkan

untuk dibatalkan atau dinyatakan tidak sah

yang berkaitan dengan kepentingan Penggugat.

Dalam hal ini yang diuji keabsahannya hanya

yang berkaitan dengan kepentingan Penggugat

atau yang dimohonkan untuk dibatalkan atau

dinyatakan tidak sah oleh Penggugat. Contoh

A menggugat KTUN yang berbentuk bundel

beschikking dimana A namanya ada dalam

salah satu KTUN yang berbentuk bundel

beschikking tersebut bersama-sama dengan B,

C, dan D. Akan tetapi B, C, dan D tidak ikut

menggugat. Dalam hat ini yang dibatalkan

oleh hakim hanya terhadap KTUN yang

menyangkut A (yang digugat A). Apabila

keseluruhan KTUN dalam bundel beschikking

yang dibatalkan, maka hakim telah bertindak

secara ultra petita dalam putusannya, hal ini

dapat merugikan kepentingan B, C, dan D yang

tidak ikut menggugat.

Hal yang demikian tidak terkait dengan asas

erga omnes, karena KTUN-KTUN lainnya

dalam bundel beschikking tersebut (ic. Atas

nama B, C, dan D) yang tidak dipersoalkan

( digugat) bukan derivate dari KTUN yang

dibatalkan) Berbeda halnya dengan KTUN

Page 113: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

yang menyangkut sebidang tanah, temyata

sebagian adalah hale Penggugat maka dalam

amar putusan harus membatalkan dan mencabut

KTUN sengketa serta mewajibkan Tergugat

menerbitkan KTUN baru sebagai penggantinya

dengan mengeluarkan sebagaian tanah yang

menjadi hale Penggugat.

7 TENTANG TEMPLATE PUTUSAN TENTANG TEMPLATE PUTUSAN

a. Dalam hal MAmemerintahkan kepada pengadilan

tingkat pertama untuk membuka persidangan kembali dan memutus pokok sengketa, apakah harus di fonnat dalam bentuk putusan sela atau putusan akhir ?

b. Bagaimana jika diputus dalam bentuk putusan

sela, apakah perlu ditambah amar yang

memerintahkan agar berkas dikirimkan kembali keMA.

Apabila hal ini dilakukan apakah MA tidak menyimpangi asas peradilan dua tingkat ?

c. Bagaimana apabila terhadap putusan pengadilan

tingkat pertama tersebut, pihak-pihak yang berperkara mengajukan upaya hukum banding,

apakah berkas dikirim ke pengadilan banding

atau dikirim ke MA sesuai amar putusan sela ?

a. Agar prosedur penyelesaian perkara-nya efektif, dalam hal MA memerintahkan kepada pengadilan tingkat pertama untuk membuka persidangan kembali dan memutus pokok

sengketa, hendaknya di format dalam bentuk

putusan akhir tanpa disertai perintah kepada pengadilan pengaju untuk mengirimkan kembali

berkas perkaranya ke MA.

b. Apabila temyata terlanjur di format dalam bentuk putusan sela dan ditambah amar

"memerintahkan untuk mengirimkan kembali . berkas ke MA", idealnya putusan terhadap pokok

perkara juga harus diperiksa oleh pengadilan

tingkat banding (ic. PT.TUN) sehingga hal ini tidak melanggar asas pemeriksaan peradilan dua tingkat.

c. Apabila terhadap pokok perkara yang telah

diputus oleh pengadilan tingkat pertama diajukan permohonan banding, maka MA mengembalikan berkasnya ke PTUN yang bersangkutan dengan surat biasa (tanpa putusan sela) guna diproses dari segi administrasinya sesuai hukum acara terhadap upaya hukum banding yang menyangkut pokok perkaranya tersebut.

8 TENTANG SURAT KUASA DI

PENGADILAN PAJAK

TENTANG SURAT KUASA DI

PENGADILAN PAJAK

Apakah surat kuasa untuk berperkara di pengadilan

pajak dianggap telah meme-nuhi syarat sebagai

surat kuasa khusus, apabila hal-hal yang dikuasakan

kepada pemberi kuasa tidak dirinci secara jelas dan

tegas?

Barus dibedakan surat kuasa untuk berperkara

di pengadilan negeri (dalam perkara perdata) dan

surat kuasa untuk berperkara di PTUN. Surat

kuasa untuk berperkara perdata di pengadilan

negeri harus disebutkan hal-hal apa yang

dikuasakan (disebutkan kekhususannya) untuk

membedakan dengan surat kuasa umum. Dalam

berperkara di PTUN, Tergugatnya adalah

pemegang jabatan TUN. Dalam hal ini Tergugat

dapat memberi kuasa misalnya kepada biro hukumnya atau cukup dengan surat tugas, Surat tugas dapat menggantikan surat kuasa asalkan disebutkan kepada yang bersangkutan ditugaskan

untuk hadir mewakili Tergugat dan dicantumkan

hal-hal apa yang ditugaskan untuk mewakili

Tergugat tersebut. Surat tugas terhadap jabatan

dalam organisasi Tergugat adalah sama maknanya

Tergugat (principal) yang hadir di persidangan.

Di pengadilan pajak, surat kuasa mewakili untuk

hadir dipersidangan merupakan les spesialis,

sehingga ketentuan tentang surat kuasa yang

Page 114: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

berlaku untuk beracara dalam perkara perdata

tidak dapat diterapkan dalam berperkara di

pengadilan pajak, karena surat kuasa berperkara di

pengadilan pajak sifatnya khusus. Kekhususannya

karena bentuk dan isinya berbeda dengan bentuk

dan isi surat kuasa khusus pada umumnya dan ini

diatur ( dipersyaratkan) dalam pasal 34 ayat (I)

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang

pengadilan Pajak.

9 TENTANG AMAR PUTUSAN TENTANG AMAR PUTUSAN

a. Dalam hal Penggugat tidak mempunyai kepentingan untuk mengajukan gugatan atau gugatan telah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari, apakah amar putusan dinyatakan "NO" atau

gugatan ditolak ? b. Apabila MA membenarkan alasan-alasan kasasi

yang substansinya juga menjadi materi eksepsi Tergugat atau Tergugat II intervensi, bagaimana amar putusan MA?

1) Dalam perkara perdata apabila

gugatan dinyatakan "NO", berakibat

Penggugat masih dapat mengajukan

gugatan baru. Dalam perkara TUN, tidak

selalu berakibat demikian. Dalam hal

tenggang waktu pengajuan gugatan telah

lewat atau jika Penggugat nyata-nyata

tidak mempunyai kepentingan untuk

menggugat, maka berakibat seterus-nya

bagi Penggugat tidak lagi mem-punyai hale

untuk mengajukan gugatan baru. Atas dasar

itu terhadap perkara TUN yang demikian itu,

gugatannya dinyatakan ditolak.

2) Meskipun dalam proses dismissal menurut

ketentuan pasal 62 ayat ( 1) huruf e Undang•

Undang PERATUN dinyatakan : dalam hal

gugatan diajukan sebelum waktunya atau telah

lewat waktunya Ketua PTUN berwe-nang

memutuskan gugatan dinyatakan tidak diterima

atau tidakmendasar, namun jika gugatan

telahlewat waktu tersebut ternyata lolos dalam

proses dismissal dan terbukti nyata-nyata

melewati tenggang waktu 90 (sembilan puluh)

hari menurut ketentuan undang-undang, maka

gugatan harus dinyata-kan ditolak.

3) Untuk mempertegas hal ini, MA akan

mengaturnya dalam bentuk surat edaran

(SEMA). Apabila MA membenarkan alasan•

alasan kasasi yang substansinya juga menjadi

materi eksepsi dari Tergugat atau Tergugat II

intervensi, maka amar putusan MA diperinci :

Dalam eksepsi :

- Menerima eksespsi Tergugat/ Tergugat II

intervensi.

Dalam Pokok Sengketa :

- Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat

diterima.

Page 115: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

r

PENGADMINISTRASIAN PERMOHONAN 1

PK

a. Berdasarkan SEMA Nomor 10 Tahun 2009, PK hanya dapat diajukan satu kali (vide pasal 23 ayat 2 UU Nomor 4 Tahun 2004 dan pasal 66 ayat 1 UU Nomor 14 Tahun 1985 jo UU Nomor 8 Tahun 1981 ). Apakah Direktur Pratalak TUN boleh mengembalikan berkas perkara PK yang ke dua terhadap subjek dan objek yang sama yang diterimanya, sementara seharusnya sesuai dengan SEMA tersebut berkas PK yang bersangkutan tidak perlu dikirim ke MA?

PENGADMINISTRASIAN PERMOHONAN

PK

a. Direktur Pratalak TUN dapat mengembalikan berkas tersebut ke pengadilan pengaju sebelum berkas perkara deregister oleh Panmud TUN disertai pemberitahuan agar pengadilan pengaju membuat penetapannya.

b. Bagaimana penyelesaiannya jika berkas perkara b. Apabila berkas tersebut sudah diregister maka

sudah di register ? terhadap perkaranya harus diputus oleh MA.

c. Apakah berkas permohonan PK boleh dikirim ke MA tanpa menunggu Pemohon PK yang lain (dhi. Pihak-pihak berperkara lebih dari satu, tetapi masih satu Pemohon yang mengajukan PK dan berkas PKnya sudah lengkap di pengadilan pengaju).

d. Seandainya berkas tersebut dikirim ke MA tanpa

menunggu Pemohon yang lain dan diputus oleh MA kemudian ada permohonan PK dari Pemohon yang lain, bagaimana penyelesaiannya, termasuk mengenai register maupun biaya perkaranya ?

c. Berkas dikirim ke MA sesuai prosedur yang telah ditentukan dalam Undang-Undang MA, dengan catatan pihak-pihak yang tidak memohon PK ber-kualifikasi sebagai turut

PemohonPK. d. Jika terdapat permohonan PK dari Pemohon

yang lain, dan permohonan PK yang pertama telah diputus, maka permohonan PK yang lain tersebut diberi nomor register berbeda. Kecuali apabila permohonan PK pertama belum diputus maka nomor register permohonan PK tersebut dijadikan satu

2 DOKUMEN ELEKTRONIK (SOFT COPY) DOKUMEN ELEKTRONIK (SOFT COPY)

Bagaimana cara mengatasi kendala pengiriman dokumen elektronik (soft copy dalam bentuk CD) sebagai kelengkapan permohonan kasasi dan PK sebagaimana ditentukan dalam SEMA Nomor 14 Tahun 2010, yang bertujuan untuk mempercepat minutasi perkara pada MA. Hal ini disebabkan seringkali CD (compact disk) yang dikirim ke MA tidak dapat dibaca (diproses) oleh operator/pengetik putusan disebabkan CD menggunakan password atau dalam bentuk foto ?

Tuada TUN perlu menindaklanjuti SEMA nomor 14 tahun 2010 tentang Dokumen Elektronik tersebut, dengan mengeluarkan surat edaran kepada PTUNIPTTUN se-Indonesia dan Pengadilan Pajak, yang berisi perintah agar dalam pengiriman berkas perkara ke MA dilampirkan soft copy dalam bentuk dokumen Microsoft word dan tidak di password atau tidak dalam bentuk foto (basil scan). Secara futuristik hal tersebut dapat juga menggunakan E-mail (surat elektronik)

3 USULAN DAN PENEGASAN

a. Apabila terdapat permohonan pencabutan perkara kasasi atau PK, hendaknya permohonan tersebut segera dikirimkan kepada Ketua Majelis Hakim, dengan meneliti terlebih dahulu nomor perkara, para pihak dan pihak yang mengaju-kan permohonon pencabutan untuk menghindari perkara tersebut diputus.

b. Pada sampul berkas perkara kasasi atau PK agar dicap "TIDAK DITERIMA" oleh Panmud TUN jika tidak memenuhi syarat formal.

c. Panmud TUN berperan sebagai filter dalam proses administrasi perkara kasasi atau PK TUN di Mahkamah Agung.

B. MASALAH NON TEKNIS/ ADMINISTRASI PERKARA

103

Page 116: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

d. Perkara yang sudah diputus oleh Majelis Hakim hendaknya segera di upload ke website Mahkamah

Agung secara hati-hati dan cennat.

e. Penyebutan pihak-pihak dalam putusan didasarkan pada siapa yang terlebih dahulu menyatakan dalam akta pennohonan kasasi atau PK.

f. Diupayakan agar ruang Tualis dan Panmud TUN di lingkaran Kamar Candra terhubung sistem infonnasi yang berkaitan dengan administrasi perkara.

g. Bahwa fatwa bukan sebagai sumber hukum, maka Mahkamah Agung hendaknya jangan terlalu banyak memberikan fatwa.

Demikian rumusan Rapat Pleno Kamar Candra Mahkamah Agung dibuat

dan telah disepakati oleh para Hakim Agung Kamar Candra Mahkamah Agung.

1. PROF. DR. PAULUS EFFENDI LOTULUNG, SH .

2. WIDAYATNO SASTRA HARDJONO, SH., M.SC.

3. PROF. DR. H. AHMAD SUKARDJA, SH., MA.

4. MARINA SIDABUTAR, SH., MH. . 5. DR. H. IMAM SUBECHI, SH, MH.

6. DR. H. SUPANDI, SH., H.Hum.

6...... ••••••••••••

7. H. YUNUS, SH., MH.

8. DR. H.M. HARY DJATMIKO, SH., MH.

Page 117: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR: SOA/KMA/SK/IV/2013

TENTANG

PERUBAHAN NOMENKLATUR UNSUR PIMPINAN

MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK INDONESIA

KETUA MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : a. bahwa berdasarkanPasal 5 Undang-UndangRepublikindonesia

Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Republik

Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2004 dan Perubahan Kedua

dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun

2009, Unsur Pimpinan Mahkamah Agung terdiri dari seorang

Ketua Mahkamah Agung, dua orang Wakil Ketua Mahkamah

Agung yang terdiri dari Wakil Bidang Yudisial dan Bidang

Non Yudisial, dan beberapa orang Ketua Muda yang terdiri

dari Ketua Muda Pidana, Ketua Muda Perdata, Ketua Muda

Agama, Ketua Muda Militer, Ketua Muda Tata Usaha Negara,

Ketua Muda Pembinaan dan Ketua Muda Pengawasan;

b. bahwa berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia

Nomor 28/P tahun 2009, telah diangkat Ketua Muda Pidana

Khusus dan Ketua Muda Perdata Khusus Mahkamah Agung

Republik Indonesia;

c. bahwa berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung

Republik Indonesia Nomor 142/KMA/SK/IX/2011, mulai

tanggal 1 Oktober 2011 Mahkamah Agung Republik Indonesia

memberlakukan Sistem Kamar dalam proses penanganan

perkara di Mahkamah Agung Republik Indonesia yang terdiri

dari Kamar Perdata, Kamar Pidana, Kamar Agama, Kamar

Militer dan Kamar Tata Usaha Negara;

Page 118: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

d. bahwa dalam rangka pelaksanaan penerapan sistem

kamar sebagaimana tersebut dalam huruf c diatas, maka

perlu melakukan perubahan nomenklatur unsur Pimpinan

Mahkmaah Agung Republik Indonesia yang disesuaikan

dengan perubahan sistem tersebut;

e. bahwa perubahan tersebut perlu ditetapkan dengan Keputusan

Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah

Agung sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan

Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004, dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009;

2. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan;

4. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 017/KMA/SK/11/2012 tentang Perubahan Pertama

Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan

Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung;

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN

NOMENKLATUR UNSUR PIMPINAN MAHKMAAH

AGUNG REPUBLIK INDONESIA.

PERTAMA Unsur Pimpinan Mahkamah Agung terdiri dari seorang Ketua

Mahkamah Agung, dua orang Wakil Ketua Mahkamah Agung

yang terdiri dari Wakil Bidang Yudisial dan Bidang Non

Yudisial, dan tujuh orang Ketua Muda yang terdiri dari Ketua

Muda Pidana, Ketua Muda Perdata, Ketua Muda Agama,

Ketua Muda Militer, Ketua Muda Tata Usaha Negara, Ketua

Muda Pembinaan dan Ketua Muda Pengawasan.

KEDUA Nomenklatur Ketua Muda sebagaimana tersebut dalam diktum

pertama Keputusan ini berubah menjadi Ketua Kamar.

KETIGA Nomenklatur unsur Pimpinan Mahkamah Agung Republik

Indonesia berubah menjadi sebagai berikut:

Page 119: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

etap

Ketua Kamar Agama

Ketua Kamar Militer

No Nomenklatur Lama Nomenklatur Baro

1 Ketua Mahkamah Agung Tetap

4 Ketua Muda Perdata Ketua Kamar Perdata

5 Ketua Muda Pidana Ketua Kamar Pidana

KEEMPAT Pihak-pihak terkait agar melakukan penyesuaian atas

perubahan nomenklatur tersebut.

KELIMA

Keputusan ini berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan,

dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan

akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

SALINAN : Keputusan ini disampaikan kepada :

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung- RI Bidang

Yudisial

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung-RI Bidang

Non Yudisial

3. Para Ketua Kamar MahkamahAgung-RI

4. Para Hakim Agung Mahkmaah Agung-RI

5. Para Hakim Ad-Hoc Pada Mahkamah

Agung-RI

6. Panitera Mahkamah Agung-RI

7. Sekretaris Mahkamah Agung-RI

8. Para Pejabat Eselon I MahkamahAgung-RI

Ditetapkan di : JAKARTA

Pada tanggal : 01 April 2013

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI

Page 120: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR: SOB/KMA/SK/IV/2013

TEN'fANG

PERUBAHAN KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 143/KMA/SK/IX/2011 TENTANG PENUNJUKAN KETUA

KAMAR DALAM SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

Mengingat

: a. bahwa dengan adanya perubahan nomenklatur unsur

Pimpinan Mahkamah Agung Republik Indonesia, maka

perlu dilakukan perubahan terhadap Surat Keputusan Ketua

Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1431.KMA/

SK/IX/2011 tentang penunjukan Ketua Kamar dalam Sistem

Kamar pada Mahkamah Agung Republik Indonesia;

b. bahwa dengan adanya perubahan sebagaimana dalam butir

a tersebut, maka perlu ditunjuk Ketua Kamar sebagaimana

yang namanya akan disebutkan dibawah ini;

c. bahwa nama-nama Hakim Agung yang ditunjuk sebagai

Ketua Kamar dianggap telah memenuhi syarat dan cakap

untuk diangkat dalam jabatan sebagai Ketua Kamar pada

Mahkamah Agung Republik Indonesia;

: 1. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 Tentang Mahkamah

Agung Sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan

Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004, dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009;

2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;

3 · Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 Tentang Pedoman Penerapan

Page 121: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Sistem Kamar di Mahkamah Agung Republik Indonesia

sebagaimana telah diubah dengan Surat Keputusan Ketua

Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 017/KMA/

SK/II/2012;

4. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 50AIKMA/SK./IV/2013 tentang Perubahan

Nomenklatur Unsur Pimpinan Mahkamah Agung Republik

Indonesia;

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN · KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK

KEPUTUSAN

REPUBLIK

INDONESIA

KETUA

INDONESIA

TENTANG PERUBAHAN

MAHKAMAH AGUNG

NOMOR 143/KMA/SK/

IX/2011 TENTANG PENUNJUKAN KETUA KAMAR

DALAM SISTEM KAMAR PADA MAIIKAMAH

AGUNG REPUBLIK INDONESIA.

PERTAMA

KEDUA

Menunjuk para Ketua Kamar pada Mahkamah Agung

Republik Indonesia sebagai berikut :

No Nama Ketua Kamar

1. Dr. Artidjo Alkostar, SH.,LLM Pidana

2. H. Suwardi, SH.,MH Perdata

3. Dr. H. Andi SyamsuAlam, SH.,MH Agama

4. Dr. H. Imam Soebechi, SH.,MH Tata Usaha Negara

5. Dr. H.M. Imron Anwari, SH.,So.N., MH Militer

6. Widayatno Sastrohardjono, SH,MSc Pembinaan

7. Timur P. Manurung, SH.,MM Pengawasan

Keputusan ini berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan,

dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan

akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

SALINAN : Keputusan ini disampaikan kepada :

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung- RI

Bidang Yudisial

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung- RI

Bidang Non Yudisial

3. Para Ketua Kamar Mahkamah Agung- RI

4. Para Hakim Agung Mahkamah Agung- RI

.. ~

109

Page 122: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

5. Para Hakim Ad-hoc pada Mahkamah

Agung-RI

6. Sekretaris Mahkamah Agung-Rl

7. Yang bersangkutan untuk diketahui dan

dilaksanakan sebagaimana mestinya

Ditetapkan :JAKARTA

Pada tanggal : 01 April 2013

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI

Page 123: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 111/KMA/SKNII/2013

TENTANG

PEMBENTUKAN TIM IMPLEMENTASI SISTEM KAMAR

PADA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang a. bahwa dalam rangka kepastian dan konsistensi hukum,

Mahkamah Agung Republik Indonesia telah menerapkan

Sistem Kamar dalam penanganan perkara melalui Surat

Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/

SKIIX/2011 Tentang Pedoman Penerapan Sistem Kamar di

Mahkamah Agung, sebagaimana telah diubah dengan Surat

Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor O 17I KMAISKI 11/2012;

b. bahwa untuk mencapai tujuan diterapkannya Sistem Kamar,

Mahkamah Agung telah membentuk Kelompok Kerja

Penyusunan Rencana Aksi Implementasi Sistem Kamar pada

Mahkamah Agung RI berdasarkan Surat Keputusan Ketua

MahkamahAgung Nomor 106/KMA/SKIIX/2012;

c. bahwa Kelompok Kerja Penyusunan Rencana Aksi

Implementasi Sistem Kamar telah selesai melaksanakan

tugasnya dan menghasilkan Rencana Aksi Implementasi

Sistem Kamar Rekomendasi Penyempurnaan Peraturan

untuk Penerapan Sistem Kamar;

d. bahwa untuk mengimplementasikan Rencana Aksi dan

Rekomendasi tersebut, perlu dibentuk Tim Implementasi

Penerapan Sistem Kamar untuk membantu pimpinan

Mahkamah Agung RI;

Page 124: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

e. bahwa mereka yang namanya tercantum dalam Keputusan

Ketua Mahkamah Agung ini dipandang cakap dan mampu

untuk melaksanakan tugas membantu Pimpinan Mahkamah

Agung RI dalam melaksanakan implementasi Sistem

Kamar;

Mengingat 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun

1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah

dan ditambah dengan Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 5 Tahun 2004, dan terakhir dengan Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2009;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009

tentang Kekuasaan Kehakiman;

3. Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik

Indonesia Nomor 142/KMAJSK/IX/2011 tentang Penerapan

Sistem Kamar pada Mahkamah Agung RI sebagaimana telah

diubah dengan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung

Republik Indonesia Nomor 017/KMAJSK/Il/2012;

4. Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N omor 106/ KMA/SKJIX/2012 Tentang Pembentukan

Kelompok Kerja Penyusunan Rencana Aksi lmplementasi

Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung RI.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN KEPUTUSANKETUAMAHKAMAHAGUNG REPUBLIK

INDONESIA TENTANG PEMBENTUKAN TIM

IMPLEMENTASI SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA.

PERTAMA Membentuk Tim Implementasi Sistem Kamar pada Mahkamah Agung Rl,

KEDUA Menetapkan anggota dan susunan Tim Implementasi dengan

sebagai berikut:

Ketua

Wakil Ketua

Sekretaris

Suwardi, SH.,MH (Ketua Kamar Perdata

MahkamahAgung RI).

Suhadi, SH,.MH. (Hakim Agung

Mahkamah Agung RI).

Soeroso Ono, SH.,MH (Panitera Mahkamah

Agung RI).

112

Page 125: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Anggota 1. Dr. Drs. Andi Syamsu Alam, SH.,MH.

(Ketua Kamar Agama Mahkamah Agung

RI)

2. Artidj o Alkostar, SH,.MH. (Ketua

Kamar Pidana Mahkamah Agung RI).

3. Dr. H.M. ImronAnwari, SH.,SpN.,MH

(Ketua Kamar Militer Mahkamah Agung RI).

4. Dr. H.Imam Soebechi, SH.,MH (Ketua

Kamar Tata Usaha Negara Mahkamah

Agung RI).

5. Soltani Mohdally, SH.,MH (Hakim

Agung Mahkamah Agung RI).

6. Dr. H. Supandi, SH.,M.Hum (Hakim

Agung Mahkamah Agung RI).

7. Nurhadi, SH.,MH (Sekretaris Mahkamah Agung RI)

Sekretaris

1. Tim Asisiten Pembaharuan. 2. Dian Rosita, SH.,MA. 3. Astriyani, SH. 4. Yunani Ambiyoso, SH.,MH 5. Della Sri Wahyuni, SH.

KETIGA Tim Implementasi bertugas untuk :

1. Memantau dan memfasilitasi pelaksanaan lmplementasi Sistem Kamar.

2. Berkoordinasi dengan satuan kerja atau penanggung jawab kegiatan untuk memastikan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan Rencana Aksi Implementasi Sistem Kamar.

3. Menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan dan perkembangan 3 (tiga) bulanan kepada Ketua Mahkamah AgungRI.

KEEMPAT

KE LIMA

Masa tugas Tim Implementasi adalah 2 (dua) tahun terhitung sejak keputusan ditetapkan dan dapat diperpanjang oleh Ketua Mahkamah Agung RI.

Biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas Tim Implementasi ini dibebankan pada anggaran DIPA Mahkamah Agung RI dan/atau sumber-sumber lain yang tidak mengikat.

113

Page 126: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KEENAM Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan

ketentuan bahwa akan diubah dan diperbaiki sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan.

SALINAN : Keputusan ini disampaikan kepada :

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial

3. Para Ketua Kamar Mahkamah Agung RI

4. Para Hakim Agung Mahkamah Agung RI

5. Para Hakim Ad Hoc Pada Mahkamah Agung RI

6. Panitera Mahkamah Agung RI

7. Sekretaris Mahkamah Agung RI

8. Para Pejabat Eselon 1 dan Eselon II di Lingkungan Mabkamah Agung RI

Ditetapkan di : JAKARTA

Pada tanggal : 10 Juli 2013

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI

114

Page 127: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 112/KMA/SK/VII/2013

TENTANG

PERUBAHAN KEDUA SURAT KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG NOMOR 142/KMA/SK/IX/2011 TENTANG PEDOMAN

PENERAPAN SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang a. bahwa sistem kamar yang diterapkan sejak tahun 2011 oleh

Mahkamah Agung bertujuan untuk mewujudkan konsistensi

dan meningkatkan kualitas putusan Mahkamah Agung sebagai

pengadilan tertinggi;

b. bahwa setelah diterapkan dalam beberapa waktu dipandang

diperlukan perubahan sesuai kebutuhan dan kondisi

organisasi Mahkamah Agung, untuk mengefektifkan tujuan

penerapan sistem kamar;

c. bahwa oleh karena pertimbangan dalam huruf a dan b,

perlu dilakukan penyempurnaan atas ketentuan-ketentuan

mengenai penerapan sistem kamar dalam Surat Keputusan

Ketua MahkamahAgung Nomor 017/KMA/SK/11/2012;

Mengingat 1. Pasal 24 dan Pasal 24 A Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah

Agung sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004, dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009;

3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

Page 128: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

PERUBAHAN

4. Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 017/KMAISK/11/2012 tentang Perubahan Pertama

Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 142/

KMA/SK/IX/2011 tentang Pedoman Penerapan Sistem

Kamar Pada Mahkamah Agung.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : KEPUTUSANKETUAMAHKAMAHAGUNG REPUBLIK

INDONESIA TENTANG KEDUA

SURAT KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

NOMOR 142/KMA/SK/IX/2011 TENTANG PEDOMAN PENERAPAN SISTEM KAMAR PADA MAHKAMAH AGUNG.

PERTAMA Menerapkan perubahan kedua Surat Keputusan Ketua

Mahkamah Agung Nomor 142/KMA/SK.IIX/2011 Tentang

Pedoman Penerapan Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung.

KEDUA Memerintahkan Panitera MahkamahAgung untuk melaksanakan

perubahan-perubahan administrasi yang diperlukan untuk

penanganan perkara sesuai ketentuan dalam Keputusan ini.

KETIGA Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini dapat diatur

lebih lanjut sesuai kebutuhan dalam bentuk peraturan hukum

yang dengan petunjuk Ketua Mahkamah Agung.

KEEMPAT Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

SALINAN : Keputusan ini disampaikan kepada :

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang

Yudisial;

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non

Yudisial;

3. Para Ketua Kamar Mahkamah Agung RI;

4. Para Pejabat Eselon I dan Eselon II di

Lingkungan Mahkamah Agung RI;

116

Page 129: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

5. Para Panitera Muda Mahkamah Agung RI;

6. Para Ketua Pengadilan Tingkat Banding;

7. Para Ketua Pengadilan Tingkat Pertama.

Ditetapkan di : JAKARTA

Pada tanggal : 10 Juli 2013

KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI /: I.

117

Page 130: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

LAMP IRAN

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Nomor : 112/KMA/SKNII/2013

Tanggal : 10 Juli 2013

I. TUJUAN

Penerapan sistem kamar bertujuan untuk menjaga konsistensi putusan,

meningkatkan profesionalitas Hakim Agung, serta mempercepat proses

penanganan perkara di Mahkamah Agung.

II. KAMAR PENANGANAN PERKARA

1. Penanganan perkara kasasi dan peninjauan kembali di Mahkamah Agung

dibagi menjadi 5 (lima) kamar, yaitu :

a. Kamar Pidana

b. Kamar Perdata

c. Kamar Tata Usaha Negara

d. Kamar Agama

e. Kamar Militer

2. Pembentukan kamar pada Mahkamah Agung dibentuk oleh Ketua Mahkamah

Agung dengan mempertimbangkan beban perkara dan kebutuhan kekhususan

keahlian Hakim Agung.

3. Ketua Mahkamah Agung menetapkan majelis untuk perkara permohonan hak

uji materiil.

4. Permohonan grasi, permohonan fatwa, dan sengketa kewenangan antar

lingkungan peradilan ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung dengan

mendengar pertimbangan Hakim Agung dari kamar terkait.

5. Permohonan fatwa yang diajukan oleh lembaga negara dijawab oleh Ketua

Mahkamah Agung setelah berkoordinasi dengan Ketua Kamar terkait.

6. Permohonan fatwa yang diajukan oleh perorangan atau badan hukum

dilanjutkan kepada Ketua Kamar terkait untuk diberikan petunjuk hukum.

III. KEDUDUKAN KETUA DAN WAKIL KETUA MAHKAMAH AGUNG

DALAM SISTEM KAMAR

1. Ketua Mahkamah Agung dan para Wakil Ketua Mahkamah Agung tidak

merangkap sebagai Ketua Kamar.

2. Ketua Mahkamah Agung dan/atau para Wakil Ketua Mahkamah Agung

menangani perkara-perkara yang membawa dampak luas kepada neg~~ ~an

perekonomian negara, perkara-perkara yang akan mempengaruhi kred1b1htas

118

Page 131: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

lembaga peradilan, atau perkara lain yang dipandang penting oleh Ketua

Mahkamah Agung.

3. Ketua Mahkamah Agung dan/atau para Wakil Ketua Mahkamah Agung dapat

bersidang di semua kamar.

4. Penunjukan Ketua Mahkamah Agung dan para Wakil Ketua Mahkamah

Agung untuk bersidang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung dan Ketua

Mahkamah Agung dapat menunjuk Hakim Agung pada kamar terkait dengan

perkara yang akan disidangkan sebagai anggota majelis.

IV. SUSUNAN KAMAR

1. Susunan kamar terdiri atas :

a. Ketua Kamar

b. Hakim Agung sebagai Anggota Kamar

c. Panitera Muda atau Panitera K.amar; dan

d. Panitera Pengganti

2. Masing-masing kamar dipimpin Ketua K.amar yang ditunjuk oleh Ketua

Mahkamah Agung.

3. Ketua Kamar adalah para Ketua Muda yang membawahi bidang yudisial.

4. Penempatan Hakim Agung di masing-masing kamar ditetapkan oleh Ketua

Mahkamah Agung berdasarkan :

a. Asal lingkungan peradilan, khusus untuk Hakim Agung yang berasal dari

jalur karir;

b. Latar belakang pendidikan formal, khusus untuk Hakim Agung yang

berasal dari jalur non karir;

c. Pelatihan yang pemah dilalui;

5. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Pidana adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan umum bagi Hakim Agung yang berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum pidana.

6. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Perdata adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan umum bagi Hakim Agung yang berasal dari j alur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum Perdata.

7. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Tata Usaha Negara adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

119

Page 132: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

a. Berasal dari lingkungan peradilan Tata Usaha Negara bagi Hakim Agung

yang berasal darijalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

Tata Usaha Negara.

8. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Agama adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan Agama bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

Agama (syari'ah).

9. Hakim Agung yang dapat ditempatkan di Kamar Militer adalah yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Berasal dari lingkungan peradilan Militer bagi Hakim Agung yang

berasal dari jalur karir; dan

b. Memiliki latar belakang pendidikan formal dengan spesialisasi hukum

pidana militer.

I 0. Jumlah Hakim Agung pada masing-masing kamar disesuaikan dengan beban

atau jumlah perkara yang harus ditangani oleh kamar tersebut.

11. Setiap Hakim Agung hanya dapat menjadi anggota dari salah satu kamar.

12. Dengan mempertimbangkan beban perkara dan komposisi keahlian Hakim

Agung, dalam masa transisi Ketua Mahkamah Agung dapat menempatkan

Hakim Agung dari lingkungan kamar tertentu ke dalam kamar perkara lain,

dengan ketentuan :

a. Pada Kamar Perdata dapat ditempatkan Hakim Agung yang berasal dari

Kamar Agama dan Kamar Tata Usaha Negara, dan

b. Pada Kamar Pidana dapat ditempatkan Hakim Agung yang berasal dari

Kamar Militer.

13 · Penempatan Panitera Pengganti pada masing-masing kamar ditetapkan oleh

Ketua Mahkamah Agung dengan mempertimbangkan latar belakang keahlian

dan beban atau jumlah perkara pada masing-masing kamar.

14. Susunan Kepaniteraan dalam sistem kamar adalah sebagai berikut :

a. Kepaniteraan Kamar Pidana.

b. Kepaniteraan Kamar Perdata.

c. Kepaniteraan Kamar Agama.

d. Kepaniteraan Kamar Tata Usaha Negara

e. Kepaniteraan Kamar Militer

Page 133: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

V. PEMBENTUKAN MAJELIS DAN PENDISTRIBUSIAN PERKARA

1. Ketua Kamar menetapkan susunan tetap majelis Hakim Agung pada tiap-tiap

kamar yang terdiri dari 3 (tiga) atau 5 (lima) orang Hakim Agung.

2. Pendistribusian perkara merupakan kewenangan Ketua Mahkamah Agung.

3. Ketua Mahkamah Agung mendelegasikan kewenangan untuk mendistri•

busikan perkara kepada Ketua Kamar masing-masing, kecuali untuk perkara :

a. Permohonan grasi;

b. Permohonan fatwa;

c. Hak Uji Materiil;

d. Sengketa kewenangan antar lingkungan peradilan; dan

e. Perkara-perkara tertentu sebagaimana diatur dalam bagian III angka 2.

VI. TU GAS DAN WEWENANG KETUA KAMAR

1. Memastikan terwujudnya kesatuan penerapan hukum dengan menjaga

konsistensi putusan di masing-masing kamamya.

2. Mendistribusikan perkara kepada majelis HakimAgung yang telah ditetapkan.

3. Menyelenggarakan Rapat Pleno Kamar sekurang-kurangnya sekali dalam

satu minggu pada hari yang telah ditetapkan.

4. Menentukan perkara yang akan dibahas dalam rapat pleno kamar.

S. Bertanggung jawab atas terhimpunnya putusan-putusan yang mengandung

penemuan hukum baru sebagai preseden untuk perkara-perkara serupa untuk

diterbitkan dan disebarluaskan kepada pengadilan-pengadilan di tingkat

bahwa sekurang-kurangnya satu tahun sekali.

6. Bertanggung jawab memonitor tingkat penyelesaian perkara.

VII. PEMERIKASAAN PERKARA DALAM MAJELIS HAKIM AGUNG

1. Ketua Majelis menetapkan hari musyawarah pada saat menerima penetapan

majelis dan berkas perkara dari Panitera Muda Kamar.

2. Majelis Hakim Agung membaca berkas perkara secara serentak atau

bersamaan dan memberikan pendapatnya.

3. Majelis Hakim Agung melakukan musyawarah untuk menjatuhkan putusan.

4. Ketua Majelis menunjuk seorang anggota majelis untuk menyusun konsep

putusan.

S. Dalam hal perkara yang diperiksa oleh majelis adalah perkara yang memenuhi

kriteria yang hams dibahas dalam rapat pleno kamar, Ketua Majelis dapat

mengajukan perkara tersebut dalam rapat pleno kamar,

6. Dalam hal terdapat lebih dari satu perkara yang memiliki isu hukum yang

serupa dapat diajukan dalam rapat pleno kamar secara bersamaan.

121

Page 134: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

7. Apabila dalam majelis suatu perkara terdapat perbedaan pendapat yang tajam

dan tidak dapat disatukan, maka perkara tersebut diputus dengan dissenting

opinion.

VIII. RAPAT PLENO KAMAR

1. Rapat Pleno Kamar diselenggarakan secara rutin setiap satu minggu sekali

pada hari pada hari yang telah ditetapkan oleh Ketua Kamar.

2. Tujuan Rapat Pleno Kamar adalah sebagai berikut :

a. Sebagai mekanisme kontrol dalam manajemen perkara;

b. Agar Ketua Kamar dapat mengetahui secara teratur jumlah dan status

perkara yang ditangani oleh masing-masing majelis Hakim Agung dalam

kamarnya;

c. Mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan;

d. Menjaga konsistensi putusan dalam kamar yang bersangkutan;

e. Meningkatkan kehati-hatian Hakim Agung dalam memutus perkara;

f. Memperkecil peluang kekeliruan atau kekhilafan Hakim Agung yang

mungkin terjadi; dan

g. Sebagai mekanisme akuntabilitas Majelis Hakim Agung yang menjadi

anggota kamar dalam memutus perkara.

3. Suatu Rapat Pleno Kamar dapat memiliki agenda sebagai berikut :

a. Pembahasan substansi perkara sesuai dengan kriteria yang diatur dalam

bagian VIII angka 8 lampiran ini;

b. Pembahasan administrasi perkara; dan

c. Agenda lain yang ditetapkan oleh Ketua Kamar.

4. Dalam Rapat Pleno Kamar yang agendanya adalah pembahasan mengenai

substansi perkara, maka para anggota kamar membahas :

a. Permasalahan hukum (question oflaw) yang dari masing-masing perkara;

b. Penafsiran hukum majelis Hakim Agung atas permasalahan huk.um

tersebut; dan

c. Konsep arnar putusan majelis Hakim Agung.

5. Setiap kamar wajib membahas penyelesaian dan administrasi perkara

sekurang-kurangnya sekali dalam satu bulan dalam Rapat Pleno Kamar,

6. Rapat Pleno Kamar wajib dihadiri oleh seluruh Hakim Agung pada Kamar

bersangkutan.

7. Panitera Kamar bertindak sebagai sekretaris dalam Rapat Pleno Kamar dan

mendokumentasikan hasil dari Rapat Pleno Kamar.

122

Page 135: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

8. K.riteria perkara yang dapat dibahas dalam Rapat Pleno Kamar adalah sebagai

berikut:

a. Perkara permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang akan membatalkan

putusan tingkat kasasi dimana terdapat perbedaan pendapat (dissenting

opinion) dalam Majelis Hakim Agung yang memeriksa perkara tersebut;

b. Perkara yang pemeriksaannya dilakukan secara terpisah dan diperiksa

oleh majelis hakim yang berbeda dan kemungkinan penjatuhan putusan

yang berbeda;

c. Dalam hal terdapat dua perkara atau lebih yang memiliki permasalahan

hukum yang serupa yang ditangani oleh majelis Hakim Agung yang

berbeda dengan pendapat hukum yang berbeda atau saling bertentangan;

d. Perkara yang Memerlukan penafsiran yang lebih luas atas suatu

permasalahan hukum;

e. Adanya perubahan terhadap jurisprudensi tetap;

f. Ketua Majelis yang berbeda pendapat dengan dua orang anggotanya

dalam perkara yang menarik perhatian masyarakat; atau

g. Alasan lain yang dianggap penting.

9. Pengaturan lebih lanjut tentang pelaksanaan Rapat Pleno Kamar diatur oleh

Ketua Kamar dalam tata tertib Kamar masing-masing.

IX. PELAPORAN

Untuk memastikan konsistensi pelaksanaan sistem kamar, Ketua Kamar

menyampaikan laporan bulanan pelaksanaan Rapat Pleno Kamar kepada Ketua

Mahkamah Agung dan para Wakil Ketua Mahkamah Agung.

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI

Page 136: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 119/KMA/SKNII/2013

TENTANG

PENETAPAN HARi MUSYAWARAH DAN UCAPAN PADA

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

Mengingat

: a. bahwa implementasi Sistem Kamar pada Mahkamah

Agung menuntut penyesuaian pada prosedur penanganan

perkara guna memastikan tercapainya maksud dan tujuan

implementasi Sistem Kamar;

b. bahwameningkatnya target penyelesaian perkaramemerlukan

penyesuaian dalam target proses memeriksa dan memutus

untuk memastikan penyelesaian perkara tetap transparan,

konsisten dan tepat waktu;

c. bahwa dari waktu ke waktu proses penanganan perkara perlu

di tinjau dan disempurnakan sesuai kebutuhan;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan dalam huruf a sampai

dengan huruf c di atas, perlu ditetapkan Surat Keputusan

Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang

Penetapan Hari Musyawarah dan Ucapan pada Mahkamah

Agung Republik Indonesia.

: 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 ~un 1985

tentang Mahkamah Agung sebagaimana tel~ diubah d~

ditambah dengan Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 5 tahun 2004 dan terakhir dengan Undang-Undang

Republik Indonesia '

Nomor

3 tahun 2009;

124

Page 137: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 tahun 2009

tentang Kekuasaan Kehakiman;

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2009

tentang Pelayanan Publik;

4. Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik

Indonesia Nomor 138 KMA/SK/IX/2009 tentang Jangka

Waktu Penanganan Perkara pada MahkamahAgung Republik

Indonesia;

5. Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik

Indonesia N omor O 17 KMA/SK/Il/2012 tentang Perubahan

Pertama Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik

Indonesia Nomor 142/KMA/SK/IX/2011 tentang Pedomana

Penerapan Sistem Kamar Pada Mahkamah Agung.

MENETAPKAN

PERTAMA

KEDUA

KETIGA

MEMUTUSKAN

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENETAPAN

HARI MUSYAWARAH DAN UCAPAN KEPADA

MAHKAMAH AG UNG REPUBLIK INDONESIA

Masing-masing Ketua Kamar Perkara menetapkan majelis

tetap dan jadual hari tetap musyawarah dan ucapan yang

berlaku untuk periode tertentu pada lingkungan Kamar yang dipimpinnya.

Kepaniteraan menggandak:an bundel B dari setiap berkas

perkara sesuai dengan jumlah anggota majelis hakim dalam

bentuk cetak (atau elektronik sesuai kebutuhan) setelah

proses registrasi perkara diselesaikan.

Setelah Ketua Kamar menetapkan Majelis Hakim yang akan

memeriksa dan memutus perkara, maka:

1. Kepaniteraan harus sudah menyampaikan berkas perkara kepada Ketua Majelis dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja.

2. Ketua Majelis membuat Surat Penetapan Hari

Musyawarah dan ucapan paling lama 3 (tiga) hari kerja

sejak berkas perkara tersebut diterimanya.

3. Hari Musyawarah dan Ucapan harus ditetapkan paling

125

Page 138: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

KEEMPAT

KELIMA

KEEN AM

KETUJUH

KEDELAPAN

lama 3 (tiga) bulan sejak berkas perkara diterima oleh

Ketua Majelis, kecuali terhadap perkara yang jangka

waktu penanganan perkaranya ditentukan lebih cepat

oleh undang-undang (misalnya perkara-perkara Perdata

Khusus, atau Perkara Pidana yang Terdakwanya berada

dalam Tahanan).

4. Surat Penetapan Hari Musyawarah dan Ucapan

digandakan dan disampaikan kepada masing-masing

anggota majelis bersamaan dengan penyampaian berkas,

dengan tembusan pada Ketua Kamar dan Panitera

Mahkamah Agung.

5. Kepaniteraan harus sudah mendistribusikan salinan

bundel B berkas perkara kepada anggota majelis

paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Ketua Majelis

menetapkan Hari Musyawarah dan Ucapan.

6. Pada saat yang sama Kepaniteraan menyerahkan

bundel A kepada Ketua Majelis untuk disimpan dan

dipergunakan sesuai kebutuhan anggota majelis.

Panitera Mahkamah Agung melakukan kompilasi atas

jadual tersebut dan secara berkala melaporkan jadual

agenda persidangan dan pelaksanaannya pada Wakil Ketua

Mahkamah Agung Bidang Yudisial melalui Sistem Informasi

yang dimliki oleh Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Masing-masing Hakim dalam majelis menuangkan

pendapatnya di dalam Adviesblad untuk dibawa ke Sidang

Musyawarah Ucapan yang telah ditetapkan.

Mekanisme ini harus sudah berjalan pada perkara-perkara

yang akan diregister terhitung tanggal 1 Agustus 2013.

Seluruh prosedur yang tidak sesuai dengan keputusan ini dinyatakan tidak berlaku.

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan

dengan ketentuan bahwa apabila di kemudian hari terdapat

kekeliruan, akan diadakan perbaikan seperlunya.

SALIN AN : Keputusan ini disampaikan kepada:

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung

Bidang Yudisial

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung

Bidang Non Yudisial

Page 139: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

3. Para Ketua Kamar Mahkamah Agung

RI; 4. Para Hakim Agung Mahkamah Agung

RI; 5. Para Hakim Ad Hoc pada Mahkamah

AgungRI; 6. Panitera Mahkamah Agung Rl; 7. Sekretaris Mahkamah Agung RI; 8. Para Pejabat Eselon I dan Eselon II di

Lingkungan Mahkamah Agung RI;

9. Para Panitera Muda Mahkamah

Agung RI; 10. Para Panitera Pengganti Mahkamah

AgungRI

Ditetapkan di : JAKARTA Pada tanggal : 19 Juli 2013

KETUA MAHKAMAH AG UNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI

#tin

127

Page 140: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

11

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 01/Bua.6/Hs/SP/I/2014

Jakarta, 29 Januari 2014

Kepada Yth.

1. Para Ketua Pengadilan Tingkat Banding

2. Para Ketua Pengadilan Tingkat Pertama

Di Seluruh Indonesia

SURAT-EDARAN

Nomor : 1 Tahun 2014

TENTANG

Perubahan Atas Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 14 Tahun 2010 Tentang Dokumen Elektronik Sebagai Kelengkapan

Permohonan Kasasi dan Peninjauan Kembali

Mahkamah Agung-Rl telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2010

tanggal ao Desember 2010 tentang Dokumen Elektrohik sebaga1 Keleti.gkapan iitu•tt1okut1iU\ .Ku1Hu1l tli.lH t1<1t1laj.wa11 tte!ttibllil 1 ;hJJUUt1 ut~ittU ijuhli Uliililufl lHI t1utih1k ketcrsedlaan Dokumen Jjlf,,ktrc,tti.k st!hln;g11 dupat ttt.dtrt~ero,t,ut pett)iel~!!alah ttilttuuisl perkara kasasl/penlnjauan kembali di Mahkamah Agung-R].

Mahkamah Agung Republik Indonesia telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor

119 SK KMA/SKNTI/2013 tanggal 19 Juli 2013 ten tang Penetapan Hari Musyawarah

dan Ucapan pada Mahkarnah Agung-RI dan salah satu substansi dari Surat Keputusan

tersebut adalah perubahan sistern pemeriksaan berkas dari sistem bergiliran menjadi

membaca berkas secara bersamaan.

Dalam sistem membaca berkas bersamaan, berkas perkara harus digandakan

sesuai jumlah Hakim Agung dalam majelis dan untuk efektifitas dan efisiensi, sistem

penggandaan dan pembacaan berkas tersebut akan diarahkan secara elektronik.

Sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan tersebut diperlukan

penyernpurnaan mengenai ruang lingkup Dokumen Elektronik yang wajib dikirimkan

oleh Pengadilan ke Mahkamah Agung sehingga mendukung Surat Keputusan Ketua

Mahkamah Agung-RI Nomor 119/SK/KMA/VIT/2013. Oleh karena berdasarkan

monitoring dan evaluasi implementasi Surat Edaran Mahkamah Aagung-RI Nomor 14

Mahkamah Agung – RI Telah Menertibkan Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2010

tanggal 30 Desember 2010 tentang Dolumen Elektronik sebagai Kelengkapan

Permohonan Kasasi dan Peminjaman Kembali. Tujuan utama Surat Edaran ini adalah

ketersediaan Dokumen Elektronik sehingga dapat mempercepat penyelesaian minutasi

perkara kasasi/peninjauan kembali di Mahkamah Agung - RI

128

Page 141: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Tahun 2010 ditemukan sejumlah kendala penggunaan Compact Disc dalam pengiriman

e-document, maka perlu dilakukan pengaturan ulang mengenai media pengiriman

Dokumen Elektronik untuk meminimalisir kendala teknis.

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, dipandang perlu melakukan

penyempumaan terhadap Surat Edaran Mahkamah Agung-RI Nomor 14 Tahun 2010,

sebagai berikut:

1. Setiap Permohonan Kasasi atau Peninjauan Kembali yang diajukan oleh

pengadilan pengaju ke Mahkamah Agung-RI, harus menyertakan Dokumen

Elektronik sebagai berikut:

a. Bagi perkara perdata/perdata khusus/perdata agama/tata usaha negara/ pajak:

1) Dokumen Elektronik dalam Permohonan Kasasi meliputi:

a) Relaas Pemberitahuan Putusan Banding;

b) Aleta Permohonan Kasasi;

c) Tanda Terima Memori Kasasi;

d) Memori Kasasi;

e) Kontra Memori Kasasi;

f) Putusan Pengadilan Tingkat Pertama;

g) Putusan Pengadilan Tingkat Banding;

2) Dokumen Elektronik dalam Permohonan Peninjauan Kembali meliputi:

a) Aleta Permohonan Peninjauan Kembali;

b) Berita Acara Sumpah Bukti Baru (Novum);

c) Memori Peninjauan Kembali;

d) Kontra Memori Peninjauan Kembali;

e) Putusan Pengadilan Tingkat Pertama; dan/atau

f) Putusan Pengadilan Tingkat Banding; dan/atau

g) Putusan Tingkat Kasasi.

b. Bagi perkara Pidana/Pidana khusus/Pidana militer,

1) Dokumen Elektronik untuk Permohonan Kasasi meliputi:

a) Relaas Pemberitahuan Putusan Banding

b) Tanda Terima Memori Kasasi;

c) Memori Kasasi;

d) Aleta Permohonan Kasasi;

e) Kontra Memori Kasasi;

f) Surat Dakwaan Jaksa;

g) Putusan Pengadilan Tingkat Pertama; dan/atau

h) Putusan Pengadilan Tingkat Banding;

--··zririiif

129

Page 142: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

2) Dokumen Elektronik untuk Permohonan Peninjauan Kembali meliputi:

a) Akta Permohonan Peninjauan Kembali;

b) Berita Acara Pendapat Hakim;

c) Memori Peninjauan Kembali;

d) Kontra Memori Peninjauan Kembali;

e) Putusan Pengadilan Tingkat Pertama; dan/atau

f) Putusan Pengadilan Tingkat Banding; dan/atau

g) Putusan Tingkat Kasasi.

2. Penyertaan Dokumen Elektronik tersebut harus dilakukan melalui fitur komunikasi

data (menu upaya hukum) pada Direktori Putusan Mahkamah Agung-RI.

3. Keberadaan Dokumen Elektronik tersebut menjadi kelengkapan dari Bundel B,

sehingga apabila Dokumen Elektronik tidak disertakan dalam berkas Permohonan,

Mahkamah Agung-RI akan menyatakan berkas tersebut tidak lengkap.

4. Ketua Pengadilan diharuskan menyusun prosedur standar (SOP) permohonan

upaya hukum yang memastikan terpenuhinya Dokumen Elektronik sebagaimana

disebutkan dalam poin 1.

5. Ketua Pengadilan bertanggung jawab atas penyediaan Dokumen Elektronik

putusan, termasuk bertanggungjawab atas pengelolaan Dokumen Elektronik serta

kepatuhan terhadap kelancaran proses pengelolaan dan pengiriman Dokumen

Elektronik tersebut.

6. Dalam kondisi tertentu yang mengakibatkan tidak dapat terpenuhinya pengiriman

Dokumen Elektronik melalui Direktori Putusan, maka pengadilan dapat

menggunakan media pengiriman lain (misalnya Compact Disc dan/atau email)

yang paling memungkinkan.

Untuk efektifitas pelaksanaan Surat Edaran ini, Panitera Mahkamah Agung-

RI dapat mengeluarkan petunjuk pelaksanaan dan memberikan dukungan teknis dan

administratif yang diperlukan.

Surat Edaran ini mulai berlaku bagi Permohonan Kasasi atau Peninjauan Kembali

yang dimohonkan pada tanggal 1 Maret 2014.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

ttd

MUHAMMAD HATTA ALI

130

Page 143: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

Tembusan Kepada Yth.:

1. Wakil Ketua Mahkamah Agung-Rl Bidang Yudisial;

2. Wakil Ketua Mahkamah Agung-Rl Bidang Non-Yudisial

3. Panitera Mahkamah Agung-Rl;

4. Sekretaris Mahkamah Agung-Rl;

5. Para Direktur Jenderal/Kepala Badan di lingkungan Mahkamah Agung RI;

6. Para Direktur Pranata dan Tata Laksana Perkara di lingkungan Mahkamah Agung

RI;

7. Para Panitera Muda Perkara pada Mahkamah Agung RI;

8. Para Panitera Muda Kamar pada Mahkamah Agung RI.

Milik

Pcrpustakaan

Mahkamah Agung - RI

131

Page 144: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung

···········- --··-······-·· ..

Page 145: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung
Page 146: REPUBLIK INDONESIA - Mahkamah Agung