Referat Dr. Martine Ketoasidosis

  • View
    26

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Referat Dr. Martine Ketoasidosis

BAB IPendahuluan1.1 Latar BelakangDiabetes Mellitus (DM) tipe-1 merupakan salah satu penyakit kronis yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Walaupun demikian berkat kemajuan teknologi kedokteran kualitas hidup penderita DM tipe-1 tetap dapat sepadan dengan anak-anak normal lainnya jika mendapat tatalaksana yang adekuat. Sebagian besar penderita DM pada anak termasuk dalam DM tipe-1, namun akhir-akhir ini prevalensi DM tipe-2 pada anak juga meningkat.Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi kekacauan metabolik yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis, dan ketosis, terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif. KAD dan Hiperosmolar Hyperglycemia State (HHS) adalah 2 komplikasi akut metabolik diabetes mellitus yang paling serius dan mengancam nyawa. Kedua keadaan tersebut dapat terjadi pada Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan 2, meskipun KAD lebih sering dijumpai pada DM tipe 1. KAD mungkin merupakan manifestasi awal dari DM tipe 1 atau mungkin merupakan akibat dari peningkatan kebutuhan insulin pada DM tipe 1 pada keadaan infeksi, trauma, infark miokard, atau kelainan lainnya.1-2

1.2 TujuanTujuan dibuatnya referat ini adalah untuk membahas dan mempelajaari mengenai suatu kasus atau penyakit tentang Ketoasidosis Diabetikum pada anak dengan Diabetes Mellitus tipe-1 yang diharapkan dapat menjadi pegangan dan bahan diskusi sebagai pembanding teori dan tatalaksana yang nyata.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. DefinisiDiabetes Mellitus tipe 1 adalah kelainan sistemik akibat terjadinya gangguan metabolism glukosa yang ditandai oleh hiperglikemia kronik. Keadaan ini diakibatkan oleh kerusakan sel- pankreas baik oleh proses autoimun maupun idiopatik sehingga produksi insulin berkurang bahkan terhenti. 12.2 EpidemiologiInsidens DM tipe-1 sangat bervariasi baik antara negara maupun di dalam suatu negara. Insidens tertinggi terdapat di Finlandia yaitu 43/100.000 dan insidens yang rendah di Jepang yaitu 1,5-2/100.000 untuk usia kurang dari 15 tahun. Insidens DM tipe-1 lebih tinggi pada ras kaukasia dibandingkan ras-ras lainnya.Berdasarkan data dari rumah sakit terdapat 2 puncak insidens DM tipe-1 pada anak yaitu pada usia 5-6 tahun dan 11 tahun. Patut dicatat bahwa lebih dari 50% penderita baru DM tipe-1 berusia >20 tahun.Faktor genetic dan lingkungan sangat berperan dalam terjadinya DM tipe-1. Walaupun hampir 80% penderita DM tipe-1 baru tidak mempunya riwayat keluarga dengan penyakit serupa, namun faktor genetic diakui berperan dalam pathogenesis DM tipe-1. Faktor genetic diakui berperan dalam pathogenesis DM tipe-1. Faktor genetic dikaitkan dengan pola HLA tertentu, tetapi sistem HLA bukan merupakan faktor satu-satunya ataupun faktor dominan pada pathogenesis DM tipe-1. Sistim HLA berperan sebagai suatu susceptibility gene atau faktor kerentanan. Diperlukan suatu faktor pemicu yang berasal dari lingkungan (infeksi virus, toksin, dll) untuk menimbulkan gejala klinis Dm tipe-1 pada seseorang yang rentan.Data komunitas di Amerika Serikat, Rochester, menunjukkan bahwa insiden KAD sebesar 8/1000 pasien DM per tahun untuk semua kelompok umur, sedangkan untuk kelompok umur kurang dari 30 tahun sebesar 13,4/1000 pasien DM per tahun. Sumber lain menyebutkan insiden KAD sebesar 4,6-8/1000 pasien DM per tahun.4,5 KAD dilaporkan bertanggung jawab untuk lebih dari 100.000 pasien yang dirawat per tahun di Amerika Serikat. Walaupun data komunitas di Indonesia belum ada, agaknya insiden KAD di Indonesia tidak sebanyak di negara barat, mengingat prevalensi DM tipe 1 yang rendah. Laporan insiden KAD di Indonesia umumnya berasal dari data rumah sakit dan terutama pada pasien DM tipe 2.2-3

2.3 Faktor PencetusFaktor pencetus tersering dari KAD adalah infeksi dan diperkirakan sebagai pencetus lebih dari 50% kasus KAD. Pada infeksi akan terjadi peningkatan sekresi kortisol dan glucagon sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah yang bermakna. Faktor lainnya adalah cerebrovascular accident, alcohol abuse, pakreatitis, infark jantung, trauma, obat, DM tipe 1 yang baru diketahui dan diskontinuitas (kepatuhan) atau terapi insulin yang adekuat.Kepatuhan akan pemakaian insulin diperngaruhi oleh umur, etnis, dan faktor komorbid penderita. Faktor lain yang juga diketahui sebagai pencetus KAD adalah trauma, kehamilan, pembedahan, dan stress psikologis. Infeksi yang diketahui paling sering mencetuskan KAD adalah infeksi saliran kemih dan pneumonia. Pneumonia atau penyakit paru lainnya dapat mempengaruhi oksigenasi dan mencetuskan gagal napas, sehingga harus selalu diperhatikan sebagai keadaan yang serius dan akan menurunkan kompensasi respiratorik dan asidosis metabolic.2,4Infeksi lain dapat berupa infeksi ringan seperti skin lesion atau infeksi tenggorokan. Obat-obatan yang mempengaruhi metabolism karbohidrat seperti kortikosteroid, thiazid, pentamide, dan obat simpatomimetik (seperti dobutamin dan terbutalin), beta bloker, fenitoin, dapat mencetuskan KAD.

2.4 Gambaran KlinisSebagian besar penderita DM tipe-1 mempunyai riwayat perjalanan klinis yang akut. Biasanyan gejala-gejala poliuria, polidipsi, polifagia dan berat badan yang cepat menurun terjadi antara 1 sampai 2 minggu sebelum diagnosis ditegakkan. Apabila gejala-gejala klinis ini disertai dengan hiperglikemia maka diagnosis DM tidak diragukan lagi.Insidens DM tipe-1 di Indonesia masih rendah sehingga tidak jarang terjadi kesalahan diagnosis, penderita DM tipe-1 akan memasuki fase ketoasidosis yang dapat berakibat fatal bagi penderita. Keterlambatan ini dapat terjadi karena penderita disangka menderita bronkopneumonia dengan asidosis atau syok berat akibat gastroenteritis.Kata kunci untuk mengurangi keterlambatan diagnosis adalah kewaspadaan terhadap DM tipe-1. Diagnosis DM tipe-1 sebaiknya dipikirkan sebagai diferensial diagnosis pada anak dengan enuresis nocturnal (anak besar), atau pada anak dengan dehidrasi sedang sampai berat tetapi masih ditemukan dieresis (poliuria), terlebih lagi jika disertai dengan pernafasan Kussmaul dan bau keton.1Perjalanan alamiah penyakit DM tipe-1 ditandai dengan adanya fase remisi (parsial/total) yang dikenal nsebagai honeymoon periode. Fase ini terjadi akibat kembalinya fungsi jaringan residual pancreas sehingga pancreas mensekresikan kembali sisa insulin. Secara klinis ada tidaknya fase ini harus dicurigai apabila seorang penderita baru DM tipe-1 sering mengalami serangan hipoglikemia sehingga kebutuhan insulin harus dikurangi untuk menghindari hipoglikemia. Apabila dosis insulin yang di butuhkan sudah mencapai 200 mg/dL atau kadar glukosa darah puasa lebih tinggi dari normal dengan tes toleransi glukosa darah puasa lebih tinggi dari normal dengan tes toleransi glukosa yang terganggu pada lebih dari satu kali pemeriksaan.Kriteria biokimia untuk diagnosis KAD mencakup hiperglikemia (gula darah >11 mmol/L atau 200mg/dL) dengan pH vena