Perdarahan

  • View
    36

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Perdarahan Postpartum

Text of Perdarahan

PERDARAHAN POSTPARTUM

CLINICAL SCIENCE SESSIONPERDARAHAN POST PARTUM

Oleh :Wildan Firdaus1301-1211-0064Anindita Noviandhari1301-1211-0042Illyasha Hazreny Binti Zainudin1301-1211-0064Nesya Fannia Rahmy 1301-1211-0064Lukman Hidayat D. P.1301-1211-0064

Preseptor :

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FK UNPAD-RSHS BANDUNG2006

I. PendahuluanKehamilan dan persalinan menimbulkan risiko kesehatan yang besar termasuk bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. Kira-kira 40% ibu hamil mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan dan 15% menderita komplikasi jangka panjang maupun komplikasi yang mengancam jiwa. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa dalam tahun 1995 hampir 515.000 ibu hamil meninggal karena komplikasi kehamilan dan persalinan. Sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang karena ibu hamil kurang mendapatkan akses terhadap perawatan penyelamatan hidup (life saving care). Di negara berkembang, ibu hamil lebih cenderung mendapatkan perawatan antenatal dibandingkan post natal. Nyatanya, lebih dari separuh jumlah seluruh kematian ibu terjadi dalam 24 jam setelah melahirkan yang disebabkan ibu terlalu banyak mengeluarkan darah. Perdarahan hebat adalah penyebab paling utama dari kematian ibu di seluruh dunia. Di berbagai negara, paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan. Proporsinya berkisar antara kurang dari 10% sampai hampir 60%. Walaupun seorang ibu hamil dapat bertahan hidup setelah mengalami perdarahan pasca persalinan, namun dia akan mengalami anemia berat dan masalah kesehatan yang berkepanjangan. Diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya. Paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan yang menyebabkan kematian. Sebagian besar kematian tersebut terjadi dalam waktu empat jam setelah melahirkan dan merupakan akibat dari masalah yang timbul selama persalinan kala tiga. Penelitian retrospektif yang dilakukan oleh Babinszki et.al. pada tahun 1999 terhadap 5800 wanita di RS angkatan udara Amerika Serikat menunjukkan bahwa insidensi terjadinya perdarahan pasca persalinan pada wanita dengan paritas yang rendah sekitar 0,3% namun meningkat 1,9% pada wanita yang telah melahirkan empat kali atau lebih.

II. Perdarahan Post PartumPerdarahan post partum atau perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan dengan jumlah lebih dari 500 ml yang terjadi setelah janin lahir.Berdasarkan waktu terjadinya, perdarahan pasca persalinan dibagi menjadi dua yaitu : 1. Perdarahan pasca persalinan dini atau primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan.2. Perdarahan pasca persalinan lambat atau sekunder yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24 jam persalinan. Ada beberapa literatur yang mengatakan bahwa tenggat waktu dari perdarahan pascapersalinan ini sampai 5 bulan setelah persalinan. Berdasarkan jumlah darah yang keluar berdasarkan perkiraan perdarahan yang terjadi maka perdarahan pasca persalinan dibagi menjadi dua yaitu :1. Perdarahan sedang yaitu bila jumlah darah yang dikeluarkan lebih dari 500 ml.2. Perdarahan berat yaitu bila jumlah darah yang dikeluarkan lebih dari 1000 ml.Suatu penelitian kuantitatif telah mengungkapkan bahwa jumlah darah yang hilang pada saat persalinan pervaginam tanpa penyulit pada umumnya lebih dari 500 ml (Pritchard, Baldwin et.al., 1962; Newton, 1966) dan mereka yang menjalani operasi (pembedahan Caesar ) pada umumnya kehilangan 1000 ml atau lebih. Namun sebenarnya hasil perkiraan jumlah rata-rata darah yang keluar tersebut hanya setengah dari jumlah darah yang hilang sehingga tetap memerlukan perhatian medis yang serius. Hal ini disebabkan lima persen pasien dengan perdarahan yang signifikan memenuhi kriteria perdarahan pasca persalinan. Bagi ibu hamil dengan anemia berat, kehilangan darah 200-250 ml saja dapat berakibat fatal. Hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan karena di negara berkembang terdapat banyak ibu hamil yang menderita anemia berat.

III. Faktor PredisposisiBeberapa faktor dapat menjadi faktor predisposisi dan etiologi terjadinya perdarahan pasca persalinan, antara lain dibagi menjadi tiga bagian besar:1. Perdarahan dari tempat implantasi plasentaa. Miometrium hipotonik- atoni uteri Beberapa anestesi umum- hidrokarbon halogen Perfusi miometrium buruk- hipotensi Perdarahan Analgesik konduksi Overdistensi uterus- anak besar, kehamilan kembar, hidramnion Partus lama Partus presipitatus Induksi persalinan dengan oksitosin Paritas tinggi Riwayat atoni uteri pada kehamilan sebelumnya Korioamnionitisb. Retensi plasenta Kotiledon tertinggal, plasenta suksenturiata Plasenta akreta, inkreta, perkreta2. Trauma traktus genitalis Episiotomi yang luas Laserasi perineum, vagina, atau serviks Ruptur uteri3. Gangguan koagulopatiPenerbitan terbaru, penelitian dengan populasi besar menunjukkan faktor risiko yang teridentifikasi adalah sisa plasenta (3,5 x lipat), kegagalan untuk maju dalam kala II (3,4 x), plasenta akreta (3,3 x), laserasi (2,4 x), persalinan dengan alat (2,3 x), bayi yang besar untuk usia kehamilan (1,9 x), kelainan hipertensif (1,7 x), induksi persalinan (1,4 x) dan augmentasi persalinan dengan oksitosin (1,4 x) (Sheiner, 2005).Untuk mengingat penyebab PPH, digunakan 4 T, yaitu tone (tonus), tissue (jaringan), trauma dan thrombosis. (Society of Obstetricians and Gynecologists of Canada, 2002).

a. TonusAtoni uteri dan kegagalan berkontraksi dan retraksi serat otot miometrium dapat menyebabkan perdarahan cepat dan berat serta syok hipovolemi. Peregangan berlebih dari uterus baik absolut atau relatif adalah faktor risiko utama untuk atoni. Keadaan ini dapat disebabkan oleh kehamilan multifetus, polihidramnion atau kelainan fetus (mis. hidrosefalus berat), kelainan struktur uterus, atau kegagalan melahirkan plasenta.Kontraksi miometrium yang buruk biasanya terjadi karena kelelahan otot. Hal ini dapat disebabkan persalinan yang diperpanjang atau persalinan cepat yang dipaksakan, terutama jika distimulasi. Bisa juga karena diinhibisi kontraksinya karena obat semacam gas anastesi halogenasi, nitrat, NSAID, MgSO4, beta-simpatomimetik dan nifedipine. Penyebab lain termasuk tertanamnya plasenta di segmen bawah uterus, toksin bakteri (mis. chorioamnionitis, endomyometritis, septikemia), hipoksia karena hipoperfusi atau uterus Couvelaire pada abruptio plasenta, serta hipotermi karena resusitasi massif atau ekteriorisasi uterus yang lama. Data terbaru menunjukkan grande multipara bukan faktor risiko independent pada PPH.

b. Tissue (Jaringan)Kontraksi dan retraksi uterus mengakibatkan pelepasan dan pengeluaran dari plasenta. Pelepasan dan pengeluaran komplit dari placenta mengakibatkan retraksi berlanjut dan oklusi optimal pembuluh darah. Tertahannya suatu bagian dari plasenta lebih sering terjadi bila plasenta membentuk suatu lobus aksesoris. Plasenta sebaiknya diinspeksi untuk bukti adanya pembuluh darah fetus berjalan di pinggir plasenta dan berhenti pada robekan di membrannya. Temuan tersebut menunjukkan adanya lobus yang tertahan. Plasenta lebih sering tertahan pada usia kehamilan preterm yang ekstrim (terutama 24jam setelah persalinan. Perdarahan sekunder, bervariasi (ringan atau berat, terus menerus atau tidak teratur) dan berbau (jika disertai infeksi) Anemia DemamEndometritis atau sisa plasenta (terinfeksi atau tidak)

Perdarahan segera (Perdarahan intraabdominal dan/ atau vaginum) Nyeri perut berat Syok Nyeri tekan perut Denyut nadi ibu cepatRuptur uteri

V. Komplikasia. Sindrom SheehanPerdarahan banyak kadang-kadang diikuti dengan sindrom Sheehan, pada kasus klasik ditandai adanya kegagalan laktasi, amenore, atrofi payudara, rontok rambut pubis dan aksila, superinvolusi uterus, hipotiroid, dan insufisiensi korteks adrenal. Patogenesisnya tidak begitu diketahui karena kelainan endokrin seperti ini tidak terjadi pada kebanyakan wanita dengan perdarahan. Namun pada beberapa kasus ditemukan beberapa tingkat nekrosis hipofisis anterior dengan gangguan sekresi satu atau lebih hormon tropik. Insidensi sindrom Sheehan diperkirakan 1 dalam 10000 persalinan b. Syok irreversibelc. Sepsis akibat terjadi infeksi.d. Gagal ginjal akut

VI. PrognosisWanita dengan perdarahan pasca persalinan seharusnya tidak meninggal akibat perdarahannya, sekalipun untuk mengatasinya perlu dilakukan histerektomi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, T Gary, Williams Obstetrics 22nd Edition. 2005. USA.McGraw-Hill Companies,Inc

2. El-Mowafi, Diaa M. Obstetrics Simplified. Department of Obstetrics & Gynecology, Benha Faculty of Medicine, Egypt. 2002. Webs_On_David/gfmer/Books/El_Mowafi/bibliography.htm

3.Krisnadi, Sofie R.et all. editor. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin. Bagian Pertama. 2005. Bandung. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, Perjan RSHS.

4.Mose, Johanes C, Patologi Obstetri, Bandung, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Cetakan I, 2005. EGC.

5.http://www.who.int/reproductive-health/impac/Symptoms/Vaginal_bleeding_after_S25_S34.html