Click here to load reader

Perdarahan persalinan

  • View
    22

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

perdarahan persalinan antepartum

Text of Perdarahan persalinan

Ratnasari1102012229

1. Memahami dan Menjelaskan Hipertensi Pada Kehamilan

DefinisiHipertensi pada kehamilanHipertensi adalah adanya kenaikan tekanan darah melebihi batas normal yaitu tekanan darah 140/90mmHg. Pengukuran tekanan darah sekurang-kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah sistolik 30mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg sebagai parameter hipertensi sudah dipakai lagi.Proteinuria ialah adanya 300mg protein dalam urin selama 24 jam atau sama dengan 1+ dipstick.Edema, dahulu edema tungkai, dipakai sebagai tanda-tanda preeklamsia, tetapi sekarang edema tungkai tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata (anasarka). Perlu dipertimbangkan faktor resiko timbulnuya hipertensi dalam kehamilan, bila didapatkan edema generalisata, atau kenaikan berat badan > 0,57 kg/minggu.Primigravida yang mempunyai kenaikan berat badan rendah, yaitu < 0,34 kg/minggu, menurunkan resiko hipertensi, tetapi menaikkan resiko berat badan bayi rendah.

Klasifikasi Hipertensi GestasionalHipertensi gestasional didiagnosis pada wanita dengan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih besar, untuk pertama kalinya selama kehamilan tetapi tidak terdapat proteinuria. Hipertensi gestasional disebut juga transient hypertension jika preeklampsia tidak berkembang dan tekanan darah telah kembali normal pada 12 minggu postpartum. Apabila tekanan darah naik cukup tinggi selama setengah kehamilan terakhir, hal ini berbahaya terutama untuk janin, walaupun proteinuria tidak pernah ditemukan. Seperti yang ditegaskan oleh Chesley (1985), 10% eklamsi berkembang sebelum proteinuria yang nyata diidentifikasi. Dengan demikian, jelas bahwa apabila tekanan darah mulai naik, ibu dan janin menghadapi risiko yang meningkat. Proteinuria adalah suatu tanda dari penyakit hipertensi yang memburuk, terutama preeklampsia. PreeklamsiProteinuria adalah tanda penting dari preeklampsia, dan Chesley (1985) menyimpulkan secara tepat bahwa diagnosis diragukan dengan tidak adanya proteinuria. Proteinuria yaitu protein dalam urin 24 jam melebihi 300mg per 24 jam, atau pada sampel urin secara acak menunjukkan 30 mg/dL (1 + dipstick) secara persisten. Tingkat proteinuria dapat berubah-ubah secara luas selama setiap periode 24 jam, bahkan pada kasus yang berat. Oleh karena itu, satu sampel acak bisa saja tidak membuktikan adanya proteinuria yang berarti. Dengan demikian, kriteria minimum untuk diagnosis preeklamsi adalah hipertensi dengan proteinuria yang minimal.

EklamsiSerangan konvulsi pada wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat dihubungkan dengan sebab lainnya disebut eklamsi. Konvulsi terjadi secara general dan dapat terlihat sebelum, selama, atau setelah melahirkan. Pada studi terdahulu, sekitar 10% wanita eklamsi, terutama nulipara, serangan tidak muncul hingga 48 jam setelah postpartum. Setelah perawatan prenatal bertambah baik, banyak kasus antepartum dan intrapartum sekarang dapat dicegah, dan studi yang lebih baru melaporkan bahwa seperempat serangan eklampsia terjadi di luar 48 jam postpartum Superimposed PreeclampsiaKriteria diagnosis Superimposed Preeclampsia adalah : Proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita dengan hipertensi yang belum ada sebelum kehamilan 20 minggu. Peningkatan tiba-tiba proteinuria atau tekanan darah atau jumlah trombosit 2 minggu3. Hasil test laboratorium yang abnormal4. Adanya gejala atau tanda 1 (satu) atau lebih preeklamsi berat

Pemeriksaan dan monitoring pada ibu1. Pengukuran desakan darah setiap 4 jam kecuali ibu tidur2. Pengamatan yang cermat adanya edema pada muka dan abdomen3. Penimbangan berat badan pada waktu ibu masuk rumah sakit dan penimbangan dilakukan setiap hari4. Pengamatan dengan cermat gejala preeklamsi dengan impending eklamsi:a) Nyeri kepala frontal atau oksipitalb) Gangguan visusc) Nyeri kuadran kanan atas perutd) Nyeri epigastriumd. Pemeriksaan laboratorium1. Proteinuria pada dipstick pada waktu masuk dan sekurang2nya diikuti 2 hari setelahnya.2. Hematokrit dan trombosit : 2 x seminggu3. Test fungsi hepar: 2 x seminggu4. Test fungsi ginjal dengan pengukuran kreatinin serum, asam urat, dan BUN5. Pengukuran produksi urine setiap 3 jam (tidak perlu dengan kateter tetap)e. Pemeriksaan kesejahteraan janin1. Pengamatan gerakan janin setiap hari2. NST 2 x seminggu3. Profil biofisik janin, bila NST non reaktif4. Evaluasi pertumbuhan janin dengan USG, setiap 3-4 minggu5. Ultrasound Doppler arteri umbilikalis, arteri uterina

Terapi medikamentosa1. Pada dasarnya sama dengan terapi ambulatoar2. Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda2 preeklamsi dan umur kehamilan 37 minggu, ibu masih perlu diobservasi selama 2-3 hari kemudian boleh dipulangkan.

Pengelolaan obstetrikPengelolaan obstetrik tergantung usia kehamilan

Bila penderita tidak inpartu : Umur kehamilan < 37 mingguBila tanda dan gejala tidak memburuk, kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm. Umur kehamilan 37 minggu Kehamilan dipertahankan sampai timbul onset partus Bila serviks matang pada tanggal taksiran persalinan dapat dipertimbangkan untuk dilakukan induksi persalinan.

Bila penderita sudah inpartu :Perjalanan persalinan dapat diikuti dengan Grafik Friedman atau Partograf WHO.

PREEKLAMSI BERATDefinisi klinikPreeklamsi berat ialah preeklamsi dengan salah satu atau lebih gejala dan tanda dibawah ini :a. Desakan darah : pasien dalam keadaan istirahat desakan sistolik 160 mmHg dan atau desakan diastolik 110 mmHgb. Proteinuria : 5 gr/ jumlah urin selama 24 jam. Atau dipstick : 4 +c. Oliguria : produksi urin < 400-500 cc/ 24 jamd. Kenaikan kreatinin serume. Edema paru dan sianosisf. Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen : disebabkan teregangnya kapsula Glisoni. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur hepar.g. Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran, nyeri kepala, skotomata, dan pandangan kabur.h. Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanin atau aspartat amino transferasei. Hemolisis mikroangiopatikj. Trombositopenia : < 100.000 cell/ mm3k. Sindroma HELLP

Pembagian preeklamsi beratPreeklamsi berat dapat dibagi dalam beberapa kategori :1. Preeklamsi berat tanpa impending eklamsi2. Preeklamsi berat dengan impending eklamsi, dengan gejala2 impending : nyeri kepala mata kabur mual dan muntah nyeri epigastrium nyeri kuadran kanan atas abdomen

Dasar pengelolaan preeklamsi beratPada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya, dilakukan pengelolaan dasar sebagai berikut :a. Pertama adalah rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi medikamentosa dengan pemberian obat2an untuk penyulitnyab. Kedua baru menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya :yang tergantung pada umur kehamilan.Sikap terhadap kehamilannya dibagi 2, yaitu :1. Ekspektatif ; konservatif : bila umur kehamilan < 37 minggu, artinya : kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan terapi medikamentosa2. Aktif, agresif ; bila umur kehamilan 37 minggu, artinya kehamilan dikahiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.Pemberian terapi medikamentosa1. Segera masuk rumah sakit2. Tirah baring miring ke kiri secara intermiten3. Infus Ringer Laktat atau Ringer Dekstrose 5%4. Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang.5. Pemberian MgSO4 dibagi : Loading dose (initial dose) : dosis awal 4 gram (40% dalam 10cc) IV selama 15 menit Maintenance dose : dosis lanjutan 6 gram dalam larutan ringer laktat/ 6 jam.

Anti hipertensiDiberikan : bila tensi 180/110 atau MAP 126Jenis obat : Nifedipine : 10-20 mg oral, diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 jam. Nifedipine tidak dibenarkan diberikan dibawah mukosa lidah (sub lingual) karena absorbsi yang terbaik adalah melalui saluran pencernaan makanan.Desakan darah diturunkan secara bertahap : Penurunan awal 25% dari desakan sistolikDesakan darah diturunkan mencapai : < 160/105 MAP < 125 Nicardipine-HCl : 10 mg dalam 100 atau 250 cc NaCl/RL diberikan secara IV selama 5 menit, bila gagal dalam 1 jam dapat diulang dengan dosis 12,5 mg selama 5 menit. Bila masih gagal dalam 1 jam, bisa diulangi sekali lagi dengan dosis 15 mg selama 5 menit

DiuretikumDiuretikum tidak dibenarkan diberikan secara rutin, karena :1. Memperberat penurunan perfusi plasenta2. Memperberat hipovolemia3. Meningkatkan hemokonsentrasiDiuretikum yang diberikan hanya atas indikasi :1. Edema paru2. Payah jantung kongestif3. Edema anasarka

DietDiet diberikan secara seimbang, hindari protein dan kalori yang berlebihSikap Terhadap KehamilannyaPerawatan Konservatif ; ekspektatifTujuan :1) Mempertahankan kehamilan, sehingga mencapai umur kehamilan yang memenuhi syarat janin dapat dilahirkan2) Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibua. Indikasi : Kehamilan 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda dan gejala-gejala impending eklamsi.b. Terapi Medikamentosa :1. Lihat terapi medikamentosa seperti di atas.2. Bila penderita sudah kembali menjadi preeklamsi ringan, maka masih dirawat 2-3 hari lagi, baru diizinkan pulang.3. Pemberian MgSO4 tidak diberikan loading dose intravena, tetapi cukup intramuskuler4. Pemberian glukokortikoid diberikan pada umur kehamilan 32-34 minggu selama 48 jam.

Perawatan di Rumah Sakit 1. Pemeriksaan dan monitoring tiap hari terhadap gejala klinik sebagai berikut : Nyeri kepala Penglihatan kabur Nyeri perut kuadran kanan atas Nyeri epigastrium Kenaikan berat badan dengan cepat2. Menimbang berat badan pada waktu masuk Rumah Sakit dan diikuti tiap hari.3. Mengukur proteinuria ketika masuk Rumah Sakit dan diulangi tiap 2 hari.4. Pengukuran desakan darah sesuai standar yang telah ditentukan.5. Pemeriksaan laboratorium sesuai ketentuan di atas nomor V. C Tabel 26. Pemeriksaan USG sesuai standar di atas, khususnya pemeriksaan : Ukuran biometrik janin Volume air ketuban

Penderita boleh dipulangkan :Bila penderita telah bebas dari gejala-gejala preeklamsi berat, ma

Search related