of 96 /96
KONJUNGTIVA ARMANTO SIDOHUTOMO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

KULIAH 4 KONJUNGTIVA

  • Author
    yukmang

  • View
    95

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of KULIAH 4 KONJUNGTIVA

KONJUNGTIVAARMANTO SIDOHUTOMO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

KONJUNGTIVA

MEMBRAN MUKUS TIPIS & TRANSPARAN MELAPISI BAG. POST. PALPEBRA & ANT. SKLERA BAG. NASAL JADI CARUNCULA & SEMILUNAR FOLD TDD : KONJ. PALPEBRA, BULBI & TARSALIS INERVASI : SYARAF CAB. N.V (TRIGEMINUS) VASKULARISASI : A. SILIARIS ANT. & A. PALPEBRALIS BANYAK MGD KLJ. LYMPHE HISTOLOGIS :

EPITEL : SUPERFISIAL DAN BASAL STROMA : ADENOID LAYER (KELENJAR) DAN FIBROUS LAYER(JAR. IKAT)

DI TEPI PALP. BERGABUNG DGN KULIT DI LIMBUS JADI EPITEL KORNEA PARS PALP. MELEKAT ERAT TARSUS, PADA FORNIX MELEKAT PADA SEPTUM ORBITALE DEKAT LIMBUS TDD EPITEL BERLAPIS PIPIH EPITEL SUPF. MGD. SEL GOBLET BASAL BERWARNA GELAP & KDG2 MGD. PIGMEN

LAPISAN ADENOID STROMA MGD. JAR LYMPHOID & BBRP TEMPAT MGD. FOLIKEL LAP. ADENOID BARU TERBENTUK STLH USIA 2-3 BLN, NEONATUS MDRT INCLUSION CONJ. TERDAPAT HIPERTROPI PAPILER DPD FOLIKULER KLJ. KRAUSSE & WOLFRING TERLETAK DALAM STROMA, KRAUSSE DI FORNIX SUP., WOLFRING DI TEPI TARSUS SUP. BAG ATAS

GAMBAR KONJUNGTIVA

KONJUNGTIVITIS 1. 2. 3.

4.5. 6.

INFEKSI ATAU INFLAMASI KONJUNGTIVA SERING SEMBUH SENDIRI/SELF LIMITING DISEASE, KARENA : ZAT ANTI MIKROBIAL TEAR FILM KLJ. LYMPHOID STROMA KONJ. EPITEL TERUS MENERUS DIGANTI SUHU RENDAH O/K PENGUAPAN TEAR, HAMBAT PERT. MIKROORG. ALIRAN AIR MATA GELONTOR MIKROORG. MIKROORG. TERTANGKAP MUKUS HASIL SEKRESI SEL GOBLET

GEJALA/KELUHAN PXRASA NGERES (BERPASIR=SANDY FEELING) GATAL-GATAL PANAS BERAIR SULIT BUKA MATA

TANDA (OBYEKTIF)1.

2. 3. 4. 5. 6.

HIPEREMIA, TUT FORNIX, MENGHILANG DI LIMBUS, CVI (CONJ. VASC. INJECTION) EPIFORA/BERAIR TERUS SEKRET, EKSUDAT SEL2 RADANG PSEUDOPTOSIS, INFILTRASI SEL RDG DI PALP. SUP CHEMOSIS (EDEMA KONJUNGTIVA) HIPERTROFI PAPILER, ADANYA SEL2 RDG MENUMPUK DIANTARA FIBRIN

7.

HIPERTROFI FOLIKULER, O/K HIPERPLASI LIMFOID DLM LAP. ADENOID 8. MEMBRAN/PSEUDO MEMBRAN, O/K PROSES KOAGULASI KUMAN/TOKSIK, BILA SUPF=PSEUDO, DI EPITEL=TRUE 9. GRANULOMA, PERT. JAR. FIBOVASK 10. ADENOPATI PREAURIKULER, TUT O/K VIRUS ATAU CHLAMYDIA 11. PHLYCTEN, MANIFESTASI LOKAL PADA LIMBUS O/K ALERGI THD TOKSIN

HIPERTROFI FOLIKULER

HIPERTROFI PAPILER

HIPERTROFI PAPIL

HIPERTROFI FOLIKEL

AsalWarna P. Drh Konsist Bentuk Dipecah Causa

Vasodilatasi p. drh yg dilap mucosaMerah + Keras Tonjolan Sukar pecah Conj. Vernalis

Hiperplasi limfoid fokal dr stroma adenoid konjLebih pucat Avaskular Lunak Bulat Mudah pecah Conj. Folikularis

KUMAN PATOGEN KONJ. SERING JUGA PATOGEN UTK GENITAL, NEISSERIA GONORHOICA, CHLAMYDIA OCULOGENITAL DD : KERATITIS, IRITIS & GLAUKOMA E/C KUMAN ? : PENGECATAN SCRAPPING KONJUNGTIVA DGN GRAM ZIEHL NIELSEN ATAU GIEMSA, PERIKSA DGN MIKROSKOP

PENYEBABA.

BAKTERI :1.

PURULEN :

NEISSERIA GONORHOICA NEISSERIA MENINGITIDISPNEUMOCOCCUS HAEMOPHYLUS AEGYPTICUS HAEMOPHILUS INFLUENZA STAPHILOCOCCUS AUREUS MORAXELA LACUNATA

2.

AKUT KATARAL

3. 4.

SUB AKUT KATARAL :

KRONIK BLEFAROKONJUNGTIVITIS

B. CHLAMYDIAL1.

2.3.

4.

TRACHOMA, CHLAMYDIA TRACHOMATIS INCLUSION CONJUNCTIVITIS, CHLAMIDIA OCULOGENITAL LYMPHOGRANULOMA VENEREAL PSITACOSIS

C. VIRAL1. ACUTE VIRAL FOLLICULAR CONJUNCTIVITISa) b)

c)

d) e)

PHARYNGOCONJUNCTIVAL FEVER ADENOVIRUS TIPE 3 & 7 EPIDEMIC KERATOCONJUNCTIVITIS, ADENO VIRUS TIPE 8 & 19 ACUTE HAEMORRHAGIC CONJUNCTIVITIS, ENTEROVIRUS TIPE 70 ATAU COXSACKIE VIRUS TIPE A.28 HERPES SIMPLEKS KERATITIS NEW CASTLE DISEASE

2. CHRONIC VIRAL CONJUNCTIVITISa)

b)c) d)

MOLUSCUM CONTAGIOSUM VACCINIA VARICELLA ZOSTER MEASLES VIRUS

D. FUNGAL : CANDIDA

E. ATOPIC/ALERGI : 1. IMMEDIATE (HUMORAL) HYPERSENSITIVITY REACTIONa. b. c. d.

HAY FEVER CONJUNCTIVITIS VERNAL CONJUNCTIVITIS ATOPIC KERATOCONJ. GIANT PAPILLARY CONJ.

2.

DELAYED (CELLULAR) HYPERSENSITIVITY REACTIONa. b.

PHLYCTAENULOSIS CONJ. E/C BLEPHARITIS

3. AUTO IMUN DISEASE :a. b.

c.d.

KERATOCONJ. SICCA PSORIASIS MUCUS MEMBRAN PEMPHIGEUS MIDLINE GRANULOMA

PENYULIT CONJ. KATARALIS :a. b. c.

ULKUS KATARALIS KERATITIS EPITELIAL PHLYCTEN

GONOBLENORHOEKONJUNGTIVITIS HIPERAKUT DGN SEKRET PURULEN E/C NEISSERIA GONORHOIKA PROSES KERADANGAN HIPERAKUT KONJ. O/K N. GONORHOIKA, KUMAN BERBENTUK KOKUS, GRAM NEGATIF, SERING SBG PENYEBAB URETHRITIS PRIA & VAGINITIS/BARTOLINITIS WANITA INFEKSI DPT TERJADI O/K KONTAK LANGSUNG KUMAN & KONJUNGTIVA

GEJALA :

DAPAT TERJADI SCR MENDADAK INKUBASI BBRP JAM S/D 3 HARI K.U : MATA MERAH, BENGKAK, SEKRET PURULEN SPT NANAH YG KDG2 BERCAMPUR DARAH HIPEREMIA KONJ. HEBAT SEKRET MATA SPT NANAH BANYAK SEKALI KELOPAK MATA BENGKAK O/K EDEMA KONJ. PALPEBRA & BULBI PERDARAHAN O/K EDEMA KONJ. YG HEBAT, MENGAKIBATKAN PECAHNYA PEMB. DARAH KONJ.

GAMBARAN KLINIK/TANDA :

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

SCRAPPING/KEROKAN GETAH MATA YG PURULEN DICAT DGN GRAM DAN DIPERIKSA DIBAWAH MIKROSKOP DIDAPATKAN SEL2 POLIMORFONUKLEAR DLM JUMLAH BANYAK DIPLOKOKUS GRAM NEGATIF BERPASANGPASANGAN SEPERTI BIJI KOPI YG TERSEBAR DIDALAM & DILUAR SEL

DIAGNOSA, DITEGAKKAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN KLINIS DAN LABORATORIUM

NEISSERIA GONORHOIKA

PEMERIKSAAN KLINIK : KERADANGAN KONJUNGTIVA HIPERAKUT DGN GETAH MATA SPT NANAH YG KDG2 BERCAMPUR DARAH PEMERIKSAAN LAB : DIDAPATKAN KUMAN2 N. GONORHOIKA DLM SEDIAAN YG BERASAL DARI KEROKAN ATAU GETAH MATA KONJUNGTIVA

PENGOBATAN : 1. TANPA PENYULIT KORNEA : TOPIKAL :

SALEP MATA TETRASIKLIN HCL 1% ATAU BASITRASIN MINIMAL 4X SEHARI PADA NEONATUS, TIAP 2 JAM PADA PX DEWASA, DILANJUTKAN 5X SEHARI SAMPAI RESOLUSI SISTEMIK DEWASA : PENISILIN G 4,8 JUTA iu INTRA MUSKULAR DOSIS TUNGGAL DITAMBAH PROBENESID 1 GRAM PERORAL, ATAU AMPISILIN DOSIS TUNGGAL 3,5 GRAM PERORAL NEONATUS : INJEKSI PENISILIN DGN DOSIS 50.000100.000 iu/KG BB BILA TIDAK TAHAN DERIVAT PENISILIN, BISA DIBERIKAN THIAMFENIKOL 3, GRAM DOSIS TUNGGAL ATAU TETRASIKLIN 1,5 GRAM INITIAL, DILANJUTKAN 4X500 MG SELAMA 4 HARI

2. DENGAN PENYULIT KORNEA : TOPIKAL :

SALEP MATA BASITRASIN ATAU TETES MATA CIPROFLOXACIN TIAP JAM, BISA JUGA DIBERIKAN PENISILIN SUKONJUNGTIVA ANAK, DIBERIKAN SALEP MATA SAJA TIAP 2 JAMOFLOXACIN BILA TIDAK TAHAN PENISILIN, INJEKSI DAPAT DIGANTI ERITROMISIN LAKTOBIONAT

SISTEMIKSAMA SEPERTI TANPA PENYULIT KORNEA BEBERAPA ANTIBIOTIKA LAIN YG SENSITIF UNTUK N. GONORHOIKA ADALAH ERITROMISISN, NEOMISIN, GENTAMISIN DAN CIPR

PROGNOSIS

BILA TX DIBERIKAN SECEPATNYA DG DOSIS CUKUP, SEMBUH TANPA KOMPLIKASI BILA LAMBAT ATAU KURANG INTENSIF, DGN PENYULIT KORNEA, KESEMBUHANNYA AKAN DISERTAI SIKATRIKS KORNEA DAN PENURUNAN TAJAM PENGLIHATAN YANG MENETAP SAMPAI KEBUTAAN HATI2 SAAT MEMBERIKAN INFORMED CONSENT PADA ORANG TUA ORANG TUA HARUS DIBERI PENGOBATAN UNTUK MENCEGAH PENULARAN ULANG

KONJUNGTIVITIS VERNALBATASAN : KERADANGAN BILATERAL KONJUNGTIVA YG BERULANG MENURUT MUSIM DGN GAMBARAN SPESIFIK HIPERTROPI PAPILER DIDAERAH TARSUS & LIMBUS PATOFISIOLOGI : MNRT LOKASI : TIPE PALPEBRAL & LIMBAL TIPE PALPEBRAL BBRP TEMPAT AKAN HIPERPLASI, BAGIAN LAIN ATROPI

TIPE LIMBAL

PERUBAHAN MENDASAR DI SUBSTANTIA PROPRIA SUBSTANTIAPROPRIA TERINFILTRASI SEL2 LIMFOSIT, PLASMA DAN EOSINOFIL PADA STDIUM LANJUT, JUMLAH SEL LIMFOSIT, PLASMA & EOSINOFIL AKAN MENINGKAT, SEHINGGA TERBENTUK TONJOLAN DAERAH TARSUS, DISERTAI PEMBENTUKAN PEMBULUH DARAH BARU DEGENERASI HYALIN PD STD DINI & MENGHEBAT PADA TIPE LIMBAL LOKASINYA DI LIMBUS KONJUNGTIVA

ETIOLOGI : ALERGI MERUPAKAN KEMUGKINAN TERBESAR PENYEBAB KONJUNGTIVITIS VERNAL : 1. TENDENSI DIDERITA ANAK2 DAN REMAJA 2. KAMBUH MUSIMAN 3. PEMERIKSAAN GETAH MATA : EOSINOFIL DD : 1. TRAKHOMA, DIDAPAT FOLIKEL PD STADIUM AWAL, YG AKHIRNYA TERSELUBUNG PAPILER. SEDANGKAN PADA KONJUNGTIVITIS VERNAL TIDAK PERNAH DIDAPATKAN FOLIKEL. 2. HAY FEVER KONJUNGTIVITIS : PEMBENGKAKAN PALPEBRA E/C EDEMA SEL. PADA KONJUNGTIVITIS VERNAL PEMBENGKAKAN O/K ADANYA INFILTRASI CAIRAN KEDALAM SEL.

GAMBARAN KLINIKKELUHAN UTAMA : GATAL GATAL PADA MATA MERUPAKAN KELUHAN UTAMA PADA HAMPIR SEMUA PENDERITA KONJUNGTIVITIS VERNAL. KELUHAN GATAL INI MENURUN PADA MUSIM DINGIN. PTOSIS : TERJADI PTOSIS BILATERAL, KADANG-KADANG YANG SATU LEBIH RINGAN DIBANDINGKAN YANG LAIN. PTOSIS TERJADI KARENA INFILTRASI CAIRAN KEDALAM SELSEL KONJUNGTIVA PALPEBRA & INFILTRASI SEL-SEL LIMFOSIT, PLASMA, EOSINOFIL JUGA ADANYA DEGENERASI HYALIN PADA STROMA KONJUNGTIVA. GETAH MATA : KONSISTENSI GETAH MATA ELASTIS (BILA DITARIK MOLOR). HORNER TRANTAS DOTS : GAMBARAN SEPERTI RENDA PADA LIMBUS. MERUPAKAN PENUMPUKAN EOSIONIL DAN MERUPAKAN HAL YANG PATOGNOMONIS PADA KONJUNGTIVITIS VERNAL.

HORNER TRANTAS DOT`S

KELAINAN DI KORNEA :DAPAT BERUPA PUNGTAT EPITELIAL KERATOPATI. KADANG-KADANG DIDAPATKAN ULKUS KORNEA YANG BERBENTUK LONJONG VERTIKAL. KELAINAN DI KORNEA INI TDK MEMBUTUHKAN PENGOBATAN KHUSUS.

PEMERIKSAAN LABORATORIUMPADA KEROKAN KONJUNGTIVA DI DAERAH TARSUS ATAU LIMBUS DIDAPATKAN SELSEL EOSINOFIL DAN EOSINOFIL GRANUL.

DIAGNOSA : BERDASARKAN ATAS PEMERIKSAAN KLINIK DAN LABORATORIUM.

PEMERIKSAAN KLINIKANAMNESA : ADANYA KELUHAN GATAL-GATAL, MATA BERWARNA MERAH KECOKLATAN (KOTOR). PALPEBRA : DIDAPATKAN HIPERTROPI PAPILER, COBBLE STONE, GIANTS PAPILAE. KONJUNGTIVA BULBI : WARNA MERAH KECOKLATAN DAN KOTOR, TERUTAMA DI AREA FISURA INTERPALPEBRALIS. LIMBUS : HORNER TRANTAS DOTS PEMERIKSAAN LABORATORIUM : PADA PEMERIKSAAN KEROKAN KONJUNGTIVA ATAU GETAH MATA DIDAPATKAN SEL-SEL EOSINOFIL DAN EOSINOFIL GRANUL.

COBBLE STONE

GIANT PAPIL

PENGOBATAN :

KORTIKOSTEROID LOKAL : MERUPAKAN PENGOBATAN YANG TERBAIK UNTUK MENGHILANGKAN KELUHAN MAUPUN GEJALAGEJALA PENDERITA KONJUNGTIVITIS VERNAL. AKAN TETAPI, HARUS WASPADA THDP KEMUNGKINAN TJDNYA PENYULIT PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID LOKAL SEPERTI GLAUKOMA, KATARAK & ULKUS KORNEA. SEKALI PENDERITA MEMAKAI KORTIKOSTEROID & MERASA KELUHANNYA MENJADI SANGAT BERKURANG, ADA KECENDERUNGAN UNTUK MEMAKAI KORTIKOSTEROID SECARA TERUS MENERUS.

SEBAIKNYA KORTIKOSTEROID LOKAL DIBERIKAN SETIAP 2 JAM SELAMA 4 HARI, UNTUK SELANJUTNYA DIGANTIKAN DENGAN OBATOBATAN LAIN. KOMPRES DINGIN, SELAMA 10 MENIT BEBERAPA KALI SEHARI DAPAT MENGURANGI KELUHANKELUHAN PENDERITA KONJUNGTIVITIS VERNAL. DISODIUM CROMOGLYCATE 2 % , 4 KALI SEHARI. KORTIKOSTEROID & ANTIHISTAMIN PER ORAL DAPAT DIANJURKAN PADA KASUS-KASUS YANG BERAT. ANJURAN UNTUK PINDAH KE TEMPAT YANG LEBIH DINGIN.

PROGNOSA :KONJUNGTIVITIS VERNAL DIDERITA SEKITAR 4 SAMPAI 10 TAHUN,DENGAN REMISI & EXASERBASI. PENYULIT KONJUNGTIVITIS VERNAL TERUTAMA DISEBABKAN OLEH PENGOBATAN DENGAN KORTIKOSTEROID LOKAL, YANG TIDAK JARANG MENGAKIBATKAN GLAUKOMA KHRONIK SIMPEL YANG TERBENGKALAI YANG DAPAT BERAKHIR DENGAN KEBUTAAN.

HERPES SIMPLEK VIRUS CONJUNCTIVITIS :HANYA TERJADI PADA INFEKSI PRIMER SEMBUH DENGAN SENDIRINYA DALAM 23 MINGGU. UNILATERAL. BILA MENJALAR KE KORNEA AKAN MENIMBULKAN LESI EPITHELIAL. NEW CASTLE DISEASE : CONJUNCTIVITIS FOLICULARIS YANG BANYAK DIDAPAT PADA PETERNAKAN UNGGAS.

KONJUNGTIVITIS

ACUTE HAEMORRHAGIC CONJUNCTIVITIS :

JUGA DISEBUT APOLLO 11 DISEASE. PENYEBAB : ENTEROVIRUS TIPE 70 DAN COXSAKIE VIRUS TIPE A 24. MASA INKUBASI :SEKITAR 8 JAM SAMPAI 2 HARI. KELUHAN :1. 2.

MATA MERAH NGERES, NYERI, TAKUT SINAR DAN KELOPAK MATA BENGKAK. PENDARAHAN SUBCONJUNCTIVAL BERUPA PUNCTAT KEMUDIAN MENGALAMI KONFLUASI SEHINGGA MENJADI BERCAK-BERCAK .

HAY FEVER (ATOPIC CONJUNCTIVITIS)

SUATU CONJUNCTIVITIS YANG NON SPESIFIK DISERTAI RHINITIS ALERGIKA. PENGOBATAN :1.2. 3.

VASO CONSTRICTOR KOMPRES DINGIN ANTI HISTAMIN

VERNAL KERATOCONJUNCTIVITIS :

JUGA DISEBUT WARM WHEATHER CONJUNCTIVITIS KARENA PENDERITA BANYAK DIJUMPAI PADA MUSIM PANAS. BILATERAL. PENDERITA TERUTAMA ANAK-ANAK, SAMPAI PREPUBERTAL. INCIDENS PADA ANAK LAKI-LAKI LEBIH BANYAK DARI PADA ANAK PEREMPUAN. PERJALANAN PENYAKIT 5-10 TAHUN. KELUHAN : RASA GATAL YG HEBAT PADA MATA DISERTAI SEKRET YG MOLOR DAN ELASTIS.

SPESIFIK PADA PENYAKIT INI ADALAH : 1. GIANT PAPILLAR PADA TARSUS SUPERIOR YANG DISEBUT COBBLE STONE APPEARANCE. 2. TRANTAS FENOMENA : ADANYA HYPERTROPI PAPIL-PAPIL DI LIMBUS PADA FISURA INTER PALPEBRALIS (BENTUKAN SEPERTI RENDA). PADA PEMERIKSAAN LABORATORIUM DIDAPATKAN : EOSINOFIL ATAU EOSINOFIL GRANULES PADA PENGECATAN DENGAN GIEMSA PENGOBATAN :1. 2.

3.4. 5.

VASCONSTRIKTOR KOMPRES DINGIN KAMAR AC KORTIKOSTEROID DISODIUM CHROMO GLYCATE.

TRACHOMA

SUATU PENYAKIT YANG SANGAT MASHUR DIKALANGAN MASYARAKAT,SEHINGGA HAMPIR SEMUA PENYAKIT MATA DI INDONESIA OLEH ORANG AWAM DISEBUT TRACHOMA, TERMASUK PENDERITA DENGAN KELAINAN REFRAKSI. PENYEBAB : CHLAMIDIA TRACHOMATIS. PENYAKIT INI SUDAH DITEMUKAN 27 ABAD SEBELUM CHRISTUS. PERIODE INKUBASI : 5-14 HARI DENGAN RATA2 SEKITAR 7 HARI. PADA ANAK2 PERJALANAN PENYAKITNYA INSIDEOUS SEDANGKAN PADA ORANG DEWASA SUBAKUT. PADA FASE AWAL GEJALA TRACHOMA HAMPIR SAMA DENGAN CONJUNCTIVITIS KARENA BAKTERIA.

KLASIFIKASI TRACHOMA OLEH Mc.CALLAN MEMBAGI 4 STADIA :STADIA 1 : CONJUNCTIVITIS SUBAKUT DISERTAI ADANYA HYPERPLASIA LYMPHOID DAN TERBENTUKNYA FOLIKEL YANG MATUR. STADIA 2 A : JUGA DISEBUT ESTABLISHED TRACHOMA, HIPERTROPI PAPILER DAN HIPERTROPI FOLIKULER YANG MATUR TARSUS SUPERIOR. STADIA 2 B : ESTABLISHED TRACHOMA DENGAN HIPERTROPI PAPILER YANG DOMINAN, MENUTUPI FOLIKEL-FOLIKEL PADA TARSUS PALPEBRA SUPERIOR. STADIA 3 : TRACHOMA + CICATRIX. STADIA 4 : TRACHOMA SEMBUH. TAMPAK CICATRIX LINEAR PADA TARSUS SUPERIOR TANPA DISERTAI TANDA-TANDA KERADANGAN.

STADIUM 2B

TRACHOMA STADIUM 3

ENTROPION E/C TRACHOMA

PENYULIT :

TERBUNTUNYA DUCTUS LAKRIMALIS SEHINGGA AQUEUS LAYER MENJADI BERKURANG. SCAR / CICATRIX MENIMBULKAN ENTROPION DAN TRICHIASIS. TRICHIASIS AKAN MENIMBULKAN EROSIO KORNEA, BILA TERINFEKSI MENJADI ULKUS KORNEA,SEMBUH DENGAN CICATRIK. PANNUS, ADANYA INFILTRAT PADA KORNEA DISERTAI NEOVASCULARISASI YANG AKAN MENURUNKAN VISUS.

PENGOBATAN : 1. TOPIKAL : TETRASIKLIN 1 %, SULFONAMIDE 15 %. 2. SISTEMIK : TETRASIKLIN / ERYTROMYCINE 1gr. (SELAMA 3-4 MINGGU).

PANNUS

INCLUSION CONJUNCTIVITIS :PADA ANAK2 SERINGKALI MEMBERIKAN CONJUNCTIVITIS HYPERAKUT DG SEKRET YG PURULEN DAN DISEBUT INCLUSION BLENORHOE. PENYEBAB : CHLAMIDIA OCULO GENETALIS, YG SPESIFIK PD CHLAMIDIA, BISA HIDUP PADA URETHRAE LAKI2 ATAU CERVIX WANITA. PADA ORANG DEWASA PENYEBARAN PENYAKIT INI DARI URO GENITALIS KE MATA. DPT TJD PADA KOLAM RENANG, DIMANA KADAR CHLOR DALAM AIR KOLAM KURANG ADEKWAT. PADA NEONATUS DISEBABKAN ADANYA KONTAK LANGSUNG CONJUNCTIVA DENGAN CERVIX IBU. KLINIK : PADA ANAK2 ATAU BAYI BERAT DAN SERINGKALI MEMBERIKAN BLENORHOE. PENGOBATAN PADA BAYI : TETRASIKLIN 1 %, SULFONAMIDE 15 %.

VIRAL CONJUNCTIVITIS :

PARYNGO CONJUNTIVAL FEVER. PERJALANAN PENYAKIT AKUT DISERTAI FEBRIS 38,5-40 DERAJAT CELCIUS. PHARYNGITIS. CONJUNCTIVITIS FOLICULARIS. PENYEBAB : ADENO VIRUS TIPE 3 & 7.

EPIDEMIC KERATO CONJUNCTIVITIS :

PENYEBAB : ADENO VIRUS TIPE 8-109. KARAKTERISTIK : ADANYA INFILTRAT SUBEPPITHELIAL PADA CORNEA YANG BILA SEMBUH TIDAK MENINGGALKAN BEKAS.

EPIDEMIC KERATOCONJ.

PENYAKIT2 PADA CONJUNCTIVA :A.

SUATU PENYAKIT PADA CONJUNCTIVA YANG BERUPA NODULE PUTIH KEKUNINGAN, TERLETAK DIDEKAT KORNEA.DI BAGIAN NASAL LEBIH SERING DARI BAGIAN TEMPORAL. PADA UMUMNYA TERDAPAT PADA ORANG DEWASA & SERINGKALI TIMBUL IRITASI /INFLAMASI. BILA PINGUECULUM MENGALAMI INFLAMASI DISEBUT PINGUECULITIS. PENGOBATAN : DIBERIKAN VASOCONSTRIKTOR LOKAL & KORTIKOSTEROID TETES MATA. PADA PEMERIKSAAN HISTO PA : DIDAPATKAN HYALIN DAN JARINGAN IKAT ELASTIS BERWARNA KEKUNINGAN.

PINGUECULA

PINGUECULA

B. PTERYGIUMSUATU BENTUKAN SEPERTI SAYAP PADA CONJUNCTIVA YANG SERINGKALI MENUTUPI CORNEA. PEMERIKSAAN PA : SAMA DENGAN PINGUECULUM, BERBENTUK SEGITIGA DAN MERUPAKAN PENJALARAN DARI PINGUECULUM. SERING DIKIRA KATARAK OLEH PASIEN.

INSIDEN BILATERAL, DI BAGIAN NASAL LEBIH SERING DARI PADA DI TEMPORAL. PENYEBAB : MASIH BERUPA HIPOTESA YAITU,TEORI IRITASI DENGAN UDARA LUAR, SINAR MATAHARI DAN DEBU, KARENA ITU BANYAK DIDAERAH PANTAI DAN PERTANIAN. PENGOBATAN : EXTIRPASI ATAS DASAR KOSMETIK ATAU TERJADI IREGULARITAS CORNEA YANG MENGAKIBATKAN TURUNNYA VISUS PENDERITA.

PTERYGIUM

PSEUDOPTERYGIUM

PTERYGIUM

PSEUDO PTERYGIUM + sedikit + di mana saja

Pulau Fuchs Riw. Kornea tr. P.D konj. Test sonde Progresifitas Predileksi

+ >> + medial

NEVUS

HEMANGIOMA

KISTA KONJUNGTIVA

KEMOSIS/EDEMA KONJUNGTIVA

SQUAMOUS CELL CA. CONJ.

PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA

OBJEKTIF INSIDENS HIPEREMI CONJ. KORNEA

CONJUNCTI`IS SANGAT SERING CVI JERNIH

KERATITIS SERING PCVI KABUR, OEDEM INFILTRAT DALAM, JERNIH N/TURUN N BERAIR, PRLN KABUR + + +

UVEITIS ANT. AKUT SERING PCVI KABUR, OEDEM, PRESIPITAT KERUH, DANGKAL N MIOSIS AGAK KABUR KURANG +

GLAUKOMA AKUT JARANG CVI + PCVI (MIX. HIP.) KERUH OK OEDEM SANGAT DANGKAL TINGGI MIDRIASIS SGT KABUR TAK ADA REAKSI SANGAT

COA TIO PUPIL SEKRET VISUS REFLEKS CAHAYA HAPUSAN NYERI

DALAM, JERNIH N N SGT BNYK

NORMAL+ ORGANISME + -

XEROSIS KONJUNGTIVA

AVITAMINOSIS A BITOT`S SPOT

MALIGNANT MELANOMA

SCLERASUATU JARINGAN IKAT PADAT BERWARNA PUTIH SUSU YANG MEMBUNGKUS BOLA MATA. DIBAGIAN POSTERIOR BERAKHIR PADA PEMBUNGKUS DUA SYARAF OPTIC, SEDANGKAN DIBAGIAN ANTERIOR BERAKHIR DI CORNEA. MERUPAKAN TEMPAT INSERTIO DARI OTOT2 RECTUS TEBALNYA 1 mm (KURANG LEBIH), KECUALI PADA INSERTIO DARI OTOT2 RECTUS 3 mm.

SKLERA 3 LAPIS :1.

2. 3.

EPISCLERA : SUATU JARINGAN YANG TERDIRI DARI JARINGAN IKAT ELASTIS,TIPIS DAN BANYAK MENGANDUNG PEMBULUH DARAH. STROMA SCLERA. LAMINA FUSCA, YANG MERUPAKAN PERBATASAN SCLERA DAN CHLOROID.INNERVASI : N. CILIARIS. HISTOLOGI TERDIRI ATAS : SERABUT2 JARINGAN IKAT YANG PARAREL DAN MELINTANG. TEBAL BUNDEL 10 16 Um. STRUKTUR IDENTIK DENGAN KORNEA

KORNEA : JERNIH SCLERA : KERUH UNHIDRATED HIDRATED BILA KORNEA EDEMA KARENA HIDRATED MAKA KORNEA MENJADI KERUH.

EPISCLERITISSUATU PENYAKIT PADA EPISCLERA YANG LOCALIZED (SETEMPAT) DAN UNILATERAL. KELUHAN PENDERITA : NYERI RINGAN, PHOTOPHOBIA, MERAH DAN KEMENG. INFLAMASI DAPAT MENJALAR KE ANTERIOR, KE TENON & CONJUNCTIVA ATAU KE POSTERIOR KE SCLERA.

DIAGNOSA BANDING : CONJUNCTIVITIS. EPISCLERITIS LOKAL HIPEREMIA GENERAL SEKRET + PENGOBATAN : KORTIKOSTEROID LOKAL. KADANG KADANG TERDAPAT NODULER EPISCLERITIS YANG PENYEMBUHANNYA MEMAKAN MINGGUAN/BULAN.

GAMBARAN PEMBULUH DARAH SCLERITIS DAN EPISCLERITIS

EPISCLERITIS SEKTORAL

EPISCLERITIS DIFUS

EPISCLERITIS

PENIPISAN SKLERA E/C RECURRENT EPISCLERITIS

SCLERITISSUATU INFLAMASI PADA SCLERA YANG BERJALAN KRONIK, NON SPESIFIK DAN ADA HUBUNGAN DENGAN PENYAKIT COLAGEN. ADA 2 TIPE : NODULER &DIFUSE. NODULER BIASANYA PADA DAERAH ANTERIOR SCLERA BERUPA NODUL BERWARNA KEBIRUAN. KELUHAN PENDERITA : MATA MERAH,NYERI DAN FOTOFOBIA. PENGOBATAN DENGAN KORTIKOSTEROID DAN ANTI INFLAMASI YANG LAIN. SERINGKALI KAMBUH DAN MENGAKIBATKAN SCLERA MENJADI TIPIS : SCLERECTASIA.

SCLERITIS POST OP RETINA

SCLERITIS POST OP GLAUKOMA

SCLERITIS FUNGAL

SCLERITIS ANTERIOR NON NECROTIZONG DIFUS

SCLERITIS ANTERIOR NEKROSIS

STAPHILOMA= SUATU PENIPISAN DARI SCLERA YANG MENGAKIBATKAN SCLERA JADI BERWARNA BIRU KEHITAMAN O/K WARNA DARI TRACTUS UVEA. ETIOLOGI : KONGENITAL TRAUMA INFLAMASI SCLERA = SCLERARECTASIA. STAPHILOMA DAPAT TUNGGAL ATAU JAMAK. NAMA TERGANTUNG LOKALISASI ANATOMI. INTERCALARY : ANTARA CORNEA DAN BADAN. EQUATOR : DI DAERAH EQUATOR POSTERIOR : DI BAGIAN POSTERIOR EQUATOR. PENGOBATAN : DAPAT DICOBA TRANSPLANTASI SCLERA.

ILMU MAKIN TINGGI(ARMANTO)

SAAT CAKRAWALA ILMU TERBUKA, PELANGI TAHU TERPANTUL, DATANG IRI, DENGKI, TERSAINGI MENERPA, HALANG, BENDUNG, CEGAH BERSUSUL, BERAT LANGKAH UNTUK MELANGKAH MASA DEPAN MAKIN TINGGI TANGGA KAUDAKI MAKIN BESAR ENERGI TERBAGI MAKIN TAJAM KONSENTRASI MAKIN LUAS PANDANG KELILINGI MAKIN KENCANG ANGIN HEMPASI MAKIN BESAR REJEKI, INSYA ALLAH TUHAN MEMBERKATI