of 22/22
ANATOMI DAN FISIOLOGI KONJUNGTIVA PENDAHULUAN Konjungtiva adalah membran mukosa yang tipis dan transparan, yang membungkus permukaan anterior dari bola mata dan permukaan posterior dari palpebra. Lapisan permukaan konjungtiva, yaitu lapisan epitel berhubungan dengan epidermis dari palpebra dan dengan lapisan permukaan dari kornea, yaitu epitel kornea. 1,2,3,4 Konjungtiva bertanggung jawab terhadap produksi mukus, yang penting dalam menjaga stabilitas tear film dan transparansi kornea. Selain itu, konjungtiva juga mampu melindungi permukaan okular dari patogen, baik sebagai barier fisik, maupun sebagai sumber sel-sel infalamsi. 1,2,3 Selanjutnya, untuk lebih memahami konjungtiva, dalam Sari Pustaka ini akan dibahas lebih lanjut tentang embriologi, anatomi dan fisiologi konjungtiva. EMBRIOLOGI Mata berkembang dari tiga lapisan embrional primitif, yaitu: ektoderm permukaan, ektoderm neural, dan mesoderm. Pembentukan lapisan germinal mesoderm terjadi pada masa-masa gestasi awal. 1,5 Secara anatomis, perkembangan konjungtiva dimulai pada stadium pertumbuhan palpebra. Stadium differensisasi palpebra berlangsung pada minggu ke 4-5 hingga bulan kedua masa gestasi. Stadium pertumbuhan palpebra dimulai dengan proliferasi dari lapisan ektoderm membentuk lembaran palpebra sampai 1

91895169 Anatomi Fisiologi Konjungtiva

  • View
    232

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of 91895169 Anatomi Fisiologi Konjungtiva

  • ANATOMI DAN FISIOLOGI KONJUNGTIVA

    PENDAHULUAN

    Konjungtiva adalah membran mukosa yang tipis dan transparan, yang

    membungkus permukaan anterior dari bola mata dan permukaan posterior dari

    palpebra. Lapisan permukaan konjungtiva, yaitu lapisan epitel berhubungan dengan

    epidermis dari palpebra dan dengan lapisan permukaan dari kornea, yaitu epitel

    kornea. 1,2,3,4

    Konjungtiva bertanggung jawab terhadap produksi mukus, yang penting

    dalam menjaga stabilitas tear film dan transparansi kornea. Selain itu, konjungtiva

    juga mampu melindungi permukaan okular dari patogen, baik sebagai barier fisik,

    maupun sebagai sumber sel-sel infalamsi. 1,2,3

    Selanjutnya, untuk lebih memahami konjungtiva, dalam Sari Pustaka ini

    akan dibahas lebih lanjut tentang embriologi, anatomi dan fisiologi konjungtiva.

    EMBRIOLOGI

    Mata berkembang dari tiga lapisan embrional primitif, yaitu: ektoderm

    permukaan, ektoderm neural, dan mesoderm. Pembentukan lapisan germinal

    mesoderm terjadi pada masa-masa gestasi awal. 1,5

    Secara anatomis, perkembangan konjungtiva dimulai pada stadium

    pertumbuhan palpebra. Stadium differensisasi palpebra berlangsung pada minggu

    ke 4-5 hingga bulan kedua masa gestasi. Stadium pertumbuhan palpebra dimulai

    dengan proliferasi dari lapisan ektoderm membentuk lembaran palpebra sampai

    1

  • menjadi satu. Pada akhirnya palpebra superior dan inferior terlihat jelas pada

    minggu ke 6. Pada minggu ke-6, invaginasi optic cup menjadi lengkap dan lens

    vesikel sudah terpisah dari ektoderm permukaan. Pada minggu ke 7-8 masa gestasi,

    ektoderm permukaan membentuk konjungtiva. 6,7

    Gambar 1. Embriologi Konjungtiva 1,5

    ANATOMI

    Konjungtiva dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:

    1. Konjungtiva Palpebra

    Pada sambungan mukokutaneus, lapisan epidermis dari kulit palpebra

    berubah menjadi konjungtiva palpebra atau konjungtiva tarsal dan melanjut-kan

    2

  • diri ke belakang melapisi permukaan posterior palpebra. Lapisan ini melekat

    secara erat dengan lempeng tarsus. Pada batas superior dan inferior dari tarsus,

    konjungtiva melanjutkan diri ke posterior dan melapisi jaringan episklera

    sebagai konjungtiva bulbi. 1,2,3,4,8,9,10

    2. Konjungtiva Forniks

    Dari permukaan dalam palpebra, konjungtiva palpebra melanjutkan diri

    ke arah bola mata membentuk dua resesus, yaitu forniks superior dan inferior.

    Forniks superior terletak kira-kira 8-10 mm dari limbus, dan forniks inferior

    terletak kira-kira 8 mm dari limbus. Pada bagian medial, struktur ini menjadi

    karunkula dan plika semilunaris. Di sisi lateral, forniks terletak kira-kira 14 mm

    dari limbus. Saluran keluar dari glandula lakrimal bermuara pada bagian lateral

    forniks superior. 1,2,3,11

    Konjungtiva forniks superior dan inferior melekat longgar dengan

    pembungkus otot rekti dan levator yang terletak di bawahnya. Kontraksi otot-

    otot ini akan menarik konjungtiva sehingga ia akan ikut bergerak saat palpebra

    maupun bola mata bergerak. Perlekatan yang longgar tersebut juga akan

    memudahkan terjadinya akumulasi cairan. 11

    3. Konjungtiva Bulbi

    Konjungtiva bulbi meluas dari daerah limbus ke daerah forniks. Lapisan

    ini sangat tipis dan transparan sehingga sklera yang terletak di bawahnya dapat

    terlihat. Konjungtiva bulbi melekat secara longgar dengan sklera sehingga

    memungkinkan bola mata bergerak bebas ke segala arah. Selain itu, konjungtiva

    bulbi juga melekat secara longgar dengan septum orbita pada forniks dan

    3

  • melipat hingga beberapa kali. Selain memberikan kebebasan bola mata untuk

    bergerak, hal ini juga akan memperluas permukaan sekresi konjungtiva. 1,2,3,9,10,11

    Ket. Gambar : (1) Limbus, (2) Konjungtiva Bulbi, (3) Konjungtiva Forniks,(4) Konjungtiva Palpebra, (5) Pungtum Lakrimalis, (6) Konjungtiva Marginalis

    Gambar 2. Anatomi Konjungtiva 12

    Kurang lebih 3 mm dari limbus, perlekatan antara konjungtiva bulbi,

    kapsula tenon, dan sklera menjadi erat, sehingga konjungtiva tidak dapat

    diangkat dengan mudah. Garis yang terbentuk pada pertemuan antara

    konjungtiva dan kornea disebut limbus konjungtiva. Ia terletak kira-kira 1 mm

    anterior ke tepi kornea (limbus kornea), yang merupakan pertemuan antara

    kornea dan sklera. 1,2,3,9,10,11

    4

  • Gambar 3. Batas-batas limbus 11

    Plika Semilunaris dan Karunkula

    Plika Semilunaris merupakan bagian dari konjungtiva bulbi pada daerah kantus

    medial yang merupakan lipatan tebal berbentuk bulan sabit yang lunak dan mudah

    bergerak. Batas lateral berbentuk konkaf dan merupakan daerah yang bebas. Di

    bawah lipatan tersebut terdapat ruangan kecil sedalam kira-kira 2 mm saat mata

    melirik ke medial. Saat mata melirik ke lateral, ruangan tersebut akan menghilang.

    Karunkula merupakan struktur epidermoid kecil semacam daging yang menempel

    superfisial di sebelah medial dari plika semilunaris. Karena merupakan jaringan

    peralihan antara konjungtiva dan kulit, ia mengandung elemen pigmen dan

    membran mukosa. 1,4,8,11

    5

  • Ket. Gambar : (10) Plika Semilunaris, (11) Karunkula

    Gambar 4. Plika Semilunaris dan Karunkula 12

    HISTOLOGI

    Konjungtiva seperti halnya membran mukosa lainnya, terdiri atas dua

    lapisan, yaitu :

    1. Lapisan epitel bertingkat

    Ketebalan lapisan epitel konjungtiva bervariasi mulai dari 2-4 lapisan

    pada daerah tarsal, 6-8 lapisan pada daerah pertemuan korneoskleral, hingga 8-

    10 lapisan pada daerah tepi konjungtiva. Di daerah forniks, epitel konjungtiva

    berbentuk kolumnar dan berubah menjadi epitel kuboid di daerah bulbar dan

    tarsal. Di limbus, epitel berubah menjadi epitel skuamous bertingkat tak

    bertanduk yang akan melanjutkan diri menjadi epitel kornea 1,3,9,11

    2. Lapisan Stroma (Substansia Propria)

    Stroma konjungtiva dipisahkan dengan lapisan epitel konjungtiva oleh

    membrana basalis. Lapisan ini dibagi atas lapisan adenoid yang terletak di

    permukaan dan lapisan fibrosa yang terletak lebih dalam. Lapisan adenoid

    mengandung jaringan limfoid dan pada beberapa area juga mengandung

    6

  • struktur mirip folikel. Lapisan ini tidak berkembang hingga mencapai usia 23

    bulan setelah kelahiran. Lapisan fibrosa tersusun atas jaringan ikat yang

    mengandung pembuluh darah dan serabut saraf dan melekat pada lempeng

    tarsus. 1,3,9

    Substansia propria mengandung sel mast (6000/mm3), sel plasma,

    limfosit, dan netrofil yang memegang peranan dalam respon imun seluler. Jenis

    limfosit yang paling banyak ditemukan adalah sel T, yaitu kira-kira 20 kali lebih

    banyak dibanding sel B. Selain itu, ditemukan pula IgG, IgA, dan IgM yang

    terletak ekstraseluler. 3,7,13

    Permukaan epitel konjungtiva ditutupi oleh mikrovili. Mikrovili

    dibentuk oleh penonjolan sitoplasma yang menonjol ke permukaan sel epitel.

    Ukuran diameter dan tinggi mikrovilli kira-kira 0,5 um dan 1 um. Fungsi

    mikrovilli selain untuk memperluas daerah absorbsi juga untuk menjaga

    stabilitas dan integritas tear film. 3

    Gambar 5. Histologi Konjungtiva 12

    Stem Cells Konjungtiva

    Epitel konjungtiva memiliki kemampuan untuk memperbarui diri secara

    konstan. Hal ini dimungkinkan oleh adanya stem cells yang merupakan sumber dari

    7

  • aktivitas miosis. Stem cells pada konjungtva bulbi dimulai dari limbus, sedangkan

    stem cels pada konjungtiva palpebra dimulai dari mucocutaneus junction dan

    berjalan ke arah forniks. Masing-masing memiliki dua bagian, yaitu progenitor

    dimana sel-sel berproliferasi dan bagian di mana sel-sel tidak berproliferasi. Siklus

    sel yang lambat membentuk sel antara yang kemudian akan berkembang menjadi

    sel epitel konjungtiva yang matur. 7

    Sel Goblet Konjungtiva

    Sel goblet adalah sel yang relatif besar dengan ukuran kurang lebih 25 m.

    Sel ini dibentuk oleh membran yang berisi musin. Daerah basal sel goblet

    mengandung nukleus, retikulum endoplasma, dan apparatus golgi. Daerah apeks

    mengandung sejumlah besar granula sekretoris yang memberi bentuk yang unik

    pada sel tersebut. Organel dan nukleus pada sel goblet yang telah berkembang akan

    terdorong ke tepi oleh kandungan mukus di dalamnya. Lisosom, mikrosom, dan

    mitokondria juga ditemukan dalam sitoplasma. 7,13

    Sel goblet diketahui berperan dalam sekresi musin sejak 140 tahun yang

    lalu. Sekarang kita tahu bahwa sel goblet memproduksi hingga 2,2 L mukus dalam

    sehari. Mukus ini penting dalam menjaga integritas permukaan okular, karena ia

    dapat melicinkan dan melindungi sel epitel. 13

    8

  • Gambar 6. Sel Goblet Konjungtiva 12

    Sel goblet ditemukan pada lapisan tengah dan superfisial epitel dan

    merupakan 15 % dari sel epitel permukaan manusia. Sel ini dapat ditemukan di

    forniks inferior bagian nasal, tengah dan sedikit di daerah palpebral. Jarang

    ditemukan di konjungtiva bulbi dan tidak ada di kornea. Total populasi sel goblet

    berkisar antara 1000 hingga 56.000 per mm2 permukaan konjungtiva, tergantung

    pada ada atau tidaknya proses inflamasi pada daerah tersebut. Sebagian besar sel

    goblet melekat pada membrana basalis oleh suatu tangkai sitoplasmik yang tipis.

    Sel goblet melekat dengan sel epitel tetangganya oleh desmosom. 3,13

    Gambar 7. Distribusi sel goblet 13

    9

  • Tabel 1Densitas rata-rata Sel Goblet per mm2 dengan standar deviasi 14

    AREA NASAL CENTRAL TEMPORALUpper palpebral

    Upper fornical

    Upper bulbar

    Upper limbal

    Interpalpebral

    Horizontal limbal

    Lower limbal

    Lower bulbar

    Lower fornical

    Lower palpebral

    648173

    58483

    520159

    -

    24182

    0

    -

    683208

    1677326

    1511325

    512164

    51086

    451122

    0

    -

    -

    0

    49342

    830303

    719211

    347201

    36599

    33114

    -

    165100

    0

    -

    427112

    672 227

    632 122

    KELENJAR

    Epitel konjungtiva mengandung sejumlah kelenjar yang penting untuk

    mempertahankan kelembaban dan menghasilkan lapisan air mata. Kelenjar lakrimal

    asesorius ditemukan pada konjungtiva forniks dan sepanjang tepi superior lempeng

    tarsus. Kelenjar Krause ditemukan pada forniks superior sebanyak kira-kira 20-40

    buah, sedangkan pada forniks inferior hanya 6-8 kelenjar. Kelenjar-kelejar ini

    ditemukan pada jaringan ikat subkonjungtiva. Kelenjar Krause memiliki struktur

    yang sama dengan kelenjar lakrimal utama yang terletak pada rongga orbita.

    Kelenjar lakrimal asesorius lainnya adalah kelenjar wolfring. Kelenjar ini

    ditemukan pada sepanjang tepi superior lempeng tarsus sebanyak 2 hingga 5 buah.

    3,7

    10

  • Gambar 8. Kelenjar Konjungtiva 15

    VASKULARISASI

    Pembuluh darah okular berasal dari arteri oftalmika, yang merupakan

    cabang dari arteri karotis interna. Arteri oftalmika bercabang menjadi arteri retina

    sentralis, arteri siliaris posterior, dan beberapa arteri silaris anterior. 7

    Vaskularisasi konjungtiva berasal dari 2 sumber, yaitu :

    1. Arteri Palpebralis

    Pleksus post tarsal dari palpebra, yang diperdarahi oleh arkade marginal dan

    perifer dari palpebra superior akan memperdarahi konjungtiva palpebralis.

    Arteri yang berasal dari arkade marginal palpebra akan melewati tarsus,

    mencapai ruang subkonjungtiva pada daerah sulkus subtarsal membentuk

    pembuluh darah marginal dan tarsal. Pembuluh darah dari arkade perifer

    palpebra akan menembus otot Muller dan memperdarahi sebagian besar

    konjungtiva forniks. Arkade ini akan memberikan cabang desenden untuk

    menyuplai konjungtiva tarsal dan juga akan mengadakan anastomose dengan

    pembuluh darah dari arkade marginal serta cabang asenden yang melalui forniks

    11

  • superior dan inferior untuk kemudian melanjutkan diri ke konjungtiva bulbi

    sebagai arteri konjungtiva posterior. 3,11,14

    2. Arteri Siliaris Anterior

    Arteri siliaris anterior berjalan sepanjang tendon otot rektus dan memperca-

    bangkan diri sebagai arteri konjungtiva anterior tepat sebelum menembus bola

    mata. Arteri ini mengirim cabangnya ke pleksus perikorneal dan ke daerah

    konjungtiva bulbi sekitar limbus. Pada daerah ini, terjadi anastomose antara

    pembuluh darah konjungtiva anterior dengan cabang terminal dari pembuluh

    darah konjungtiva posterior, menghasilkan daerah yang disebut Palisades of

    Busacca. 3,11

    Gambar 9. Arteri-arteri Konjungtiva 16

    12

  • Vena-vena konjungtiva lebih banyak dibandingkan arteri konjungtiva.

    Diameter vena-vena ini bervariasi dari 0,01 hingga 0,1 mm dan dapat diidentifikasi

    dengan mudah. Drainase utama dari konjungtiva talsalis dan konjungtiva bulbi

    langsung mengarah ke vena-vena palpebralis. Beberapa vena tarsalis mengarah ke

    vena-vena oftalmikus superior dan inferior, yang akan berakhir pada sinus

    kaverosus. 3,11

    Gambar 10. Sistem vena Konjungtiva 17

    SISTEM LIMFATIK

    Konjungtiva memiliki sistem limfatik yang kaya anastomose. Sistem

    limfatik pada konjungtiva berperan dalam reaksi imunologis yang terjadi pada

    penyakit okular dan pasca pembedahan. Aliran limfatik yang berasal dari lateral

    akan mengarah ke kelenjar limfe preaurikuler, sementara aliran limfatik yang

    berasal dari medial akan mengarah ke kelenjar limfe submandibular. Pembuluh

    limfe konjungtiva dibentuk oleh 2 pleksus, yaitu:

    13

  • 1. Pleksus Superfisial

    Pleksus ini terdiri atas pembuluh-pembuluh kecil yang terletak di bawah kapiler

    pembuluh darah. Ia menerima aliran limfatik dari area limbus.

    2. Pleksus Profunda

    Pleksus ini terdiri dari pembuluh-pembuluh yang lebih besar yang terletak di

    substansia propria. 3,11

    Gambar 11. Sistem Limfatik Konjungtiva 18

    INERVASI

    Inervasi sensoris konjungtiva bulbi berasal dari nervus siliaris longus, yang

    merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, cabang dari divisi oftalmikus nervus

    trigeminus. Inervasi dari konjungtiva palpebral superior dan konjungtiva forniks

    superior berasal dari cabang frontal dan lakrimal divisi oftalmikus nervus

    trigeminus. Inervasi dari konjungtiva palpebra inferior dan konjungtiva forniks

    inferior berasal dari cabang lakrimal divisi oftamikus nervus trigeminus pada dae-

    rah lateral, dan dari nervus infraorbital dari divisi maksilla nervus trigeminus. 11

    14

  • Gambar 12. Inervasi Konjungtiva 19

    FLORA NORMAL KONJUNGTIVA

    Pada permukaan konjungtiva terdapat sejumlah populasi bakteri dan jamur.

    Walaupun memiliki jumlah yang konstan, populasi ini mengalami siklus berkelan-

    jutan dengan spesies yang berulang. Pada saat kelahiran, konjungtiva dalam

    keadaan steril. Namun setelah 5 hari, ia akan mendapatkan flora bakteri seperti

    yang ditemukan pada orang dewasa. Flora bakteri pada kedua mata biasanya sama,

    dan perubahan yang terjadi pada salah satu mata, biasanya juga akan terjadi pada

    mata sebelahnya. 13

    Organisme-organisme yang menghuni konjungtiva bersifat fakultatif

    patogen. Mereka tidak akan menimbulkan gejala inflamasi bila hubungan parasit

    dan penjamu (host) berada dalam keadaan seimbang. Bila keseimbangan ini

    terganggu, maka akan timbul proses inflamasi. 13

    15

  • Tabel 2. Flora Bakteri pada Konjungtiva 13

    Frequency of Culture from NormalOrganism Conjunctiva (%)Staphylococcus albus 91*Diphtheroids 55Staphylococcus aureus 25*Streptococcus viridans 8Bacillus group 2Mimeae 1Pneumococci 1Proteus 1Pseudomonas and miscellaneous 2

    Tabel 3. Flora Jamur pada Konjungtiva 13

    Frequency of Culture from NormalOrganism Conjunctiva (%)Aspergillus 26Candida 16Harmodendem 11White yeasts 10Paecilomyces 6Penicillium 5Mycelia sterile 5

    FISIOLOGI

    Sel epitel konjungtiva sebagai sumber sekresi elektrolit dan air

    Sebagaimana halnya kornea, konjungtiva juga mensekresi Na+, Cl-, dan air.

    Oleh karena konjungtiva lebih banyak menempati permukaan okular dibandingkan

    kornea, ia merupakan sumber potensial elektrolit dan air dalam lapisan akuous tear

    16

  • film. Saat ini, sekresi elektrolit dan air konjungtiva sudah mulai diteliti. Informasi

    terakhir menyebutkan bahwa saraf simpatis dapat memicu sekresi tersebut. 7

    Mekanisme sekresi elektrolit dan air pada konjungtiva serupa dengan yang

    terjadi pada glandula lakrimal dan epitel kornea. Sekresi Cl- ke dalam air mata

    melalui mekanisme transport aktif konjungtiva mencapai 60%-70%. Sisanya berasal

    dari absorbsi Na--glukosa dari air mata. Hal ini menunjukkan bahwa konjungtiva

    juga mengabsorbsi elektrolit dan air. 7

    Sel goblet konjungtiva sebagai sumber sekresi musin

    Salah satu sumber utama lapisan musin pada tear film adalah sel goblet

    konjungtiva. Sel goblet yang terdistribusi ke seluruh konjungtiva akan mensekresi

    musin. Musin merupakan glikoprotein dengan berat molekul besar. Musin dibentuk

    oleh protein yang didukung oleh rantai yang terikat dengan sejumlah karbohidrat.

    Oleh karena rantai karbohidrat tersebut bersifat heterogen, maka gen-gen yang

    mensintesis protein dapat digunakan untuk menentukan jenis-jenis musin yang

    dihasilkan. Ada 9 jenis gen musin, mulai dari MUC1 hingga MUC8. Sel goblet

    konjungtiva mensekresi MUC5AC, sedangkan sel lain di permukaan okular tidak

    mensekresi jenis musin ini. 7

    Musin diproduksi oleh permukaan kasar dari retikulum endoplasma dan

    tertahan pada ikatan membran-granula dalam bentuk filamen. Granula-granula

    tersebut akan bersatu menjadi satu bentuk droplet yang besar untuk kemudian

    dikeluarkan ke permukaan melalui membran sel yang ruptur. Membran sel tersebut

    akan menyusun kembali dirinya, menutup muara yang terbentuk. Sel yang telah

    terpakai tadi akan beristirahat dalam jangka waktu yang bervariasi untuk kemudian

    17

  • kembali memulai siklus sekretorisnya atau berdeskuamasi dan digantikan oleh sel

    yang lain. 13

    Fungsi musin :

    1. Musin berperan penting dalam menjaga integritas permukaan okular oleh

    karena ia melapisi dan melindungi sel epitel. Musin bekerja dengan jalan

    mengurangi tegangan permukaan tear film untuk menjaga stabilitasnya.

    2. Musin berperan dalam mempertahankan imunitas lokal dengan menjadi

    medium tempat immunoglobulin (IgA) dan lisosim mikrobisidal melekat.

    3. Musin juga berperan dalam mekanisme pembersihan mata dengan jalan

    mengikat debris sel, benda asing, dan bakteri. Saat mata berkedip, ikatan ini

    akan bergerak ke arah kantus medial, untuk kemudian dikeluarkan ke kulit.

    4. Musin juga berperan saat terjadi respon inflamasi oleh karena ia memiliki

    sistem produksi superoksida. 3

    Sistem pertahanan konjungtiva terhadap infeksi

    Selain bertanggung jawab terhadap produksi musin, konjungtiva juga

    memiliki kemampuan yang besar dalam melawan infeksi . Hal ini dapat dipahami

    oleh karena :

    1. Epitel konjungtiva yang intak mencegah invasi dari mikroba

    2. Konjungtiva mengandung banyak imunoglobulin

    3. Adanya flora bakteri normal di konjungtiva

    4. Sekresi musin oleh sel goblet konjungtiva dapat mengikat mikroba untuk

    kemudian dikeluarkan melalui sistem ekskresi lakrimal

    18

  • 5. Aktivitas enzimatik konjungtiva memungkinkan jaringan ini dalam

    melokalisir dan menetralisir partikel-partikel asing

    6. Conjunctiva-Associated Lymphoid Tissue (CALT). 13

    Penyembuhan luka konjungtiva

    Insisi bedah maupun laserasi traumatik konjungtiva dengan cepat akan

    memicu terjadinya respon penyembuhan luka. Epitel konjungtiva akan mengalami

    penyembuhan oleh adanya migrasi sel dan proliferasi miotik. Mula-mula, sel-sel

    epitel dari lapisan suprabasal bermigrasi dan saling mendekat untuk menutupi defek

    yang ada. Selanjutnya, sel-sel basal melepaskan ikatannya lalu saling mendekat.

    Proliferasi lapisan basal tersebut akan mengembalikan ketebalan normal dari epitel.

    Dengan proses tersebut, luka seluas 1 cm2 yang terjadi pada konjungtiva akan

    menyembuh dalam waktu 48 hingga 72 jam. 3

    Respon penyembuhan luka pada stroma konjuntiva mirip dengan yang

    terjadi pada jaringan berpembuluh darah di daerah tubuh yang lain. Penyembuhan

    luka pada lapisan stroma terjadi dalam 4 tahapan, yaitu:

    1. Fase Bekuan

    Fase ini terjadi dengan cepat, segera setelah terbentuknya luka pada

    konjungtiva. Ia ditandai dengan terjadi konstriksi pembuluh darah dan

    keluarnya sel-sel darah dan protein plasma (fibrinogen, fibronektin, dan

    plasminogen). Matriks fibrin-fibronektin akan terbentuk saat darah atau plasma

    ekstraseluler bertemu dengan faktor-faktor jaringan tersebut.

    2. Fase Proliferasi

    19

  • Pada fase ini, fibroblas, kapiler-kapiler baru, serta sejumlah sel-sel inflamasi

    seperti monosit dan makrofag akan bermigrasi ke arah bekuan yang terbentuk

    dan bereplikasi. Fibroblas berasal dari tepi luka, jaringan subkonjungtiva, dan

    episklera.

    3. Fase Granulasi

    4. Fase Kolagen

    Fase kolagen ditandai dengan terjadinya agregasi molekul tropokolagen untuk

    membentuk fibril kolagen imatur (kolagen tipe III) yang akan berkembang

    menjadi kolagen matur (kolagen tipe I). Pada akhirnya kapiler-kapiler dan

    fibroblas akan menghilang meninggalkan jaringan parut yang tebal dan padat.

    3,13

    PENUTUP

    Konjungtiva adalah membran mukosa tipis dan transparan yang melapisi

    permukaan anterior bola mata (konjungtiva bulbi), forniks superior dan inferior

    (konjungtiva forniks), dan permukaan posterior palpebra (konjungtiva palpebra).

    Konjungtiva mengandung sel goblet yang berfungsi dalam produksi mukus yang

    merupakan salah satu lapisan tear film. Selain itu, konjungtiva juga memiliki fungsi

    dalam melindungi mata dari patogen melalui mekanisme pertahanan fisik, biokimia,

    dan imunologis.

    20

  • DAFTAR PUSTAKA

    1. Vaughan DG, Asburg T, Paul Riodan-Eva. Anatomi and Embriologi of The Eye

    in : General Ophthalmology. 16th Edition. Mc. Graw Hill Companies. USA.

    2004: 5-6, 25-27.

    2. Liesegang. TJ, Skuta GL, Contor LB. Anatomy and Embriology of the Eye in:

    Fundamental and Principles of Ophthalmology. Section 2. American Academy

    of Ophthalmology. San Franscisco. 2008-2009: 36.

    3. Pepperl JE, et al. Conjungtiva in : Duanes Clinical Ophalmologi (CD-ROM).

    Philadelphia Lippincot William and Wilkins Publisher. 2003.

    4. Lang GK. Conjuctiva in : Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas. 2nd

    Edition. Thieme. New York. 2006: 67-69.

    5. Cook CS. Prenatal Development of the Eye and Its Adnexa in : Duanes

    Clinical Ophalmologi (CD-ROM). Philadelphia Lippincot William and Wilkins

    Publisher. 2003.

    6. Newell FW. Ophthalmology Principle and Concept. 6th Edition. The C>V>

    Mosby Company. St Louis. Toronto. 1986.

    7. Moses RA. Ophthalmic Facial Anatomy ang Physiology in: Adlers Physiology

    of the Eye. 8th Edition. The C.V. Mosby Co. St. Louis Toronto. 1987 : 23-4.

    8. Friedman NJ, Kaiser PK, Trattler WB. Cornea/External Disease in : Review of

    Ophthalmology. Elsevier Saunders. Philadelphia. Pennsylvania. 2005: 197.

    9. Kanski JJ, Menon J. Conjunctiva in: Atlas of Clinical Ophthalmology. 3th

    Edition. Mosby Elsevier. 2006: 4-6.

    10. Stewart WB. Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery. American

    Academy of Ophthalmolgy. San Fransisco. 1984: 75.

    11.Snell RS, Lemp MA. The Ocular Appendages in: Clinical Anatomy of The Eye.

    2nd Edition. Blackwell Science. 1998 : 108-114

    12.http://www.missionforvisionusa.org : Anatomy of the Human Eye. 2005.

    13.Records RE. The Conjungtiva and Lacrimal System in : Duanes Clinical

    Opthalmology (CD-Rom), Philadelphia Lippincot William and Wilkins

    Publisher. 2003.

    21

    http://www.missionforvisionusa.org/

  • 14.Rivas L, Oroza M.A, Esteban A.P, Castillo J.M. Topographical Distribution of

    Ocular Surface Cells by The Use of Impression Cytology. Servicio of

    Oftalmologia. Madrid. Spain. 1990. Available on :

    http://www3.interscience.wiley.com/cgi-bin/fulltext/122402204/PDFSTART

    15.http://images.google.co.id/images?hl=id&um=1&sa

    16.www.dartmouth.edu/.../chapter 46/46-10.HTM

    17.http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray572.png : Ophthalmic Veins.

    18.Eyelid Anatomy in : Duanes Clinical Opthalmology (CD-Rom), Philadelphia

    Lippincot William and Wilkins Publisher. 2003.

    19.http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray777.png : Ophthalmic Nerve

    22

    http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray777.pnghttp://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray572.pnghttp://www.dartmouth.edu/.../chapter%2046/46-10.HTMhttp://images.google.co.id/images?hl=id&um=1&sahttp://www3.interscience.wiley.com/cgi-bin/fulltext/122402204/PDFSTART