Komunitas SGD

  • View
    18

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah komunitas semester 5

Text of Komunitas SGD

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan perusahaan (tempat kerja), tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.Dewasa ini pembangunan nasional tergantug banyak kepada kualitas, kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia yang termasuk praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Pada hakikatnya kesehatan kerja mempelajari semua faktor yang berhubungan dengan pekerjaan, metode kerja, kondisi kerja, dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan penyakit, kecelakaan, atau gangguan kesehatan lain. Secara bertahap, lingkup tersebut diperluas sebagai hasil-hasil penelitian yang memperjelas akan pentingnya ketiga elemen tersebut serta kaitannya terhadap hubungan timbal balik antara pekerjaan dengan berbagai kendala yang ada di dalam pekerjaan di satu pihak, dan manusia yang melaksanakan pekerjaan dengan kendala yang terjadi di dalam pekerjaan di lain pihak.Pekerja di dunia berjumlah 2,7 milyar, 312.000 mati akibat kecelakaan kerja, sedangkan di Amerika serikat dari 150 juta pekerja hanya 6000 mati karena kecelakaan kerja, 10 juta DALYs (Ezzaty dkk, 2004 dalam Arif 2010). Dewan keselamatan dan kesehatan kerja nasional, Dr. Harjono, Msc, mengatakan bahwa berdasarkan data ILO (2003) setiap tahun di dunia terjadi 270 juta kecelakaan kerja, 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja, kematian 2,2 juta serta kerugian finansial sebesar 1,25 triliun USD. Di Indonesia menurut data dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, pada tahun 2012 terjadi 96.400 kecelakaan kerja yang terjadi, sebanyak 2.144 diantaranya tercatat meninggal dunia dan 42 lainnya cacat. Muhaimin mengakui sampai dengan September 2012 angka kecelakaan kerja masih tinggi yaitu pada kisaran 80.000 kasus kecelakaan kerja. Berdasarkan informasi Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan pada Kementerian Tenaga kerja dan Transmigrasi, Drs Muji Handaya, M.Si, Provinsi Jawa Tmur menempati peringkat ketiga paling banyak dalam jumlah kecelakaan kerja selama 2010-2011 dengan catatan sebanyak 26 ribu kasus.Oleh karena itu penting bagi kita selaku tenaga kerja kesehatan yaitu perawat komunitas yang berada di lingkungan perusahaan atau pabrik untuk menciptakan keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja yang ada di dalamnya, dalam makalah ini akan dibahas tanggung jawab serta peran serta dari perawat sesuai tugas dan kewajibannya sehingga diharapkan setelah mempelajari makalah ini kita dapat memberikan asuhan keperawatan bagi pekerja di lingkungan perusahaan ataupun pabrik.

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Bagaimana konsep keperawatan kesehatan kerja?1.2.2 Bagamana asuhan keperawatan komunitas pada kelompok kerja?1.3 Tujuan1.3.1 Mengetahui konsep keperawatan kesehatan kerja.1.3.2 Mengetahui asuhan keperawatan komunitas pada kelompok kerja1.4 ManfaatMahasiswa mampu memahami tentang konsep keperawatan pada komunitas kelompok kerja serta mampu menerapkan asuhan keperawatan pada komunitas kerja.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Dasar Kesehatan KerjaUpaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas, beban dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (Undang-Undang kesehatan tahun 1992). Konsep dasar dari upaya kesehatan kerja ini adalah mengidentifikasi permasalahan, mengevaluasi, dan dilanjutkan dengan tindakan pengendalian. Sasaran kesehatan kerja adalah manusia dan meliputi aspek kesehatan dari pekerja itu sendiri.Pelayanan kesehatan di bawah pengawasan medis diberikan pada orang yang mengalami kecelakaan kerja. Praktik keperawatan spesialis memberi pelayanan kesehatan kepada pekerja atau populasi pekerja yang berfokus pada promosi, proteksi dan perbaikan kesehatan pekerja dalam konteks kesehatan lingkungan kerja. Spesialisasi ilmu kesehatan beserta praktiknya bertujuan agar pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental ataupun sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit, gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor pekerjaan dan lingkungan kerja (Effendy, 1998).2.2 Komponen Kesehatan KerjaAda tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tertentu akan menghasilkan kesehatan kerja yang optimal, yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja (Sumamur, 1996).a. Kapasitas KerjaKapasitas kerja adalah kemampuan seorang tenaga kerja untuk melakukan aktifitas pekerjaan. Kapasitas kerja seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik dan psikis yang baik diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan bagaimana mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung kepada keterampilan, keserasian, keadaan gizi, jenis kelamin, usia, tingkat kesehatan dan ukuran-ukuran tubuh (Depkes RI, 1994). Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja merupakan modal awal seseorang untuk melakukan pekerjaan yang perlu diperhatikan. Semakin tinggi keterampilan kerja yang dimiliki, semakin efisien badan dan jiwa bekerja, sehingga beban kerja menjadi relatif sedikit. Suatu contoh sederhana tentang kurangnya beban kerja bagi seorang ahli adalah seorang perawat yang dengan mudah memasang infus pada pasien di unit gawat darurat. Kesegaran jasmani dan rohani juga merupakan penunjang penting produktivitas seseorang dalam kerjanya. Kesegaran tersebut dimulai sejak memasuki pekerjaan dan terus dipelihara selama bekerja, bahkan sampai setelah berhenti bekerja.b. Beban KerjaPekerjaan yang dilakukan adalah memberikan beban bagi pelakunya. Beban yang dimaksud adalah berupa beban fisik misalnya: menyapu, memikul, dan sebagainya, beban mental setelah berpikir. Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Ada beban yang dirasa optimal bagi seseorang. Inilah maksud penempatan seorang tenaga kerja yang tepat pada pekerjaan yang tepat. Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilir dan tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. Pada umumnya tenaga kerja hanya mampu memikul beban hingga berat tertentu, atau sering disebut sebagai beban maximal. Sehingga perlu penempatan tenaga kerja yang tepat dengan kemampuannya. Ketepatan penempatan tenaga kerja harus mempertimbangkan antara lain kecocokan, pengalaman, keterampilan, motivasi dan lain-lain.c. Beban Tambahan Akibat Lingkungan Kerja Sebagai tambahan kepada beban kerja yang langsung akibat pekerjaan sebenarnya, suatu pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi, yang berakibat beban tambahan terhadap jasmani dan rohani tenaga kerja. Beban tambahan berasal dari lingkungan pekerjaan seperti suhu udara dingin atau panas, kebisingan, hujan serta keserasian pekerjaan dengan alat-alat yang digunakan (Depkes RI, 1994).a. Faktor fisik: pencahayaan, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kebisingan, radiasib. Faktor kimia: gas, uap cairan, debuc. Faktor biologi: bakteri, virus, tumbuhan, hewan, parasitd. Faktor fisiologis: konstruksi peralatan, sikap kerja, cara kerja e. Faktor psikologis: suasana kerja, hubungan antar tenaga kerja atau dengan pengusaha, pemilihan kerja2.3 Lingkungan KerjaPenyakit akibat kerja dapat disebabkan oleh pemaparan terhadap lingkungan kerja. Kesenjangan antara pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dengan usaha-usaha untuk mencegahnya. Misalnya, antara penyakit yang sudah jelas penularannya (melalui darah dan pemakaian jarum suntik yang berulang-ulang) atau perlindungan bagi para pekerja rumah sakit yang belum memadai dengan kemungkinan terpajan melalui kontak langsung. Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya-bahaya dilingkungan kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit kerja, ditempuh dengan 3 langkah utama yaitu: pengenalan lingkungan kerja, evaluasi lingkungan kerja dan pengendalian lingkungan dari berbagai bahaya dan resiko kerja.a. Pengenalan lingkungan kerjaPengenalan dari berbagai bahaya dan resiko kesehatan dilingkungan kerja biasanya pada waktu survei pendahuluan dengan cara melihat dan mengenal (walk-through survey), sebagai salah satu langkah dasar yang harus dilakukan dalam upaya program kesehatan kerja. Beberapa bahaya dan resiko tersebut dapat dengan mudah dikenali, seperti masalah kebisingan yang sulit mendengar percakapan. Bahaya lain yang tidak jelas atau sulit untuk dikenali seperti zat-zat kimia yang berbentuk dari suatu rangkaian proses produksi tanpa disertai tanda-tanda sebelumnya.Untuk dapat mengenali bahaya dan resiko lingkungan kerja dengan baik dan tepat, sebelum dilakukan survey pendahuluan perlu didapatkan segala informasi mengenai proses dan cara kerja yang digunakan, bahan baku dan bahan tambahan lainnya, hasil antara hasil akhir sampingan serta limbah yang dihasilkan. Kemungkinan-kemungkinan terbentuknya zat-zat ki