Click here to load reader

Zaman Prasejarah Kalimantan Selatan

  • View
    556

  • Download
    20

Embed Size (px)

Text of Zaman Prasejarah Kalimantan Selatan

  • BAB II

    ZAMAN PRASEJARAH

    A. LINGKUNGAN ALAM, MANUSIA, DAN BUDAYA PRASEJARAH

    1. Lingkungan Alam Kalimantan Selatan

    eb

    da

    agian besar Pulau Kalimantan terbangun dari sedimen laut yang berasal dari Laut Jawa

    n Cina Selatan. Bagian barat daya pulau ini terdiri dari singkapan batuan berumur 400

    juta tahun, yang pada masa lalu merupakan bagian dari Dataran Sunda yang suatu saat pernah

    menyatu dengan Semenanjung Melayu, Jawa, dan Sumatera.

    S Periode glasial dan interglasial1 yang terjadi beberapa kali di Daerah Sedang Utara selama

    Kala Plestosen dan Holosen,2 telah menyebabkan adanya variasi perubahan muka laut di seluruh

    dunia, termasuk di Kepulauan Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa. Pada periode ini,

    ketika sebagian besar air laut membeku menjadi es oleh turunnya suhu yang hebat, terjadi regresi

    (susut laut). Penurunan muka laut kadang mencapai 100 meter di bawah permukaan laut

    sekarang.3 Wilayah-wilayah luas dari Dangkalan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa (Paparan

    Sunda)4 secara periodis menjadi daerah kering, sedangkan daerah-daerah jauh di timur, termasuk

    Sulawesi, tetap menjadi sebuah kepulauan.

    Pada kenyataanya, lembah-lembah sungai yang luas masih dapat diamati pada peta-peta

    oseanografi Paparan Sunda. Menurut Molengraaff dan Weber (1921), regresi selama periode

    glasial Wrm mencapai 72 meter dari permukaan air laut sekarang, sedangkan De Terra

    menghitung penurunan sekitar 120 meter pada periode glasial Mindel, yaitu susut laut paling

    intensif selama Kala Plestosen, yaitu sekitar 12.000 tahun yang lalu.5

    Pengaruh glasiasi pada Laut Jawa dan Laut Cina Selatan yang sekaligus diiringi

    dengan gerakan eustatik lempeng bumi6 telah beberapa kali membentuk jembatan-jembatan

    darat, sehingga menghubungkan Kalimantan dengan Pulau Jawa, Sumatera, dan daratan Asia.7

    1 Masa terjadinya proses pengesan dan pencairan es 2 Disebut masa Kwarter; Kala Plestosen berlangsung sekitar antara 2.000.000 sampai 10.000 tahun yang lalu, dan

    kala Holosen berlangsung antara 10.000 tahun yang lalu sampai sekarang. 3 A.M. Semah, Pleistocene and Holocene Environmental Changes, Indonesia Heritage: Ancient History, Buku

    Antar Bangsa for Grolier Internasional Inc, Jakarta, 1996. 4 Laut Cina Selatan dan Laut Jawa memiliki kedalaman yang cukup dangkal sekitar 40 meter 5 MacKinnon et.al, The Ecology of Kalimantan Indonesia Borneo, dalam The Ecology of Indonesia Series

    Volume II. Periplus Edition, Singapore, 1996; Harry Widianto et.al, Ekskavasi Situs Gua Babi Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan, Berita Penelitian Arkeologi No.1 1997, Balai Arkeologi Banjarmasin.

    6 Gerakan ini menyebabkan pengangkatan Dataran Sunda secara parsial. 7 Jembatan darat ini tidak meluas melampaui daerah timur Garis Wallace, yaitu batas zoografis alamiah yang

    memisahkan wilayah bagian barat Indonesia yang memiliki pengaruh Asia dengan daerah pengaruh Australia yang berada di bagian timur

  • Terakhir kali terpisahnya Kalimantan dengan daratan Asia Tenggara dan pulau-pulau

    lainnya terjadi pada saat transgresi (genang laut) Kala Holosen sekitar 11.000 tahun yang lalu.8

    Situasi menyatu-pisahnya Pulau Kalimantan dengan pulau-pulau lain dalam konteks Dataran

    Sunda di Indonesia di Indonesia bagian barat selama Kala Plestosen merupakan gejala alam yang

    sangat berpengaruh bagi kehidupan masa lalu daerah ini. Kondisi iklim yang lebih dingin di Asia

    selama periode glasial mendorong binatang-binatang untuk bergerak ke arah selatan melalui

    jembatan-jembatan darat selama lebih dari 500 ribu tahun.

    Jembatan darat yang terbentuk telah memungkinkan migrasi binatang ke daerah-daerah

    kepulauan yang paling jauh di selatan, yaitu di Pulau Jawa, dan fauna mamalia Jawa diperkaya

    dengan adanya spesies baru. Sejak zaman Holosen kondisi alam relatif tidak berubah banyak,

    dan secara biogeografis, flora dan fauna Pulau Kalimantan memperlihatkan relasi yang lebih

    dekat ke Daratan Asia dan pulau-pulau Sunda lainnya Daratan Sunda Kuno- daripada ke pulau

    tetangganya, Sulawesi. Meskipun terpisah hanya oleh Selat Makassar sekitar 200 kilometer

    pada bagian yang paling lebar-- Kalimantan dan Sumatera telah terpisah sejak sekitar 10

    milenium yang lalu, mungkin paling tidak sejak masa Plestosen.9

    Distribusi spesies binatang dan tumbuhan di Kalimantan sangat heterogen berdasarkan

    pembatasan altitudinal dan habitat serta pembagian daerah-daerah fitogeografis dan zoogeografis

    yang berbeda, yang mencerminkan perbedaan sejarah geologis, perhubungan daerah-daerah

    Plestosen dan batasan-batasan geografis sampai persebaran spesies.

    Wilayah Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan merupakan daerah yang terpisah

    secara khusus dari daerah perbukitan yang lain dan merupakan lahan yang kaya akan tumbuh-

    tumbuhan spesifik, terutama anggrek. Distribusi fauna tergantung tidak hanya oleh tipe habitat,

    tetapi juga batasan-batasan geografis antara lain gugusan pegunungan dan sungai-sungai.

    Di daerah Kalimantan sekitar selatan dan timur bagian antara Sungai Mahakam dan

    Barito, adalah daerah nihil akan orangutan dan ras khusus siamang (Bornean gibbon). Dataran

    rendah sebelah utara memiliki fauna dan flora yang lebih kaya spesiesnya, termasuk keberadaan

    jenis tupai Petaurillus hosei dan Petaurillus emiliae, tikus Chiropodomys major, musang

    Herpestes hosei, dan gajah.10

    Jalur migrasi mamalia pertama dari Asia Tenggara Daratan ke Jawa, terus ke arah

    timur ke Nusa Tenggara, yang diikuti jalur kedua dari Cina Selatan, Taiwan, Filipina,

    Kalimantan, dan Sulawesi melewati jembatan darat Sangihe. Kenyataan ini telah memunculkan

    8 Harry Widianto, op.cit. 9 MacKinnon, op.cit. 10 MacKinnon, ibid.

  • hipotesis bahwa Kalimantan dan Sulawesi --seperti pulau-pulau lain di Indonesia bagian barat--

    juga mempunyai kesempatan yang sama dalam menampung berbagai aktivitas migrasi, baik

    binatang vertebrata maupun manusia, sehingga terdapat kemungkinan di pulau ini akan

    ditemukan jejak-jejak kehidupan manusia prasejarah.11

    2. Keberadaan Manusia di Kalimantan Selatan Membicarakan sejarah manusia di daerah Kalimantan Selatan tidak bisa lepas dari awal

    keberadaannya di Pulau Kalimantan secara umum. Bukti awal yang diketahui tentang

    keberadaan manusia di Kalimantan adalah sebuah tengkorak Homo sapiens yang ditemukan di

    Ambang Barat Gua Besar di Niah, Sarawak.12 Tengkorak tersebut memiliki pertanggalan

    mutlak13 lebih dari 35.000 tahun. Meskipun masih terdapat perdebatan tentang usia tengkorak

    tersebut, Niah tetap merupakan situs yang penting, karena mengandung rekaman data tingkatan

    okupasi manusia terlama di Asia Tenggara.14 Gua Niah merupakan sebuah situs dari masa

    Plestosen Atas yang banyak mengungkapkan gaya hidup manusia Paleolitik pendukung budaya

    manusia yang sudah menggunakan alat dalam menunjang kehidupan sehari-harinya.

    Hasil ekskavasi terbaru di Madai, Sabah, memperlihatkan bukti lebih jauh tentang migrasi

    awal dan penghunian manusia di seluruh Kepulauan Indonesia15 dengan pertanggalan mutlak

    30.000 tahun.16 Terjadinya perhubungan darat pada masa Plestosen, gelombang kedatangan

    manusia masa lampau menyapu daerah-daerah kepulauan di Paparan Sunda dari Asia. Orang-

    orang Negrito, nenek moyang bangsa aborigin Australia dan Melanesia, mungkin telah

    menghuni Gua Niah pada 50.000 tahun yang lalu, lalu digantikan oleh gelombang kedatangan

    Mongoloid Selatan. Saat gelombang migrasi menyapu daerah kepulauan, mereka bercampur dan

    melakukan persilangan dengan penduduk asli. Beberapa suku di Asia Tenggara seperti Negrito

    Malaysia memiliki budaya berburu dan mengumpulkan makanan yang masih primitif. Hal

    tersebut mengarahkan dugaan bahwa orang-orang Penan (Punan) juga berasal dari penduduk

    Negrito asli Kalimantan.

    Kondisi geografis Kalimantan Selatan, separuh wilayahnya, yaitu bagian selatan dan barat

    serta sedikit di pesisir timur, didominasi oleh oleh tanah rawa. Jenis tanah seperti ini lebih

    bersifat asam, yang tidak akan mampu mengkonservasi tulang-belulang binatang dan manusia.

    Pada bagian tengah daerah ini, terbentang bagian selatan Pegunungan Meratus yang berorientasi 11 Widianto, op.cit. 12 Harison 1956 dan Majid 1982 vide MacKinnon, op.cit. 13 Hasil pertanggalan radiocarbon C-14 terhadap matriks tanah tempat tengkorak tersebut terkubur. 14 Bellwood 1985 vide MacKinnon, op.cit. 15 Bellwood 1988 vide MacKinnon, ibid.

  • utara-selatan. Pegunungan ini terbentuk dari karst --batu gamping-- yaitu jenis batuan yang

    sangat baik untuk mengkonservasi tulang secara alamiah. Seandainya di daerah Kalimantan

    Selatan harus dicari jejak-jejak masa lalu manusia prasejarah, maka pegunungan kapur seperti ini

    adalah salah satu tempat yang paling memberikan harapan.17 Padang perburuan jejak manusia

    prasejarah antara lain harus diarahkan pada celah-celah batu gamping di Pegunungan Meratus

    yang banyak menyimpan gua-gua alamiah, baik berupa ceruk (rock shelter) maupun gua (cave).

    Penelitian intensif-ekskavasi di Gua Babi di Bukit Batu Buli (Tabalong, Kalimantan

    Selatan) selama 1995-1999 berhasil menemukan komponen manusia yang bersifat fragmentaris

    dengan kuantitas yang cukup tinggi. Berdasarkan karakter morfologisnya diketahui adanya tida

Search related