of 16 /16
7/21/2019 PPT Blok 23 Tonsilofaringitis Difteri http://slidepdf.com/reader/full/ppt-blok-23-tonsilofaringitis-difteri 1/16 RAYMOND ARIANTO 102010065 E5 FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA 2014

PPT Blok 23 Tonsilofaringitis Difteri

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tonslitis

Text of PPT Blok 23 Tonsilofaringitis Difteri

  • RAYMOND ARIANTO102010065E5

    FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA2014

  • Identitas pasien seperti nama, alamat, umur, dan pekerjaan.

    Keluhan utama pasien, hal utama yang membuat pasien datang menemui dokter. Setelah itu tanyakan bagaimana penyakit itu bermula,,sejak kapan, dan bagaimana keberlangsungannya.

    Riwayat penyakit terdahulu, apakah pasien pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya.

    Riwayat pribadi mencakup mengenai riwayat kelahiran pasien, apakah dia cukup bulan atau tidak, proses dilahirkan melalui Caesar atau normal, dan apakah ada masalah saat dia dalam kandungan,riwayat imunisasinya.

    Riwayat Keluarga ditanyakan kepada pasien apakah anggota keluarganya ada yang menderita penyakit-penyakit lain atau tidak.

  • Keadaan umumTanda-tanda vitalSuhu, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah.

    Identifikasi awal yang penting adalah apakah kasus yang dihadapi adalah apakah kasus bedah atau non bedah, jika kasus bedah maka tindakan operasi harus segera dilakukan

  • LaboratoriumDiagnosis tonsilitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membran semu dan didapatkan kuman Corynebacterum diphteriaePCRjarang dilakukan karena mahal

  • Tonsilitis DifteriDifteri adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Corynebacterium Diphteriae. Infeksi biasanya terdapat pada faring, laring, hidung dan kadang pada kulit, konjungtiva, genitalia dan telinga. Difteri didapat melalui kontak dengan karier atau seseorang yang sedang menderita difteri. Bakteri dapat disebarkan melalui tetesan air liur akibat batuk, bersin atau berbicara.

  • Faringitis bakteriFaringitis bakterialis disebabkan oleh infeksi grup A Streptokokus B hemolitikus merupakan penyebab faringitis akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%). Gejala yang terdapat pada penyakit ini adalah nyeri kepala yang hebat, muantah kadang disertai dengan suhu tinggi, jarang disertai batuk. Pada pemeriksaan terlihat tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul petechie.

  • Corynebacterium diphteriae (basil Klebs-Loeffler) merupakan basil gram positif tidak teratur, tidak bergerak, tidak membentuk spora dan berbentuk batang pleomorfis. Penyebab tonsilitis difteri ialah kuman Corynebacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif dan hidup di saluran nafas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring.

  • Difteri tersebar di seluruh dunia, umumnya masih tetap terjadi pada individu-individu yang berusia kurang dari 15 tahun (yang tidak mendapatkan imunisasi primer).Tonsilitis Difteri sering ditemukan pada anak usia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun.

  • Gambaran klinik dibagi dalam 3 golongan yaitu : gejala umum, seperti juga gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanya subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat, serta keluhan nyeri menelan gejala lokal, yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk semu. Pada perkembangan penyakit ini bila infeksinya berjalan terus, kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai sapi( bull neck) atau disebut juga Burgermeesters hals. gejala akibat eksotoksin, yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai decompensatio cordis, mengenai saraf kranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminuria.

  • Kuman masuk berkembang biak di sal nafas atas memproduksi toksin ada 2 fragmen fragmen A dan B toksin menempel di membran sel dengan bantuan Fragmen B fragmen A masuk kedalam dan menghambat enzim translokaserangkaian polipeptida tidak terbentuk sel akan mati

  • Isolasi dan karantinaPenderita harus beristirahat selama 2-3 minggu

    Farmakologis ADS harus diberikan sekaligus secara tetesan intravena. Dosis serum anti diphtheria ditentukan secara empiris berdasarkan berat penyakit, tidak tergantung pada berat badan penderita, dan berkisar antara 20.000-120.000 unit.Antibiotik penisilin atau eritromisin 25-50 mg/KgBB dibagi 3 dosis selama 14 hari.

  • Non farmakologisTonsilektomi Indikasi absolut Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas,disfagia berat,gangguan tidur, atau terdapat komplikasi kardiopulmonal abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase, kecuali jika dilakukan fase akut. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi Indikasi relatif Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan pengobatan medik yang adekuat Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medikTonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik kuman resisten terhadap -laktamase.

  • Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit ini terhadap anak-anak. Pada umumnya setelah terkena difteri kekebalan tubuh terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu dilakukan imunisasi

  • Laringitis difteri dapat berlangsung cepat, membran semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda pasien makin cepat timbul komplikasi ini. Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau dekompensasio kordis.

  • Prognosa tergantung pada :Usia penderitaMakin rendah makin jelek prognosa. Kematian paling sering ditemukan pada anak-anak kurang dari 4 tahun dan terjadi sebagai akibat tercekik oleh membran difterik.Waktu pengobatan antitoksinSangat dipengaruhi oleh cepatnya pemberian antitoksin.Tipe klinis difteriMortalitas tertinggi pada difteri faring-laring (56,8%) menyusul tipe nasofaring (48,4%) dan faring (10,5%)Keadaan umum penderitaPrognosa baik pada penderita dengan gizi baik.