PENANGANAN PERDARAHAN

  • View
    85

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Makalah IBM 2

Text of PENANGANAN PERDARAHAN

PENANGANAN PERDARAHAN / HEMOSTASIS DAN PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL

DISUSUN OLEH:RIKI INDRA KUSUMA

DOSEN PEMBIMBING:Dr. Drg. Endang Syamsudin, Sp.BM.

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALISBEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIALFAKULTAS KEDOKTERAN GIGIUNIVERSITAS PADJADJARANBANDUNG2015

BAB IPENDAHULUAN

Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas, namunjustru dijumpai pada perumahan yang terpencil, kantor, jalan raya, atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. Ketika trauma yang kompleks terjadi, pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi (Fonseca, 2005). Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus, membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan (Pedersen, 1996).Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan, sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian (Tatiana Parsa, 2001, Fonseca, 1999; David, 1995). Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah sakit. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita.Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai, juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna.Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi, sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian (Tatiana Parsa, 2001, Fonseca, 1999; David, 1995).Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun, dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak, luka tusuk dan perkelahian). Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor.Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial (Fonseca, 2005).Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIALPada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut (Raymond, 1991):1.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakita. Mempertahankan jalan napasb. Menghentikan perdarahan eksternalc. Stabilisasi frakturd. Stabilisasi tulang belakange. Tranportasi cepat (Ambulatory)2. Resusitasi dan pananganan primera. ABC (Airway, Breathing, Circulation)b. Resusitasi cairanc. Pemantauan3. Diagnosis dan penanganan sekundera. Pemeriksaan fisik menyeluruhb. Radiografic. Pemeriksaan Laboratoriumd. Resusitasi dan pemantauan lanjut4. Perawatan Definitifa. Pembedahanb. Perawatan non operatifc. Nutritional support5. Rehabilitasi

B. TINJAUAN UMUM PERDARAHANPerdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler, karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah.Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka, waktu perdarahan, lokasi perdarahan, dan penyebab perdarahan, yang akan diuraikan sebagai berikut:1. Menurut pembuluh darah yang terluka, perdarahan dapat dibagi menjadi:a. Perdarahan arteri, dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung.b. Perdarahan vena, dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap.c. Perdarahan kapiler, dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena, dan darah merembes dari permukaan luka.2. Menurut waktu terjadinya perdarahan, dibagi menjadi:a. Perdarahan primerjika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma; operasi.b. Perdarahan intermediatejika terjadi dalam 24 jam.c. Perdarahan sekunderjika terjadi setelah 24 jam.3. Menurut lokasiperdarahan, maka dibagi menjadi:a. Perdarahan eksternaljika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya.b. Perdarahan internaljika arah tidak keluar, tetapi masuk kejaringan sekitarnya.4. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi:a. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaanb. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis, dapat terjadi karena kelainan pembuluh darah, kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah.

C. HEMOSTASISHemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan.Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. Perdarahan yaitu darahkeluar dari pembuluh darah. Trombosis yaitu darah membeku dipembuluh darah.Hemostasis dapat dibagi menjadi:1. Hemostasis primer, yang termasuk didalamanya adalahpembuluh darahdan trombosit.2. Hemostasis sekunder, yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuandan anti pembekuan.

Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. Hematoma memberikan tekanan pada luka, mengurangi vaskularitas; hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur, yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka (Hupp, 2008).Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara, yang akan diuraikan sebagai berikut:1. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede)Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena, sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit, titik itu disebut petekia.2. Masa perdarahanMenilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan.3. Hitung jumlah trombositPerdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100.000/ul. Jumlah trombosit kurang dari 50.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20.000/ul.4. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT)Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII, X, V, protrombin dan fibrinogen.5. Masa tromboplastin parsial teraktivitas (Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT)Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII, prekalikren, kininogen, XI, IX, VIII, X, V, protrombin dan fibrinogen6. Trombine Time (TT)Perubahan fibrinogen menjadi firbin7. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIIIDigunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin.

Tabel 1. Tes KoagulasiJenis TesNilai NormalKegunaan

Waktu perdarahan2-7 menitMengamati fungsi vaskular dan platelet,deteksi penyakit willebrand

Hitung platelet150.000-400.000/mmDeteksi trombositosis , trombositopenia

Waktu protrombin12-14 DetikLebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I,II,V,VII,X.Mungkin abnormal padapenyakit hati,defisiensi vitamin K,terapi warfarin sodium(Coumadin),Penggunaan aspirin,dan anti-radang non-