of 19 /19
Lampiran Materi a.Anatomi dan Fisiologi Konjungtiva adalah membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah- tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi. Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang, mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama korena (Ilyas, 2005). Konjungtiva terdiri dari tiga bagian sebagai berikut. 1. Konjungtiva palpebralis: menutupi permukaan posterior dari palpebra dan dapat dibagi menjadi marginal, tarsal, dan orbital konjungtiva. a) Marginal konjungtiva memanjang dari tepi kelopak mata sampai sekitar 2 mm di belakang kelopak mata menuju lengkung dangkal, sulkus subtarsalis, merupakan zona transisi antara kulit dan konjungtiva sesungguhnya. b) Tarsal konjungtiva bersifat tipis, transparan, dan sangat vaskuler. Menempel ketat pada seluruh tarsal plate pada kelopak mata atas. Pada kelopak mata bawah, hanya menempel

MATERI KONJUNGTIVITIS

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Konjungtivitis

Text of MATERI KONJUNGTIVITIS

Lampiran Materia. Anatomi dan Fisiologi

Konjungtiva adalah membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi. Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang, mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama korena (Ilyas, 2005). Konjungtiva terdiri dari tiga bagian sebagai berikut.1. Konjungtiva palpebralis: menutupi permukaan posterior dari palpebra dan dapat dibagi menjadi marginal, tarsal, dan orbital konjungtiva.a) Marginal konjungtiva memanjang dari tepi kelopak mata sampai sekitar 2 mm di belakang kelopak mata menuju lengkung dangkal, sulkus subtarsalis, merupakan zona transisi antara kulit dan konjungtiva sesungguhnya.b) Tarsal konjungtiva bersifat tipis, transparan, dan sangat vaskuler. Menempel ketat pada seluruh tarsal plate pada kelopak mata atas. Pada kelopak mata bawah, hanya menempel setengah lebar tarsus. Kelenjar tarsal terlihat lewat struktur ini sebagai garis kuning.c) Orbital konjungtiva berada diantara tarsal plate dan forniks.2. Konjungtiva bulbaris: menutupi sebagian permukaan anterior bola mata. Konjungtiva bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di bawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea.3. Konjungtiva forniks: bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan bola mata, banyak ditemukan pembuluh darah sehingga mudah terjadi pembengkakan apabila terjadi peradangan mata.

Gambar 1. Anatomi konjungtiva

b. PengertianKonjungtivitis merupakan penyakit mata paling umum di dunia. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai berat dengan banyak sekret purulen kental. Penyebab umumnya eksogen tetapi juga bisa karena endogen (Vaughan, 2010). Konjungtivitis adalah radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh bakteri seperti konjungtivitis gonokok, virus, klamidia, alergi toksik, dan molluscum contagiosum (Ilyas, 2010). Menurut Smeltzer & Bare (2002), konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva yang ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtiva nampak merah, sehingga sering disebut mata merah.

Gambar 2. Konjungtivitisc. Klasifikasi1. Konjungtivitis infeksiPenyebab konjungtivitis infeksi biasanya eksogen, antara lain virus, bakteri, fungi, dan parasit. a) Konjungtivitis bakteri

Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret pada mata, dan iritasi mata. Organisme penyebab tersering adalah Staphylococccus, Streptococcus, Pneumococcus, dan Haeophilus. Kondisi ini biasanya sembuh sendiri meski obat tetes mata antibiotik spektrum luas akan mempercepat kesembuhan. Apusan konjungtiva untuk kultur diindikasikan bila keadaan ini tidak menyembuh (James dkk, 2005:63). Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik. Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya disebabkan oleh N. gonnorhoeae, Neisseria kochii dan N. meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus. Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis bakteri subakut adalah H. influenza dan Escherichia coli, sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis. Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai mata yang sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan imunodefisiensi.b) Konjungtivitis virus

Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri (Vaughan, 2010). Konjungtivitis ini dibedakan dari konjungtivitis bakteri berdasarkan: sekret berair dan purulen terbatas;

adanya folikel konjungtiva dan pembesaran kelenjar getah bening preaurikular;

selain itu mungkin juga tedapat edema kelopak dan lakrimasi berlebih.Konjungtivitis ini merupakan penyakit yang sembuh sendiri namun sangat menular. Organisme penyebab tersering adalah adenovirus, dan yang lebih jarang, Coxsackie dan pikornavirus. Adenovirus juga dapat menyebabkan konjungtivitis yang berhubungan dengan pembentukan pseudomembran pada konjungtiva. Serotipe adenovirus tertentu juga menyebabkan keratitis pungtata yang menyulitkan (James dkk, 2005:64). Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan penderita dan dapat menular melalui droplet pernafasan, kontak dengan benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang yang terkontaminasi (Ilyas, 2010). c) Konjungtivitis jamur

Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu. Selain Candida sp, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Sporothrix schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis walaupun jarang (Vaughan, 2010).

d) Konjungtivitis parasitKonjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia californiensis, Loa loa, Ascaris lumbricoides, Trichinella spiralis, Schistosoma haematobium, Taenia solium dan Pthirus pubis walaupun jarang (Vaughan, 2010).2. Konjungtivitis alergiKonjungtivitis alergi dapat dibagi menjadi akut dan kronis.

a) Akut (konjungtivitis demam hay)Merupakan suatu bentuk reaksi akut yang diperantai IgE terhadap alergen yang tersebar di udara (biasanya serbuk sari). Gejala dan tanda antara lain rasa gatal, injeksi dan pembengkakan konjungtiva (kemosis), lakrimasi.b) Konjungtivitis vernal (kataral musim semi)Konjungtivitis ini juga diperantarai oleh IgE. Sering mengenai anak laki-laki dengan riwayat atopi. Dapat timbul sepanjang tahun. Gejala dan tanda antara lain rasa gatal, fotofobia, lakrimasi, konjungtivitis papilar pada lempeng tarsal atas (papila dapat bersatu untuk membentuk cobblestone raksasa) (lihat gambar 3), folikel, dan bintik putih limbus, lesi pungtata pada epitel kornea, plak oval opak yang pada penyakit parah plak ini menggantikan zona bagian atas epitel kornea.

Gambar 3. Tampilan papila raksasa (cobblestone) pada konjungtivitis vernal

Pengguna lensa kontak dapat mengalami reaksi alergi terhadap lensa yang digunakan atau bahan pembersih lensa yang menyebabkan konjungtivitis papilar raksasa (giant papillary conjunctivitis, GPC) dengan sekret mukoid. Walaupun hal ini memberikan repons terhadap terapi topikal dengan penstabil sel mast, seringkali penggunaan lensa kontak harus dihentikan sementara waktu atau permanen. Beberapa pasien tidak bisa meneruskan penggunaan lensa kontak karena kambuhnya gejala (James dkk, 2005:65-66).3. Konjungtivitis iritan

Konjungtivitis iritan adalah konjungtivitis yang terjadi oleh pemajanan substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis. Substansi-substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis dan dapat menyebabkan konjungtivitis, seperti asam, alkali, asap dan angin, dapat menimbulkan gejala-gejala berupa nyeri, pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme. Selain itu penyakit ini dapat juga disebabkan oleh pemberian obat topikal jangka panjang seperti dipivefrin, miotik, neomycin, dan obat-obat lain dengan bahan pengawet yang toksik atau menimbulkan iritasi. Konjungtivitis ini dapat diatasi dengan penghentian substansi penyebab dan pemakaian tetesan ringan (Vaughan, 2010).4. Infeksi klamidia

Berbagai serotipe Chlamydia trachomatisi yang merupakan organisme intraselular obligat menyebabkan dua bentuk infeksi mata.

a) Keratokonjungtivitis inklusi

Penyakit ini merupakan penyakit yang ditularkan secara seksual dan dapat berlangsung kronis (hingga 18 bulan) kecuali diterapi dengan adekuat. Pasien datang dengan konjungtivitis folikular mukopurulen dan terjadi mikropanus (vaskularisasi dan parut kornea superfisial perifer) yang berhubungan dengan parut subepitel. Uretritis dan servisitis sering terjadi. Diagnosis dikonfirmasi dengan deteksi antigen klamidia, menggunakan imunofluoresensi atau dengan identifikasi badan inklusi khas dari apusan konjungtiva atau spesimen keroka dengan pewarnaan Giemsa. Konjungtivitis inklusi diobati dengan tetrasiklin topikal dan sistemik. Pasien harus dirujuk ke klinik penyakit menular seksual.b) Trakoma

Trakoma merupakan penyebab infektif kebutaan tersering di dunia meski tidak sering terjadi di negara maju. Lalat rumah merupakan vektor penyakit ini dan penyakit mudah berkembang dengan higiene yang buruk dan penduduk yang padat di iklim kering dan panas. Tanda penting penyakit ini adalah fibrosis subkonjungtiva yang disebabkan oleh reinfeksi yang sering terjadi pada kondisi tidak higienis. Kebutaan dapat terjadi karena parut kornea akibat keratitis dan trikiasis berulang. Trakoma diobati dengan tetrasiklin atau eritromisin oral atau topikal. Azitromisin, sebagai alteratif, hanya memerlukan sekali pemakaian. Entropion dan trikiasis membutuhkan koreksi bedah.

Gambar 4. Parut pada (a) kelopak atas (dieversikan) dan (b) kornea pada trakomad. Gejala KlinisMenurut James dkk (2005:61), pasien dengan konjungtivitis dapat mengeluhkan:

1. Nyeri dan iritasi. Konjungtivitis jarang dikaitkan dengan apapun selain sedikit rasa tidak nyaman. Nyeri menandakan sesuatu yang lebih serius seperti cedera atau infeksi kornea. Gejala ini membantu membedakan antara konjungtivitis dengan penyakit kornea.

2. Kemerahan. Pada konjungtivitis seluruh permukaan konjungtiva termasuk yang melapisi lempeng tarsal ikut terlibat. Jika kemerahan ini terlokalisasi pada injeksi siliar limbus siliaris, pertimbangkan hal berikut:a) keratitis (suatu inflamasi kornea);

b) uveitis;

c) glaukoma akut.

3. Sekret. Sekret purulen menandakan konjungtivitis bakteri. Konjungtivitis virus terutama dikaitkan dengan sekret berair.

4. Hilangnya penglihatan. Hal ini terjadi jika kornea sentral terkena. Kehilangan penglihatan merupakan gejala penting dan membutuhkan tindakan segera.

Gambaran berikut dapat terlihat pada penyakit konjungtiva (James dkk, 2005:62-63). 1. Papila. Papila merupakan lesi meninggi pada konjungtiva tarsal atas, dengan diameter sekitar 1 mm dan memiliki inti vaskular sentra. Papila merupakan tanda nonspesifik inflamasi kronis. Papila disebabkan oleh adanya septa fibrosa antara konjungtiva dan subkonjungtiva yang memungkinkan jaringan di antaranya membengkak dengan infiltrat inflamasi. Papila raksasa, ditemukan pada penyakit mata alergi, terbentuk akibat bersatunya papila (lihat gambar 3).2. Folikel. Folikel merupakan lesi gelatinosa oval meninggi dengan diameter sekitar 1 mm yang biasanya ditemukan pada konjungtiva tarsal bawah dan tepi tarsal atas, dan kadang pada limbus. Tiap folikel merepresentasikan kumpulan limfoid dengan pusat germinalnya sendiri. Tidak seperti papila, penyebab folikel lebih spesifik (misal infeksi virus dan klamidia).

Gambar 4. Tampilan klinis folikel3. Dilatasi pembuluh darah konjungtiva (disebut injeksi).

Gambar 5. Injeksi konjungtiva4. Perdarahan subkonjungtiva, seringkali berwarna merah terang karena teroksigenisasi penuh oleh udara sekeliling, melalui konjungtiva.

Gambar 6. Perdarahan subkonjungtivae. PenatalaksanaanWalaupun penyakit ini sering sembuh sendiri, akan tetapi menimbulkan keluhan yang memerlukan pengobatan. Pengobatan terutama dengan menghindari pencetus, obat-obatan diberikan untuk menghilangkan keluhan simptomatis dengan obat topikal yang mengandung antihistmain dan steroid topikal dosis rendah. Pada kasus yang berat dapat diberikan antihistamin dan steroid sistemik (Ilyas, 2005; Merck, 2005 dalam Purnadi, 2009). Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi antara lain:

1. apabila seseorang mengalami sakit mata merah, usahakanlah tetap berdiam diri di rumah, banyak istirahat serta jangan dulu beraktifitas agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain;2. pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat;

3. mencuci tangan sebelum dan setelah memegang mata yang sakit;

4. menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit;5. kompres dingin untuk mengatasi gatal-gatal dan steroid topikal jangka pendek untuk meredakan gejala lainnya;

6. rasa gatal pada mata bisa dikurangi dengan memercikkan air hangat pada mata merah tersebut, serta jangan digaruk atau dikucek;

7. bagi orang lain, usahakanlah jangan dulu melakukan kontak langsung dengan penderita mata merah baik menyentuhnya secara langsung maupun meminjam barang-barang bekas dipakai penderita, agar tidak tertular penyakitnya.

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen mikrobiologiknya. Terapi dapat dimulai dengan antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik. Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva (Ilyas, 2010).

Terapi konjungtivitis virus tidak diperlukan kecuali terdapat infeksi bakteri sekunder. Pasien harus diberikan instruksi higiene untuk meminimalkan penyebaran infeksi (misal menggunakan handuk yang berbeda). Penggunaan steroid mengurangi gejala dan menyebabkan hilangnya opasitas kornea, namun inflamasi ulangan (rebound inflammation) sering terjadi ketika steroid dihentikan (James dkk, 2005:64).

Terapi awal konjungtivitis alergi dengan antihistamin dan penstabil sel mast (misal natrium kromoglikat; nedokromil; lodoksamid). Streoid topikal dibutuhkan pada kasus-kasus berat, namun pemakaian jangka panjang jika mungkin dihindari karena dapat menginduksi glaukoma atau katarak (James dkk, 2005:66). Menurut Vaughan (2010), penyakit ini dapat diterapi dengan tetesan vasokonstriktor-antihistamin topikal. Pada konjungtivitis iritan pembilasan segera dan menyeluruh saccus konjungtiva dengan air atau larutan garam sangat penting, dan setiap materi padat harus disingkirkan secara mekanik. Jangan memakai antidotum kimiawi. Tindakan simtomatik umum adalah kompres dingin selama 20 menit setiap jam, teteskan atropine 1% dua kali sehari, dan beri analgetika sistemik bila perlu.DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. 2005. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga Cetakan ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.Ilyas S. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Kedua Cetakan ke-7. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. James, Bruce, Chew, Chris, dan Bron, Anthony. 2005. Lecture Notes: Oftalmologi. Edisi Kesembilan. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.Purnadi, A. Ridwan. 2009. Insiden Konjungtivitis dan Faktor-Faktor yang Berhubungan pada Peekerja Bagian Produksi Pabrik Keramik PT. X di Tangerang. Tidak Diterbitkan. Tesis. Jakarta: Program Magister Ilmu Kedokteran Kerja Kekhususan Kedokteran Tenaga Kerja, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.Vaughan A. 2010. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC.