of 36 /36
BAB I PENDAHULUAN Konjungtiva merupakan membran yang tipis dan transparan melapisi bagian anterior dari bola mata (konjungtiva bulbi), serta melapisi bagian posterior dari palpebra (konjungtiva palpebrae). Karena letaknya paling luar itulah sehingga konjungtiva sering terpapar terhadap banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang mengganggu. Salah satu penyakit konjungtiva yang paling sering adalah konjungtivitis. Radang konjungtiva (konjungtivitis) adalah penyakit mata yang paling umum didunia. Penyakit ini bervariasi dari hiperemia ringan dengan berair mata sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental. Penyebabnya umumnya eksogen, namun dapat endogen. Berdasarkan agen penyebabnya maka konjungtivitis dapat dibedakan konjungtivitis bakterial, konjungtivitis virus, konjungtivitis klamidia, konjungtivitis rickettsia, konjungtivitis fungal, konjungtivitis parasit, konjungtivitis alergika, konjungtivitis kimia atau iritatif, konjungtivitis yang penyebabnya tidak diketahui, serta konjungtivitis yang berhubungan dengan penyakit sistemik. Kalau berdasarkan atas lamanya penyakit maka konjungtivitis dapat dibedakan menjadi akut dan kronik. 1

Case Konjungtivitis

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mata

Citation preview

Page 1: Case Konjungtivitis

BAB I

PENDAHULUAN

Konjungtiva merupakan membran yang tipis dan transparan melapisi bagian anterior dari

bola mata (konjungtiva bulbi), serta melapisi bagian posterior dari palpebra (konjungtiva

palpebrae). Karena letaknya paling luar itulah sehingga konjungtiva sering terpapar terhadap

banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang mengganggu. Salah satu penyakit

konjungtiva yang paling sering adalah konjungtivitis.

Radang konjungtiva (konjungtivitis) adalah penyakit mata yang paling umum didunia.

Penyakit ini bervariasi dari hiperemia ringan dengan berair mata sampai konjungtivitis berat

dengan banyak sekret purulen kental. Penyebabnya umumnya eksogen, namun dapat endogen.

Berdasarkan agen penyebabnya maka konjungtivitis dapat dibedakan konjungtivitis

bakterial, konjungtivitis virus, konjungtivitis klamidia, konjungtivitis rickettsia, konjungtivitis

fungal, konjungtivitis parasit, konjungtivitis alergika, konjungtivitis kimia atau iritatif,

konjungtivitis yang penyebabnya tidak diketahui, serta konjungtivitis yang berhubungan dengan

penyakit sistemik. Kalau berdasarkan atas lamanya penyakit maka konjungtivitis dapat

dibedakan menjadi akut dan kronik.

BAB II

1

Page 2: Case Konjungtivitis

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. EY

Umur : 43 tahun

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat : KP Moyan RT1/4, Bogor

Agama : Islam

Suku : Sunda

Status : menikah

Tanggal Pemeriksaan : 5/6/2013

II. ANAMNESIS

Dilakukan secara autoanamnesis

Keluhan utama : Pasien datang ke Poli Mata RS Marzoeki Mahdi tanggal 5 Juni 2013, dengan

kedua mata perih sejak 5 bulan yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Sejak + 5 bulan yang lalu pasien mengeluh kedua matanya sering perih. Perih dirasakan

hilang timbul dan sering kambuh. Pasien juga mengeluh matanya akan merah pabila perih.

Kedua mata terasa gatal dan berair, sehingga pasien sering menggosok-gosok matanya. Pasien

juga merasa terdapat belekan di mata. Tidak ada pandangan mata kabur dan silau pada kedua

mata dan keluhan lain yang mengganggu aktivitasnya. Saat pagi hari tidak keluar kotoran dari

mata kanannya, tidak sulit membuka mata. Sebelum berobat ke poliklinik Mata, pasien sering

membeli obat tetes mata di apotek, keluhan sempat sembuh namun kambuh lagi sehingga pasien

berobat ke poliklinik mata RS Marzoeki Mahdi. Tidak ada riwayat trauma pada kedua mata. Os

menyangkal kedua mata kemasukan benda asing.

Riwayat Penyakit Dahulu :

2

Page 3: Case Konjungtivitis

Os belum pernah mengalami keadaan seperti ini sebelumnya. Terdapat riwayat alergi

sebelumnya. pasien mempunyai hipertensi, namun berobat tidak teratur. Riwayat DM tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Di keluarga os tidak ada yang mengalami hal yang sama dengan os.

Riwayat kebiasaan :

Suka menonton tv.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Sikap : Aktif

Kooperasi : Kooperatif

Status Oftalmikus

Ocular Dextra Ocular Sinistra

Normal Palpebra Normal

Hiperemis (+),injeksi (+)

konjungtiva dan episklera,

hordeolum (-), Kalazion (-),

sekret (+)

Konjungtiva Hiperemis (+),injeksi (+)

konjungtiva dan episklera,

hordeolum (-), Kalazion (-),

sekret (+)

Jernih, sikatrik (-), infiltrat (-),

benda asing (-),arcus senilis (-)

Kornea Jernih, sikatrik (-), infiltrat (-), benda

asing (-),arcus senilis (-)

Volume dan isi normal COA Volume dan isi normal

Ukuran 2-3 mm, isokor,

RCL +, RCTL +, ditengah

Pupil Ukuran 2-3 mm, isokor,

RCL +, RCTL +, ditengah

Jernih Lensa Jernih

3

Page 4: Case Konjungtivitis

Gerakan Bola Mata

1.0 f Visus 1,0 f

IV. RESUME

Pasien wanita, umur 40 tahun, mengeluh kedua matanya perih sejak 5 bulan lalu. Perih

dirasakan hilang timbul dan sering kambuh. Pasien juga mengeluh matanya akan merah pabila

perih. Kedua mata terasa gatal dan berair, sehingga pasien sering menggosok-gosok matanya.

Pasien juga merasa terdapat belekan di mata. Sebelum berobat ke poliklinik Mata, pasien sering

membeli obat tetes mata di apotek, keluhan sempat sembuh namun kambuh lagi sehingga pasien

berobat ke poliklinik mata RS Marzoeki Mahdi.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan pada mata kanan hiperemis,injeksi konjungtiva dan

episklera, dan terdapat sekret. Visus OD 1.0f. Mata kiri terdapat hiperemis,injeksi konjungtiva

dan episklera, dan terdapat sekret. Visus OS 1.0f.

V. DIAGNOSIS

ODS konjungtivitis kronis.

VI. PENATALAKSANAAN

Minidose LFX 4 dd gtt I ODS

Posop 4 dd gtt 1 ODS

Vitanorm 2 dd I

VII. PROGNOSIS

Dubia ad bonam

VIII. ANJURAN

Jangan menggosok-gosok mata

Minum obat dan menggunakan tetes mata secara teratur

BAB III

4

Page 5: Case Konjungtivitis

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva

atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada

mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai

dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan

mata rusak. Beberapa jenis konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang

memerlukan pengobatan.

3.2. Gejala dan Tanda klinis

Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau panas, sensasi

penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Jika ada rasa sakit agaknya kornea terkena. Sakit pada

iris atau corpus siliaris mengesankan terkenanya kornea. Tanda penting konjungtivitis adalah

hiperemia, berair mata, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma

konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan membran,

granuloma, dan adenopati pre-aurikuler.¹

Hiperemia adalah tanda paling mencolok pada konjungtiva akut. Kemerahan paling nyata

pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh

konjungtiva posterior. Warna merah terang mengesankan konjungtivitis bakteri dan keputihan

mirip susu mengesankan konjungtivitis alergika. Berair mata (epiphora) sering mencolok,

diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau gatal. Kurangnya sekresi airmata

yang abnormal mengesankan keratokonjungtivitis sicca.

Eksudasi adalah ciri semua jenis konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis dan amorf pada

konjungtivitis bacterial dan dapat pula berserabut seperti pada konjungtivitis alergika,yang

biasanya menyebabkan tahi mata dan saling melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari,

dan jika eksudat berlebihan agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.

Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke muskullus muller (M.

Tarsalis superior). Keadaan ini dijumpai pada konjuntivitis berat. Misal Trachoma dan

konjungtivitis epidemica.

Pseudomembran dan membran adalah hasil proses eksudatif dan berbeda derajatnya.

Sebuah pseudomembran adalah pengentalan di atas permukaan epitel. Bila diangkat, epitel tetap

5

Page 6: Case Konjungtivitis

utuh. Sebuah membran adalah pengentalan yang meliputi seluruh epitel dan jika diangkat akan

meninggalkan permukaan yang kasar dan berdarah.

3.3 Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus

permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera

(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak

(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva terdiri dari tiga

bagian:

1. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra).

2. Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata).

3. Konjungtiva forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior

palpebra dan bola mata)

Konjungtiva palbebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke

tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada fornices

superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera dan menjadi konjungtiva bulbaris.

Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-

kali. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva

sekretorik. (Duktus-duklus kelenjar lakrimalis bermuara ke forniks temporal superior.) Kecuali

di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris

melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya. Lipatan konjungtiva bulbaris yang

tebal, mudah bergerak dan lunak (plika semilunaris) terlelak di kanthus internus dan membentuk

kelopak mata ketiga pada beberapa binatang. Struktur epidermoid kecil semacam daging

(karunkula) menempel superfisial ke bagian dalam plika semilunaris dan merupakan zona

transisi yang mengandung elemen kulit dan membran mukosa.

Konjungtiva forniks struktumya sama dengan konjungtiva palpebra. Tetapi hubungan

dengan jaringan dibawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan. Juga mengandung

banyak pembuluh darah. Oleh karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila

terdapat peradangan mata.

Jika dilihat dari segi histologinya, lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima

lapisan sel epitel silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat

6

Page 7: Case Konjungtivitis

limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri

dari sel-sel epitel skuamosa. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval

yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi

lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat

daripada sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.

Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan

fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat

mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak

berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa

konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian

menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari Jaringan penyambung yang melekat pada

lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan

fibrosa tersusun longgar pada bola mata.

Kelenjar airmata asesori (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan funginya mirip

kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks

atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas. ¹

3.4 Klasifikasi

3.4.1 Konjungtivitis Karena agen infeksi

A. Konjungtivitis Bakterial

Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan menahun. Penyebab

konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus, Pneumococcus, dan Haemophilus.

Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan mikroorganisme seperti

Haemophilus influenza. Lamanya penyakit dapat mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan

memadai.

Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari sekian

antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa hari. Konjungtivitis

purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria meningitides dapat

menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini.

7

Page 8: Case Konjungtivitis

Tanda dan Gejala

- Iritasi mata,

- Mata merah,

- Sekret mata,

- Palpebra terasa lengket saat bangun tidur

- Kadang-kadang edema palpebra

- Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan. Infeksi

dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan kuman seperti

seprei, kain, dan lain-lain.1,5,7

Pemeriksaan Laboratorium

Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organisme dapat diketahui

dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan

pulasan Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak neutrofil

polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan biakan

disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen, bermembran

atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik, namun sebaiknya

harus dimulai terapi antibiotika empiric. Bila hasil sensitifitas antibiotika telah ada,

terapi antibiotika spesifik dapat diteruskan.

Komplikasi dan Sekuel

Blefaritis marginal menahun sering menyertai konjungtiva stafilokokus kecuali

pada pasien sangat muda yang bukan sasaran blefaritis. Parut konjungtiva dapat terjadi

pada konjungtivitis pseudomembranosa dan pada kasus tertentu yang diikuti ulserasi

kornea dan perforasi. Ulserasi kornea marginal dapat terjadi pada infeksi N

gonorroeae, N konchii, N meningitides, H aegyptus, S gonorrhoeae berdifusi melalui

kornea masuk camera anterior, dapat timbul iritis toksik.1,3,7

Terapi

Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen

mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai dengan

terapi topical antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus dipilih antibiotika

yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N meningitides. Terapi topical

8

Page 9: Case Konjungtivitis

dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah materi untuk pemeriksaan laboratorium

telah diperoleh.

Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus

dibilas dengan larutan garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk

mencegah penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara

khusus hygiene perorangan.

Perjalanan dan Prognosis

Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat

berlangsung selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali

konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis dan

memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak diobati dapat

berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva dapat menjadi gerbang

masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan meninges, hasil akhir konjungtivitis

meningokokus adalah septicemia dan meningitis.1,4 Konjungtivitis bacterial menahun

mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.

B. Konjungtivitis Virus

1. Konjungtivitis Folikuler Virus Akut

a) Demam Faringokonjungtival

Tanda dan gejala

Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 °C, sakit tenggorokan,

dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler sering sangat mencolok

pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring. Mata merah dan berair mata sering

terjadi, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah subepitel. Yang khas adalah

limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).1,8

Laboratorium

Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan

kadang – kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat dibiakkan dalam sel HeLa dan

ditetapkan oleh tes netralisasi. Dengan berkembangnya penyakit, virus ini dapat juga

didiagnosis secara serologic dengan meningkatnya titer antibody penetral virus.

9

Page 10: Case Konjungtivitis

Diagnosis klinis adalah hal mudah dan jelas lebih praktis. Kerokan konjungtiva terutama

mengandung sel mononuclear, dan tak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan

ini lebih sering pada anak-anak daripada orang dewasa dan sukar menular di kolam

renang berchlor. 1,3,6

Terapi

Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri, umumnya dalam

sekitar 10 hari. 1,8

b) Keratokonjungtivitis Epidemika

Tanda dan gejala

Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu mata

saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya pasien merasa ada infeksi

dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14 hari oleh fotofobia,

keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat. Sensai kornea normal. Nodus

preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema palpebra, kemosis, dan hyperemia

konjungtiva menandai fase akut. Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul

dalam 48 jam. Dapat membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau

pembentukan symblepharon. 1,3,4

Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel terutama

terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-bulan namun

menyembuh tanpa meninggalkan parut. 1

Keratokonjungtiva epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata.

Namun, pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam,

sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.

Laboratorium

Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37

(subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi dalam biakan sel

dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi

radang mononuclear primer; bila terbentuk pseudomembran, juga terdapat banyak

neutrofil. 1

Penyebaran

10

Page 11: Case Konjungtivitis

Transmisi nosoklomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi melalui jari-

jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril, atau pemakaian

larutan yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama anestetika topical, mungkin

terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva atau

silia. Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber penyebaran. 1,3

Pencegahan

Bahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan memakai penetes steril

pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. Cuci tangan secara teratur

di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata

khususnya tonometer juga suatu keharusan. Tonometer aplanasi harus dibersihkan

dengan alcohol atau hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan

dengan hati-hati. 4,6

Terapi

Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan mengurangi

beberapa gejala. Kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat memperpanjang

keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. Agen antibakteri harus diberikan jika terjadi

superinfeksi bacterial. 1

c) Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks

Tanda dan gejala

Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak kecil,

adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi,

bertahi mata mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. Pada kornea tampak lesi-lesi epithelial

tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus-ulkus epithelial

yang bercabang banyak (dendritik). Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes kadang-

kadang muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra. Khas

terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan. 1,3

Laboratorium

Tidak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. Jika

konjungtivitisnya folikuler, reaksi radangnya terutama mononuclear, namun jika

11

Page 12: Case Konjungtivitis

pseudomembran, reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis dari tempat

nekrosis. Inklusi intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea, jika dipakai

fiksasi Bouin dan pulasan Papanicolaou, tetapi tidak terlihat dengan pulasan Giemsa.

Ditemukannya sel – sel epithelial raksasa multinuclear mempunyai nilai diagnostic.3

Virus mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung kain kering

di atas konjungtiva dan memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan biakan.3

Terapi

Jika konjungtivitis terdapat pada anak di atas 1 tahun atau pada orang dewasa,

umunya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Namun, antivirus local maupun

sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea. Untuk ulkus kornea mungkin

diperlukan debridemen kornea dengan hati-hati yakni dengan mengusap ulkus dengan kain

kering, meneteskan obat antivirus, dan menutupkan mata selama 24 jam. Antivirus topical

sendiri harus diberikan 7 – 10 hari: trifluridine setiap 2 jam sewaktu bangun atau salep vida

rabine lima kali sehari, atau idoxuridine 0,1 %, 1 tetes setiap jam sewaktu bangun dan 1

tetes setiap 2 jam di waktu malam. Keratitis herpes dapat pula diobati dengan salep

acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari atau dengan acyclovir oral, 400 mg lima kali

sehari selama 7 hari.3

Untuk ulkus kornea, debridmen kornea dapat dilakukan. Lebih jarang adalah

pemakaian vidarabine atau idoxuridine. Antivirus topical harus dipakai 7-10 hari.

Penggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan, karena makin memperburuk infeksi herpes

simplex dan mengkonversi penyakit dari proses sembuh sendiri yang singkat menjadi

infeksi yang sangat panjang dan berat. 1,3

d) Konjungtivitis Hemoragika Akut

Epidemiologi

Semua benua dan kebanyakan pulau di dunia pernah mengalami epidemic besar

konjungtivitis konjungtivitis hemoregika akut ini. Pertama kali diketahui di Ghana dalam

12

Page 13: Case Konjungtivitis

tahun 1969. Konjungtivitis ini disebabkan oleh coxackie virus A24. Masa inkubasi virus

ini pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7 hari). 5

Tanda dan Gejala

Mata terasa sakit, fotofobia, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air mata,

merah, edema palpebra, dan hemoragi subkonjungtival. Kadang-kadang terjadi kemosis.

Hemoragi subkonjungtiva umumnya difus, namun dapat berupa bintik-bintik pada

awalnya, dimulai di konjungtiva bulbi superior dan menyebar ke bawah. Kebanyaka pasien

mengalami limfadenopati preaurikuler, folikel konjungtiva, dan keratitis epithelial. Uveitis

anterior pernah dilaporkan, demam, malaise, mialgia, umum pada 25% kasus. 1,5

Penyebaran

Virus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan oleh fomite seperti

sprei, alat-alat optic yang terkontaminasi, dan air. Penyembuhan terjadi dalam 5-7 hari

Terapi

Tidak ada pengobatan yang pasti.

2. Konjungtivitis Virus Menahun

a) Blefarokonjungtivitis

Molluscum Contagiosum

Sebuah nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata dapat

menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun unilateral, keratitis superior, dan pannus

superior, dan mungkin menyerupai trachoma. Reaksi radang yang mononuclear (berbeda

dengan reaksi pada trachoma), dengan lesi bulat, berombak, putih mutiara, non-radang

dengan bagian pusat, adalah khas molluscum kontagiosum. Biopsy menampakkan inklusi

sitoplasma eosinofilik, yang memenuhi seluruh sitoplasma sel yang membesar, mendesak

inti ke satu sisi.3

Eksisi, insisi sederhana nodul yang memungkinkan darah tepi memasukinya, atau

krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitisnya.

b) Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster

13

Page 14: Case Konjungtivitis

Tanda dan gejala

Hyperemia dan konjungtivitis infiltrate disertai dengan erupsi vesikuler khas sepanjang

penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika adalah khas herpes zoster.

Konjungtivitisnya biasanya papiler, namun pernah ditemukan folikel, pseudomembran, dan

vesikel temporer, yang kemudian berulserasi. Limfonodus preaurikuler yang nyeri tekan

terdapat pada awal penyakit. parut pada palpebra, entropion, dan bulu mata salah arah

adalah sekuele. 1

Laboratorium

Pada zoster maupun varicella, kerokan dari vesikel palpebra mengandung sel raksasa dan

banyak leukosit polimorfonuklear; kerokan konjungtiva pada varicella dan zoster

mengandung sel raksasa dan monosit. Virus dapat diperoleh dari biakan jaringan sel – sel

embrio manusia. 1

Terapi

Acyclovir oral dosis tinggi (800 mg oral lima kali sehari selama 10 hari), jika diberi pada

awal perjalanan penyakit, agaknya akan mengurangi dan menghambat penyakit. 1

c) Keratokonjungtivitis Morbilli

Tanda dan gejala

Pada awal penyakit, konjungtiva tampak mirip kaca yang aneh, yang dalam beberapa hari

diikuti pembengkakan lipatan semiluner. Beberapa hari sebelum erupsi kulit, timbul

konjungtivitis eksudatif dengan secret mukopurulen, dan saat muncul erupsi kulit, timbul

bercak-bercak Koplik pada konjungtiva dan kadang-kadang pada carunculus. 1,3

Pada pasien imunokompeten, keratokonjungtivitis campak hanya meninggalkan sedikit

atau sama sekali tanpa sekuel, namun pada pasien kurang gizi atau imunokompeten,

penyakit mata ini seringkali disertai infeksi HSV atau infeksi bacterial sekunder oleh S

pneumonia, H influenza, dan organism lain. Agen ini dapat menimbulkan konjungtivitis

purulen yang disertai ulserasi kornea dan penurunan penglihatan yang berat. Infeksi herpes

dapat menimbulkan ulserasi kornea berat dengan perforasi dan kehilangan penglihatan

pada anak-anak kurang gizi di Negara berkembang. 1,3

14

Page 15: Case Konjungtivitis

Kerokan konjungtivitis menunjukkan reaksi sel mononuclear, kecuali jika ada

pseudomembran atau infeksi sekunder. Sedian terpulas giemsa mengandung sel-sel

raksasa. Karena tidak ada terapi spesifik, hanya tindakan penunjang saja yang dilakukan,

kecuali jika ada infeksi sekunder. 1

C. Konjungtivitis Klamidia

Trachoma

Tanda dan gejala

Trachoma mulanya adalah konjungtivitis folikuler menahun pada masa kanak-kanak,

yang berkembang sampai pembentukan parut konjungtiva. Pada kasus berat , pembalikan

bulu mata kedalam  terjadi pada masa dewasa muda sebagai akibat parut konjungtiva yang

berat. Abrasi terus – menerus oleh bulu mata  yang membalik itu dan gangguan pada film air

mata  berakibat parut pada kornea, ummnya setelah usia  50 tahun. Masa inkubasi trachoma

rata – rata 7 hari, namun bervariasi dari 5 sampai 14 hari .pada bayi atau anak biasanya

timbulnya  diam – diam, dan penyakit itu dapat sembuh dengan sedikit atau tampa

konplikasi.

Pada orang dewasa, timbulnya sering akut atau subakut, dan komplikasi cepat

berkembang. Pada saat timbulnya.trachoma sering mirip konjungtivitis bacteria, tanda dan

gejala biasanya berair mata, fotofobia, sakit, eksudasi, edema palpebra, kemosis konjungtiva

bulbi, hyperemia, hipertrofi papiler, folikel tarsal dan limbal, keratititis superior,

pembentukan pannus dan nodus preaurikuler kecil dan nyeri tekan.

Pada trachoma yang sudah terdiagnosis, mungkin juga terdapat keratitis epitel superior,

keratitis subepitel, panus, folikel limbus superior, dan akhirnya sisa katriks patognomotik

pada folikel- folikel ini, yang dikenal sebagai sumur – sumur Herbert, depresi kecil dalam

jaringan ikat di batas limbus – kornea ditutupi epitel. Pannus terkait adalah membrane

fibrovaskuler yang timbul dari limbus, dengan lengkung – lengkung vaskuler meluas ke atas

kornea. Semua tanda trachoma lebih berat pada konjungtiva dan kornea bagian atas dari

pada  bagian bawah.

Untuk pengendalian, World Health Organization telah mengembangakn cara sederhana

untuk memeriksakan penyakit itu. Ini mencakup tanda – tanda sebagai berikut :

TF : Lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal atas.

15

Page 16: Case Konjungtivitis

TI : Infitrasi difus dan hipertrofi papil konjungtiva atas yang sekurang kurangnya

menutupi 50% pembuluh profunda normal.

TS : Parut konjungtiva trachomatosa.

TT : Trikiasis atau entropion ( bulu mata terbalik ke dalam ).

CO : Kekeruhan kornea.

Adanya TF dan Ti menunjukan trachoma infeksiosa aktif yang harus diobati. TS

adalah bukti cedera akibat penyakit ini. TT berpotensi membutakan dan merupakan indikasi

untuk tindakan operasi kokreasi palpebra. CO adalah lesi yang terakhir membutakan dari

trachoma.

Laboratorium

Inkulasi klamida dapat ditemukan pada kerokan konjungtiva yang di pulas dengan

Giemsa, namun tidak selalu ada. Inklusi ini pada sediaan dipulas Giemsa tampak sebagai

massa sitoplasma biru  atau ungu gelap yang sangat halus , yang menutupi inti dari sel epitel.

Pulasan antibody fluorescein dan tes immuno – assay enzim tersedia dipasaran dan banyak

dipakai dilabotarium klinik. Tes baru ini telah menggantikan pulasan Giemsa untuk sediaan

hapus konjungtiva dan isolasi agen klamidial dalam biakan sel.

Secara morfologik, agen trachoma mirip dengan agen konjungtivitis inkulasi, namun

keduanya dapat dibedakan secara serologic dengan mikroimunofluorescence. Trachoma

disebabkan oleh Chalmydia trachomatis seroipe A,B,Ba atau C.

Komplikasi dan sequele

Parut di konjungtiva dalah komplikasi yang sering terjadi pada trachoma dan dapat

merusak duktuli kelenjar lakmal tambahan dan menutupi muara kelejar lakrimal.hal ini

secara drastis mengurangi komponen air dalam film air mata pre- kornea, dan komponen

mukus film mungkin berkurang karena hilangnya sebagian sel goblet. Luka parut itu  juga

mengubah bentuk palpebra superior dengan membalik bulu mata kedalam (trikiasis) atau

seluruh tepian palpebra (entropion), sehingga bulu mata  terus –menerus menggesek

16

Page 17: Case Konjungtivitis

kornea.ini berakibat ulserasi pada kornea, infeksi bacterial kornea, dan parut pada kornea.

Ptosis, obstrusi doktus nasolakrimalis, dan dakriosistitis adalah komplikasi umum lainnya

pada trachoma.

Terapi

Perbaikan klinik mencolok umumnya dicapai dengan tetracycline,1-1,5 g/ hari per os

dalam empat dosis selama 3-4 minggu ; doxycycline,100 mg per os 2 kali sehari selama 3

minggu; atau erythromycin, 1 g / hari per os dibagi dalam empat dosis selama 3-4 minggu.

Kadang-kadang diperlukan beberapa kali kur ( pengobatan) agar benar –benar sembuh.

Tetracycline sistemik jangan diberi pada anak dibawah umur 7 tahun atau untuk wanita

hamil. Karena tetracycline mengikat kalsium pada gigi yang berkembang dan tulang yang

tumbuh dan dapat berakibat gigi permanen menjadi kekuningan dan kelainan kerangkan

(mis, clavicula).

Salep atau tetes topikal, termasuk preparat sulfonamide, tetracycline, erythromycin

dan rifampin, empat kali sehari selama enam minggu, sama efektifnya. Saat mulai terapi,

efek maksimum biasanya belum dicapai selama 10 – 12 minggu. Karena itu, tetap adanya

folikel pada trasesus superior selama beberapa minggu setelah terapi berjalan jangan dipakai

sebagai bukti kegagalan terapi.

Koreksi bulu mata yang membalik kedalam melalui bedah adalah esensial untuk

mencegah parut trachoma lanjut di Negara berkembang. Tindakan bedah ini kadang –kadang

dilakukan oleh dokter bukan ahli mata atau orang yang dilatih kusus.

3.4.2 Konjungtivitis Imunologik (Alergik)

Reaksi Hipersensitivitas Humoral Langsung

1) Konjungtivitis Demam Jerami (Hay Fever)

Tanda dan gejala

Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai demam jerami (rhinitis

alergika). Bianya ada riwayat alergi terhadap tepung sari, rumput, bulu hewan, dan lainnya.

Pasien mengeluh tentang gatal-gatal, berair mata, mata merah, dan sering mengatakan

17

Page 18: Case Konjungtivitis

bahwa matanya seakan-akan “tenggelam dalam jaringan sekitarnya”. Terdapat sedikit

penambahan pembuluh pada palpebra dan konjungtiva bulbi, dan selama serangan akut

sering terdapat kemosis berat (yang menjadi sebab “tenggelamnya” tadi). Mungkin terdapat

sedikit tahi mata, khususnya jika pasien telah mengucek matanya.

Laboratorium

Sulit ditemukan eosinofil dalam kerokan konjungtiva.

Terapi

Meneteskan vasokonstriktor local pada tahap akut (epineprin, larutan 1:1000 yang diberikan

secara topical, akan menghilangkan kemosis dan gejalanya dalam 30 menit). Kompres

dingin membantu mengatasi gatal-gatal dan antihistamin hanya sedikit manfaatnya. Respon

langsung terhadap pengobatan cukup baik, namun sering kambuh kecuali anti-gennya dapat

dihilangkan.

2) Konjungtivitis Vernalis

Definisi

Penyakit ini, juga dikenal sebagai “catarrh musim semi” dan “konjungtivitis musiman” atau

“konjungtivitis musim kemarau”, adalah penyakit alergi bilateral yang jarang.1,3 Penyakit ini

lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah dingin. Penyakit ini hamper selalu

lebih parah selama musim semi, musim panas dan musim gugur daripada musim gugur.

Insiden

Biasanya mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5 – 10 tahun. Penyakit ini

lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. 5

Tanda dan gejala

Pasien mengeluh gatal-gatal yang sangat dan bertahi mata berserat-serat. Biasanya terdapat

riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lainnya). Konjungtiva tampak putih

seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva

palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papilla raksasa

berbentuk polygonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler. 1,2,3

Laboratorium

18

Page 19: Case Konjungtivitis

Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak eosinofil dan

granula eosinofilik bebas. 1

Terapi

Penyakit ini sembuh sendiri tetapi medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya member

hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai untuk jangka panjang. steroid sisremik, yang

mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengharuhi penyakit kornea ini, dan efek

sampingnya (glaucoma, katarak, dan komplikasi lain) dapat sangat merugikan. Crmolyn

topical adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat. Vasokonstriktor,

kompres dingin dan kompres es ada manfaatnya, dan tidur di tempat ber AC sangat

menyamankan pasien. Agaknya yang paling baik adalah pindah ke tempat beriklim sejuk

dan lembab. Pasien yang melakukan ini sangat tertolong bahkan dapat sembuh total. 1,3

3) Konjungtivitis Atopik

Tanda dan gejala

Sensasi terbakar, bertahi mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian palpebra

eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla halus, namun

papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering

terdapat di tarsus inferior. Berbeda dengan papilla raksasa pada keratokonjungtivitis

vernal, yang terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang berat muncul pada

perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulangkali. Timbul

keratitis perifer superficial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus berat, seluruh

kornea tampak kabur dan bervaskularisasi, dan ketajaman penglihatan. 1,3

Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami, asma, atau eczema) pada pasien atau

keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopic sejak bayi. Parut pada

lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangan tangan dan lutut sering ditemukan.

Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-larut dan sering

mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis vernal, penyakit ini

cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia 50 tahun.

Laboratorium

19

Page 20: Case Konjungtivitis

Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang terlihat

sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal. 1

Terapi

Atihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole (10 mg

empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200 mg)

ternyata bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac

dan iodoxamid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. Pada kasus berat,

plasmaferesis merupakan terapi tambahan. Pada kasus lanjut dengan komplikasi kornea

berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk mengembalikan ketajaman

penglihatannya. 1,3

Reaksi Hipersensitivitas Tipe Lambat

1) Phlyctenulosis

Definisi

Keratokonjungtivitis phlcytenularis adalah respon hipersensitivitas lambat terhadap protein

mikroba, termasuk protein dari basil tuberkel, Staphylococcus spp, Candida albicans,

Coccidioides immitis, Haemophilus aegyptus, dan Chlamydia trachomatis serotype L1, L2,

dan L3. 1

Tanda dan Gejala

Phlyctenule konjungtiva mulai berupa lesi kecil yang keras, merah, menimbul, dan

dikelilingi zona hyperemia. Di limbus sering berbentuk segitiga, dengan apeks mengarah

ke kornea. Di sini terbentuk pusat putih kelabu, yang segera menjadi ulkus dan mereda

dalam 10-12 hari. Phlyctenule pertama pada pasien dan pada kebanyakan kasus kambuh

terjadi di limbus, namun ada juga yang di kornea, bulbus, dan sangat jarang di tarsus. 1

Phlyctenule konjungtiva biasanya hanya menimbulkan iritasi dan air mata, namun

phlyctenule kornea dan limbus umumnya disertai fotofobia hebat. Phlyctenulosis sering

dipicu oleh blefaritis aktif, konjungtivitis bacterial akut, dan defisiensi diet.

20

Page 21: Case Konjungtivitis

Terapi

Phlyctenulosis yang diinduksi oleh tuberkuloprotein dan protein dari infeksi sistemik

lain berespon secara dramatis terhadap kortikosteroid topical. Terjadi reduksi sebagian

besar gejala dalam 24 jam dan lesi hilang dalam 24 jam berikutnya. Antibiotika topical

hendaknya ditambahkan untuk blefarikonjungtivitis stafilokokus aktif. Pengobatan

hendaknya ditujukan terhadap penyakit penyebab, dan steroid bila efektif, hendaknya

hanya dipakai untuk mengatasi gejala akut dan parut kornea yang menetap. Parut kornea

berat mungkin memerlukan tranplantasi. 1

2) Konjungtivitis Ringan Sekunder terhadap Blefaritis kontak

Blefaritis kontak yang disebabkan oleh atropine, neomycin, antibiotika spectrum

luas, dan medikasi topical lain sering diikuti oleh konjungtivitis infiltrate ringan yang

menimbukan hyperemia, hipertropi papiler ringan, bertahi mata mukoid ringan, dan sedikit

iritasi. Pemeriksaan kerokan berpulas giemsa sering hanya menampakkan sedikit sel epitel

matim, sedikit sel polimorfonuklear dan mononuclear tanpa eosinofil. 1

Pengobatan diarahkan pada penemuan agen penyebab dan menghilangkannya.

Blefaritis kontak dengan cepat membaik dengan kortikosteroid topical, namun

pemakaiannya harus dibatasi. Penggunaan steroid jangka panjang pada palpebra dapat

menimbulkan glaucoma steroid dan atropi kulit dengan telangiektasis yang menjelekkan.

3.4.3 Konjungtivitis Akibat Penyakit Autoimun

Keratokonjungtivitis Sicca

Berkaitan dgn. Sindrom Sjorgen (trias: keratokonj. sika, xerostomia, artritis).

Gejala:

- Khas: hiperemia konjungtivitis bulbi dan gejala iritasi yang tidak sebanding dengan tanda-

tanda radang.

- Dimulai dengan konjungtivitis kataralis

- Pada pagi hari tidak ada atau hampir tidak ada rasa sakit, tetapi menjelang siang atau

malam hari rasa sakit semakin hebat.

21

Page 22: Case Konjungtivitis

- Lapisan air mata berkurang (uji Schirmer: abnormal)

- Pewarnaan Rose bengal Ù uji diagnostik.

Pengobatan:

- air mata buatan

- obliterasi pungta lakrimal.

3.4.4 Konjungtivitis Kimia atau Iritatif

1) Konjungtivitis Iatrogenik Pemberian Obat Topikal

Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis non-spesifik infiltrate, yang diikuti

pembentukan parut, sering kali terjadi akibat pemberian lama dipivefrin, miotika, idoxuridine,

neomycin, dan obat-obat lain yang disiapkan dalam bahanpengawet atau vehikel toksik atau

yang menimbulakan iritasi. Perak nitrat yang diteteskan ke dalam saccus conjingtiva saat lahir

sering menjadi penyebab konjungtivitis kimia ringan. Jika produksi air mata berkurang akibat

iritasi yang kontinyu, konjungtiva kemudian akan cedera karena tidak ada pengenceran

terhadap agen yang merusak saat diteteskan kedalam saccus conjungtivae.

Kerokan konjungtiva sering mengandung sel-sel epitel berkeratin, beberapa neutrofil

polimorfonuklear, dan sesekali ada sel berbentuk aneh. Pengobatan terdiri atas menghentikan

agen penyebab dan memakai tetesan yang lembut atau lunak, atau sama sekali tanpa tetesan.

Sering reaksi konjungtiva menetap sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya

setelah penyebabnya dihilangkan.

2) Konjungtivitis Pekerjaan oleh Bahan Kimia dan Iritans

Asam, alkali, asap, angin, dan hamper setiap substansi iritan yang masuk ke saccus

conjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis. Beberapa iritan umum adalah pupuk, sabun,

deodorant, spray rambut, tembakau, bahan-bahan make-up, dan berbagai asam dan alkali. Di

daerah tertentu,asbut (campuran asap dan kabut) menjadi penyebab utama konjungtivitis

kimia ringan. Iritan spesifik dalam asbut belum dapat ditetapkan secara positif, dan

pengobatannya non-spesifik. Tidak ada efek pada mata yang permanen, namun mata yang

terkena seringkali merah dan terasa mengganggu secara menahun. 1

22

Page 23: Case Konjungtivitis

Pada luka karena asam, asam itu mengubah sifat protein jaringan dan efek langsung.

Alkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung cepat menyusup kedalam jaringan dan

menetap di dalam jaringan konjungtiva. Disini mereka terus menerus merusak selama berjam-

jam atau berhari-hari lamanya, tergantung konsentrasi molar alkali tersebut dan jumlah yang

masuk. Perlekatan antara konjungtiva bulbi dan palpebra dan leokoma kornea lebih besar

kemungkinan terjadi jika agen penyebabnya adalah alkali. Pada kejadian manapun, gejala

utama luka bahan kimia adalah sakit, pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan

blefarospasme. Riwayat kejadian pemicu biasanya dapat diungkapkan.

Pembilasan segera dan menyeluruh saccus conjungtivae dengan air atau larutan garam

sangat penting, dan setiap materi padat harus disingkirkan secara mekanik. Jangan memakai

antidotum kimiawi. Tindakan simtomatik umum adalah kompres dingin selama 20 menit

setiap jam, teteskan atropine 1% dua kali sehari, dan beri analgetika sistemik bila perlu.

Konjungtivitis bacterial dapat diobati dengan agen antibakteri yang cocok. Parut kornea

mungkin memerlukan transplantasi kornea, dan symblepharon mungkin memerlukan bedah

plastic terhadap konjungtiva. Luka bakar berat pada kojungtiva dan kornea prognosisnya

buruk meskipun dibedah. Namun jika pengobatan memadai dimulai segera, parut yang

terbentuk akan minim dan prognosisnya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000

2. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005

3. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Jakarta. 1998

4. Conjunctivitis. Available at www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001010.htm.

accessed oct 31, 2012

23

Page 24: Case Konjungtivitis

5. Pink Eye (Conjunctivitis). Available at www.medicinenet.com/pink_eye/article.htm.

accessed oct 31,2012

6. Pink Eye. Available at www.emedicinehealth.com/pinkeye/article_em.htm. accessed oct

31,2012

7. Bacterial Conjunctivitis. Available at emedicine.medscape.com/article/1191730-

overview. Accessed oct 31, 2012

8. Viral Conjunctivitis. Available at emedicine.medscape.com/article/1191370-overview.

Accessed oct 31, 2012

24