of 23 /23
BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Anatomi Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. 1 Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu : 1 Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera dibawahnya. Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. 1

lapkas konjungtivitis

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: lapkas konjungtivitis

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang

Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat

membasahi bola mata terutama kornea.1

Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu : 1

Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari

tarsus.

Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera dibawahnya.

Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan

konjungtiva bulbi.

1

Page 2: lapkas konjungtivitis

Gambar 1 : Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva memiliki tiga fungsi utama : 2

2

Page 3: lapkas konjungtivitis

Mempermudah pergerakan bola mata dikarenakan terdapat hubungan lepas antara

konjungtiva bulbi dengan sklera, dan terdapat celah di antara jaringan konjungtiva

forniks yang menyebabkan bola mata dapat bergerak bebas kesegala arah.

Lapisan konjungtiva yang lembut dan lembab memperlancar dan mempermudah

aliran selaput lendir mukus tanpa menimbulkan rasa sakit. Tear film berfungsi sebagai

pelumas.

Konjungtiva berfungsi sebagai proteksi terhadap zat-zat pathogen karena dibawah

konjungtiva palpebra dan didalam forniks terdapat limfosit dan sel plasma. Juga

terdapat substansi antibakterial, immunoglobulin, interferon dan prostaglandin yang

membantu melindungi mata.

1.2 Definisi

Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang

menutupi belakang kelopak dan bola mata. Reaksi inflamasi ini ditandai dengan dilatasi

vaskular, infiltrasi seluler dan eksudasi. Konjungtivitis dapat dibedakan menjadi dua

bentuk : 1,2

Konjungtivitis akut yaitu reaksi peradangan yang muncul tiba-tiba dan diawali dengan

satu mata (unilateral) serta dengan durasi kurang dari 4 minggu.

Konjungtivitis kronis yaitu reaksi peradangan yang durasinya lebih dari 3 – 4 minggu.

1.3 Epidemiologi

Konjungtivitis merupakan kelainan pada mata dengan frekuensi terbanyak.2

1.4 Etiologi

Banyak hal yang dapat menyebabkan konjungtivitis. Bisa disebabkan oleh infeksi

seperti bakteri, virus, parasit dan jamur, bisa juga disebabkan oleh non infeksi seperti

alergi, iritasi yang lama pada mata,zat-zat yang bersifat toksik atau karena ada kelainan

sistemik lain seperti Sindroma Steven Johnson.1,2

Konjungtivitis yang disebabkan oleh infeksi terjadi akibat kontaminasi langsung

dengan mikroorganisme patogen (seperti kontak dengan tangan, handuk, berenang),

ditambah lagi dengan adanya faktor pendukung seperti menurunnya system kekebalan

tubuh sebagai mekanisme pertahanan terhadap reaksi infeksi inflamasi akan memperberat

munculan klinis konjungtivitis.2

1.5 Gejala Klinis

3

Page 4: lapkas konjungtivitis

Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa mata merah dengan

kelopak mata lengket akibat produksi sekret yang meningkat terutama pada pagi hari.

Selain itu juga ditemukan photofobia, lakrimasi, pseudoptosis akibat kelopak mata

membengkak, kemosis, hipertropi papil, folikel, membrane, pseudomembran, granulasi,

flikten, mata merasa seperti adanya benda asing, sensasi seperti ada tekanan dan rasa

panas serta kadang didapatkan adanya adenopati preaurikular. Pada konjungtivitis alergi

ditemukan rasa gatal pada mata yang lebih dominan.1,2

Mata merah terjadi akibat adanya vasodilatasi dari pleksus subepitelial pembuluh

darah konjungtiva. Folikel adalah nodul limfoid dengan vaskularisasi yang merupakan

tanda dari infeksi virus ataupun reaksi autoimun di konjungtiva. Papil adalah dilatasi,

telengiektasi pembuluh darah dengan sel-sel inflamasi di sekelilingnya, jika papil

ditemukan unilateral, ini adalah tanda dari infeksi virus, sedangkan jika papil ditemukan

bilateral merupakan tanda dari infeksi bakteri. Pseudomembran ditemukan pada infeksi

staphylococcus, membrane ditemukan pada infeksi difteri, sedangkan plikten yang

merupakan nodul dari sel-sel inflamasi kronis ditemukan pada infeksi TBC ataupun

karena reaksi alergi.4

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1 :

virusbakteri Jamur dan

parasitalergi

purulen nonpurulen

Sekret Sedikit mengucur sedikit sedikit sedikit

Air mata mengucur sedang sedang sedikit sedang

Gatal Sedikit sedikit - - mencolok

Mata merah Umum umum lokal lokal umum

Nodul preaurikuler Lazim jarang lazim lazim -

Pewarnaan usapan Monosit,

limfosit

Bakteri,

PMN

Bakteri,

PMN

negatif eosinofil

Sakit tenggorok dan

panas yang

Sewaktu- jarang - - -

4

Page 5: lapkas konjungtivitis

menyertai waktu

Tabel 1 : Gambaran klinis konjungtivitis

(sumber : Sidarta I. “Ilmu Penyakit Mata”. Jakarta. FKUI. Edisi Ketiga. 2010. hal.

121)

1.6 Patogenesis1,3

1.6.1 Konjungtivitis Akut

Konjungtivitis bakteri merupakan hasil dari pertumbuhan bakteri secara berlebihan

dan menginfiltrasi lapisan epitel konjungtiva dan kadang-kadang substansia propia.

Sumber infeksi adalah kontak langsung dengan sekret individu terinfeksi atau (biasanya

melalui kontak tangan-mata) atau penyebaran infeksi dari organisme yang berkolonisasi

di mukosa nasal dan sinus pasien tersebut. Obstruksi duktus nasolakrimal, dakriosistitis,

dan kanalikulitis dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri unilateral.3

Walaupun dapat sembuh sendiri, konjungtivitis bakteri bisa bermanifestasi hebat dan

mengancam penglihatan apabila disebabkan oleh spesis bakteri virulen seperti

N.gonorrhoeae atau S.pyogenes. Pada kasus yang jarang, ini dapat memberikan tanda

penyakit sistemik yang mengancam nyawa, seperti konjungtivitis yang disebabkan oleh

N.meningitides.3

1.6.2 Konjungtivitis Purulen Akut

Konjungtivitis purulen akut, suatu bentuk konjungtivitis bakteri, dikarakteristikkan

sebagai akut (< 3 minggu), infeksi pada permukaan konjungtiva yang sembuh sendiri

yang menimbulkan respon inflamasi akut dengan sekret purulen. Kasus dapat terjadi

secara spontan atau secara epidemik. Patogen penyebab yang paling utama adalah S

pneumonia, S aureus , dan Haemophilus influenza.

1.6.3 Konjungtivitis Gonokokal

Organisme yang umum menyebabkan konjungtivitis hiperpurulen adalah N

gonorrhoeae. Konjungtivitis gonokokal adalah penyakit menular seksual hasil dari

perpindahan genital-mata, kontak genital-tangan-okular, transmisi maternal-neonatus

sewaktu melahirkan per vaginam.

1.6.4 Konjungtivitis Klamidia

Trakoma adalah penyakit infeksi yang terjadi pada komuniti dengan hiegine yang

buruk dan sanitasi yang inadekuat. Kebanyakan infeksi ditularkan melalui mata ke mata.

Penularan juga dapat terjadi melaui lalat dan serangga rumah tangga yang lain. Serangga

5

Page 6: lapkas konjungtivitis

ini juga menyebarkan bakteri lain yang menyebabkan infeksi bakteri sekunder pada

pasien trakoma.

1.6.5 Konjungtivitis Viral

Konjungtivitis viral dapat berasal dari droplet saluran nafas atau perpindahan

langsung dari tangan ke mata. Kebanyakan infeksi virus mengenai bagian epitel, baik

konjungtiva maupun kornea, sehingga lesi pada infeksi virus khas berupa

keratokonjungtivitis. Pada sebagian infeksi virus, kerusakan konjungtiva lebih menonjol,

seperti pada pharyngo-conjunctival fever, dan sebagian lainnya lesi pada kornea lebih

jelas, seperti pada herpes simpleks. Setelah masa inkubasi kira-kira 5 – 12 hari, akan

terjadi fase akut yang menimbulkan gejala hiperlakrimasi, hyperemia konjungtiva dan

pembentukan folikel.

1.6.6 Konjungtivitis Alergi

Merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai IgE. Allergen biasanya

bersifat airborne, masuk ke tear film dan berkontak dengan sel mast konjungtiva yang

menyebabkan pecahnya sel mast dan melepaskan histamine dan mediator inflamasi lain.

- Vernal keratoconjunctivitis : berulang pada musim tertentu dan pada daerah tropis

(panas) bisa menetap. Reaksi imunologi diperantarai oleh reaksi hipersensivitas

tipe I dan IV.

- Atopic Keratoconjunctivitis : pada pasien dengan riwayat dermatitis atopi. AKC

merupakan reaksi hiprsensitivitas tipe IV.

- Giant Papillary Conjunctivitis : kontak lama dengan antigen tertentu seperti lensa

kontak, benang, dan prostese.

1.6.7 Konjungtivitis Jamur

Konjungtivitis jamur merupakan jenis konjungtivitis yang jarang terjadi.

Konjungtivitis Jamur biasannya ditemukan bersamaan dengan keratomicosis, namun

dapat saja tidak muncul bersamaan. Penyebab tersering dari konjungtivitis jamur adalah

Candida albicans. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul

pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu. Selain

Candida sp, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Sporothrix scehnckii,

Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis.

1.6.8 Konjungtivitis Parasit

6

Page 7: lapkas konjungtivitis

Konjungtivitis Parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia calliforniensis, Loa loa,

Ascarislumbricoides, Trichinellaspiralis ,Schistosomahaematobium, Taeniasolium, dan

Pthirus pubis.

1.6.9 Konjungtivitis Kimia atau Iritatif

Konjungtivitis Kimia atau Iritatif adalah konjungtivitis yang terjadi oleh pemajanan

substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis. Substansi-substansi iritan yang

masuk ke sakus konjungtivalis dan dapat menyebabakan kongjungtivitis. Substansi yang

dapat bersifat iritatif seperti asam, alkali, asap dan angin. Gejala yang dapat timbul dapat

berupa nyeri, pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme.

Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh pemberian obat topical jangka

panjang seperti dipivefrin, miotik, neomicyn, dan obat-obat lain dengan bahan pengawet

yang toksik atau menimbulkan iritasi.

1.7 Diagnosis3

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.

Anamnesis yang penting pada pasien konjungtivitis adanya riwayat kontak dengan

penderita yang sama, riwayat alergi, riwayat hiegienitas, dan riwayat kontak dengan

bahan iritan.

Disamping itu juga perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :

- Ketajaman penglihatan

- Pemeriksaan slit lamp

- Pewarnaan sekret mata dengan Giemsa dan Metylen Blue untuk mengetahui

penyebabnya bakteri atau virus dan pemberian KOH untuk yang dicurigai

disebabkan jamur

- Kultur kerokan konjungtiva

1.8 Pemeriksaan Penunjang

1.8.1 Pewarnaan sekret dengan Giemsa, prosedur yang dilakukan antara lain :

- Ambil sekret yang menumpuk di konjungtiva foniks, letakkan di object glass,

keringkan slide dengan udara selama 15 menit

- Fiksasi dengan methanol 95% selama 5-10 menit

- Keringkan

7

Page 8: lapkas konjungtivitis

- Buat campuran dengan mencampurkan setiap 2 tetes larutan Giemsa kedalam

setiap milimeter air suling buffer. Rendam slide kedalamcampuran selama 15

menit

- Cuci kedalam air suling buffer

- Keringkan

1.8.2 Pewarnaan gram dengan Gentian Violet

- Fiksasi slide dengan pewarnaan ringan (api)

- Aliri dengan Gentian Violet (15 detik )

- Bilas dengan air mengalir

- Aliri dengan gram’s iodin /lugol (15 detik)

- Bilas dengan air mengalir

- Aliri dengan alkohol 96% sekilas

- Bilas dengan air mengalir

- Keringkan

Hasil yang terlihat dibawah mikroskop adalah :

Pada pemeriksaan gram untuk membedakan gram positif atau gram negatif,

sedangkan untuk pemeriksaan giemsa untuk membedakan infeksi virus atau bakteri.

1.9 Diagnosis Banding

Diagnosis banding konjungtivitis berdasarkan gambaran klinis :

Tanda Bakterial Viral Alergik Toksik TRIC

Injeksi

konjungtivitis

Mencolok Sedang Ringan-

sedang

Ringan-

sedang

Ringan-

sedang

Hemoragi + + - - -

Kemosis ++ +/- ++ +/- +/-

Eksudat Purulen atau

mukopurulen

Jarang, air Berserabut

(lengket),

putih

- Berserabut

(lengket)

Pseudomembran +/- +/- - - -

Papil +/- - + - +/-

Folikel - + - + +

8

Page 9: lapkas konjungtivitis

Nodus

preaurikuler

Panus

(sumber : Sidarta I. “Ilmu Penyakit Mata”. Jakarta. FKUI. Edisi Ketiga. 2010. hal.

122)

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidartha. 2009. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Balai Penerbit FK UI,

Jakarta

2. Ebook Ophtalmology pocket

3. American academy of ophtalmology. 2008. External disease and cornea. Section 8.

4. Getry S. Bahan kuliah konjungtivitis. Blok 19. 2011

9

Page 10: lapkas konjungtivitis

UNIVERSITAS ANDALAS

FAKULTAS KEDOKTERAN

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien

a. Nama/Kelamin/Umur : Velisa/ Perempuan/ 1 tahun 9 bulan

b. Pekerjaan/pendidikan : Tidak Bekerja/ -

c. Alamat : Kuranji, Padang

2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga

a. Status Perkawinan : Belum Menikah

b. Jumlah Saudara : -

c. Status Ekonomi Keluarga : Mampu, penghasilan Rp. 4.000.000,-/bulan

d. KB : Tidak ada

e. Kondisi Rumah :

- Rumah permanen, perkarangan cukup luas, luas bangunan 220 m2

- Listrik ada

- Sumber air : PDAM

- Jamban ada 2 buah, di dalam rumah

- Sampah di buang ke TPA

Kesan : hygiene dan sanitasi baik

f. Kondisi Lingkungan Keluarga

10

Page 11: lapkas konjungtivitis

- Jumlah penghuni rumah 4 orang; pasien, nenek pasien dan kedua orang tua

pasien. Ayah pasien berusia 30 tahun, seorang polisi, ibu pasien berusia 27

tahun, ibu rumahtangga, nenek pasien berusia 63 tahun, tidak bekerja.

- Tinggal di daerah pinggiran kota.

3. Aspek Psikologis di keluarga

- Hubungan dengan keluarga baik

- Faktor stress dalam keluarga sulit diketahui

4. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga

- Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan

pasien.

5. Keluhan Utama

Mata kanan merah dan berair sejak 3 hari yang lalu.

6. Riwayat Penyakit Sekarang

Mata kanan merah dan berair sejak 3 hari yang lalu. Awalnya pasien

menggosokkan mata berulang kali kemudian mata menjadi semakin merah

dan berair.

Ketajaman penglihatan sulit dinilai

Disertai dengan rasa gatal pada mata merah

Mata merah yang kanan mengeluarkan sekret cair cukup kental berwarna

kuning kehijauan terutama pagi hari.

Mata kiri mengeluarkan secret cair cukup kental berwarna kuning kehijauan

sejak 1 hari ini, mata merah tidak kentara.

Demam ada, naik turun.

Keluarga pasien mengelap mata pasien dengan sapu tangan pada mata kanan

dan kiri.

Pemeriksaan Fisik

Status Generalis

Keadaan Umum : Baik

11

Page 12: lapkas konjungtivitis

Kesadaran : CMC

Nadi : 105x/ menit

Nafas : 22x/menit

TD : 90/ 60 mmHg

Suhu : 37,8 oC

BB : 9,1 kg

TB : 75 cm

Status Internus

Mata : Status ophtalmikus

Kulit : Turgor kulit normal

Dada :

Paru :

Inspeksi : simetris kiri = kanan

Palpasi : fremitus kiri = kanan

Perkusi : sonor

Auskultasi : suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

Jantung

Inspeksi : iktus tidak terlihat

Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC IV

Perkusi : Kiri : 1 jari medial LMCS RIC IV

Kanan : LSD

Atas : RIC II

Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

Abdomen

Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit

Palpasi : Hati dan lien teraba 1/3-1/3, Nyeri Tekan ( - )

12

Page 13: lapkas konjungtivitis

Perkusi : Timpani

Auskultasi : BU (+) N

Anggota gerak : reflex fisiologis +/+, reflex patologis -/-, Oedem tungkai -/-

Status Ophtalmikus

Status Ophtalmikus OD OS

Visus tanpa koreksi Sulit dinilai Sulit dinilai

Visus dengan koreksi - -

Reflek fundus

Silia/ Supersilia Madarosis (-), Trikiasis (-) Madarosis (-), Trikiasis (-)

Palpebra superior Udem (-) Udem (-)

Palpebra inferior Udem (-) Udem (-)

Margo palpebra Hordeolum (-)Khalazion (-)

Hordeolum (-)Khalazion (-)

Aparat lakrimalis Hiperlakrimasi Lakrimasi normal

Konjungtiva tarsalis Hiperemis (+), Papil (-), Folikel (-)

Hiperemis (-), Papil (-), Folikel (-)

Konjungtiva forniks Khemosis (-) Khemosis (-)

Konjungtiva bulbi Hiperemis (+), Injeksi Konjungtiva (+), Injeksi Siliaris (-), Sekret (+) purulen

Hiperemis (-), Injeksi Konjungtiva (-), Injeksi Siliaris (-), Sekret (+) purulen

Sclera Putih Putih

Kornea Bening Bening

Kamera okuli anterior Cukup dalam Cukup dalam

Iris Rugae (+), coklat Rugae (+), Coklat

Pupil Bulat, diameter 2 mm, reflex (+)

Bulat, diameter 2 mm, reflek (+)

Lensa Bening Bening

13

Page 14: lapkas konjungtivitis

Korpus vitreum Tidak diperiksa Tidak diperiksa

FundusPapil optikusRetinaMaculaAa/Vv retina

Tidak diperiksa Tidak diperiksa

Tekanan bulbus okuli Normal palpasi Normal palpasi

Gerakan bulbus okuli Bebas kesegala arah Bebas kesegala arah

7. Laboratorium Anjuran : -

8. Diagnosis Kerja

Konjungtivitis Bakterialis Oculi Dextra et Sinistra

9. Diagnosis Banding : Konjungtivitis Viral

10. Manajemen

a. Preventif :

- Hindari menggosok-gosok kelopak mata dan daerah disekitar mata yang sakit

jika terasa gatal

- Hindari menyentuh mata yang sehat selama masa pengobatan

- Menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan baik pasien maupun

keluarga yang mengasuh pasien.

b. Promotif :

- Edukasi kepada keluarga pasien tentang penyakitnya dan cara-cara

penularannya

- Edukasi kepada keluarga pasien mengenai kebersihan diri dan lingkungan

c. Kuratif :

- Paracetamol drop , 3 x 1 tetes / hari

- Kloramfenikol drop, 3 x 2 tetes/ hari untuk 5 hari pemakaian

- Vitamin C tab, 3 x ½ / hari

d. Rehabilitatif :

14

Page 15: lapkas konjungtivitis

- Kontrol teratur ke Puskesmas, jika terjadi gangguan ketajaman penglihatan

atau sekret kental, maka segera konsulkan ke puskemsmas atau RS

terdekat.

Lampiran I

15

Page 16: lapkas konjungtivitis

16

Page 17: lapkas konjungtivitis

17

Page 18: lapkas konjungtivitis

Lampiran II

18

Dinas Kesehatan Kodya Padang

Puskesmas Kuranji

Dokter : Micelia Amalia Sari

Tanggal : 12 Februari 2014

R/ Paracetamol drop fls No. I

S 3 gtt I £

R/ Kloramfenikol drop fls No. I

S 3 dd gtt 2 £

R/ Vitamin C tab No. V

S 3 dd ½ £

Pro : Velisa

Umur : 1tahun 9 bulan

Alamat : Kuranji.