LESI FURKASI

  • View
    1.085

  • Download
    42

Embed Size (px)

Text of LESI FURKASI

BUKU 1 PENDEKATAN KONSERVATIF PADA PERAWATAN LESI FURKASI Molar merupakan tipe gigi yang memperlihatkan jumlah kerusakaan periodontal tertinggi pada penyakit yang tidak dirawat dan paling banyak hilang secara periodontal. Pada bab ini, keterlibatan furkasi didefinisikan sebagai resorpsi tulang dan hilangnya attachment pada ruang interadikular yang berasal dari penyakit periodontal karena plak. Kondisi seperti ini dilaporkan sangat meningkatkan resiko hilangnya gigi. Selanjutnya, kerusakan furkasi

merepresentasikan permasalahan rumit dalam perawatan penyakit periodontal, terutama berkaitan dengan anatomi furkasi yang kompleks dan tidak beraturan. Selanjutnya, respon terhadap terapi bisa dikomplikasi oleh adanya permukaan radikular lebih luas yang berpotensi memberikan toksin bakteri dan terbentuknya kalkulus, saat dibandingkan dengan kerusakan di sekeliling satu gigi. Jika lesi telah terbentuk, diskrepansi antar permukaan gigi dan jaringan lunak periodontal yang mengalami gangguan bakteri bisa menjadi penyebab turunnya respon penyembuhan. Terakhir, lokasi distal pada lengkung dan akses yang sukar bisa mengganggu prosedur kontrol plak yang dilakukan sendiri maupun prosedur profesional pada bagian furkasi, yang membatasi efektifitas. Prinsip-prinsip terapi dari keterlibatan furkasi bisa dibahas dalam tiga bagian utama: konservatif, resektif dan regeneratif. Namun harus diingat bahwa batasan antara istilah konservatif dan resektif kadang-kadang tidak memiliki definisi tajam, karena agak sukar dalam setting klinis untuk memisahkan secara menyeluruh perawatan konservatif dan resektif. Ini benar-benar terjadi saat pada

1

keterlibatan furkasi. Prosedur resektif terkadang harus dilakukan untuk mendapatkan suatu hasil yang bisa dianggap lebih konservatif. Contohnya, preparasi saluran merupakan contoh dari terapi konservatif yang dilakukan untuk menghindari bentuk-bentuk perawatan yang lebih radikal dan resektif untuk keterlibatan furkasi Kelas II dan III. Namun, preparasi saluran seringkali diselesaikan mencakup tulang dan substansi gigi didalam bagian furkasi untuk mencapai ruang yang mencukupi untuk alat pembersih interdental. Amputasi akar merepresentasikan bentuk prosedur resektif lain yang sering digunakan untuk tujuan konservatif. Pendekatan konservatif yang didefinisikan disini mencakup perawatan bedah dan non bedah yang digunakan untuk debridasi bagian-bagian furkasi untuk mengenyampingkan prosedur regenerasi dan pemisahan akar. Perawatan ini terkadang disertai oleh prosedur yang bisa mengubah anatomi gigi dan struktur periodontal disekelilingnya untuk memperbaiki akses untuk kontrol plak, walaupun tidak mengimplikasikan restorasi mahkota. Berbagai prosedur terapeutik telah dikemukakan oleh para klinisi dengan tujuan memperbaiki prognosis dari gigi furkasi. Ruang lingkup dari tinjauan ini adalah untuk membicarakan literatur tentang pendekatan konservatif dalam perawatan keterlibatan furkasi. Epidemiologi Prevalensi dari periodontitis parah telah dilaporkan bervariasi dari 5% sampai 20% pada berbagai populaasi yang diinvestigasi berdasarkan kriteria yang dipergunakaan untuk mengukur luas dan jumlah kerusakan periodontal.

2

Studi-studi

longitudinal

yang

dilakukan

untuk

menggambarkan

perkembangan periodontitis yang tidak dirawat telah memperlihatkan bahwa mayoritas bagian-bagian yang kehilangan attachment hanya masuk kedalam kelompok kecil populasi. Molar terlihat sebagai gigi yang paling banyak terkena dan tipe gigi yang paling banyak hilang. Disamping terdapat bukti yang sudah terdokumentasi baik bahwa terapi periodontal efektif dalam menghambat perkembangan penyakit, hilangnya gigi tampak tidak dapat dihindarkan pada sejumlah pasien yang berhasil dirawat, walaupun dalam jumlah yang sangat kecil setiap tahunnya dibandingkan dengan populasi yang tidak dirawat. Molar sekali lagi merepresentasikan tipe gigi yang merespon paling sedikit terhadap terapi dan beresiko lebih besar untuk ekstraksi dibandingkan dengan tipe gigi lainnya. Jumlah mortalitas lebih besar yang terlihat pada molar maksila dan mandibula setidaknya dapat dijelaskan dengan adanya furkasi. Ketika furkasi pada awalnya dipengaruhi oleh hancurnya pendukung periodontal, konfigurasi anatomi yang ganjil, bersamaan dengan lokasi distal, sepertinya mempercepat

perkembangan penyakit, sebaliknya kontrol infeksi oleh pasien menjadi lebih sulit. Demikianlah, hubungan antara deteksi keterlibatan furkasi secara klinis dan radiografi, dan peningkatan resiko hilangnya gigi dilaporkan telah terjadi. Prevalensi dari Keterlibatan Furkasi Sudah banyak informasi yang tersedia berkaitan dengan prevalensi dari keterlibatan bagian furkasi molar yang sedang terjadi pada populasi umum dalam survey epidemiologi. Hampir seluruh data yang tersedia diambil dari studi-studi

3

berbasis observasi yang dilakukan pada tulang tengkorak kering. Hasil-hasil ini harus dijabarkan dengan cermat: jumlah observasi relatif sedikit dan spesimen anatomi diambil dari populasi yang cukup khas secara etnis dan sosial. Demikianlah, hasil-hasil dari studi ini tidak mengaplikasikan penelitian etnis dan sosial. Pada studi oleh Volkansky & Cleaton-Jones pada mandibula kering orang Bantu Afrika Selatan, 30,9% gigi molar yang ada mengalami keterlibatan furkasi. Tal memeriksa 100 mandibula kering dari tulang kepala Afrika Selatan dan menemukan bahwa 85,4% molar-molar mandibula memperlihatkan resorpsi osseous pada bagian furkasi. Dia juga melaporkan bahwa tingkat keterlibatan furkasi, seperti dikemukakan dalam istilah kedalaman horizontal dari kerusakan osseous, meningkat seiring bertambahnya usia. Pada studi selanjutnya terhadap molar-molar mandibula, Tal & Lemmer mengkonfirmasikan temuan bahwa keterlibatan tingkat sedang sampai parah terutama terjadi pada orang dewasa, dimana molar-molar pertama lebih banyak terkena daripada molar-molar kedua. Bjorn & Hjort memperkirakan secara longitudinal prevalensi radiografi, tingkat dan perkembangan kerusakan tulang pada furkasi molar mandibula pada sampel 221 pekerja pabrik yang diamati selama 13 tahun. Prevalensi keterlibatan furkasi terus menerus meningkat dari nilai awal 18% menjadi 32% pada akhir periode observasi. Molar-molar kedua dan ketiga memiliki frekuensi kerusakan lanjutan lebih tinggi daripada molar-molar pertama. Data tambahan diberikan oleh investigasi menggunakan subjek-subjek yang mengalami gangguan periodontal yang dirujuk atau mencari perawatan

4

periodontal secara spontan. Selanjutnya, temuan-temuan dari survey ini mungkin tidak bisa digunakan untuk membuat kesimpulan tentang populasi umum. Molarmolar maksila lebih sering terpengaruh daripada molar-molar mandibula, walaupun nilai prevalensi bisa sangat berbeda. Prevalensi dari keterlibatan bagian furkasi pada molar-molar maksila dan mandibula bisa berkisar dari 25% sampai 52% dan dari 16% sampai 35%. Svardstrom & Wennstrom meneliti secara detail prevalensi dari keterlibatan furkasi pada kelompok 222 pasien yang dirujuk untuk perawatan periodontal. Mereka melaporkan bahwa, dari usia 30 tahun keatas, sekitar 50% molar pada maksila memperlihatkan paling tidak 1 bagian furkasi dengan keterlibatan dalam, sambil pada maksila prevalensi yang sama pertama sekali terlihat pada usia 40. Kehancuran periodontal paling sering terlihat pada aspek distal dari molar-molar pertama dan kedua (53% dan 35%). Pada mandibula, entrance/tempat masuk bukal dan lingual dari furkasi terpengaruh dengan frekuensi sama. Keterlibatan furkasi lebih sering terdeteksi pada para perokok (72%) dibandingkan orang yang tidak merokok (36%); odd rasio yang terhitung bagi para perokok untuk mengalami keterlibatan furkasi pada lebih dari satu molar adalah 4,6. Juga sudah terlihat bahwa molar dengan mahkota atau restorasi proksimal memiliki persentase keterlibatan furkasi lebih tinggi dibandingkan dengan molar tanpa restorasi. (Gambar 1). Klasifikasi dari Lesi Furkasi Telah dikemukakan berbagai metode berbeda untuk mengklasifikasikan luasnya keterlibatan furkasi. Glickman awalnya menggunakan klasifikasi tiga

5

tingkatan berdasarkan luasnya kerusakan jaringan pada furkasi. Ramfjord & Ash menggambarkan indeks untuk mengevaluasi dalamnya keterlibatan dengan menggunakan increment pengukuran probing periodontal 2 mm. Dengan tingkat 1, probe penetrasi secara horizontal antara akar sampai 2 mm; dengan tingkat 2 lebih dari 2 mm dan dengan tingkat 3, probe penetrasi furkasi sampai ke bagian sebelahnya. Hamp dkk mengemukakan pendekatan sama seperti Ramfjord & Ash dengan pengecualian menggunakan increment 3 mm untuk menggambarkan 3 kelas keterlibatan (Gambar 2), sambil Tarnow & Fletcher mengemukakan subklasifikasi yang mencakup bagian vertikal lesi dalam usaha menggambarkan keparahan lesi dengan lebih baik. Reproduksibilitas dan realibilitas dari diagnosa dan ukuran diagnosa Probing Ukuran vertikal sepanjang akar-akar yang berdekatan dengan lesi furkasi terlihat direproduksi kembali pada sisi fasial dari molar-molar maksila dan pada sisi fasial dan lingual dari molar-molar mandibula. Sebaliknya, kemampuan reproduksi antar pemeriksa menurun dengan bertambahnya kedalaman saku dan meningkatkan pemisahan akar karena, seiring probe penetrasi lebih dalam, lebih sukar untuk mempertahankan kontak dengan permukaan akar. Reproduksibilitas dari pengukuran horizontal sepertinya tidak sebagus pencatatan vertikal. Namun realibilitas dari ukuran vertikal yang diambil pada bagian saku interradikular paling dalam sangat buruk, karena probe penetrasi jaringan penghubung furkasi dengan kedalaman rata-rata 2,1 mm, seperti tampak pada

6

bagian-bagian histologi. Ahli lainnya telah mencari korelasi reliabel antara diagnosa klinis dari keterlibatan furkasi dan luasnya kerusakan yang terlihat setelah refleksi flap. Zappa dkk menggunakan indeks Ramfjord dan Hamp untuk membandingkan perk