Click here to load reader

Lesi Saraf Perifer

  • View
    771

  • Download
    23

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tentang saraf

Text of Lesi Saraf Perifer

  • Lesi Saraf PeriferOleh :Kurrotun Ayni B.

    Pembimbing :dr. Andre Steven Tjahja B, SpKFR

    KEPANITERAAN KLINIK MADYALAB. ILMU REHABILITASI MEDIKRSD MARDI WALUYO BLITARFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG

  • PEMBAGIAN SUSUNAN SARAF MANUSIA

    Anatomi 1. Susunan Saraf Pusat (SSP) : Otak (ensefalon) dan medula spinalis2. Susunan Saraf Tepi (SST) : Saraf saraf kranial dan spinal

    B. FisiologiSusunan Saraf Somatik : Mensarafi struktur dinding tubuh (otot,kulit,membran mukosa)Susunan Saraf Otonom : Mengontrol aktivitas otot otot dan kelenjar kelenjar bagian dalam tubuh visera serta pembuluh darah

  • SARAF SOMATISa. Nervus KranialisOlfactory nerveOptic nerveOculomotor nerveTrochlear nerveTrigeminal nerveAbducens nerveFacial nerveVestibulocochlear nerveGlossopharyngeal nerveVagus nerveAccessory nerveHypoglossal nerve

  • Urutan sarafNama sarafSifat sarafFungsiTempat masuk di Basis CraniiIOlfaktoriusSensorikDaya penciumanIIOpticusSensorikPenglihatanIIIOkulomotoriusMotorikGerakan kelopakmata ke atas, kontraksi pupil, gerakan otot mataIVTroklearisMotorikGerakan mata ke bawah dan ke dalamVTrigeminusSensorik dan MotorikGerakan mengunyah, sensasi wajah, lidah dan gigi, refleks kornea dan refleks kedipVIAbdusenMotorikAlat penggerak(muskulus rektus lateralis)Fisura orbitalis superior

  • VIIFasialisSensorik dan MotorikGerakan otot wajah, pipi, scalp, muskulus stapedius, muskulus stylohioideus, venter posteriormuskulus digastricus, Palatum mole, pengecapan 2/3 anterior, glandula submandibularis, glandula lacrimalis, glandula hidung dan pallatumMeatus acusticus internus, canalis facialis, foramen stylomastoideusVIIIVestibulokoklearisSensorikPendengaran dan keseimbangan, posisi dan gerakan kepalaMeatus acusticus internusIXGlosofaringeusSensorik dan motorikSensasi umum rasa 1/3 posterior lidah dan pharyng, sinus caroticus dan glomus caroticum, muskulus stylopharyngeus, glandula parotisForamenjugulareXVagusSensorik dan MotorikMusculus constrictorpharyngis dan otot intrinsik laring, otot polos broncus,jantung, saluran cerna sampai 1/3 distal colon transversum, hati dan pancreas. Pengecapan dari epiglotis dan valeculaForamenjugulare

    XIAksesoriusMotorikOtot palatum mole, Otot pharing, laring. Otot sternocleidomasteideus dan muskulus trapeizeusForamenjugulare

    XIIHipoglosusMotorikGerakan dan bentuk lidah (kecuali muskulus palatoglossus)Canalis hypoglossi

  • Contoh gangguan saraf kranial

    GangguanSaraf kranial yg. TergangguPenyebabGejalaSindroma Foster KennedyI dan IITumor lobus frontalisAnosmia dan papilatrofi (ipsilateral) Papiledema (kontralateral)Sindroma Tolosa-HuntIII, IV, VI dan V-1Granuloma non-spesifik pada nyeri dinding sinus kavernosusOftalmoplegia dan wajah (V-1)Neuralgia trigeminal (Tic douloureux)VPrimer (idiopatik)Sekunder (tumor, aneurisma, dll)Nyeri wajah (terutama V-2,3)Sindroma GradenigoV, VIPetrositis paresis n. VINyeri wajah (V)Bells palsyVIIIdiopatikParesis n. VII periferSindroma Ramsay-HuntVIIHerpes zoosterVesikel di kanalis auditorius dan telinga bagian belakang, paresis VII perifer

  • b. Saraf Spinalmeneruskan impuls dari reseptor ke SSPmeneruskan impuls dari SSPke semua otot rangka tubuh.

  • SISTEM SARAF OTONOM

    Mengendalikan kegiatan organ-organ dalam seperti otot perut, pembuluh darah, jantung & alat-alat reproduksi.

    Perbedaan saraf simpatik dan para simpatik berdasarkan pada posisi ganglion.Ganglion pada saraf simpatik menempel di sepanjang sumsum tulang belakang.Sedangkan ganglion saraf parasimpatik menempel pada organ yang dibantu kerjanya.

  • SISTEM SARAF SIMPATIS

    Berpangkal pada medula spinalis di daerah leher dan di daerah pinggang, sehingga disebut juga saraf torakolumbar. Serabut saraf ini menuju ke otot polos, alat peredaran, alat pencernaan, alat pernapasan. Sifatnya meningkatkan aktivitas.

    Fungsi : Mempercepat denyut jantung. Memperlebar pembuluh darah. Memperlebar bronkus. Mempertinggi tekanan darah Memperlambat gerak peristaltis. Memperlebar pupil. Menghambat sekresi empedu. Menurunkan sekresi ludah. Meningkatkan sekresi adrenalin.SISTEM SARAF PARASIMPATIS

    Berpangkal pada medula oblongata dan ada yang di sakrum. Memiliki fungsi berkebalikan dengan fungsi sistem simpatis.

  • CEDERA SARAF PERIFER

    Peripheral Nerve Injury atau cedera saraf perifer adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan saraf di luar otak atau sumsum tulang belakang.

  • Neuropati perifer menurut WHO :

    Kelainan menetap (> beberapa jam) Dari neuron sumsum tulang, neuron motorik batang otak bagian bawah, sensorimotor primer, neuron susunan saraf autonom perifer dengan kelainan klinis, elektroneurografik dan morfologik

  • ETIOLOGITrauma (misalnya, luka tumpul atau penetrasi, trauma)Tekanan yang akut. IdiopatikKelahiran InfeksiNeurologisNeoplastikToxiciatrogenik

  • KlasifikasiCedera akson, dapat dibagi menurut Seddon dan Sunderland

    Menurut Seddon 19431. Neuropraksia2. Aksonotmesis3. Neurotmesis

    Menurut Sunderland 1951 derajat 1-5

  • Klasifikasi menurut SeddonNEUROPRAXIA

    Terjadi penekanan pada serabut saraf.Bersifat ringan.Gangguan hanya terjadi selama penekanan berlangsung.Tidak terjadi kelainan pada struktur serabut saraf.Gangguan akan berakhir bila penekanan hilang

  • 2. AXONOTMESIS

    Kerusakan saraf sampai pada axon, tetapi selubung axon masih baik.Walau axon rusak, namun bila selubung axon masih baik maka akan terjadi regenerasi.Pada 1-2 minggu pertama pasca trauma, kondisi cenderung tetap

  • 3. NEUROTMESIS

    - Kerusakan terjadi pada axon dan selubung axon, sehingga terjadi degenerasi Wallerian, di mana degenerasi terjadi kearah distal dan proximal.- Kondisi memburuk pada 1-2 minggu pertama.

  • KlasifikasiSunderland (tahun 1951) memperluas sistem klasifikasi menjadi 5 derajat cedera saraf.

  • Cedera saraf Tingkat IDisebut juga neuropraxia.Kerusakan pada serabut myelin, hanya terjadi gangguan kondisi saraf tanpa terjadinya degenrasi wallerian. Saraf akan sembuh dalam hitungan hari setelah cedera, atau sampai dengan empat bulan.Penyembuhan akan sempurna tanpa ada masalah motorik dan sensorik.

  • Cedera saraf tingkat IIDisebut juga axonotmesis, Terjadi diskotinuitas myelin dan aksonal, Tidak melibatkan jaringan encapsulating, epineurium dan perineurium, juga akan sembuh sempurna. Bagaimanapun, penyembuhan akan terjadi lebih lambat daripada cedera tingkat pertama.

  • Cedera saraf tingkat IIICedera ini melibatkan kerusakan myelin, akson dan endoneurium. Cedera akan sembuh dengan lambat, tetapi penyembuhannya hanya sebagian.Penyembuhan tergantung pada beberapa faktor, seperti semakin rusak saraf, semakin lama pula penyembuhan terjadi.

  • Cedera saraf tingkat IVCedera ini melibatkan kerusakan myelin, akson, endoneurium dan perineurium. Cedera derajat ini terjadi bila terdapat skar pada jaringan saraf, yang menghalangi penyembuhan.

  • Cedera saraf tingkat VCedera ini melibatkan pemisahan sempurna dari saraf, seperti saraf yang terpotong. Cedera saraf tingkat empat dan lima memerlukan tindakan operasi untuk sembuh.

  • Klasifikasi Menurut Sunderland

  • Recovery

  • Degenerasi Wallerian

  • Degenerasi dan regenerasi saraf. (A) serabut saraf pada cedera tekan. (B) fagosit masuk untuk membersihkan debris. (C) sisa tonjolan proksimal dengan endoneurium yang utuh dan sel Schwann. (D) adanya benih akson baru dari tonjolan proksimal. (E)pertumbuhan akson yang bermyelin pada bagian distal. (F) regenerasi serabut saraf lengkap. Bagian myelin lebih pendek dari aslinya.

  • Patofisiologi Lesi saraf tepi dapat mengakibatkan demielinasi atau degenerasi aksonal. Secara klinis, baik demielinasi dan degenerasi aksonal akan mengakibatkan gangguan dari indera dan atau fungsi motorik dari saraf yang terluka. Pemulihan fungsi terjadi dengan re-myelination dan dengan regenerasi aksonal dan reinervasi dari reseptor sensorik, ujung otot, atau keduanya.

  • KlinisTerdapatnya gangguan motorik dan sensorik tergantung pada saraf terkena.Pada motorik akan terjadi hilangnya fungsi otot dan jaringan.Pada sensorik akan terjadi anestesi, parastesia, disestesia, hipoalgesia, hiperestesia, hiperalgesia dan allodonia.

  • MANIFESTASI KLINIS

    1. Kausalgia yaitu nyeri hebat seperti terbakar, sepanjang distribusi serabut saraf yang mengalami kerusakan persial.2. Hiperestesia3. Perubahan trofik pada kulit4. Hiperaktivitas vasomotor, hiperaktivitas kerja syaraf yang menimbulkan perubahan pada diameter pembuluh darah, biasanya vasokontriksi.

  • Pemeriksaan Penunjang1. Laboratorium2. Studi Imaging3. Pengujian lain, seperti :- Studi Elektro Diagnostik- Elektromiografi4. Studi Konduksi Saraf5. Temuan Histologi

  • Pengujiana. studi elektrodiagnostik: Tes-tes ini objektif berguna dalam mendeteksi cedera saraf dan / atau kompresi saraf dan dalam mengidentifikasi tahap awal pemulihan. b. Elektromiografi Tes ini dilakukan minimal 4 minggu setelah cedera saraf. Pengujian Elektromiografi dilakukan sebelum waktu itu dapat menghasilkan temuan-temuan negatif palsu karena butuh 4-6 minggu untuk fibrilasi otot menjadi jelas. Bukti denervasi ditandai oleh adanya fibrilasi pada otot. Reinervasi dicatat oleh adanya potensi unit motor. Studi konduksi saraf Studi-studi ini sangat berguna dalam menentukan situs kompresi sekunder yang mungkin ada. Jika saraf yang dikompresi di situs jebakan, seperti carpal tunnel atau terowongan kubiti , regenerasi aksonal mungkin akan terhambat dan dengan demikian membatasi reinervasi. Dalam kasus cedera pleksus brakialis , studi konduksi saraf bisa membantu menentukan adanya cedera avulsion. Utuh normal konduksi saraf distal sensorik dan denervasi mot

Search related