29
Step 1 1. Pneumonia severity index skor untuk memberikan tritmen kepada pasien 2. Kultur sputum pengembangbiakan mikro organisme dari sputum 3. Pengecatan gram untuk mengetahui gram + atau gram – Stap 2 1. Mengapa terjadi peningkatan leukosit? Jelaskan nilai normalanya! 2. Mengapa pada foto rontgen menunjukan infiltrat pada lapang paru? 3. Mengapa di dapatkan redup dan ronki basah di lobus tengah kanan dan kiri? 4. Mengapa penyakit penderita tak kunjung sembuh padahal sudah di beri obat? 5. Mengapa di sekenario di dapatkan batuk berdahak dengan dahak kental dan hijau? 6. Mengapa pada px auskultasi di dapatkan suara dasar bronkial?Apa etiologi dari sekenario? 7. Kenapa badan pasien mengalami demam 10 hari disertai sesak nafas 8. Bagaimana patofisiologi dari sekenario? 9. Bagaimana cara menegakan diagnosis dan DD? 10. Apa definisi dan Klasifikasi pnemonia 11. Bagaimana interprestasi dari vital sign? 12. Bagaimana cara foto rontgen?

lbm 3 respi

  • Upload
    salma

  • View
    84

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

lbm respi

Citation preview

Page 1: lbm 3 respi

Step 1

1. Pneumonia severity index skor untuk memberikan tritmen kepada pasien

2. Kultur sputum pengembangbiakan mikro organisme dari sputum3. Pengecatan gram untuk mengetahui gram + atau gram –

Stap 2

1. Mengapa terjadi peningkatan leukosit? Jelaskan nilai normalanya!2. Mengapa pada foto rontgen menunjukan infiltrat pada lapang paru?3. Mengapa di dapatkan redup dan ronki basah di lobus tengah kanan dan

kiri?4. Mengapa penyakit penderita tak kunjung sembuh padahal sudah di beri

obat?5. Mengapa di sekenario di dapatkan batuk berdahak dengan dahak kental

dan hijau?6. Mengapa pada px auskultasi di dapatkan suara dasar bronkial?Apa etiologi

dari sekenario?7. Kenapa badan pasien mengalami demam 10 hari disertai sesak nafas8. Bagaimana patofisiologi dari sekenario?9. Bagaimana cara menegakan diagnosis dan DD?10.Apa definisi dan Klasifikasi pnemonia11.Bagaimana interprestasi dari vital sign?12. Bagaimana cara foto rontgen?13.Bagaiman interpretasi dari PSI?14.Apa pemeriksaan penunjangnya?15. Apa farmakologi dan non farmakologinya?

Page 2: lbm 3 respi

Step 31. Mengapa terjadi peningkatan leukosit? Jelaskan nilai normalanya!

Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus/mikroplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas, misalnya netropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S.aureus pada pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.

2. Mengapa pada foto rontgen menunjukan infiltrat pada lapang paru ( cari gambarnya) ?

Yang dimaksud dengan flek paru adalah adanya bercak atau infiltrat pada paru-paru. “Gambarannya bisa dilihat lewat foto rontgen, yaitu pada paru-paru yang seharusnya berwarna hitam karena berisi udara terdapat bercak-bercak putih, baik yang sebesar gabah atau lebih besar lagi.”

Bercak putih bisa merupakan cairan, pemadatan, maupun penguncupan. Cairan itu sendiri bisa berasal dari darah, nanah, atau lainnya. Tentu saja gambaran ini menegaskan bahwa paru-paru dalam kondisi tidak sehat. Biasanya terdapat pada penyakit : TBC, pneumonia, atelektasis, efusi pleura.

Gambaran radiologis pada pneumonia nosokomial

(Pulmonologi, Prof. Pasiyan Rachmatullah)

Page 3: lbm 3 respi

Gambaran padat radiografi paru secara klasik dibagi menjadi 3, yaitu : alveolar (disebabkan oleh pneumococcus dan bakteri lain), interstitial pneumonia (disebabkan oleh virus atau mycoplasma), serta Bronchopneumonia (oleh karena S. aureus atau bakteri lain) memiliki pola difus bilateral dengan meningkatnya batas peribroncial, adanya infiltrat fluffy (seperti benang/rambut halus) yang kecil dan meluas ke perifer. Staphylococcal pneumonia terkait dengan gambaran pneumatoceles dan efusi pleura (empyema). Mycoplasma penyebab pneumonia memiliki pola yang sama dengan pola bakteri atau virus, ditambah dengan adanya infiltrat retikuler dan retikulonoduler yang terlokalisir pada satu lobus. Pada anak-anak konsolidasi pneumonia berbentuk spheris menyerupai tumor pada awalnya dan selanjutnya meluas, single dengan batas tidak jelas. Adanya air bronchogram berhubungan dngn infeksi Strep. Pneumoniae. Segemental disease ( berhubungan dngn Stafilokokus, virus atau Mycoplasma). Interstitial disease (berhubungan dngn infeksi virus dan Mycoplasma).

(Pulmonologi, Prof. Pasiyan Rachmatullah)

3. Mengapa di dapatkan suara redup dan ronki basah di lobus tengah kanan dan kiri?

Ronki basah (crackles atau rales)merupakan suara napas yang terputus-putus, bersifat non musical, biasanya terdengar saat inspirasi akibat udara yang melewati cairan dalam saluran napas. Ronki basah dibagi ronki basah halus dan kasar tergantung besarnya bronkus yang terkena. Ronki basah halus terjadi karena adanya cairan alveoli pada bronkiolus, sedangkan pada ronki basah yang lebih halus berasal dari alveoli (krepitasi)akibat terbukanya alveoli pada akhir inspirasi terjadi terutama pada fibrosis paru. Sifat ronki basah ini dapat bersifat nyaring (bila ada infiltrasi misal pneumonia) atau tidak nyaring (edema paru). (Rumende, 2007)

Page 4: lbm 3 respi

Ronkhi basah : suara yang kita dengarkan pada saat auskultasi, dimana terjadi penimbunan cairan yang terjadi pada paru. Suaranya seperti batang yang dipatahkan tetapi ada suara cairanya. Dan jika dibatukkan akan mengeluarkan cairan, cairanya ada yang halus (kaya percikan) dan kasar (kaya riak/dahak)

Diantara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia pneumokokus merupakan paling banyak diselidiki.pneumokokus umunya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena efek

Page 5: lbm 3 respi

gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respons khas yang terdiri dari 4 tahap berurutan.

Kongesti : (4-12 jam pertama) : eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.

Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : paru tampak merah dan bergranula (hepatisasi=seperti hepar) karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli

Hepatisasi kelabu (3-8 hari) paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.

Resolusi : 7-11 hari) : eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada struktur semulanya Sumber : patologi sylvia A. Price volume 2

Karena Penyakit ini dimulai dari infeksi dalam alveolus membrane paru mengalami peradangan dan berlubang2 lubang sehingga cairan dan bahkan sel darah merah dan sel darah putih keluar dari darah dan masuk ke dalam alveoli alveoli terinfeksi secara progresif terisi cairan dan sel2 dan infeksi menyebabr melalui perluasan bakteri atau virus dari alveolus ke alveolus akhirnya daerah luas pada paru, kadang2 seluruh lobus menjadi berkonsolidasi( paru2 terisi cairan dan sisa2 sel ) pada saat perkusi jadi berbunyi redup ;krn terisi cairan

Sumber ; Guyton and Hall.2006.Buku Ajar Fisiologi.Ed. 11, EGC dan Dr. Pasiyan Rachmatullah. 1997.Ilmu Penyakit Paru( Bagain Ilmu Penyakit Dalam FK UNDIP.Semarang)

Page 6: lbm 3 respi

keredupan pada paru kanan lobus tengah menunjukkan paru mengalami pemadatan. Hal ini terlihat pada gambaran hasil ronsen thoraks. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi oleh sel radang dan cairan yang merupakan bentuk respon tubuh mematikan kuman. Tapi respon ini berakibat terganggunya fungsi paru, sehingga penderita sulit bernapas karena tak tersisa ruang oksigen.Zul Dahlan.(2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

4. Mengapa penyakit penderita tak kunjung sembuh padahal sudah di beri obat?

Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnostic yang terpadu, pada hamper semua penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya, misalnya antibiotic pada pasien dengan pneumonia.Pengoobatan simptomatik diberikan apabila :

a. Penyebab batuk yang pasti tidak diketahui, sehingga pengobatan spesifik dan definitive tidak dapat diberikan, dan/atau

b. Batuk tidak berfungsi baik dan komplikasinya membahayakan penderita.

Page 7: lbm 3 respi

Obat yang digunakan untuk pengobatan simptomatik ada tiga jenis menurut kategori farmakologik, yaitu antitusif, ekspektorans, dan mukolitik.

Zul Dahlan.(2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

5. Mengapa di sekenario di dapatkan batuk berdahak dengan dahak kental dan hijau?

Krn ada inhalasi mikroba di udara bakteri masuk ke paru , bronkioli dan alveolus peradangan hebat( sel2 PMN memfagositosis mikroba2 tsb dan pengeluaran mediator inflamasi) sel2 PMN mati( menghasilahn veroksidase) terakumulasi bersama mikroba /bakteri2 yg mati penimbunan nanah warna hijau

Ciri khas sputum mukropurulen : kuning,kehijauan , atau abu2 kotor penyebabnya pneumonia bakteri; bronkiris akut atau kronis

Sumber : Sylvia A. Price.2003.Patofisiologi.Ed6, Vol.2 . EGC

Batuk merupakan reflex pertahanan yg timbul akibat iritasi percabangan trakeobronkial. Rangsangan yg biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia, dan peradangan. Inhalasi asap, debu dan benda2 asing kecil merupakan penyebab batuk yg paling sering. Perokok seringkali menderita batuk kronik karena terus-menerus menghisap benda asing(asap) dan saluran nafasnya mengalami peradangan kronik. Setiap peradangan nafas dengan atau tanpa eksudat

Page 8: lbm 3 respi

dapat mengakibatkan batuk. Sputum berwarna kekuningan menunjukkan adanya infeksi.Sputum purulen berwarna kuning, hijau, atau kadang-kadang coklat. Hal ini menunjukkan adanya suatu peradangan dalm paru yg mungkin merupakan : Infeksi (bronchitis purulen, pneumonia, abses paru, bronkiektaksis, tuberculosis, fibrosis kistik) Alergi (sputum penderita asma mungkin tampak purulen tanpa bukti adanya suatu infeksi, akibat banyaknya jumlah eosinofil) Kimiawi (bronchitis akut akibat inhalasi bahan kimia) Iritan (asap atau debu iritan)

Bila warna sputum kekuning-kuningan menunjukkan infeksi. Sputum yang berwarna hijau merupakan petunjuk adanya penimbunan nanah. Warna hijau timbul karena adanya verdoperoksidase yang dihasilkan oleh leukosit polimorfonuklear (PMN) dalam sputum. Sputum yang berwarna hijau sering ditemukan pada bronkiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkiolus yang melebar dan terinfeksi. Banyak penderita infeksi pada saluran napas bagian bawah mengeluarkan sputum berwarna hijau pada pagi hari, tetapi makin siang menjadi semakin kuning.

Sputum yang berwarna merah muda dan berbusa merupakan tanda edema paru akut. Sputum yang berlendir, lekat dan berwarna abu-abu atau putih merupakan tanda bronkitis kronik. Sedangkan sputum yang berbau busuk merupakan tanda abses paru atau bronkiektasis. Apabila sputumnya berwarna hijau dan kuning maka positif terinfeksi. Namun bila sputum berwarna putih dan jernih, berarti sputum atau pasien tidak terinfeksi bakteri.  (Rumende, 2007)

Cara masuknya kuman sampai jaringan paru dapat melalui cara berikut : Inhalasi kuman yang ada di udara Aspirasi organisme dari nasofaring/orofaring Penyebaran hematogen dari fokal infeksi ditempat lain Penyebaran langsung dari tempat disekitarnya yang sedang mengalami infeksi

Terdapat brebagai pertahanan tubuh disaluran pernafasan seperti

Refleks glottis Refleks batuk Silia untuk menyaring Lendir yang menutup epitel/mukosa bronkus Surfaktan paru Ig A sekresi dan serum yang memberikan proteksi terhadap infeksi

Page 9: lbm 3 respi

Makrofag

Ada faktor predisposisi yang bisa menimbulkan kegagalan fungsi pertahanan tubuh seperti

Keadaan dimana fungsi pertahanan tubuh terganggu Adanaya gangguan kesadaran Orang tua : Refleks batuk berkurang Adanya kelainan fungsi limfosit Adanya kelainan fungsi granulosit

Bakteri yang masuk ke paru melalaui saluran nefas masuk ke bronkioli dan alveolus, kemudian menimbulkan reaksi peradangan hebat yang menghasilkan cairan edema (eksudasi) yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan interstitial.

Protease merupakan enzim yang dikeluarkan oleh bakteri patogen untuk memecah antibody Imunoglobin IgA atau IgG, IgA ini banyak terdapat dalam sekresi mukus. Fungsinya melindungi membran mukus dan melindungi jaringan dari bakteri dan produknya. Timbulnya hepatisasi merah adalah akibat perembesan eritrosit dan beberapa leukosit dari kapiler paru. Paru menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal dan merah.

Pada tingkat lebih lanjut, aliran darah menurun, alveoli penuh dengan leukosit, tapi kuman tidak tinggal diam, dia juga melakukan perlawanan seperti beberapa mikroorganisme menghasilkan bahan beracun yang dikenal sebagai toksin.

Toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme dapat berupa eksotoxin merupakan protein bakteri yang diproduksi dan dikeluarkan ke lingkungan selama pertumbuhan bakteri patogen dan Endotoksin yang merupakan lipid A sebagai bagian dari lipoposakarida membran luar bakteri Gram negatif. Ketika bakteri patogen terbenam dalam permukaan sel inang, akan menyebabkan pelepasan senyawa protein seperti komplemen dan sitokin berlebih yang dapat ikut merusak sel atau jaringan inang di sekitarnya.

Selain itu terdapat juga hemolisin. Toksin ini merupakan bahan yang menghancurkan sel darah merah dan melepaskan hemoglobin. Beberapa hemolisin menghasilkan perubahan seperti suatu zona bening tanpa warna dimana sel darah merah sudah dihancurkan secara sempurna. Peristiwan ini disebut a-hemolisis. Tipe lain dari bakteri dapat mereduksi hemoglobin menjadi metahemoglobin, yang menghasilkan zona berwarna kehijauan di sekitar koloni. Ini disebut b-hemolisis. Sehingga timbul warna hijau pada dahak atau sputum yang dikeluarkan pada saat refleks batuk.

Page 10: lbm 3 respi

Bila pertahanan imunitas tubuh kuat, maka kuman dan toksiknya tadi bisa difagosit oleh leukosit dan makrofag. Pada saat itu paru – paru memasuki stadium hepatisasi kelabu dengan warna abu – abu kekuningan. Secara perlahan – lahan eritrosit yang telah mati dan eksudat fibrin dibuang dari alveoli> selanjutnya akan terjadi stadium resolusi. Paru menjadi normal kembali tanpa kehilangan kemampuan dalam hal pertukaran gas.

6. Mengapa pada px auskultasi di dapatkan suara dasar bronkial?

7. Apa etiologi dari sekenario?

8. Kenapa badan pasien mengalami demam 10 hari disertai sesak nafas?

Page 11: lbm 3 respi

9. Bagaimana patofisiologi dari sekenario?Pneumokokus (penyebab tersering pneumonia bakteri ) umumnya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena efek gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respons khas :1. Kongesti (4 – 12 jam pertama ) : eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui

pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya ) : paru tampak merah dan bergranula karena

sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli3. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin

mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang4. Resolusi (7-11 hari) : eksudat mengalami lisis dan reabsorbsi oleh makrofag

sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula

Price, A. Sylvia, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi. EGC. Jakarta. 2003.

Stages of Bacterial PneumoniaFor pneumococcal pneumonia, four stages of disease have been described. What occurs in these four stages is similar for the other types of pneumonia.Stage 1, called hyperemia, refers to the initial inflammatory response occurring in the area of lung infection. It is characterized by increased blood flow and increased capillary permeability at the site of infection. It occurs as a result of inflammatory mediators released from mast cells after immune cell activation and tissue injury. These components include histamine and prostaglandin. Mast cell degranulation also activates the complement pathway. Complement acts with histamine and prostaglandin to vasodilate the pulmonary vascular smooth muscle, leading to increased blood flow to the area and increased capillary permeability. This results in movement of plasma exudate into the interstitial space, causing swelling and edema between the capillary and the alveolus. Fluid buildup between the capillary and the alveolus increases the distance over which oxygen and carbon dioxide must diffuse, thereby decreasing the rate of gas diffusion. Because oxygen is less soluble than carbon dioxide, its movement into the blood is most affected, often leading to a decrease in hemoglobin oxygen saturation. During this first stage of pneumonia, infection spreads to neighboring tissue as a result of increased blood flow and breakdown of neighboring alveolar and capillary membranes as the inflammatory processes continue.Stage 2 is called red hepatization. It occurs when the alveoli fill with red blood cells, exudate, and fibrin, produced by the host as part of the inflammatory reaction.Stage 3, called gray hepatization, occurs as white blood cells colonize the infected part of the lung. Then, fibrin deposits accumulate throughout the area of injury and phagocytosis of cell debris occurs.

Page 12: lbm 3 respi

Stage 4, called the resolution stage, occurs when the inflammatory and immune responses wane; cell debris, fibrin, and bacteria are digested; and macrophages, the cleanup cells of the inflammatory reaction, dominate.

Elizabeth J. Corwin PhD, MSN, CNP. Handbook of Pathophysiology, 3rd Edition. 2008.

10.Bagaimana cara menegakan diagnosis dan DD? Anamnesis onset,RPD Pxfisik adanya gronki basah dan bronkial Px penunjang rontagen, biomarker(PCT)meningkat bakteri,

PCT menurun virus Px Lab jumlah leukosit,pengecatan gram

dd pneumonia ,TB paru, bronchitis kronis

Page 13: lbm 3 respi

11.Apa definisi dan Klasifikasi pneumonia berdasarkan PSI

Page 14: lbm 3 respi
Page 15: lbm 3 respi
Page 16: lbm 3 respi
Page 17: lbm 3 respi

Djojodibroto, R. Darmanto. Respirology (Respiratory Medicine). EGC, Jakarta. 2009.

12.Bagaimana interprestasi dari vital sign?Ttd normaltR takikardirr Pernafasan takipneusuhu demam jumlah leukosit meningkat

13. Bagaimana posisi foto rontgen torax? PASimetris kanan kiriInspirasi cukupTampak anatara sudut anatar costa dan diafragmaTidak goyangFfsb

14.Bagaiman interpretasi dari PSI?

Page 18: lbm 3 respi

15.Apa pemeriksaan penunjangnya?

Macam-macam pemeriksaan

1. Pewarnaan Gram,biasanya pemeriksaan ini memberikan cukup informasi tentang organism yang cukup untuk menegakkan diagnose presumtif.

2. Kultur Sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnose definitif. Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum dilakukan terapi antibiotic dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi.

3. Basil Tahan Asam (BTA) menentukan adanya mikobacterium tuberculosis, yang setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh alcohol asam.

Tujuan

Page 19: lbm 3 respi

Pemeriksaan sputum bersifat mikroskopik dan penting untuk diagnosis etiologi berbagai penyakit pernapasan. Pemeriksaan mikroskopik dapat menjelaskan organism penyebab penyakit pada berbagai pneumonia bacterial, tuberkulosa, serta berbagai jenis infeksi jamur. Pemeriksaan sitologi eksfoliatif pada sputum dapat membantu diagnosis karsinoma paru-paru. Sputum dikumpulkan untuk pemeriksaan dalam mengidentifikasi organisme patogenik dan menentukan apakah terdapat sel-sel malignan atau tidak. Aktifitas ini juga digunakan untuk menkaji sensitivitas (di mana terdapat peningkatan eosinofil). Pemeriksaan sputum secara periodik mungkin diperlukan untuk klien yang mendapat antibiotik, kortikosteroid, dan medikasi imunosupresif dalam jangka panjang, karena preparat ini dapat menimbulkan infeksi oportunistik. Secara umum, kultur sputum digunakan dalam mendiagnosis untuk pemeriksaan sensitivitas obat dan sebagai pedoman pengobatan. Jika sputum tidak dapat keluar secara spontan, klien sering dirangsang untuk batuk dalam dengan menghirupkan aerosol salin yang sangat jenuh, glikol propilen yang mengiritasi, atau agen lainnya yang diberikan dengan nebulizer ultrasonic. 

Cara

Cara pengambilan sputum : 

Pasien berkumur dengan air garam dahulu, kemudian di beri wadah yang bermulut lebar, mempunyai tutup berulir,  suci hama, tidak mudah pecah, tidak bocor, sekali pakai dibuang (disposible). Pasien dalam posisi berdiri, jika tidak memungkinkan dapat dengan duduk agak membungkuk. Pagi  hari setelah bangun tidur biasanya rangsangan batuk sangat kuat, tetapi penderita di anjurkan untuk menahanya dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian segera di suruh batuk sekuat-kuatnya sehingga merasakan dahak yang dibatukkan keluar dari tenggorokan. Sputum yang keluar di tampung dalam wadah yang di sediakan, mulut wadah penampung dibersihkan dari tetesan dahak lalu di tutup. Wadah diberi label yang yang berisi  nama, alamat, tanggal pengambilan serta nama pengirim.

1. Pembuatan Sediaan Pembuatan Preparat

Gelas kaca di beri nomor kode, nomor pasien, nama pasien, pada sisi kanan kaca obyek baru. Pilih bagian sputum yang kental, warna kuning kehijauan, ada pus atau darah. Ambil sedikit bagian tersebut dengan menggunakan ose yang sebelumnya dibakar dulu sampai pijar, kemudian didinginkan. Ratakan diatas kaca obyek dengan ukuran  + 2-3 cm. Hapusan sputum yang dibuat jangan terlalu tebal atau tipis. Keringkan dalam suhu kamar. Ose sebelum dibakar dicelupkan dulu kedalam botol berisi campuran alkohol 70% dan pasir dengan

Page 20: lbm 3 respi

perbandingan 2 : 1 dengan tujuan untuk melepaskan partikel  yang melekat pada ose (untuk mencegah terjadinya percikan atau aerosol pada waktu ose dibakar yang dapat menularkan kuman tuberkulosis).Rekatkan / fiksasi dengan cara melakukan melewatkan preparat diatas lidah api dengan cepat sebanyak 3  kali selama 3-5 detik. Setelah itu sediaan langsung diwarnai dengan pewarna Ziehl Neelsen. 

Cara Pengecatan Basil Tahan Asam  Letakkan sediaan diatas rak pewarna, kemudian tuang larutan Carbol

Fuchsin  sampai menutupi seluruh sediaan. Panasi sediaan secara hati-hati diatas api selama 3 menit sampai keluar uap, tetapi jangan  sampai mendidih. Biarkan selama 5 menit (dengan memakai pinset). Cuci dengan air mengalir, tuang HCL alkohol 3% (alcohol asam) sampai warna merah dari fuchsin hilang. Tunggu 2 menit. Cuci dengan air mengalir, tuangkan larutan Methylen Blue 0,1% tunggu 10-20 detik. Cuci dengan air mengalir, keringkan di rak pengering. 

Cara Melakukan Pemeriksaan Setelah preparat terwarnai dan kering, dilap bagian bawahnya dengan kertas

tissue, kemudian sediaan ditetesi minyak  imersi dengan 1 tetes diatas sediaan. Sediaan dibaca mikroskop dengan perbesaran kuat. Pemeriksaan dimulai dari ujung kiri dan digeser ke kanan kemudian digeser kembali ke kiri (pemeriksaan system benteng). Diperiksa 100 lapang pandang (kurang lebih 10 menit). Pembacaan dilakukan secara sistematika, dan setiap lapang pandang dilihat, kuman BTA berwarna merah berbentuk batang lurus atau bengkok, terpisah, berpasangan atau berkelompok dengan latar belakang biru. 

Pelaporan Hasil Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dahak dilakukan dengan menggunakan

skala International Union Against Tuberculosis (IUAT) .Pemeriksaan sputum untuk Basil Tahan Asam biasanya dilakukan pemeriksaan terhadap sputum sewaktu, sputum pagi dan sputum sewaktu (SPS). Hasil yang positif ditandai dengan sekurang – kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum sewaktu,  pagi, sewaktu adalah positif ditemukannya Basil Tahan Asam (BTA).Pemeriksaan mikrokopis BTA ini digunakan untuk menbantu diagnosis penyakit tuberculosis. Metode yang dipakai biasanya dengan pengecatan langsung (metode pewarnaan Ziehl Nelsen ), dan metode penghitungan BTA dengan skala IUAT (Intrenational Union Against Tuberculosis) yaitu dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan BTA disebut negatif. Ditemukan :

1.  1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan.

2.  10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + atau (1+).  3.  1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ atau (2+).  4.  > 10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ atau (3+).

Page 21: lbm 3 respi

Penulisan gradasi hasil bacaan penting, untuk menunjuk keparahan penyakit dan tingkat penularan penderita.

Pemeriksaan radioligis. Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronkogram misalnya oleh Streptococcus pneumoniae, bronkopneumonia oleh antara lain staphylococcus, virus atau mikoplasma; dan pneumonia interstisial oleh virus dan mikoplasma.Infiltrat di lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella spp, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.

Bentuk lesi berupa kavitas dengn air-fluid level sugestif untuk abses paru, infeksi anaerob, Gram negatif atau amiloidosis. Efusi pleura dengan pneumonia sering ditimulkan S. Pneumoniae. Dapat juga oleh kuman anaerob, S. Pyogenes, E. Coli dan Staphylococcus (pada anak-anak). Kadang-kadang oleh K. Pneumoniae, P.pseudomallei.

Pembentukan kista terdapat pad apneumonia nekrotikans/supurativa, abses dan fibrosis akibat terjadinya nekrosis jaringan paru oleh kuman S.aureus, K.pneumoniae dan kuman-kuman anaerob (streptococcus anaerob, bacteroides, fusobacterium). Ulangan foto perlu dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya infeksi sekunder, efusi pleura penyerta yang terinfeksi atau pembentukan abses. ada pasien yang mengalami perbaikan klinis ulangan foto dada dapat ditunda karena resolusi pneumonia berlangsung 4-12 minggu.

Pemeriksaan laboratoriumLeukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus/mikroplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas, misalnya netropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S.aureus pada pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.

16.Apa farmakologi dan non farmakologinya?

Contoh obat batuk antibiotik dan penurun panas

Page 22: lbm 3 respi

Disorder of respiratory tract, Matheww L. Mintz, Humana press

17.Kenapa pasien di rawat jalan?